Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta
Showing posts with label 99 Cahaya di Langit Eropa. Show all posts
Showing posts with label 99 Cahaya di Langit Eropa. Show all posts

99 Cahaya di Langit Eropa - Bab 2

0 comments
Aku menilik jam tanganku. Seharusnya jika bus tepat waktu, lima belas menit lagi aku dan Fatma akan sampai di Kahlenberg.
Kahlenberg adalah sebuah bukit atau pegunungan di Wina, Austria yang mengitari 7 negara Eropa. Dari Kahlenberg, orang bisa melongok cantiknya Wina dari ketinggian, dari pojok A sampai Z. Sesuai namanya, kahlenberg, "Kahl" dalam bahasa Jerman berarti telanjang, sementara "berg" pegunungan. Jadi, kira-kira maksud si pemberi nama pegunungan ini kala itu adalah dari sini orang bisa menelanjangi kota Wina seutuhnya tanpa batas.
Untuk menuju Kahlenberg, aku dan Fatma hanya perlu mengambil bus dari pusat kota dengan tiket biasa, bukan tiket khusus. Hanya dengan 1,8 Euro--atau sekitar 22 ribu rupiah--sesuai plot jadwal yang aku baca di halte, kami akan menempuh perjalanan dalam waktu 1 jam hingga mencapai titik tertinggi Wina dengan 20 halte bus di antaranya.
Ketika bus mulai berjalan, aku merasakan sebuah intuisi yang dalam. Perjalanan ke Kahlenberg ini pasti perjalanan yang memikat, aku yakin.
Tepat pukul 17.30 kami turun dari bus di sebuah halte sepi di atas bukit. Udara menjadi dingin karena kehangatan pemanas di bus hilang seketika dari tubuhku. Tapi, rasa dingin itu menjadi sirna tak terasa tatkala mataku menangkap pemandangan gunung nan asri. Kami melangkah mendekati pagar pembatas di sepanjang bukit. Pagar itu melingkar membentengi dua bukit kecil yang ditebas menyerupai tembok. Berdiri di belakangnya memungkinkan kita melihat kota Wina seutuhnya. Wina yang menyambut datangnya senja. Terlihat pemandangan luar biasa indah yang mencuri perhatianku. Kugendong Ayse mendekati pagar pembatas Kahlenberg.
 
Matahari sudah semakin memerah menuju peraduan, membuat bangunan dan gedung serempak menyalakan lampu. Momen tersebut sayang bila dilewatkan. Kamera di balik mantelku sudah kukeluarkan, siap menjepret detik-detik berubahnya suasana malam di Wina. Kilatan sinar dari kameraku langsung membuncah berkali-kali mengabadikan panorama senja itu. Ayse yang terus berada dalam pelukanku sesekali kubiarkan mencoba memencet-mencet tombol capture.
Diafragma kameraku menangkap sebuah objek yang membuatku bertanya-tanya. Sederhana, tetapi dia memberikan pengaruh besar terhadap horizon pemandangan kota Wina. Sebuah sungai yang membelah kota Wina menjadi dua. Aku baru sadar, inilah sungai yang terkenal itu. Donau atau Danube. Sungai yang menginspirasi Johann Strauss menciptakan lagu waltz The Blue Danube.
Simfoni abadi musik klasik itu ternyata berawal dari sungai bening di hadapanku kali itu. Waltz The Blue Danube benar-benar menggambarkan aliran sungai yang menginspirasinya. Airnya terkadang tenang, terkadang bercipratan. Persis permainan partitur waltz The Blue Danube yang kadang bergerak lembut legato dan berlompatan staccato.

http://ceritanovelonline.blogspot.com

Teng... teng... teng...
Nun jauh di kota Wina sana, lonceng gereja berbunyi bertalu-talu. Gereja kecil yang ada di Kahlenberg pun tak mau kalah menyahut. Suara loncengnya berdentang berkali-kali.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Matahari semakin menenggelamkan diri ke peristirahatannya. Ekor sinarnya yang berwarna semburat jingga terlihat begitu anggun. Suguhan lukisan alam yang semakin indah pada senja hari. Dari mataku aku mengindera 3 horizon panorama.
Paling atas adalah langit gelap dan matahari yang terbenam. Di tengah adalah bangunan-bangunan tinggi bercahaya yang kuyakini sebagian besar adalah gedung pencakar langit di kompleks markas PBB, gereja, dan menara pemancar. Paling bawah adalah Sungai Danube, simfoni gemercik airnya bisa terdengar dari atas Bukit Kahlenberg. Komposisi pemandangan yang langka di mataku.



Aku berusaha menikmati keindahan sore di lereng Kahlenberg. Sampai aku tersadar ada sesuatu yang hilang pada senja itu. Sesuatu yang akrab kudengar menjelang matahari terbenam, tapi kali ini tiada.
Fatma memecah keheningan, sontak menyadarkanku dari lamunan. Dia seperti tahu apa yang sedang kulamunkan senja itu.
"Kau tidak bisa mendengarnya, kan Hanum? Nun jauh di sana, di tepi Sungai Danube, ada masjid. Kalau mendekat, kita bisa mendengar azan dari masjid itu."
Segera aku raih kameraku kembali, kufokuskan lensanya ke bangunan tersebut. Dengan zoom in maksimal dalam pencahayaan sangat kurang, aku melihat bangunan berwarna hijau dengan kubah blenduk dan minaret.


Fatma memberitahuku, masjid itu bernama Vienna Islamic Center, pusat peribadatan umat Islam terbesar di Wina.
Seorang muazin pasti sedang memanggil umat Islam untuk shalat magrib sore ini, gumamku dalam hati. Hanya saja suaranya dikalahkan lonceng gereja di jagat Wina yang berdengung-dengung.
Sanubariku tiba-tiba tergerak, lalu kupejamkan mata.
Konsentrasiku kupusatkan pada suatu kata, seolah aku mendengarnya dengan jelas, dan mengikutinya. Allahu akbar...Allahu akbar...
Begitulah rasanya. Lalu kuresapi hafalan doa seusai panggilan shalat. Sebersit perasaan rindu kampung halaman karena rindu suara azan tiba-tiba menerpaku. Sudah beberapa minggu telingaku tak dihampiri suara kebesaran Tuhan di Eropa ini.
Rasa rindu yang menggejala itu perlahan hilang saat bulu romaku serempak berdiri. Bukan karena ketakutan, tapi kedinginan. Matahari sudah benar-benar menghilang. Panorama Wina sudah stabil dengan cahaya lampu yang itu-itu saja. Kabut malam yang tebal mulai menyaput deretan bangunan dan menara di Wina. Manusia yang berkerumun juga sudah mulai rontok meninggalkan pagar batas Kahlenberg, menyisakan aku, Fatma, dan Ayse.
"Lebih baik kita langsung ke dalam bangunan saja, Fatma. Lihat Ayse, sepertinya dia tak kuat menahan hawa sedingin ini," kataku tak tega melihat hidung Ayse mulai basah karena ingus. Satu-satunya bangunan yang kumaksud tak lain adalah Saint Joseph, gereja berwarna kuning keemasan. Selain sebuah kafetaria, gereja itu menjadi satu-satunya alternatif tempat berlindung dari hawa dingin yang menusuk. Aku berlari menggendong Ayse menuju gereja tanpa menghiraukan ibunya. Sejenak baru kusadari bahwa Fatma adalah muslimah berjilbab. Muslimah yang hanya mungkin kurang nyaman memasuki tempat ibadah agama lain.
Kutengok kepalaku ke belakang, mencari keberadaan Fatma. Ternyata dia lari tergopoh-gopoh tepat di belakangku.
"Fatma, kurasa...mmm...sebaiknya kita menghangatkan diri di kafe." Pernyataanku membuat Fatma sedikit masygul.
"Kenapa? Sudah terlanjur berlari kemari. Sebaiknya kita masuk dulu ke gereja. DI dalam banyak patung dan relief yang artistik. Kau perlu mengabadikannya dengan kameramu. Setelah itu, baru kita bersantai di kafe. Lekas masuk!"

 
Tak menduga jawaban Fatma, aku memasuki gerbang gereja Saint Joseph.
Kami beruntung hari itu. Gereja tersebut tak biasa dibuka untuk umum, tapi hari itu misa tengah berlangsung. Jemaah yang sebagian besar beruban alias berusia lanjut tampak khidmat mendengarkan khotbah dan sesekali menyanyikan lagu bersama. Beberapa rombongan jemaah mengalir berdatangan dan langsung mengambil tempat. Lalu kami?
Kami tidak sendiri. Ternyata banyak turis yang juga kedinginan seperti kami. Masuk ke gereja bukan untuk berdoa, melainkan karena tak kuat lagi menahan dingin. Gereja menjadi penyelamatnya. Para turis berdiri di area luar misa dan tanpa malu-malu menjepret objek-objek menarik dalam gereja. Hal ini boleh dilakukan dengan satu syaarat, tanpa blitz. Aku pun tak mau ketinggalan mengabadikan setiap sudut gereja yang berumur ratusan tahun itu. Tapi, tanganku seakan beku tak bisa digerakkan. Gambar yang kuambil menjadi gurat-gurat tak jelas. Dingin masih berdiam diri dalam kepalan tangan dan jari-jariku.
"Aku tahu cara menghangatkan badan yang paling efektif dalam gereja," sekali lagi Fatma seperti bisa membaca kegelisahanku. Gelisah karena tanganku bagai batu. Lalu dengan sigap dia memperagakan cara cepat menaikan suhu tubuh manusia dalam gereja. Mengayun-ayunkan jari jemarinya mengawang di atas lilin - lilin yang menerangi remang Saint Joseph, kemudian dengan cepat menariknya kembali.
Aku mengikuti Fatma. Kukibas-kibaskan kedua tanganku di atas api lilin-lilin yang sebenarnya ditujukan untuk berdoa. Beberapa saat, jari-jariku yang membeku mulai menghangat. Dan dari ujung jari-jari itu, kalor panas mulai merambat masuk ke dalam tubuhku. Di dekat beranda lilin itu ada sebuah gelas porselen dengan tulisan 50 cent Euro. Kumasukkan koin 50 cent Euro ke dalam gelas porselen tersebut. Tanda terima kasih karena lilin-lilin tersebut telah memberiku kehangatan.
Kulihat Fatma yang masih menggendong Ayse sambil sesekali mengusap hidung Ayse yang dialiri ingus. Dia begitu antusias mengambil gambar di setiap sudut gereja lewat kameera yang kutitipkan padanya. Sebuah perasaan yang tak bisa kugambarkan seketika menghinggapi diriku. Tentang Fatma dan seluruh sikapnya hari ini. Sikapnya yang membantah kekhawatiranku terhadap prinsipnya tentang Islam.
Dia begitu ringan memahami agamanya tanpa menyulitkan dirinya sendiri. Jelas, tidak semua orang muslim mempunyai pandangan sama, bahwa mereka boleh memasuki tempat ibadah umat agama lain. Tapi bagi Fatma, semua itu berpulang pada niat dalam hati. Niat saat itu tentu untuk mencari perlindungan diri dari serangan hawa dingin.

99 Cahaya di Langit Eropa - Bab 1

0 comments
Hari itu, medio Maret 2008, adalah hari-hari pertamaku menginjak bumi Eropa. Aku mengikuti suamiku Rangga yang mendapatkan beasiswa studi doktoral di Wina, Austria.
Aku datang menyusul 4 bulan setelah suamiku menyelesaikan semua administrasi untuk bisa mengundangku. Sebagai pendatang baru, aku bertekad untuk menghabiskan waktuku dengan berjalan-jalan mengelilingi kota Wina sambil menunggu panggilan kerja di kampus Rangga.
Pada Maret, seharusnya hawa sudah lebih menghangat. Seharusnya pegawai pertamanan mulai menanam bunga warna-warni di alun-alun dan di setiap sudut kota. Seharusnya burung-burung sudah berkicau menyambut matahari yang terlalu irit cahaya pada 6 bulan sebelumnya. Tetapi nyatanya itu tidak terjadi. Tuhan Yang Merajai perubahan alam membuat manusia kecele akan hitung-hitungan cuaca di Eropa. Hawa Maret kali itu dingin tak terkira menusuk tulang. Angin perubahan musim berembus memperburuk keadaan. Burung - burung enggan bernyanyi karena tenggorokan mereka kering dan gatal.
Penghangat di bawah jok bus yang aku tumpangi tak kuasa menantang udara dingin kali itu. Aku terus berusaha menyusutkan badan di dalam mantel musim dinginku. mantel yang cukup tebal dan seharusnya bisa melindungiku dari hawa dingin. Toh aku tetap merinding kedinginan.
"Itu karena suhu tubuhmu masih dalam penyesuaian, Hanum," kata Fatma yang duduk di sebelahku. Kuperkenalkan, Fatma Pasha. Kawan seperjalananku ke sebuah tempat baru di Wina.
Baru dua minggu kami berkenalan. Dan pucuk dicinta ulam tiba, dia seakan tahu aku perlu seorang penunjuk jalan untuk menyusuri sudut-sudut kota Wina.

 
Fatma adalah kawan baruku di kelas Bahasa Jerman di sebuah kursus singkat yang diselenggarakan oleh pemerintah Austria. Di dalam kelas, kami bertemu dengan para pendatang lain di Austria. Sebagian besar murid di kelas itu adalah para pendatang dari Eropa Timur. Hanya aku dan Fatma yang berwajah nonbule.
Meski Fatma juga pemula dalam bahasa Jerman, aku bersandar padanya untuk urusan jalan-jalan kali ini. Peta Wina sudah lekat diingatnya karena dia jauh lebih lama tinggal di Wina untuk ikut suaminya. Lucunya, meski sudah 3 tahun tinggal di Austria, dia masih harus mengenyam kursus Jerman level A1 sepertiku. Bagaimana mungkin?
Alasannya satu, dia tak punya kegiatan yang mendekatkannya pada komunikasi bahasa Jerman sehari-hari. Dia tak bekerja, dia juga tak bersekolah.
"Karena ini, Hanum," ucap Fatma sambil mengarahkan telunjuknya ke kepala.
"Mungkin...," Fatma berhenti bicara seolah mencari ide di kepalanya. "Karena aku berhijab. Aku tak pernah mendapatkan balasan dari perusahaan tempat aku melayangkan lamaran pekerjaan. Jika harus bersekolah, aku tak mampu mengeluarkan biaya," ucap Fatma lirih.
Itulah Fatma, potret seorang imigran Turki di Austria. Pada usia produktif 29 tahun, dia jatuh bangun mengalami puluhan surat lamaran pekerjaan. Karena sehelai kain penutup tempurung kepala yang tampak dalam pas foto curriculum vitae-nya, dia tertolak untuk bekerja secara profesional. paling tidak, itulah pengakuan Fatma kepadaku.
Kami bercakap-cakap lama dalam bus. Sesekali Fatma mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan padaku panorama di luar jendela. Indah memang pemandangan kali itu. Kali pertama aku melihat gunungan tipis putih membubuh di atas daun-daun yang berusaha kembali bersemi. Putih seperti bunga es dala kulkas. Sebagian besar telah mengeras menjadi kristal es. Setiap ban bus melindasnya, bunyi gemeretak pun berdecak-decak. Oh, ini yang namanya salju.
Salju kali itu adalah yang pertama kulihat di Eropa. Tapi salju ini bukanlah salju segar yang diluruhkan langit tadi malam. Salju ini salju terakhir yang masih berusaha bertahan di tengah asumsi musim semi yang akan segera tiba. Hamparan sisa-sisa salju yang berserakan di daun-daun ini hampir saja membuatku terbuai. Melupakan sebuah pertanyaan yang sempat hinggap di kepala tentang dilema yang dialami Fatma, sebelum akhirnya pertanyaan itu kembali berkelebat di otakku.
"Fatma, maaf jika aku menyinggungmu. Kenapa kau tak berpikir, mungkin mmm...kualifikasimu kurang sesuai, atau pengalaman kerjamu kurang sehingga perusahaan di sini tidak menerimamu?" ucapku terbata-bata. Terbata-bata karena takut menyinggung perasaannya. Terbata-bata karena memang kemampuan bahasa Jermanku masih berada di dasar laut.
"Ah, tadinya kupikir juga demikian, Hanum. Sampai kuturunkan pilihanku. Katakan padaku, apakah profesionalitas dan kompetensi sangat dibutuhkan sekadar untuk menjadi portir dalam dapur?"
Aku terdiam. Portir di dapur. Aku melihat diriku sendiri. Aku sendiri tak berjilbab. Bagaimanapun, aku akan berpikir berkali-kali untuk mengambil pekerjaan sehari-hari mengangkat-angkat barang berat, atau gampangnya menjadi buruh kasar perempuan. Namun untuk Fatma, meski dia telah rela menjadi buruh agar tetap bisa bekerja, perusahaan-perusahaan di Austria tetap menolaknya.
Entah mengapa aku tertarik berdiskusi tentang isu jilbab dan pekerjaan ini dengan Fatma. Rasanya penasaran saja. Di Indonesia, perempuan berjilbab bisa berkarier sampai puncak. Di Eropa? Apalagi di Austria? Bagi Fatma, meski mendapatkan izin bekerja dari pemerintah dan juga dari suaminya, tetap tak ada artinya. Musykil perusaan di Austria mau menerimanya. Dia harus mengubur dalam-dalam harapan menjadi perempuan yang mengenal dunia kerja Sekarang tekadnya hanya satu: menjadi perempuan solehah yang menjaga keluarga dan keharmonisan rumah tangga. Itu saja, katanya.
"Fatma, kauambil sisi baiknya. Jika kau bekerja, siapa yang akan mengurusnya?" tanganku menunjuk bocah perempuan yang tertidur lelap di sebelahnya, yang tak lain adalah Ayse, anak Fatma yang berusia 3 tahun. Fatma tersenyum sambil mengelus-elus rambut putri semata wayangnya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Aku tahu dia sedang berpikir bahwa perkataanku mungkin ada benarnya.
http://ceritanovelonline.blogspot.com
Perjalanan ke tempat baru di Austria ini adalah ide Fatma saat pertemuan hari pertama di kelas bahasa Jerman. Aku selalu yakin, berkenalan dengan orang baru itu harus dengan cara yang mengesankan. Bagiku kalimat: "Hai, namaku Hanum. Namamu siapa? Senang berrkenalan denganmu" terdengar sangat membosankan. Kurang memberi impresi terhadap calon kawan.
Karena itu kusorongkan coklat bergambar sapi terlilit lonceng kepada Fatma yang duduk di sebelahku, "Magst du schokolade. Maukah kau cokelat ini?" tanyaku sambil mempraktikan bahasa Jerman dasarku. Kubuka sedikit kecemasan cokelat yang langsung  menyembulkan batang-batang cokelat dari balik lapisan dalamnya.
"Ah, Milka!" Fatma tampaknya kenal akrab dengan nama cokelat ini.
"Ich mag Milka gern. Aber...danke, Ich faste. Saya sangat suka cokelat Milka. Tapi...terima kasih, saya sedang berpuasa," jawab Fatma santun.
Tadinya aku agak kecewa karena penawaranku ditolaknya. Namun aku senang, karena penolakannya didasarkan sebuah ibadah yang aku tahu benar maknanya. Sejurus kemudian, kututup lagi kemasan cokelat yang sudah terlanjut robek itu, lalu kujulurkan kembali kepada Fatma.
"Ambillah untuk berbuka puasa nanti. Kau berpuasa Senin-Kamis, ya?"
Fatma terlihat begitu girang mendengar responku yang paham tentang puasa yang dilakoninya. Dengan bahasa Jerman seadanya, jadilah kami kawan dekat sejak itu. Fatma menjadi rahmat buatku. Rahmat pertemanan dari sebatang cokelat.

 

Setiap istirahat kelas yang berdurasi 15 menit, Fatma mengajakku shalat zuhur berjamaah. Awalnya aku kebingungan, mana mungkin institusi sekuler semacam kursus bahasa ini menyediakan langgar atau mushala? Tidak mudah menemukan tempat ibadah shalat di Eropa. Namun Fatma panjang akal. Dia menemukan sebuah tempat--walau kurang representatif untuk shalat, tetapi suasana di sana cukup khidmat--yaitu ruang penitipan bayi dan anak para peserta kursus bahasa. Setiap kali kursus, kami berdua shalat zuhur, menyempil di antara bayi dan balita yang tengah tergeletak tertidur pulas. Dengkuran dan dengusan lirih bayi mungil justru membuat shalat kami semakin khusyuk.
Karena aku muslimah, Fatma merasa mempunyai saudara dekat di kelas tersebut. Karena itu juga dia merelakan waktu akhir pekannya untuk mengajakku berkeliling kota. Memamerkan kota Wina kepada pendatang baru, tepatnya.
"Kau pernah melihat kecantikan kota Wina dari atas gunung, Hanum? Kalau belum, esok selesai kelas kau harus melihatnya!" Itulah ajakan jalan-jalan Fatma pertama kali di kelas.

99 Cahaya di Langit Eropa - Overture

0 comments
Sebuah kota di Eropa Barat, 11 September 1683
Malam semakin merayap, dingin pada akhir musim panas yang semakin memuncak. Laki-laki tua itu menunggu di dalam barak.
Seharusnya hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu untuk melancarkan aksinya. Semua sudah terencana rapi. Penantian hampir 100 tahun akhirnya akan segera terwujud. Dia akan dielu-elukan sebagai panglima perang paling besar pada zamannya.
Namun, mendung yang kelam di langit membuat dirinya menangguhkan niat. Dia mempunyai firasat buruk. Hujan akan memporak-porandakan semua rencana yang sudah tersusun rapi.  Dia tidak mau menghantam musuh saat hari hujan, mengulang kesalahan panglima perang sebelumnya.
Laki-laki itu terduduk di atas kursi kayu mempelajari sebuah peta. Dia membelai-belai jenggotnya yang panjang sambil mengangguk - angguk sendiri. Matanya tak berkedip memandang titik-titik di atas peta. Selain titik-titik itu, deretan garis yang menghubungkan titik-titik itu juga membuatnya tersenyum puas. Puas oleh gambaran peta yang baru saja diberikan oleh penasihatnya.
Peta pengepungan sebuah kota.
Seorang laki-laki lain tiba-tiba masuk ke dalam barak. Dia membawa pesan penting.
"Panglima, lapor!" seru laki-laki tadi saat menghadap laki-laki tua itu di barak.
"Penasihat, apa yang akan kausampaikan?
Kuharap berita baik," kata laki-laki tua itu.
"Siap Panglima, tinggal satu titik lagi. Pasukan kita sudah membuat terowongan bawah tanah di sini separuh jalan," kata sang penasihat menunjuk salah satu deret garis yang menghubungkan titik-titik di atas peta.
"Hingga hari ini kita sudah berhasil membuat 257 terowongan  ke pusat kota. Orang-orang terbaik telah kita tempatkan. Ahli peledak juga telah kita perintahkan untuk siap sedia. Jika tak ada aral melintang, besok adalah hari bersejarah bagi kita semua," tambah penasihat itu mantap, menerangkan kemajuan rencana penyerangan.
"Berapa prajurit Sipahi dan Janissari yang kita punya untuk melakukan serangan?"
"Tujuh ribu orang lebih, Panglima."
"Lalu, bagaimana kondisi kavaleri kita hingga saat ini?"
Kita kehilangan banyak, tetapi tak sebanyak lawan. Tujuh puluh tujuh ribu tentara sudah termobilisasi di depan benteng lawan."
"Jangan pernah lengah. Awasi terus sepanjang benteng. Jangan biarkan satu orang pun keluar dari sela-sela benteng. Kita akan kepung mereka sampai mereka kelaparan. Jika sampai ada yang akan melarikan diri, tangkap dan kita interogasi mereka!" perintah laki-laki tua itu lantang. Dia diam sejenak setelah penasihatnya berkata "Siap" dengan mantap. Lalu ada hening di sana.
"Bagaimana dengan mata-mata kemarin yang tertangkap?" tanya laki-laki tua itu lagi.
"Sudah dipancung. Bahasa Turki mereka bagus, tapi mereka gagal menerjemahkan sand-sandi dari pasukan kita," jawab penasihat itu dengan tegas.
"Kalau begitu, simpan energi kita. Sebelum siang kita gempur lawan! Jangan memulai serangan kecuali ada serangan dari dalam benteng. Tuhan bersama kita!" tutup laki-laki tua itu sambil mengibaskan tangannya ke arah penasihatnya. Sebuah tanda agar penasihatnya keluar dari barak.
"Siap, Panglima. Tuhan bersama kita," timpal penasihat itu. Namun, penasihat itu tak beranjak. Masih ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
"...Mmm... Panglima... Apakah Panglima juga berkenan mendengar berita lainnya? Hanya saja berita ini sedikit kurang baik...," ucap penasihat itu terbata-bata.
Mata laki-laki tua itu tiba-tiba melotot. Dia seperti tak percaya. Ini adalah detik-detik yang menentukan. Seharusnya tak ada lagi berita buruk!
Laki-laki tua itu tak menjawab penasihatnya. Penasihatnya pun tak berani bersuara sedikit pun. Dia menunduk penuh ketakutan. Namun dia tahu, pesan ini harus disampaikan kepada orang yang paling bertanggung jawab dalam misi penaklukan ini.
"Katakan!" Suara berat laki-laki tua itu akhirnya keluar juga. Penasihatnya yang beberapa menit bergeming dalam posisinya akhirnya angkat bicara.
"Mereka tidak menyerang, Panglima. Tetapi anak buah kita melihat tembakan api terus-menerus dilontarkan ke udara dari dalam benteng," jawab penasihat itu dengan satu tarikan napas. Dia seperti tak tahu harus menjawab apa jika ditanya pemimpinnya tentang hal aneh itu.
Lontaran sekam berapi. Ada dua kemungkinan, sandi untuk pasukan bantuan... atau pertanda penyerahan diri... Tapi jika itu adalah penyerahan diri, seharusnya, seorang kurir sudah dikirim ke dalam barak. Jadi ini adalah...
Hanya itu yang ada di pikiran laki-laki tua itu. Orang-orang di dalam kota itu telah meminta bala bantuan dari luar!
Laki-laki tua itu bangkit dari tempat duduknya yang empuk, berjalan di depan penasihatnya yang masih berdiri tertegun. Lalu dia berlari keluar barak nyamannya, menyingkap tirai, lalu menatap bebas pemandangan yang ada di depannya.
Sebuah benteng kokoh nan tinggi menjulang berdiri di hadapannya. Laki-laki tua itu terus memandang sekeliling. Dengan pencahayaan lampu - lampu api yang dipasang di tiap-tiap barak kecil milik pasukannya, laki-laki itu berjalan sendiri di tengah rintik hujan. Pandangannya kali ini tak terbatas. Kota yang dia kepung ini telah dia pelajari seluk-beluknya berbulan-bulan. Laki-laki tua itu yakin tak ada yang tercecer dari rencananya, hingga dia menyadari sesuatu hal... kota ini dikepung oleh perbukitan tinggi!
Lalu dia teringat sesuatu lagi... dua mata-mata musuh yang tertangkap. Jika musuh mengirim mata-mata, mereka tentu tak akan mengirim hanya satu atau dua. mereka pasti memperbanyak kemungkinan...
Mungkinkah ada mata-mata musuh lain yang berhasil meloloskan diri dari puluhan ribu barak di luar benteng ini hingga mencapai bukit itu? Laki-laki tua itu bergetar. Dia tak percaya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Laki-laki tua itu terduduk lagi di singasananya dalam barak itu. DIa tak bisa tidur nyenyak.

http://ceritanovelonline.blogspot.com/

12 September 1683
Pagi telah menyongsong, namun salak anjing-anjing pemburu masih terdengar bersahutan. Seolah mereka ahli nujum yang menyampaikan hal buruk yang akan terjadi.
Laki-laki tua itu keluar dari barak lagi. Dia termenung memandang sekeliling. Hatinya bergejolak dasyat.
Siapakah sebenarnya yang aku bela dalam perang ini? Diriku sendiri? Sultanku? Agamaku? Atau ketamakanku?
Tidak ada yang berubah dari benteng yang tinggi kokoh itu. Rakyat berhasil membuat benteng terkuat dan termegah yang pernah ada di Eropa.
Nyala lampu api gantung semakin redup. Laki-laki tua itu membuka lipatan peta strategi pertempuran tadi malam. Titik-titik di peta dari kulit sapi itu menggambarkan bastion benteng kota yang bagian bawahnya dipasangi bubuk peledak. Jika dia menyeru "serbu" pada pasukannya, bastion-bastion benteng akan langsung meledak.
Di dalam benteng, tiba-tiba sebuah loncatan api terpelanting ke udara beberapa kali. SInyal permintaan bantuan dari dalam benteng kembali diletupkan.
Laki-laki tua itu menengok ke arah bukit di belakangnya. Bukit itu satu-satunya belantara yang tidak pernah dia perhitungkan. Dia berpikir cepat. Dia yakin musuhnya telah meminta bantuan dari luar, namun bantuan itu belum kunjung tiba. Jika perhitungannya benar, bantuan itu seharusnya akan datang hari ini. Artinya, dia harus lebih dulu menaklukan kota sebelum orang-orang kota mendapatkan bantuan dari luar.
Dia berketatapan hati. Sebelum matahari tergelincir, kota berbenteng itu harus digenggam!
Tapi agaknya semua sudah terlambat. Penasihatnya datang tergopoh-gopoh kepadanya.
"Panglima, pasukan gabungan Polandia dan Jerman mengirim pesan kepada kita. Mereka telah mengepung kita dari balik bukit, meminta kita mundur. Mohon maafkan hamba. Hamba tak bisa menjawab berapa kekuatan pasukan mereka."
Rasa panik tiba-tiba menyerang laki-laki tua itu. Tubuhnya bergetar lagi. Dia sadar, kini dirinya yang sebenarnya sedang dikepung musuh. Dari 2 arah! Musuh di dalam benteng dan musuh dari luar benteng.
Laki-laki tua itu tercenung. Dia gundah. Tapi baginya, ini semua adalah titik tanpa kembali. Dia takkan mundur barang selangkah pun.
"Bagikan pasukan menjadi 2! Siapkan semua Janissari dan Sipahi untuk menghadapi aliansi mereka di bukit. Sisanya menyerbu benteng bersamaku! Sekarang ini juga, perintahkan penyerbuah! Allah bersama kita..."

http://ceritanovelonline.blogspot.com/
 
Allah bersama kita
Itulah kata-kata terakhir laki-laki tua itu sebelum akhirnya dia menghunus pedang bersama pasukan kavalerinya, menghantam apa saja yang dilewatinya. Membakar semua rumah dan gubuk penduduk. Suara meriam dari pasukan artileri bergedebum-debum menggetarkan bumi dan langit siang itu. lalu suara ledakan dari bawah tanah pun berdentum menyobek permukaan tanah dan meruntuhkan bastion-bastion benteng.
Laki-laki tua itu sudah benar memperhitungkan semuanya. Hari ini adalah hari yang tenang tanpa hujan dan angin. Semua bubuk peledak juga meledak sesuai target. Namun kali ini, di atas kudanya, tiba-tiba dia merasa lemah. Teriakan "Allahu Akbar" yang terus dia kumandangkan dengan ribuan pasukannya tiba-tiba melemah. Matanya berkunang-kunang.
Tidak ada yang salah dengan semua rencana ini. Tapi ada rasa bersalah yang tiba-tiba menjalari dirinya. Sebuah bisikan datang dari lubuk hatinya. Seperti suara orang-orang yang datang dari alam masa depan. Suara anak, cucu, dan cicitnya yang belum hadir di muka bumi ini. Suara-suara itu memintanya untuk menangguhkan penaklukan kota ini.
Tapi laki-laki tua itu tak bisa berpikir jernih lagi. Di atas kudanya dia baru menyadari apa sebenarnya yang dia bela.
Laki-laki tua itu terus memacu kudanya, namun pandangan matanya semakin kabur. Jantungnya berdegup kencang. Kontrolnya terhadap kuda begitu limbung. Dia terperosok ke dalam parit yang dibuatnya sendiri. Jatuh terjerembab ke dasar parit dalam.
Sangat dalam...

99 Cahaya di Langit Eropa - Prolog

0 comments
 

Tinggal di Eropa selama 3 tahun menjadi arena menjelajahi Eropa dan segala isinya. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, saya merasakan hidup di suatu negara tempat Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya dimensi spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.

Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Perjalanan yang membuat saya menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekadar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepak Bola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola-gondola di Venezia. Pencarian saya telah mengantarkan saya pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Memang tempat-tempat ziarah tersebut bukanlah tempat suci yang namanya pernah disebut dalam Al-Qur'an atu kisah para nabi. Tapi dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut, saya jadi semkin mengenal identitas agama saya sendiri. membuat saya makin jatuh cinta dengan Islam.

Eropa dan Islam. Mereka pernh menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Berbagai kejadian sejak 10 tahun terakhir--misalnya pengeboman Madrid dan London, menyusul serangn teroris 11 September di Amerika, kontroversi kartun Nabi Muhammad, dan film Fitna di Belanda--menyebabkn hubungan dunia Islam dan Eropa mengalami ketegangan yang cukup serius. Saya merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya. Luka da dendam akibat ratusan tahun Perang Salib yang rupanya masih membekas sampai hari ini.

Mengutip kata-kata George Santayna: "Those who don't learn from history are doomed to repeat it." Barangsiapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya. Banyak di antara umat Islam kini yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati.
Islam pertama kali masuk ke Spanyol membawa kedamian dan kemajuan peradaban. Benih-benih Islam itu tumbuh menyinari tanah Spanyol hingga 750 tahun lebih, jauh sebelum dan lebih lama daripada Indonesia mengenal Islam. Namun kita semua juga harus bertanya, apa yang membuat cahaya ini kemudian meredup? Peristiwa apa yang akhirnya membuat Islam tersapu dari Spanyol? Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lalu agar kita tidak terperosok di lubang yang sama?
Tidak bisa kita mungkiri, peradaban Islam mengamali kemunduran selama beberapa abad terakhir. Di tengah retorika teriakan jihad untuk memerangi negara-negara barat, kita dihadapkan pada suatu realitas: tidak ada satu pun negara Islam yang memiliki kemampuan teknologi untuk melindungi dirinya sendiri saat ini.
Dunia Islam saat ini sudah mulai memalingkan muka dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin jauh dari akar yang membuatnya bersinar lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Kemudian ketika ada negara yang melarang pemakaian jilbab, pembangunan minaret, atau seorang yang mengolok-olok Islam dengan membuat video Fitn, kita hanya bisa berteriak-teriak di depan kedutaan negara mereka sambil membakar bendera. Hanya itu.
Ini yang coba saya refleksikan dalam catatan perjalanan ini. Saya mencoba mengumpulkan kembali sis kebesaran peradabn Islam yang kini terserak. Dan saya justru menemukan jejak - jejak peninggalan tersebut selama menempuh perjalanan menjelajah Eropa.

Sudah terlalu banyak buku traveling sebelumnya, terutama tentang Eropa dan segala keindahannya, yang hadir. Bangunan-bangunan, tempat yang wajib dikunjungi berikut tip-tip perjalanan dan cara kreatif untuk berhemat, semua dikemas untuk pembaca. Tapi buat saya sendiri, hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekadar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya.

Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw. dari mekkah ke Madinah.

Umat Islam terdahulu adalah "traveler" yang tangguh. Jauh sebelum Vasco de Gama menemukan Semenanjung Harapan, atau Colombus menemukan benua Amerika, musafir-musafir Islam telah menyeberangi 3 samudra hingga Indonesia, berkelana jauh sampai ujung negeri China, menembus Himalaya dan Padang Pasir Gobi. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah ragu untuk meninggalkan rumah, belajar hal-hal baru dari dunia luar sana. Bukankah dalam Al-Qur'an juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia bisa saling mengenal, berta'aruf, saling belajar dari bangsa-bangsa lain untuk menaikkan derajat kemuliaan di sisi Allah?
Bagi saya, berada di Eropa selama lebih dari tiga tahun adalah pengalaman yang tak ternilai harganya. Saya mencoba membuka mata dan hati saya menerima hal-hal baru dan merefleksikannya untuk memperkuat keimanan say. Menelisik hikmah dalam setiap perjalanan, belajar dari pengalaman dan membaca rahasia-rahasia masa lalu yang kini hampir tak terlihat lagi di permukaan. Saya tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam.

Catatan perjalanan ini berdasarkan kisah nyata saya dan Rangga dalam berinteraksi sosial dan mengusung fakta sejarah yang sebenarnya. Namun, untuk melindungi privasi orang-orang yang terlibat dalam cerita ini, nama mereka sengaja disamarkan. Tutur dialog dan alur cerita yang terjadi dalam buku ini juga direkonstruksi ulang untuk memperkuat bangunan cerita, tanpa menghilangkan esensinya.
Perjalanan saya menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini. Vienna, Paris, Madrid, Cordoba, Granada, dan Istanbul masuk dalam manifes perjalanan sy selama menjelajahi Eropa.

Perjalanan ini membuka mata saya bahwa Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.
Saat memandang matahari tenggelam di Menar Eiffel Paris, Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al-Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, saya bersimpuh. Matahari tenggelam yang saya lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1.000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan semangat toleransi antarumat beragama.
Akhir dari perjalanan selma 3 tahun di Eropa justru mengantarkan saya pada pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan saya pada sumber kebenaran abadi yang Mahasempurna.

Saya teringat kata sahabat Ali ra. :
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan. (Ali bin Abi Thalib ra.)

Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com
Showing posts with label 99 Cahaya di Langit Eropa. Show all posts
Showing posts with label 99 Cahaya di Langit Eropa. Show all posts

99 Cahaya di Langit Eropa - Bab 2

0 comments
Aku menilik jam tanganku. Seharusnya jika bus tepat waktu, lima belas menit lagi aku dan Fatma akan sampai di Kahlenberg.
Kahlenberg adalah sebuah bukit atau pegunungan di Wina, Austria yang mengitari 7 negara Eropa. Dari Kahlenberg, orang bisa melongok cantiknya Wina dari ketinggian, dari pojok A sampai Z. Sesuai namanya, kahlenberg, "Kahl" dalam bahasa Jerman berarti telanjang, sementara "berg" pegunungan. Jadi, kira-kira maksud si pemberi nama pegunungan ini kala itu adalah dari sini orang bisa menelanjangi kota Wina seutuhnya tanpa batas.
Untuk menuju Kahlenberg, aku dan Fatma hanya perlu mengambil bus dari pusat kota dengan tiket biasa, bukan tiket khusus. Hanya dengan 1,8 Euro--atau sekitar 22 ribu rupiah--sesuai plot jadwal yang aku baca di halte, kami akan menempuh perjalanan dalam waktu 1 jam hingga mencapai titik tertinggi Wina dengan 20 halte bus di antaranya.
Ketika bus mulai berjalan, aku merasakan sebuah intuisi yang dalam. Perjalanan ke Kahlenberg ini pasti perjalanan yang memikat, aku yakin.
Tepat pukul 17.30 kami turun dari bus di sebuah halte sepi di atas bukit. Udara menjadi dingin karena kehangatan pemanas di bus hilang seketika dari tubuhku. Tapi, rasa dingin itu menjadi sirna tak terasa tatkala mataku menangkap pemandangan gunung nan asri. Kami melangkah mendekati pagar pembatas di sepanjang bukit. Pagar itu melingkar membentengi dua bukit kecil yang ditebas menyerupai tembok. Berdiri di belakangnya memungkinkan kita melihat kota Wina seutuhnya. Wina yang menyambut datangnya senja. Terlihat pemandangan luar biasa indah yang mencuri perhatianku. Kugendong Ayse mendekati pagar pembatas Kahlenberg.
 
Matahari sudah semakin memerah menuju peraduan, membuat bangunan dan gedung serempak menyalakan lampu. Momen tersebut sayang bila dilewatkan. Kamera di balik mantelku sudah kukeluarkan, siap menjepret detik-detik berubahnya suasana malam di Wina. Kilatan sinar dari kameraku langsung membuncah berkali-kali mengabadikan panorama senja itu. Ayse yang terus berada dalam pelukanku sesekali kubiarkan mencoba memencet-mencet tombol capture.
Diafragma kameraku menangkap sebuah objek yang membuatku bertanya-tanya. Sederhana, tetapi dia memberikan pengaruh besar terhadap horizon pemandangan kota Wina. Sebuah sungai yang membelah kota Wina menjadi dua. Aku baru sadar, inilah sungai yang terkenal itu. Donau atau Danube. Sungai yang menginspirasi Johann Strauss menciptakan lagu waltz The Blue Danube.
Simfoni abadi musik klasik itu ternyata berawal dari sungai bening di hadapanku kali itu. Waltz The Blue Danube benar-benar menggambarkan aliran sungai yang menginspirasinya. Airnya terkadang tenang, terkadang bercipratan. Persis permainan partitur waltz The Blue Danube yang kadang bergerak lembut legato dan berlompatan staccato.

http://ceritanovelonline.blogspot.com

Teng... teng... teng...
Nun jauh di kota Wina sana, lonceng gereja berbunyi bertalu-talu. Gereja kecil yang ada di Kahlenberg pun tak mau kalah menyahut. Suara loncengnya berdentang berkali-kali.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Matahari semakin menenggelamkan diri ke peristirahatannya. Ekor sinarnya yang berwarna semburat jingga terlihat begitu anggun. Suguhan lukisan alam yang semakin indah pada senja hari. Dari mataku aku mengindera 3 horizon panorama.
Paling atas adalah langit gelap dan matahari yang terbenam. Di tengah adalah bangunan-bangunan tinggi bercahaya yang kuyakini sebagian besar adalah gedung pencakar langit di kompleks markas PBB, gereja, dan menara pemancar. Paling bawah adalah Sungai Danube, simfoni gemercik airnya bisa terdengar dari atas Bukit Kahlenberg. Komposisi pemandangan yang langka di mataku.



Aku berusaha menikmati keindahan sore di lereng Kahlenberg. Sampai aku tersadar ada sesuatu yang hilang pada senja itu. Sesuatu yang akrab kudengar menjelang matahari terbenam, tapi kali ini tiada.
Fatma memecah keheningan, sontak menyadarkanku dari lamunan. Dia seperti tahu apa yang sedang kulamunkan senja itu.
"Kau tidak bisa mendengarnya, kan Hanum? Nun jauh di sana, di tepi Sungai Danube, ada masjid. Kalau mendekat, kita bisa mendengar azan dari masjid itu."
Segera aku raih kameraku kembali, kufokuskan lensanya ke bangunan tersebut. Dengan zoom in maksimal dalam pencahayaan sangat kurang, aku melihat bangunan berwarna hijau dengan kubah blenduk dan minaret.


Fatma memberitahuku, masjid itu bernama Vienna Islamic Center, pusat peribadatan umat Islam terbesar di Wina.
Seorang muazin pasti sedang memanggil umat Islam untuk shalat magrib sore ini, gumamku dalam hati. Hanya saja suaranya dikalahkan lonceng gereja di jagat Wina yang berdengung-dengung.
Sanubariku tiba-tiba tergerak, lalu kupejamkan mata.
Konsentrasiku kupusatkan pada suatu kata, seolah aku mendengarnya dengan jelas, dan mengikutinya. Allahu akbar...Allahu akbar...
Begitulah rasanya. Lalu kuresapi hafalan doa seusai panggilan shalat. Sebersit perasaan rindu kampung halaman karena rindu suara azan tiba-tiba menerpaku. Sudah beberapa minggu telingaku tak dihampiri suara kebesaran Tuhan di Eropa ini.
Rasa rindu yang menggejala itu perlahan hilang saat bulu romaku serempak berdiri. Bukan karena ketakutan, tapi kedinginan. Matahari sudah benar-benar menghilang. Panorama Wina sudah stabil dengan cahaya lampu yang itu-itu saja. Kabut malam yang tebal mulai menyaput deretan bangunan dan menara di Wina. Manusia yang berkerumun juga sudah mulai rontok meninggalkan pagar batas Kahlenberg, menyisakan aku, Fatma, dan Ayse.
"Lebih baik kita langsung ke dalam bangunan saja, Fatma. Lihat Ayse, sepertinya dia tak kuat menahan hawa sedingin ini," kataku tak tega melihat hidung Ayse mulai basah karena ingus. Satu-satunya bangunan yang kumaksud tak lain adalah Saint Joseph, gereja berwarna kuning keemasan. Selain sebuah kafetaria, gereja itu menjadi satu-satunya alternatif tempat berlindung dari hawa dingin yang menusuk. Aku berlari menggendong Ayse menuju gereja tanpa menghiraukan ibunya. Sejenak baru kusadari bahwa Fatma adalah muslimah berjilbab. Muslimah yang hanya mungkin kurang nyaman memasuki tempat ibadah agama lain.
Kutengok kepalaku ke belakang, mencari keberadaan Fatma. Ternyata dia lari tergopoh-gopoh tepat di belakangku.
"Fatma, kurasa...mmm...sebaiknya kita menghangatkan diri di kafe." Pernyataanku membuat Fatma sedikit masygul.
"Kenapa? Sudah terlanjur berlari kemari. Sebaiknya kita masuk dulu ke gereja. DI dalam banyak patung dan relief yang artistik. Kau perlu mengabadikannya dengan kameramu. Setelah itu, baru kita bersantai di kafe. Lekas masuk!"

 
Tak menduga jawaban Fatma, aku memasuki gerbang gereja Saint Joseph.
Kami beruntung hari itu. Gereja tersebut tak biasa dibuka untuk umum, tapi hari itu misa tengah berlangsung. Jemaah yang sebagian besar beruban alias berusia lanjut tampak khidmat mendengarkan khotbah dan sesekali menyanyikan lagu bersama. Beberapa rombongan jemaah mengalir berdatangan dan langsung mengambil tempat. Lalu kami?
Kami tidak sendiri. Ternyata banyak turis yang juga kedinginan seperti kami. Masuk ke gereja bukan untuk berdoa, melainkan karena tak kuat lagi menahan dingin. Gereja menjadi penyelamatnya. Para turis berdiri di area luar misa dan tanpa malu-malu menjepret objek-objek menarik dalam gereja. Hal ini boleh dilakukan dengan satu syaarat, tanpa blitz. Aku pun tak mau ketinggalan mengabadikan setiap sudut gereja yang berumur ratusan tahun itu. Tapi, tanganku seakan beku tak bisa digerakkan. Gambar yang kuambil menjadi gurat-gurat tak jelas. Dingin masih berdiam diri dalam kepalan tangan dan jari-jariku.
"Aku tahu cara menghangatkan badan yang paling efektif dalam gereja," sekali lagi Fatma seperti bisa membaca kegelisahanku. Gelisah karena tanganku bagai batu. Lalu dengan sigap dia memperagakan cara cepat menaikan suhu tubuh manusia dalam gereja. Mengayun-ayunkan jari jemarinya mengawang di atas lilin - lilin yang menerangi remang Saint Joseph, kemudian dengan cepat menariknya kembali.
Aku mengikuti Fatma. Kukibas-kibaskan kedua tanganku di atas api lilin-lilin yang sebenarnya ditujukan untuk berdoa. Beberapa saat, jari-jariku yang membeku mulai menghangat. Dan dari ujung jari-jari itu, kalor panas mulai merambat masuk ke dalam tubuhku. Di dekat beranda lilin itu ada sebuah gelas porselen dengan tulisan 50 cent Euro. Kumasukkan koin 50 cent Euro ke dalam gelas porselen tersebut. Tanda terima kasih karena lilin-lilin tersebut telah memberiku kehangatan.
Kulihat Fatma yang masih menggendong Ayse sambil sesekali mengusap hidung Ayse yang dialiri ingus. Dia begitu antusias mengambil gambar di setiap sudut gereja lewat kameera yang kutitipkan padanya. Sebuah perasaan yang tak bisa kugambarkan seketika menghinggapi diriku. Tentang Fatma dan seluruh sikapnya hari ini. Sikapnya yang membantah kekhawatiranku terhadap prinsipnya tentang Islam.
Dia begitu ringan memahami agamanya tanpa menyulitkan dirinya sendiri. Jelas, tidak semua orang muslim mempunyai pandangan sama, bahwa mereka boleh memasuki tempat ibadah umat agama lain. Tapi bagi Fatma, semua itu berpulang pada niat dalam hati. Niat saat itu tentu untuk mencari perlindungan diri dari serangan hawa dingin.

99 Cahaya di Langit Eropa - Bab 1

0 comments
Hari itu, medio Maret 2008, adalah hari-hari pertamaku menginjak bumi Eropa. Aku mengikuti suamiku Rangga yang mendapatkan beasiswa studi doktoral di Wina, Austria.
Aku datang menyusul 4 bulan setelah suamiku menyelesaikan semua administrasi untuk bisa mengundangku. Sebagai pendatang baru, aku bertekad untuk menghabiskan waktuku dengan berjalan-jalan mengelilingi kota Wina sambil menunggu panggilan kerja di kampus Rangga.
Pada Maret, seharusnya hawa sudah lebih menghangat. Seharusnya pegawai pertamanan mulai menanam bunga warna-warni di alun-alun dan di setiap sudut kota. Seharusnya burung-burung sudah berkicau menyambut matahari yang terlalu irit cahaya pada 6 bulan sebelumnya. Tetapi nyatanya itu tidak terjadi. Tuhan Yang Merajai perubahan alam membuat manusia kecele akan hitung-hitungan cuaca di Eropa. Hawa Maret kali itu dingin tak terkira menusuk tulang. Angin perubahan musim berembus memperburuk keadaan. Burung - burung enggan bernyanyi karena tenggorokan mereka kering dan gatal.
Penghangat di bawah jok bus yang aku tumpangi tak kuasa menantang udara dingin kali itu. Aku terus berusaha menyusutkan badan di dalam mantel musim dinginku. mantel yang cukup tebal dan seharusnya bisa melindungiku dari hawa dingin. Toh aku tetap merinding kedinginan.
"Itu karena suhu tubuhmu masih dalam penyesuaian, Hanum," kata Fatma yang duduk di sebelahku. Kuperkenalkan, Fatma Pasha. Kawan seperjalananku ke sebuah tempat baru di Wina.
Baru dua minggu kami berkenalan. Dan pucuk dicinta ulam tiba, dia seakan tahu aku perlu seorang penunjuk jalan untuk menyusuri sudut-sudut kota Wina.

 
Fatma adalah kawan baruku di kelas Bahasa Jerman di sebuah kursus singkat yang diselenggarakan oleh pemerintah Austria. Di dalam kelas, kami bertemu dengan para pendatang lain di Austria. Sebagian besar murid di kelas itu adalah para pendatang dari Eropa Timur. Hanya aku dan Fatma yang berwajah nonbule.
Meski Fatma juga pemula dalam bahasa Jerman, aku bersandar padanya untuk urusan jalan-jalan kali ini. Peta Wina sudah lekat diingatnya karena dia jauh lebih lama tinggal di Wina untuk ikut suaminya. Lucunya, meski sudah 3 tahun tinggal di Austria, dia masih harus mengenyam kursus Jerman level A1 sepertiku. Bagaimana mungkin?
Alasannya satu, dia tak punya kegiatan yang mendekatkannya pada komunikasi bahasa Jerman sehari-hari. Dia tak bekerja, dia juga tak bersekolah.
"Karena ini, Hanum," ucap Fatma sambil mengarahkan telunjuknya ke kepala.
"Mungkin...," Fatma berhenti bicara seolah mencari ide di kepalanya. "Karena aku berhijab. Aku tak pernah mendapatkan balasan dari perusahaan tempat aku melayangkan lamaran pekerjaan. Jika harus bersekolah, aku tak mampu mengeluarkan biaya," ucap Fatma lirih.
Itulah Fatma, potret seorang imigran Turki di Austria. Pada usia produktif 29 tahun, dia jatuh bangun mengalami puluhan surat lamaran pekerjaan. Karena sehelai kain penutup tempurung kepala yang tampak dalam pas foto curriculum vitae-nya, dia tertolak untuk bekerja secara profesional. paling tidak, itulah pengakuan Fatma kepadaku.
Kami bercakap-cakap lama dalam bus. Sesekali Fatma mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan padaku panorama di luar jendela. Indah memang pemandangan kali itu. Kali pertama aku melihat gunungan tipis putih membubuh di atas daun-daun yang berusaha kembali bersemi. Putih seperti bunga es dala kulkas. Sebagian besar telah mengeras menjadi kristal es. Setiap ban bus melindasnya, bunyi gemeretak pun berdecak-decak. Oh, ini yang namanya salju.
Salju kali itu adalah yang pertama kulihat di Eropa. Tapi salju ini bukanlah salju segar yang diluruhkan langit tadi malam. Salju ini salju terakhir yang masih berusaha bertahan di tengah asumsi musim semi yang akan segera tiba. Hamparan sisa-sisa salju yang berserakan di daun-daun ini hampir saja membuatku terbuai. Melupakan sebuah pertanyaan yang sempat hinggap di kepala tentang dilema yang dialami Fatma, sebelum akhirnya pertanyaan itu kembali berkelebat di otakku.
"Fatma, maaf jika aku menyinggungmu. Kenapa kau tak berpikir, mungkin mmm...kualifikasimu kurang sesuai, atau pengalaman kerjamu kurang sehingga perusahaan di sini tidak menerimamu?" ucapku terbata-bata. Terbata-bata karena takut menyinggung perasaannya. Terbata-bata karena memang kemampuan bahasa Jermanku masih berada di dasar laut.
"Ah, tadinya kupikir juga demikian, Hanum. Sampai kuturunkan pilihanku. Katakan padaku, apakah profesionalitas dan kompetensi sangat dibutuhkan sekadar untuk menjadi portir dalam dapur?"
Aku terdiam. Portir di dapur. Aku melihat diriku sendiri. Aku sendiri tak berjilbab. Bagaimanapun, aku akan berpikir berkali-kali untuk mengambil pekerjaan sehari-hari mengangkat-angkat barang berat, atau gampangnya menjadi buruh kasar perempuan. Namun untuk Fatma, meski dia telah rela menjadi buruh agar tetap bisa bekerja, perusahaan-perusahaan di Austria tetap menolaknya.
Entah mengapa aku tertarik berdiskusi tentang isu jilbab dan pekerjaan ini dengan Fatma. Rasanya penasaran saja. Di Indonesia, perempuan berjilbab bisa berkarier sampai puncak. Di Eropa? Apalagi di Austria? Bagi Fatma, meski mendapatkan izin bekerja dari pemerintah dan juga dari suaminya, tetap tak ada artinya. Musykil perusaan di Austria mau menerimanya. Dia harus mengubur dalam-dalam harapan menjadi perempuan yang mengenal dunia kerja Sekarang tekadnya hanya satu: menjadi perempuan solehah yang menjaga keluarga dan keharmonisan rumah tangga. Itu saja, katanya.
"Fatma, kauambil sisi baiknya. Jika kau bekerja, siapa yang akan mengurusnya?" tanganku menunjuk bocah perempuan yang tertidur lelap di sebelahnya, yang tak lain adalah Ayse, anak Fatma yang berusia 3 tahun. Fatma tersenyum sambil mengelus-elus rambut putri semata wayangnya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Aku tahu dia sedang berpikir bahwa perkataanku mungkin ada benarnya.
http://ceritanovelonline.blogspot.com
Perjalanan ke tempat baru di Austria ini adalah ide Fatma saat pertemuan hari pertama di kelas bahasa Jerman. Aku selalu yakin, berkenalan dengan orang baru itu harus dengan cara yang mengesankan. Bagiku kalimat: "Hai, namaku Hanum. Namamu siapa? Senang berrkenalan denganmu" terdengar sangat membosankan. Kurang memberi impresi terhadap calon kawan.
Karena itu kusorongkan coklat bergambar sapi terlilit lonceng kepada Fatma yang duduk di sebelahku, "Magst du schokolade. Maukah kau cokelat ini?" tanyaku sambil mempraktikan bahasa Jerman dasarku. Kubuka sedikit kecemasan cokelat yang langsung  menyembulkan batang-batang cokelat dari balik lapisan dalamnya.
"Ah, Milka!" Fatma tampaknya kenal akrab dengan nama cokelat ini.
"Ich mag Milka gern. Aber...danke, Ich faste. Saya sangat suka cokelat Milka. Tapi...terima kasih, saya sedang berpuasa," jawab Fatma santun.
Tadinya aku agak kecewa karena penawaranku ditolaknya. Namun aku senang, karena penolakannya didasarkan sebuah ibadah yang aku tahu benar maknanya. Sejurus kemudian, kututup lagi kemasan cokelat yang sudah terlanjut robek itu, lalu kujulurkan kembali kepada Fatma.
"Ambillah untuk berbuka puasa nanti. Kau berpuasa Senin-Kamis, ya?"
Fatma terlihat begitu girang mendengar responku yang paham tentang puasa yang dilakoninya. Dengan bahasa Jerman seadanya, jadilah kami kawan dekat sejak itu. Fatma menjadi rahmat buatku. Rahmat pertemanan dari sebatang cokelat.

 

Setiap istirahat kelas yang berdurasi 15 menit, Fatma mengajakku shalat zuhur berjamaah. Awalnya aku kebingungan, mana mungkin institusi sekuler semacam kursus bahasa ini menyediakan langgar atau mushala? Tidak mudah menemukan tempat ibadah shalat di Eropa. Namun Fatma panjang akal. Dia menemukan sebuah tempat--walau kurang representatif untuk shalat, tetapi suasana di sana cukup khidmat--yaitu ruang penitipan bayi dan anak para peserta kursus bahasa. Setiap kali kursus, kami berdua shalat zuhur, menyempil di antara bayi dan balita yang tengah tergeletak tertidur pulas. Dengkuran dan dengusan lirih bayi mungil justru membuat shalat kami semakin khusyuk.
Karena aku muslimah, Fatma merasa mempunyai saudara dekat di kelas tersebut. Karena itu juga dia merelakan waktu akhir pekannya untuk mengajakku berkeliling kota. Memamerkan kota Wina kepada pendatang baru, tepatnya.
"Kau pernah melihat kecantikan kota Wina dari atas gunung, Hanum? Kalau belum, esok selesai kelas kau harus melihatnya!" Itulah ajakan jalan-jalan Fatma pertama kali di kelas.

99 Cahaya di Langit Eropa - Overture

0 comments
Sebuah kota di Eropa Barat, 11 September 1683
Malam semakin merayap, dingin pada akhir musim panas yang semakin memuncak. Laki-laki tua itu menunggu di dalam barak.
Seharusnya hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu untuk melancarkan aksinya. Semua sudah terencana rapi. Penantian hampir 100 tahun akhirnya akan segera terwujud. Dia akan dielu-elukan sebagai panglima perang paling besar pada zamannya.
Namun, mendung yang kelam di langit membuat dirinya menangguhkan niat. Dia mempunyai firasat buruk. Hujan akan memporak-porandakan semua rencana yang sudah tersusun rapi.  Dia tidak mau menghantam musuh saat hari hujan, mengulang kesalahan panglima perang sebelumnya.
Laki-laki itu terduduk di atas kursi kayu mempelajari sebuah peta. Dia membelai-belai jenggotnya yang panjang sambil mengangguk - angguk sendiri. Matanya tak berkedip memandang titik-titik di atas peta. Selain titik-titik itu, deretan garis yang menghubungkan titik-titik itu juga membuatnya tersenyum puas. Puas oleh gambaran peta yang baru saja diberikan oleh penasihatnya.
Peta pengepungan sebuah kota.
Seorang laki-laki lain tiba-tiba masuk ke dalam barak. Dia membawa pesan penting.
"Panglima, lapor!" seru laki-laki tadi saat menghadap laki-laki tua itu di barak.
"Penasihat, apa yang akan kausampaikan?
Kuharap berita baik," kata laki-laki tua itu.
"Siap Panglima, tinggal satu titik lagi. Pasukan kita sudah membuat terowongan bawah tanah di sini separuh jalan," kata sang penasihat menunjuk salah satu deret garis yang menghubungkan titik-titik di atas peta.
"Hingga hari ini kita sudah berhasil membuat 257 terowongan  ke pusat kota. Orang-orang terbaik telah kita tempatkan. Ahli peledak juga telah kita perintahkan untuk siap sedia. Jika tak ada aral melintang, besok adalah hari bersejarah bagi kita semua," tambah penasihat itu mantap, menerangkan kemajuan rencana penyerangan.
"Berapa prajurit Sipahi dan Janissari yang kita punya untuk melakukan serangan?"
"Tujuh ribu orang lebih, Panglima."
"Lalu, bagaimana kondisi kavaleri kita hingga saat ini?"
Kita kehilangan banyak, tetapi tak sebanyak lawan. Tujuh puluh tujuh ribu tentara sudah termobilisasi di depan benteng lawan."
"Jangan pernah lengah. Awasi terus sepanjang benteng. Jangan biarkan satu orang pun keluar dari sela-sela benteng. Kita akan kepung mereka sampai mereka kelaparan. Jika sampai ada yang akan melarikan diri, tangkap dan kita interogasi mereka!" perintah laki-laki tua itu lantang. Dia diam sejenak setelah penasihatnya berkata "Siap" dengan mantap. Lalu ada hening di sana.
"Bagaimana dengan mata-mata kemarin yang tertangkap?" tanya laki-laki tua itu lagi.
"Sudah dipancung. Bahasa Turki mereka bagus, tapi mereka gagal menerjemahkan sand-sandi dari pasukan kita," jawab penasihat itu dengan tegas.
"Kalau begitu, simpan energi kita. Sebelum siang kita gempur lawan! Jangan memulai serangan kecuali ada serangan dari dalam benteng. Tuhan bersama kita!" tutup laki-laki tua itu sambil mengibaskan tangannya ke arah penasihatnya. Sebuah tanda agar penasihatnya keluar dari barak.
"Siap, Panglima. Tuhan bersama kita," timpal penasihat itu. Namun, penasihat itu tak beranjak. Masih ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
"...Mmm... Panglima... Apakah Panglima juga berkenan mendengar berita lainnya? Hanya saja berita ini sedikit kurang baik...," ucap penasihat itu terbata-bata.
Mata laki-laki tua itu tiba-tiba melotot. Dia seperti tak percaya. Ini adalah detik-detik yang menentukan. Seharusnya tak ada lagi berita buruk!
Laki-laki tua itu tak menjawab penasihatnya. Penasihatnya pun tak berani bersuara sedikit pun. Dia menunduk penuh ketakutan. Namun dia tahu, pesan ini harus disampaikan kepada orang yang paling bertanggung jawab dalam misi penaklukan ini.
"Katakan!" Suara berat laki-laki tua itu akhirnya keluar juga. Penasihatnya yang beberapa menit bergeming dalam posisinya akhirnya angkat bicara.
"Mereka tidak menyerang, Panglima. Tetapi anak buah kita melihat tembakan api terus-menerus dilontarkan ke udara dari dalam benteng," jawab penasihat itu dengan satu tarikan napas. Dia seperti tak tahu harus menjawab apa jika ditanya pemimpinnya tentang hal aneh itu.
Lontaran sekam berapi. Ada dua kemungkinan, sandi untuk pasukan bantuan... atau pertanda penyerahan diri... Tapi jika itu adalah penyerahan diri, seharusnya, seorang kurir sudah dikirim ke dalam barak. Jadi ini adalah...
Hanya itu yang ada di pikiran laki-laki tua itu. Orang-orang di dalam kota itu telah meminta bala bantuan dari luar!
Laki-laki tua itu bangkit dari tempat duduknya yang empuk, berjalan di depan penasihatnya yang masih berdiri tertegun. Lalu dia berlari keluar barak nyamannya, menyingkap tirai, lalu menatap bebas pemandangan yang ada di depannya.
Sebuah benteng kokoh nan tinggi menjulang berdiri di hadapannya. Laki-laki tua itu terus memandang sekeliling. Dengan pencahayaan lampu - lampu api yang dipasang di tiap-tiap barak kecil milik pasukannya, laki-laki itu berjalan sendiri di tengah rintik hujan. Pandangannya kali ini tak terbatas. Kota yang dia kepung ini telah dia pelajari seluk-beluknya berbulan-bulan. Laki-laki tua itu yakin tak ada yang tercecer dari rencananya, hingga dia menyadari sesuatu hal... kota ini dikepung oleh perbukitan tinggi!
Lalu dia teringat sesuatu lagi... dua mata-mata musuh yang tertangkap. Jika musuh mengirim mata-mata, mereka tentu tak akan mengirim hanya satu atau dua. mereka pasti memperbanyak kemungkinan...
Mungkinkah ada mata-mata musuh lain yang berhasil meloloskan diri dari puluhan ribu barak di luar benteng ini hingga mencapai bukit itu? Laki-laki tua itu bergetar. Dia tak percaya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Laki-laki tua itu terduduk lagi di singasananya dalam barak itu. DIa tak bisa tidur nyenyak.

http://ceritanovelonline.blogspot.com/

12 September 1683
Pagi telah menyongsong, namun salak anjing-anjing pemburu masih terdengar bersahutan. Seolah mereka ahli nujum yang menyampaikan hal buruk yang akan terjadi.
Laki-laki tua itu keluar dari barak lagi. Dia termenung memandang sekeliling. Hatinya bergejolak dasyat.
Siapakah sebenarnya yang aku bela dalam perang ini? Diriku sendiri? Sultanku? Agamaku? Atau ketamakanku?
Tidak ada yang berubah dari benteng yang tinggi kokoh itu. Rakyat berhasil membuat benteng terkuat dan termegah yang pernah ada di Eropa.
Nyala lampu api gantung semakin redup. Laki-laki tua itu membuka lipatan peta strategi pertempuran tadi malam. Titik-titik di peta dari kulit sapi itu menggambarkan bastion benteng kota yang bagian bawahnya dipasangi bubuk peledak. Jika dia menyeru "serbu" pada pasukannya, bastion-bastion benteng akan langsung meledak.
Di dalam benteng, tiba-tiba sebuah loncatan api terpelanting ke udara beberapa kali. SInyal permintaan bantuan dari dalam benteng kembali diletupkan.
Laki-laki tua itu menengok ke arah bukit di belakangnya. Bukit itu satu-satunya belantara yang tidak pernah dia perhitungkan. Dia berpikir cepat. Dia yakin musuhnya telah meminta bantuan dari luar, namun bantuan itu belum kunjung tiba. Jika perhitungannya benar, bantuan itu seharusnya akan datang hari ini. Artinya, dia harus lebih dulu menaklukan kota sebelum orang-orang kota mendapatkan bantuan dari luar.
Dia berketatapan hati. Sebelum matahari tergelincir, kota berbenteng itu harus digenggam!
Tapi agaknya semua sudah terlambat. Penasihatnya datang tergopoh-gopoh kepadanya.
"Panglima, pasukan gabungan Polandia dan Jerman mengirim pesan kepada kita. Mereka telah mengepung kita dari balik bukit, meminta kita mundur. Mohon maafkan hamba. Hamba tak bisa menjawab berapa kekuatan pasukan mereka."
Rasa panik tiba-tiba menyerang laki-laki tua itu. Tubuhnya bergetar lagi. Dia sadar, kini dirinya yang sebenarnya sedang dikepung musuh. Dari 2 arah! Musuh di dalam benteng dan musuh dari luar benteng.
Laki-laki tua itu tercenung. Dia gundah. Tapi baginya, ini semua adalah titik tanpa kembali. Dia takkan mundur barang selangkah pun.
"Bagikan pasukan menjadi 2! Siapkan semua Janissari dan Sipahi untuk menghadapi aliansi mereka di bukit. Sisanya menyerbu benteng bersamaku! Sekarang ini juga, perintahkan penyerbuah! Allah bersama kita..."

http://ceritanovelonline.blogspot.com/
 
Allah bersama kita
Itulah kata-kata terakhir laki-laki tua itu sebelum akhirnya dia menghunus pedang bersama pasukan kavalerinya, menghantam apa saja yang dilewatinya. Membakar semua rumah dan gubuk penduduk. Suara meriam dari pasukan artileri bergedebum-debum menggetarkan bumi dan langit siang itu. lalu suara ledakan dari bawah tanah pun berdentum menyobek permukaan tanah dan meruntuhkan bastion-bastion benteng.
Laki-laki tua itu sudah benar memperhitungkan semuanya. Hari ini adalah hari yang tenang tanpa hujan dan angin. Semua bubuk peledak juga meledak sesuai target. Namun kali ini, di atas kudanya, tiba-tiba dia merasa lemah. Teriakan "Allahu Akbar" yang terus dia kumandangkan dengan ribuan pasukannya tiba-tiba melemah. Matanya berkunang-kunang.
Tidak ada yang salah dengan semua rencana ini. Tapi ada rasa bersalah yang tiba-tiba menjalari dirinya. Sebuah bisikan datang dari lubuk hatinya. Seperti suara orang-orang yang datang dari alam masa depan. Suara anak, cucu, dan cicitnya yang belum hadir di muka bumi ini. Suara-suara itu memintanya untuk menangguhkan penaklukan kota ini.
Tapi laki-laki tua itu tak bisa berpikir jernih lagi. Di atas kudanya dia baru menyadari apa sebenarnya yang dia bela.
Laki-laki tua itu terus memacu kudanya, namun pandangan matanya semakin kabur. Jantungnya berdegup kencang. Kontrolnya terhadap kuda begitu limbung. Dia terperosok ke dalam parit yang dibuatnya sendiri. Jatuh terjerembab ke dasar parit dalam.
Sangat dalam...

99 Cahaya di Langit Eropa - Prolog

0 comments
 

Tinggal di Eropa selama 3 tahun menjadi arena menjelajahi Eropa dan segala isinya. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, saya merasakan hidup di suatu negara tempat Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya dimensi spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.

Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Perjalanan yang membuat saya menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekadar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepak Bola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola-gondola di Venezia. Pencarian saya telah mengantarkan saya pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Memang tempat-tempat ziarah tersebut bukanlah tempat suci yang namanya pernah disebut dalam Al-Qur'an atu kisah para nabi. Tapi dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut, saya jadi semkin mengenal identitas agama saya sendiri. membuat saya makin jatuh cinta dengan Islam.

Eropa dan Islam. Mereka pernh menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Berbagai kejadian sejak 10 tahun terakhir--misalnya pengeboman Madrid dan London, menyusul serangn teroris 11 September di Amerika, kontroversi kartun Nabi Muhammad, dan film Fitna di Belanda--menyebabkn hubungan dunia Islam dan Eropa mengalami ketegangan yang cukup serius. Saya merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya. Luka da dendam akibat ratusan tahun Perang Salib yang rupanya masih membekas sampai hari ini.

Mengutip kata-kata George Santayna: "Those who don't learn from history are doomed to repeat it." Barangsiapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya. Banyak di antara umat Islam kini yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati.
Islam pertama kali masuk ke Spanyol membawa kedamian dan kemajuan peradaban. Benih-benih Islam itu tumbuh menyinari tanah Spanyol hingga 750 tahun lebih, jauh sebelum dan lebih lama daripada Indonesia mengenal Islam. Namun kita semua juga harus bertanya, apa yang membuat cahaya ini kemudian meredup? Peristiwa apa yang akhirnya membuat Islam tersapu dari Spanyol? Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lalu agar kita tidak terperosok di lubang yang sama?
Tidak bisa kita mungkiri, peradaban Islam mengamali kemunduran selama beberapa abad terakhir. Di tengah retorika teriakan jihad untuk memerangi negara-negara barat, kita dihadapkan pada suatu realitas: tidak ada satu pun negara Islam yang memiliki kemampuan teknologi untuk melindungi dirinya sendiri saat ini.
Dunia Islam saat ini sudah mulai memalingkan muka dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin jauh dari akar yang membuatnya bersinar lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Kemudian ketika ada negara yang melarang pemakaian jilbab, pembangunan minaret, atau seorang yang mengolok-olok Islam dengan membuat video Fitn, kita hanya bisa berteriak-teriak di depan kedutaan negara mereka sambil membakar bendera. Hanya itu.
Ini yang coba saya refleksikan dalam catatan perjalanan ini. Saya mencoba mengumpulkan kembali sis kebesaran peradabn Islam yang kini terserak. Dan saya justru menemukan jejak - jejak peninggalan tersebut selama menempuh perjalanan menjelajah Eropa.

Sudah terlalu banyak buku traveling sebelumnya, terutama tentang Eropa dan segala keindahannya, yang hadir. Bangunan-bangunan, tempat yang wajib dikunjungi berikut tip-tip perjalanan dan cara kreatif untuk berhemat, semua dikemas untuk pembaca. Tapi buat saya sendiri, hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekadar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya.

Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw. dari mekkah ke Madinah.

Umat Islam terdahulu adalah "traveler" yang tangguh. Jauh sebelum Vasco de Gama menemukan Semenanjung Harapan, atau Colombus menemukan benua Amerika, musafir-musafir Islam telah menyeberangi 3 samudra hingga Indonesia, berkelana jauh sampai ujung negeri China, menembus Himalaya dan Padang Pasir Gobi. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah ragu untuk meninggalkan rumah, belajar hal-hal baru dari dunia luar sana. Bukankah dalam Al-Qur'an juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia bisa saling mengenal, berta'aruf, saling belajar dari bangsa-bangsa lain untuk menaikkan derajat kemuliaan di sisi Allah?
Bagi saya, berada di Eropa selama lebih dari tiga tahun adalah pengalaman yang tak ternilai harganya. Saya mencoba membuka mata dan hati saya menerima hal-hal baru dan merefleksikannya untuk memperkuat keimanan say. Menelisik hikmah dalam setiap perjalanan, belajar dari pengalaman dan membaca rahasia-rahasia masa lalu yang kini hampir tak terlihat lagi di permukaan. Saya tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam.

Catatan perjalanan ini berdasarkan kisah nyata saya dan Rangga dalam berinteraksi sosial dan mengusung fakta sejarah yang sebenarnya. Namun, untuk melindungi privasi orang-orang yang terlibat dalam cerita ini, nama mereka sengaja disamarkan. Tutur dialog dan alur cerita yang terjadi dalam buku ini juga direkonstruksi ulang untuk memperkuat bangunan cerita, tanpa menghilangkan esensinya.
Perjalanan saya menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini. Vienna, Paris, Madrid, Cordoba, Granada, dan Istanbul masuk dalam manifes perjalanan sy selama menjelajahi Eropa.

Perjalanan ini membuka mata saya bahwa Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.
Saat memandang matahari tenggelam di Menar Eiffel Paris, Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al-Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, saya bersimpuh. Matahari tenggelam yang saya lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1.000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan semangat toleransi antarumat beragama.
Akhir dari perjalanan selma 3 tahun di Eropa justru mengantarkan saya pada pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan saya pada sumber kebenaran abadi yang Mahasempurna.

Saya teringat kata sahabat Ali ra. :
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan. (Ali bin Abi Thalib ra.)