Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta
Showing posts with label uncle jeb. Show all posts
Showing posts with label uncle jeb. Show all posts

The Host- Bab 36

0 comments

 




DIPERCAYA

Kelompok manusia itu berubah tenang, dan gumaman lebih antusias terdengar dari seluruh tempat mereka duduk membentuk setengah lingkaran.
Aku memandang Jamie, yang mengerutkan bibir dan mengangkat bahu. “Jeb hanya mencoba mengembalikan segala sesuatunya agar normal lagi. Beberapa hari ini keadaan sangat buruk. Pemakaman Walter…”
Aku meringis.
Kulihat Jeb nyengir pada Jared. Setelah sejenak menolak, Jared menghela napas dan memutar bola mata pada lelaki tua aneh itu. Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan gua.
“Jared punya bola baru?” tanya seseorang.
“Asyik,” ujar Wes di sampingku.
“Bermain,” gumam Trudy, seraya menggeleng.
“Jika itu bisa meredakan ketegangan,” jawab Lily pelan. Lalu mengangkat bahu.
Suara mereka pelan, di dekatku, tapi aku juga bisa mendengar suara-suara lain yang lebih keras.
“Kali ini berhati-hatilah dengan bolanya,” ujar Aaron kepada Kyle. Ia berdiri di samping Kyle, menawarkan tangannya.
Kyle meraih tangan yang ditawarkan dan perlahan-lahan bangkit berdiri. Setelah berdiri, kepalanya nyaris menyundul lentera-lentera yang bergantungan.
“Bola terakhir kurangg bagus,” ujar Kyle. Ia nyengir pada lelaki yang lebih tua itu. “Secara structural cacat.”
“Aku menominasikan Andy sebagai kapten,” teriak seseorang.
“Aku menominasikan Lily,” seru Wes. Ia berdiri, lalu meregangkan tubuh.
“Andy dan Lily.”
“Ya, Andy dan Lily.”
“Aku mau Kyle,” ujar Andy cepat.
“Kalau begitu aku mau Ian,” jawab Lily.
“Jared.”
“Brandt.”
Jamie bangkit, lalu berdiri berjingkat, berusaha tampak lebih tinggi.
“Paige.”
“Heidi.”
“Aaron.”
“Wes.”
Pemanggilan nama-nama berlanjut. Jamie berseri-seri ketika Lily memilihnya sebelum setengah jumlah orang dewasa terpilih.
Bahkan Maggie dan Jeb dipilih untuk memperkuat tim. Jumlahnya genap, sampai Lucina kembali bersama Jared, dengan kedua anak laki-lakinya melompat-lompat gembira. Jared memegang bola sepak baru yang mengilat di tangannya; ia mengulurkan bola itu, dan Isaiah, anak yang lebih tua, melompat-lompat mencoba menjatuhkan bola itu dari tangan Jared.
“Wanda?” tanya Lily.
Aku menggelengg dan menunjuk kakiku.
“Benar. Maaf.”
Aku jago main sepak bola, gerutu Mel. Well, dulu aku seperti itu.
Aku hampir tak sanggup berjalan, ujarku mengingatkan.
“Kurasa kali iini aku tidak ikut main,” kata Ian.
“Oh, tidak,” keluh Wes. “Mereka punya Kyle dan Jared. Kami mati tanpamu.”
“Mainlah,” ujarku kepada Ian. “Aku… aku akan menghitung angkanya.”
Ian memandangku, bibirnya terkatup membentuk garis tipis kaku. “Aku sedang tidak terlalu ingin bermain.”
“Mereka memerlukanmu.”
Ian mendengus.
“Ayolah, Ian,” desak Jamie.
“Aku ingin menonton,” kataku. “Tapi akan… membosankan jika timnya berat sebelah.”
“Wanda,” desah Ian. “Kau benar-benar pembohong paling payah yang pernah kujumpai.”
Tapi Ian berdiri dan mulai meregangkan tubuh bersama Wes.
Paige menyusun tiang gawang menggunakan empat lentera.
Aku mencoba bangkit berdiri—aku berada tepat di tengah lapangan. Tak seorang pun memperhatikanku dalam cahaya suram itu. Kini atmosfer di sekeliling ruangan berubah positif, penuh antisipasi. Jeb benar. Ini yang mereka perlukan, walaupun tampak ganjil bagiku.
Aku bisa merangkak, lalu kutarik kakiku yang tidak cedera ke muka, sehingga aku berlutut menggunakan kakiku yang  cedera. Rasanya menyakitkan. Lalu aku mencoba melompat dengan kakiku yang tidak cedera. Keseimbanganku sangat buruk, berkat bobot kakiku yang cedera.
Sepasang tangan kokoh menangkapku sebelum aku jatuh terjerembap. Aku mendongak, dengan sedikit perasaan malu, untuk berterima kasih kepada Ian.
Kata-kataku tersangkut di tenggorokan ketika melihat tangan Jared-lah yang menahanku.
“Kau seharusnya bisa minta tolong,” ujarnya ramah.                                                                                                                                                                                                                             
“AKu—“ aku berdehem. “Memang seharusnya aku minta tolong. Aku tak ingin…”
“Diperhatikan?” Jared mengucapkan kata-kata itu seakan benar-benar penasaran. Taka da nada menuduh di dalamnya. Ia membantuku yang terpincang-pincang menuju  lubang masuk gua.
Aku menggeleng. “Aku tak ingin… membuat seseorang melakukan sesuatu hanya demi kesopanan, padahal mereka tak ingin melakukannya.” Penjelasanku tidak terlalu tepat, tapi sepertinya Jared memahami maksudku.
“Kurasa Jamie atau Ian takkan keberatan membantumu.”
Jared meneliti wajahku. KUsadari aku sedang tersenyum penuh sayang.
“Kau sangat peduli terhadap anak itu,” katanya.
“Ya.”
Jared mengangguk. “Dan lelaki itu?”
“Ian… Ian memercayaiku. Dia menjagaku. Dia teramat sangat baik… untuk ukuran manusia.” Hampir seperti jiwa, itulah yang ingin kukatakan. Tapi perkataan itu tidak akan terdengar seperti pujian bagi pendengar yang satu ini.
Jared mendengus. “Untuk ukuran manusia. Pembedaan itu lebih penting daripada yang kusadari.”
Ia mendudukkanku di bibir lubang masuk. Tempat itu menyerupai bangku rendah, sehingga lebih nyaman daripada lantai datar.
“Terima kasih,” ujarku. “Kau tahu, Jeb melakukan hal yang benar.”
“Aku tidak setuju dengan perkataan itu.” Nada suara Jared lebih lunak daripada kata-katanya.
“Juga terima kasih—untuk yang tadi. Kau tidak perlu membelaku.”
“Setiap kata adalah kebenaran.”
AKu menunduk memandang lantai. “Memang benar, aku takkan pernah melakukan sesuatu untuk mencederai siapa pun di sini. Secara sengaja. Maaf karena aku melukaimu ketika dating kemari. Dan Jamie. Maaf sekali.”
Jared duduk di sampingku, wajahnya serius. “Sejujurnya…” Ia bimbang. “Anak itu jadi lebih baik sejak kedatanganmu. Aku sedikit lupa bagaimana suara tawanya.”
Kini kami mendengarkan tawa itu menggema di atas tawa orang dewasa yang bernada lebih rendah.
“Terima kasih telah memberitahuku. Itu adalah… kekhawatiran terbesarku. Kuharap taka da yang kurusak secara permanen.”
“Mengapa?”                                          
Aku mendongak memandang Jared, bingung.
“Mengapa kau mencintainya?” tanya Jared. Suaranya masih penasaran, tapi tidak mendesak.
Aku menggigit bibir.
“Kau bisa mengatakannya kepadaku. AKu… aku…” Jared tak bisa menemukan kata-kata untuk menjelaskan. “Kau bisa mengatakannya kepadaku,” ulangnya.
Kupandangi kakiku ketika menjawab. “Sebagian besar karena Melanie mencintainya.” Aku tidak melirik untuk melihat apakah nama itu tidak mengejutkan Jared. “Mengingat Jamie seperti yang diingat Melanie… itu sesuatu yang sangat berpengaruh. Lalu ketika kulihat sendiri anak laki-laki itu…” Aku mengangkat bahu. “Mustahil bagiku untuk tidak mencintainya. Mencintainya adalah bagian dari susunan sel-sel ini. Sebelumnya tak kusadari betapa banyak pengaruh seorang inang terhadapku. Mungkin itu hanya karena tubuh manusia. Mungkin itu hanya karena Melanie.”
“Melanie bicara padamu?” Jared tetap menjaga ketenangan suaranya, tapi kini aku bisa mendengar  ketegangan di dalamnya.
“Ya.”
“Seberapa sering?”
“Ketika dia menginginkannya. Ketika dia tertarik.”
“Bagaimana dengan hari ini?”
“Tak banyak. Dia… sedikit marah kepadaku.”
Jared mengeluarkan tawa terkejut. “Dia marah? Mengapa?”
“Karena…” Apakah aku kembali diadili di sini? “Tak apa-apa.”
Jared mendengar kebohongan itu lagi, dan ia menghubungkannya.
“Oh, Kyle. Mel ingin Kyle dibantai.” Jared kembali tertawa. “Memang.”
“Melani bisa jadi… kejam,” ujarku setuju. Aku tersenyum, untuk memperlunak penghinaan itu.
Tapi itu bukan penghinaan bagi Jared. “Benarkah? Kok bisa?”
“Dia ingin aku melawan. Tapi aku… aku tak bisa melakukannya.  Aku bukan petarung.”
“Itu bisa kupahami.” Jared menyentuh wajahku yang berantakan dengan ujung jari. “Maaf.”
“Tidak. Siapa pun akan melakukan hal yang sama. Aku tahu bagaimana perasaanmu.”
“Kau tidak akan—“
“Seandainya aku manusia, aku akan melakukannya. Lagi pula, bukan itu yang sedang kupikirkan… Aku teringat pada Pencari.”
Jared mengejang.
Aku tersenyum, dan ia sedikit lebih tenang. “Mel ingin aku mencekiknya. Dia benar-benar membenci Pencari itu. Dan aku tidak bisa… menyalahkan Mel.”
“Pencari itu masih mencarimu. Setidaknya dia tampak seakan hendak kembali menggunakan helicopter itu.”
Aku memejamkan mata, mengepalkan tangan, dan berkonsentrasi untuk bernapas selama beberapa detik.
“Dulu aku tidak takut kepadanya,” bisikku. “AKu tidak tahu mengapa dia kini begittu menakutkan bagiku. Di mana dia?”
“Jangan khawatir. Kemarin dia hanya mondar-mandir menyusuri jalan raya. Dia tidak akan menemukanmu.”
Aku mengangguk, memaksa diriku percaya.
“Bisakah kau… bisakah kau mendengar Mel sekarang?” gumam Jared.
Aku tetap memejamkan mata. “Aku… menyadari keberadaannya. Dia mendengarkan dengan saksama.”
“Apa yang dipikirkannya?” Suara Jared hanya berupa bisikan.
Ini peluangmu, kataku kepada Melanie. Apa yang ingin kaukatakan kepada Jared?
Sekali ini  Melanie berhati-hati. Undangan ini menggelisahkannya. Mengapa? Mengapa sekarang ia memercayaimu?
Aku membuka mata, dan mendapati Jared menatap wajahku seraya menahan napas.                                                      
“Dia ingin tahu apa yang terjadi sehingga kau… sekarang berbeda. Mengapa kau memercayai kami?”
Jared berpikir sejenak. “Akumulasi dari banyak hal. Kau begitu… baik terhadap Walter. Aku tak pernah melihat orang lain, kecuali Doc, yang berbuat sebaik itu. Dan kau menyelamatkan nyawa Kyle, padahal sebagian besar kami akan membiarkannya jatuh untuk melindungi diri kami sendiri, tanpa memedulikan pembunuhan terencana. Lalu kau pembohong yang payah.” Ia tertawa sejenak. “Aku terus mencoba memandang hal-hal ini sebagai bukti adanya rencana besar. MUngkin besok aku akan terbangun dan kembali berpikir seperti itu.”
Aku dan Mel sama-sama terkesiap.
“Tapi ketika mereka mulai menyerangmu hari ini… well, kesabaranku habis. Aku bisa melihat, pada diri mereka semua, segala hal yang seharusnya taka da pada diriku. Kusadari aku sudah percaya, aku hanya bersikap keras kepala. Kejam. Kurasa aku sudah percaya sejak… well, sedikit percaya sejak malam pertama, ketika kau mengempaskan dirimu di depanku untuk menyelamatkanku dari Kyle.” Ia  tertawa, seakan tidak menganggap Kyle berbahaya. “Tapi aku lebih pintar berbohong daripada kau. Aku bahkan bisa membohongi diriku sendiri.”
“Melanie berharap kau takkan berubah pikiran. Dia khawatir kau akan melakukannya.”
Jared memejamkan mata. “Mel.”
Jantungku berdetak lebih cepat. Kegembiraan Melanie-lah yang memicunya, bukan kegembiraanku. Agaknya Jared sudah menebak betapa aku mencintainya. Setelah pertanyaan-pertanyaannya mengenai Jamie, mestinya ia mengerti.
“Katakan kepadanya… itu tidak akan terjadi.”
“Dia mendengarmu.”
“Seberapa… langsungnyakah hubungan itu?”
“Dia mendengar apa yang kudengar, melihat apa yang kulihat.”
“Merasakan apa yang kau rasakan?”
“Ya.”
Hidung Jared mengerut. Kembali ia menyentuh wajahku dengan lembut, membelainya. “Kau tidak tahu betapa menyesalnya diriku.”
Kulitku lebih panas di tempat ia menyentuhnya; panas yang bagus. Tapi kata-kata Jared membakar lebih panas daripada sentuhannya. Tentu saja penyesalannya bertambah karena ia telah melukai Melanie. Tentu saja. Itu seharusnya tidak menggangguku.
“Ayo, Jared! Ayo, main!”
Kami mendongak. Kyle memanggil Jared. Tampaknya ia benar-benar santai, seakan hidupnya tak pernah dipertaruhkan dalam pengadilan hari ini. Mungkin ia sudah tahu hasilnya akan seperti ini. Mungkin ia cepat melupakan apa saja. Tampaknya ia tidak memperhatikanku di sana, di samping Jared.   
Kusadari, untuk pertama kali, bahwa yang lain memperhatikan.
Jamie mengamati kami dengan senyum puas. Ini mungkin tampak baik baginya. Benarkah?
Apa maksudmu?
Apa yang dilihat Jamie ketika memandang kita? Keluarganya bersatu kembali?
Benarkah? Semacam itukah?
Dengan satu tambahan yang tidak dikehendaki.
Tapi ini lebih baik daripada kemarin.
Kurasa begitu…
Aku tahu, Melanie mengakui. Aku gembira Jared tahu aku ada di sini… tapi aku masih tidak suka jika ia menyentuhmu.
Dan aku sangat suka. Wajahku bergelenyar di tempat jemari Jared mengusapnya tadi. Maaf soal itu.
Aku tidak menyalahkanmu. Atau, setidaknya, aku tahu aku tidak boleh menyalahkanmu.
Terima kasih.
Jamie bukanlah satu-satunya yang mengamati.
Jeb penasaran. Senyum kecil itu berkumpul di sudut janggutnya.
Sharon dan Maggie mengamati dengan api di mata mereka. Ekspresi mereka begitu mirip, sehingga kulit muda dan rambut warna mencolok sama sekali tidak membuat Sharon tampak lebih muda dibandingkan ibunya yang beruban.
Ian waswas. Matanya tegang, dan sepertinya ia nyaris menghampiriku untuk kembali melindungiku. Untuk memastikan Jared tidak menggangguku. Aku tersenyum meyakinkannya. Ian tidak membalas senyumku, tapi menghela napas panjang.
Kurasa bukan itu penyebab kekhawatiran Ian, ujar Melanie.
“Apakah kau sedang mendengarkan, Mel?” Jared bangkit berdiri, masih mengamati wajahku.
Pertanyaannya mengalihkan perhatianku, sebelum aku bisa bertanya kepada Mel apa maksud perkataannya. “Ya.”
“Dia bilang apa?”
“Kami sedang mengamati bagaimana pendapat yang lain mengenai… perubahan pikiranmu.” Aku mengangguk kea rah bibi dan sepupu Melanie. Mereka serentak memunggungiku.
“Keras kepala,” Jared mengakui.
“Baiklah, kalau begitu,” teriak Kyle, seraya berbalik kea rah bola yang tergeletak di bawah tempat yang paling diterangi cahaya. “Kami akan memenangkan pertandingan ini tanpamu.”
“Tunggu!” Sekali lagi Jared melirik sedih kepadaku—kepada kami—lalu lari untuk mengikuti permainan.
Aku bukan pencatat angka terbaik. Terlalu gelap untuk melihat bolanya dari tempat dudukku. Bahkan terlalu gelap untuk melihat para pemain dengan baik saat mereka tidak berada di bawah cahaya. Aku mulai menghitung berdasarkan reaksi Jamie. Teriakan kemenangannya ketika timnya mencetak angka, erangannya ketika tim lawan mencetak angka. Jumlah erangannya lebih banyak daripada teriakan kemenangannya.
Semua ikut bermain. Maggie menjadi penjaga gawang untuk tim Andy, dan Jeb jadi penjaga gawang untuk tim Lily. Mereka sama-sama hebat. Aku bisa melihat siluet mereka dalam cahaya lampu-lampu tiang gawang, bergerak lincah seakan usia mereka puluhan tahun lebih muda. Jeb tidak takut menjatuhkan diri ke lantai untuk menggagalkan gol, tapi Maggie lebih efektif tanpa harus melakukan tindakan-tindakan ekstrem semacam itu. Perempuan tua itu seperti magnet bagi bola yang tak terlihat. Setiap kali Ian atau Wes melayangkan tendangan… duk! Bola mendarat di tangan Maggie.
Trudy dan Paige berhenti bermain setelah sekitar setengah jam. Mereka melewatiku waktu berjalan keluar, seraya mengobrol gembira. Tampaknya mustahil kami memulai pagi ini dengan pengadilan, tapi aku lega karena semua tidak berubah drastis.
Kedua perempuan itu tidak pergi lama. Mereka kembali dengan tangan penuh kotak. Granola-granola batangan—yang berisi buah. Permainan berhenti. Jeb meneriakkan istirahat setengah permainan, dan semua bergegas menyantap sarapan.
Makanan itu dibagikan di garis tengah. Mulanya semua berkerumun dan saling berebut.
“Ini, Wanda,” ujar Jamie, seraya merunduk keluar dari kerumunan. Tangannya penuh granola batangan, dan botol-botol air minum terseip di bawah kedua lengannya.
“Terima kasih. Kau bersenang-senang?”
“Ya! Kalau saja kau bisa ikut bermain.”
“Lain kali,” ujarku.
“Ini…” Ian berada di sana, kedua tangannya penuh granola batangan.
“Aku duluan,” kata Jamie kepadanya.
“Oh,” ujar Jared, yang muncul di sisi lain Jamie. Ia juga membawa terlalu banyak granola batangan untuk satu orang.
Ian dan Jared berpandangan untuk waktu lama.
“Mana makanannya?” desak Kyle. Ia berdiri di samping kotak kosong, kepalanya berputar berkeliling, mencari tersangka pencurinya.
“Tangkap,” ujar Jared. Ia melemparkan granola-granola batangan itu satu per satu, kuat-kuat, seakan melempar pisau.
Kyle menangkap semuanya dengan mudah, lalu lari mendekat untuk melihat apakah Jared masih menyembunyikan beberapa.
“Ini,” ujar Ian. Ia menyorongkan setengah bawaannya kepada kakaknya tanpa memandang Kyle. “Sekarang pergilah.”
Kyle mengabaikannya. Untuk pertama kali hari ini ia memandangku, menunduk menatapku di tempat dudukku. Selaput pelangi matanya berwarna hitam diterangi cahaya di belakangnya. Aku tak bisa membaca ekspresi wajahnya.
Aku menciut, dan menahan napas ketika tulang-tulang rusukku memprotes.
Jared dan Ian berdiri berdampingan di hadapanku seperti tirai panggung pertunjukan.
“Dengarkan kata-kata Ian,” ujar Jared.
“Bisakah aku mengucapkan sesuatu lebih dulu?” tanya Kyle. Ia mengintip lewat celah di antara Jared dan Ian.
Keduanya tidak menjawab.
“Aku tidak menyesal,” ujar Kyle kepadaku. “Aku masih merasa perbuatanku benar.”
Ian mendorong kakaknya. Kyle sempoyongan mundur, tapi kembali melangkah maju.
“Tunggu, aku belum selesai.”
“Ya, kau sudah selesai,” ujar Jared. Tangannya terkepal, kulit di buku-buku jarinya memutih.
Kini semua orang memperhatikan. RUangan hening, semua kegembiraan bermain lenyap.
“Tidak, belum selesai.” Kyle mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat menyerah, lalu kembali bicara kepadaku. “Menurutku aku tidak bersalah, tapi kau memang menyelamatkan nyawaku. Aku tidak tahu mengapa, tapi kau melakukannya. Jadi, kupikir, nyawa dibalas dengan nyawa. Aku tidak akan membunuhmu. Kubayar utangku dengan cara itu.”
“Kau bajingan tolol,” ujar Ian.
“Siapa  yang naksir cacing, DIk?” Kau hendak menyebutku tolol?”
Ian mengangkat tinjunya, lalu mencondongkan tubuh ke depan.
“Akan kukatakan mengapa,” kataku. Kubuat suaraku lebih keras daripada yang kuinginkan. Itu menghasilkan dampak yang kuinginkan. Ian, Jared, dan Kyle berbalik menatapku. Sejenak mereka melupakan perkelahian.
Aku jadi gugup. Aku berdehem. “Aku tidak membiarkanmu jatuh karena… karena aku tidak sepertimu. Aku tidak mengatakan aku tidak… seperti manusia. Karena ada orang-orang lain di sini yang akan melakukan hal yang sama. Ada orang-orang baik dan bijak di sini. Orang-orang seperti adikmu, dan Jeb, dan Doc… aku mengatakan bahwa aku tidak seperti dirimu secara pribadi.”
Kyle menatapku sejenak, lalu tergelak. “Aduh,” katanya, masih tertawa. Lalu ia berbalik pergi. Pesannya sudah tersampaikan, dan ia pergi untuk mengambil air minum. “Nyawa dibalas dengan nyawa,” teriaknya, seraya menoleh ke belakang.
Aku tak yakin apakah aku mempercayainya. Sama sekali tak yakin. Manusia adalah pembohong yang baik.










The Host- Bab 35

0 comments
DIADILI



Aku mengerang. Kepalaku serasa berputar-putar dan mau lepas. Perutku bergolak memualkan.
“Akhirnya.” Seseorang bergumam lega. Ian. Tentu saja. “Lapar?”
Kurenungkan perkataannya, lalu tanpa kuinginkan aku bersendawa.
“Oh. Lupakan saja. Maaf. Lagi. Kami harus melakukannya. Orang-orang berubah… paranoid ketika kami membawamu keluar.”
“Tidak apa-apa,” desahku.
“Mau minum?”
“Tidak.”
Aku membuka mata, mencoba memusatkan pandangan dalam gelap. Aku bisa melihat dua bintang lewat celah-celah di atas kepala. Masih malam. Atau sudah malam lagi, siapa yang tahu?
“Aku di mana?” tanyaku. Bentuk celah-celah itu tak kukenal.
Aku bersumpah tak pernah menatap langit-langit ini sebelumnya.
“Kamarmu,” jawab Ian.
Kuteliti wajahnya dalam gelap, tapi aku hanya bisa melihat bentuk hitam kepalanya. Dengan jemari kuraba permukaan tempatku berbaring; benar-benar Kasur. Ada bantal di bawah kepala. Tanganku yang meraba-raba menemukan tangan Ian, dan ia menangkap jemariku sebelum aku bisa menariknya.
“Sebenarnya kamar siapa ini?”
“Kamarmu.”
“Ian…”
“Dulunya kamar kami—kamarku bersama Kyle. Kyle… ditahan di rumah sakit sampai segalanya diputuskan. Aku bisa pindah ke kamar Wes.”
“Aku takkan mengambil kamarmu. Dan apa maksudmu dengan sampai segalanya diputuskan?”
“Sudah kubilang, akan ada pengadilan.”
“Kapan?”
“Mengapa kau ingin tahu?”
“Karena, jika kalian hendak menyelenggarakannya, aku harus ada di sana. Untuk menjelaskan.”
“Untuk berbohong?”
“Kapan?” tanyaku lagi.
“Cahaya pertama. Aku tidak akan membawamu ke sana.”
“Kalau begitu aku akan ke sana sendiri. Aku bisa berjalan setelah kepalaku berhenti berputar-putar.”
“Kau bersungguh-sungguh, bukan?”
“Ya. Tidak adil jika kalian tidak membiarkanku bicara.”
Ian mendesah. Ia menjatuhkan tangannya dan perlahan-lahan bangkit berdiri. Aku bisa mendengar sendi-sendinya berkeretak ketika ia bangkit. Berapa lama ia duduk di dalam gelap, menungguku terbangun? “Aku akan segera kembali. Kau mungkin tidak lapar, tapi aku kelaparan.”
“Kau mengalami malam yang panjang.”
“Ya.”
“Jika hari sudah terang, aku takkan duduk di sini menunggumu.”
Ian tergelak tanpa menunjukkan rasa geli. Aku yakin itu benar. Jadi aku akan kembali sebelum itu, dan aku akan membantu membawamu ke tempat yang kautuju.”
Ian menyingkirkan salah satu pintu yang menutupi lubang masuk ke guanya. Ia melangkah ke luar, lalu meletakkan pintu itu ke tempatnya lagi. Aku memberengut. Akan sulit menggeser pintu itu dengan satu kaki. Kuharap Ian benar-benar kembali.
Sementara menunggu Ian, aku menatap dua bintang yang bisa kulihat, dan kubiarkan kepalaku perlahan-lahan berubah tenang. Aku benar-benar tidak menyukai obat-obatan manusia. Ugh. Tubuhku sakit, tapi guncangan-guncangan di kepalaku lebih menyakitkan lagi.
Waktu bergeser lalmbat, tapi aku tidak tertidur. Aku sudah tidur lebih dari 24 jam. Mungkin aku juga lapar. Aku harus menunggu sampai perutku tenang, sebelum bisa memastikan.
Ian kembali sebelum hari terang, persis seperti janjinya.
“Merasa lebih enak?” tanyanya, ketika melangkah melewati pintu.
“Kurasa begitu. Aku belum menggerakkan kepala.”
“Menurutmu, siapa yang bereaksi terhadap morfin itu? Kau atau tubuh Melanie?”
“Mel. Dia bereaksi buruk terhadap sebagian besar obat penghilang nyeri. Dia tahu itu ketika pergelangan tangannya patah sepuluh tahun yang lalu.”
Sejenak Ian merenungkan perkataanku. “Rasanya… aneh. Menghadapi dua orang sekaligus.”
“Aneh,” ujarku setuju.
“Kau sudah lapar?”
Aku tersenyum. “Kurasa aku mencium bau roti. Ya, kurasa perutku sudah melewati saat terburuknya.”
“Aku memang berharap kau akan berkata seperti itu.”
Bayang-bayang Ian duduk di sampingku. Ia mencari tanganku, lalu membuka jemariku dan meletakkan bentuk yang sudah kukenal itu di sana.
“Bantu aku duduk?” pintaku.
Ian merangkulkan lengannya dengan hati-hati di bahuku, lalu mendudukkanku dengan gerak kaku untuk meminimalkan rasa sakit di sisi tubuhku. Aku bisa merasakan sesuatu yang asing di sana, di kulitku. Kaku dan ketat.
“Terima kasih,” ujarku, sedikit terengah. Kepalaku berputar pelan. Kusentuh sisi tubuhku dengan tanganku yang bebas. Sesuatu melekat di kulitku, di balik kemejaku. “Apakah rusukku patah?”
“Doc tidak yakin. Dia melakukan yang terbaik.”
“Dia berusaha begitu keras.”
“Memang.”
“Aku merasa tidak enak… karena pernah tidak menyukainya,” ujarku mengakui.
Ian tertawa. “Tentu saja kau tidak menyukainya. Aku heran jika kau bisa menyukai salah seorang dari kami.”
“Perkataanmu terbalik,” gumamku, lalu kubenamkan gigiku ke roti yang keras. Aku mengunyah secara mekanis, lalu menelan. Kuletakkan roti itu ketika menunggunya menerpa perutku.
“Tidak terlalu mengundang selera. Aku tahu,” ujar Ian.
Aku mengangkat bahu. “Hanya menguji—untuk mengetahui apakah mualnya sudah benar-benar hilang.”
“Mungkin sesuatu yang lebih mengundang selera…”
Aku memandang Ian, penasaran, tapi tak bisa melihat wajahnya. Aku mendengar suara gemersik tajam dan suara robekan… lalu bisa mencium baunya, dan aku mengerti.
“Cheetos!” teriakku. “Benarkah? Untukku?”
Sesuatu menyentuh bibirku, dan kukunyah camilan yang tawarkan Ian kepadaku.
“Aku memimpi-mimpikannya,” desahku, seraya mengunyah.
Perkataanku membuat Ian tertawa. Diletakkannya kemasan itu di tanganku.
Kuhabiskan isi kemasan kecil itu dengan cepat, lalu kuhabiskan rotiku, dibumbui rasa keju yang masih tertinggal di mulutku. Ian memberiku sebotol air sebelum aku memintanya.
“Terima kasih. Kau tahu, bukan hanya untuk Cheetos-nya. Tapi untuk begitu banyak hal.”
“Sama-sama, Wanda.”
Kutatap mata biru gelap Ian, mencoba memahami semua yang dikatakannya lewat kalimat itu. Sepertinya ada sesuatu yang lebih dari sekedar kesopanan dalam kata-katanya. Lalu kusadari aku bisa melihat warna mata Ian. Cepat-cepat aku melirik ke celah-celah di atasku. Bintang – bintang sudah menghilang, dan langit berubah kelabu pucat. Fajar menjelang. Cahaya pertama.
“Kau yakin harus melakukannya?” tanya Ian. Tangannya setengah terulur, seakan hendak mengangkatku.
Aku mengangguk. “Kau tak perlu membopongku. Kakiku sudah lebih baik.”
“Akan kita lihat.”
Ian membantuku berdiri, membiarkan lengannya memeluk pinggangku, lalu merangkulkan lenganku di lehernya.
“Sekarang hati-hati. Bagaimana rasanya?”Aku melompat maju satu langkah. Rasanya sakit, tapi aku bisa melakukannya. “Hebat. Ayo pergi.”
Kurasa Ian terlalu menyukaimu.
Terlalu? Aku terkejut mendengar suara Melanie begitu jelas. Belakangan ia hanya bicara seperti itu ketika Jared berada di sini.
AKu juga ada di sini. Apakah ia bahkan peduli?
Tentu saja ia peduli. Ian memercayai kita, melebihi siapa pun, selain Jamie dan Jeb.
Bukan itu maksudku.
Apa maksudmu?
Tapi Melanie sudah pergi.
Perlu waktu lama bagi kami. Aku terkejut menyadari betapa jauh kami harus pergi. Kupikir kami akan pergi ke plaza utama atau dapur—tempat-tempat berkumpul yang biasa. Tapi kami berjalan melewati ladang timur, sampai akhirnya tiba di gua gelap gulita besar yang disebut Jeb ruang bermain. Aku belum pernah ke sana sejak tur pertamaku. Bau menyengat mata air sulfur menyambutku.
Tidak seperti sebagian besar ruang gua di sini, ruang bermain jauh lebih luas jika dibandingkan tingginya. Kini aku bisa melihat ruangan itu, karena lampu-lampu biru suram tergantung di langit-langit, dan bukannya tergeletak di lantai. Langit-langitnya hanya beberapa puluh sentimeter di atas kepalaku; tinggi langit-langit normal sebuah rumah. Tapi aku bahkan tak bisa melihat dinding-dindingnya, yang sangat jauh dari lampu-lampu itu. Aku tak bisa melihat mata air berbau busuk itu, yang tersembunyi di pojok yang jauh, tapi aku bisa mendengarnya menetes dan berdeguk.
Kyle duduk di tempat yang paling diterangi cahaya. Lengannya memeluk kaki. Wajahnya seperti topeng kaku. Ia tidak mendongak ketika Ian membantuku berjalan masuk.
Kyle diapit Jared dan Doc yang berdiri dengan lengan bebas dan siaga di sisi tubuh mereka. Seakan mereka… pengawal.
Jeb duduk di samping Jared, dengan senapan tersampir di bahu. Ia tampak santai, tapi aku tahu betapa cepat hal itu bisa berubah. Jamie meletakkan tangannya yang bebas… Tidak, Jeb memegangi pergelangan tangan anak itu, dan Jamie sepertinya tidak merasa senang. Tapi ketika melihatku masuk, Jamie tersenyum dan melambai. Ia menghela napas panjang dan memandang Jeb tajam.
Jeb melepaskan tangan Jamie.
Sharon berdiri diapit Doc dan BIbi Maggie.
Ian menarikku ke tepi kegelapan yang mengeliingi adegan itu. Kami tidak sendirian. Aku bisa melihat sosok-sosok lain, tapi tak bisa melihat wajah mereka.
Rasanya aneh. Sepanjang jalan Ian menopang sebagian besar bobotku dengan mudah.  Tapi kini tampaknya ia kelelahan. Lengan yang memeluk pinggangku mengendur. Aku terhuyung dan melompat maju sebisa mungkin, sampai Ian menemukan tempat yang ia inginkan. Ia mendudukkanku di lantai, lalu duduk di sampingku.
“Aduh,” kudengar seseorang berbisik.
Aku menoleh, dan samar-samar melihat Trudy. Ia beringsut mendekati kami, lalu Geoffrey dan Heath mengikuti..
“Kau tampak payah,” ujarnya kepadaku. “Seberapa parah lukamu?”
Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja.” Aku mulai bertanya-tanya, apakah tadi Ian sengaja membiarkanku berjuang, untuk menunjukkan luka-lukaku—untuk membuatku bersaksi tanpa kata-kata melawan Kyle. Aku memberengut melihat wajah polosnya.
Lalu Wes dan Lily tiba, dan duduk bersama kelompok sekutu kecilku. Brandt masuk beberapa detik kemudian, lalu Heidi, Andy, dan Paige. Aaron yang terakhir.
“Sudah lengkap,” ujarnya. “Lucina menemani anak-anaknya. Dia tak ingin mereka berada di sini—dia meminta kita melanjutkan tanpanya.”
Aaron duduk di samping Andy. Sejenak suasana hening.
“Oke kalau begitu,” ujar Jeb dengan suara keras, agar didengar semua orang. “Begini prosedurnya: pemungutan suara secara langsung berdasarkan mayoritas. Seperti biasa, aku akan membuat keputusanku sendiri jika mendapat masalah dengan mayoritas, karena ini—“
“Adalah rumahku,” sela beberapa suara serentak. Seseorang tergelak, tapi langsung berhenti. Ini tidak lucu. Seorang manusia sedang diadili karena mencoba membunuh mahluk asing. Seharusnya ini hari yang mengerikan bagi mereka semua.
“Siapa yang ingin bicara menentang Kyle?” tanya Jeb.
Ian hendak berdiri.                                                                                
“Tidak!” bisikku, menarik sikunya.
Ian menyingkirkan tanganku dan bangkit berdiri.
“Ini cukup sederhana,” ujar Ian. Aku ingin melompat dan membungkam mulutnya dengan tanganku, tapi kurasa aku tidak bisa bangkit tanpa bantuan. “Kakakku sudah mendapat peringatan. Dia benar-benar sudah memahami peraturan Jeb soal ini. Wanda anggota komunitas kita—peraturan dan perlindungan yang sama berlaku baginya, seperti juga bagi kita semua. Jeb mengatakan dengan jelas kepada Kyle bahwa, kalau dia tidak bisa tinggal bersama Wanda di sini, dia harus pergi. Kyle memutuskan untuk tetap tinggal. Sejak dulu dia sudah tahu hukuman atas pembunuhan di tempat ini.”
“Makhluk itu masih hidup,” gerutu Kyle.
“Itulah sebabnya aku tidak menuntut kematianmu,” bentak Ian.
“Tapi kau tidak bisa lagi tinggal di sini. Tidak bisa, jika pada dasarnya kau pembunuh.”
Sejenak Ian menatap kakaknya, lalu duduk kembali di tanah di sampingku.
“Tapi Kyle bisa tertangkap, sedangkan kita sama sekali tak tahu,” protes Brandt, seraya bangkit berdiri. “Dia akan menuntun mereka kemari, dan kita tidak akan menerima peringatan apa pun.”
Terdengar gumaman di seluruh ruangan.
Kyle melirik Brandt. “Mereka takkan pernah menangkapku hidup-hidup.”
“Kalau begitu hukuman mati saja,” gumam seseorang, serentak dengan perkataan Andy, “Kau tidak bisa menjamin hal itu.”
“Satu per satu,” Jeb mengingatkan.
“Aku pernah bertahan hidup di luar,” ujar Kyle marah.
Suara lain terdengar dari gelap. “Beresiko.” Aku tidak bisa mengenali pemilik suara yang hanya mengeluarkan bisikan mendesis itu.
Lalu terdengar suara lain. “Apa salah Kyle? Tak ada.”
Jeb maju menghampiri suara itu, matanya melotot. “Peraturanku.”
“Makhluk itu bukan salah satu dari kita,” protes orang lain.
Ian hendak bangkit berdiri lagi.
“Hei!” tukas Jared. Suaranya begitu keras sampai semua terlompat. “Wanda tidak sedang diadili di sini! Adakah yang punya keluhan konkret terhadapnya—terhadap Wanda sendiri? Kalau begitu, mintalah diadakan pengadilan lain. Tapi kita semua tahu, dia belum pernah mencelakai satu orang pun di sini. Sebenarnya dia malah menyelamatkan nyawa Kyle.” Jared mengarahkan jarinya ke punggung Kyle. Bahu Kyle merosot, seakan merasakan tusukan itu. “Hanya beberapa detik setelah Kyle mencoba melempar Wanda ke sungai, Wanda mempertaruhkan nyawa untuk menghindarkannya dari kematian menyakitkan yang sama. Wanda pasti tahu seandainya Kyle dibiarkan jatuh, dia akan lebih aman di sini. Tapi toh dia menyelamatkan Kyle juga. Adakah di antara kalian yang bersedia melakukan hal yang sama—menyelamatkan musuh kalian? Kyle mencoba membunuh Wanda, tapi apakah Wanda bicara menentangnya?”
Aku merasakan semua mata di ruang gelap itu memandangku ketika Jared memberiku isyarat untuk maju.
“Maukah kau bicara menentangnya, Wanda?”
Dengan terbelalak aku menatap Jared. Aku terpaku karena ia bicara mewakiliku, karena ia bicara kepadaku, karena ia menggunakan namaku. Melanie juga terkejut, ia terbagi dua. Ia sangat senang melihat kebaikan di wajah Jared ketika memandang kami, melihat kelembutan di mata Jared yang telah begitu lama hilang. Tapi namakulah yang diucapkan lelaki itu…
Perlu beberapa detik sebelum aku menemukan suaraku.
“Ini semua salah paham,” bisikku. “Kami sama-sama terjatuh ketika lantainya runtuh. Hanya itu yang terjadi.” Aku berharap bisikan itu semakin menyulitkan mereka mendeteksi kebohongan di dalam suaraku. Tapi begitu aku selesai bicara, Ian tergelak. Aku menyikutnya, tapi itu tidak menghentikannya.
Jared benar-benar tersenyum kepadaku. “Kalian lihat sendiri. DIa bahkan mencoba berbohong untuk membela Kyle.”
“Mencoba adalah kata yang perlu ditekankan disini,” imbuh Ian.
“Siapa yang bilang makhluk itu berbohong? Siapa yang bisa membuktikannya?” tanya Maggie kasar. Ia melangkah maju ke tempat kosong di samping Kyle. “Siapa yang bisa membuktikan itu adalah kebenaran yang terdengar sangat palsu di bibirnya?”
“Mag—“ Jeb memulai.
“Tutup mulutmu, Jebediah—aku sedang bicara. Taka da alasan bagi kita untuk berada di sini. Tak ada manusia yang diserang. Taka da yang mengeluhkan pelanggaran membahayakan. Ini membuang-buang waktu kita semua.”
“Aku setuju itu,” imbuh Sharon, suaranya bening dan lantang. Doc melontarkan pandangan terluka.
Trudy melompat berdiri. “Kita tidak bisa menampung pembunuh—dan menunggunya memperoleh kesuksesan!”
“Pembunuh adalah istilah subjektif,” desis Maggie. “Aku hanya menganggapnya pembunuh jika ada manusia yang terbunuh.”
Kurasakan lengan Ian memeluk bahuku. Tak kusadari tubuhku gemetar, hingga Ian yang tidak bergerak merapat pada tubuhku.
“Manusia juga istilah subjektif, Magnolia,” ujar Jared, memelototi Maggie. “Kurasa definisi itu mencakup semacam kasih sayang, mencakup sedikit belas kasih.”
“Ayo, kita adakah pemungutan suara,” ujar Sharon, sebelum ibunya bisa menjawab Jared. “Angkat tanganmu jika kau menganggap Kyle harus diizinkan tinggal di sini, tanpa dijatuhi hukuman atas… kesalahpahaman itu.” Ia tidak melirikku, tapi melirik Ian di sampingku, ketika memakai kata yang kugunakan.
Tangan-tangan teracung. Kuamati wajah Jared ketika ekspresinya berubah marah.
Aku berjuang mengangkat tangan, tapi Ian mempererah pegangannya di kedua lenganku, dan mengeluarkan suara jengkel lewat hidungnya. Kuangkat telapak tanganku setinggi mungkin untuk melakukannya. Tapi akhirnya suaraku tidak diperlukan.
Jeb menghitung keras-keras. “Sepuluh… lima belas… dua puluh… dua puluh tiga. Oke, itu jelas mayoritas.”
Aku tidak memandang sekeliling untuk melihat siapa yang memilih siapa. Cukuplah bahwa, di pojok mungilku, semua lengan tersilang erat di dada dan semua mata menatap Jeb dengan ekspresi penuh harap.
Jamie berjalan meninggalkan Jeb untuk menjejalkan diri di antara aku dan Trudy. Ia memelukku, di bawah lengan Ian.
“Mungkin jiwa-jiwa kalian benar tentang kami,” ujar Jamie, cukup keras bagi sebagian besar orang untuk mendengar suara lantangnya yang bernada tinggi. “Sebagian besar manusia tidak lebih baik daripada—“
“Hus!” desisku kepadanya.
“Oke,” ujar Jeb. Semua terdiam. Jeb menundukk memandang Kyle, lalu memandangku, lalu memandang Jared. “Oke, aku cenderung setuju dengan mayoritas dalam hal ini.”
“Jeb—“ ujar Jared dan Ian serentak.
“Rumahku, peraturanku,” Jeb mengingatkan. “Jangan pernah lupakan itu. Jadi, dengarkan aku, Kyle. Dan kurasa kau sebaiknya juga mendengarkan, Magnolia. Siapa pun yang mencoba mencederai Wanda lagi, dia tidak akan diadili. Dia akan dimakamkan.” Jeb menepuk gagang senapannya sebagai penegasan.
Aku terkesiap.
Magnolia melotot penuh kebencian pada saudara laki-lakinya. Kyle mengangguk, seakan menerima persyaratan itu.
Jeb memandang ke penonton yang terbagi secara tidak merata, menatap mata setiap anggota, kecuali mata anggota kelompok kecil di sampingku.
“Pengadilan selesai,” ujarnya mengumumkan. “Siapa yang mau main?”



The Host - Bab 33

0 comments
DIRAGUKAN



Kembali terdengar suara tercebur. Bobot Kyle menyiksa lenganku.
“Wanda? Wanda!”.
“Tolong! Kyle! Lantainya! Tolong!”
Wajahku menekan batu pilar, mataku mengarah ke lubang masuk gua. Cahaya di atas kepala menyorot terang ketika fajar menyingsing. Aku menahan napas. Kedua lenganku seakan berteriak.
“Wanda! Kau di mana?”
Ian melompat melewati pintu. Senapan ada di kedua tangannya. Posisinya rendah dan siaga. Wajah Ian berupa topeng kemarahan yang tadi dikenakan kakaknya.
“Awas!” teriakku. “Lantainya runtuh! Aku tak bisa menahan Kyle lebih lama lagi!”
Perlu dua detik yang lama bagi Ian untuk mencerna adegan yang begitu berbeda dengan adegan yang tadi diharapkannya: Kyle mencoba membunuhku. Adegan itu baru saja berakhir beberapa detik yang lalu.
Lalu Ian melempar senapIan  itu ke lantai gua dan berjalan ke arahku dengan langkah panjang.
“Merangkak—sebarkan bobot tubuhmu!”
Ian menjatuhkan tubuhnya, lalu merangkak menghampiriku, matanya membara dalam cahaya fajar.
“Jangan dilepaskan,” ujarnya mengingatkan.
Aku mengerang kesakitan.
Ian menilai situasinya sedetik lagi, lalu merapatkan tubuhnya di belakang tubuhku, mendorongku semakin rapat pada pilar. Lengannya lebih panjang. Bahkan dengan tubuhku di tengah-tengah, ia mampu merangkulkan kedua tangannya pada tubuh kakaknya.
“Satu, dua, tiga,” geram Ian.
Ian menarik Kyle ke pilar, jauh lebih aman daripada yang kulakukan. Gerakan Ian menekan wajahku ke pilar. Tapi itu sisi wajahku yang cedera—tak mngkin bisa lebih parah lagi saat ini.
“Aku akan menariknya ke sisi sebelah sini. Kau bisa menyelinap keluar?”
“Akan kucoba.”
Kulonggarkan peganganku pada Kyle, merasakan nyeri yang melegakan di bahuku, dan kupastikan Ian memegangi tubuh Kyle. Lalu aku menggeliat keluar dari antara Ian dan pilar, berhati-hati agar tidak meletakkan diriku di bagian lantai yang berbahaya. Aku merangkak mundur beberapa puluh sentimeter menuju pintu, siap mencengkeram Ian seandainya ia mulai tergelincir.
Ian menarik kakaknya yang tak sadarkan diri ke sisi lain pilar, menyeretnya dengan tersentak-sentak, tiga puluh sentimeter setiap sentakan. Semakin banyak lantai yang ambruk, tapi fondasi pilar tetap utuh. Terbentuk lapisan baru sekitar enam puluh sentimeter dari kolam batu.
Ian merangkak mundur seperti yang kulakukan, menyeret kakaknya dengan sentakan-sentakan pendek otot dan kemauan keras. Dalam hitungan menit kami bertiga sudah berada di mulut koridor, aku dan Ian tersengal-sengal.
“Apa… yang… terjadi?”
“Bobot kami… terlalu… berat. Lantainya runtuh.”
“Apa yang kaulakukan… di pinggirnya? Bersama Kyle?”
Aku menunduk, dan aku berkonsentrasi pada napasku.
Nah, katakan kepadanya.
Lalu apa yang akan terjadi?
Kau tahu apa yang akan terjadi. Kyle melanggar peraturan. Jeb akan menembaknya, atau mereka akan menendangnya keluar. Mungkin Ian akan menghajarnya lebih dulu. Itu akan menyenangkan untuk dilihat.
Melanie tidak bersungguh-sungguh dengan kata-katanya—bagaimanapun, aku menganggapnya begitu. Ia hanya marah kepadaku karena mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan calon pembunuh kami.
Tepat sekali, kataku kepadanya. Dan seandainya mereka menendang Kyle keluar karena diriku… atau membunuhnya… Aku bergidik. Nah, tidakkah kau bisa melihat betapa tidak masuk akalnya itu? Kyle salah satu dari kalian.
Kita punya kehidupan di sini, Wanda. Dan kau membahayakan kehidupan itu.
Itu kehidupanku juga. Dan aku… well, aku adalah aku.
Melanie mengerang muak.
“Wanda?” desak Ian.
“Tak ada,” gumamku.
“Kau pembohong yang payah. Kau tahu itu, kan?”
 Aku tetap menunduk dan bernapas.
“Apa yang dilakukan Kyle?”
“Tak ada,” ujarku berbohong. Dengan buruk.
Ian meletakkan tangannya ke bawah daguku, mendongakkan wajahku. “Hidungmu berdarah.” Ia memiringkan kepalaku ke samping. “Dan ada lebih banyak darah di rambutmu.”
“Aku—kepalaku terbentur ketika lantainya runtuh.”
“Di kedua sisi?”
Aku mengangkat bahu.
Ian memelototiku cukup lama. Kegelapan terowongan membuat kilatan matanya suram.
“Kita harus mengantar Kyle kepada Doc—kepalanya terbentur keras sekali ketika terjatuh.”
“Mengapa kau melindunginya? Dia mencoba membunuhmu.”
Itu pernyataan berdasarkan fakta, bukan pertanyaan. Wajah Ian pelan – pelan berubah dari marah jadi takut. Ia sedang membayangkan apa yang kami lakukan di lapisan tidak stabil itu—bisa kulihat hal itu di matanya. Ketika aku tidak menjawab ia bicara lagi dengan berbisik. “Kyle hendak melemparkanmu ke dalam sungai….” Getaran aneh mengguncang tubuhnya.
Ian memeluk Kyle dengan sebelah lengan—dan roboh dengan posisi seperti itu, tampaknya terlalu lelah untuk bergerak. Kini Ian mendorong tubuh tak sadar kakaknya dengan kasar, lalu menjauh dengan jijik. Ia mendekatiku dan memeluk bahuku. Ditariknya tubuhku ke dadanya—bisa kurasakan napasnya keluar-masuk, masih terengah-engah.
Rasanya sangat aneh.
“Seharusnya kugulingkan Kyle kembali ke sana, lalu kutendang dari pinggir lubang.”
Aku menggeleng panik, kepalaku berdenyut-denyut nyeri. “Tidak.”
“Menghemat waktu. Jeb sudah menjelaskan peraturannya. Jika mencoba melukai seseorang di sini, akan ada hukuman. Akan ada pengadilan.”
Aku mencoba melepaskan diri dari Ian, tapi ia mempererat pelukannya. Tidak menakutkan, tidak seperti cara Kyle mencengkeramku, tapi mengkhawatirkan—merusak keseimbanganku. “Tidak. Kau tak bisa melakukannya, karena tak seorang pun melanggar peraturan. Lantainya runtuh. Itu saja.”
“Wanda—“
“Kyle kakakmu.”
“Dia tahu apa yang dia lakukan. Ya. Dia kakakku, tapi dia melakukan apa yang dilakukannya, dan kau… kau… temanku.”
“Dia tidak melakukan apa-apa. Dia manusia,” bisikku.” Ini tempatnya, bukan tempatku.”
“Kita tidak akan membahas ini lagi. Definisimu mengenai manusia tidak sama dengan definisiku. Bagimu, manusia berarti sesuatu yang… negatf. Bagiku, itu pujian. Dan berdasarkan definisiku, kau manusia dan Kyle bukan. Tidak lagi, setelah kejadian ini.”
“Manusia tidak berarti negative bagiku. Aku sudah mengenal kalian sekarang. Tapi, Ian, dia kakakmu.”
“Fakta yang membuatku malu.”
Kudorong kembali tubuhku dari Ian. Kali ini ia melepaskanku. Mungkin ada hubungannya dengan erang kesakitan yang keluar dari bibirku ketika aku menggerakkan kaki.
“Kau baik-baik saja?”
“Kurasa begitu. Kita perlu mencari Doc, tapi aku tak tahu apakah aku bisa jalan. Aku—kakiku terbentur ketika aku terjatuh.”
Suara geraman mencekik tenggorokan Ian. “Kaki yang mana? Biar kulihat.”
Aku mencoba meluruskan kakiku yang cedera—sebelah kanan—dan kembali mengerang. Ian meraba-raba pergelangan kakiku, memeriksa tulang dan persendian. Ia memutar pergelangan kakiku dengan hati-hati.
“Lebih ke atas. Di sini.” Kutarik tangannya ke belakang paha, persis di atas lutut. Aku kembali mengerang ketika Ian menekan bagian yang sakit. “Kurasa tidak patah atau semacam itu. Hanya rasanya sakit sekali.”
“Setidaknya memar otot yang parah,” gumam Ian. “Dan bagaimana terjadinya?”
“Sepertinya… aku mendarat di atas batu ketika terjatuh.”
Ian mendesah. “Oke, ayo pergi menemui Doc.”
“Kyle lebih memerlukan Doc daripadaku.”
“Bagaimanapun, aku harus mencari Doc—atau bantuan. Aku tidak bisa membopong Kyle sejauh itu, tapi aku pasti bisa membopongmu. Uups—tunggu.”
Ian berbalik cepat, lalu merunduk kembali ke dalam ruang bersungai. Aku memutuskan untuk tidak membantah. Aku ingin menemui Walter sebelum… Doc sudah berjanji akan menungguku. Apakah dosis pertama penghilang nyeri itu begitu cepat menghilang?  Kepalaku melayang-layang. Ada begitu banyak kekhawatiran, dan aku sangat lelah. Adrenalinnya sudah habis, meninggalkanku dalam kehampaan.
Ian kembali dengan senapan. Aku memberengut, karena ini mengingatkanku bahwa aku tadi mengharapkan benda itu. Aku tidak suka itu.
“Ayo, pergi.”
Tanpa berpikir Ian menyerahkan senapan kepadaku. Kubiarkan benda itu jatuh ke telapak tanganku yang terbuka, tapi aku tak mampu menggenggamnya. Kuputuskan bahwa keharusan membawa senapan merupakan hukuman yang sesuai untukku.
Ian tergelak. “Bagaimana mungkin orang bisa takut padamu…,” gumamnya kepada diri sendiri.
Ia mengangkat tubuhku dengan mudah, dan langsung bergerak sebelum aku siap. Aku berusaha agar bagian-bagian tubuhku yang paling peka—tengkukku, bagian belakang kakiku—tidak terlalu keras menekan tubuh Ian.
“Kok pakaianmu bisa sebasah ini?” tanyanya. Kami sedang lewat di bawah salah satu lubang cahaya seukuran kepalan tangan, dan aku bisa melihat sedikit senyum masam di bibir Ian yang pucat.
“Aku tak tahu,” gumamku. “Uap?”
Kami kembali melintasi kegelapan.
“Sepatumu hilang satu.”
“Oh.”
Kami melewati sorotan cahaya lagi, dan mata Ian berkilat-kilat biru safir. Mata itu kini serius, terpaku pada wajahku.
“Aku… sangat senang kau tidak cedera, Wanda. Cedera lebih parah, maksudku.”
Aku tidak menjawab. Aku takut memberinya sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerang Kyle.
Jeb menemukan kami tepat sebelum kami memasuki ruang gua besar. Ada cukup banyak cahaya bagiku untuk menangkap kilau tajam rasa penasaran di matanya ketika melihatku di pelukan Ian, dengan wajah berdarah, dan senapan tergeletak di kedua tanganku yang terbuka.
“Kalau begitu kau benar,” tebak Jeb. Rasa penasarannya kuat, tapi nada dingin di dalam suaranya lebih kuat. Rahangnya terkatup di balik janggut. “Aku tidak mendengar suara tembakan. Kyle?”
“Dia tak sadarkan diri,” ujarku cepat-cepat. “Kau perlu memperingatkan semua orang—sebagian lantai runtuh di ruang bersungai. Aku tidak tahu seberapa stabilnya lantai itu sekarang. Kepala Kyle terbentur sangat keras ketika berusaha menyingkir. Dia perlu Doc.”
mengangkat sebelah alisnya sangat tinggi, sampai nyaris menyentuh bandana pudar di garis rambutnya.
“Itu versi Wanda,” ujar Ian, tanpa berusaha menyembunyikan keraguannya. “Dan sepertinya dia memegangnya dengan teguh.”
Jeb tertawa. “Biar kuambil benda itu dari tanganmu,” katanya kepadaku.
Dengan senang hati kubiarkan Jeb mengambil senapannya. Ia tertawa melihat ekspresiku.
“Aku akan mengajak Andy dan Brandt membantuku membawa Kyle. Kami akan mengikuti di belakangmu.”
“Awasi Kyle ketika tersadar,” ujar Ian dengan nada keras.
“Pasti.”
Jeb pergi mencari lebih banyak bantuan. Ian bergegas membawaku ke gua rumah sakit.
“Kyle mungkin terluka parah… Jeb harus bergegas.”                                                                                                                       
“Kepala Kyle lebih keras daripada semua batu di tempat ini.”
Terowongan panjang itu terasa lebih panjang daripada biasanya. Apakah Kyle sekarat walaupun aku sudah berusaha menyelamatkannya? Apakah ia kembali tersadar dan mencariku? Bagaimana dengan Walter? Apakah ia sedang tidur… atau sudah pergi? Apakah Pencari sudah menghentikan perburuannya, atau apakah ia akan kembali, karena sekarang hari sudah kembali terang?
Apakah Jared masih bersama Doc? Melanie bertanya. Apakah ia bakal marah ketika melihatmu? Akankah ia mengenaliku?
Ketika kami mencapai gua selatan yang diterangi cahaya matahari, Jared dan Doc tampak seakan-akan belum banyak bergerak. Mereka bersandar, berdampingan, di meja buatan Doc. Keadaan hening ketika kami mendekat. Mereka tidak bicara, hanya mengamati Walter tidur. Mereka terlompat dengan mata terbelalak ketika Ian membopongku ke dalam cahaya dan membaringkanku di dipan di samping Walter. Ia meluruskan kaki kananku dengan hati-hati.
Walter sedang mendengkur. Suara itu mengurangi sebagian keteganganku.
“Ada apa lagi ini?” desak Doc marah. Setelah melontarkan kata-kata itu ia langsung membungkuk di atas tubuhku. Lalu mengusap darah di pipiku.
Wajah Jared terpaku kaget. Ia berhati-hati, tidak membiarkan ekspresinya menunjukkan sesuatu yang lain.
“Kyle,” jawab Ian, pada saat yang sama ketika aku mengucapkan, “Lantainya—“
Doc memandang kami silih berganti, kebingungan.
Ian mendesah dan memutar bola mata. Tanpa sadar ia menyentuh ringan keningku. “Lantainya runtuh di dekat lubang sungai pertama. Kyle jatuh dan kepalanya menghantam batu. Wanda menyelamatkan hidupnya yang tak berguna itu. Menurut Wanda, dia juga terjatuh ketika lantainya runtuh.” Ian memandang Doc penuh arti. “Sesuatu,” diucapkannya kata itu dengan nada menyindir,” menghantam bagian kepala Wanda cukup keras.” Ian mulai menyebutkannya satu per satu. “Hidungnya berdarah, tapi kurasa tidak patah. Ototnya terluka di sini.” Ia menyentuh pahaku yang cedera. “Kedua lututnya tergores cukup parah. Juga wajahnya, sekali lagi, tapi kurasa aku yang melakukannya, ketika mencoba menarik Kyle keluar dari lubang. Seharusnya aku tak perlu repot-repot.” Ian menggumamkan bagian terakhir itu.
“Ada lagi?” Tanya Doc. Jari-jarinya meraba sisi tubuhku, dan mencapai bagian yang dipukul Kyle. Aku menghela napas kesakitan.
Doc menarik kemejaku ke atas, dan kudengar Ian serta Jared mendesis ketika melihatnya.
“Biar kutebak,” ujar Ian dengan suara sedingin es. “Kau terjatuh di atas batu.”
“Tebakan jitu,” kataku mengiyakan, kehabisan napas. Doc masih menyentuh sisi tubuhku, dan aku mencoba menahan erangan.
“Mungkin rusuknya ada yang patah, aku tak yakin,” gumam Doc. “Kuharap aku bisa memberimu sesuatu untuk menghilangkan rasa sakitnya—“
“Jangan khawatir, Doc,” ujarku terengah-engah. “Aku baik-baik saja. Bagaimana Walter? Apakah dia terbangun?”
“Tidak. Perlu beberapa waktu untuk menghilangkan dosisinya,” ujar Doc. Ia meraih tanganku dan mulai menekuk pergelangan tangan dan sikuku.
“Aku baik-baik saja.”
Mata Doc yang baik hati tampak lembut ketika membalas tatapanku. “Kau akan baik-baik saja. Kau hanya perlu beristirahat selama beberapa waktu. Aku akan mengawasimu. Nah, tengokkan kepalamu.”
Aku mematuhi permintaannya, lalu mengernyit ketika Doc meneliti lukaku.
“Jangan di sini,” gumam Ian.
Aku tidak bisa melihat Doc, tapi Jared memandang Ian dengan tajam.
“Mereka akan membawa Kyle ke sini. Aku tidak mau Wanda dan Kyle berada di ruangan yang sama.”
Doc mengangguk. “Mungkin itu bijaksana.”
“Akan kusiapkan tempat untuk Wanda. Aku memerlukanmu untuk mengawasi Kyle di sini sampai… sampai kita putuskan apa yang harus kita lakukan padanya.”
Aku mulai bicara, tapi Ian meletakkan jemarinya di bibirku.
“Baiklah,” ujar Doc setuju. “Aku akan mengikat Kyle, jika kau mau.”
“Jika perlu. Apakah tidak apa-apa memindahkan Wanda?” Ian melirih kea rah terowongan, wajahnya cemas.
Doc bimbang.
“Tidak,” bisikku. Jemari Ian masih menyentuh bibirku. “Walter. Aku ingin berada di sini untuk  Walter.”
“Kau telah menyelamatkan semua kehidupan yang bisa kau selamatkan hari ini, Wanda,” ujar Ian. Suaranya lembut dan sedih.
“Aku ingin mengucapkan… mengucapkan selamat—selamat tinggal.”
Ian mengangguk. Lalu ia memandang Jared. “Bisakah aku memercayaimu?”
Wajah Jared memerah karena amarah. Ian mengangkat tangan. “Aku tak ingin meninggalkan Wanda di sini tanpa perlindungan, sementara aku mencari tempat yang aman untuknya,” ujar Ian.
“Aku tidak tahu apakah Kyle dalam keadaan sadar ketika tiba. Seandainya Jeb menembaknya, itu akan membuat Wanda sedih. Tapi kau dan Doc harus bisa menangani Kyle. Aku tidak ingin Doc sendirian, dan memaksa Jeb melakukannya.”
Jared bicara dengan gigi dikertakkan. “Doc tidak akan sendirian.”
Ian bimbang. “Wanda mengalami hal-hal sangat buruk beberapa hari terakhir. Ingat itu.”
Jared mengangguk, dengan gigi masih dikertakkan.
“Aku akan berada di sini,” ujar Doc mengingatkan Ian.
Ian membalas tatapan Doc. “Oke.” Ia membungkuk di atas tubuhku, mata cemerlangnya menatapku. “Aku akan segera kembali. Jangan takut.”
“Aku tidak takut.”
Ian membungkuk dan menyentuhkan bibirnya di keningku.
Tak seorang pun lebih terkejut daripada aku, walaupun aku mendengar Jared diam-diam menghela napas kaget. Mulutku terbuka ketika Ian bergegas pergi, nyaris berlari, dari ruangan itu.
Kudengar Doc menghela napas melalui sela-sela gigi, seperti siulan terbalik. “Well,” katanya.
Mereka menatapku untuk waku lama. Aku begitu lelah dan sakit sehingga nyaris tak memedulikan apa yang mereka pikirkan.
“Doc—“ Jared mulai mengucapkan sesuatu dengan nada mendesak, tapi keributan di dalam terowongan mengganggunya.
Lima lelaki berjuang melewati lubang pintu. Jeb di depan, memegangi kaki kiri Kyle dengan dua tangan. Wes memegangi kaki kanan Kyle, dan di belakang mereka, Andy dan Aaron berjuang mengangkat dada Kyle. Kepala Kyle terkulai ke belakang di bahu Andy.
“Astaga, berat sekali,” gerutu Jeb.
Jared dan Doc melompat maju untuk membantu. Setelah beberapa menit memaki dan mengerang, Kyle terbaring di dipan beberapa puluh sentimeter dari dipanku.j
“Sudah berapa lama dia tak sadarkan diri, Wanda?” Tanya Doc kepadaku. Ia membuka kelopak mata Kyle, membiarkan cahaya matahari menyinari pupil matanya.
“Um…” aku berpikir cepat. “Sama lamanya dengan keberadaanku disini, ditambah sepuluh menit atau lebih yang diperlukan Ian untuk membawaku kemari, dan mungkin lima menit lagi sebelum itu.”
“Setidaknya dua puluh menit, menurutmu?”
“Ya. Kira-kira selama itu.”
Sementara kami bercakap-cakap, Jeb telah membuat diagnosisnya sendiri. Tak seorang pun memperhatikan ketika Jeb berdiri di ujung atas dipan Kyle. Tak seorang pun memperhatikan—sampai ia menuang sebotol air ke wajah Kyle.
“Jeb,” keluh Doc, seraya menyingkirkan tangan Jeb.
Tapi Kyle terbatuk-batuk dan mengerjap-ngerjapkan mata, lalu mengerang. “Apa yang terjadi? Ke mana makhluk itu pergi?” Ia mulai menggeser tubuhnya, mencoba melihat sekeliling. “Lantainya… bergerak…”
Suara Kyle membuat jemariku mencengkeram sisi dipan, dan kepanikan menyapu wajahku. Kakiku sakit. Bisakah aku pergi dengan terpincang-pincang? Pelan-pelan mungkin…
“Tidak apa-apa,” gumam seseorang. Bukan seseorang. Aku akan selalu mengenali suara itu.
Jared bergerak, berdiri di antara dipanku dan dipan Kyle. Punggungnya menghadapku, matanya terarah pada lelaki bongsor itu. Kyle menggerakkan kepalanya sambal mengerang.
“Kau aman,” ujar Jared pelan. Ia tidak memandangku. “Jangan takut.”                  
Aku menghela napas panjang.
Melanie ingin menyentuh Jared. Tangan lelaki itu berada di dekat tanganku, tergeletak di pinggir dipanku.
Kumohon, jangan, ujarku kepadanya. Wajahku sudah cukup sakit!
Jared tidak akan memukulmu.
Menurutmu. Aku tidak mau mengambil risiko.
Melanie mendesah; ia ingin mendekati Jared. Takkan terlalu berat untuk ditanggungkan, seandainya aku tidak menginginkan hal yang sama.
Melanie kembali mendesah.
“Aw, sialan!” gerutu Kyle. Pandanganku beralih kepadanya, ketika mendengar nada suaranya. Aku hanya bisa melihat mata cemerlangnya, di sekitar siku jared, terpusat padaku. “Makhluk itu tidak terjatuh!” keluhnya.






The Host - Bab 26

0 comments
Pulang


Tanpa pernah benar-benar setuju melakukannya, aku menjadi guru yang diinginkan Jeb.
"Kelas"-ku tidak formal. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan setiap malam, sehabis makan. Kusadari bahwa, selama aku bersedia melakukan ini, Ian, Doc, dan Jeb akan membiarkanku sendirian seharian, sehingga aku bisa berkonsentrasi pada tugas-tugasku. Kami selalu berkumpul di dapur. Aku suka membantu memasak sambil bicara. Memberiku alasan untuk diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang sulit, dan memberiku sesuatu untuk dilihat ketika aku tak ingin memandang mata seseorang. Di benakku tampaknya itu pengaturan yang tepat. Kata-kataku terkadang menyedihkan, tapi tindakan-tindakanku selalu demi kebaikan mereka.
Aku tak ingin mengakui Jamie benar. Jelas orang-orang itu tidak menyukaiku. Mereka tak mungkin menyukaiku; aku bukan salah satu dari mereka. Jamie menyukaiku, tapi itu hanya semacam reaksi kimia aneh yang jauh dari rasional. Jeb menyukaiku, tapi ia memang sinting. Yang lain tidak memiliki kedua alasan itu.
Tidak. Mereka tidak menyukaiku. Tapi semua berubah ketika aku mulai bicara.

Hal itu pertama kali kuamati di pagi hari, setelah malam sebelumnya aku menjawab pertanyaan-pertanyaan Doc saat makan. Aku sedang berada di kamar mandi gelap, mencuci pakaian bersama Trudy, Lily, dan Jamie.
"Bisa tolong ambilkan sabun itu, Wanda?" tanya Trudy dari kiriku.
Arus listrik seakan menjalari tubuhku ketika aku mendengar namaku diucapkan suara perempuan. Dengan kaku kuserahkan sabun itu, lalu kubilas rasa menyengat dari tanganku.
"Terima kasih," sahut Trudy.
"Sama-sama," gumamku. Suaraku parau ketika mengucapkan suku kata terakhir.
Sehari kemudian aku berpapasan dengan Lily di lorong dalam perjalananku mencari Jamie sebelum makan malam.
"Wanda," ujarnya, seraya mengangguk.
"Lily," jawabku, tenggorokanku kering.
Bukan hanya Doc dan Ian yang mengajukan pertanyaan-pertanyaannya di malam hari. Aku terkejut mengetahui orang-orang yang paling berani bertanya: Walter yang tampak lelah, dengan wajah kelabu mengkhawatirkan, tak henti-hentinya tertarik dengan kelelawar dari singing World. Heath, yang biasanya pendiam dan membiarkan Trudy atau Geoffrey bicara mewakilinya, banyak bicara di malam-malam seperti ini. Ia takjub dengan Fire World. Dan walaupun itu salah satu kisah yang paling tidak kusukai, ia memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan, sampai ia mengetahui setiap detail yang kuketahui. Lily berminat pada mekanika segala sesuatu--ia ingin tahu tentang pesawat-pesawat yang membawa kami dari planet ke planet, pilotnya, bahan bakarnya. Kepada Lily-lah aku menjelaskan tangki krio--sesuatu yang pernah mereka lihat, tapi hanya sedikit mereka pahami kegunaannya. Wes yang pemalu, yang biasanya duduk di dekat Lily, tidak bertanya tentang planet-planet lain, tapi tentang planet ini. Bagaimana cara kerjanya? Tanpa uang, tanpa upah kerja--mengapa masyarakat jiwa tidak runtuh? Kucoba untuk menjelaskan bahwa itu tak jauh berbeda dengan kehidupan di dalam gua. Bukankah kami semua bekerja tanpa uang dan saling berbagi produk kerja kami secara merata?
"Ya," sela Wes, seraya menggeleng. "Tapi di sini lain--Jeb punya senapan untuk para pemalas."
Semua memandang Jeb yang mengedipkan sebelah mata, lalu mereka semua tertawa.
Hampir setiap malam Jeb selalu hadir. Ia tidak berpartisipasi, hanya duduk serius di belakang ruangan, terkadang nyengir.
Ia benar soal faktor hiburannya. Anehnya, walaupun kami semua punya kaki, situasi ini mengingatkanku kepada See Weed. Ada julukan khusus bagi para penghibur di sana, seperti julukan Penghibur atau Penyembuh atau Pencari. Aku adalah salah satu Pendongeng. Jadi transisi menjadi guru di sini, di Bumi, tidak jauh berbeda. Setidaknya dari segi profesi. Setelah hari gelap situasi di dapur hampir sama, dengan bau asap dan roti panggang memenuhi ruangan. Semua terpaku di sini, seakan tubuh emreka tertanam. Kisah-kisahku adalah hal yang baru, hal untuk direnungkan, selain hal-hal yang sudah biasa--tugas-tugas melelahkan tanpa akhir yang sama; 35 wajah yang sama; ingatan-ingatan yang sama mengenai wajah-wajah lain yang mendatangkan duka yang sama bagi mereka; ketakutan dan keputusasaan sama yang telah lama menemani mereka. Dan dengan demikian dapur selalu penuh untuk pelajaran-pelajaran santaiku. Hanya Sharon dan Maggie yang secara mencurigakan dan konsisten tidak hadir.
Aku sudah menjadi guru tidak formal selama hampir empat minggu ketika kehidupan di dalam gua kembali berubah.
Dapur penuh seperti biasa. Hanya Jeb dan Doc yang tidak hadir, selain dua orang yang normalnya memang tak pernah hadir itu. Di meja di sampingku ada nampan logam berisi bulatan-bulatan adonan roti warna gelap yang sudah mengembang dua kali lipat dari ukuran semula. Mereka siap dimasukkan ke oven, segera setelah roti-roti di atas nampan di dalamnya sudah matang. Trudy memeriksa setiap beberapa menit, memastikan tak ada yang gosong.
Aku sering mencoba menyuruh Jamie bicara, jika ia sudah mengetahui kisahnya dengan baik. Aku suka menyaksikan antusiasme yang mencerahkan wajahnya, dan caranya menggunakan tangan untuk menggambar di udara. Malam ini Heidi ingin tahu lebih banyak mengenai Lumba-Lumba, jadi aku meminta Jamie menjawab pertanyaan-pertanyaan sebaik mungkin.
Manusia-manusia itu selalu bicara dengan penuh kesedihan ketika bertanya tentang akuisisi terbaru bangsaku. Mereka meihat Lumba-Lumba sebagai cerminan diri mereka sendiri pada tahun pertama pendudukan mahluk asing. Mata gelap Heidi, yang tampak bingung di balik poni pirang keputihan itu, menegang penuh simpati ketika ia mengajukan pertanyaan-pertanyaannya.
"Mereka lebih mirip capung besar daripada ikan, bukan, Wanda?" Jamie nyaris selalu bertanya sebagai penegasan, walaupun ia tak pernah menunggu jawabanku. "Tapi kulit mereka keras, dengan tiga, empat, atau lima pasang sayap, tergantung umur mereka, bukan? Jadi mereka terbang di atas air--yang lebih ringan dan lebih tidak padat daripada air di sini. Mereka punya lima, tujuh, atau sembilan kaki, tergantung jenis kelamin mereka, ya kan, Wanda? Mereka punya tiga jenis kelamin berbeda. Mereka punya tangan-tangan yang sangat panjang, dengan jari-jari liat dan kuat yang bisa menyusun segala jenis benda. Mereka membuat kota-kota di bawah air dari tanam-tanaman keras yang tumbuh di sana. Itu semacam pohon, tapi bukan benar-benar pohon. Mereka tidak semaju kami, kan, Wanda? Karena mereka tidak membangun pesawat ruang angkasa atau, misalnya, telepon untuk berkomunikasi. Manusia lebih maju."
Trudy mengeluarkan nampan berisi roti panggang, dan aku membungkuk untuk memasukkan nampan adonan mengembang berikutnya ke lubang panas berasap itu. Aku perlu sedikit mendorong dan mengaturnya agar nampan bisa masuk dengan benar.
Ketika sedang berkeringat di depan api, kudengar semacam keributan di luar dapur. Keributan itu menggema melewati lorong dari suatu tempat di gua. Dengan semua gema acak dan akustik aneh itu, sulit untuk memperkirakan jarak di sini.
"Hei!" teriak Jamie dari belakang, dan ketika menoleh aku melihat bagian belakang kepala jamie ketika ia berlari keluar.
Aku menegakkan tubuh dan mengejarnya, mengikuti instingku.
"Tunggu," panggil Ian. "Dia akan kembali. Berceritalah lebih banyak tentang Lumba-Lumba."
Ian duduk di meja di samping oven--kursi panas yang tidak bakal kupilih--sehingga cukup dekat baginya untuk mengulurkan tangan dan menyentuh pergelangan tanganku. Lenganku menyentakkan sentuhan tak terduga itu, tapi aku tidak beranjak dari tempatku.
"Ada apa di luar sana?" tanyaku. Aku masih bisa mendengar semacam percakapan. Kurasa aku mendengar suara gembira Jamie membaur di dalamnya.
Ian mengangkat bahu. "Siapa yang tahu?" Mungkin Jeb..." ia mengangkat bahu lagi, seakan tak cukup tertarik sehingga tidak ingin mencari tahu. Ia tidak peduli. Tapi aku melihat ketegangan di matanya yang tidak kupahami.
Aku yakin akan segera tahu, jadi aku juga mengangkat bahu dan mulai menjelaskan kerumitan luar biasa di dalam hubungan keluarga Lumba-Lumba, seraya membantu Trudy menumpuk roti hangat ke dalam wadah-wadah plastik.
"Enam dari sembilan... kakek-nenek, mungkin itu sebutan tradisionalnya, tinggal bersama larva-larva di sepanjang tahap perkembangan pertama, sementara ketiga orangtua bekerja bersama enam kakek-nenek mereka untuk membangun sayap baru di rumah keluarga, untuk didiami anak-anak ketika mereka sudah bisa bergerak," jelasku. Seperti biasa mataku memandangi roti-roti di kedua tanganku, bukannya memandangi para pendengar. Lalu kudengar helaan napas tertahan dari bagian belakang ruangan. Aku melanjutkan bicara secara otomatis, seraya memandang kerumunan itu untuk melihat siapa yang telah kubuat marah. "Ketiga kakek-nenek lainnya biasanya terlibat..."
Tak seorang pun marah kepadaku. Semua kepala menoleh ke arah yang sama dengan arah pandanganku. Pandanganku melintasi bagian kepala mereka, melihat ke lubang keluar gelap itu.
Hal pertama yang kulihat adalah sosok ramping Jamie menggayuti lengan seseorang. Seseorang yang begitu kotor dari kepala sampai ujung kaki sehingga kelihatannya hampir menyatu dengan dinding gua. Seseorang yang terlalu jangkung untuk disebut sebagai Jeb. Lagi pula Jeb berada persis di belakang bahu Jamie. Dari jarak sejauh ini sekalipun bisa kulihat mata Jeb menyipit dan hidungnya mengerut, seakan merasa gelisah. Itu emosi yang langka bagi Jeb. Dan aku juga bisa melihat wajah Jamie yang ceria penuh kebahagiaan.
"Ini dia," gumam Ian di sampingku. Suaranya nyaris tak terdengar di antara keretak api.
Lelaki kotor yang masih digayuti Jamie maju selangkah. Sebelah tangannya perlahan-lahan terangkat, seperti refleks di luar kehendak, lalu membentuk kepalan.
Dari sosok kotor itu keluarlah suara Jared--datar, sama sekali tidak terdengar tinggi-rendahnya nada. "Apa arti semua ini, Jeb?"
Tenggorokanku tercekat. Aku mencoba menelan ludah, dan mendapati jalannya terhalang. Aku mencoba bernapas, dan tidak berhasil. Jantungku berdentam-dentam tak keruan.
Jared! Suara gembira Melanie terdengar lantang. Teriakan bisu kebahagiaan. Ia langsung hidup dan bersemangat di dalam kepalaku. Jared pulang!

"Wanda sedang mengajari kami semua tentang jagad raya," celoteh jamie bersemangat. Entah mengapa, ia tidak menangkap kemarahan Jared. Mungkin ia terlalu gembira, sehingga tidak memperhatikan.
"Wanda?" ulang Jared, suaranya rendah, nyaris berupa geraman.
Muncul lebih banyak sosok kotor di lorong di belakangnya.
Aku hanya memperhatikan ketika mereka menggemakan geraman Jared dengan bergumam marah.
Sebuah kepala berambut pirang menyembul dari penonton yang terpaku. Paige terhuyung-huyung berdiri. "Andy!" serunya, lalu tertatih - tatih melewati sosok-sosok yang duduk di sekitarnya. Salah seorang lelaki kotor itu melangkah ke samping Jared dan menangkap Paige yang nyaris menjatuhi Wes. "Oh, Andy!" isak Paige. Nada suaranya mengingatkanku pada nada suara Melanie.
Sejenak luapan perasaan Paige mengubah suasana. Kerumunan bisu itu mulai bergumam, sebagian besar bangkit berdiri. Ketika mayoritas penonton menyambut kembalinya para petualang, suara yang terdengar bernada ramah. Aku mencoba membaca ekspresi aneh di wajah mereka, ketika mereka memaksakan diri untuk tersenyum seraya diam-diam kembali melirikku. Setelah satu detik yang terasa lama dan lambat--waktu tampaknya menggumpal di sekelilingku, membekukanku di tempat--kusadari mereka menunjukkan ekspresi bersalah.
"Tidak apa-apa, Wanda," bisik Ian.
Aku meliriknya panik, mencari ekspresi bersalah yang sama di wajahnya. Tidak kutemukan. Yang ada hanya ketegangan defensif di sekeliling mata cemerlangnya ketika ia menatap para pendatang baru itu.
"Ada apa ini?" terdengar seruan suara baru.
Kyle--yang mudah diidentifikasi berdasarkan ukuran tubuhnya, walaupun kotor--menyeruak melewati jared dan menuju ke arah...ku.

"Kalian membiarkan mahluk itu menceritakan kebohongan - kebohongannya? Apakah kalian semua sudah sinting? Atau apakah dia sudah menuntun para Pencari kemari? Apakah kalian semua sudah menjadi parasit?"
Kulihat banyak kepala tertunduk malu. Hanya beberapa yang mempertahankan dagu mereka terdongak kaku dengan bahu tegak: Lily, Trudy, Heath, Wes... bahkan Walter yang rapuh.
"Sabar, Kyle," ujar Walter dengan suara lemah.
Kyle mengabaikannya. Ia berjalan mantap ke arahku. Matanya, yang berwarna biru cemerlang seperti mata adiknya, bersinar penuh kemarahan. Tapi aku tak bisa terus memandangnya--mataku terus-menerus beralih pada sosok gelap Jared, mencoba membaca raut wajahnya yang tersamar.
Cinta Melanie mengalir melalui tubuhku, seperti danau yang meluap dari bendungan, dan semakin mengalihkan perhatianku dari lelaki barbar murka yang menghampiriku dengan cepat itu.
Ian menyelinap ke dalam ruang pandangku, pindah untuk menempatkan diri di depanku. Aku menjulurkan leher ke samping agar pandanganku ke arah Jared tetap jelas.
"Segalanya berubah ketika kau pergi."
Kyle berhenti, wajahnya tidak percaya. "Lalu, apakah para Pencari datang, Ian?"
"Dia tidak berbahaya bagi kita."
Kyle menggertakkan gigi, dan dari sudut mata aku melihatnya meraih sesuatu di sakunya.
Gerakan ini akhirnya mencuri perhatianku. Aku menciut, mengira itu senjata. Kata-kata berhamburan dari bibirku dalam bisikan tercekik. "Jangan menghalanginya, Ian."
Ian tidak menjawab. Aku terkejut menyadari betapa gelisahnya aku, dan betapa aku tidak ingin Ian terluka. Ini bukan naluri untuk melindungi--kebutuhan mendalam untuk melindungi--yang kurasakan terhadap Jamie, atau bahkan Jared. Yang kuketahui hanyalah, Ian tidak boleh terluka ketika mencoba melindungiku.
Tangan Kyle kembali terangkat, dan senter bersinar dari sana. Ia mengarahkannya ke wajah Ian, menahannya di sana sejenak. Ian tidak berpaling.
"Jadi, apa yang berubah?" desak Kyle, mengembalikan senter ke saku. "Kau bukan parasit. Bagaimana mungkin mahluk itu bisa memengaruhimu?"
"Tenanglah, akan kami ceritakan semuanya."


"Tidak."
Perlawanan itu bukan berasal dari Kyle, tapi dari belakangnya. Aku menyaksikan Jared berjalan perlahan-lahan menghampiri kami, melewati para penonton yang membisu. Ketika ia semakin dekat, diiringi Jamie yang masih menggayuti tangannya dengan raut bingung, aku bisa membaca raut wajahnya dengan lebih jelas di balik topeng kotoran itu. Bahkan Melanie sekalipun, yang kegembiraannya meluap-luap karena Jared pulang dengan selamat, tak mungkin salah mengartikan ekspresi jijik yang terpampang di sana.
Jeb telah menyia-nyiakan usahanya untuk orang-orang yang keliru. Tak peduli Trudy atau Lily bicara denganku, tak peduli Ian meletakkan dirinya di antara kakaknya dan aku, tak peduli Sharon dan Maggie tidak berbuat jahat kepadaku. Satu-satunya orang yang perlu diyakinkan akhirnya membuat keputusan.
"Kurasa tak ada yang perlu menenangkan diri," ujar Jared lewat sela-sela gigi. "Jeb," lanjutnya, tanpa melihat apakah lelaki tua itu mengikutinya ke depan. "Berikan senapannya."
Keheningan yang mengikuti kata-katanya begitu menegangkan, sampai-sampai bisa kurasakan tekanannya di dalam telingaku.
Sejak bisa melihat wajah Jared dengan jelas, aku tahu semuanya sudah berakhir. Aku tahu apa yang kini harus kulakukan; Melanie juga setuju. Setenang mungkin aku melangkah ke samping dan agak mundur, sehingga tidak terhalang Ian. Lalu aku memejamkan mata.
"Kebetulan tidak kubawa," ujar Jeb pelan.
Aku mengintip lewat mata yang kusipitkan ketika Jared berputar untuk menilai kebenaran ucapan Jeb.
Napas Jared berembus marah lewat lubang hidungnya. "Baiklah," gumamnya. Ia maju selangkah lagi ke arahku. "Tapi akan lebih lambat dengan cara ini. Akan lebih manusiawi jika kau cepat-cepat mencari senapan itu."
 "Ayolah, Jared, ayo bicara dulu," ujar Ian. Ia menjejakkan kaki kuat-kuat, tahu seperti apa jawaban Jared.
"Kurasa sudah ada terlalu banyak pembicaraan," geram Jared. "Jeb menyerahkan mahluk ini kepadaku, dan aku sudah membuat keputusan."
Jeb berdehem keras-keras. Jared berputar dan kembali memandangnya.
"Apa?" desak Jared. "Kau yang membuat peraturan itu, Jeb."
"Well, itu benar."
Jared berbalik lagi kepadaku. "Ian, jangan menghalangi."
"Well, well, tunggu sebentar," lanjut Jeb. "Seandainya kau ingat-ingat lagi, peraturannya adalah, siapa pun yang memiliki tubuh itu yang harus membuat keputusan."
Pembuluh darah di kening Jared jelas berdenyut-denyut. "Dan?"
"Bagiku tampaknya ada seseorang di sini yang sama berhaknya sepertimu. Mungkin bahkan lebih berhak."
Jared menatap lurus ke depan, mencerna perkataan ini. Sejenak kemudian alisnya mengernyit paham. Ia memandang anak laki-laki yang masih menggayuti lengannya.
Seluruh kegembiraan lenyap dari wajah Jamie, meninggalkan kepucatan dan kengerian yang teramat sangat.

"Tidak boleh, Jared," ujar Jamie tersendat-sendat. "Kau tidak boleh melakukannya. Wanda baik. Dia temanku! Dan Mel! Kumohon! Kau harus--" Ia berhenti, raut wajahnya tampak sangat menderita.
Aku kembali memejamkan mata, mencoba memblokir gambaran anak laki-laki yang menderita itu dari benakku. Nyaris mustahil untuk tidak menghampiri Jamie. Kukunci otot-ototku, meyakinkan diri sendiri aku takkan membantunya jika beranjak.
"Jadi," kata Jeb, nadanya terlalu santai untuk saat ini, "bisa kaulihat Jamie tidak setuju. Kurasa dia sama berhaknya denganmu."
Tak ada jawaban untuk waktu sangat lama, sehingga aku harus kembali membuka mata.
Jared sedang menatap wajah Jamie yang sedih dan ketakutan dengan ekspresi kengeriannya sendiri.
"Bagaimana kau bisa membiarkan ini terjadi, Jeb?" bisik Jared.
"Kita benar-benar perlu bicara," jawab Jeb. "Tapi mengapa kau tidak istirahat dulu? Mungkin kau akan merasa lebih siap bercakap-cakap setelah mandi."
Jared melotot marah kepada lelaki tua itu, tatapannya penuh rasa terkejut dan sakit akibat dikhianati. Aku hanya punya perbandingan-perbandingan manusia untuk pandangan semacam itu. Yulius Caesar dan Brutus, Yesus dan Yudas.
Ketegangan tak tertahankan itu hanya bertahan selama semenit yang terasa lama, lalu Jared menyingkirkan jemari Jamie dari lengannya.
"Kyle," seru Jared, berbalik dan berjalan ke luar ruangan.
Kyle nyengir pada adiknya, lalu mengikuti Jared.
Para anggota ekspedisi yang kotor lainnya mengikuti tanpa bicara. Paige menyelip aman di bawah lengan Andy.
Sebagian besar manusia lainnya, mereka yang menunduk malu karena telah memasukkanku ke tengah pergaulan mereka, berjalan keluar dengan menyeret kaki. Hanya ada Jamie, Jeb, dan Ian di sampingku, serta Trudy, Geoffrey, Heath, Lily, Wes, dan Walter yang tetap tinggal.
Tak seorang pun bicara sampai gema langkah mereka menghilang dalam gelap.
"Fiuh!" ian menghembuskan napas. "Nyaris sekali. Pemikiran yang bagus, Jeb."
"Inspirasi dalam kegentingan. Tapi kita belum lepas dari bahaya," jawab Jeb.
"Tentu saja! Kau tidak meninggalkan senapan itu di tempat yang mudah ditemukan, bukan?"
"Tidak. Sudah kubayangkan ini akan segera terjadi."
"Baguslah."
Jamie berdiri gemetaran, sendirian di ruang yang ditinggalkan orang-orang tadi. Dikelilingi mereka yang tentu saja kuanggap teman, aku merasa sanggup berjalan ke samping Jamie. Ia memeluk pinggangku, dan aku menepuk-nepuk punggungnya dengan sepasang tanganku yang gemetaran.
"Tidak apa-apa," bisikku berbohong. "Tidak apa-apa." Aku tahu, bahkan orang tolol pun akan mendengar nada palsu dalam suaraku. Dan Jamie tidak tolol.
"Dia tidak akan melukaimu," ujar Jamie parau, berjuang menahan air mata yang bisa kulihat di matanya. "Takkan kubiarkan."
"Sst," gumamku.
Aku terkejut--kurasakan wajahku membentuk garis-garis ketakutan. Jared benar--bagaimana Jeb bisa membiarkan ini terjadi? Kalau saja mereka membunuhku di hari pertamaku di sini, bahkan sebelum Jamie melihatku... Atau di minggu pertama itu, ketika Jared mengasingkanku dari semua orang, sebelum aku dan Jamie berteman... Atau seandainya aku terus menutup mulut soal Melanie... Sudah terlambat untuk semua itu. Kedua lenganku memeluk anak itu erat-erat.
Melanie sama terkejutnya. Adikku yang malang.
Sudah kubilang, menceritakan semuanya kepada Jamie adalah ide buruk, ujarku mengingatkan.
Sekarang apa akibatnya bagi Jamie, seandainya kita mati?
Pasti mengerikan. Ia akan mengalami trauma, terluka, dan hancur--
Melanie menyelaku. Cukup. Aku tahu. Aku tahu. Tapi apa yang bisa kita perbuat?
Tidak mati, kurasa.
Aku dan Melanie memikirkan kemungkinan kami bisa bertahan hidup, dan merasa putus asa.
Ian menepuk punggung Jamie--bisa kurasakan gerakan itu menggetarkan tubuh kami berdua.
"Jangan sedih, Nak," kata Ian. "Kau tidak sendirian dalam hal ini."
"Mereka hanya terkejut. Itu saja." Kukenali suara alto Trudy di belakangku. :Setelah kita punya kesempatan untuk menjelaskan, mereka akan memahami alasannya."
"Memahami alasannya? Kyle?" desis seseorang, nyaris tak terdengar.
"Kita tahu ini akan terjadi," gumam Jeb. "Hanya perlu sedikit waktu. Badai akan berlalu."
"Mungkin kau harus mengambil senapan itu," saran Lily tenang. "Mungkin ini akan jadi malam yang panjang. Wanda bisa tinggal bersamaku dan Heidi--"
"Kurasa kita lebih kita menempatkannya di tempat lain," ujar Ian tidak setuju. "Mungkin di terowongan-terowongan selatan? Aku akan mengawasinya. Jeb, mau membantu?"
"Mereka tidak akan mencarinya jika dia bersamaku." Tawaran Walter hanya berupa bisikan.
Wes mengabaikan perkataan Walter. "Aku akan menemanimu, Ian. Mereka berenam."
"Tidak." Akhirnya aku berhasil bicara. "Tidak. Itu tidak benar. Kalian tidak boleh berkelahi. Kalian semua bersama-sama di sini. Kalian bersatu. Tidak ada perkelahian. Tidak ada perkelahian karena diriku."
Kutarik lengan Jamie dari pinggangku, dan kupegangi pergelangan tangannya ketika ia mencoba menghentikanku.
"Aku hanya perlu waktu sendirian," kataku kepadanya, mengabaikan semua tatapan yang kurasakan di wajahku. "Aku perlu menyendiri." Aku berpaling mencari Jeb. "Dan kau harus punya kesempatan untuk membahas hal ini tanpa bisa kudengarkan. Tidak adil--membahas strategi di hadapan musuh."
"Ayolah, jangan begitu," ujar Jeb.
"Beri aku waktu untuk berpikir, Jeb."
Aku melangkah meninggalkan Jamie, menjatuhkan kedua tangannya. Satu tangan memegangi bahuku, dan aku berjengit.
Ternyata Ian. "Bukan ide yang bagus untuk berkeliaran sendiri."
Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, mencoba memelankan suaraku sehingga Jamie takkan bisa mendengar dengan jelas. "Mengapa mengulur-ulur sesuatu yang tak terhindarkan? Bakal lebih mudah atau lebih sulitkah bagi Jamie?"
Kupikir aku tahu jawaban untuk pertanyaan terakhirku. Aku merunduk di bawah tangan Ian, lalu bergegas lari menuju lubang keluar.
"Wanda!" panggil Jamie.
Seseorang menyuruhnya diam. Tak ada langkah kaki di belakangku. Agaknya mereka memahami kebijakan membiarkan aku pergi.
Lorong gelap dan sepi. Kalau beruntung aku bisa memotong jalan melewati pinggiran plaza kebun yang besar itu dalam kegelapan.
Sepanjang waktuku di sini, satu hal yang tak pernah kuketahui adalah jalan keluar. Sepertinya aku telah menyusuri setiap terowongan berulang kali, tapi tak penah melihat lubang yang belum pernah kujelajahi ketika mencari satu atau lain hal. Kini aku merenungkannya, ketika merayap melewati pojok-pojok dengan bayangan tergelap di dalam gua besar itu. Di manakah jalan keluarnya? Dan ini yang kupikirkan: seandainya bisa memecahkan teka-teki itu, bisakah aku pergi?
Aku tak bisa memikirkan apa pun yang kuinginkan hingga aku bersedia pergi dari sini--yang pasti bukan padang gurun yang menanti di luar sana; tapi juga bukan Pencari, atau Penyembuh, atau Penghibur-ku; juga bukan kehidupanku sebelumnya, yang hanya meninggalkan kesan dangkal bagiku. Semua yang benar-benar berarti ada bersamaku di sini. Jamie, Jared, walaupun ia hendak membunuhku. Tak bisa kubayangkan aku meninggalkan mereka berdua.
Dan Jeb. Ian. Kini aku punya teman-teman. Doc, Trudy, Lily, Wes, Walter, Heath. Manusia-manusia aneh yang bisa mengabaikan siapa diriku dan melihat sosok lain yang tak perlu mereka bunuh. Mungkin mereka hanya merasa penasaran. Tapi di luar itu, mereka bersedia membelaku melawan ikatan kekeluargaan yang erat di antara mereka yang masih bertahan hidup. Aku menggeleng takjub ketika meraba-raba batu kasar dengan sepasang tanganku.
Aku bisa mendengar yang lain berada di ruang gua, di sisi yang jauh dariku. Aku tidak berhenti; mereka tak bisa melihatku di sini, dan aku baru saja menemukan celah yang kucari.
Bagaimanapun, sebenarnya hanya ada satu tempat bagiku untuk pergi. Seandainya pun aku bisa menebak jalan untuk kabur, aku toh akan mengambil jalan ini juga. Aku merangkak ke dalam kegelapan terhitam yang bisa kubayangkan, dan bergegas menyusuri jalanku.

Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com
Showing posts with label uncle jeb. Show all posts
Showing posts with label uncle jeb. Show all posts

The Host- Bab 36

0 comments

 




DIPERCAYA

Kelompok manusia itu berubah tenang, dan gumaman lebih antusias terdengar dari seluruh tempat mereka duduk membentuk setengah lingkaran.
Aku memandang Jamie, yang mengerutkan bibir dan mengangkat bahu. “Jeb hanya mencoba mengembalikan segala sesuatunya agar normal lagi. Beberapa hari ini keadaan sangat buruk. Pemakaman Walter…”
Aku meringis.
Kulihat Jeb nyengir pada Jared. Setelah sejenak menolak, Jared menghela napas dan memutar bola mata pada lelaki tua aneh itu. Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan gua.
“Jared punya bola baru?” tanya seseorang.
“Asyik,” ujar Wes di sampingku.
“Bermain,” gumam Trudy, seraya menggeleng.
“Jika itu bisa meredakan ketegangan,” jawab Lily pelan. Lalu mengangkat bahu.
Suara mereka pelan, di dekatku, tapi aku juga bisa mendengar suara-suara lain yang lebih keras.
“Kali ini berhati-hatilah dengan bolanya,” ujar Aaron kepada Kyle. Ia berdiri di samping Kyle, menawarkan tangannya.
Kyle meraih tangan yang ditawarkan dan perlahan-lahan bangkit berdiri. Setelah berdiri, kepalanya nyaris menyundul lentera-lentera yang bergantungan.
“Bola terakhir kurangg bagus,” ujar Kyle. Ia nyengir pada lelaki yang lebih tua itu. “Secara structural cacat.”
“Aku menominasikan Andy sebagai kapten,” teriak seseorang.
“Aku menominasikan Lily,” seru Wes. Ia berdiri, lalu meregangkan tubuh.
“Andy dan Lily.”
“Ya, Andy dan Lily.”
“Aku mau Kyle,” ujar Andy cepat.
“Kalau begitu aku mau Ian,” jawab Lily.
“Jared.”
“Brandt.”
Jamie bangkit, lalu berdiri berjingkat, berusaha tampak lebih tinggi.
“Paige.”
“Heidi.”
“Aaron.”
“Wes.”
Pemanggilan nama-nama berlanjut. Jamie berseri-seri ketika Lily memilihnya sebelum setengah jumlah orang dewasa terpilih.
Bahkan Maggie dan Jeb dipilih untuk memperkuat tim. Jumlahnya genap, sampai Lucina kembali bersama Jared, dengan kedua anak laki-lakinya melompat-lompat gembira. Jared memegang bola sepak baru yang mengilat di tangannya; ia mengulurkan bola itu, dan Isaiah, anak yang lebih tua, melompat-lompat mencoba menjatuhkan bola itu dari tangan Jared.
“Wanda?” tanya Lily.
Aku menggelengg dan menunjuk kakiku.
“Benar. Maaf.”
Aku jago main sepak bola, gerutu Mel. Well, dulu aku seperti itu.
Aku hampir tak sanggup berjalan, ujarku mengingatkan.
“Kurasa kali iini aku tidak ikut main,” kata Ian.
“Oh, tidak,” keluh Wes. “Mereka punya Kyle dan Jared. Kami mati tanpamu.”
“Mainlah,” ujarku kepada Ian. “Aku… aku akan menghitung angkanya.”
Ian memandangku, bibirnya terkatup membentuk garis tipis kaku. “Aku sedang tidak terlalu ingin bermain.”
“Mereka memerlukanmu.”
Ian mendengus.
“Ayolah, Ian,” desak Jamie.
“Aku ingin menonton,” kataku. “Tapi akan… membosankan jika timnya berat sebelah.”
“Wanda,” desah Ian. “Kau benar-benar pembohong paling payah yang pernah kujumpai.”
Tapi Ian berdiri dan mulai meregangkan tubuh bersama Wes.
Paige menyusun tiang gawang menggunakan empat lentera.
Aku mencoba bangkit berdiri—aku berada tepat di tengah lapangan. Tak seorang pun memperhatikanku dalam cahaya suram itu. Kini atmosfer di sekeliling ruangan berubah positif, penuh antisipasi. Jeb benar. Ini yang mereka perlukan, walaupun tampak ganjil bagiku.
Aku bisa merangkak, lalu kutarik kakiku yang tidak cedera ke muka, sehingga aku berlutut menggunakan kakiku yang  cedera. Rasanya menyakitkan. Lalu aku mencoba melompat dengan kakiku yang tidak cedera. Keseimbanganku sangat buruk, berkat bobot kakiku yang cedera.
Sepasang tangan kokoh menangkapku sebelum aku jatuh terjerembap. Aku mendongak, dengan sedikit perasaan malu, untuk berterima kasih kepada Ian.
Kata-kataku tersangkut di tenggorokan ketika melihat tangan Jared-lah yang menahanku.
“Kau seharusnya bisa minta tolong,” ujarnya ramah.                                                                                                                                                                                                                             
“AKu—“ aku berdehem. “Memang seharusnya aku minta tolong. Aku tak ingin…”
“Diperhatikan?” Jared mengucapkan kata-kata itu seakan benar-benar penasaran. Taka da nada menuduh di dalamnya. Ia membantuku yang terpincang-pincang menuju  lubang masuk gua.
Aku menggeleng. “Aku tak ingin… membuat seseorang melakukan sesuatu hanya demi kesopanan, padahal mereka tak ingin melakukannya.” Penjelasanku tidak terlalu tepat, tapi sepertinya Jared memahami maksudku.
“Kurasa Jamie atau Ian takkan keberatan membantumu.”
Jared meneliti wajahku. KUsadari aku sedang tersenyum penuh sayang.
“Kau sangat peduli terhadap anak itu,” katanya.
“Ya.”
Jared mengangguk. “Dan lelaki itu?”
“Ian… Ian memercayaiku. Dia menjagaku. Dia teramat sangat baik… untuk ukuran manusia.” Hampir seperti jiwa, itulah yang ingin kukatakan. Tapi perkataan itu tidak akan terdengar seperti pujian bagi pendengar yang satu ini.
Jared mendengus. “Untuk ukuran manusia. Pembedaan itu lebih penting daripada yang kusadari.”
Ia mendudukkanku di bibir lubang masuk. Tempat itu menyerupai bangku rendah, sehingga lebih nyaman daripada lantai datar.
“Terima kasih,” ujarku. “Kau tahu, Jeb melakukan hal yang benar.”
“Aku tidak setuju dengan perkataan itu.” Nada suara Jared lebih lunak daripada kata-katanya.
“Juga terima kasih—untuk yang tadi. Kau tidak perlu membelaku.”
“Setiap kata adalah kebenaran.”
AKu menunduk memandang lantai. “Memang benar, aku takkan pernah melakukan sesuatu untuk mencederai siapa pun di sini. Secara sengaja. Maaf karena aku melukaimu ketika dating kemari. Dan Jamie. Maaf sekali.”
Jared duduk di sampingku, wajahnya serius. “Sejujurnya…” Ia bimbang. “Anak itu jadi lebih baik sejak kedatanganmu. Aku sedikit lupa bagaimana suara tawanya.”
Kini kami mendengarkan tawa itu menggema di atas tawa orang dewasa yang bernada lebih rendah.
“Terima kasih telah memberitahuku. Itu adalah… kekhawatiran terbesarku. Kuharap taka da yang kurusak secara permanen.”
“Mengapa?”                                          
Aku mendongak memandang Jared, bingung.
“Mengapa kau mencintainya?” tanya Jared. Suaranya masih penasaran, tapi tidak mendesak.
Aku menggigit bibir.
“Kau bisa mengatakannya kepadaku. AKu… aku…” Jared tak bisa menemukan kata-kata untuk menjelaskan. “Kau bisa mengatakannya kepadaku,” ulangnya.
Kupandangi kakiku ketika menjawab. “Sebagian besar karena Melanie mencintainya.” Aku tidak melirik untuk melihat apakah nama itu tidak mengejutkan Jared. “Mengingat Jamie seperti yang diingat Melanie… itu sesuatu yang sangat berpengaruh. Lalu ketika kulihat sendiri anak laki-laki itu…” Aku mengangkat bahu. “Mustahil bagiku untuk tidak mencintainya. Mencintainya adalah bagian dari susunan sel-sel ini. Sebelumnya tak kusadari betapa banyak pengaruh seorang inang terhadapku. Mungkin itu hanya karena tubuh manusia. Mungkin itu hanya karena Melanie.”
“Melanie bicara padamu?” Jared tetap menjaga ketenangan suaranya, tapi kini aku bisa mendengar  ketegangan di dalamnya.
“Ya.”
“Seberapa sering?”
“Ketika dia menginginkannya. Ketika dia tertarik.”
“Bagaimana dengan hari ini?”
“Tak banyak. Dia… sedikit marah kepadaku.”
Jared mengeluarkan tawa terkejut. “Dia marah? Mengapa?”
“Karena…” Apakah aku kembali diadili di sini? “Tak apa-apa.”
Jared mendengar kebohongan itu lagi, dan ia menghubungkannya.
“Oh, Kyle. Mel ingin Kyle dibantai.” Jared kembali tertawa. “Memang.”
“Melani bisa jadi… kejam,” ujarku setuju. Aku tersenyum, untuk memperlunak penghinaan itu.
Tapi itu bukan penghinaan bagi Jared. “Benarkah? Kok bisa?”
“Dia ingin aku melawan. Tapi aku… aku tak bisa melakukannya.  Aku bukan petarung.”
“Itu bisa kupahami.” Jared menyentuh wajahku yang berantakan dengan ujung jari. “Maaf.”
“Tidak. Siapa pun akan melakukan hal yang sama. Aku tahu bagaimana perasaanmu.”
“Kau tidak akan—“
“Seandainya aku manusia, aku akan melakukannya. Lagi pula, bukan itu yang sedang kupikirkan… Aku teringat pada Pencari.”
Jared mengejang.
Aku tersenyum, dan ia sedikit lebih tenang. “Mel ingin aku mencekiknya. Dia benar-benar membenci Pencari itu. Dan aku tidak bisa… menyalahkan Mel.”
“Pencari itu masih mencarimu. Setidaknya dia tampak seakan hendak kembali menggunakan helicopter itu.”
Aku memejamkan mata, mengepalkan tangan, dan berkonsentrasi untuk bernapas selama beberapa detik.
“Dulu aku tidak takut kepadanya,” bisikku. “AKu tidak tahu mengapa dia kini begittu menakutkan bagiku. Di mana dia?”
“Jangan khawatir. Kemarin dia hanya mondar-mandir menyusuri jalan raya. Dia tidak akan menemukanmu.”
Aku mengangguk, memaksa diriku percaya.
“Bisakah kau… bisakah kau mendengar Mel sekarang?” gumam Jared.
Aku tetap memejamkan mata. “Aku… menyadari keberadaannya. Dia mendengarkan dengan saksama.”
“Apa yang dipikirkannya?” Suara Jared hanya berupa bisikan.
Ini peluangmu, kataku kepada Melanie. Apa yang ingin kaukatakan kepada Jared?
Sekali ini  Melanie berhati-hati. Undangan ini menggelisahkannya. Mengapa? Mengapa sekarang ia memercayaimu?
Aku membuka mata, dan mendapati Jared menatap wajahku seraya menahan napas.                                                      
“Dia ingin tahu apa yang terjadi sehingga kau… sekarang berbeda. Mengapa kau memercayai kami?”
Jared berpikir sejenak. “Akumulasi dari banyak hal. Kau begitu… baik terhadap Walter. Aku tak pernah melihat orang lain, kecuali Doc, yang berbuat sebaik itu. Dan kau menyelamatkan nyawa Kyle, padahal sebagian besar kami akan membiarkannya jatuh untuk melindungi diri kami sendiri, tanpa memedulikan pembunuhan terencana. Lalu kau pembohong yang payah.” Ia tertawa sejenak. “Aku terus mencoba memandang hal-hal ini sebagai bukti adanya rencana besar. MUngkin besok aku akan terbangun dan kembali berpikir seperti itu.”
Aku dan Mel sama-sama terkesiap.
“Tapi ketika mereka mulai menyerangmu hari ini… well, kesabaranku habis. Aku bisa melihat, pada diri mereka semua, segala hal yang seharusnya taka da pada diriku. Kusadari aku sudah percaya, aku hanya bersikap keras kepala. Kejam. Kurasa aku sudah percaya sejak… well, sedikit percaya sejak malam pertama, ketika kau mengempaskan dirimu di depanku untuk menyelamatkanku dari Kyle.” Ia  tertawa, seakan tidak menganggap Kyle berbahaya. “Tapi aku lebih pintar berbohong daripada kau. Aku bahkan bisa membohongi diriku sendiri.”
“Melanie berharap kau takkan berubah pikiran. Dia khawatir kau akan melakukannya.”
Jared memejamkan mata. “Mel.”
Jantungku berdetak lebih cepat. Kegembiraan Melanie-lah yang memicunya, bukan kegembiraanku. Agaknya Jared sudah menebak betapa aku mencintainya. Setelah pertanyaan-pertanyaannya mengenai Jamie, mestinya ia mengerti.
“Katakan kepadanya… itu tidak akan terjadi.”
“Dia mendengarmu.”
“Seberapa… langsungnyakah hubungan itu?”
“Dia mendengar apa yang kudengar, melihat apa yang kulihat.”
“Merasakan apa yang kau rasakan?”
“Ya.”
Hidung Jared mengerut. Kembali ia menyentuh wajahku dengan lembut, membelainya. “Kau tidak tahu betapa menyesalnya diriku.”
Kulitku lebih panas di tempat ia menyentuhnya; panas yang bagus. Tapi kata-kata Jared membakar lebih panas daripada sentuhannya. Tentu saja penyesalannya bertambah karena ia telah melukai Melanie. Tentu saja. Itu seharusnya tidak menggangguku.
“Ayo, Jared! Ayo, main!”
Kami mendongak. Kyle memanggil Jared. Tampaknya ia benar-benar santai, seakan hidupnya tak pernah dipertaruhkan dalam pengadilan hari ini. Mungkin ia sudah tahu hasilnya akan seperti ini. Mungkin ia cepat melupakan apa saja. Tampaknya ia tidak memperhatikanku di sana, di samping Jared.   
Kusadari, untuk pertama kali, bahwa yang lain memperhatikan.
Jamie mengamati kami dengan senyum puas. Ini mungkin tampak baik baginya. Benarkah?
Apa maksudmu?
Apa yang dilihat Jamie ketika memandang kita? Keluarganya bersatu kembali?
Benarkah? Semacam itukah?
Dengan satu tambahan yang tidak dikehendaki.
Tapi ini lebih baik daripada kemarin.
Kurasa begitu…
Aku tahu, Melanie mengakui. Aku gembira Jared tahu aku ada di sini… tapi aku masih tidak suka jika ia menyentuhmu.
Dan aku sangat suka. Wajahku bergelenyar di tempat jemari Jared mengusapnya tadi. Maaf soal itu.
Aku tidak menyalahkanmu. Atau, setidaknya, aku tahu aku tidak boleh menyalahkanmu.
Terima kasih.
Jamie bukanlah satu-satunya yang mengamati.
Jeb penasaran. Senyum kecil itu berkumpul di sudut janggutnya.
Sharon dan Maggie mengamati dengan api di mata mereka. Ekspresi mereka begitu mirip, sehingga kulit muda dan rambut warna mencolok sama sekali tidak membuat Sharon tampak lebih muda dibandingkan ibunya yang beruban.
Ian waswas. Matanya tegang, dan sepertinya ia nyaris menghampiriku untuk kembali melindungiku. Untuk memastikan Jared tidak menggangguku. Aku tersenyum meyakinkannya. Ian tidak membalas senyumku, tapi menghela napas panjang.
Kurasa bukan itu penyebab kekhawatiran Ian, ujar Melanie.
“Apakah kau sedang mendengarkan, Mel?” Jared bangkit berdiri, masih mengamati wajahku.
Pertanyaannya mengalihkan perhatianku, sebelum aku bisa bertanya kepada Mel apa maksud perkataannya. “Ya.”
“Dia bilang apa?”
“Kami sedang mengamati bagaimana pendapat yang lain mengenai… perubahan pikiranmu.” Aku mengangguk kea rah bibi dan sepupu Melanie. Mereka serentak memunggungiku.
“Keras kepala,” Jared mengakui.
“Baiklah, kalau begitu,” teriak Kyle, seraya berbalik kea rah bola yang tergeletak di bawah tempat yang paling diterangi cahaya. “Kami akan memenangkan pertandingan ini tanpamu.”
“Tunggu!” Sekali lagi Jared melirik sedih kepadaku—kepada kami—lalu lari untuk mengikuti permainan.
Aku bukan pencatat angka terbaik. Terlalu gelap untuk melihat bolanya dari tempat dudukku. Bahkan terlalu gelap untuk melihat para pemain dengan baik saat mereka tidak berada di bawah cahaya. Aku mulai menghitung berdasarkan reaksi Jamie. Teriakan kemenangannya ketika timnya mencetak angka, erangannya ketika tim lawan mencetak angka. Jumlah erangannya lebih banyak daripada teriakan kemenangannya.
Semua ikut bermain. Maggie menjadi penjaga gawang untuk tim Andy, dan Jeb jadi penjaga gawang untuk tim Lily. Mereka sama-sama hebat. Aku bisa melihat siluet mereka dalam cahaya lampu-lampu tiang gawang, bergerak lincah seakan usia mereka puluhan tahun lebih muda. Jeb tidak takut menjatuhkan diri ke lantai untuk menggagalkan gol, tapi Maggie lebih efektif tanpa harus melakukan tindakan-tindakan ekstrem semacam itu. Perempuan tua itu seperti magnet bagi bola yang tak terlihat. Setiap kali Ian atau Wes melayangkan tendangan… duk! Bola mendarat di tangan Maggie.
Trudy dan Paige berhenti bermain setelah sekitar setengah jam. Mereka melewatiku waktu berjalan keluar, seraya mengobrol gembira. Tampaknya mustahil kami memulai pagi ini dengan pengadilan, tapi aku lega karena semua tidak berubah drastis.
Kedua perempuan itu tidak pergi lama. Mereka kembali dengan tangan penuh kotak. Granola-granola batangan—yang berisi buah. Permainan berhenti. Jeb meneriakkan istirahat setengah permainan, dan semua bergegas menyantap sarapan.
Makanan itu dibagikan di garis tengah. Mulanya semua berkerumun dan saling berebut.
“Ini, Wanda,” ujar Jamie, seraya merunduk keluar dari kerumunan. Tangannya penuh granola batangan, dan botol-botol air minum terseip di bawah kedua lengannya.
“Terima kasih. Kau bersenang-senang?”
“Ya! Kalau saja kau bisa ikut bermain.”
“Lain kali,” ujarku.
“Ini…” Ian berada di sana, kedua tangannya penuh granola batangan.
“Aku duluan,” kata Jamie kepadanya.
“Oh,” ujar Jared, yang muncul di sisi lain Jamie. Ia juga membawa terlalu banyak granola batangan untuk satu orang.
Ian dan Jared berpandangan untuk waktu lama.
“Mana makanannya?” desak Kyle. Ia berdiri di samping kotak kosong, kepalanya berputar berkeliling, mencari tersangka pencurinya.
“Tangkap,” ujar Jared. Ia melemparkan granola-granola batangan itu satu per satu, kuat-kuat, seakan melempar pisau.
Kyle menangkap semuanya dengan mudah, lalu lari mendekat untuk melihat apakah Jared masih menyembunyikan beberapa.
“Ini,” ujar Ian. Ia menyorongkan setengah bawaannya kepada kakaknya tanpa memandang Kyle. “Sekarang pergilah.”
Kyle mengabaikannya. Untuk pertama kali hari ini ia memandangku, menunduk menatapku di tempat dudukku. Selaput pelangi matanya berwarna hitam diterangi cahaya di belakangnya. Aku tak bisa membaca ekspresi wajahnya.
Aku menciut, dan menahan napas ketika tulang-tulang rusukku memprotes.
Jared dan Ian berdiri berdampingan di hadapanku seperti tirai panggung pertunjukan.
“Dengarkan kata-kata Ian,” ujar Jared.
“Bisakah aku mengucapkan sesuatu lebih dulu?” tanya Kyle. Ia mengintip lewat celah di antara Jared dan Ian.
Keduanya tidak menjawab.
“Aku tidak menyesal,” ujar Kyle kepadaku. “Aku masih merasa perbuatanku benar.”
Ian mendorong kakaknya. Kyle sempoyongan mundur, tapi kembali melangkah maju.
“Tunggu, aku belum selesai.”
“Ya, kau sudah selesai,” ujar Jared. Tangannya terkepal, kulit di buku-buku jarinya memutih.
Kini semua orang memperhatikan. RUangan hening, semua kegembiraan bermain lenyap.
“Tidak, belum selesai.” Kyle mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat menyerah, lalu kembali bicara kepadaku. “Menurutku aku tidak bersalah, tapi kau memang menyelamatkan nyawaku. Aku tidak tahu mengapa, tapi kau melakukannya. Jadi, kupikir, nyawa dibalas dengan nyawa. Aku tidak akan membunuhmu. Kubayar utangku dengan cara itu.”
“Kau bajingan tolol,” ujar Ian.
“Siapa  yang naksir cacing, DIk?” Kau hendak menyebutku tolol?”
Ian mengangkat tinjunya, lalu mencondongkan tubuh ke depan.
“Akan kukatakan mengapa,” kataku. Kubuat suaraku lebih keras daripada yang kuinginkan. Itu menghasilkan dampak yang kuinginkan. Ian, Jared, dan Kyle berbalik menatapku. Sejenak mereka melupakan perkelahian.
Aku jadi gugup. Aku berdehem. “Aku tidak membiarkanmu jatuh karena… karena aku tidak sepertimu. Aku tidak mengatakan aku tidak… seperti manusia. Karena ada orang-orang lain di sini yang akan melakukan hal yang sama. Ada orang-orang baik dan bijak di sini. Orang-orang seperti adikmu, dan Jeb, dan Doc… aku mengatakan bahwa aku tidak seperti dirimu secara pribadi.”
Kyle menatapku sejenak, lalu tergelak. “Aduh,” katanya, masih tertawa. Lalu ia berbalik pergi. Pesannya sudah tersampaikan, dan ia pergi untuk mengambil air minum. “Nyawa dibalas dengan nyawa,” teriaknya, seraya menoleh ke belakang.
Aku tak yakin apakah aku mempercayainya. Sama sekali tak yakin. Manusia adalah pembohong yang baik.










The Host- Bab 35

0 comments
DIADILI



Aku mengerang. Kepalaku serasa berputar-putar dan mau lepas. Perutku bergolak memualkan.
“Akhirnya.” Seseorang bergumam lega. Ian. Tentu saja. “Lapar?”
Kurenungkan perkataannya, lalu tanpa kuinginkan aku bersendawa.
“Oh. Lupakan saja. Maaf. Lagi. Kami harus melakukannya. Orang-orang berubah… paranoid ketika kami membawamu keluar.”
“Tidak apa-apa,” desahku.
“Mau minum?”
“Tidak.”
Aku membuka mata, mencoba memusatkan pandangan dalam gelap. Aku bisa melihat dua bintang lewat celah-celah di atas kepala. Masih malam. Atau sudah malam lagi, siapa yang tahu?
“Aku di mana?” tanyaku. Bentuk celah-celah itu tak kukenal.
Aku bersumpah tak pernah menatap langit-langit ini sebelumnya.
“Kamarmu,” jawab Ian.
Kuteliti wajahnya dalam gelap, tapi aku hanya bisa melihat bentuk hitam kepalanya. Dengan jemari kuraba permukaan tempatku berbaring; benar-benar Kasur. Ada bantal di bawah kepala. Tanganku yang meraba-raba menemukan tangan Ian, dan ia menangkap jemariku sebelum aku bisa menariknya.
“Sebenarnya kamar siapa ini?”
“Kamarmu.”
“Ian…”
“Dulunya kamar kami—kamarku bersama Kyle. Kyle… ditahan di rumah sakit sampai segalanya diputuskan. Aku bisa pindah ke kamar Wes.”
“Aku takkan mengambil kamarmu. Dan apa maksudmu dengan sampai segalanya diputuskan?”
“Sudah kubilang, akan ada pengadilan.”
“Kapan?”
“Mengapa kau ingin tahu?”
“Karena, jika kalian hendak menyelenggarakannya, aku harus ada di sana. Untuk menjelaskan.”
“Untuk berbohong?”
“Kapan?” tanyaku lagi.
“Cahaya pertama. Aku tidak akan membawamu ke sana.”
“Kalau begitu aku akan ke sana sendiri. Aku bisa berjalan setelah kepalaku berhenti berputar-putar.”
“Kau bersungguh-sungguh, bukan?”
“Ya. Tidak adil jika kalian tidak membiarkanku bicara.”
Ian mendesah. Ia menjatuhkan tangannya dan perlahan-lahan bangkit berdiri. Aku bisa mendengar sendi-sendinya berkeretak ketika ia bangkit. Berapa lama ia duduk di dalam gelap, menungguku terbangun? “Aku akan segera kembali. Kau mungkin tidak lapar, tapi aku kelaparan.”
“Kau mengalami malam yang panjang.”
“Ya.”
“Jika hari sudah terang, aku takkan duduk di sini menunggumu.”
Ian tergelak tanpa menunjukkan rasa geli. Aku yakin itu benar. Jadi aku akan kembali sebelum itu, dan aku akan membantu membawamu ke tempat yang kautuju.”
Ian menyingkirkan salah satu pintu yang menutupi lubang masuk ke guanya. Ia melangkah ke luar, lalu meletakkan pintu itu ke tempatnya lagi. Aku memberengut. Akan sulit menggeser pintu itu dengan satu kaki. Kuharap Ian benar-benar kembali.
Sementara menunggu Ian, aku menatap dua bintang yang bisa kulihat, dan kubiarkan kepalaku perlahan-lahan berubah tenang. Aku benar-benar tidak menyukai obat-obatan manusia. Ugh. Tubuhku sakit, tapi guncangan-guncangan di kepalaku lebih menyakitkan lagi.
Waktu bergeser lalmbat, tapi aku tidak tertidur. Aku sudah tidur lebih dari 24 jam. Mungkin aku juga lapar. Aku harus menunggu sampai perutku tenang, sebelum bisa memastikan.
Ian kembali sebelum hari terang, persis seperti janjinya.
“Merasa lebih enak?” tanyanya, ketika melangkah melewati pintu.
“Kurasa begitu. Aku belum menggerakkan kepala.”
“Menurutmu, siapa yang bereaksi terhadap morfin itu? Kau atau tubuh Melanie?”
“Mel. Dia bereaksi buruk terhadap sebagian besar obat penghilang nyeri. Dia tahu itu ketika pergelangan tangannya patah sepuluh tahun yang lalu.”
Sejenak Ian merenungkan perkataanku. “Rasanya… aneh. Menghadapi dua orang sekaligus.”
“Aneh,” ujarku setuju.
“Kau sudah lapar?”
Aku tersenyum. “Kurasa aku mencium bau roti. Ya, kurasa perutku sudah melewati saat terburuknya.”
“Aku memang berharap kau akan berkata seperti itu.”
Bayang-bayang Ian duduk di sampingku. Ia mencari tanganku, lalu membuka jemariku dan meletakkan bentuk yang sudah kukenal itu di sana.
“Bantu aku duduk?” pintaku.
Ian merangkulkan lengannya dengan hati-hati di bahuku, lalu mendudukkanku dengan gerak kaku untuk meminimalkan rasa sakit di sisi tubuhku. Aku bisa merasakan sesuatu yang asing di sana, di kulitku. Kaku dan ketat.
“Terima kasih,” ujarku, sedikit terengah. Kepalaku berputar pelan. Kusentuh sisi tubuhku dengan tanganku yang bebas. Sesuatu melekat di kulitku, di balik kemejaku. “Apakah rusukku patah?”
“Doc tidak yakin. Dia melakukan yang terbaik.”
“Dia berusaha begitu keras.”
“Memang.”
“Aku merasa tidak enak… karena pernah tidak menyukainya,” ujarku mengakui.
Ian tertawa. “Tentu saja kau tidak menyukainya. Aku heran jika kau bisa menyukai salah seorang dari kami.”
“Perkataanmu terbalik,” gumamku, lalu kubenamkan gigiku ke roti yang keras. Aku mengunyah secara mekanis, lalu menelan. Kuletakkan roti itu ketika menunggunya menerpa perutku.
“Tidak terlalu mengundang selera. Aku tahu,” ujar Ian.
Aku mengangkat bahu. “Hanya menguji—untuk mengetahui apakah mualnya sudah benar-benar hilang.”
“Mungkin sesuatu yang lebih mengundang selera…”
Aku memandang Ian, penasaran, tapi tak bisa melihat wajahnya. Aku mendengar suara gemersik tajam dan suara robekan… lalu bisa mencium baunya, dan aku mengerti.
“Cheetos!” teriakku. “Benarkah? Untukku?”
Sesuatu menyentuh bibirku, dan kukunyah camilan yang tawarkan Ian kepadaku.
“Aku memimpi-mimpikannya,” desahku, seraya mengunyah.
Perkataanku membuat Ian tertawa. Diletakkannya kemasan itu di tanganku.
Kuhabiskan isi kemasan kecil itu dengan cepat, lalu kuhabiskan rotiku, dibumbui rasa keju yang masih tertinggal di mulutku. Ian memberiku sebotol air sebelum aku memintanya.
“Terima kasih. Kau tahu, bukan hanya untuk Cheetos-nya. Tapi untuk begitu banyak hal.”
“Sama-sama, Wanda.”
Kutatap mata biru gelap Ian, mencoba memahami semua yang dikatakannya lewat kalimat itu. Sepertinya ada sesuatu yang lebih dari sekedar kesopanan dalam kata-katanya. Lalu kusadari aku bisa melihat warna mata Ian. Cepat-cepat aku melirik ke celah-celah di atasku. Bintang – bintang sudah menghilang, dan langit berubah kelabu pucat. Fajar menjelang. Cahaya pertama.
“Kau yakin harus melakukannya?” tanya Ian. Tangannya setengah terulur, seakan hendak mengangkatku.
Aku mengangguk. “Kau tak perlu membopongku. Kakiku sudah lebih baik.”
“Akan kita lihat.”
Ian membantuku berdiri, membiarkan lengannya memeluk pinggangku, lalu merangkulkan lenganku di lehernya.
“Sekarang hati-hati. Bagaimana rasanya?”Aku melompat maju satu langkah. Rasanya sakit, tapi aku bisa melakukannya. “Hebat. Ayo pergi.”
Kurasa Ian terlalu menyukaimu.
Terlalu? Aku terkejut mendengar suara Melanie begitu jelas. Belakangan ia hanya bicara seperti itu ketika Jared berada di sini.
AKu juga ada di sini. Apakah ia bahkan peduli?
Tentu saja ia peduli. Ian memercayai kita, melebihi siapa pun, selain Jamie dan Jeb.
Bukan itu maksudku.
Apa maksudmu?
Tapi Melanie sudah pergi.
Perlu waktu lama bagi kami. Aku terkejut menyadari betapa jauh kami harus pergi. Kupikir kami akan pergi ke plaza utama atau dapur—tempat-tempat berkumpul yang biasa. Tapi kami berjalan melewati ladang timur, sampai akhirnya tiba di gua gelap gulita besar yang disebut Jeb ruang bermain. Aku belum pernah ke sana sejak tur pertamaku. Bau menyengat mata air sulfur menyambutku.
Tidak seperti sebagian besar ruang gua di sini, ruang bermain jauh lebih luas jika dibandingkan tingginya. Kini aku bisa melihat ruangan itu, karena lampu-lampu biru suram tergantung di langit-langit, dan bukannya tergeletak di lantai. Langit-langitnya hanya beberapa puluh sentimeter di atas kepalaku; tinggi langit-langit normal sebuah rumah. Tapi aku bahkan tak bisa melihat dinding-dindingnya, yang sangat jauh dari lampu-lampu itu. Aku tak bisa melihat mata air berbau busuk itu, yang tersembunyi di pojok yang jauh, tapi aku bisa mendengarnya menetes dan berdeguk.
Kyle duduk di tempat yang paling diterangi cahaya. Lengannya memeluk kaki. Wajahnya seperti topeng kaku. Ia tidak mendongak ketika Ian membantuku berjalan masuk.
Kyle diapit Jared dan Doc yang berdiri dengan lengan bebas dan siaga di sisi tubuh mereka. Seakan mereka… pengawal.
Jeb duduk di samping Jared, dengan senapan tersampir di bahu. Ia tampak santai, tapi aku tahu betapa cepat hal itu bisa berubah. Jamie meletakkan tangannya yang bebas… Tidak, Jeb memegangi pergelangan tangan anak itu, dan Jamie sepertinya tidak merasa senang. Tapi ketika melihatku masuk, Jamie tersenyum dan melambai. Ia menghela napas panjang dan memandang Jeb tajam.
Jeb melepaskan tangan Jamie.
Sharon berdiri diapit Doc dan BIbi Maggie.
Ian menarikku ke tepi kegelapan yang mengeliingi adegan itu. Kami tidak sendirian. Aku bisa melihat sosok-sosok lain, tapi tak bisa melihat wajah mereka.
Rasanya aneh. Sepanjang jalan Ian menopang sebagian besar bobotku dengan mudah.  Tapi kini tampaknya ia kelelahan. Lengan yang memeluk pinggangku mengendur. Aku terhuyung dan melompat maju sebisa mungkin, sampai Ian menemukan tempat yang ia inginkan. Ia mendudukkanku di lantai, lalu duduk di sampingku.
“Aduh,” kudengar seseorang berbisik.
Aku menoleh, dan samar-samar melihat Trudy. Ia beringsut mendekati kami, lalu Geoffrey dan Heath mengikuti..
“Kau tampak payah,” ujarnya kepadaku. “Seberapa parah lukamu?”
Aku mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja.” Aku mulai bertanya-tanya, apakah tadi Ian sengaja membiarkanku berjuang, untuk menunjukkan luka-lukaku—untuk membuatku bersaksi tanpa kata-kata melawan Kyle. Aku memberengut melihat wajah polosnya.
Lalu Wes dan Lily tiba, dan duduk bersama kelompok sekutu kecilku. Brandt masuk beberapa detik kemudian, lalu Heidi, Andy, dan Paige. Aaron yang terakhir.
“Sudah lengkap,” ujarnya. “Lucina menemani anak-anaknya. Dia tak ingin mereka berada di sini—dia meminta kita melanjutkan tanpanya.”
Aaron duduk di samping Andy. Sejenak suasana hening.
“Oke kalau begitu,” ujar Jeb dengan suara keras, agar didengar semua orang. “Begini prosedurnya: pemungutan suara secara langsung berdasarkan mayoritas. Seperti biasa, aku akan membuat keputusanku sendiri jika mendapat masalah dengan mayoritas, karena ini—“
“Adalah rumahku,” sela beberapa suara serentak. Seseorang tergelak, tapi langsung berhenti. Ini tidak lucu. Seorang manusia sedang diadili karena mencoba membunuh mahluk asing. Seharusnya ini hari yang mengerikan bagi mereka semua.
“Siapa yang ingin bicara menentang Kyle?” tanya Jeb.
Ian hendak berdiri.                                                                                
“Tidak!” bisikku, menarik sikunya.
Ian menyingkirkan tanganku dan bangkit berdiri.
“Ini cukup sederhana,” ujar Ian. Aku ingin melompat dan membungkam mulutnya dengan tanganku, tapi kurasa aku tidak bisa bangkit tanpa bantuan. “Kakakku sudah mendapat peringatan. Dia benar-benar sudah memahami peraturan Jeb soal ini. Wanda anggota komunitas kita—peraturan dan perlindungan yang sama berlaku baginya, seperti juga bagi kita semua. Jeb mengatakan dengan jelas kepada Kyle bahwa, kalau dia tidak bisa tinggal bersama Wanda di sini, dia harus pergi. Kyle memutuskan untuk tetap tinggal. Sejak dulu dia sudah tahu hukuman atas pembunuhan di tempat ini.”
“Makhluk itu masih hidup,” gerutu Kyle.
“Itulah sebabnya aku tidak menuntut kematianmu,” bentak Ian.
“Tapi kau tidak bisa lagi tinggal di sini. Tidak bisa, jika pada dasarnya kau pembunuh.”
Sejenak Ian menatap kakaknya, lalu duduk kembali di tanah di sampingku.
“Tapi Kyle bisa tertangkap, sedangkan kita sama sekali tak tahu,” protes Brandt, seraya bangkit berdiri. “Dia akan menuntun mereka kemari, dan kita tidak akan menerima peringatan apa pun.”
Terdengar gumaman di seluruh ruangan.
Kyle melirik Brandt. “Mereka takkan pernah menangkapku hidup-hidup.”
“Kalau begitu hukuman mati saja,” gumam seseorang, serentak dengan perkataan Andy, “Kau tidak bisa menjamin hal itu.”
“Satu per satu,” Jeb mengingatkan.
“Aku pernah bertahan hidup di luar,” ujar Kyle marah.
Suara lain terdengar dari gelap. “Beresiko.” Aku tidak bisa mengenali pemilik suara yang hanya mengeluarkan bisikan mendesis itu.
Lalu terdengar suara lain. “Apa salah Kyle? Tak ada.”
Jeb maju menghampiri suara itu, matanya melotot. “Peraturanku.”
“Makhluk itu bukan salah satu dari kita,” protes orang lain.
Ian hendak bangkit berdiri lagi.
“Hei!” tukas Jared. Suaranya begitu keras sampai semua terlompat. “Wanda tidak sedang diadili di sini! Adakah yang punya keluhan konkret terhadapnya—terhadap Wanda sendiri? Kalau begitu, mintalah diadakan pengadilan lain. Tapi kita semua tahu, dia belum pernah mencelakai satu orang pun di sini. Sebenarnya dia malah menyelamatkan nyawa Kyle.” Jared mengarahkan jarinya ke punggung Kyle. Bahu Kyle merosot, seakan merasakan tusukan itu. “Hanya beberapa detik setelah Kyle mencoba melempar Wanda ke sungai, Wanda mempertaruhkan nyawa untuk menghindarkannya dari kematian menyakitkan yang sama. Wanda pasti tahu seandainya Kyle dibiarkan jatuh, dia akan lebih aman di sini. Tapi toh dia menyelamatkan Kyle juga. Adakah di antara kalian yang bersedia melakukan hal yang sama—menyelamatkan musuh kalian? Kyle mencoba membunuh Wanda, tapi apakah Wanda bicara menentangnya?”
Aku merasakan semua mata di ruang gelap itu memandangku ketika Jared memberiku isyarat untuk maju.
“Maukah kau bicara menentangnya, Wanda?”
Dengan terbelalak aku menatap Jared. Aku terpaku karena ia bicara mewakiliku, karena ia bicara kepadaku, karena ia menggunakan namaku. Melanie juga terkejut, ia terbagi dua. Ia sangat senang melihat kebaikan di wajah Jared ketika memandang kami, melihat kelembutan di mata Jared yang telah begitu lama hilang. Tapi namakulah yang diucapkan lelaki itu…
Perlu beberapa detik sebelum aku menemukan suaraku.
“Ini semua salah paham,” bisikku. “Kami sama-sama terjatuh ketika lantainya runtuh. Hanya itu yang terjadi.” Aku berharap bisikan itu semakin menyulitkan mereka mendeteksi kebohongan di dalam suaraku. Tapi begitu aku selesai bicara, Ian tergelak. Aku menyikutnya, tapi itu tidak menghentikannya.
Jared benar-benar tersenyum kepadaku. “Kalian lihat sendiri. DIa bahkan mencoba berbohong untuk membela Kyle.”
“Mencoba adalah kata yang perlu ditekankan disini,” imbuh Ian.
“Siapa yang bilang makhluk itu berbohong? Siapa yang bisa membuktikannya?” tanya Maggie kasar. Ia melangkah maju ke tempat kosong di samping Kyle. “Siapa yang bisa membuktikan itu adalah kebenaran yang terdengar sangat palsu di bibirnya?”
“Mag—“ Jeb memulai.
“Tutup mulutmu, Jebediah—aku sedang bicara. Taka da alasan bagi kita untuk berada di sini. Tak ada manusia yang diserang. Taka da yang mengeluhkan pelanggaran membahayakan. Ini membuang-buang waktu kita semua.”
“Aku setuju itu,” imbuh Sharon, suaranya bening dan lantang. Doc melontarkan pandangan terluka.
Trudy melompat berdiri. “Kita tidak bisa menampung pembunuh—dan menunggunya memperoleh kesuksesan!”
“Pembunuh adalah istilah subjektif,” desis Maggie. “Aku hanya menganggapnya pembunuh jika ada manusia yang terbunuh.”
Kurasakan lengan Ian memeluk bahuku. Tak kusadari tubuhku gemetar, hingga Ian yang tidak bergerak merapat pada tubuhku.
“Manusia juga istilah subjektif, Magnolia,” ujar Jared, memelototi Maggie. “Kurasa definisi itu mencakup semacam kasih sayang, mencakup sedikit belas kasih.”
“Ayo, kita adakah pemungutan suara,” ujar Sharon, sebelum ibunya bisa menjawab Jared. “Angkat tanganmu jika kau menganggap Kyle harus diizinkan tinggal di sini, tanpa dijatuhi hukuman atas… kesalahpahaman itu.” Ia tidak melirikku, tapi melirik Ian di sampingku, ketika memakai kata yang kugunakan.
Tangan-tangan teracung. Kuamati wajah Jared ketika ekspresinya berubah marah.
Aku berjuang mengangkat tangan, tapi Ian mempererah pegangannya di kedua lenganku, dan mengeluarkan suara jengkel lewat hidungnya. Kuangkat telapak tanganku setinggi mungkin untuk melakukannya. Tapi akhirnya suaraku tidak diperlukan.
Jeb menghitung keras-keras. “Sepuluh… lima belas… dua puluh… dua puluh tiga. Oke, itu jelas mayoritas.”
Aku tidak memandang sekeliling untuk melihat siapa yang memilih siapa. Cukuplah bahwa, di pojok mungilku, semua lengan tersilang erat di dada dan semua mata menatap Jeb dengan ekspresi penuh harap.
Jamie berjalan meninggalkan Jeb untuk menjejalkan diri di antara aku dan Trudy. Ia memelukku, di bawah lengan Ian.
“Mungkin jiwa-jiwa kalian benar tentang kami,” ujar Jamie, cukup keras bagi sebagian besar orang untuk mendengar suara lantangnya yang bernada tinggi. “Sebagian besar manusia tidak lebih baik daripada—“
“Hus!” desisku kepadanya.
“Oke,” ujar Jeb. Semua terdiam. Jeb menundukk memandang Kyle, lalu memandangku, lalu memandang Jared. “Oke, aku cenderung setuju dengan mayoritas dalam hal ini.”
“Jeb—“ ujar Jared dan Ian serentak.
“Rumahku, peraturanku,” Jeb mengingatkan. “Jangan pernah lupakan itu. Jadi, dengarkan aku, Kyle. Dan kurasa kau sebaiknya juga mendengarkan, Magnolia. Siapa pun yang mencoba mencederai Wanda lagi, dia tidak akan diadili. Dia akan dimakamkan.” Jeb menepuk gagang senapannya sebagai penegasan.
Aku terkesiap.
Magnolia melotot penuh kebencian pada saudara laki-lakinya. Kyle mengangguk, seakan menerima persyaratan itu.
Jeb memandang ke penonton yang terbagi secara tidak merata, menatap mata setiap anggota, kecuali mata anggota kelompok kecil di sampingku.
“Pengadilan selesai,” ujarnya mengumumkan. “Siapa yang mau main?”



The Host - Bab 33

0 comments
DIRAGUKAN



Kembali terdengar suara tercebur. Bobot Kyle menyiksa lenganku.
“Wanda? Wanda!”.
“Tolong! Kyle! Lantainya! Tolong!”
Wajahku menekan batu pilar, mataku mengarah ke lubang masuk gua. Cahaya di atas kepala menyorot terang ketika fajar menyingsing. Aku menahan napas. Kedua lenganku seakan berteriak.
“Wanda! Kau di mana?”
Ian melompat melewati pintu. Senapan ada di kedua tangannya. Posisinya rendah dan siaga. Wajah Ian berupa topeng kemarahan yang tadi dikenakan kakaknya.
“Awas!” teriakku. “Lantainya runtuh! Aku tak bisa menahan Kyle lebih lama lagi!”
Perlu dua detik yang lama bagi Ian untuk mencerna adegan yang begitu berbeda dengan adegan yang tadi diharapkannya: Kyle mencoba membunuhku. Adegan itu baru saja berakhir beberapa detik yang lalu.
Lalu Ian melempar senapIan  itu ke lantai gua dan berjalan ke arahku dengan langkah panjang.
“Merangkak—sebarkan bobot tubuhmu!”
Ian menjatuhkan tubuhnya, lalu merangkak menghampiriku, matanya membara dalam cahaya fajar.
“Jangan dilepaskan,” ujarnya mengingatkan.
Aku mengerang kesakitan.
Ian menilai situasinya sedetik lagi, lalu merapatkan tubuhnya di belakang tubuhku, mendorongku semakin rapat pada pilar. Lengannya lebih panjang. Bahkan dengan tubuhku di tengah-tengah, ia mampu merangkulkan kedua tangannya pada tubuh kakaknya.
“Satu, dua, tiga,” geram Ian.
Ian menarik Kyle ke pilar, jauh lebih aman daripada yang kulakukan. Gerakan Ian menekan wajahku ke pilar. Tapi itu sisi wajahku yang cedera—tak mngkin bisa lebih parah lagi saat ini.
“Aku akan menariknya ke sisi sebelah sini. Kau bisa menyelinap keluar?”
“Akan kucoba.”
Kulonggarkan peganganku pada Kyle, merasakan nyeri yang melegakan di bahuku, dan kupastikan Ian memegangi tubuh Kyle. Lalu aku menggeliat keluar dari antara Ian dan pilar, berhati-hati agar tidak meletakkan diriku di bagian lantai yang berbahaya. Aku merangkak mundur beberapa puluh sentimeter menuju pintu, siap mencengkeram Ian seandainya ia mulai tergelincir.
Ian menarik kakaknya yang tak sadarkan diri ke sisi lain pilar, menyeretnya dengan tersentak-sentak, tiga puluh sentimeter setiap sentakan. Semakin banyak lantai yang ambruk, tapi fondasi pilar tetap utuh. Terbentuk lapisan baru sekitar enam puluh sentimeter dari kolam batu.
Ian merangkak mundur seperti yang kulakukan, menyeret kakaknya dengan sentakan-sentakan pendek otot dan kemauan keras. Dalam hitungan menit kami bertiga sudah berada di mulut koridor, aku dan Ian tersengal-sengal.
“Apa… yang… terjadi?”
“Bobot kami… terlalu… berat. Lantainya runtuh.”
“Apa yang kaulakukan… di pinggirnya? Bersama Kyle?”
Aku menunduk, dan aku berkonsentrasi pada napasku.
Nah, katakan kepadanya.
Lalu apa yang akan terjadi?
Kau tahu apa yang akan terjadi. Kyle melanggar peraturan. Jeb akan menembaknya, atau mereka akan menendangnya keluar. Mungkin Ian akan menghajarnya lebih dulu. Itu akan menyenangkan untuk dilihat.
Melanie tidak bersungguh-sungguh dengan kata-katanya—bagaimanapun, aku menganggapnya begitu. Ia hanya marah kepadaku karena mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan calon pembunuh kami.
Tepat sekali, kataku kepadanya. Dan seandainya mereka menendang Kyle keluar karena diriku… atau membunuhnya… Aku bergidik. Nah, tidakkah kau bisa melihat betapa tidak masuk akalnya itu? Kyle salah satu dari kalian.
Kita punya kehidupan di sini, Wanda. Dan kau membahayakan kehidupan itu.
Itu kehidupanku juga. Dan aku… well, aku adalah aku.
Melanie mengerang muak.
“Wanda?” desak Ian.
“Tak ada,” gumamku.
“Kau pembohong yang payah. Kau tahu itu, kan?”
 Aku tetap menunduk dan bernapas.
“Apa yang dilakukan Kyle?”
“Tak ada,” ujarku berbohong. Dengan buruk.
Ian meletakkan tangannya ke bawah daguku, mendongakkan wajahku. “Hidungmu berdarah.” Ia memiringkan kepalaku ke samping. “Dan ada lebih banyak darah di rambutmu.”
“Aku—kepalaku terbentur ketika lantainya runtuh.”
“Di kedua sisi?”
Aku mengangkat bahu.
Ian memelototiku cukup lama. Kegelapan terowongan membuat kilatan matanya suram.
“Kita harus mengantar Kyle kepada Doc—kepalanya terbentur keras sekali ketika terjatuh.”
“Mengapa kau melindunginya? Dia mencoba membunuhmu.”
Itu pernyataan berdasarkan fakta, bukan pertanyaan. Wajah Ian pelan – pelan berubah dari marah jadi takut. Ia sedang membayangkan apa yang kami lakukan di lapisan tidak stabil itu—bisa kulihat hal itu di matanya. Ketika aku tidak menjawab ia bicara lagi dengan berbisik. “Kyle hendak melemparkanmu ke dalam sungai….” Getaran aneh mengguncang tubuhnya.
Ian memeluk Kyle dengan sebelah lengan—dan roboh dengan posisi seperti itu, tampaknya terlalu lelah untuk bergerak. Kini Ian mendorong tubuh tak sadar kakaknya dengan kasar, lalu menjauh dengan jijik. Ia mendekatiku dan memeluk bahuku. Ditariknya tubuhku ke dadanya—bisa kurasakan napasnya keluar-masuk, masih terengah-engah.
Rasanya sangat aneh.
“Seharusnya kugulingkan Kyle kembali ke sana, lalu kutendang dari pinggir lubang.”
Aku menggeleng panik, kepalaku berdenyut-denyut nyeri. “Tidak.”
“Menghemat waktu. Jeb sudah menjelaskan peraturannya. Jika mencoba melukai seseorang di sini, akan ada hukuman. Akan ada pengadilan.”
Aku mencoba melepaskan diri dari Ian, tapi ia mempererat pelukannya. Tidak menakutkan, tidak seperti cara Kyle mencengkeramku, tapi mengkhawatirkan—merusak keseimbanganku. “Tidak. Kau tak bisa melakukannya, karena tak seorang pun melanggar peraturan. Lantainya runtuh. Itu saja.”
“Wanda—“
“Kyle kakakmu.”
“Dia tahu apa yang dia lakukan. Ya. Dia kakakku, tapi dia melakukan apa yang dilakukannya, dan kau… kau… temanku.”
“Dia tidak melakukan apa-apa. Dia manusia,” bisikku.” Ini tempatnya, bukan tempatku.”
“Kita tidak akan membahas ini lagi. Definisimu mengenai manusia tidak sama dengan definisiku. Bagimu, manusia berarti sesuatu yang… negatf. Bagiku, itu pujian. Dan berdasarkan definisiku, kau manusia dan Kyle bukan. Tidak lagi, setelah kejadian ini.”
“Manusia tidak berarti negative bagiku. Aku sudah mengenal kalian sekarang. Tapi, Ian, dia kakakmu.”
“Fakta yang membuatku malu.”
Kudorong kembali tubuhku dari Ian. Kali ini ia melepaskanku. Mungkin ada hubungannya dengan erang kesakitan yang keluar dari bibirku ketika aku menggerakkan kaki.
“Kau baik-baik saja?”
“Kurasa begitu. Kita perlu mencari Doc, tapi aku tak tahu apakah aku bisa jalan. Aku—kakiku terbentur ketika aku terjatuh.”
Suara geraman mencekik tenggorokan Ian. “Kaki yang mana? Biar kulihat.”
Aku mencoba meluruskan kakiku yang cedera—sebelah kanan—dan kembali mengerang. Ian meraba-raba pergelangan kakiku, memeriksa tulang dan persendian. Ia memutar pergelangan kakiku dengan hati-hati.
“Lebih ke atas. Di sini.” Kutarik tangannya ke belakang paha, persis di atas lutut. Aku kembali mengerang ketika Ian menekan bagian yang sakit. “Kurasa tidak patah atau semacam itu. Hanya rasanya sakit sekali.”
“Setidaknya memar otot yang parah,” gumam Ian. “Dan bagaimana terjadinya?”
“Sepertinya… aku mendarat di atas batu ketika terjatuh.”
Ian mendesah. “Oke, ayo pergi menemui Doc.”
“Kyle lebih memerlukan Doc daripadaku.”
“Bagaimanapun, aku harus mencari Doc—atau bantuan. Aku tidak bisa membopong Kyle sejauh itu, tapi aku pasti bisa membopongmu. Uups—tunggu.”
Ian berbalik cepat, lalu merunduk kembali ke dalam ruang bersungai. Aku memutuskan untuk tidak membantah. Aku ingin menemui Walter sebelum… Doc sudah berjanji akan menungguku. Apakah dosis pertama penghilang nyeri itu begitu cepat menghilang?  Kepalaku melayang-layang. Ada begitu banyak kekhawatiran, dan aku sangat lelah. Adrenalinnya sudah habis, meninggalkanku dalam kehampaan.
Ian kembali dengan senapan. Aku memberengut, karena ini mengingatkanku bahwa aku tadi mengharapkan benda itu. Aku tidak suka itu.
“Ayo, pergi.”
Tanpa berpikir Ian menyerahkan senapan kepadaku. Kubiarkan benda itu jatuh ke telapak tanganku yang terbuka, tapi aku tak mampu menggenggamnya. Kuputuskan bahwa keharusan membawa senapan merupakan hukuman yang sesuai untukku.
Ian tergelak. “Bagaimana mungkin orang bisa takut padamu…,” gumamnya kepada diri sendiri.
Ia mengangkat tubuhku dengan mudah, dan langsung bergerak sebelum aku siap. Aku berusaha agar bagian-bagian tubuhku yang paling peka—tengkukku, bagian belakang kakiku—tidak terlalu keras menekan tubuh Ian.
“Kok pakaianmu bisa sebasah ini?” tanyanya. Kami sedang lewat di bawah salah satu lubang cahaya seukuran kepalan tangan, dan aku bisa melihat sedikit senyum masam di bibir Ian yang pucat.
“Aku tak tahu,” gumamku. “Uap?”
Kami kembali melintasi kegelapan.
“Sepatumu hilang satu.”
“Oh.”
Kami melewati sorotan cahaya lagi, dan mata Ian berkilat-kilat biru safir. Mata itu kini serius, terpaku pada wajahku.
“Aku… sangat senang kau tidak cedera, Wanda. Cedera lebih parah, maksudku.”
Aku tidak menjawab. Aku takut memberinya sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerang Kyle.
Jeb menemukan kami tepat sebelum kami memasuki ruang gua besar. Ada cukup banyak cahaya bagiku untuk menangkap kilau tajam rasa penasaran di matanya ketika melihatku di pelukan Ian, dengan wajah berdarah, dan senapan tergeletak di kedua tanganku yang terbuka.
“Kalau begitu kau benar,” tebak Jeb. Rasa penasarannya kuat, tapi nada dingin di dalam suaranya lebih kuat. Rahangnya terkatup di balik janggut. “Aku tidak mendengar suara tembakan. Kyle?”
“Dia tak sadarkan diri,” ujarku cepat-cepat. “Kau perlu memperingatkan semua orang—sebagian lantai runtuh di ruang bersungai. Aku tidak tahu seberapa stabilnya lantai itu sekarang. Kepala Kyle terbentur sangat keras ketika berusaha menyingkir. Dia perlu Doc.”
mengangkat sebelah alisnya sangat tinggi, sampai nyaris menyentuh bandana pudar di garis rambutnya.
“Itu versi Wanda,” ujar Ian, tanpa berusaha menyembunyikan keraguannya. “Dan sepertinya dia memegangnya dengan teguh.”
Jeb tertawa. “Biar kuambil benda itu dari tanganmu,” katanya kepadaku.
Dengan senang hati kubiarkan Jeb mengambil senapannya. Ia tertawa melihat ekspresiku.
“Aku akan mengajak Andy dan Brandt membantuku membawa Kyle. Kami akan mengikuti di belakangmu.”
“Awasi Kyle ketika tersadar,” ujar Ian dengan nada keras.
“Pasti.”
Jeb pergi mencari lebih banyak bantuan. Ian bergegas membawaku ke gua rumah sakit.
“Kyle mungkin terluka parah… Jeb harus bergegas.”                                                                                                                       
“Kepala Kyle lebih keras daripada semua batu di tempat ini.”
Terowongan panjang itu terasa lebih panjang daripada biasanya. Apakah Kyle sekarat walaupun aku sudah berusaha menyelamatkannya? Apakah ia kembali tersadar dan mencariku? Bagaimana dengan Walter? Apakah ia sedang tidur… atau sudah pergi? Apakah Pencari sudah menghentikan perburuannya, atau apakah ia akan kembali, karena sekarang hari sudah kembali terang?
Apakah Jared masih bersama Doc? Melanie bertanya. Apakah ia bakal marah ketika melihatmu? Akankah ia mengenaliku?
Ketika kami mencapai gua selatan yang diterangi cahaya matahari, Jared dan Doc tampak seakan-akan belum banyak bergerak. Mereka bersandar, berdampingan, di meja buatan Doc. Keadaan hening ketika kami mendekat. Mereka tidak bicara, hanya mengamati Walter tidur. Mereka terlompat dengan mata terbelalak ketika Ian membopongku ke dalam cahaya dan membaringkanku di dipan di samping Walter. Ia meluruskan kaki kananku dengan hati-hati.
Walter sedang mendengkur. Suara itu mengurangi sebagian keteganganku.
“Ada apa lagi ini?” desak Doc marah. Setelah melontarkan kata-kata itu ia langsung membungkuk di atas tubuhku. Lalu mengusap darah di pipiku.
Wajah Jared terpaku kaget. Ia berhati-hati, tidak membiarkan ekspresinya menunjukkan sesuatu yang lain.
“Kyle,” jawab Ian, pada saat yang sama ketika aku mengucapkan, “Lantainya—“
Doc memandang kami silih berganti, kebingungan.
Ian mendesah dan memutar bola mata. Tanpa sadar ia menyentuh ringan keningku. “Lantainya runtuh di dekat lubang sungai pertama. Kyle jatuh dan kepalanya menghantam batu. Wanda menyelamatkan hidupnya yang tak berguna itu. Menurut Wanda, dia juga terjatuh ketika lantainya runtuh.” Ian memandang Doc penuh arti. “Sesuatu,” diucapkannya kata itu dengan nada menyindir,” menghantam bagian kepala Wanda cukup keras.” Ian mulai menyebutkannya satu per satu. “Hidungnya berdarah, tapi kurasa tidak patah. Ototnya terluka di sini.” Ia menyentuh pahaku yang cedera. “Kedua lututnya tergores cukup parah. Juga wajahnya, sekali lagi, tapi kurasa aku yang melakukannya, ketika mencoba menarik Kyle keluar dari lubang. Seharusnya aku tak perlu repot-repot.” Ian menggumamkan bagian terakhir itu.
“Ada lagi?” Tanya Doc. Jari-jarinya meraba sisi tubuhku, dan mencapai bagian yang dipukul Kyle. Aku menghela napas kesakitan.
Doc menarik kemejaku ke atas, dan kudengar Ian serta Jared mendesis ketika melihatnya.
“Biar kutebak,” ujar Ian dengan suara sedingin es. “Kau terjatuh di atas batu.”
“Tebakan jitu,” kataku mengiyakan, kehabisan napas. Doc masih menyentuh sisi tubuhku, dan aku mencoba menahan erangan.
“Mungkin rusuknya ada yang patah, aku tak yakin,” gumam Doc. “Kuharap aku bisa memberimu sesuatu untuk menghilangkan rasa sakitnya—“
“Jangan khawatir, Doc,” ujarku terengah-engah. “Aku baik-baik saja. Bagaimana Walter? Apakah dia terbangun?”
“Tidak. Perlu beberapa waktu untuk menghilangkan dosisinya,” ujar Doc. Ia meraih tanganku dan mulai menekuk pergelangan tangan dan sikuku.
“Aku baik-baik saja.”
Mata Doc yang baik hati tampak lembut ketika membalas tatapanku. “Kau akan baik-baik saja. Kau hanya perlu beristirahat selama beberapa waktu. Aku akan mengawasimu. Nah, tengokkan kepalamu.”
Aku mematuhi permintaannya, lalu mengernyit ketika Doc meneliti lukaku.
“Jangan di sini,” gumam Ian.
Aku tidak bisa melihat Doc, tapi Jared memandang Ian dengan tajam.
“Mereka akan membawa Kyle ke sini. Aku tidak mau Wanda dan Kyle berada di ruangan yang sama.”
Doc mengangguk. “Mungkin itu bijaksana.”
“Akan kusiapkan tempat untuk Wanda. Aku memerlukanmu untuk mengawasi Kyle di sini sampai… sampai kita putuskan apa yang harus kita lakukan padanya.”
Aku mulai bicara, tapi Ian meletakkan jemarinya di bibirku.
“Baiklah,” ujar Doc setuju. “Aku akan mengikat Kyle, jika kau mau.”
“Jika perlu. Apakah tidak apa-apa memindahkan Wanda?” Ian melirih kea rah terowongan, wajahnya cemas.
Doc bimbang.
“Tidak,” bisikku. Jemari Ian masih menyentuh bibirku. “Walter. Aku ingin berada di sini untuk  Walter.”
“Kau telah menyelamatkan semua kehidupan yang bisa kau selamatkan hari ini, Wanda,” ujar Ian. Suaranya lembut dan sedih.
“Aku ingin mengucapkan… mengucapkan selamat—selamat tinggal.”
Ian mengangguk. Lalu ia memandang Jared. “Bisakah aku memercayaimu?”
Wajah Jared memerah karena amarah. Ian mengangkat tangan. “Aku tak ingin meninggalkan Wanda di sini tanpa perlindungan, sementara aku mencari tempat yang aman untuknya,” ujar Ian.
“Aku tidak tahu apakah Kyle dalam keadaan sadar ketika tiba. Seandainya Jeb menembaknya, itu akan membuat Wanda sedih. Tapi kau dan Doc harus bisa menangani Kyle. Aku tidak ingin Doc sendirian, dan memaksa Jeb melakukannya.”
Jared bicara dengan gigi dikertakkan. “Doc tidak akan sendirian.”
Ian bimbang. “Wanda mengalami hal-hal sangat buruk beberapa hari terakhir. Ingat itu.”
Jared mengangguk, dengan gigi masih dikertakkan.
“Aku akan berada di sini,” ujar Doc mengingatkan Ian.
Ian membalas tatapan Doc. “Oke.” Ia membungkuk di atas tubuhku, mata cemerlangnya menatapku. “Aku akan segera kembali. Jangan takut.”
“Aku tidak takut.”
Ian membungkuk dan menyentuhkan bibirnya di keningku.
Tak seorang pun lebih terkejut daripada aku, walaupun aku mendengar Jared diam-diam menghela napas kaget. Mulutku terbuka ketika Ian bergegas pergi, nyaris berlari, dari ruangan itu.
Kudengar Doc menghela napas melalui sela-sela gigi, seperti siulan terbalik. “Well,” katanya.
Mereka menatapku untuk waku lama. Aku begitu lelah dan sakit sehingga nyaris tak memedulikan apa yang mereka pikirkan.
“Doc—“ Jared mulai mengucapkan sesuatu dengan nada mendesak, tapi keributan di dalam terowongan mengganggunya.
Lima lelaki berjuang melewati lubang pintu. Jeb di depan, memegangi kaki kiri Kyle dengan dua tangan. Wes memegangi kaki kanan Kyle, dan di belakang mereka, Andy dan Aaron berjuang mengangkat dada Kyle. Kepala Kyle terkulai ke belakang di bahu Andy.
“Astaga, berat sekali,” gerutu Jeb.
Jared dan Doc melompat maju untuk membantu. Setelah beberapa menit memaki dan mengerang, Kyle terbaring di dipan beberapa puluh sentimeter dari dipanku.j
“Sudah berapa lama dia tak sadarkan diri, Wanda?” Tanya Doc kepadaku. Ia membuka kelopak mata Kyle, membiarkan cahaya matahari menyinari pupil matanya.
“Um…” aku berpikir cepat. “Sama lamanya dengan keberadaanku disini, ditambah sepuluh menit atau lebih yang diperlukan Ian untuk membawaku kemari, dan mungkin lima menit lagi sebelum itu.”
“Setidaknya dua puluh menit, menurutmu?”
“Ya. Kira-kira selama itu.”
Sementara kami bercakap-cakap, Jeb telah membuat diagnosisnya sendiri. Tak seorang pun memperhatikan ketika Jeb berdiri di ujung atas dipan Kyle. Tak seorang pun memperhatikan—sampai ia menuang sebotol air ke wajah Kyle.
“Jeb,” keluh Doc, seraya menyingkirkan tangan Jeb.
Tapi Kyle terbatuk-batuk dan mengerjap-ngerjapkan mata, lalu mengerang. “Apa yang terjadi? Ke mana makhluk itu pergi?” Ia mulai menggeser tubuhnya, mencoba melihat sekeliling. “Lantainya… bergerak…”
Suara Kyle membuat jemariku mencengkeram sisi dipan, dan kepanikan menyapu wajahku. Kakiku sakit. Bisakah aku pergi dengan terpincang-pincang? Pelan-pelan mungkin…
“Tidak apa-apa,” gumam seseorang. Bukan seseorang. Aku akan selalu mengenali suara itu.
Jared bergerak, berdiri di antara dipanku dan dipan Kyle. Punggungnya menghadapku, matanya terarah pada lelaki bongsor itu. Kyle menggerakkan kepalanya sambal mengerang.
“Kau aman,” ujar Jared pelan. Ia tidak memandangku. “Jangan takut.”                  
Aku menghela napas panjang.
Melanie ingin menyentuh Jared. Tangan lelaki itu berada di dekat tanganku, tergeletak di pinggir dipanku.
Kumohon, jangan, ujarku kepadanya. Wajahku sudah cukup sakit!
Jared tidak akan memukulmu.
Menurutmu. Aku tidak mau mengambil risiko.
Melanie mendesah; ia ingin mendekati Jared. Takkan terlalu berat untuk ditanggungkan, seandainya aku tidak menginginkan hal yang sama.
Melanie kembali mendesah.
“Aw, sialan!” gerutu Kyle. Pandanganku beralih kepadanya, ketika mendengar nada suaranya. Aku hanya bisa melihat mata cemerlangnya, di sekitar siku jared, terpusat padaku. “Makhluk itu tidak terjatuh!” keluhnya.






The Host - Bab 26

0 comments
Pulang


Tanpa pernah benar-benar setuju melakukannya, aku menjadi guru yang diinginkan Jeb.
"Kelas"-ku tidak formal. Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan setiap malam, sehabis makan. Kusadari bahwa, selama aku bersedia melakukan ini, Ian, Doc, dan Jeb akan membiarkanku sendirian seharian, sehingga aku bisa berkonsentrasi pada tugas-tugasku. Kami selalu berkumpul di dapur. Aku suka membantu memasak sambil bicara. Memberiku alasan untuk diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang sulit, dan memberiku sesuatu untuk dilihat ketika aku tak ingin memandang mata seseorang. Di benakku tampaknya itu pengaturan yang tepat. Kata-kataku terkadang menyedihkan, tapi tindakan-tindakanku selalu demi kebaikan mereka.
Aku tak ingin mengakui Jamie benar. Jelas orang-orang itu tidak menyukaiku. Mereka tak mungkin menyukaiku; aku bukan salah satu dari mereka. Jamie menyukaiku, tapi itu hanya semacam reaksi kimia aneh yang jauh dari rasional. Jeb menyukaiku, tapi ia memang sinting. Yang lain tidak memiliki kedua alasan itu.
Tidak. Mereka tidak menyukaiku. Tapi semua berubah ketika aku mulai bicara.

Hal itu pertama kali kuamati di pagi hari, setelah malam sebelumnya aku menjawab pertanyaan-pertanyaan Doc saat makan. Aku sedang berada di kamar mandi gelap, mencuci pakaian bersama Trudy, Lily, dan Jamie.
"Bisa tolong ambilkan sabun itu, Wanda?" tanya Trudy dari kiriku.
Arus listrik seakan menjalari tubuhku ketika aku mendengar namaku diucapkan suara perempuan. Dengan kaku kuserahkan sabun itu, lalu kubilas rasa menyengat dari tanganku.
"Terima kasih," sahut Trudy.
"Sama-sama," gumamku. Suaraku parau ketika mengucapkan suku kata terakhir.
Sehari kemudian aku berpapasan dengan Lily di lorong dalam perjalananku mencari Jamie sebelum makan malam.
"Wanda," ujarnya, seraya mengangguk.
"Lily," jawabku, tenggorokanku kering.
Bukan hanya Doc dan Ian yang mengajukan pertanyaan-pertanyaannya di malam hari. Aku terkejut mengetahui orang-orang yang paling berani bertanya: Walter yang tampak lelah, dengan wajah kelabu mengkhawatirkan, tak henti-hentinya tertarik dengan kelelawar dari singing World. Heath, yang biasanya pendiam dan membiarkan Trudy atau Geoffrey bicara mewakilinya, banyak bicara di malam-malam seperti ini. Ia takjub dengan Fire World. Dan walaupun itu salah satu kisah yang paling tidak kusukai, ia memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan, sampai ia mengetahui setiap detail yang kuketahui. Lily berminat pada mekanika segala sesuatu--ia ingin tahu tentang pesawat-pesawat yang membawa kami dari planet ke planet, pilotnya, bahan bakarnya. Kepada Lily-lah aku menjelaskan tangki krio--sesuatu yang pernah mereka lihat, tapi hanya sedikit mereka pahami kegunaannya. Wes yang pemalu, yang biasanya duduk di dekat Lily, tidak bertanya tentang planet-planet lain, tapi tentang planet ini. Bagaimana cara kerjanya? Tanpa uang, tanpa upah kerja--mengapa masyarakat jiwa tidak runtuh? Kucoba untuk menjelaskan bahwa itu tak jauh berbeda dengan kehidupan di dalam gua. Bukankah kami semua bekerja tanpa uang dan saling berbagi produk kerja kami secara merata?
"Ya," sela Wes, seraya menggeleng. "Tapi di sini lain--Jeb punya senapan untuk para pemalas."
Semua memandang Jeb yang mengedipkan sebelah mata, lalu mereka semua tertawa.
Hampir setiap malam Jeb selalu hadir. Ia tidak berpartisipasi, hanya duduk serius di belakang ruangan, terkadang nyengir.
Ia benar soal faktor hiburannya. Anehnya, walaupun kami semua punya kaki, situasi ini mengingatkanku kepada See Weed. Ada julukan khusus bagi para penghibur di sana, seperti julukan Penghibur atau Penyembuh atau Pencari. Aku adalah salah satu Pendongeng. Jadi transisi menjadi guru di sini, di Bumi, tidak jauh berbeda. Setidaknya dari segi profesi. Setelah hari gelap situasi di dapur hampir sama, dengan bau asap dan roti panggang memenuhi ruangan. Semua terpaku di sini, seakan tubuh emreka tertanam. Kisah-kisahku adalah hal yang baru, hal untuk direnungkan, selain hal-hal yang sudah biasa--tugas-tugas melelahkan tanpa akhir yang sama; 35 wajah yang sama; ingatan-ingatan yang sama mengenai wajah-wajah lain yang mendatangkan duka yang sama bagi mereka; ketakutan dan keputusasaan sama yang telah lama menemani mereka. Dan dengan demikian dapur selalu penuh untuk pelajaran-pelajaran santaiku. Hanya Sharon dan Maggie yang secara mencurigakan dan konsisten tidak hadir.
Aku sudah menjadi guru tidak formal selama hampir empat minggu ketika kehidupan di dalam gua kembali berubah.
Dapur penuh seperti biasa. Hanya Jeb dan Doc yang tidak hadir, selain dua orang yang normalnya memang tak pernah hadir itu. Di meja di sampingku ada nampan logam berisi bulatan-bulatan adonan roti warna gelap yang sudah mengembang dua kali lipat dari ukuran semula. Mereka siap dimasukkan ke oven, segera setelah roti-roti di atas nampan di dalamnya sudah matang. Trudy memeriksa setiap beberapa menit, memastikan tak ada yang gosong.
Aku sering mencoba menyuruh Jamie bicara, jika ia sudah mengetahui kisahnya dengan baik. Aku suka menyaksikan antusiasme yang mencerahkan wajahnya, dan caranya menggunakan tangan untuk menggambar di udara. Malam ini Heidi ingin tahu lebih banyak mengenai Lumba-Lumba, jadi aku meminta Jamie menjawab pertanyaan-pertanyaan sebaik mungkin.
Manusia-manusia itu selalu bicara dengan penuh kesedihan ketika bertanya tentang akuisisi terbaru bangsaku. Mereka meihat Lumba-Lumba sebagai cerminan diri mereka sendiri pada tahun pertama pendudukan mahluk asing. Mata gelap Heidi, yang tampak bingung di balik poni pirang keputihan itu, menegang penuh simpati ketika ia mengajukan pertanyaan-pertanyaannya.
"Mereka lebih mirip capung besar daripada ikan, bukan, Wanda?" Jamie nyaris selalu bertanya sebagai penegasan, walaupun ia tak pernah menunggu jawabanku. "Tapi kulit mereka keras, dengan tiga, empat, atau lima pasang sayap, tergantung umur mereka, bukan? Jadi mereka terbang di atas air--yang lebih ringan dan lebih tidak padat daripada air di sini. Mereka punya lima, tujuh, atau sembilan kaki, tergantung jenis kelamin mereka, ya kan, Wanda? Mereka punya tiga jenis kelamin berbeda. Mereka punya tangan-tangan yang sangat panjang, dengan jari-jari liat dan kuat yang bisa menyusun segala jenis benda. Mereka membuat kota-kota di bawah air dari tanam-tanaman keras yang tumbuh di sana. Itu semacam pohon, tapi bukan benar-benar pohon. Mereka tidak semaju kami, kan, Wanda? Karena mereka tidak membangun pesawat ruang angkasa atau, misalnya, telepon untuk berkomunikasi. Manusia lebih maju."
Trudy mengeluarkan nampan berisi roti panggang, dan aku membungkuk untuk memasukkan nampan adonan mengembang berikutnya ke lubang panas berasap itu. Aku perlu sedikit mendorong dan mengaturnya agar nampan bisa masuk dengan benar.
Ketika sedang berkeringat di depan api, kudengar semacam keributan di luar dapur. Keributan itu menggema melewati lorong dari suatu tempat di gua. Dengan semua gema acak dan akustik aneh itu, sulit untuk memperkirakan jarak di sini.
"Hei!" teriak Jamie dari belakang, dan ketika menoleh aku melihat bagian belakang kepala jamie ketika ia berlari keluar.
Aku menegakkan tubuh dan mengejarnya, mengikuti instingku.
"Tunggu," panggil Ian. "Dia akan kembali. Berceritalah lebih banyak tentang Lumba-Lumba."
Ian duduk di meja di samping oven--kursi panas yang tidak bakal kupilih--sehingga cukup dekat baginya untuk mengulurkan tangan dan menyentuh pergelangan tanganku. Lenganku menyentakkan sentuhan tak terduga itu, tapi aku tidak beranjak dari tempatku.
"Ada apa di luar sana?" tanyaku. Aku masih bisa mendengar semacam percakapan. Kurasa aku mendengar suara gembira Jamie membaur di dalamnya.
Ian mengangkat bahu. "Siapa yang tahu?" Mungkin Jeb..." ia mengangkat bahu lagi, seakan tak cukup tertarik sehingga tidak ingin mencari tahu. Ia tidak peduli. Tapi aku melihat ketegangan di matanya yang tidak kupahami.
Aku yakin akan segera tahu, jadi aku juga mengangkat bahu dan mulai menjelaskan kerumitan luar biasa di dalam hubungan keluarga Lumba-Lumba, seraya membantu Trudy menumpuk roti hangat ke dalam wadah-wadah plastik.
"Enam dari sembilan... kakek-nenek, mungkin itu sebutan tradisionalnya, tinggal bersama larva-larva di sepanjang tahap perkembangan pertama, sementara ketiga orangtua bekerja bersama enam kakek-nenek mereka untuk membangun sayap baru di rumah keluarga, untuk didiami anak-anak ketika mereka sudah bisa bergerak," jelasku. Seperti biasa mataku memandangi roti-roti di kedua tanganku, bukannya memandangi para pendengar. Lalu kudengar helaan napas tertahan dari bagian belakang ruangan. Aku melanjutkan bicara secara otomatis, seraya memandang kerumunan itu untuk melihat siapa yang telah kubuat marah. "Ketiga kakek-nenek lainnya biasanya terlibat..."
Tak seorang pun marah kepadaku. Semua kepala menoleh ke arah yang sama dengan arah pandanganku. Pandanganku melintasi bagian kepala mereka, melihat ke lubang keluar gelap itu.
Hal pertama yang kulihat adalah sosok ramping Jamie menggayuti lengan seseorang. Seseorang yang begitu kotor dari kepala sampai ujung kaki sehingga kelihatannya hampir menyatu dengan dinding gua. Seseorang yang terlalu jangkung untuk disebut sebagai Jeb. Lagi pula Jeb berada persis di belakang bahu Jamie. Dari jarak sejauh ini sekalipun bisa kulihat mata Jeb menyipit dan hidungnya mengerut, seakan merasa gelisah. Itu emosi yang langka bagi Jeb. Dan aku juga bisa melihat wajah Jamie yang ceria penuh kebahagiaan.
"Ini dia," gumam Ian di sampingku. Suaranya nyaris tak terdengar di antara keretak api.
Lelaki kotor yang masih digayuti Jamie maju selangkah. Sebelah tangannya perlahan-lahan terangkat, seperti refleks di luar kehendak, lalu membentuk kepalan.
Dari sosok kotor itu keluarlah suara Jared--datar, sama sekali tidak terdengar tinggi-rendahnya nada. "Apa arti semua ini, Jeb?"
Tenggorokanku tercekat. Aku mencoba menelan ludah, dan mendapati jalannya terhalang. Aku mencoba bernapas, dan tidak berhasil. Jantungku berdentam-dentam tak keruan.
Jared! Suara gembira Melanie terdengar lantang. Teriakan bisu kebahagiaan. Ia langsung hidup dan bersemangat di dalam kepalaku. Jared pulang!

"Wanda sedang mengajari kami semua tentang jagad raya," celoteh jamie bersemangat. Entah mengapa, ia tidak menangkap kemarahan Jared. Mungkin ia terlalu gembira, sehingga tidak memperhatikan.
"Wanda?" ulang Jared, suaranya rendah, nyaris berupa geraman.
Muncul lebih banyak sosok kotor di lorong di belakangnya.
Aku hanya memperhatikan ketika mereka menggemakan geraman Jared dengan bergumam marah.
Sebuah kepala berambut pirang menyembul dari penonton yang terpaku. Paige terhuyung-huyung berdiri. "Andy!" serunya, lalu tertatih - tatih melewati sosok-sosok yang duduk di sekitarnya. Salah seorang lelaki kotor itu melangkah ke samping Jared dan menangkap Paige yang nyaris menjatuhi Wes. "Oh, Andy!" isak Paige. Nada suaranya mengingatkanku pada nada suara Melanie.
Sejenak luapan perasaan Paige mengubah suasana. Kerumunan bisu itu mulai bergumam, sebagian besar bangkit berdiri. Ketika mayoritas penonton menyambut kembalinya para petualang, suara yang terdengar bernada ramah. Aku mencoba membaca ekspresi aneh di wajah mereka, ketika mereka memaksakan diri untuk tersenyum seraya diam-diam kembali melirikku. Setelah satu detik yang terasa lama dan lambat--waktu tampaknya menggumpal di sekelilingku, membekukanku di tempat--kusadari mereka menunjukkan ekspresi bersalah.
"Tidak apa-apa, Wanda," bisik Ian.
Aku meliriknya panik, mencari ekspresi bersalah yang sama di wajahnya. Tidak kutemukan. Yang ada hanya ketegangan defensif di sekeliling mata cemerlangnya ketika ia menatap para pendatang baru itu.
"Ada apa ini?" terdengar seruan suara baru.
Kyle--yang mudah diidentifikasi berdasarkan ukuran tubuhnya, walaupun kotor--menyeruak melewati jared dan menuju ke arah...ku.

"Kalian membiarkan mahluk itu menceritakan kebohongan - kebohongannya? Apakah kalian semua sudah sinting? Atau apakah dia sudah menuntun para Pencari kemari? Apakah kalian semua sudah menjadi parasit?"
Kulihat banyak kepala tertunduk malu. Hanya beberapa yang mempertahankan dagu mereka terdongak kaku dengan bahu tegak: Lily, Trudy, Heath, Wes... bahkan Walter yang rapuh.
"Sabar, Kyle," ujar Walter dengan suara lemah.
Kyle mengabaikannya. Ia berjalan mantap ke arahku. Matanya, yang berwarna biru cemerlang seperti mata adiknya, bersinar penuh kemarahan. Tapi aku tak bisa terus memandangnya--mataku terus-menerus beralih pada sosok gelap Jared, mencoba membaca raut wajahnya yang tersamar.
Cinta Melanie mengalir melalui tubuhku, seperti danau yang meluap dari bendungan, dan semakin mengalihkan perhatianku dari lelaki barbar murka yang menghampiriku dengan cepat itu.
Ian menyelinap ke dalam ruang pandangku, pindah untuk menempatkan diri di depanku. Aku menjulurkan leher ke samping agar pandanganku ke arah Jared tetap jelas.
"Segalanya berubah ketika kau pergi."
Kyle berhenti, wajahnya tidak percaya. "Lalu, apakah para Pencari datang, Ian?"
"Dia tidak berbahaya bagi kita."
Kyle menggertakkan gigi, dan dari sudut mata aku melihatnya meraih sesuatu di sakunya.
Gerakan ini akhirnya mencuri perhatianku. Aku menciut, mengira itu senjata. Kata-kata berhamburan dari bibirku dalam bisikan tercekik. "Jangan menghalanginya, Ian."
Ian tidak menjawab. Aku terkejut menyadari betapa gelisahnya aku, dan betapa aku tidak ingin Ian terluka. Ini bukan naluri untuk melindungi--kebutuhan mendalam untuk melindungi--yang kurasakan terhadap Jamie, atau bahkan Jared. Yang kuketahui hanyalah, Ian tidak boleh terluka ketika mencoba melindungiku.
Tangan Kyle kembali terangkat, dan senter bersinar dari sana. Ia mengarahkannya ke wajah Ian, menahannya di sana sejenak. Ian tidak berpaling.
"Jadi, apa yang berubah?" desak Kyle, mengembalikan senter ke saku. "Kau bukan parasit. Bagaimana mungkin mahluk itu bisa memengaruhimu?"
"Tenanglah, akan kami ceritakan semuanya."


"Tidak."
Perlawanan itu bukan berasal dari Kyle, tapi dari belakangnya. Aku menyaksikan Jared berjalan perlahan-lahan menghampiri kami, melewati para penonton yang membisu. Ketika ia semakin dekat, diiringi Jamie yang masih menggayuti tangannya dengan raut bingung, aku bisa membaca raut wajahnya dengan lebih jelas di balik topeng kotoran itu. Bahkan Melanie sekalipun, yang kegembiraannya meluap-luap karena Jared pulang dengan selamat, tak mungkin salah mengartikan ekspresi jijik yang terpampang di sana.
Jeb telah menyia-nyiakan usahanya untuk orang-orang yang keliru. Tak peduli Trudy atau Lily bicara denganku, tak peduli Ian meletakkan dirinya di antara kakaknya dan aku, tak peduli Sharon dan Maggie tidak berbuat jahat kepadaku. Satu-satunya orang yang perlu diyakinkan akhirnya membuat keputusan.
"Kurasa tak ada yang perlu menenangkan diri," ujar Jared lewat sela-sela gigi. "Jeb," lanjutnya, tanpa melihat apakah lelaki tua itu mengikutinya ke depan. "Berikan senapannya."
Keheningan yang mengikuti kata-katanya begitu menegangkan, sampai-sampai bisa kurasakan tekanannya di dalam telingaku.
Sejak bisa melihat wajah Jared dengan jelas, aku tahu semuanya sudah berakhir. Aku tahu apa yang kini harus kulakukan; Melanie juga setuju. Setenang mungkin aku melangkah ke samping dan agak mundur, sehingga tidak terhalang Ian. Lalu aku memejamkan mata.
"Kebetulan tidak kubawa," ujar Jeb pelan.
Aku mengintip lewat mata yang kusipitkan ketika Jared berputar untuk menilai kebenaran ucapan Jeb.
Napas Jared berembus marah lewat lubang hidungnya. "Baiklah," gumamnya. Ia maju selangkah lagi ke arahku. "Tapi akan lebih lambat dengan cara ini. Akan lebih manusiawi jika kau cepat-cepat mencari senapan itu."
 "Ayolah, Jared, ayo bicara dulu," ujar Ian. Ia menjejakkan kaki kuat-kuat, tahu seperti apa jawaban Jared.
"Kurasa sudah ada terlalu banyak pembicaraan," geram Jared. "Jeb menyerahkan mahluk ini kepadaku, dan aku sudah membuat keputusan."
Jeb berdehem keras-keras. Jared berputar dan kembali memandangnya.
"Apa?" desak Jared. "Kau yang membuat peraturan itu, Jeb."
"Well, itu benar."
Jared berbalik lagi kepadaku. "Ian, jangan menghalangi."
"Well, well, tunggu sebentar," lanjut Jeb. "Seandainya kau ingat-ingat lagi, peraturannya adalah, siapa pun yang memiliki tubuh itu yang harus membuat keputusan."
Pembuluh darah di kening Jared jelas berdenyut-denyut. "Dan?"
"Bagiku tampaknya ada seseorang di sini yang sama berhaknya sepertimu. Mungkin bahkan lebih berhak."
Jared menatap lurus ke depan, mencerna perkataan ini. Sejenak kemudian alisnya mengernyit paham. Ia memandang anak laki-laki yang masih menggayuti lengannya.
Seluruh kegembiraan lenyap dari wajah Jamie, meninggalkan kepucatan dan kengerian yang teramat sangat.

"Tidak boleh, Jared," ujar Jamie tersendat-sendat. "Kau tidak boleh melakukannya. Wanda baik. Dia temanku! Dan Mel! Kumohon! Kau harus--" Ia berhenti, raut wajahnya tampak sangat menderita.
Aku kembali memejamkan mata, mencoba memblokir gambaran anak laki-laki yang menderita itu dari benakku. Nyaris mustahil untuk tidak menghampiri Jamie. Kukunci otot-ototku, meyakinkan diri sendiri aku takkan membantunya jika beranjak.
"Jadi," kata Jeb, nadanya terlalu santai untuk saat ini, "bisa kaulihat Jamie tidak setuju. Kurasa dia sama berhaknya denganmu."
Tak ada jawaban untuk waktu sangat lama, sehingga aku harus kembali membuka mata.
Jared sedang menatap wajah Jamie yang sedih dan ketakutan dengan ekspresi kengeriannya sendiri.
"Bagaimana kau bisa membiarkan ini terjadi, Jeb?" bisik Jared.
"Kita benar-benar perlu bicara," jawab Jeb. "Tapi mengapa kau tidak istirahat dulu? Mungkin kau akan merasa lebih siap bercakap-cakap setelah mandi."
Jared melotot marah kepada lelaki tua itu, tatapannya penuh rasa terkejut dan sakit akibat dikhianati. Aku hanya punya perbandingan-perbandingan manusia untuk pandangan semacam itu. Yulius Caesar dan Brutus, Yesus dan Yudas.
Ketegangan tak tertahankan itu hanya bertahan selama semenit yang terasa lama, lalu Jared menyingkirkan jemari Jamie dari lengannya.
"Kyle," seru Jared, berbalik dan berjalan ke luar ruangan.
Kyle nyengir pada adiknya, lalu mengikuti Jared.
Para anggota ekspedisi yang kotor lainnya mengikuti tanpa bicara. Paige menyelip aman di bawah lengan Andy.
Sebagian besar manusia lainnya, mereka yang menunduk malu karena telah memasukkanku ke tengah pergaulan mereka, berjalan keluar dengan menyeret kaki. Hanya ada Jamie, Jeb, dan Ian di sampingku, serta Trudy, Geoffrey, Heath, Lily, Wes, dan Walter yang tetap tinggal.
Tak seorang pun bicara sampai gema langkah mereka menghilang dalam gelap.
"Fiuh!" ian menghembuskan napas. "Nyaris sekali. Pemikiran yang bagus, Jeb."
"Inspirasi dalam kegentingan. Tapi kita belum lepas dari bahaya," jawab Jeb.
"Tentu saja! Kau tidak meninggalkan senapan itu di tempat yang mudah ditemukan, bukan?"
"Tidak. Sudah kubayangkan ini akan segera terjadi."
"Baguslah."
Jamie berdiri gemetaran, sendirian di ruang yang ditinggalkan orang-orang tadi. Dikelilingi mereka yang tentu saja kuanggap teman, aku merasa sanggup berjalan ke samping Jamie. Ia memeluk pinggangku, dan aku menepuk-nepuk punggungnya dengan sepasang tanganku yang gemetaran.
"Tidak apa-apa," bisikku berbohong. "Tidak apa-apa." Aku tahu, bahkan orang tolol pun akan mendengar nada palsu dalam suaraku. Dan Jamie tidak tolol.
"Dia tidak akan melukaimu," ujar Jamie parau, berjuang menahan air mata yang bisa kulihat di matanya. "Takkan kubiarkan."
"Sst," gumamku.
Aku terkejut--kurasakan wajahku membentuk garis-garis ketakutan. Jared benar--bagaimana Jeb bisa membiarkan ini terjadi? Kalau saja mereka membunuhku di hari pertamaku di sini, bahkan sebelum Jamie melihatku... Atau di minggu pertama itu, ketika Jared mengasingkanku dari semua orang, sebelum aku dan Jamie berteman... Atau seandainya aku terus menutup mulut soal Melanie... Sudah terlambat untuk semua itu. Kedua lenganku memeluk anak itu erat-erat.
Melanie sama terkejutnya. Adikku yang malang.
Sudah kubilang, menceritakan semuanya kepada Jamie adalah ide buruk, ujarku mengingatkan.
Sekarang apa akibatnya bagi Jamie, seandainya kita mati?
Pasti mengerikan. Ia akan mengalami trauma, terluka, dan hancur--
Melanie menyelaku. Cukup. Aku tahu. Aku tahu. Tapi apa yang bisa kita perbuat?
Tidak mati, kurasa.
Aku dan Melanie memikirkan kemungkinan kami bisa bertahan hidup, dan merasa putus asa.
Ian menepuk punggung Jamie--bisa kurasakan gerakan itu menggetarkan tubuh kami berdua.
"Jangan sedih, Nak," kata Ian. "Kau tidak sendirian dalam hal ini."
"Mereka hanya terkejut. Itu saja." Kukenali suara alto Trudy di belakangku. :Setelah kita punya kesempatan untuk menjelaskan, mereka akan memahami alasannya."
"Memahami alasannya? Kyle?" desis seseorang, nyaris tak terdengar.
"Kita tahu ini akan terjadi," gumam Jeb. "Hanya perlu sedikit waktu. Badai akan berlalu."
"Mungkin kau harus mengambil senapan itu," saran Lily tenang. "Mungkin ini akan jadi malam yang panjang. Wanda bisa tinggal bersamaku dan Heidi--"
"Kurasa kita lebih kita menempatkannya di tempat lain," ujar Ian tidak setuju. "Mungkin di terowongan-terowongan selatan? Aku akan mengawasinya. Jeb, mau membantu?"
"Mereka tidak akan mencarinya jika dia bersamaku." Tawaran Walter hanya berupa bisikan.
Wes mengabaikan perkataan Walter. "Aku akan menemanimu, Ian. Mereka berenam."
"Tidak." Akhirnya aku berhasil bicara. "Tidak. Itu tidak benar. Kalian tidak boleh berkelahi. Kalian semua bersama-sama di sini. Kalian bersatu. Tidak ada perkelahian. Tidak ada perkelahian karena diriku."
Kutarik lengan Jamie dari pinggangku, dan kupegangi pergelangan tangannya ketika ia mencoba menghentikanku.
"Aku hanya perlu waktu sendirian," kataku kepadanya, mengabaikan semua tatapan yang kurasakan di wajahku. "Aku perlu menyendiri." Aku berpaling mencari Jeb. "Dan kau harus punya kesempatan untuk membahas hal ini tanpa bisa kudengarkan. Tidak adil--membahas strategi di hadapan musuh."
"Ayolah, jangan begitu," ujar Jeb.
"Beri aku waktu untuk berpikir, Jeb."
Aku melangkah meninggalkan Jamie, menjatuhkan kedua tangannya. Satu tangan memegangi bahuku, dan aku berjengit.
Ternyata Ian. "Bukan ide yang bagus untuk berkeliaran sendiri."
Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, mencoba memelankan suaraku sehingga Jamie takkan bisa mendengar dengan jelas. "Mengapa mengulur-ulur sesuatu yang tak terhindarkan? Bakal lebih mudah atau lebih sulitkah bagi Jamie?"
Kupikir aku tahu jawaban untuk pertanyaan terakhirku. Aku merunduk di bawah tangan Ian, lalu bergegas lari menuju lubang keluar.
"Wanda!" panggil Jamie.
Seseorang menyuruhnya diam. Tak ada langkah kaki di belakangku. Agaknya mereka memahami kebijakan membiarkan aku pergi.
Lorong gelap dan sepi. Kalau beruntung aku bisa memotong jalan melewati pinggiran plaza kebun yang besar itu dalam kegelapan.
Sepanjang waktuku di sini, satu hal yang tak pernah kuketahui adalah jalan keluar. Sepertinya aku telah menyusuri setiap terowongan berulang kali, tapi tak penah melihat lubang yang belum pernah kujelajahi ketika mencari satu atau lain hal. Kini aku merenungkannya, ketika merayap melewati pojok-pojok dengan bayangan tergelap di dalam gua besar itu. Di manakah jalan keluarnya? Dan ini yang kupikirkan: seandainya bisa memecahkan teka-teki itu, bisakah aku pergi?
Aku tak bisa memikirkan apa pun yang kuinginkan hingga aku bersedia pergi dari sini--yang pasti bukan padang gurun yang menanti di luar sana; tapi juga bukan Pencari, atau Penyembuh, atau Penghibur-ku; juga bukan kehidupanku sebelumnya, yang hanya meninggalkan kesan dangkal bagiku. Semua yang benar-benar berarti ada bersamaku di sini. Jamie, Jared, walaupun ia hendak membunuhku. Tak bisa kubayangkan aku meninggalkan mereka berdua.
Dan Jeb. Ian. Kini aku punya teman-teman. Doc, Trudy, Lily, Wes, Walter, Heath. Manusia-manusia aneh yang bisa mengabaikan siapa diriku dan melihat sosok lain yang tak perlu mereka bunuh. Mungkin mereka hanya merasa penasaran. Tapi di luar itu, mereka bersedia membelaku melawan ikatan kekeluargaan yang erat di antara mereka yang masih bertahan hidup. Aku menggeleng takjub ketika meraba-raba batu kasar dengan sepasang tanganku.
Aku bisa mendengar yang lain berada di ruang gua, di sisi yang jauh dariku. Aku tidak berhenti; mereka tak bisa melihatku di sini, dan aku baru saja menemukan celah yang kucari.
Bagaimanapun, sebenarnya hanya ada satu tempat bagiku untuk pergi. Seandainya pun aku bisa menebak jalan untuk kabur, aku toh akan mengambil jalan ini juga. Aku merangkak ke dalam kegelapan terhitam yang bisa kubayangkan, dan bergegas menyusuri jalanku.