Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta

The Host - Prolog


Disisipkan

Nama sang Penyembuh Fords Deep Waters --Mengarungi Perairan Dalam.
Karena ia sesosok jiwa, tentu saja ia serbabaik: penyayang, sabar, jujur, bijak dan penuh cinta. Kecemasan adalah emosi yang tak biasa bagi Fords Deep Waters.
Kejengkelan bahkan lebih langka. Namun karena Fords Deep Waters hidup di dalam tubuh manusia, kejengkelan kadang tak terhindarkan.
Ketika bisik - bisik para murid Penyembuh berdengung jauh di sudut ruang operasi, bibir Fords mengatup erat membentuk garis tipis. Ekspresinya serasa tidak pantas di bibir yang lebih sering membentuk senyuman itu.
Darren, asisten tetapnya, melihat seringai itu dan menepuk bahu Fords. 
"Mereka hanya penasaran, Fords," ujar Darren pelan.

Penyisipan nyaris tak bisa disebut prosedur yang menarik atau menantang. Jiwa di jalanan pun bisa melakukannya dalam keadaan darurat. "Tak ada yang bisa mereka pelajari melalui pengamatan hari ini". Fords terkejut mendengar nada tajam menodai suaranya yang biasanya menenangkan.
"Mereka belum pernah melihat manusia dewasa," kata Darren. 
Fords mengangkat sebelah alisnya. "Butakah mereka terhadap wajah mereka sendiri? Bukankah mereka punya cermin?"
"Kau tahu maksudku. Manusia itu liar. Belum berjiwa. Pemberontak."

Fords memandang tubuh tak sadar gadis itu, yang terbaring menelungkup di meja operasi. Rasa iba memenuhi hatinya ketika mendengar kondisi tubuh rusak malang itu saat para Pencari membawanya ke fasilitas Penyembuhan. Rasa sakit yang diderita gadis itu...


Tentu saja tubuh itu sekarang sempurna---sembuh seutuhnya. Fords telah memastikan hal itu.
"Dia kelihatan sama seperti kita semua," gumam Fords pada Darren. "Kita semua berwajah manusia. Dan saat terbangun dia juga akan jadi salah satu dari kita."
"Menakjubkan bagi mereka. Itu saja."
"Jiwa yang kita sisipkan hari ini patut dihormati, dan tubuh inangnya tidak boleh dipandangi dengan ternganga seperti itu. Banyak sekali yang harus dia hadapi nanti, ketika menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tidak adil membuatnya mengalami ini." Saat mengatakan ini, maksud Fords bukanlah pandangan ternganga. Kembali Fords mendengar nada tajam dalam suaranya sendiri. 

Darren menepuknya lagi. "Semua akan baik - baik saja. Pencari memerlukan informasi dan--"
Ketika mendengar kata Pencari, Fords memberi Darren pandangan yang hanya bisa dijelaskan sebagai melotot. Darren mengerjap terkejut.
"Maaf." Fords langsung minta maaf. "Aku tidak bermaksud bereaksi senegatif itu. Aku hanya mengkhawatirkan jiwa ini." 
Matanya berpindah ke tangki krio di atas dudukannya di samping meja. Lampunya merah suram stabil, menandakan tangki itu berisi dan dalam mode hibernasi.
"Jiwa ini dipilih secara khusus untuk tugas ini," hibur Darren. 
"Dia luar biasa di antara bangsa kita--lebih berani daripada sebagian besar kita. Kehidupan-kehidupan yang pernah dijalaninya membuktikan hal itu. Kurasa dia akan menawarkan diri, seandainya kita bisa menanyainya."
"Siapa diantara kita yang tidak akan menawarkan diri jika diminta melakukan sesuatu demi kebaikan bersama? Tapi apakah memang seperti itu? Tercapaikah kebaikan bersama dengan ini? Yang jadi pertanyaan bukanlah kesediaan jiwa ini, melainkan permintaan apa yang pantas dibebankan kepada jiwa mana pun."

Murid - murid penyembuh juga sedang membahas jiwa yang berhibernasi itu. Fords bisa mendengar bisik - bisik itu dengan jelas; suara mereka kini membumbung, semakin lantang sejalan dengan kegairahan mereka.

"Harap tenang!" Sela Fords. "Kalau kalian tidak bisa mengamati dengan tenang dan profesional, aku harus mengusir kalian."
Dengan malu keenam murid diam dan beringsut menjauh. 
"Ayo kita lanjutkan, Darren."

Semua sudah disiapkan. Obat - obatan yang diperlukan diletakkan di sisi gadis manusia itu. Rambut hitam panjang gadis itu diamankan di balik topi bedah, memaparkan leher jenjangnya. 
Karena dibius total, ia menarik dan mengembuskan napas perlahan - lahan. Kullit cokelatnya yang terpanggang matahari nyaris tak memiliki tanda yang memperlihatkan... Kecelakaan itu.
"Silahkan memulai proses pencairan, Darren."
Asisten berambut kelabu itu sudah menanti di samping tangki krio; tangannya pada tombol. Ia menjentikkan kait pengaman dan memutar tombol. Lampu merah di atas silinder abu - abu kecil itu mulai berkedip - kedip, berkilat makin cepat ketika detik demi detik berlalu, lalu berubah warna. 
Fords berkonsentrasi pada tubuh tak sadar itu. Ia menggoreskan pisau bedah ke kulit di bagian bawah tengkorak subjek dengan gerakan - gerakan kecil dan tepat, menyemprotkan obat untuk menghentikan aliran darah berlebih, lalu melebarkan luka. Dengan lembut ia merogoh ke balik otot - oto leher subjek, berhati - hati agar tidak mencederai otot - otot itu, lalu menyingkapkan tulang - tulang pucat di bagian atas tulang belakang.

"Jiwanya sudah siap, Fords," Darren memberitahu.
"Aku juga. Bawa dia."

Fords merasakan kehadiran Darren di sikunya, dan tanpa melihat pun ia tahu asistennya akan siap, dengan tangan terulur dan menanti. Sudah bertahun - tahun mereka bekerja sama. Fords menahan luka itu agar tetap terbuka.
"Kirim dia pulang," bisiknya.
Gerakan tangan Darren tertangkap mata Fords, kilau perak jiwa yang bangkit berada dalam tangkupan tangannya. 
Fords selalu terpesona saat melihat jiwa yang terpapar. 
Jiwa itu berkilau di tengah lampu - lampu terang ruang operasi, lebih cemerlang daripada instrumen perak mengilat di tangan Fords. Seperti pita hidup, jiwa itu meliuk dan bergetar, menggelliat, merasa senang terbebas dari tangki krio. Kaki - kaki lurus berbulunya, yang nyaris seribu jumlahnya, bergelombang lembut bagai rambut perak pucat. Walaupun semua jiwa indah, jiwa yang satu ini tampak sangat anggun bagi Fords Deep Water.

Bukan hanya Fords yang terpesona. Ia mendengar desah pelan Darren dan gumam kagum para murid. 
Dengan lembut Darren meletakkan mahluk kecil berkilau itu ke celah yang dibuat Fords pada leher si manusia. Jiwa itu meluncur tenang ke dalam ruang yang ditawarkan, lalu menjalinkan diri ke dalam anatomi asing itu. Fords mengagumi keahlian jiwa itu dalam menguasai rumah barunya; kaki - kaki itu membelit kencang, menempatkan diri di sekeliling pusat - pusat saraf, beberapa di antaranya memanjang dan menjangkau lebih dalam, ke tempat yang tak bisa dilihat Fords, ke bawah dan ke atas, ke dalam otak, saraf - saraf penglihatan, kanal - kanal telinga. Gerakan jiwa itu sangat cepat dan mantap. Segera saja hanya satu segmen kecil tubuh berkilaunya yang masih terlihat. 


"Bagus sekali," bisik Fords pada jiwa itu, walaupun ia tahu bisikannya tak bisa didengar. Gadis manusia itulah yang bertelinga, dan ia masih tidur nyenyak.

Penyelesaian pekerjaannya hanya masalah rutin. Fords membersihkan dan menyembuhkan luka itu, mengoleskan salep untuk menutup goresan di belakang jiwa itu, lalu mengusapkan serbuk penghalus luka di atas garis yang tertinggal di leher si gadis.
"Sempurna, seperti biasa," ujar sang asisten. Untuk alasan tertentu di luar pemahaman Fords, asistennya itu tetap memakai nama inang manusianya; Darren.

Fords mendesah. "Aku menyesali  pekerjaan hari ini."
"Kau hanya melaksanakan kewajibanmu sebagai Penyembuh."
"Ini kejadian langka, karena Penyembuhan malah menciptakan luka."

Darren mulai membersihkan tempat kerja mereka. Tampaknya ia tidak tahu harus menjawab apa. Fords memenuhi Panggilannya. Itu cukup bagi Darren.
Tapi itu tidak cukup bagi Fords Deep Water. Ia Penyembuh sejati, sampai pada inti keberadaannya. Dengan gelisah dipandanginya tubuh manusia perempuan yang sedang tidur dengan damai itu, dan tahu kedamaian ini akan langsung hancur setelah tubuh itu terbangun. Semua kengerian akhir hayat perempuan muda ini akan ditanggungkan oleh jiwa tak berdosa yang baru saja ia tempatkan di dalamnya.
Ketika membungkuk di atas tubuh manusia itu dan berbisik di telinganya, Fords berharap setengah mati agar jiwa di dalamnya bisa mendengar perkataannya.
"Semoga beruntung, pengelana kecil, semoga beruntung. Betapa aku berharap kau tidak memerlukan ucapan itu."

---


0 comments:

Post a Comment

Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com

The Host - Prolog


Disisipkan

Nama sang Penyembuh Fords Deep Waters --Mengarungi Perairan Dalam.
Karena ia sesosok jiwa, tentu saja ia serbabaik: penyayang, sabar, jujur, bijak dan penuh cinta. Kecemasan adalah emosi yang tak biasa bagi Fords Deep Waters.
Kejengkelan bahkan lebih langka. Namun karena Fords Deep Waters hidup di dalam tubuh manusia, kejengkelan kadang tak terhindarkan.
Ketika bisik - bisik para murid Penyembuh berdengung jauh di sudut ruang operasi, bibir Fords mengatup erat membentuk garis tipis. Ekspresinya serasa tidak pantas di bibir yang lebih sering membentuk senyuman itu.
Darren, asisten tetapnya, melihat seringai itu dan menepuk bahu Fords. 
"Mereka hanya penasaran, Fords," ujar Darren pelan.

Penyisipan nyaris tak bisa disebut prosedur yang menarik atau menantang. Jiwa di jalanan pun bisa melakukannya dalam keadaan darurat. "Tak ada yang bisa mereka pelajari melalui pengamatan hari ini". Fords terkejut mendengar nada tajam menodai suaranya yang biasanya menenangkan.
"Mereka belum pernah melihat manusia dewasa," kata Darren. 
Fords mengangkat sebelah alisnya. "Butakah mereka terhadap wajah mereka sendiri? Bukankah mereka punya cermin?"
"Kau tahu maksudku. Manusia itu liar. Belum berjiwa. Pemberontak."

Fords memandang tubuh tak sadar gadis itu, yang terbaring menelungkup di meja operasi. Rasa iba memenuhi hatinya ketika mendengar kondisi tubuh rusak malang itu saat para Pencari membawanya ke fasilitas Penyembuhan. Rasa sakit yang diderita gadis itu...


Tentu saja tubuh itu sekarang sempurna---sembuh seutuhnya. Fords telah memastikan hal itu.
"Dia kelihatan sama seperti kita semua," gumam Fords pada Darren. "Kita semua berwajah manusia. Dan saat terbangun dia juga akan jadi salah satu dari kita."
"Menakjubkan bagi mereka. Itu saja."
"Jiwa yang kita sisipkan hari ini patut dihormati, dan tubuh inangnya tidak boleh dipandangi dengan ternganga seperti itu. Banyak sekali yang harus dia hadapi nanti, ketika menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tidak adil membuatnya mengalami ini." Saat mengatakan ini, maksud Fords bukanlah pandangan ternganga. Kembali Fords mendengar nada tajam dalam suaranya sendiri. 

Darren menepuknya lagi. "Semua akan baik - baik saja. Pencari memerlukan informasi dan--"
Ketika mendengar kata Pencari, Fords memberi Darren pandangan yang hanya bisa dijelaskan sebagai melotot. Darren mengerjap terkejut.
"Maaf." Fords langsung minta maaf. "Aku tidak bermaksud bereaksi senegatif itu. Aku hanya mengkhawatirkan jiwa ini." 
Matanya berpindah ke tangki krio di atas dudukannya di samping meja. Lampunya merah suram stabil, menandakan tangki itu berisi dan dalam mode hibernasi.
"Jiwa ini dipilih secara khusus untuk tugas ini," hibur Darren. 
"Dia luar biasa di antara bangsa kita--lebih berani daripada sebagian besar kita. Kehidupan-kehidupan yang pernah dijalaninya membuktikan hal itu. Kurasa dia akan menawarkan diri, seandainya kita bisa menanyainya."
"Siapa diantara kita yang tidak akan menawarkan diri jika diminta melakukan sesuatu demi kebaikan bersama? Tapi apakah memang seperti itu? Tercapaikah kebaikan bersama dengan ini? Yang jadi pertanyaan bukanlah kesediaan jiwa ini, melainkan permintaan apa yang pantas dibebankan kepada jiwa mana pun."

Murid - murid penyembuh juga sedang membahas jiwa yang berhibernasi itu. Fords bisa mendengar bisik - bisik itu dengan jelas; suara mereka kini membumbung, semakin lantang sejalan dengan kegairahan mereka.

"Harap tenang!" Sela Fords. "Kalau kalian tidak bisa mengamati dengan tenang dan profesional, aku harus mengusir kalian."
Dengan malu keenam murid diam dan beringsut menjauh. 
"Ayo kita lanjutkan, Darren."

Semua sudah disiapkan. Obat - obatan yang diperlukan diletakkan di sisi gadis manusia itu. Rambut hitam panjang gadis itu diamankan di balik topi bedah, memaparkan leher jenjangnya. 
Karena dibius total, ia menarik dan mengembuskan napas perlahan - lahan. Kullit cokelatnya yang terpanggang matahari nyaris tak memiliki tanda yang memperlihatkan... Kecelakaan itu.
"Silahkan memulai proses pencairan, Darren."
Asisten berambut kelabu itu sudah menanti di samping tangki krio; tangannya pada tombol. Ia menjentikkan kait pengaman dan memutar tombol. Lampu merah di atas silinder abu - abu kecil itu mulai berkedip - kedip, berkilat makin cepat ketika detik demi detik berlalu, lalu berubah warna. 
Fords berkonsentrasi pada tubuh tak sadar itu. Ia menggoreskan pisau bedah ke kulit di bagian bawah tengkorak subjek dengan gerakan - gerakan kecil dan tepat, menyemprotkan obat untuk menghentikan aliran darah berlebih, lalu melebarkan luka. Dengan lembut ia merogoh ke balik otot - oto leher subjek, berhati - hati agar tidak mencederai otot - otot itu, lalu menyingkapkan tulang - tulang pucat di bagian atas tulang belakang.

"Jiwanya sudah siap, Fords," Darren memberitahu.
"Aku juga. Bawa dia."

Fords merasakan kehadiran Darren di sikunya, dan tanpa melihat pun ia tahu asistennya akan siap, dengan tangan terulur dan menanti. Sudah bertahun - tahun mereka bekerja sama. Fords menahan luka itu agar tetap terbuka.
"Kirim dia pulang," bisiknya.
Gerakan tangan Darren tertangkap mata Fords, kilau perak jiwa yang bangkit berada dalam tangkupan tangannya. 
Fords selalu terpesona saat melihat jiwa yang terpapar. 
Jiwa itu berkilau di tengah lampu - lampu terang ruang operasi, lebih cemerlang daripada instrumen perak mengilat di tangan Fords. Seperti pita hidup, jiwa itu meliuk dan bergetar, menggelliat, merasa senang terbebas dari tangki krio. Kaki - kaki lurus berbulunya, yang nyaris seribu jumlahnya, bergelombang lembut bagai rambut perak pucat. Walaupun semua jiwa indah, jiwa yang satu ini tampak sangat anggun bagi Fords Deep Water.

Bukan hanya Fords yang terpesona. Ia mendengar desah pelan Darren dan gumam kagum para murid. 
Dengan lembut Darren meletakkan mahluk kecil berkilau itu ke celah yang dibuat Fords pada leher si manusia. Jiwa itu meluncur tenang ke dalam ruang yang ditawarkan, lalu menjalinkan diri ke dalam anatomi asing itu. Fords mengagumi keahlian jiwa itu dalam menguasai rumah barunya; kaki - kaki itu membelit kencang, menempatkan diri di sekeliling pusat - pusat saraf, beberapa di antaranya memanjang dan menjangkau lebih dalam, ke tempat yang tak bisa dilihat Fords, ke bawah dan ke atas, ke dalam otak, saraf - saraf penglihatan, kanal - kanal telinga. Gerakan jiwa itu sangat cepat dan mantap. Segera saja hanya satu segmen kecil tubuh berkilaunya yang masih terlihat. 


"Bagus sekali," bisik Fords pada jiwa itu, walaupun ia tahu bisikannya tak bisa didengar. Gadis manusia itulah yang bertelinga, dan ia masih tidur nyenyak.

Penyelesaian pekerjaannya hanya masalah rutin. Fords membersihkan dan menyembuhkan luka itu, mengoleskan salep untuk menutup goresan di belakang jiwa itu, lalu mengusapkan serbuk penghalus luka di atas garis yang tertinggal di leher si gadis.
"Sempurna, seperti biasa," ujar sang asisten. Untuk alasan tertentu di luar pemahaman Fords, asistennya itu tetap memakai nama inang manusianya; Darren.

Fords mendesah. "Aku menyesali  pekerjaan hari ini."
"Kau hanya melaksanakan kewajibanmu sebagai Penyembuh."
"Ini kejadian langka, karena Penyembuhan malah menciptakan luka."

Darren mulai membersihkan tempat kerja mereka. Tampaknya ia tidak tahu harus menjawab apa. Fords memenuhi Panggilannya. Itu cukup bagi Darren.
Tapi itu tidak cukup bagi Fords Deep Water. Ia Penyembuh sejati, sampai pada inti keberadaannya. Dengan gelisah dipandanginya tubuh manusia perempuan yang sedang tidur dengan damai itu, dan tahu kedamaian ini akan langsung hancur setelah tubuh itu terbangun. Semua kengerian akhir hayat perempuan muda ini akan ditanggungkan oleh jiwa tak berdosa yang baru saja ia tempatkan di dalamnya.
Ketika membungkuk di atas tubuh manusia itu dan berbisik di telinganya, Fords berharap setengah mati agar jiwa di dalamnya bisa mendengar perkataannya.
"Semoga beruntung, pengelana kecil, semoga beruntung. Betapa aku berharap kau tidak memerlukan ucapan itu."

---


0 comments on "The Host - Prolog"

Post a Comment