Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta

The Host- Bab 32



Disergap

Ruang-ruang gua sepi; matahari belum terbit. Di plaza utama cermin-cermin berwarna kelabu pucat dengan datangnya fajar.
Beberapa pakaianku masih di kamar Jamie dan Jared. Aku menyelinap masuk, senang karena tahu di mana Jared berada sekarang.
Jamie tidur nyenyak, meringkuk membentuk bola padat di pojok atas kasur. Ia biasanya tidak tidur begitu rapat, tapi saat ini ia punya alasan. Ian telentang di seluruh ruangan yang tersisa, kaki dan tangannya menggantung melewati tepi kasur, membentuk tonjolan di keempat sisinya.
Untuk alasan tertentu, ini menggelikan bagiku. Aku harus memasukkan kepalanku ke mulut untuk menahan tawa, lalu cepat – cepat menyambar kaus dan celana pendek tuaku yang diwarnai kotoran. Aku bergegas memasuki lorong, dengan masih menahan tawa.
Kau mabuk akibat kurang tidur, ujar Melanie. Kau perlu tidur.
Aku akan tidur nanti. Ketika… Aku tak bisa menyelesaikan pikiran itu. Aku langsung tersadar, dan segalanya kembali tenang.
Aku masih bergegas ketika menuju kamar mandi. Aku memercayai Doc, tapi… mungkin ia akan berubah pikiran. Mungkin Jared akan membantah apa yang kuinginkan. Aku tak bisa berlama-lama.
Kupikir aku mendengar sesuatu di belakangku ketika mencapai persimpangan gurita, tempat semua lorong tidur bertemu. Aku menoleh tapi tidak bisa melihat siapa-siapa dalam gua remang-remang itu. Orang-orang mulai bergerak. Sebentar lagi waktu sarapan tiba, lalu satu hari kerja lagi. Seandainya mereka sudah selesai dengan batang-batang jagung, tanah di lading-ladang timur perlu digemburkan. Mungkin aku akan punya waktu untuk membantu… nanti…
Aku mengikuti jalur yang kukenal menuju sungai-sungai bawah tanah. Pikiranku berada di jutaan tempat lain. Sepertinya aku tak bisa berkonsentrasi pada satu hal tertentu. Setiap kali aku mencoba memusatkan perhatian pada satu subjek—Walter, Jared, sarapan, tugas-tugas, mandi—pikiran lain akan menarik benakku dalam hitungan detik. Melanie benar; aku perlu tidur. Ia sama kacaunya. Pikirannya berputar-putar mengelilingi Jared, tapi tak satu pun yang bisa dipahaminya.
Aku sudah terbiasa dengan kamar mandinya. Kegelapan total itu tidak menggangguku lagi. Ada banyak tempat gelap di sini. Setengah dari hari terangku kuhabiskan dalam gelap. Dan aku begitu sering kemari. Tak ada sesuatu pun yang bersembunyi di bawah permukaan air, menunggu untuk menarikku ke dalamnya.
Tapi aku tahu aku tak punya waktu untuk berendam. Yang lain akan segera bangun, dan beberapa orang suka memulai hari mereka dengan tubuh bersih. Aku harus bergegas, membersihkan diri lebih dulu, lalu berpindah ke pakaianku. Aku menggosok kemejaku dengan ganas, berharap bisa menggosok bersih ingatanku mengenai dua malam terakhir ini.
Tanganku terasa perih ketika aku selesai. Retak-retak kering di buku-buku jariku paling terasa membakar. Kubilas semua di dalam air, tapi itu tak banyak membuat perbedaan. Aku mendesah, lalu keluar dari kolam untuk berpakaian. 


Aku meninggalkan pakaian kering di atas batu-batu yang berserakan di pojok belakang. Tanpa sengaja aku menendang sebuah batu, cukup keras hingga menyakiti kaki telanjangku, dan batu itu berkelotak ribut melintasi ruangan, memantul dari dinding, dan mendarat dengan suara plung dan berdeguk ke dalam kolam. Suaranya membuatku terlompat, walaupun tidak begitu keras jika dibandingkan dengan raungan sungai panas di luar.
Aku baru saja memasukkan kaki ke dalam sepatu tenis kotorku ketika giliranku selesai.
“Tok, tok,” panggil sebuah suara yang kukenal dari lubang masuk gelap.
“Selamat pagi, Ian,” sapaku. “Aku baru saja selesai. Tidurmu nyenyak?”
“Ian masih terlelap,” jawab suara Ian. “Tapi aku yakin itu takkan bertahan selamanya, jadi sebaiknya kita selesaikan saja ini.”
Serpihan-serpihan es memaku semua persendianku di tempat masing-masing. Aku tak bisa bergerak. Aku tak bisa bernapas.
Sudah pernah kuperhatikan sebelumnya, lalu kulupakan dalam minggu-minggu panjang ketidakhadiran Kyle. Ian dan kakaknya bukan hanya tampak sangat mirip, tapi—ketika Kyle bicara dengan volume normal, sesuatu yang jarang terjadi—suara mereka juga sama persis.
Tak ada udara. Aku terjebak di lubang gelap ini, dengan Kyle di lubang pintu. Tak ada jalan keluar.
Tetap tenang, teriak Melanie di dalam kepalaku.
Aku bisa melakukannya. Tidak ada udara untuk berteriak.
Dengar!
Kulakukan seperti yang diperintahkan Melanie, yaitu mencoba memusatkan perhatian, walaupun ketakutan menusuk kepalaku seperti jutaan tombak ramping es.
Aku tak bisa mendengar apa-apa. Apakah Kyle menunggu responku? Apakah diam-diam ia menyelinap ke dalam ruangan? Aku mendengarkan lebih saksama, tapi gemuruh sungai menutupi suara apa pun.
Cepat, ambil batu, perintah Melanie.
Mengapa?
Aku melihat diriku menghantamkan atu kasar ke kepala Kyle.
Aku tak bisa melakukannya!
Kalau begitu kita akan mati, Melanie menjawabku. Aku bisa melakukannya! Izinkan aku!
Harus ada cara lain, erangku, tapi kupaksakan kedua lututku yang membeku untuk menekuk. Kedua tanganku meraba-raba dalam gelap, lalu kembali dengan batu besar bergerigi dan segenggam kerikil.
Melawan atau lari.
Dalam keputusasaan aku mencoba membebaskan Melanie, mencoba membiarkannya keluar. Aku tidak bisa menemukan lubang pintu. Kedua tanganku, yang masih milikku, dengan sia-sia mencengkeram benda-benda yang tak pernah bisa kujadikan senjata.
Terdengar  suara tercebur pelan ketika sesuatu memasuki sungai yang mengalirkan air kolam ke dalam kakus. Hanya beberapa meter jaraknya.
Serahkan kedua tanganmu kepadaku!
Aku tidak tahu caranya! Ambil sajalah!
Aku mulai merayap pergi, merapat ke dinding, menuju lubang keluar. Melanie berjuang menemukan jalan keluar dari kepalaku, tapi ia juga tak bisa menemukan pintunya.
Kembali terdengar suara. Bukan di sungai yang jauh. Suara napas, di lubang keluar. Aku terpaku di tempat.
Mana Kyle?
Aku tak tahu! Sekali lagi aku tidak bisa mendengar apa-apa kecuali suara sungai. Apakah Kyle sendirian? Apakah seseorang sedang menunggu di lubang pintu, untuk menangkapku ketika Kyle menggiringku mengelilingi kolam? Seberapa dekat Kyle sekarang?
Kurasakan bulu kudukku meremang. Ada semacam tekanan di udara, seakan aku bisa merasakan gerakan-gerakan bisu kyle. Pintu. Aku setengah berbalik, kembali ke arah datangku. Menjauh dari tempatku mendengar suara napas.
Kyle tak bisa menunggu selamanya. Dari perkataannya yang sedikit, aku tahu ia terburu-buru. Seseorang bisa datang kapan saja. Tapi peluang ada di pihaknya. Lebih sedikit jumlah orang yang cenderung akan menghentikannya, jika dibandingkan jumlah mereka yang mungkin menganggap ini yang terbaik. Dan dari jumlah mereka yang cenderung menghentikannya, ada lebih sedikit lagi yang berpeluang melakukannya. Hanya Jeb dan senapannya yang bisa membuat perbedaan. Setidaknya Jared sama kuatnya dengan Kyle, tapi Kyle lebih termotivasi. Kini Jared mungkin tidak bersedia melawannya.
Kembali terdengar suara. Apakah itu langkah kaki di dekat pintu? Atau hanya imajinasiku? Berapa lama pergelakan diam-diam ini akan berlangsung? Tak bisa kutebak berapa banyak detik atau menit yang telah berlalu.
Bersiaplah. Melanie tahu penundaan itu akan segera berakhir. Ia ingin aku mencengkeram batu lebih erat.
Tapi aku akan menggunakan kesempatan untuk kabur lebih dulu. Aku bukan petarung efektif, meskipun aku bisa memaksa mencobanya. Bobot Kyle mungkin dua kali bobotku, dan jangkauan tangannya lebih panjang.
Kuangkat tanganku yang menggenggam kerikil, dan kuarahkan ke jalan belakang menuju kakus. Mungkin aku bisa membuat Kyle berpikir aku hendak bersembunyi dan mengharapkan pertolongan. Kulemparkan segenggam batu kecil itu, lalu aku menjauh dari kebisingan yang terdengar ketika batu-batu itu berkelotak menghantam dinding batu.
Kembali terdengar suara napas di pintu; suara langkah ringan menuju pancinganku. Aku berjalan merapat sepelan mungkin di sepanjang dinding.
Bagiamana jika ada dua orang?
Aku tak tahu.
Aku nyaris mencapai lubang keluar. Kalau saja aku bisa mencapai terowongan, pikirku. Aku bisa mengalahkan Kyle dalam berlari. Aku lebih ringan dan lebih cepat.
Kudengar suara langkah kaki, kali ini sangat jelas, mengusik sungai di belakang ruangan. Aku merayap lebih cepat.
Suara tercebur keras membuyarkan harapanku. Air menciprati kulitku, membuatku terkesiap. Air menciprati dinding dalam gelombang suara basah.
Ia datang lewat kolam! Lari!
Kebimbanganku hanya sedetik terlalu lama. Tangan yang besar mencengkeram betisku, menyambar pergelangan kakiku. Kusentakkan cengkeraman itu seraya terhuyung – huyung maju. Aku tersandung, dan momentum yang melempar tubuhku ke lantai membuat jemari Kyle menggelincir. Ia menangkap sepatu karetku. Aku menendangnya, meninggalkan sepatu itu di tangannya.
Aku jatuh, tapi Kyle juga jatuh. Itu memberiku cukup waktu untuk merangkak maju, membuat lututku robek terkena batu kasar.
Kyle menggeram, tangannya mencengkeram tumitku yang telanjang. Tangannya tergelincir; aku kembali meluncur bebas. Aku menggeliat maju, menyeret tubuhku dengan kepala masih di bawah, bisa terjatuh kapan saja, karena tubuhku bergerak nyaris sejajar dengan lantai. Aku menjaga keseimbanganku dengan tekad bulat.



Tak ada orang lain. Tak seorang pun akan menangkapku di lubang keluar menuju ruangan luar. Aku lari maju, harapan dan adrenalin membanjiri pembuluhku. Aku memasuki ruang bersungai dengan kecepatan penuh; satu-satunya perkiraanku adalah mencapai terowongan. Aku bisa mendengar napas Kyle yang berat tepat di belakangku, tapi tidak terlalu dekat. Dengan setiap langkah kudorong diriku semakin keras, kulempar tubuhku menjauh darinya.
Rasa nyeri menusuk kakiku, meremas-remasnya.
Di antara gemuruh sungai kudengar dua batu berat menghantam tanah dan berguling—batu yang tadi kucengkeram dan batu yang dilempar Kyle untuk melumpuhkanku. Kakiku terkilir, terpilin dan menjatuhkan tubuhku ke tanah. Dan pada detik yang sama Kyle menindihku.
Bobot tubuhnya membenturkan kepalaku ke batu dengan suara berdenging, dan menjepit tubuhku rata dengan lantai. Mustahil untuk bangkit.
Berteriaklah!
Udara berhembus keluar dari mulutku denganlengkingan yang mengejutkan kami. Jeritan tanpa kata itu lebih daripada yang kuharapkan—pasti seseorang bakal mendengarnya. Semoga orang itu Jeb. Semoga ia membawa senapan.

“Uhng!” protes Kyle. Tangannya cukup besar untuk menutupi sebagian besar wajahku. Telapak tangannya menekan mulutku, menghentikan teriakanku.


Lalu Kyle berguling, dan gerakan itu begitu mengejutkanku sehingga aku tak punya waktu untuk mencoba memanfaatkannya. Dengan cepat ia menarikku ke atas, ke bawah, lalu ke atas tubuhnya lagi. Aku pusing dan bingung, kepalaku masih berputar-putar, tapi aku langsung mengerti ketika wajahku menyentuh air.
Tangan Kyle mencengkeram tengkukku, membenamkan wajahku ke dalam sungai dangkal berair sejuk yang berliku-liku memasuki kolam mandi. Terlambat untuk menahan napas. Aku sudah menghirup banyak air.
Tubuhku berubah panic ketika air menyerang paru-paruku. Gerak meronta-ronta tubuhku lebih kuat daripada yang diharapkan Kyle. Semua tungkaiku menyentak dan menendang ke segala arah, dan cengkeraman Kyle di leherku tergelincir. Ia mencoba mencengkeram lebih erat, dan semacam insting membuatku mengangkat tubuh ke arahnya, bukan menjauhinya seperti yang ia harapkan. Aku hanya mengangkat tubuhku setengah kaki lebih dekat, tapi tindakan itu membuat daguku keluar dari sungai, dan cukup bagi mulutku untuk mengeluarkan kembali sebagian air serta menarik napas.
Kyle berjuang mendorongku kembali ke sungai, tapi aku menggeliat-geliat dan mengganjalkan tubuhku di bawahnya, sehingga bobot tubuhnya sendiri mengkhianatinya. Aku masih bereaksi terhadap air di dalam paru-paruku, terbatuk-batuk dan menggelepar – gelepar di luar kendali.
“Cukup!” raung Kyle.
Ia menjauh dariku, dan aku mencoba menyeret tubuhku menjauhinya.
“Oh, tidak, tidak boleh!” Kyle meludah lewat sela-sela gigi.
Sudah berakhir, dan aku tahu itu.
Ada sesuatu yang salah dengan kakiku yang terluka. Mati rasa, dan aku tak bisa menyuruhnya melakukan apa yang kuinginkan. Aku hanya bisa menyeret tubuhku di sepanjang lantai dengan sepasang lengan dan satu kaki. Aku bahkan tak mampu melakukannya dengan baik karena masih terbatuk-batuk keras. Terlalu berat bagiku untuk kembali menjerit.
Kyle meraih pergelangan tanganku dan menarikku berdiri. Bobotku membuat kakiku goyah, dan aku merosot menimpa tubuhnya.
Kyle mencengkeram pergelangan tanganku dengan sebelah tangannya, lalu tangan yang lain membelit pinggangku. Ia menarikku dari lantai, ke sisinya, seperti karung goni kaku. Aku menggeliat, dan kakiku yang tidak cedera menendang udara kosong.
“Ayo kita selesaikan.”
Kyle melompati sungai kecil itu dengan cekatan, lalu menyeretku menuju lubang terdekat di lantai gua. Uap dari mata air panas menyapu wajahku. Kyle hendak melemparku ke lubang gelap panas itu dan membiarkan air mendidih menarikku ke dalam tanah seraya membakarku.
Aku meronta panic. Lututku menghantam salah satu kolom batu yang longgar, dan kukaitkan kakiku di sana. Aku mencoba menyentakkan tubuh agar terlepas dari cengkeramannya. Kyle menarikku seraya menggeram tidak sabar.
Setidaknya tindakanku cukup mengendurkan cengkeramannya, sehingga aku bisa melakukan satu gerakan lagi. Pernah berhasil sebelumnya, jadi kucoba lagi. Bukannya mencoba membebaskan diri, aku malah berputar dan membelitkan kedua kakiku di pinggang Kyle. Kukaitkan pergelangan kakiku yang tidak cedera pada pergelangan kakiku yang lain, mencoba mengabaikan rasa sakit sehingga kedua kakiku bisa mencengkeram dengan baik.
“Lepaskan aku, kau—“ Kyle berjuang melepaskan diri, dan aku menarik satu pergelangan tanganku. Kubelitkan lengan itu di lehernya, dan kucengkeram rambut tebalnya. Seandainya aku terjatuh ke sungai hitam itu, ia akan jatuh bersamaku.
Kyle mendesis dan berhenti menarik kakiku cukup lama untuk memukul pinggangku.
Aku menghela napas kesakitan, tapi sebelah tanganku berhasil meraih rambutnya.
Kyle membelitkan kedua lengannya di tubuhku, seakan kami sedang berpelukan dan bukan bergulat untuk saling membunuh. Lalu Kyle meraih pinggangku dari dua sisi, dan dengan segenap tenaga melepaskan diri dari cengkeramanku.
Rambut Kyle mulai tercerabut di kedua tanganku, tapi ia hanya menggeram dan semakin kuat menarik tubuhnya.
Aku bisa mendengar air panas bergemuruh di dekatku, sepertinya tepat di bawahku. Uap membumbung membentuk awan tebal, dan sejenak aku tak bisa melihat apa-apa kecuali wajah Kyle yang menyeringai marah, mirip sesuatu yang buas dan tak kenal ampun.
Kurasakan kakiku yang cedera menyerah. Aku mencoba semakin merapat pada Kyle, tapi kekuatannya yang luar biasa menang melawan keputusasaanku. Sebentar lagi ia akan terlepas dariku, dan aku jatuh ke dalam uap mendesis itu, lalu lenyap.
Jared! Jamie! Pikiran itu, penderitaan itu milik kami berdua—aku dan Melanie. Mereka takkan pernah tahu apa yang terjadi padaku. Ian. Jeb. Doc. Walter. Tak ada ucapan selamat tinggal.
Dengan cepat Kyle melompat ke udara, lalu jatuh dengan bunyi berdebum. Akibatnya persis seperti yang ia inginkan: kedua kakiku lepas dari tubuhnya.
Tapi sebelum Kyle bisa memanfaatkan tindakannya, muncul akibat lain.
Terdengar suara patah yang memekakkan telinga. Kupikir seluruh gua runtuh. Lantai bergetar di bawah kami.
Kyle terkesiap, lalu melompat mundur, dengan membawaku-karena kedua tanganku masih mencengkeram rambutnya—bersamanya. Disertai lebih banyak lagi suara patah dan geraman, batu di bawah kaki Kyle mulai longsor.
Bobot gabungan kami telah mematahkan bibir lubang yang rapuh. Ketika Kyle terhuyung-huyung menjauh, retakan lantai mengikuti langkah kakinya yang berat, dan bergerak lebih cepat daripadanya.
Sepetak lantai lenyap dari bawah tumit Kyle, menjatuhkan tubuhnya dengan bunyi berdebum. Bobotku mendorong tubuh Kyle ke belakang dengan keras, dan kepalanya membentur keras pilar batu. Sepasang lengannya terlepas dariku, terkulai.
Suara lantai retak berubah jadi geraman tertahan. Bisa kurasakan getarannya di bawah tubuh Kyle.
Aku berada di atas dada Kyle. Kaki kami menggantung di atas ruang kosong, uap air mengembun menjadi jutaan tetes air di kulit kami.
“Kyle?”
Tak ada jawaban.
Aku takut untuk bergerak.
Kau harus menyingkir darinya. Kalian terlalu berat. Hati-hati—gunakan pilarnya. Menjauhlah dari lubang.
Seraya mengerang ketakutan, merasa terlalu ngeri untuk berpikir bagi diriku sendiri, aku melakukan perintah Melanie. Kubebaskan jemariku dari rambut Kyle, lalu terhuyung-huyung turun dari tubuhnya yang tidak sadarkan diri, menggunakan pilar sebagai jangkar untuk menarikku maju. Rasanya cukup stabil, tapi lantai masih mengerang di bawah kami.
Kutarik tubuhku melewati pilar, menuju lantai di baliknya. Tanahnya tetap kokoh di bawah sepasang tangan dan lututku, tapi aku merangkak lebih jauh, menuju keamanan terowongan jalan keluar.
Kembali terdengar suara retakan, dan aku menoleh. Satu kaki Kyle turun semakin dalam ketika batu di bawahnya lepas. Kali ini aku mendengar bunyi tercebur saat bongkahan batu menyentuh sungai di bawah sana. Tanah bergetar di bawah bobot tubuh Kyle.
Ia akan terjatuh, pikirku tersadar.


Bagus, geram Melanie.
Tapi…
Jika ia terjatuh, ia tidak bisa membunuh kita, Wanda. Jika ia tidak terjatuh, ia akan membunuh kita.
Aku tidak bisa…
Ya, kau bisa. Berjalanlah pergi. Tidakkah kau ingin hidup?
Memang. Aku ingin hidup.
Kyle bisa saja menghilang. Dan jika demikian, kemungkinan tak seorang pun akan menyakitiku lagi. Setidaknya di antara orang-orang di sini. Masih ada Pencari yag harus dipikirkan, tapi mungkin suatu hari nanti ia akan menyerah, lalu aku bisa tinggal di sini seterusnya bersama manusia-manusia yang kucintai…
Kakiku berdenyut-denyut, rasa sakit menggantikan sebagian mati rasanya. Cairan hangat menetes dari bibirku. Kurasakan kelembapan itu tanpa berpikir, lalu kusadari itu darahku.
Berjalanlah pergi, Wanda. Aku ingin hidup. Aku juga menginginkan  pilihan.
Bisa kurasakan getaran-getarannya dari tempatku berdiri. Sepetak lantai lagi tercebur ke sungai. Bobot tubuh Kyle bergeser, dan ia meluncur satu senti menuju lubang.
Biarkan ia pergi.
Kutatap wajah lelaki yang akan mati itu—lelaki yang menginginkan kematianku. Dalam ketidaksadarannya, wajah Kyle tak lagi menyerupai hewan marah. Ekspresinya tenang, nyaris damai.
Kemiripannya dengan adiknya sangat jelas terlihat.
Tidak! Protes Melanie.
Aku merangkak mendekati Kyle, perlahan-lahan, merasakan tanah dengan cermat setiap kali bergerak satu senti. Aku terlalu takut untuk merangkak lebih jauh dari pilar, jadi kukaitkan kakiku yang tidak cedera di sana. Pilar itu kembali menjadi jangkar, dan aku membungkuk untuk menyisipkan sebelah tanganku ke bawah lengan Kyle dan sebelah lagi ke atas dadanya.


Aku menarik begitu keras sampai kedua lenganku nyaris copot dari persendian, tapi Kyle tidak bergerak. Ketika lantai terus hancur menjadi serpihan-serpihan kecil, aku mendengar suara seperti pasir menetes di dalam jam pasir.
Aku kembali menarik tubuh Kyle, tapi suara menetes itu semakin gencar. Hanya itu hasil yang kuperoleh. Menggeser bobot Kyle membuat lantai hancur lebih cepat.


Tepat ketika aku sedang memikirkan hal itu, sebongkah batu besar terjun ke dalam sungai, menumbangkan keseimbangan Kyle yang rapuh. Ia mulai terjatuh.
“Tidak!” teriakku. Lengkingan itu kembali meledak dari tenggorokanku. Kuratakan tubuhku dengan pilar, dan aku berhasil menjepit tubuh Kyle ke balik pilar. Kurangkulkan kedua tanganku pada bahunya yang bidang. Lenganku nyeri.
“Tolong!” teriakku. “Tolong! Tolong!”

1 comments:

Amanda Hanifah said...

Tolong dilanjut dong😊😊😊😊

Post a Comment

Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com

The Host- Bab 32



Disergap

Ruang-ruang gua sepi; matahari belum terbit. Di plaza utama cermin-cermin berwarna kelabu pucat dengan datangnya fajar.
Beberapa pakaianku masih di kamar Jamie dan Jared. Aku menyelinap masuk, senang karena tahu di mana Jared berada sekarang.
Jamie tidur nyenyak, meringkuk membentuk bola padat di pojok atas kasur. Ia biasanya tidak tidur begitu rapat, tapi saat ini ia punya alasan. Ian telentang di seluruh ruangan yang tersisa, kaki dan tangannya menggantung melewati tepi kasur, membentuk tonjolan di keempat sisinya.
Untuk alasan tertentu, ini menggelikan bagiku. Aku harus memasukkan kepalanku ke mulut untuk menahan tawa, lalu cepat – cepat menyambar kaus dan celana pendek tuaku yang diwarnai kotoran. Aku bergegas memasuki lorong, dengan masih menahan tawa.
Kau mabuk akibat kurang tidur, ujar Melanie. Kau perlu tidur.
Aku akan tidur nanti. Ketika… Aku tak bisa menyelesaikan pikiran itu. Aku langsung tersadar, dan segalanya kembali tenang.
Aku masih bergegas ketika menuju kamar mandi. Aku memercayai Doc, tapi… mungkin ia akan berubah pikiran. Mungkin Jared akan membantah apa yang kuinginkan. Aku tak bisa berlama-lama.
Kupikir aku mendengar sesuatu di belakangku ketika mencapai persimpangan gurita, tempat semua lorong tidur bertemu. Aku menoleh tapi tidak bisa melihat siapa-siapa dalam gua remang-remang itu. Orang-orang mulai bergerak. Sebentar lagi waktu sarapan tiba, lalu satu hari kerja lagi. Seandainya mereka sudah selesai dengan batang-batang jagung, tanah di lading-ladang timur perlu digemburkan. Mungkin aku akan punya waktu untuk membantu… nanti…
Aku mengikuti jalur yang kukenal menuju sungai-sungai bawah tanah. Pikiranku berada di jutaan tempat lain. Sepertinya aku tak bisa berkonsentrasi pada satu hal tertentu. Setiap kali aku mencoba memusatkan perhatian pada satu subjek—Walter, Jared, sarapan, tugas-tugas, mandi—pikiran lain akan menarik benakku dalam hitungan detik. Melanie benar; aku perlu tidur. Ia sama kacaunya. Pikirannya berputar-putar mengelilingi Jared, tapi tak satu pun yang bisa dipahaminya.
Aku sudah terbiasa dengan kamar mandinya. Kegelapan total itu tidak menggangguku lagi. Ada banyak tempat gelap di sini. Setengah dari hari terangku kuhabiskan dalam gelap. Dan aku begitu sering kemari. Tak ada sesuatu pun yang bersembunyi di bawah permukaan air, menunggu untuk menarikku ke dalamnya.
Tapi aku tahu aku tak punya waktu untuk berendam. Yang lain akan segera bangun, dan beberapa orang suka memulai hari mereka dengan tubuh bersih. Aku harus bergegas, membersihkan diri lebih dulu, lalu berpindah ke pakaianku. Aku menggosok kemejaku dengan ganas, berharap bisa menggosok bersih ingatanku mengenai dua malam terakhir ini.
Tanganku terasa perih ketika aku selesai. Retak-retak kering di buku-buku jariku paling terasa membakar. Kubilas semua di dalam air, tapi itu tak banyak membuat perbedaan. Aku mendesah, lalu keluar dari kolam untuk berpakaian. 


Aku meninggalkan pakaian kering di atas batu-batu yang berserakan di pojok belakang. Tanpa sengaja aku menendang sebuah batu, cukup keras hingga menyakiti kaki telanjangku, dan batu itu berkelotak ribut melintasi ruangan, memantul dari dinding, dan mendarat dengan suara plung dan berdeguk ke dalam kolam. Suaranya membuatku terlompat, walaupun tidak begitu keras jika dibandingkan dengan raungan sungai panas di luar.
Aku baru saja memasukkan kaki ke dalam sepatu tenis kotorku ketika giliranku selesai.
“Tok, tok,” panggil sebuah suara yang kukenal dari lubang masuk gelap.
“Selamat pagi, Ian,” sapaku. “Aku baru saja selesai. Tidurmu nyenyak?”
“Ian masih terlelap,” jawab suara Ian. “Tapi aku yakin itu takkan bertahan selamanya, jadi sebaiknya kita selesaikan saja ini.”
Serpihan-serpihan es memaku semua persendianku di tempat masing-masing. Aku tak bisa bergerak. Aku tak bisa bernapas.
Sudah pernah kuperhatikan sebelumnya, lalu kulupakan dalam minggu-minggu panjang ketidakhadiran Kyle. Ian dan kakaknya bukan hanya tampak sangat mirip, tapi—ketika Kyle bicara dengan volume normal, sesuatu yang jarang terjadi—suara mereka juga sama persis.
Tak ada udara. Aku terjebak di lubang gelap ini, dengan Kyle di lubang pintu. Tak ada jalan keluar.
Tetap tenang, teriak Melanie di dalam kepalaku.
Aku bisa melakukannya. Tidak ada udara untuk berteriak.
Dengar!
Kulakukan seperti yang diperintahkan Melanie, yaitu mencoba memusatkan perhatian, walaupun ketakutan menusuk kepalaku seperti jutaan tombak ramping es.
Aku tak bisa mendengar apa-apa. Apakah Kyle menunggu responku? Apakah diam-diam ia menyelinap ke dalam ruangan? Aku mendengarkan lebih saksama, tapi gemuruh sungai menutupi suara apa pun.
Cepat, ambil batu, perintah Melanie.
Mengapa?
Aku melihat diriku menghantamkan atu kasar ke kepala Kyle.
Aku tak bisa melakukannya!
Kalau begitu kita akan mati, Melanie menjawabku. Aku bisa melakukannya! Izinkan aku!
Harus ada cara lain, erangku, tapi kupaksakan kedua lututku yang membeku untuk menekuk. Kedua tanganku meraba-raba dalam gelap, lalu kembali dengan batu besar bergerigi dan segenggam kerikil.
Melawan atau lari.
Dalam keputusasaan aku mencoba membebaskan Melanie, mencoba membiarkannya keluar. Aku tidak bisa menemukan lubang pintu. Kedua tanganku, yang masih milikku, dengan sia-sia mencengkeram benda-benda yang tak pernah bisa kujadikan senjata.
Terdengar  suara tercebur pelan ketika sesuatu memasuki sungai yang mengalirkan air kolam ke dalam kakus. Hanya beberapa meter jaraknya.
Serahkan kedua tanganmu kepadaku!
Aku tidak tahu caranya! Ambil sajalah!
Aku mulai merayap pergi, merapat ke dinding, menuju lubang keluar. Melanie berjuang menemukan jalan keluar dari kepalaku, tapi ia juga tak bisa menemukan pintunya.
Kembali terdengar suara. Bukan di sungai yang jauh. Suara napas, di lubang keluar. Aku terpaku di tempat.
Mana Kyle?
Aku tak tahu! Sekali lagi aku tidak bisa mendengar apa-apa kecuali suara sungai. Apakah Kyle sendirian? Apakah seseorang sedang menunggu di lubang pintu, untuk menangkapku ketika Kyle menggiringku mengelilingi kolam? Seberapa dekat Kyle sekarang?
Kurasakan bulu kudukku meremang. Ada semacam tekanan di udara, seakan aku bisa merasakan gerakan-gerakan bisu kyle. Pintu. Aku setengah berbalik, kembali ke arah datangku. Menjauh dari tempatku mendengar suara napas.
Kyle tak bisa menunggu selamanya. Dari perkataannya yang sedikit, aku tahu ia terburu-buru. Seseorang bisa datang kapan saja. Tapi peluang ada di pihaknya. Lebih sedikit jumlah orang yang cenderung akan menghentikannya, jika dibandingkan jumlah mereka yang mungkin menganggap ini yang terbaik. Dan dari jumlah mereka yang cenderung menghentikannya, ada lebih sedikit lagi yang berpeluang melakukannya. Hanya Jeb dan senapannya yang bisa membuat perbedaan. Setidaknya Jared sama kuatnya dengan Kyle, tapi Kyle lebih termotivasi. Kini Jared mungkin tidak bersedia melawannya.
Kembali terdengar suara. Apakah itu langkah kaki di dekat pintu? Atau hanya imajinasiku? Berapa lama pergelakan diam-diam ini akan berlangsung? Tak bisa kutebak berapa banyak detik atau menit yang telah berlalu.
Bersiaplah. Melanie tahu penundaan itu akan segera berakhir. Ia ingin aku mencengkeram batu lebih erat.
Tapi aku akan menggunakan kesempatan untuk kabur lebih dulu. Aku bukan petarung efektif, meskipun aku bisa memaksa mencobanya. Bobot Kyle mungkin dua kali bobotku, dan jangkauan tangannya lebih panjang.
Kuangkat tanganku yang menggenggam kerikil, dan kuarahkan ke jalan belakang menuju kakus. Mungkin aku bisa membuat Kyle berpikir aku hendak bersembunyi dan mengharapkan pertolongan. Kulemparkan segenggam batu kecil itu, lalu aku menjauh dari kebisingan yang terdengar ketika batu-batu itu berkelotak menghantam dinding batu.
Kembali terdengar suara napas di pintu; suara langkah ringan menuju pancinganku. Aku berjalan merapat sepelan mungkin di sepanjang dinding.
Bagiamana jika ada dua orang?
Aku tak tahu.
Aku nyaris mencapai lubang keluar. Kalau saja aku bisa mencapai terowongan, pikirku. Aku bisa mengalahkan Kyle dalam berlari. Aku lebih ringan dan lebih cepat.
Kudengar suara langkah kaki, kali ini sangat jelas, mengusik sungai di belakang ruangan. Aku merayap lebih cepat.
Suara tercebur keras membuyarkan harapanku. Air menciprati kulitku, membuatku terkesiap. Air menciprati dinding dalam gelombang suara basah.
Ia datang lewat kolam! Lari!
Kebimbanganku hanya sedetik terlalu lama. Tangan yang besar mencengkeram betisku, menyambar pergelangan kakiku. Kusentakkan cengkeraman itu seraya terhuyung – huyung maju. Aku tersandung, dan momentum yang melempar tubuhku ke lantai membuat jemari Kyle menggelincir. Ia menangkap sepatu karetku. Aku menendangnya, meninggalkan sepatu itu di tangannya.
Aku jatuh, tapi Kyle juga jatuh. Itu memberiku cukup waktu untuk merangkak maju, membuat lututku robek terkena batu kasar.
Kyle menggeram, tangannya mencengkeram tumitku yang telanjang. Tangannya tergelincir; aku kembali meluncur bebas. Aku menggeliat maju, menyeret tubuhku dengan kepala masih di bawah, bisa terjatuh kapan saja, karena tubuhku bergerak nyaris sejajar dengan lantai. Aku menjaga keseimbanganku dengan tekad bulat.



Tak ada orang lain. Tak seorang pun akan menangkapku di lubang keluar menuju ruangan luar. Aku lari maju, harapan dan adrenalin membanjiri pembuluhku. Aku memasuki ruang bersungai dengan kecepatan penuh; satu-satunya perkiraanku adalah mencapai terowongan. Aku bisa mendengar napas Kyle yang berat tepat di belakangku, tapi tidak terlalu dekat. Dengan setiap langkah kudorong diriku semakin keras, kulempar tubuhku menjauh darinya.
Rasa nyeri menusuk kakiku, meremas-remasnya.
Di antara gemuruh sungai kudengar dua batu berat menghantam tanah dan berguling—batu yang tadi kucengkeram dan batu yang dilempar Kyle untuk melumpuhkanku. Kakiku terkilir, terpilin dan menjatuhkan tubuhku ke tanah. Dan pada detik yang sama Kyle menindihku.
Bobot tubuhnya membenturkan kepalaku ke batu dengan suara berdenging, dan menjepit tubuhku rata dengan lantai. Mustahil untuk bangkit.
Berteriaklah!
Udara berhembus keluar dari mulutku denganlengkingan yang mengejutkan kami. Jeritan tanpa kata itu lebih daripada yang kuharapkan—pasti seseorang bakal mendengarnya. Semoga orang itu Jeb. Semoga ia membawa senapan.

“Uhng!” protes Kyle. Tangannya cukup besar untuk menutupi sebagian besar wajahku. Telapak tangannya menekan mulutku, menghentikan teriakanku.


Lalu Kyle berguling, dan gerakan itu begitu mengejutkanku sehingga aku tak punya waktu untuk mencoba memanfaatkannya. Dengan cepat ia menarikku ke atas, ke bawah, lalu ke atas tubuhnya lagi. Aku pusing dan bingung, kepalaku masih berputar-putar, tapi aku langsung mengerti ketika wajahku menyentuh air.
Tangan Kyle mencengkeram tengkukku, membenamkan wajahku ke dalam sungai dangkal berair sejuk yang berliku-liku memasuki kolam mandi. Terlambat untuk menahan napas. Aku sudah menghirup banyak air.
Tubuhku berubah panic ketika air menyerang paru-paruku. Gerak meronta-ronta tubuhku lebih kuat daripada yang diharapkan Kyle. Semua tungkaiku menyentak dan menendang ke segala arah, dan cengkeraman Kyle di leherku tergelincir. Ia mencoba mencengkeram lebih erat, dan semacam insting membuatku mengangkat tubuh ke arahnya, bukan menjauhinya seperti yang ia harapkan. Aku hanya mengangkat tubuhku setengah kaki lebih dekat, tapi tindakan itu membuat daguku keluar dari sungai, dan cukup bagi mulutku untuk mengeluarkan kembali sebagian air serta menarik napas.
Kyle berjuang mendorongku kembali ke sungai, tapi aku menggeliat-geliat dan mengganjalkan tubuhku di bawahnya, sehingga bobot tubuhnya sendiri mengkhianatinya. Aku masih bereaksi terhadap air di dalam paru-paruku, terbatuk-batuk dan menggelepar – gelepar di luar kendali.
“Cukup!” raung Kyle.
Ia menjauh dariku, dan aku mencoba menyeret tubuhku menjauhinya.
“Oh, tidak, tidak boleh!” Kyle meludah lewat sela-sela gigi.
Sudah berakhir, dan aku tahu itu.
Ada sesuatu yang salah dengan kakiku yang terluka. Mati rasa, dan aku tak bisa menyuruhnya melakukan apa yang kuinginkan. Aku hanya bisa menyeret tubuhku di sepanjang lantai dengan sepasang lengan dan satu kaki. Aku bahkan tak mampu melakukannya dengan baik karena masih terbatuk-batuk keras. Terlalu berat bagiku untuk kembali menjerit.
Kyle meraih pergelangan tanganku dan menarikku berdiri. Bobotku membuat kakiku goyah, dan aku merosot menimpa tubuhnya.
Kyle mencengkeram pergelangan tanganku dengan sebelah tangannya, lalu tangan yang lain membelit pinggangku. Ia menarikku dari lantai, ke sisinya, seperti karung goni kaku. Aku menggeliat, dan kakiku yang tidak cedera menendang udara kosong.
“Ayo kita selesaikan.”
Kyle melompati sungai kecil itu dengan cekatan, lalu menyeretku menuju lubang terdekat di lantai gua. Uap dari mata air panas menyapu wajahku. Kyle hendak melemparku ke lubang gelap panas itu dan membiarkan air mendidih menarikku ke dalam tanah seraya membakarku.
Aku meronta panic. Lututku menghantam salah satu kolom batu yang longgar, dan kukaitkan kakiku di sana. Aku mencoba menyentakkan tubuh agar terlepas dari cengkeramannya. Kyle menarikku seraya menggeram tidak sabar.
Setidaknya tindakanku cukup mengendurkan cengkeramannya, sehingga aku bisa melakukan satu gerakan lagi. Pernah berhasil sebelumnya, jadi kucoba lagi. Bukannya mencoba membebaskan diri, aku malah berputar dan membelitkan kedua kakiku di pinggang Kyle. Kukaitkan pergelangan kakiku yang tidak cedera pada pergelangan kakiku yang lain, mencoba mengabaikan rasa sakit sehingga kedua kakiku bisa mencengkeram dengan baik.
“Lepaskan aku, kau—“ Kyle berjuang melepaskan diri, dan aku menarik satu pergelangan tanganku. Kubelitkan lengan itu di lehernya, dan kucengkeram rambut tebalnya. Seandainya aku terjatuh ke sungai hitam itu, ia akan jatuh bersamaku.
Kyle mendesis dan berhenti menarik kakiku cukup lama untuk memukul pinggangku.
Aku menghela napas kesakitan, tapi sebelah tanganku berhasil meraih rambutnya.
Kyle membelitkan kedua lengannya di tubuhku, seakan kami sedang berpelukan dan bukan bergulat untuk saling membunuh. Lalu Kyle meraih pinggangku dari dua sisi, dan dengan segenap tenaga melepaskan diri dari cengkeramanku.
Rambut Kyle mulai tercerabut di kedua tanganku, tapi ia hanya menggeram dan semakin kuat menarik tubuhnya.
Aku bisa mendengar air panas bergemuruh di dekatku, sepertinya tepat di bawahku. Uap membumbung membentuk awan tebal, dan sejenak aku tak bisa melihat apa-apa kecuali wajah Kyle yang menyeringai marah, mirip sesuatu yang buas dan tak kenal ampun.
Kurasakan kakiku yang cedera menyerah. Aku mencoba semakin merapat pada Kyle, tapi kekuatannya yang luar biasa menang melawan keputusasaanku. Sebentar lagi ia akan terlepas dariku, dan aku jatuh ke dalam uap mendesis itu, lalu lenyap.
Jared! Jamie! Pikiran itu, penderitaan itu milik kami berdua—aku dan Melanie. Mereka takkan pernah tahu apa yang terjadi padaku. Ian. Jeb. Doc. Walter. Tak ada ucapan selamat tinggal.
Dengan cepat Kyle melompat ke udara, lalu jatuh dengan bunyi berdebum. Akibatnya persis seperti yang ia inginkan: kedua kakiku lepas dari tubuhnya.
Tapi sebelum Kyle bisa memanfaatkan tindakannya, muncul akibat lain.
Terdengar suara patah yang memekakkan telinga. Kupikir seluruh gua runtuh. Lantai bergetar di bawah kami.
Kyle terkesiap, lalu melompat mundur, dengan membawaku-karena kedua tanganku masih mencengkeram rambutnya—bersamanya. Disertai lebih banyak lagi suara patah dan geraman, batu di bawah kaki Kyle mulai longsor.
Bobot gabungan kami telah mematahkan bibir lubang yang rapuh. Ketika Kyle terhuyung-huyung menjauh, retakan lantai mengikuti langkah kakinya yang berat, dan bergerak lebih cepat daripadanya.
Sepetak lantai lenyap dari bawah tumit Kyle, menjatuhkan tubuhnya dengan bunyi berdebum. Bobotku mendorong tubuh Kyle ke belakang dengan keras, dan kepalanya membentur keras pilar batu. Sepasang lengannya terlepas dariku, terkulai.
Suara lantai retak berubah jadi geraman tertahan. Bisa kurasakan getarannya di bawah tubuh Kyle.
Aku berada di atas dada Kyle. Kaki kami menggantung di atas ruang kosong, uap air mengembun menjadi jutaan tetes air di kulit kami.
“Kyle?”
Tak ada jawaban.
Aku takut untuk bergerak.
Kau harus menyingkir darinya. Kalian terlalu berat. Hati-hati—gunakan pilarnya. Menjauhlah dari lubang.
Seraya mengerang ketakutan, merasa terlalu ngeri untuk berpikir bagi diriku sendiri, aku melakukan perintah Melanie. Kubebaskan jemariku dari rambut Kyle, lalu terhuyung-huyung turun dari tubuhnya yang tidak sadarkan diri, menggunakan pilar sebagai jangkar untuk menarikku maju. Rasanya cukup stabil, tapi lantai masih mengerang di bawah kami.
Kutarik tubuhku melewati pilar, menuju lantai di baliknya. Tanahnya tetap kokoh di bawah sepasang tangan dan lututku, tapi aku merangkak lebih jauh, menuju keamanan terowongan jalan keluar.
Kembali terdengar suara retakan, dan aku menoleh. Satu kaki Kyle turun semakin dalam ketika batu di bawahnya lepas. Kali ini aku mendengar bunyi tercebur saat bongkahan batu menyentuh sungai di bawah sana. Tanah bergetar di bawah bobot tubuh Kyle.
Ia akan terjatuh, pikirku tersadar.


Bagus, geram Melanie.
Tapi…
Jika ia terjatuh, ia tidak bisa membunuh kita, Wanda. Jika ia tidak terjatuh, ia akan membunuh kita.
Aku tidak bisa…
Ya, kau bisa. Berjalanlah pergi. Tidakkah kau ingin hidup?
Memang. Aku ingin hidup.
Kyle bisa saja menghilang. Dan jika demikian, kemungkinan tak seorang pun akan menyakitiku lagi. Setidaknya di antara orang-orang di sini. Masih ada Pencari yag harus dipikirkan, tapi mungkin suatu hari nanti ia akan menyerah, lalu aku bisa tinggal di sini seterusnya bersama manusia-manusia yang kucintai…
Kakiku berdenyut-denyut, rasa sakit menggantikan sebagian mati rasanya. Cairan hangat menetes dari bibirku. Kurasakan kelembapan itu tanpa berpikir, lalu kusadari itu darahku.
Berjalanlah pergi, Wanda. Aku ingin hidup. Aku juga menginginkan  pilihan.
Bisa kurasakan getaran-getarannya dari tempatku berdiri. Sepetak lantai lagi tercebur ke sungai. Bobot tubuh Kyle bergeser, dan ia meluncur satu senti menuju lubang.
Biarkan ia pergi.
Kutatap wajah lelaki yang akan mati itu—lelaki yang menginginkan kematianku. Dalam ketidaksadarannya, wajah Kyle tak lagi menyerupai hewan marah. Ekspresinya tenang, nyaris damai.
Kemiripannya dengan adiknya sangat jelas terlihat.
Tidak! Protes Melanie.
Aku merangkak mendekati Kyle, perlahan-lahan, merasakan tanah dengan cermat setiap kali bergerak satu senti. Aku terlalu takut untuk merangkak lebih jauh dari pilar, jadi kukaitkan kakiku yang tidak cedera di sana. Pilar itu kembali menjadi jangkar, dan aku membungkuk untuk menyisipkan sebelah tanganku ke bawah lengan Kyle dan sebelah lagi ke atas dadanya.


Aku menarik begitu keras sampai kedua lenganku nyaris copot dari persendian, tapi Kyle tidak bergerak. Ketika lantai terus hancur menjadi serpihan-serpihan kecil, aku mendengar suara seperti pasir menetes di dalam jam pasir.
Aku kembali menarik tubuh Kyle, tapi suara menetes itu semakin gencar. Hanya itu hasil yang kuperoleh. Menggeser bobot Kyle membuat lantai hancur lebih cepat.


Tepat ketika aku sedang memikirkan hal itu, sebongkah batu besar terjun ke dalam sungai, menumbangkan keseimbangan Kyle yang rapuh. Ia mulai terjatuh.
“Tidak!” teriakku. Lengkingan itu kembali meledak dari tenggorokanku. Kuratakan tubuhku dengan pilar, dan aku berhasil menjepit tubuh Kyle ke balik pilar. Kurangkulkan kedua tanganku pada bahunya yang bidang. Lenganku nyeri.
“Tolong!” teriakku. “Tolong! Tolong!”

1 comments on "The Host- Bab 32"

Amanda Hanifah on 18:12 said...

Tolong dilanjut dong😊😊😊😊

Post a Comment