Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta

The Host - Bab 2 bagian 1

Mencuri Dengar

Suara-suara itu lembut dan dekat. Dan walaupun aku baru saja merasakan kehadiran mereka, tampaknya suara-suara itu bergumam di tengah percakapan.
"Aku khawatir ini terlalu berat baginya," kata salah satu. Suara itu lembut, namun dalam. Suara laki-laki. "Terlalu berat bagi siapapun. Penuh kekerasan!" Nadanya, memperlihatkan rasa muak.
"Dia hanya menjerit satu kali," kata suara lain yang lebih tinggi dan melengking. Suara perempuan. Suara itu menunjukkan sedikit rasa senang, seakan baru memenangkan argumen.
"Aku tahu," lelaki itu mengakui. "Dia sangat kuat. Yang lain mengalami jauh lebih banyak trauma, walaupun penyebabnya lebih sedikit."
"Aku yakin dia akan baik-baik saja, persis yang kubilang."
"Mungkin kau melenceng dari Panggilan-mu." Ada nada tajam dalam suara lelaki itu. Ingatanku menyebutnya sindiran. "Mungkin kau ditakdirkan untuk menjadi Penyembuh, seperti aku."
Perempuan itu mengeluarkan suara senang. Tertawa. "Aku meragukannya. Kami, para Pencari, lebih menyukai jenis diagnosis berbeda."
Tubuhku memahami kata ini, sebutan ini: Pencari. Kata itu mengirimkan getar ketakutan ke sekujur tulang belakangku. Reaksi yang tersisa. Tentu saja aku tak punya alasan untuk takut terhadap para Pencari.


"Terkadang aku bertanya-tanya apakah pengaruh kemanusiaan bisa menyentuh mereka yang berprofesi sepertimu," ujar lelaki itu. Suaranya masih masam karena jengkel. "Kekerasan adalah bagian dari pilihan hidupmu. Masih banyakkah temperamen asli tubuhmu yang tersisa,  sehingga kau menikmati kengeriannya?"
Aku terkejut atas tuduhan lelaki itu, terkejut mendengar nada suaranya. Percakapan ini nyaris menyerupai... argumen. sesuatu yang dikenal inangku, tapi belum pernah kualami.

Perempuan ini bersikap defensif. "Kami tidak memilih kekerasan. Kami menghadapinya, jika perlu. Dan kalian semua beruntung karena sebagian kita cukup kuat untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Kedamaian kalian bakal hancur tanpa pekerjaan kami."
"Itu dulu. Kurasa pekerjaanmu akan segera jadi sejarah."
"Kesalahan pernyataan itu sedang berbaring di sana, di tempat tidur."
"Seorang gadis manusia, sendirian dan tidak bersenjata! Ya, cukup mengancam kedamaian kita."
Perempuan itu mengembuskan napas keras-keras. Mendesah.
"Tapi dari mana asalnya? Bagaimana dia bisa muncul di tengah Chicago, kota yang sudah lama beradab, ratusan kilometer dari jejak kegiatan pemberontakan apa pun? Apakah dia bertahan hidup sendirian?"
Tampaknya perempuan itu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tadi tanpa mengharapkan jawaban, seakan ia sudah sering menyuarkan semua pertanyaan itu.

"Itu masalahmu, bukan masalahku," ujar lelaki itu. "Tugasku adalah membantu jiwa ini menyesuaikan diri dengan inang barunya, tanpa mengalami rasa sakit atau trauma yang tidak perlu. Dan kau ada di sini untuk mengganggu tugasku."

Walaupun masih pelan - pelan memulihkan kesadaran, menyesuaikan diri dengan dunia indra-indra baru ini, sekarang aku sadar akulah yang jadi subjek percakapan itu. Akulah jiwa yang sedang mereka bicarakan. Ini konotasi baru bagi kata jiwa, kata yang dulunya memiliki banyak arti lain bagi inangku. Kami menggunakan nama yang berbeda di setiap planet. Jiwa. Kurasa itu penggambaran yang tepat. Kekuatan tak terlihat yang menuntun tubuh.


"Jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku sama pentingnya dengan semua tanggung jawabmu terhadap jiwa itu."
"Itu bisa diperdebatkan."
Terdengar suara gerakan, dan mendadak perkataan perempuan itu berubah jadi bisikan. "Kapan responnya kembali? Mestinya pengaruh obat bius itu sudah hampir hilang."
"Saat dia sudah siap. Biarkan saja. Dia berhak menangani situasinya, dengan cara yang paling nyaman untuknya. Bayangkan keterkejutan yang bakal dialaminya ketika terbangun--di dalam tubuh inang pemberontak yang cedera sampai nyaris mati ketika berusaha meloloskan diri! Seharusnya siapa pun tak perlu mengalami trauma semacam ini di saat-saat damai!" Suara lelaki itu meninggi seiring emosinya.
"Dia kuat." Nada suara perempuan itu kini meyakinkan. "Lihat betapa baiknya dia menangani ingatan pertama. Ingatan terburuk. Apa pun yang dia harapkan, dia berhasil menangani ingatan pertama itu."
"Kenapa dia harus menghadapinya?" gumam lelaki itu, tapi sepertinya ia tidak mengharapkan jawaban.
Perempuan itu toh menjawab juga. "Kalau kita ingin memperoleh informasi yang kita perlukan--"
"Perlu adalah perkataanmu. Aku akan memilih istilah ingin."
"Maka seseorang harus menghadapi ketidaknyamanan itu," perempuan itu melanjutkan, seakan-akan si lelaki tidak menyela perkataannya. "Dan kurasa, dari segala yang kuketahui tentang jiwa yang satu ini, dia akan menerima tantangan itu, seandainya ada cara untuk bertanya kepadanya. Nama apa yang kauberikan kepadanya tadi?"

Lelaki itu terdiam untuk waktu lama. Perempuan itu menanti.
"Wanderer--Pengelana," jawab lelaki itu enggan, pada akhirnya.
"Cocok," ujar perempuan itu. "Aku sama sekali tak punya statistik resmi, tapi agaknya dia termasuk salah satu dari sedikit sekali jiwa--jika bukan satu-satunya--yang telah berkelana sejauh ini. Ya. Wanderer akan cocok untuknya, sampai dia memilih sendiri nama barunya."
Lelaki itu diam saja.
"Tentu saja dia bisa memakai nama inangnya... Kami tidak menemukan kecocokan dalam catatan sidik jari atau pemindaian retina. Aku tidak bisa mengatakan kepadamu siapa namanya."
"Dia takkan menggunakan nama manusia," gumam lelaki itu.
Jawaban si perempuan menenangkan. "Setiap individu menemukan kenyamanan dengan caranya sendiri."
"Dibandingkan sebagian besar individu, Wanderer ini akan memerlukan lebih banyak kenyamanan. Berkat gaya Pencarian-mu."

Teerdengar suara-suara tajam--langkah terputus-putus di atas lantai keras. Ketika kembali berbicara, suara perempuan itu terdengar dari seberang ruangan tempat lelaki itu berada.
"Kau pasti bereaksi buruk terhadap hari - hari awal pendudukan planet ini," ujarnya.
"Mungkin kau yang bereaksi buruk terhadap perdamaian."
Perempuan itu tertawa, tapi suaranya palsu--tak terdengar nada gembira yang sejati. Tampaknya benakku sangat ahli menyimpulkan arti sesungguhnya, berdasarkan nada dan tinggi-rendah suara.

"Kau tidak punya persepsi yang jernih mengenai Panggilan-ku. Berjam-jam membungkuk di atas arsip dan peta. Sebagian besar pekerjaan administrasi.  Jarang terjadi konflik atau kekerasan seperti yang tampaknya kaubayangkan."
"Sepuluh hari lalu kau dilengkapi senjata pembunuh, ketika mengejar tubuh ini."
"Kuyakinkan kau, itu perkecualian, bukan peraturan. Jangan lupa, senjata - senjata yang bagimu menjijikan itu akan terarah pada bangsa kita seandainya kami, para Pencari, tidak cukup waspada. Manusia membunuh kita dengan senang hati kapan pun mereka mampu melakukannya. Jiwa yang kehidupannya pernah disentuh kekerasan akan menganggap kami pahlawan."
"Kau bicara seakan perang sedang berkecamuk."
"Memang, bagi umat manusia yang masih tersisa."
Perkataan ini terdengar lantang di telingaku. Tubuhku bereaksi terhadapnya; kurasakan napasku memburu, kudengar jantungku memompa lebih kencang daripada biasa. Di samping tempat tidur tempatku berbaring, sebuah mesin mencatat peningkatan-peningkatan itu dengan suara teredam. Penyembuh dan Pencari terlalu asyik dengan perselisihan mereka sehingga tidak memperhatikan.

"Tapi mereka pun seharusnya menyadari mereka telah lama kalah perang. Berapa banyak mereka kalah dalam jumlah? Sejuta berbanding satu? Kurasa kau tahu perbandingan tepatnya."
"Kemungkinan menang memang cukup tinggi di pihak kami," dengan enggan perempuan itu mengakui.
Penyembuh tampak puas, dan membiarkan perselisihan berakhir dengan informasi tadi. Sejenak suasana hening.
Kugunakan saat kosong ini untuk mengevaluasi situasiku, yang sebagian besar sudah jelas.

---

0 comments:

Post a Comment

Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com

The Host - Bab 2 bagian 1

Mencuri Dengar

Suara-suara itu lembut dan dekat. Dan walaupun aku baru saja merasakan kehadiran mereka, tampaknya suara-suara itu bergumam di tengah percakapan.
"Aku khawatir ini terlalu berat baginya," kata salah satu. Suara itu lembut, namun dalam. Suara laki-laki. "Terlalu berat bagi siapapun. Penuh kekerasan!" Nadanya, memperlihatkan rasa muak.
"Dia hanya menjerit satu kali," kata suara lain yang lebih tinggi dan melengking. Suara perempuan. Suara itu menunjukkan sedikit rasa senang, seakan baru memenangkan argumen.
"Aku tahu," lelaki itu mengakui. "Dia sangat kuat. Yang lain mengalami jauh lebih banyak trauma, walaupun penyebabnya lebih sedikit."
"Aku yakin dia akan baik-baik saja, persis yang kubilang."
"Mungkin kau melenceng dari Panggilan-mu." Ada nada tajam dalam suara lelaki itu. Ingatanku menyebutnya sindiran. "Mungkin kau ditakdirkan untuk menjadi Penyembuh, seperti aku."
Perempuan itu mengeluarkan suara senang. Tertawa. "Aku meragukannya. Kami, para Pencari, lebih menyukai jenis diagnosis berbeda."
Tubuhku memahami kata ini, sebutan ini: Pencari. Kata itu mengirimkan getar ketakutan ke sekujur tulang belakangku. Reaksi yang tersisa. Tentu saja aku tak punya alasan untuk takut terhadap para Pencari.


"Terkadang aku bertanya-tanya apakah pengaruh kemanusiaan bisa menyentuh mereka yang berprofesi sepertimu," ujar lelaki itu. Suaranya masih masam karena jengkel. "Kekerasan adalah bagian dari pilihan hidupmu. Masih banyakkah temperamen asli tubuhmu yang tersisa,  sehingga kau menikmati kengeriannya?"
Aku terkejut atas tuduhan lelaki itu, terkejut mendengar nada suaranya. Percakapan ini nyaris menyerupai... argumen. sesuatu yang dikenal inangku, tapi belum pernah kualami.

Perempuan ini bersikap defensif. "Kami tidak memilih kekerasan. Kami menghadapinya, jika perlu. Dan kalian semua beruntung karena sebagian kita cukup kuat untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Kedamaian kalian bakal hancur tanpa pekerjaan kami."
"Itu dulu. Kurasa pekerjaanmu akan segera jadi sejarah."
"Kesalahan pernyataan itu sedang berbaring di sana, di tempat tidur."
"Seorang gadis manusia, sendirian dan tidak bersenjata! Ya, cukup mengancam kedamaian kita."
Perempuan itu mengembuskan napas keras-keras. Mendesah.
"Tapi dari mana asalnya? Bagaimana dia bisa muncul di tengah Chicago, kota yang sudah lama beradab, ratusan kilometer dari jejak kegiatan pemberontakan apa pun? Apakah dia bertahan hidup sendirian?"
Tampaknya perempuan itu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tadi tanpa mengharapkan jawaban, seakan ia sudah sering menyuarkan semua pertanyaan itu.

"Itu masalahmu, bukan masalahku," ujar lelaki itu. "Tugasku adalah membantu jiwa ini menyesuaikan diri dengan inang barunya, tanpa mengalami rasa sakit atau trauma yang tidak perlu. Dan kau ada di sini untuk mengganggu tugasku."

Walaupun masih pelan - pelan memulihkan kesadaran, menyesuaikan diri dengan dunia indra-indra baru ini, sekarang aku sadar akulah yang jadi subjek percakapan itu. Akulah jiwa yang sedang mereka bicarakan. Ini konotasi baru bagi kata jiwa, kata yang dulunya memiliki banyak arti lain bagi inangku. Kami menggunakan nama yang berbeda di setiap planet. Jiwa. Kurasa itu penggambaran yang tepat. Kekuatan tak terlihat yang menuntun tubuh.


"Jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku sama pentingnya dengan semua tanggung jawabmu terhadap jiwa itu."
"Itu bisa diperdebatkan."
Terdengar suara gerakan, dan mendadak perkataan perempuan itu berubah jadi bisikan. "Kapan responnya kembali? Mestinya pengaruh obat bius itu sudah hampir hilang."
"Saat dia sudah siap. Biarkan saja. Dia berhak menangani situasinya, dengan cara yang paling nyaman untuknya. Bayangkan keterkejutan yang bakal dialaminya ketika terbangun--di dalam tubuh inang pemberontak yang cedera sampai nyaris mati ketika berusaha meloloskan diri! Seharusnya siapa pun tak perlu mengalami trauma semacam ini di saat-saat damai!" Suara lelaki itu meninggi seiring emosinya.
"Dia kuat." Nada suara perempuan itu kini meyakinkan. "Lihat betapa baiknya dia menangani ingatan pertama. Ingatan terburuk. Apa pun yang dia harapkan, dia berhasil menangani ingatan pertama itu."
"Kenapa dia harus menghadapinya?" gumam lelaki itu, tapi sepertinya ia tidak mengharapkan jawaban.
Perempuan itu toh menjawab juga. "Kalau kita ingin memperoleh informasi yang kita perlukan--"
"Perlu adalah perkataanmu. Aku akan memilih istilah ingin."
"Maka seseorang harus menghadapi ketidaknyamanan itu," perempuan itu melanjutkan, seakan-akan si lelaki tidak menyela perkataannya. "Dan kurasa, dari segala yang kuketahui tentang jiwa yang satu ini, dia akan menerima tantangan itu, seandainya ada cara untuk bertanya kepadanya. Nama apa yang kauberikan kepadanya tadi?"

Lelaki itu terdiam untuk waktu lama. Perempuan itu menanti.
"Wanderer--Pengelana," jawab lelaki itu enggan, pada akhirnya.
"Cocok," ujar perempuan itu. "Aku sama sekali tak punya statistik resmi, tapi agaknya dia termasuk salah satu dari sedikit sekali jiwa--jika bukan satu-satunya--yang telah berkelana sejauh ini. Ya. Wanderer akan cocok untuknya, sampai dia memilih sendiri nama barunya."
Lelaki itu diam saja.
"Tentu saja dia bisa memakai nama inangnya... Kami tidak menemukan kecocokan dalam catatan sidik jari atau pemindaian retina. Aku tidak bisa mengatakan kepadamu siapa namanya."
"Dia takkan menggunakan nama manusia," gumam lelaki itu.
Jawaban si perempuan menenangkan. "Setiap individu menemukan kenyamanan dengan caranya sendiri."
"Dibandingkan sebagian besar individu, Wanderer ini akan memerlukan lebih banyak kenyamanan. Berkat gaya Pencarian-mu."

Teerdengar suara-suara tajam--langkah terputus-putus di atas lantai keras. Ketika kembali berbicara, suara perempuan itu terdengar dari seberang ruangan tempat lelaki itu berada.
"Kau pasti bereaksi buruk terhadap hari - hari awal pendudukan planet ini," ujarnya.
"Mungkin kau yang bereaksi buruk terhadap perdamaian."
Perempuan itu tertawa, tapi suaranya palsu--tak terdengar nada gembira yang sejati. Tampaknya benakku sangat ahli menyimpulkan arti sesungguhnya, berdasarkan nada dan tinggi-rendah suara.

"Kau tidak punya persepsi yang jernih mengenai Panggilan-ku. Berjam-jam membungkuk di atas arsip dan peta. Sebagian besar pekerjaan administrasi.  Jarang terjadi konflik atau kekerasan seperti yang tampaknya kaubayangkan."
"Sepuluh hari lalu kau dilengkapi senjata pembunuh, ketika mengejar tubuh ini."
"Kuyakinkan kau, itu perkecualian, bukan peraturan. Jangan lupa, senjata - senjata yang bagimu menjijikan itu akan terarah pada bangsa kita seandainya kami, para Pencari, tidak cukup waspada. Manusia membunuh kita dengan senang hati kapan pun mereka mampu melakukannya. Jiwa yang kehidupannya pernah disentuh kekerasan akan menganggap kami pahlawan."
"Kau bicara seakan perang sedang berkecamuk."
"Memang, bagi umat manusia yang masih tersisa."
Perkataan ini terdengar lantang di telingaku. Tubuhku bereaksi terhadapnya; kurasakan napasku memburu, kudengar jantungku memompa lebih kencang daripada biasa. Di samping tempat tidur tempatku berbaring, sebuah mesin mencatat peningkatan-peningkatan itu dengan suara teredam. Penyembuh dan Pencari terlalu asyik dengan perselisihan mereka sehingga tidak memperhatikan.

"Tapi mereka pun seharusnya menyadari mereka telah lama kalah perang. Berapa banyak mereka kalah dalam jumlah? Sejuta berbanding satu? Kurasa kau tahu perbandingan tepatnya."
"Kemungkinan menang memang cukup tinggi di pihak kami," dengan enggan perempuan itu mengakui.
Penyembuh tampak puas, dan membiarkan perselisihan berakhir dengan informasi tadi. Sejenak suasana hening.
Kugunakan saat kosong ini untuk mengevaluasi situasiku, yang sebagian besar sudah jelas.

---

0 comments on "The Host - Bab 2 bagian 1"

Post a Comment