Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta

The Host Bab 14

Diperdebatkan

Rasanya terlalu berlebihan bagi kami ketika melihat lelaki itu di sini, saat ini, setelah pasrah menerima bahwa kami takkan pernah berjumpa dengannya lagi, setelah percaya kami telah kehilangan dirinya selamanya. Peristiwa ini melumpuhkanku, membuatku tak mampu bereaksi. Aku ingin memandang Uncle Jeb, untuk memahami jawabannya yang menghancurkan hati saat di padang gurun, tapi aku tak mampu menggerakkan mata. Kutatap wajah Jared, tidak mengerti.

the host bab 14
Melanie bereaksi secara berbeda. "Jared," serunya. Lewat tenggorokanku yang rusak, suara itu hanya berupa bisikan parau. Melanie menyentakku ke depan, persis yang dilakukannya di padang gurun, mengambil kendali atas tubuhku yang membeku. Satu-satunya perbedaan adalah, kali ini ia memaksa.

the host bab 14
Aku tak cukup cepat untuk bisa menghentikannya. Melanie menerjang, mengangkat kedua lengannya untuk meraih Jared. Kuteriakkan peringatan kepadanya di dalam kepalaku, tapi ia tidak mendengarkan. Ia bahkan nyaris tidak menyadari keberadaanku. Tak seorang pun mencoba menghentikan Melanie ketika ia terhuyung-huyung menghampiri Jared. Tak seorang pun, kecuali diriku. Tinggal beberapa senti lagi sebelum ia menyentuh Jared, tapi ia masih tidak melihat apa yang kulihat. Ia tidak melihat perubahan wajah Jared setelah perpisahan berbulan-bulan, betapa wajah itu mengeras, betapa gurat-gurat wajahnya tertarik ke beberapa arah berlainan. Melanie tidak melihat senyuman tanpa sadar yang diingatnya takkan cocok di wajah baru ini. Hanya sekali ia pernah melihat wajah Jared berubah kelam dan mengancam, tapi ekspresi itu tak ada apa-apanya dibandingkan ekspresi Jared saat ini. Melanie tidak melihat, atau mungkin tak peduli.

the host bab 14

Jangkauan tangan Jared lebih panjang daripada tanganku. Sebelum Melanie bisa membuat jemariku menyentuh Jared, lengan lelaki itu terulur dan punggung tangannya menghantam sisi wajahku. Pukulan itu begitu keras hingga kedua kakiku meninggalkan tanah, lalu kepalaku terbanting ke lantai batu. Aku mendengar tubuhku membentur lantai dengan suara gedebuk pelan, tapi tidak merasakannya. Bola mataku berputar, suara berdenging memenuhi telinga. Kuperangi rasa pening yang mengancam akan menghilangkan kesadaranku.

the host bab 14

Tolol, tolol, gerutuku kepada Melanie. Sudah kubilang, jangan berbuat seperti itu! Jared ada di sini, Jared masih hidup, Jared ada di sini. Melanie kacau, berulang-ulang mengucapkan kata-kata itu, seakan itu lirik lagu. Kucoba memfokuskan pandangan, tapi langit-langit aneh itu membutakanku. Aku berpaling menghindari cahaya, lalu menahan isak tangis ketika gerakanku mengirimkan tusukan-tusukan menyakitkan ke sisi wajah. Rasa sakit akibat pukulan spontan ini nyaris tak tertanggungkan. Harapan apa yang kumiliki, seandainya aku harus menahan serangan bertubi-tubi yang intensif dan terkalkulasi? Terdengar suara kaki diseret di sampingku. Mataku spontan mencari ancaman itu, dan kulihat Uncle Jeb berdiri di dekatku. Tangannya setengah terulur ke arahku, tapi ia ragu, mengalihkan pandangan. Aku mengangkat kepala satu senti, kembali menahan erangan, untuk melihat apa yang dilihatnya. Jared berjalan menghampiri kami, wajahnya seperti orang-orang barbar di padang gurun--walaupun tampak sangat tampan dan sama sekali tidak menakutkan, di dalam kemarahannya. Jantungku seakan rontok, lalu berdetak tidak teratur, dan aku ingin menertawakan diriku sendiri. Adakah artinya jika wajahnya tampan, jika aku mencintainya, ketika ia hendak membunuhku? Aku menatap ekspresi pembunuh di wajah Jared, dan mencoba berharap kemarahan akan mengalahkan akal sehat. Tapi harapanku akan kematian sejati tak terpenuhi.

the host bab 14

Jeb dan Jared bertatapan lama. Rahang Jared menegang dan mengendur, tapi wajah Jeb tenang. Konfrontasi bisu itu berakhir ketika mendadak Jared menghembuskan napas kemarahan dan mundur selangkah. Jeb mengulurkan satu tangan untuk meraih tanganku, sementara tangan satunya memeluk pinggangku untuk menarikku berdiri. Kepalaku berputar-putar dan terasa nyeri; perutku bergolak. Seandainya berhari-hari perutku tidak kosong, mungkin aku sudah muntah. Rasanya seolah kakiku tidak menyentuh tanah. Aku terhuyung-huyung dan limbung ke depan. Jeb menegakkan tubuh, lalu mencengkeram sikuku untuk menjagaku tetap berdiri. Jared menyaksikan semua ini dengan seringai yang memperlihatkan giginya. Seperti orang tolol, Melanie berjuang untuk kembali menghampirinya. Tapi aku sudah mengatasi rasa terkejutku ketika melihat lelaki itu berada di sini, dan saat ini aku lebih pintar daripada Melanie. Melanie takkan menerobos lagi. Aku menguncinya di balik setiap jeruji yang bisa kuciptakan di kepalaku.

Diam sajalah. Tidakkah kaulihat betapa ia membenciku? Apa pun yang kaukatakan akan memperburuk situasi. Kita bakal mati. Tapi Jared masih hidup, Jared ada di sini, bisik Melanie parau.

Keheningan di gua lenyap; bisik-bisik muncul dari setiap sisi, semua bersamaan, seakan aku tak memahami semacam isyarat. Aku tak bisa menangkap arti dalam semua gumaman berdesis itu. Mataku berpindah-pindah di antara kerumunan manusia itu. Semua dewasa, tidak terlihat sosok lebih kecil, lebih muda, di antara mereka. Jantungku nyeri menyadari ketidakhadiran itu, dan Melanie berjuang menyuarakan pertanyaannya. Dengan tegas aku menyuruhnya diam. Tak ada yang patut dilihat disini. Tak ada apa-apa, kecuali kemarahan dan kebencian di wajah orang-orang asing, atau kemarahan dan kebencian di wajah Jared.

the host bab 14
Lalu lelaki lain menyeruak menembus kerumunan yang sedang berbisik-bisik. Tubuhnya kurus tinggi, struktur tulangnya tampak lebih menonjol di balik kulit dibandingkan sebagian besar orang. Rambutnya berwarna pucat, entah cokelat muda atau hanya pirang gelap. Seperti rambut pucat dan tubuhnya yang jangkung, wajahnya lembut dan tirus. Tak tampak kemarahan di wajahnya, dan itulah sebabnya mataku terpaku ke sana. Yang lain memberi jalan kepada lelaki yang tampak sederhana ini, seakan ia punya status tertentu di antara mereka. Hanya Jared yang tidak tunduk kepadanya; ia tetap diam di tempat dan hanya menatapku.

Lelaki jangkung itu menepi menghindari Jared. Tampaknya ia tidak memperhatikan rintangan yang menghadang jalannya itu, seakan Jared hanya setumpuk batu. "Oke, oke," katanya dengan suara ceria yang ganjil, seraya mengitari Jared dan maju menatapku. "Aku di sini. Apa yang kita peroleh?" Aunt Maggie yang menjawab. Ia muncul di siku lelaki itu. "Jeb menemukannya di padang gurun. Dulunya keponakan kami, melanie. Tampaknya dia mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan Jeb kepadanya." Aunt Maggie melayangkan tatapan licik ke arah Jeb. "Mm-hm," gumam lelaki kurus tinggi itu. Matanya menilaiku dengan penasaran. Penilaian itu terasa aneh. kelihatannya ia menyukai apa yang dilihatnya. Aku tidak mengerti mengapa. Pandanganku beralih dari lelaki itu ke perempuan lain. Seorang perempuan muda mengintip dari samping si lelaki; tangannya berada di lengan lelaki itu. Mataku tertarik pada rambut cemerlangnya. Sharon, seru Melanie. Sepupu Melanie itu melihat bahwa aku mengenalinya, dan wajahnya mengeras. Kudorong Melanie dengan kasar ke bagian belakang kepalaku. Shhh! "Mm-hm," ujar lelaki tinggi itu lagi, seraya mengangguk. Ia mengulurkan sebelah tangan ke wajahku, dan terkejut ketika aku menjauh, mundur ke samping Jeb. "Tidak apa-apa," kata lelaki jangkung itu. Ia tersenyum sedikit, membesarkan hatiku. "Aku takkan melukaimu." Kembali ia mengulurkan tangan ke wajahku. Aku mengerut ke samping Jeb seperti sebelumnya, tapi Jeb mengangkat lengannya dan mendorongku maju. Lelaki tinggi itu menyentuh rahang di bawah telingaku--jemarinya lebih lembut daripada yang kubayangkan--lalu ia memalingkan wajahku. Kurasakan jemarinya menyusuri garis di tengkukku, dan kusadari ia sedang meneliti bekas luka akibat penyisipanku. Kuamati wajah Jared dari sudut mata. Tindakan lelaki jangkung ini jelas membuatnya marah, dan kurasa aku tahu mengapa--betapa ia sangat membenci garis merah muda tipis di leherku. Jared memberengut, tapi aku terkejut karena sebagian kemarahannya telah lenyap dari wajahnya. Sepasang alisnya bertaut. Membuatnya tampak bingung. Lelaki tinggi itu menjatuhkan kedua tangannya dan melangkah pergi. Bibirnya mengerut, matanya berseri-seri mendapat semacam tantangan. "Tampaknya dia cukup sehat, walaupun baru saja mengalami keletihan, dehidrasi, dan kurang gizi. Kurasa kau sudah memberinya cukup air, sehingga dehidrasinya takkan mengganggu. kalau begitu, okelah." Ia melakukan gerakan aneh di luar kesadaran, seakan mencuci kedua tangan. "Ayo, kita mulai." Lalu kata-kata dan pemeriksaan singkatnya saling melengkapi, dan aku mengerti. Lelaki yang tampak lembut ini, yang baru saja berjanji tidak akan melukaiku, adalah dokter.

Uncle Jeb mendesah keras dan memejamkan mata. Dokter mengulurkan tangan, mengundangku meletakkan tanganku ke dalam tangannya. Kukepalkan kedua tanganku di balik punggung. Ia kembali memandangku dengan cermat, menilai ketakutan di mataku. Bibirnya mengerut, tapi ia tidak sedang memberengut. Ia sedang memikirkan bagaimana cara memulainya. "Kyle, Ian?" panggil dokter. Ia memanjangkan leher untuk mencari mereka yang dipanggilnya di antara kerumunan. Lututku goyah ketika dua kakak-beradik berambut hitam dan bertubuh besar itu menyeruak maju. "Kurasa aku perlu bantuan. Mungkin, kalau kalian mengangkat--" ujar dokter yang tidak tampak begitu tinggi di sebelah Kyle itu.

"Tidak." Semua menoleh untuk melihat dari mana ketidaksetujuan itu berasal. Aku tak perlu melihat, karena telah mengenali suara itu. Bagaimanapun, aku menatapnya juga. Sepasang alis Jared bertaut di atas mata; bibirnya terkatup rapat membentuk seringai aneh. Begitu banyak emosi melintas di wajahnya, sulit untuk menangkap salah satunya. Kemarahan, penolakan, kebingungan, kebencian, ketakutan... kesakitan. Dokter mengerjapkan mata, wajahnya ternganga terkejut. "Jared? Apakah ada masalah?" "Ya." Semua menunggu.

Di sampingku Jeb menahan ujung-ujung bibirnya, seakan berusaha tidak nyengir. Jika itu benar, selera humor lelaki tua ini sungguh aneh. "Dan apa masalahnya?" tanya dokter. Jared menjawab dengan gigi dikertakkan. "Akan kukatakan masalahnya, Doc. Apa bedanya antara membiarkanmu memilikinya atau membiarkan Jeb menyarangkan peluru di kepalanya?" Aku gemetar. Jeb menepuk-nepuk lenganku. Dokter kembali mengerjap-ngerjapkan mata. "Well." Hanya itu yang diucapkannya. Jared menjawab pertanyaannya sendiri. "Perbedaannya adalah jika Jeb membunuhnya, setidaknya mahluk ini mati dengan bersih." "Jared." Suara dokter menenangkan, nadanya sama seperti yang digunakan tadi kepadaku. "Kita belajar begitu banyak setiap kalinya. Mungkin ini saatnya--" "Hah!" dengus Jared. "Aku tidak melihat banyak kemajuan, Doc."

Jared akan melindungi kita, pikir Melanie samar-samar. Sulit untuk berkonsentrasi membentuk kata-kata. Bukan melindungi kita, hanya melindungi tubuhmu. Hampir sama... Suara Melanie seakan berasal dari jarak tertentu, dari luar kepalaku yang berdentam-dentam. Sharon maju selangkah, sehingga berdiri agak di depan dokter. Itu sikap melindungi yang aneh. "Tak ada gunanya menyia-nyiakan kesempatan," ujar Sharon garang. "Kita semua menyadari ini sulit bagimu, Jared. Tapi pada akhirnya bukan kau yang memutuskan. Kita harus memikirkan yang terbaik untuk kepentingan mayoritas." Jared melotot. "Tidak." Kata itu berupa geraman. Aku tahu jared tidak membisikkan kata itu, walaupun terdengar sangat pelan di telingaku. Sesungguhnya semua mendadak diam. Bibir Sharon bergerak-gerak, jarinya menunjuk Jared dengan garang, tapi yang kudengar hanya desis pelan. Tak seorang pun melangkah maju, dan tampaknya mereka beringsut menjauhiku. Kulihat kakak-beradik berambut gelap itu mendekati Jared dengan wajah marah. Kurasakan diriku mencoba mengangkat tangan untuk memprotes, tapi tangan itu hanya tersentak lemah. Wajah Jared berubah merah, bibirnya membuka, dan urat-urat di lehernya menegang seakan sedang berteriak, tapi tak ada suara yang kudengar. Jeb melepaskan lenganku, dan aku melihat warna kelabu kusam moncong senapan itu terayun ke atas di sampingku. Aku menciut, walaupun senjata itu tidak terarah kepadaku. Gerakanku mengganggu keseimbangan tubuhku, dan kusaksikan ruangan itu miring perlahan-lahan ke satu sisi.

the host bab 14

"Jamie," desahku. Ketika cahaya berputar menjauhi mataku. Wajah Jared tiba-tiba sangat dekat. Ia membungkuk di atas tubuhku dengan raut garang. "Jamie?" desahku kembali, kali ini berupa pertanyaan. "Jamie?" Anak itu baik-baik saja. Jared membawanya kemari." Kupandang wajah Jared yang tampak menderita, dan wajah itu dengan cepat lenyap ke dalam kabut gelap yang menutupi mataku. "Terima kasih," bisikku. Lalu aku tersesat dalam kegelapan. ---

0 comments:

Post a Comment

Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com

The Host Bab 14

Diperdebatkan

Rasanya terlalu berlebihan bagi kami ketika melihat lelaki itu di sini, saat ini, setelah pasrah menerima bahwa kami takkan pernah berjumpa dengannya lagi, setelah percaya kami telah kehilangan dirinya selamanya. Peristiwa ini melumpuhkanku, membuatku tak mampu bereaksi. Aku ingin memandang Uncle Jeb, untuk memahami jawabannya yang menghancurkan hati saat di padang gurun, tapi aku tak mampu menggerakkan mata. Kutatap wajah Jared, tidak mengerti.

the host bab 14
Melanie bereaksi secara berbeda. "Jared," serunya. Lewat tenggorokanku yang rusak, suara itu hanya berupa bisikan parau. Melanie menyentakku ke depan, persis yang dilakukannya di padang gurun, mengambil kendali atas tubuhku yang membeku. Satu-satunya perbedaan adalah, kali ini ia memaksa.

the host bab 14
Aku tak cukup cepat untuk bisa menghentikannya. Melanie menerjang, mengangkat kedua lengannya untuk meraih Jared. Kuteriakkan peringatan kepadanya di dalam kepalaku, tapi ia tidak mendengarkan. Ia bahkan nyaris tidak menyadari keberadaanku. Tak seorang pun mencoba menghentikan Melanie ketika ia terhuyung-huyung menghampiri Jared. Tak seorang pun, kecuali diriku. Tinggal beberapa senti lagi sebelum ia menyentuh Jared, tapi ia masih tidak melihat apa yang kulihat. Ia tidak melihat perubahan wajah Jared setelah perpisahan berbulan-bulan, betapa wajah itu mengeras, betapa gurat-gurat wajahnya tertarik ke beberapa arah berlainan. Melanie tidak melihat senyuman tanpa sadar yang diingatnya takkan cocok di wajah baru ini. Hanya sekali ia pernah melihat wajah Jared berubah kelam dan mengancam, tapi ekspresi itu tak ada apa-apanya dibandingkan ekspresi Jared saat ini. Melanie tidak melihat, atau mungkin tak peduli.

the host bab 14

Jangkauan tangan Jared lebih panjang daripada tanganku. Sebelum Melanie bisa membuat jemariku menyentuh Jared, lengan lelaki itu terulur dan punggung tangannya menghantam sisi wajahku. Pukulan itu begitu keras hingga kedua kakiku meninggalkan tanah, lalu kepalaku terbanting ke lantai batu. Aku mendengar tubuhku membentur lantai dengan suara gedebuk pelan, tapi tidak merasakannya. Bola mataku berputar, suara berdenging memenuhi telinga. Kuperangi rasa pening yang mengancam akan menghilangkan kesadaranku.

the host bab 14

Tolol, tolol, gerutuku kepada Melanie. Sudah kubilang, jangan berbuat seperti itu! Jared ada di sini, Jared masih hidup, Jared ada di sini. Melanie kacau, berulang-ulang mengucapkan kata-kata itu, seakan itu lirik lagu. Kucoba memfokuskan pandangan, tapi langit-langit aneh itu membutakanku. Aku berpaling menghindari cahaya, lalu menahan isak tangis ketika gerakanku mengirimkan tusukan-tusukan menyakitkan ke sisi wajah. Rasa sakit akibat pukulan spontan ini nyaris tak tertanggungkan. Harapan apa yang kumiliki, seandainya aku harus menahan serangan bertubi-tubi yang intensif dan terkalkulasi? Terdengar suara kaki diseret di sampingku. Mataku spontan mencari ancaman itu, dan kulihat Uncle Jeb berdiri di dekatku. Tangannya setengah terulur ke arahku, tapi ia ragu, mengalihkan pandangan. Aku mengangkat kepala satu senti, kembali menahan erangan, untuk melihat apa yang dilihatnya. Jared berjalan menghampiri kami, wajahnya seperti orang-orang barbar di padang gurun--walaupun tampak sangat tampan dan sama sekali tidak menakutkan, di dalam kemarahannya. Jantungku seakan rontok, lalu berdetak tidak teratur, dan aku ingin menertawakan diriku sendiri. Adakah artinya jika wajahnya tampan, jika aku mencintainya, ketika ia hendak membunuhku? Aku menatap ekspresi pembunuh di wajah Jared, dan mencoba berharap kemarahan akan mengalahkan akal sehat. Tapi harapanku akan kematian sejati tak terpenuhi.

the host bab 14

Jeb dan Jared bertatapan lama. Rahang Jared menegang dan mengendur, tapi wajah Jeb tenang. Konfrontasi bisu itu berakhir ketika mendadak Jared menghembuskan napas kemarahan dan mundur selangkah. Jeb mengulurkan satu tangan untuk meraih tanganku, sementara tangan satunya memeluk pinggangku untuk menarikku berdiri. Kepalaku berputar-putar dan terasa nyeri; perutku bergolak. Seandainya berhari-hari perutku tidak kosong, mungkin aku sudah muntah. Rasanya seolah kakiku tidak menyentuh tanah. Aku terhuyung-huyung dan limbung ke depan. Jeb menegakkan tubuh, lalu mencengkeram sikuku untuk menjagaku tetap berdiri. Jared menyaksikan semua ini dengan seringai yang memperlihatkan giginya. Seperti orang tolol, Melanie berjuang untuk kembali menghampirinya. Tapi aku sudah mengatasi rasa terkejutku ketika melihat lelaki itu berada di sini, dan saat ini aku lebih pintar daripada Melanie. Melanie takkan menerobos lagi. Aku menguncinya di balik setiap jeruji yang bisa kuciptakan di kepalaku.

Diam sajalah. Tidakkah kaulihat betapa ia membenciku? Apa pun yang kaukatakan akan memperburuk situasi. Kita bakal mati. Tapi Jared masih hidup, Jared ada di sini, bisik Melanie parau.

Keheningan di gua lenyap; bisik-bisik muncul dari setiap sisi, semua bersamaan, seakan aku tak memahami semacam isyarat. Aku tak bisa menangkap arti dalam semua gumaman berdesis itu. Mataku berpindah-pindah di antara kerumunan manusia itu. Semua dewasa, tidak terlihat sosok lebih kecil, lebih muda, di antara mereka. Jantungku nyeri menyadari ketidakhadiran itu, dan Melanie berjuang menyuarakan pertanyaannya. Dengan tegas aku menyuruhnya diam. Tak ada yang patut dilihat disini. Tak ada apa-apa, kecuali kemarahan dan kebencian di wajah orang-orang asing, atau kemarahan dan kebencian di wajah Jared.

the host bab 14
Lalu lelaki lain menyeruak menembus kerumunan yang sedang berbisik-bisik. Tubuhnya kurus tinggi, struktur tulangnya tampak lebih menonjol di balik kulit dibandingkan sebagian besar orang. Rambutnya berwarna pucat, entah cokelat muda atau hanya pirang gelap. Seperti rambut pucat dan tubuhnya yang jangkung, wajahnya lembut dan tirus. Tak tampak kemarahan di wajahnya, dan itulah sebabnya mataku terpaku ke sana. Yang lain memberi jalan kepada lelaki yang tampak sederhana ini, seakan ia punya status tertentu di antara mereka. Hanya Jared yang tidak tunduk kepadanya; ia tetap diam di tempat dan hanya menatapku.

Lelaki jangkung itu menepi menghindari Jared. Tampaknya ia tidak memperhatikan rintangan yang menghadang jalannya itu, seakan Jared hanya setumpuk batu. "Oke, oke," katanya dengan suara ceria yang ganjil, seraya mengitari Jared dan maju menatapku. "Aku di sini. Apa yang kita peroleh?" Aunt Maggie yang menjawab. Ia muncul di siku lelaki itu. "Jeb menemukannya di padang gurun. Dulunya keponakan kami, melanie. Tampaknya dia mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan Jeb kepadanya." Aunt Maggie melayangkan tatapan licik ke arah Jeb. "Mm-hm," gumam lelaki kurus tinggi itu. Matanya menilaiku dengan penasaran. Penilaian itu terasa aneh. kelihatannya ia menyukai apa yang dilihatnya. Aku tidak mengerti mengapa. Pandanganku beralih dari lelaki itu ke perempuan lain. Seorang perempuan muda mengintip dari samping si lelaki; tangannya berada di lengan lelaki itu. Mataku tertarik pada rambut cemerlangnya. Sharon, seru Melanie. Sepupu Melanie itu melihat bahwa aku mengenalinya, dan wajahnya mengeras. Kudorong Melanie dengan kasar ke bagian belakang kepalaku. Shhh! "Mm-hm," ujar lelaki tinggi itu lagi, seraya mengangguk. Ia mengulurkan sebelah tangan ke wajahku, dan terkejut ketika aku menjauh, mundur ke samping Jeb. "Tidak apa-apa," kata lelaki jangkung itu. Ia tersenyum sedikit, membesarkan hatiku. "Aku takkan melukaimu." Kembali ia mengulurkan tangan ke wajahku. Aku mengerut ke samping Jeb seperti sebelumnya, tapi Jeb mengangkat lengannya dan mendorongku maju. Lelaki tinggi itu menyentuh rahang di bawah telingaku--jemarinya lebih lembut daripada yang kubayangkan--lalu ia memalingkan wajahku. Kurasakan jemarinya menyusuri garis di tengkukku, dan kusadari ia sedang meneliti bekas luka akibat penyisipanku. Kuamati wajah Jared dari sudut mata. Tindakan lelaki jangkung ini jelas membuatnya marah, dan kurasa aku tahu mengapa--betapa ia sangat membenci garis merah muda tipis di leherku. Jared memberengut, tapi aku terkejut karena sebagian kemarahannya telah lenyap dari wajahnya. Sepasang alisnya bertaut. Membuatnya tampak bingung. Lelaki tinggi itu menjatuhkan kedua tangannya dan melangkah pergi. Bibirnya mengerut, matanya berseri-seri mendapat semacam tantangan. "Tampaknya dia cukup sehat, walaupun baru saja mengalami keletihan, dehidrasi, dan kurang gizi. Kurasa kau sudah memberinya cukup air, sehingga dehidrasinya takkan mengganggu. kalau begitu, okelah." Ia melakukan gerakan aneh di luar kesadaran, seakan mencuci kedua tangan. "Ayo, kita mulai." Lalu kata-kata dan pemeriksaan singkatnya saling melengkapi, dan aku mengerti. Lelaki yang tampak lembut ini, yang baru saja berjanji tidak akan melukaiku, adalah dokter.

Uncle Jeb mendesah keras dan memejamkan mata. Dokter mengulurkan tangan, mengundangku meletakkan tanganku ke dalam tangannya. Kukepalkan kedua tanganku di balik punggung. Ia kembali memandangku dengan cermat, menilai ketakutan di mataku. Bibirnya mengerut, tapi ia tidak sedang memberengut. Ia sedang memikirkan bagaimana cara memulainya. "Kyle, Ian?" panggil dokter. Ia memanjangkan leher untuk mencari mereka yang dipanggilnya di antara kerumunan. Lututku goyah ketika dua kakak-beradik berambut hitam dan bertubuh besar itu menyeruak maju. "Kurasa aku perlu bantuan. Mungkin, kalau kalian mengangkat--" ujar dokter yang tidak tampak begitu tinggi di sebelah Kyle itu.

"Tidak." Semua menoleh untuk melihat dari mana ketidaksetujuan itu berasal. Aku tak perlu melihat, karena telah mengenali suara itu. Bagaimanapun, aku menatapnya juga. Sepasang alis Jared bertaut di atas mata; bibirnya terkatup rapat membentuk seringai aneh. Begitu banyak emosi melintas di wajahnya, sulit untuk menangkap salah satunya. Kemarahan, penolakan, kebingungan, kebencian, ketakutan... kesakitan. Dokter mengerjapkan mata, wajahnya ternganga terkejut. "Jared? Apakah ada masalah?" "Ya." Semua menunggu.

Di sampingku Jeb menahan ujung-ujung bibirnya, seakan berusaha tidak nyengir. Jika itu benar, selera humor lelaki tua ini sungguh aneh. "Dan apa masalahnya?" tanya dokter. Jared menjawab dengan gigi dikertakkan. "Akan kukatakan masalahnya, Doc. Apa bedanya antara membiarkanmu memilikinya atau membiarkan Jeb menyarangkan peluru di kepalanya?" Aku gemetar. Jeb menepuk-nepuk lenganku. Dokter kembali mengerjap-ngerjapkan mata. "Well." Hanya itu yang diucapkannya. Jared menjawab pertanyaannya sendiri. "Perbedaannya adalah jika Jeb membunuhnya, setidaknya mahluk ini mati dengan bersih." "Jared." Suara dokter menenangkan, nadanya sama seperti yang digunakan tadi kepadaku. "Kita belajar begitu banyak setiap kalinya. Mungkin ini saatnya--" "Hah!" dengus Jared. "Aku tidak melihat banyak kemajuan, Doc."

Jared akan melindungi kita, pikir Melanie samar-samar. Sulit untuk berkonsentrasi membentuk kata-kata. Bukan melindungi kita, hanya melindungi tubuhmu. Hampir sama... Suara Melanie seakan berasal dari jarak tertentu, dari luar kepalaku yang berdentam-dentam. Sharon maju selangkah, sehingga berdiri agak di depan dokter. Itu sikap melindungi yang aneh. "Tak ada gunanya menyia-nyiakan kesempatan," ujar Sharon garang. "Kita semua menyadari ini sulit bagimu, Jared. Tapi pada akhirnya bukan kau yang memutuskan. Kita harus memikirkan yang terbaik untuk kepentingan mayoritas." Jared melotot. "Tidak." Kata itu berupa geraman. Aku tahu jared tidak membisikkan kata itu, walaupun terdengar sangat pelan di telingaku. Sesungguhnya semua mendadak diam. Bibir Sharon bergerak-gerak, jarinya menunjuk Jared dengan garang, tapi yang kudengar hanya desis pelan. Tak seorang pun melangkah maju, dan tampaknya mereka beringsut menjauhiku. Kulihat kakak-beradik berambut gelap itu mendekati Jared dengan wajah marah. Kurasakan diriku mencoba mengangkat tangan untuk memprotes, tapi tangan itu hanya tersentak lemah. Wajah Jared berubah merah, bibirnya membuka, dan urat-urat di lehernya menegang seakan sedang berteriak, tapi tak ada suara yang kudengar. Jeb melepaskan lenganku, dan aku melihat warna kelabu kusam moncong senapan itu terayun ke atas di sampingku. Aku menciut, walaupun senjata itu tidak terarah kepadaku. Gerakanku mengganggu keseimbangan tubuhku, dan kusaksikan ruangan itu miring perlahan-lahan ke satu sisi.

the host bab 14

"Jamie," desahku. Ketika cahaya berputar menjauhi mataku. Wajah Jared tiba-tiba sangat dekat. Ia membungkuk di atas tubuhku dengan raut garang. "Jamie?" desahku kembali, kali ini berupa pertanyaan. "Jamie?" Anak itu baik-baik saja. Jared membawanya kemari." Kupandang wajah Jared yang tampak menderita, dan wajah itu dengan cepat lenyap ke dalam kabut gelap yang menutupi mataku. "Terima kasih," bisikku. Lalu aku tersesat dalam kegelapan. ---

0 comments on "The Host Bab 14"

Post a Comment