Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta

99 Cahaya di Langit Eropa - Bab 1

0 comments
Hari itu, medio Maret 2008, adalah hari-hari pertamaku menginjak bumi Eropa. Aku mengikuti suamiku Rangga yang mendapatkan beasiswa studi doktoral di Wina, Austria.
Aku datang menyusul 4 bulan setelah suamiku menyelesaikan semua administrasi untuk bisa mengundangku. Sebagai pendatang baru, aku bertekad untuk menghabiskan waktuku dengan berjalan-jalan mengelilingi kota Wina sambil menunggu panggilan kerja di kampus Rangga.
Pada Maret, seharusnya hawa sudah lebih menghangat. Seharusnya pegawai pertamanan mulai menanam bunga warna-warni di alun-alun dan di setiap sudut kota. Seharusnya burung-burung sudah berkicau menyambut matahari yang terlalu irit cahaya pada 6 bulan sebelumnya. Tetapi nyatanya itu tidak terjadi. Tuhan Yang Merajai perubahan alam membuat manusia kecele akan hitung-hitungan cuaca di Eropa. Hawa Maret kali itu dingin tak terkira menusuk tulang. Angin perubahan musim berembus memperburuk keadaan. Burung - burung enggan bernyanyi karena tenggorokan mereka kering dan gatal.
Penghangat di bawah jok bus yang aku tumpangi tak kuasa menantang udara dingin kali itu. Aku terus berusaha menyusutkan badan di dalam mantel musim dinginku. mantel yang cukup tebal dan seharusnya bisa melindungiku dari hawa dingin. Toh aku tetap merinding kedinginan.
"Itu karena suhu tubuhmu masih dalam penyesuaian, Hanum," kata Fatma yang duduk di sebelahku. Kuperkenalkan, Fatma Pasha. Kawan seperjalananku ke sebuah tempat baru di Wina.
Baru dua minggu kami berkenalan. Dan pucuk dicinta ulam tiba, dia seakan tahu aku perlu seorang penunjuk jalan untuk menyusuri sudut-sudut kota Wina.

 
Fatma adalah kawan baruku di kelas Bahasa Jerman di sebuah kursus singkat yang diselenggarakan oleh pemerintah Austria. Di dalam kelas, kami bertemu dengan para pendatang lain di Austria. Sebagian besar murid di kelas itu adalah para pendatang dari Eropa Timur. Hanya aku dan Fatma yang berwajah nonbule.
Meski Fatma juga pemula dalam bahasa Jerman, aku bersandar padanya untuk urusan jalan-jalan kali ini. Peta Wina sudah lekat diingatnya karena dia jauh lebih lama tinggal di Wina untuk ikut suaminya. Lucunya, meski sudah 3 tahun tinggal di Austria, dia masih harus mengenyam kursus Jerman level A1 sepertiku. Bagaimana mungkin?
Alasannya satu, dia tak punya kegiatan yang mendekatkannya pada komunikasi bahasa Jerman sehari-hari. Dia tak bekerja, dia juga tak bersekolah.
"Karena ini, Hanum," ucap Fatma sambil mengarahkan telunjuknya ke kepala.
"Mungkin...," Fatma berhenti bicara seolah mencari ide di kepalanya. "Karena aku berhijab. Aku tak pernah mendapatkan balasan dari perusahaan tempat aku melayangkan lamaran pekerjaan. Jika harus bersekolah, aku tak mampu mengeluarkan biaya," ucap Fatma lirih.
Itulah Fatma, potret seorang imigran Turki di Austria. Pada usia produktif 29 tahun, dia jatuh bangun mengalami puluhan surat lamaran pekerjaan. Karena sehelai kain penutup tempurung kepala yang tampak dalam pas foto curriculum vitae-nya, dia tertolak untuk bekerja secara profesional. paling tidak, itulah pengakuan Fatma kepadaku.
Kami bercakap-cakap lama dalam bus. Sesekali Fatma mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan padaku panorama di luar jendela. Indah memang pemandangan kali itu. Kali pertama aku melihat gunungan tipis putih membubuh di atas daun-daun yang berusaha kembali bersemi. Putih seperti bunga es dala kulkas. Sebagian besar telah mengeras menjadi kristal es. Setiap ban bus melindasnya, bunyi gemeretak pun berdecak-decak. Oh, ini yang namanya salju.
Salju kali itu adalah yang pertama kulihat di Eropa. Tapi salju ini bukanlah salju segar yang diluruhkan langit tadi malam. Salju ini salju terakhir yang masih berusaha bertahan di tengah asumsi musim semi yang akan segera tiba. Hamparan sisa-sisa salju yang berserakan di daun-daun ini hampir saja membuatku terbuai. Melupakan sebuah pertanyaan yang sempat hinggap di kepala tentang dilema yang dialami Fatma, sebelum akhirnya pertanyaan itu kembali berkelebat di otakku.
"Fatma, maaf jika aku menyinggungmu. Kenapa kau tak berpikir, mungkin mmm...kualifikasimu kurang sesuai, atau pengalaman kerjamu kurang sehingga perusahaan di sini tidak menerimamu?" ucapku terbata-bata. Terbata-bata karena takut menyinggung perasaannya. Terbata-bata karena memang kemampuan bahasa Jermanku masih berada di dasar laut.
"Ah, tadinya kupikir juga demikian, Hanum. Sampai kuturunkan pilihanku. Katakan padaku, apakah profesionalitas dan kompetensi sangat dibutuhkan sekadar untuk menjadi portir dalam dapur?"
Aku terdiam. Portir di dapur. Aku melihat diriku sendiri. Aku sendiri tak berjilbab. Bagaimanapun, aku akan berpikir berkali-kali untuk mengambil pekerjaan sehari-hari mengangkat-angkat barang berat, atau gampangnya menjadi buruh kasar perempuan. Namun untuk Fatma, meski dia telah rela menjadi buruh agar tetap bisa bekerja, perusahaan-perusahaan di Austria tetap menolaknya.
Entah mengapa aku tertarik berdiskusi tentang isu jilbab dan pekerjaan ini dengan Fatma. Rasanya penasaran saja. Di Indonesia, perempuan berjilbab bisa berkarier sampai puncak. Di Eropa? Apalagi di Austria? Bagi Fatma, meski mendapatkan izin bekerja dari pemerintah dan juga dari suaminya, tetap tak ada artinya. Musykil perusaan di Austria mau menerimanya. Dia harus mengubur dalam-dalam harapan menjadi perempuan yang mengenal dunia kerja Sekarang tekadnya hanya satu: menjadi perempuan solehah yang menjaga keluarga dan keharmonisan rumah tangga. Itu saja, katanya.
"Fatma, kauambil sisi baiknya. Jika kau bekerja, siapa yang akan mengurusnya?" tanganku menunjuk bocah perempuan yang tertidur lelap di sebelahnya, yang tak lain adalah Ayse, anak Fatma yang berusia 3 tahun. Fatma tersenyum sambil mengelus-elus rambut putri semata wayangnya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Aku tahu dia sedang berpikir bahwa perkataanku mungkin ada benarnya.
http://ceritanovelonline.blogspot.com
Perjalanan ke tempat baru di Austria ini adalah ide Fatma saat pertemuan hari pertama di kelas bahasa Jerman. Aku selalu yakin, berkenalan dengan orang baru itu harus dengan cara yang mengesankan. Bagiku kalimat: "Hai, namaku Hanum. Namamu siapa? Senang berrkenalan denganmu" terdengar sangat membosankan. Kurang memberi impresi terhadap calon kawan.
Karena itu kusorongkan coklat bergambar sapi terlilit lonceng kepada Fatma yang duduk di sebelahku, "Magst du schokolade. Maukah kau cokelat ini?" tanyaku sambil mempraktikan bahasa Jerman dasarku. Kubuka sedikit kecemasan cokelat yang langsung  menyembulkan batang-batang cokelat dari balik lapisan dalamnya.
"Ah, Milka!" Fatma tampaknya kenal akrab dengan nama cokelat ini.
"Ich mag Milka gern. Aber...danke, Ich faste. Saya sangat suka cokelat Milka. Tapi...terima kasih, saya sedang berpuasa," jawab Fatma santun.
Tadinya aku agak kecewa karena penawaranku ditolaknya. Namun aku senang, karena penolakannya didasarkan sebuah ibadah yang aku tahu benar maknanya. Sejurus kemudian, kututup lagi kemasan cokelat yang sudah terlanjut robek itu, lalu kujulurkan kembali kepada Fatma.
"Ambillah untuk berbuka puasa nanti. Kau berpuasa Senin-Kamis, ya?"
Fatma terlihat begitu girang mendengar responku yang paham tentang puasa yang dilakoninya. Dengan bahasa Jerman seadanya, jadilah kami kawan dekat sejak itu. Fatma menjadi rahmat buatku. Rahmat pertemanan dari sebatang cokelat.

 

Setiap istirahat kelas yang berdurasi 15 menit, Fatma mengajakku shalat zuhur berjamaah. Awalnya aku kebingungan, mana mungkin institusi sekuler semacam kursus bahasa ini menyediakan langgar atau mushala? Tidak mudah menemukan tempat ibadah shalat di Eropa. Namun Fatma panjang akal. Dia menemukan sebuah tempat--walau kurang representatif untuk shalat, tetapi suasana di sana cukup khidmat--yaitu ruang penitipan bayi dan anak para peserta kursus bahasa. Setiap kali kursus, kami berdua shalat zuhur, menyempil di antara bayi dan balita yang tengah tergeletak tertidur pulas. Dengkuran dan dengusan lirih bayi mungil justru membuat shalat kami semakin khusyuk.
Karena aku muslimah, Fatma merasa mempunyai saudara dekat di kelas tersebut. Karena itu juga dia merelakan waktu akhir pekannya untuk mengajakku berkeliling kota. Memamerkan kota Wina kepada pendatang baru, tepatnya.
"Kau pernah melihat kecantikan kota Wina dari atas gunung, Hanum? Kalau belum, esok selesai kelas kau harus melihatnya!" Itulah ajakan jalan-jalan Fatma pertama kali di kelas.

99 Cahaya di Langit Eropa - Overture

0 comments
Sebuah kota di Eropa Barat, 11 September 1683
Malam semakin merayap, dingin pada akhir musim panas yang semakin memuncak. Laki-laki tua itu menunggu di dalam barak.
Seharusnya hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu untuk melancarkan aksinya. Semua sudah terencana rapi. Penantian hampir 100 tahun akhirnya akan segera terwujud. Dia akan dielu-elukan sebagai panglima perang paling besar pada zamannya.
Namun, mendung yang kelam di langit membuat dirinya menangguhkan niat. Dia mempunyai firasat buruk. Hujan akan memporak-porandakan semua rencana yang sudah tersusun rapi.  Dia tidak mau menghantam musuh saat hari hujan, mengulang kesalahan panglima perang sebelumnya.
Laki-laki itu terduduk di atas kursi kayu mempelajari sebuah peta. Dia membelai-belai jenggotnya yang panjang sambil mengangguk - angguk sendiri. Matanya tak berkedip memandang titik-titik di atas peta. Selain titik-titik itu, deretan garis yang menghubungkan titik-titik itu juga membuatnya tersenyum puas. Puas oleh gambaran peta yang baru saja diberikan oleh penasihatnya.
Peta pengepungan sebuah kota.
Seorang laki-laki lain tiba-tiba masuk ke dalam barak. Dia membawa pesan penting.
"Panglima, lapor!" seru laki-laki tadi saat menghadap laki-laki tua itu di barak.
"Penasihat, apa yang akan kausampaikan?
Kuharap berita baik," kata laki-laki tua itu.
"Siap Panglima, tinggal satu titik lagi. Pasukan kita sudah membuat terowongan bawah tanah di sini separuh jalan," kata sang penasihat menunjuk salah satu deret garis yang menghubungkan titik-titik di atas peta.
"Hingga hari ini kita sudah berhasil membuat 257 terowongan  ke pusat kota. Orang-orang terbaik telah kita tempatkan. Ahli peledak juga telah kita perintahkan untuk siap sedia. Jika tak ada aral melintang, besok adalah hari bersejarah bagi kita semua," tambah penasihat itu mantap, menerangkan kemajuan rencana penyerangan.
"Berapa prajurit Sipahi dan Janissari yang kita punya untuk melakukan serangan?"
"Tujuh ribu orang lebih, Panglima."
"Lalu, bagaimana kondisi kavaleri kita hingga saat ini?"
Kita kehilangan banyak, tetapi tak sebanyak lawan. Tujuh puluh tujuh ribu tentara sudah termobilisasi di depan benteng lawan."
"Jangan pernah lengah. Awasi terus sepanjang benteng. Jangan biarkan satu orang pun keluar dari sela-sela benteng. Kita akan kepung mereka sampai mereka kelaparan. Jika sampai ada yang akan melarikan diri, tangkap dan kita interogasi mereka!" perintah laki-laki tua itu lantang. Dia diam sejenak setelah penasihatnya berkata "Siap" dengan mantap. Lalu ada hening di sana.
"Bagaimana dengan mata-mata kemarin yang tertangkap?" tanya laki-laki tua itu lagi.
"Sudah dipancung. Bahasa Turki mereka bagus, tapi mereka gagal menerjemahkan sand-sandi dari pasukan kita," jawab penasihat itu dengan tegas.
"Kalau begitu, simpan energi kita. Sebelum siang kita gempur lawan! Jangan memulai serangan kecuali ada serangan dari dalam benteng. Tuhan bersama kita!" tutup laki-laki tua itu sambil mengibaskan tangannya ke arah penasihatnya. Sebuah tanda agar penasihatnya keluar dari barak.
"Siap, Panglima. Tuhan bersama kita," timpal penasihat itu. Namun, penasihat itu tak beranjak. Masih ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
"...Mmm... Panglima... Apakah Panglima juga berkenan mendengar berita lainnya? Hanya saja berita ini sedikit kurang baik...," ucap penasihat itu terbata-bata.
Mata laki-laki tua itu tiba-tiba melotot. Dia seperti tak percaya. Ini adalah detik-detik yang menentukan. Seharusnya tak ada lagi berita buruk!
Laki-laki tua itu tak menjawab penasihatnya. Penasihatnya pun tak berani bersuara sedikit pun. Dia menunduk penuh ketakutan. Namun dia tahu, pesan ini harus disampaikan kepada orang yang paling bertanggung jawab dalam misi penaklukan ini.
"Katakan!" Suara berat laki-laki tua itu akhirnya keluar juga. Penasihatnya yang beberapa menit bergeming dalam posisinya akhirnya angkat bicara.
"Mereka tidak menyerang, Panglima. Tetapi anak buah kita melihat tembakan api terus-menerus dilontarkan ke udara dari dalam benteng," jawab penasihat itu dengan satu tarikan napas. Dia seperti tak tahu harus menjawab apa jika ditanya pemimpinnya tentang hal aneh itu.
Lontaran sekam berapi. Ada dua kemungkinan, sandi untuk pasukan bantuan... atau pertanda penyerahan diri... Tapi jika itu adalah penyerahan diri, seharusnya, seorang kurir sudah dikirim ke dalam barak. Jadi ini adalah...
Hanya itu yang ada di pikiran laki-laki tua itu. Orang-orang di dalam kota itu telah meminta bala bantuan dari luar!
Laki-laki tua itu bangkit dari tempat duduknya yang empuk, berjalan di depan penasihatnya yang masih berdiri tertegun. Lalu dia berlari keluar barak nyamannya, menyingkap tirai, lalu menatap bebas pemandangan yang ada di depannya.
Sebuah benteng kokoh nan tinggi menjulang berdiri di hadapannya. Laki-laki tua itu terus memandang sekeliling. Dengan pencahayaan lampu - lampu api yang dipasang di tiap-tiap barak kecil milik pasukannya, laki-laki itu berjalan sendiri di tengah rintik hujan. Pandangannya kali ini tak terbatas. Kota yang dia kepung ini telah dia pelajari seluk-beluknya berbulan-bulan. Laki-laki tua itu yakin tak ada yang tercecer dari rencananya, hingga dia menyadari sesuatu hal... kota ini dikepung oleh perbukitan tinggi!
Lalu dia teringat sesuatu lagi... dua mata-mata musuh yang tertangkap. Jika musuh mengirim mata-mata, mereka tentu tak akan mengirim hanya satu atau dua. mereka pasti memperbanyak kemungkinan...
Mungkinkah ada mata-mata musuh lain yang berhasil meloloskan diri dari puluhan ribu barak di luar benteng ini hingga mencapai bukit itu? Laki-laki tua itu bergetar. Dia tak percaya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Laki-laki tua itu terduduk lagi di singasananya dalam barak itu. DIa tak bisa tidur nyenyak.

http://ceritanovelonline.blogspot.com/

12 September 1683
Pagi telah menyongsong, namun salak anjing-anjing pemburu masih terdengar bersahutan. Seolah mereka ahli nujum yang menyampaikan hal buruk yang akan terjadi.
Laki-laki tua itu keluar dari barak lagi. Dia termenung memandang sekeliling. Hatinya bergejolak dasyat.
Siapakah sebenarnya yang aku bela dalam perang ini? Diriku sendiri? Sultanku? Agamaku? Atau ketamakanku?
Tidak ada yang berubah dari benteng yang tinggi kokoh itu. Rakyat berhasil membuat benteng terkuat dan termegah yang pernah ada di Eropa.
Nyala lampu api gantung semakin redup. Laki-laki tua itu membuka lipatan peta strategi pertempuran tadi malam. Titik-titik di peta dari kulit sapi itu menggambarkan bastion benteng kota yang bagian bawahnya dipasangi bubuk peledak. Jika dia menyeru "serbu" pada pasukannya, bastion-bastion benteng akan langsung meledak.
Di dalam benteng, tiba-tiba sebuah loncatan api terpelanting ke udara beberapa kali. SInyal permintaan bantuan dari dalam benteng kembali diletupkan.
Laki-laki tua itu menengok ke arah bukit di belakangnya. Bukit itu satu-satunya belantara yang tidak pernah dia perhitungkan. Dia berpikir cepat. Dia yakin musuhnya telah meminta bantuan dari luar, namun bantuan itu belum kunjung tiba. Jika perhitungannya benar, bantuan itu seharusnya akan datang hari ini. Artinya, dia harus lebih dulu menaklukan kota sebelum orang-orang kota mendapatkan bantuan dari luar.
Dia berketatapan hati. Sebelum matahari tergelincir, kota berbenteng itu harus digenggam!
Tapi agaknya semua sudah terlambat. Penasihatnya datang tergopoh-gopoh kepadanya.
"Panglima, pasukan gabungan Polandia dan Jerman mengirim pesan kepada kita. Mereka telah mengepung kita dari balik bukit, meminta kita mundur. Mohon maafkan hamba. Hamba tak bisa menjawab berapa kekuatan pasukan mereka."
Rasa panik tiba-tiba menyerang laki-laki tua itu. Tubuhnya bergetar lagi. Dia sadar, kini dirinya yang sebenarnya sedang dikepung musuh. Dari 2 arah! Musuh di dalam benteng dan musuh dari luar benteng.
Laki-laki tua itu tercenung. Dia gundah. Tapi baginya, ini semua adalah titik tanpa kembali. Dia takkan mundur barang selangkah pun.
"Bagikan pasukan menjadi 2! Siapkan semua Janissari dan Sipahi untuk menghadapi aliansi mereka di bukit. Sisanya menyerbu benteng bersamaku! Sekarang ini juga, perintahkan penyerbuah! Allah bersama kita..."

http://ceritanovelonline.blogspot.com/
 
Allah bersama kita
Itulah kata-kata terakhir laki-laki tua itu sebelum akhirnya dia menghunus pedang bersama pasukan kavalerinya, menghantam apa saja yang dilewatinya. Membakar semua rumah dan gubuk penduduk. Suara meriam dari pasukan artileri bergedebum-debum menggetarkan bumi dan langit siang itu. lalu suara ledakan dari bawah tanah pun berdentum menyobek permukaan tanah dan meruntuhkan bastion-bastion benteng.
Laki-laki tua itu sudah benar memperhitungkan semuanya. Hari ini adalah hari yang tenang tanpa hujan dan angin. Semua bubuk peledak juga meledak sesuai target. Namun kali ini, di atas kudanya, tiba-tiba dia merasa lemah. Teriakan "Allahu Akbar" yang terus dia kumandangkan dengan ribuan pasukannya tiba-tiba melemah. Matanya berkunang-kunang.
Tidak ada yang salah dengan semua rencana ini. Tapi ada rasa bersalah yang tiba-tiba menjalari dirinya. Sebuah bisikan datang dari lubuk hatinya. Seperti suara orang-orang yang datang dari alam masa depan. Suara anak, cucu, dan cicitnya yang belum hadir di muka bumi ini. Suara-suara itu memintanya untuk menangguhkan penaklukan kota ini.
Tapi laki-laki tua itu tak bisa berpikir jernih lagi. Di atas kudanya dia baru menyadari apa sebenarnya yang dia bela.
Laki-laki tua itu terus memacu kudanya, namun pandangan matanya semakin kabur. Jantungnya berdegup kencang. Kontrolnya terhadap kuda begitu limbung. Dia terperosok ke dalam parit yang dibuatnya sendiri. Jatuh terjerembab ke dasar parit dalam.
Sangat dalam...

The Host - Bab 20

0 comments
Dibebaskan

Jeb membiarkanku menangis habis-habisan tanpa menggangguku. Ia tidak berkomentar ketika kemudian aku terisak-isak. Ketika aku sudah diam selama kira-kira setengah jam, barulah ia bicara.
 
"Kau masih terjaga?"
Aku tidak menjawab. Aku sudah sangat terbiasa dengan kesunyian.
"Kau ingin keluar dan meregangkan tubuh?" tawanya. "Memikirkan lubang tolol itu saja sudah membuatku sakit punggung."
Ironisnya, mengingat waktu satu minggu yang kuhabiskan dalam kesunyian yang membuatku sinting, aku malah merasa tak ingin ditemani. Tapi tawaran Jeb tidak mampu kutolak. Sebelum aku bisa memikirkannya, kedua tanganku sudah menarikku melewati lubang keluar.
Jeb sedang duduk bersila di atas kasur. Kuamati reaksinya ketika aku mengguncang-guncang lengan dan kaki serta memutar bahu, tapi ia tetap memejamkan mata. Seperti saat Jamie berkunjung, ia tampak sedang tidur.
Sudah berapa lama sejak aku melihat Jamie? Dan bagaimana keadaannya sekarang? Hatiku yang sudah nyeri sedikit berguncang secara menyakitkan.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Jeb. Matanya terbuka.
Aku mengangkat bahu.
"Kau tahu, semua akan baik-baik saja." Ia nyengir lebar sekali, hingga wajahnya meregang. "Hal-hal yang kukatakan kepada Jared... Well, aku tak mau mengatakan aku berbohong, karena semua itu benar, jika kau memandangnya dari sudut tertentu. Tapi dari sudut lain, semua itu tidak terlalu benar, dan lebih tepat jika dibilang itu yang perlu didengar Jared."
Aku hanya menatap Jeb, tidak memahami sepatah kata pun yang ia ucapkan.
"Bagaimanapun, Jared perlu istirahat dari ini. Bukan darimu, Nak," imbuhnya cepat-cepat, "tapi dari situasi ini. Dia akan mendapat perspektif baru selama kepergiannya."

Aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin Jeb bisa tahu persis kata-kata dan frasa-frasa apa yang bakal menyakitiku. Dan, terlebih lagi, mengapa Jeb peduli seandainya kata-katanya menyakitiku, atau bahkan seandainya punggungku sakit dan berdenyut-denyut? Kebaikan hatinya terhadapku terasa menakutkan, karena tak bisa dipahami. Setidaknya tindakan-tindakan Jared masuk akal. Usaha pembunuhan Kyle dan Ian, kegairahan dokter itu untuk menyakitiku--semua perilaku itu juga logis. Bukan kebaikan hati. Apa yang diinginkan Jeb dariku?

"Jangan murung begitu," desak Jeb. "Ini ada sisi baiknya. Jared benar-benar keras kepala soal kau. Dan, karena sekarang dia sudah tak lagi terlibat, seharusnya segalanya lebih nyaman."
Alisku berkerut ketika mencoba memahami maksud Jeb.
"Misalnya," lanjut Jeb. "Ruangan ini biasanya kami gunakan untuk gudang. Nah, ketika Jared dan sobat-sobatnya kembali, kita memerlukan tempat untuk meletakkan semua barang yang mereka bawa pulang. Jadi, sekarang kita harus mencari tempat baru untukmu juga. Tempat yang lebih besar, mungkin? Yang memiliki tempat tidur?" Ia kembali tersenyum ketika mengiming-imingiku.

Aku menunggunya berhenti bicara dan mengatakan kepadaku ia bergurau.
Tapi mata Jeb--yang sewarna jins pudar--berubah amat, sangat lembut. Sesuatu mengenai ekspresi di dalam matanya kembali membuat tenggorokanku tercekat.
"Kau tak perlu kembali ke lubang itu, Sayang. Bagian terburuknya sudah lewat."
Aku mendapati diriku tak bisa meragukan tatapan tulus di wajah Jeb. Untuk kedua kali dalam waktu satu jam, kuletakkan wajah ke dalam tangan dan aku menangis.
Jeb bangkit berdiri dan menepuk-nepuk bahuku dengan canggung. Tampaknya ia tidak nyaman dengan air mata. "Sudah, sudah," gumamnya.
Kali ini aku bisa menguasai diri lebih cepat. Ketika aku mengusap mataku yang basah dan tersenyum ragu kepadanya, Jeb mengangguk setuju.
"Gadis baik," ujarnya, kembali menepuk-nepukku. "Nah, kita harus tetap di sini, sampai yakin Jared sudah benar-benar pergi dan tak bisa memergoki kita." Ia nyengir penuh persekongkolan. "Lalu kita akan bersenang-senang!"

Seingatku, gagasan Jeb untuk bersenang-senang biasanya berhubungan dengan perselisihan bersenjata.
Jeb tergelak melihat ekspresi wajahku. "Jangan khawatir. Sementara menunggu, kau sebaiknya mencoba beristirahat. Aku berani bertaruh, kasur tipis itu pun akan terasa sangat nyaman untukmu saat ini."

Kupandang wajah Jeb, lalu kasur di lantai, lalu kupandang lagi wajahnya.
"Ayolah," ujarnya. "Kelihatannya kau bisa memanfaatkan tidur yang nyaman. Aku akan menjagamu."
Dengan terharu, diiringi kelembaban baru di mataku, kujatuhkan tubuhku ke kasur dan kuletakkan kepalaku pada bantal. Serasa surga, walaupun Jeb menyebutnya tipis. Aku meregangkan sekujur tubuhku, meluruskan jari-jari kaki, dan menjangkau ke atas dengan jari-jari tangan. Aku mendengar sendi-sendiku berkeretak. Lalu kubiarkan diriku luruh ke dalam kasur. Rasanya seakan kasur itu memelukku, menghapuskan semua bagian yang sakit. Aku mendesah.
"Menyenangkan melihatmu seperti itu," gumam Jeb. "Ketika mengetahui seseorang menderita di bawah atap rumahmu sendiri, rasanya seperti gatal yang tidak bisa kaugaruk."

Jeb menjatuhkan diri ke lantai beberapa meter dariku, dan mulai bersenandung pelan. Aku sudah tertidur sebelum ia menyelesaikan bait pertama.
Ketika terbangun, aku tahu aku telah tidur nyenyak lama sekali--lebih lama daripada sebelumnya, semenjak datang kemari. Tak ada rasa sakit, tak ada gangguan-gangguan mengerikan. Seharusnya aku merasa sangat nyaman, tapi terbangun di atas bantal mengingatkanku bahwa Jared sudah pergi. Baunya masih seperti bau Jared. Dan dalam artian yang baik, tidak seperti bau tubuhku.
Jared kembali menjadi mimpi, desah Melanie pilu.

Aku hanya bisa mengingat mimpiku samar-samar, tapi aku tahu itu berhubungan dengan Jared, seperti yang biasa terjadi ketika aku bisa tidur cukup nyenyak hingga bermimpi.

"Pagi, Nak," sapa Jeb. Ia terdengar ceria.
Kubuka kelopak mataku untuk memandangnya. Apakah ia duduk bersandar di dinding semalamam? Ia tidak tampak lelah, tapi mendadak aku merasa bersalah karena telah memonopoli akomodasi yang lebih baik.
"Nah, mereka sudah lama pergi," ujar Jeb antusias. "Bagaimana kalau kita berjalan-jalan? Tanpa sadar ia membelai senapan yang menggantung di pinggangnya.
Mataku terbuka lebih lebar, menatapnya tak percaya. Jalan-jalan?
"Nah, jangan takut kepadaku. Tak seorang pun akan mengganggumu. Dan akhirnya kau toh harus bisa ke mana-mana sendiri di sekitar sini."

Jeb mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.
Aku menyambutnya. Kepalaku berputar-putar ketika aku mencoba memahami perkataan Jeb. Aku harus bisa ke mana-mana sendiri di sekitar sini? Mengapa? Dan apa yang dimaksudkannya dengan "akhirnya"? Berapa lama ia mengharapkanku bertahan hidup?

Jeb menarikku berdiri dan menuntunku berjalan.
Aku sudah lupa bagaimana rasanya bergerak melewati terowongan-terowongan gelap itu dengan tangan yang menuntunku. Begitu mudah--nyaris tidak memerlukan konsentrasi sama sekali.

"Baiklah," gumam Jeb. "Mungkin sayap kanan dulu. Memberikan tempat yang layak untukmu. Lalu dapur..." Ia terus merencanakan turnya, melanjutkan ketika kami melangkah melewati celah sempit itu ke dalam terowongan terang menuju ruang besar yang bahkan lebih terang lagi. Ketika terdengar suara-suara, mulutku berubah kering. Jeb terus mengajakku bicara, entah tidak menyadari atau mengabaikan ketakutanku.

"Aku berani bertaruh, wortel-wortelnya mulai tumbuh hari ini," ujar Jeb, ketika menuntunku ke plaza utama. Cahayanya membutakan. Aku tak bisa melihat siapa yang berada di sana, tapi bisa merasakan tatapan mereka yang tertuju kepadaku. Keheningan mendadak itu terasa mengancam, seperti biasa.

"Yep," jawab Jeb pada diri sendiri. "Nah, bagiku mereka selalu tampak sangat indah. Hijau musim semi yang menyenangkan seperti itu enak dilihat."
Ia berhenti, lalu merentangkan tangan, mengundangku melihat. Aku menyipitkan mata ke arah yang ditunjukkannya, tapi terus-menerus melirik ke sekeliling ruangan ketika menunggu mataku menyesuaikan diri. Perlu sejenak, tapi kemudian aku melihat apa yang dibicarakan Jeb. Aku juga melihat ada sekitar lima belas orang di sini hari ini, dan mereka juga sibuk mengerjakan hal lain.
Bidang persegi empat luas dan gelap yang memenuhi bagian tengah ruang gua besar itu tak lagi gelap. Setengah bidang itu ditutupi warna hijau musim semi, persis yang dikatakan Jeb. Cantik. Dan menakjubkan.
Tak heran tak seorang pun berdiri di bagian yang itu. Ternyata itu kebun.
"Wortel?" bisikku.
Jeb menjawab dengan volume normal. "Setengah bagian yang sedang tumbuh menghijau ini. Setengahnya lagi bayam. Akan kelihatan dalam beberapa hari."

Orang-orang di dalam ruangan telah kembali bekerja, sambil sesekali mengintipku, tapi mereka terutama berkonsentrasi dengan apa yang sedang mereka lakukan. Cukup mudah untuk memahami kegiatan mereka--dengan gerobak besar dan slang-slang--setelah kebun itu kukenali.
"Irigasi?" bisikku kembali.
"Benar. Air cepat sekali mengering di udara sepanas ini."
Aku mengangguk mengiyakan. Kurasa masih pagi, tapi aku sudah berkeringat. Panas yang berasal dari cahaya luar biasa di atas kepala itu menyesakkan di dalam ruang-ruang gua. Kucoba untuk meneliti kembali langit-langit, tapi cahayanya kelewat terang untuk ditatap.


Kutarik lengan baju Jeb, lalu aku menyipit memandang cahaya menyilaukan itu. "Bagaimana caranya?"
Jeb tersenyum, senang dengan rasa penasaranku. "Sama seperti yang dilakukan pesulap--dengan cermin-cermin, Nak. Ratusan jumlahnya. Perlu waktu cukup lama bagiku untuk memasang semuanya di sana. Menyenangkan punya banyak tangan ekstra di sekitar sini, saat cermin - cermin itu perlu dibersihkan. Lihat, hanya ada empat ventilasi kecil di langit-langit, dan cahayanya tak memadai untuk mewujudkan apa yang ada di dalam benakku. Bagaimana menurutmu?"

Ia membusungkan dada lagi, kembali merasa bangga.
"Hebat," bisikku. "Mengagumkan."
Jeb nyengir lalu mengangguk, menikmati reaksiku.
"Ayo terus," sarannya. "Banyak yang harus dilakukan hari ini."
Ia menuntunku ke terowongan baru, lorong lebar yang terbentuk alami dan memanjang dari gua besar itu. Ini daerah baru. Semua ototku menegang. Aku bergerak maju dengan kaki kaku dan lutut lurus.

Jeb menepuk-nepuk tanganku, tapi juga mengabaikan kekhawatiranku. "Sebagian besar bagian ini berisi kamar tidur dan semacam gudang. Di sini lorong-lorongnya lebih dekat dengan permukaan, jadi lebih mudah memperoleh cahaya."
Ia menunjuk celah sempit terang pada langit-langit terowongan di atas kepala. Celah itu memancarkan bintik cahaya seukuran tangan di lantai.

Kami sampai di pertigaan yang luas--sebenarnya bukan pertigaan, karena terlalu banyak cabang. Percabangan lorong-lorong yang menyerupai gurita.
"Ketiga dari kiri," ujar Jeb, memandangku penuh harap.
"Ketiga dari kiri?" ulangku.
"Benar. Jangan lupa. Mudah tersesat di sekitar sini, dan itu tidak aman untukmu. Orang-orang lebih suka langsung menikammu daripada menunjukkan arah yang benar."
Aku bergidik. "Terima kasih," gumamku, diam-diam menyindirnya.
Jeb tertawa, seakan jawabanku membuatnya senang. "Tak ada gunanya mengabaikan kebenaran. Menyebutkannya keras-keras tidak akan membuatnya semakin buruk."
Takkan membuatnya semakin baik juga. Tapi aku diam saja. Aku mulai sedikit gembira. Sangat menyenangkan punya seseorang yang bicara denganku lagi. Jeb bisa dibilang teman menarik.

"Satu, dua, tiga," hitungnya, lalu ia menuntunku menyusuri lorong ketiga dari kiri. Kami mulai melewati lubang-lubang masuk bulat yang ditutupi berbagai pintu seadanya. Beberapa di antaranya diberi tirai dari lembaran kain berpola; yang lainnya ditutupi lembaran besar karton yang disatukan dengan selotip. Ada satu lubang yang ditutupi dua pintu asli--yang satu dari kayu bercat merah, satunya lagi dari logam abu-abu.
"Tujuh," hitung Jeb, lalu berhenti di depan lubang yang agak kecil, yang titik tertingginya hanya beberapa senti dari kepalaku.
Lubang yang ini menutupi privasinya dengan tirai hijau muda cantik--jenis tirai yang biasanya membagi ruangan di dalam ruang tamu elegan. Ada pola bunga-bunga sakura yang dibordir di atas kain sutranya.

"Ini satu - satunya ruangan yang terpikir olehku saat ini. Satu-satunya yang dilengkapi dengan layak untuk ditempati manusia. Bakal kosong selama beberapa minggu, dan kami akan memikirkan sesuatu yang lebih baik untukmu ketika ruangan ini kembali diperlukan."

Jeb menyibak tirai, dan cahaya yang lebih terang--jika dibandingkan dengan cahaya di lorong--menyambut kami.
Ruangan yang diperlihatkan Jeb memberiku perasaan vertigo aneh--mungkin karena ruangannya sangat tinggi tapi tidak terlalu lebar. Berdiri di dalamnya seperti di dalam menara atau lumbung. Bukannya aku pernah berada di tempat-tempat semacam itu, tapi semua itu perbandingan yang dibuat Melanie. Langit-langitnya, yang tingginya dua kali lebarnya, berupa labirin retakan. Seperti jalinan cahaya yang merambat, celah-celah itu nyaris melingkar penuh. Ini kelihatan berbahaya bagiku. Tidak stabil. Tapi ketika menuntunku semakin dalam Jeb tidak menunjukkan perasaan takut kalau-kalau langit - langitnya runtuh.

Ada kasur berukuruan besar di lantai, ketiga sisinya berjarak sekitar satu meter dari dinding. Dua bantal dan dua selimut diatur dalam dua konfigurasi terpisah di atas masing - masing setengah bagian kasur, sehingga ruangan ini tampaknya ditempati dua orang. Tiang kayu tebal--bentuknya menyerupai pegangan garukan tanah--ditelattak horisontal setinggi bahu pada dinding yang jauh, dan masing-masing ujungnya dimasukkan ke dua dari lubang-lubang yang menyerupai keju Swiss di batu. Di atasnya tersampir beberapa kaus dan dua jins. Bangku kayu bersandar di dinding di samping rak pakaian seadanya itu, dan di lantai di bawahnya ada tumpukan buku bacaan lusuh.

"Siapa?" tanyaku kepada Jeb, kembali berbisik. Ruangan ini jelas milik orang, sehingga aku tak lagi merasa hanya sendirian bersama Jeb.

"Salah seorang dari mereka yang sedang pergi menjarah. Takkan kembali selama beberapa waktu. Kami akan mencari tempat lain untukmu ketika dia kembali."
Aku tidak suka itu. Bukan tidak suka kamarnya, tapi gagasan tinggal di dalamnya. Kehadiran si pemilik sangat terasa, walaupun barang-barang miliknya sederhana. Tak peduli siapa pun orangnya, ia takkan senang melihatku di sini. Ia akan membencinya.

Jeb tampaknya bisa membaca pikiranku--atau mungkin ekspresiku cukup jelas sehingga ia tidak perlu menebaknya.
"Nah, nah," katanya. "Jangan khawatir soal itu. Ini rumahku, dan ini salah satu kamar tamuku. Aku yang menentukan siapa tamuku dan siapa yang bukan. Saat ini kau tamjku, dan aku menawarkan kamar ini kepadamu."

Aku masih tidak menyukai gagasan itu, tapi juga tidak ingin membuat Jeb jengkel. Aku bersumpah takkan mengusik sesuatu pun, walaupun itu berarti tidur di lantai.
"Well, ayo kita lanjutkan. Jangan lupa: ketiga dari kiri, lubang ketujuh."
"Tirai hijau," imbuhku.
"Benar sekali."

Jeb membawaku kembali melewati ruangan dengan kebun besar, mengitari pinggirannya ke sisi seberang, dan melewati lubang terowongan terbesar. Ketika kami melewati orang-orang yang sedang mengitari kebun, mereka mengejang lalu berbalik, takut kalau aku berada di balik punggung mereka.
Terowongan ini berpenerangan baik. Celah-celah bercahaya terang muncul dengan jarak terlalu teratur, sehingga tak mungkin alami.
"Kini kita semakin mendekati permukaan. Lebih kering, tapi juga lebih panas."
Aku langsung merasakannya. kini kami tidak sedang direbus, tapi dipanggang. Udara lebih tidak apak dan menyesakkan. Aku bisa merasakan debu padang gurun.

Terdengar lebih banyak suara di depan sana. Aku mencoba menguatkan diri menghadapi reaksi yang tak terhindarkan. Seandainya Jeb bersikeras memperlakukanku seperti... seperti manusia, seperti tamu yang disambut dengan gembira, aku harus membiasakan diri. Tak ada alasan untuk terus-menerus merasa mual. Bagaimanapunk, perutku mulai bergolak tidak senang.
"Ini menuju dapur," ujar Jeb.
Pertama-tama aku mengira kami berada di terowongan lain penuh orang. Aku merapat ke dinding, mencoba menjaga jarak.
Dapurnya berupa koridor panjang berlangit-langit tinggi, lebih tinggi dibandingkan luasnya, seperti kamar baruku. Cahayanya terang dan panas. Bukan celah-celah sempit di batu tebal, tapi tempat ini punya lubang-lubang besar terbuka.
"Tentu saja kami tidak bisa memasak di siang hari. Asap. Kau tahu, kan? Jadi, kami lebih sering menggunakan tempat ini sebagai ruang makan, hingga malam tiba."
Semua percakapan mendadak berhenti, sehingga kata-kata Jeb bisa didengar jelas oleh semua orang. Aku mencoba bersembunyi di belakang Jeb, tapi ia terus berjalan semakin jauh.

Kami mengganggu sarapan, atau mungkin makan siang.
Para manusia--hampir dua puluh jumlahnya menurut hitungan cepatku--berada sangat dekat di sini. Tidak seperti di ruang gua yang besar itu. Aku ingin terus memandangi lantai, tapi tak bisa menghentikan mataku agar tidak menjelajahi ruangan. Untuk berjaga-jaga. Aku bisa merasakan tubuhku menegang, siap kabur, walaupun aku tak tahu harus lari ke mana.

Di kedua sisi lorong ada tumpukan-tumpukan batu yang memanjang. Sebagian besar batu vulkanik ungu kasar, dengan semacam substansi yang berwarna lebih muda--semen?--di sela-selanya. Substansi itu berfungsi sebagai pelapis, merekatkan batu-batu itu. Di atas tumpukan-tumpukan ini terdapat batu-batu brebeda, lebih cokelat dan datar. Semua juga direkatkan menjadi satu dengan pelapis abu-abu muda. Produk akhirnya adalah permukaan yang relatif rata, seperti meja atau meja dapur. Jelas itulan kegunaan tumpukan-tumpukan batu itu.

Semua manusia duduk di atasnya, sebagian bersandar di sana. Aku mengenali roti-roti bulat yang mereka pegang di antara meja dan mulut mereka. Mereka terpaku tak percaya ketika melihat Jeb dan tur satu orangnya.
Beberapa di antara mereka kukenal. Sharon, Maggie, dan Doc adalah kelompok yang paling dekat denganku. Sepupu Melanie dan bibinya itu memelototi Jeb dengan marah. Aku punya keyakinan aneh bahwa, walaupun aku berdiri jungkir balik dan meneriakkan lagu-lagu dari ingatan Melanie sekeras mungkin, mereka masih tidak mau memandangku. Tapi dokter itu memandangku  dengan rasa penasaran yang jujur dan agak ramah, membuat bagian dalam tulang-tulangku sangat dingin.

Di ujung belakang ruangan berbentuk aula itu aku mengenali sosok lelaki jangkung berambut sehitam tinta. Jantungku tergeragap. Kupikir Jared mengajak kakak-beradik jahat itu bersamanya, untuk sedikit meringankan tugas Jeb mempertahankan hidupku. Tapi setidaknya itu si adik, Ian, yang akhir-akhir ini mulai punya hati nurani. Ia tak seburuk Kyle. Namun penghiburan ini tidak memperlambat denyut nadiku yang berpacu.
"Semua sudah kenyang secepat ini?" sindir Jeb keras-keras.
"Kehilangan nafsu makan," gumam Maggie.
"Bagaimana denganmu?" tanya Jeb, menoleh kepadaku. "Kau lapar?"
Gerutuan pelan terdengar di antara manusia-manusia itu.
Aku menggeleng--gerakan pelan tapi panik. Aku bahkan tak tahu apakah aku merasa lapar, tapi aku tahu aku tak bisa makan di hadapan sekerumunan orang yang dengan senang hati bersedia menyantapku.
"Well, aku lapar," gumam Jeb. Ia berjalan menyusuri lorog di antara meja, tapi aku tidak mengikutinya. Aku tak tahan dengan pikiran berada dalam jangkauan mudah orang-orang itu. Aku tetap merapat ke dinding, di tempatku berdiri. Hanya Sharon dan Maggie yang mengamati Jeb mendekati wadah plastik besar di meja dan mengambil sekerat roti. Yang lain mengamatiku. Aku yakin, seandainya aku bergerak satu senti saja, mereka akan menerkamku. Kucoba untuk tidak bernapas.
"Well, ayo jalan terus," saran Jeb dengan mulut penuh roti, ketika berjalan kembalik kepadaku. "Kelihatannya tak seorang pun bisa berkonsentrasi pada makan siangnya. Orang-orang ini mudah terganggu."

Aku sedang mengamati manusia-manusia itu, menunggu gerakan mendadak. Setelah mengenali beberapa di antaranya, aku tidak benar-benar memandang wajah mereka sehingga tidak memperhatikan Jamie sampai ia berdiri.
Jamie sekepala lebih pendek daripada orang-orang dewasa di salah satu sisinya, tapi lebih tinggi daripada dua anak lebih kecil yang duduk di meja di sisinya yang lain. Dengan ringan Jamie melompat turun dari kursi dan membuntuti Jeb. Wajahnya tegang, serius, seakan sedang mencoba memecahkan persamaan matematika yang sulit di kepalanya. ia mengamatiku dengan mata sipitnya ketika mendekat di belakang Jeb. Kini bukan aku satu-satunya yang menahan napas di dalam ruangan ini. Tatapan yang lain berpindah-pindah antara aku dan adik Melanie.
Oh, Jamie, ujar Melanie. Ia membenci raut dewasa di wajah Jamie, dan mungkin kebencianku bahkan lebih besar. Perasaan bersalahku lebih besar daripada perasaan Melanie, karena telah meletakkan raut seperti itu di sana.
Kalau saja kita bisa menyingkirkan ekspresi itu, desah Melanie.
Sudah terlambat. Sekarang apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya lebih baik?
Aku tidak mengajukan pertanyaan itu untuk memperoleh jawaban, tapi kudapati diriku mencari-cari jawabannya, begitu pula Melanie. Kami tidak menemukan apa-apa dengan memikirkannya dalam waktu sesingkat itu. Aku yakin tak ada yang bisa ditemukan. Tapi kami sama-sama tahu bahwa kami akan kembali mencari, ketika sudah menyelesaikan tur tolol ini dan punya kesempatan memikirkannya. Seandainya kami bisa bertahan hidup selama itu.
"Kau mau apa, Nak?" tanya Jeb tanpa memandang Jamie.
"Hanya ingin tahu kau sedang apa," jawab Jamie. Suaranya berusaha tidak peduli, tapi gagal.
Jeb berhenti ketika tiba di dekatku, lalu berbalik memandang Jamie. "Aku membawanya berkeliling tempat ini. Persis seperti yang kulakukan terhadap semua pendatang baru."
"Boleh ikut?" tanya Jamie.
Kulihat Sharon menggeleng kuat-kuat dengan wajah marah. Jeb mengabaikannya.
"Tak masalah bagiku... jika kau bisa menjaga sikap."
Jamie mengangkat bahu. "Tak masalah."
Lalu aku terpaksa bergerak--untuk menyatukan jari-jari tanganku di depan tubuh. Aku ingin sekali menyingkirkan rambut Jamie yang berantakan dari matanya, kemudian memeluk lehernya. Aku yakin itu perbuatan yang tidak akan berjalan baik.
"Ayo," ujar Jeb kepada kami berdua. Ia membawa kami keluar melalui jalan masuk tadi. Jeb berjalan di salah satu sisiku, Jamie di sisi yang lain. Tampaknya Jamie mencoba menatap lantai, tapi ia terus-menerus melirik wajahku--persis seperti yang kulakukan, karena aku tak tahan untuk tidak melirik wajahnya. Ketika mata kami bertemu, kami selalu bergegas mengalihkan pandang.

Kami sudah menyusuri setengah ruang besar itu ketika mendengar langkah di belakang kami. Reaksiku begitu spontan dan tanpa berpikir. Aku bergerak cepat ke salah satu sisi terowongan, menarik Jamie dengan sebelah lengan, sehingga aku berada di antara dirinya dan apa pun yang mendekatiku.


"Hei!" protes Jamie, tapi ia tidak menyingkirkan lenganku.
Jeb sama cepatnya. Senapan itu berputar keluar secepat kilat dari tali pengikatnya.
Ian dan Doc sama-sama mengangkat tangan.
"Kami juga bisa menjaga sikap," ujar Doc. Sulit untuk percaya lelaki bersuara lembut dengan raut wajah ramah ini adalah penyiksa tetap. Ia jauh lebih menakutkan bagiku, karena raut wajahnya sangat baik. Kau bakal waspada di malam yang gelap dan mengancam. Kau akan siaga. Tapi di hari yang terang dan cerah? Bagaimana kau bisa tahu kapan kau harus lari, jika tidak mengetahui tempat berbahaya yang harus kauhindari?
Jeb menyipit memandang Ian, moncong senapannya bergeser mengikuti pandangannya.
"Aku tidak mau membuat masalah, Jeb. Aku akan bersikap sama baiknya dengan Doc."
"Baiklah," jawab Jeb singkat, seraya menyimpan senapan. "Tapi jangan mengujiku. Aku sudah lama sekali tidak menembak orang dan aku agak merindukan kegairahan itu."
Aku terkesiap. Semua mendengarnya, dan berpaling untuk melihat wajahku yang ketakutan. Doc-lah yang pertama tertawa, tapi bahkan Jamie pun langsung bergabung.
"Hanya bergurau," bisik Jamie kepadaku. Tangannya bergerak dari sisi tubuhnya, seakan hendak meraih tanganku. Tapi ia cepat-cepat memasukkan tangannya ke saku celana pendeknya. Kubiarkan lenganku--yang masih terentang dengan gaya melindungi di depan tubuhnya--terjatuh juga.

"Well, jangan membuang-buang waktu," ujar Jeb, masih sedikit masam. "Kalian harus bergegas, karena aku tak mau menunggu. Sebelum selesai bicara, ia sudah mulai berjalan.

The Host - Bab 19

0 comments
Ditinggalkan

"Siapa Pencari berpakaian serbahitam itu? Mengapa dia masih mencari?" Teriakan Jared memekakkan telinga, menggema ke arahku dari semua jurusan.
Aku bersembunyi di balik kedua tanganku, menunggu pukulan pertama.
"Ah--Jared?" gumam Ian. "Mungkin kau harus membiarkanku..."
"Jangan ikut campur!"
 
Suara Ian semakin dekat, dan batu-batu berkeretak ketika ia mencoba mengikuti Jared ke dalam ruangan kecil yang sudah kelewat sesak itu. "Tidakkah kaulihat mahluk itu terlalu takut untuk bicara? Biarkan dia --"
Aku mendengar sesuatu menggores lantai ketika Jared bergerak, lalu terdengar suara gedebuk. Ian memaki. Aku mengintip dari sela-sela jari. Ian tak lagi terlihat dan Jared memunggungiku.

Ian meludah dan mengerang. "Itu yang kedua," gerutunya. Dan aku mengerti pukulan yang seharusnya ditujukan kepadaku telah dialihkan dengan ikut campurnya Ian.
"Aku siap memberikan yang ketiga," gumam Jared. Tapi ia berbalik menghadapku dengan membawa lampu. Ia meraih lampu itu dengan tangan yang memukul Ian. Gua nyaris berkilau setelah begitu banyak kegelapan.
Jared kembali bicara kepadaku. Ia mengamati wajahku di dalam penerangan baru itu, dan membuat setiap kata menjadi kalimat. "Siapa. Pencari. Itu."

Aku menjatuhkan kedua tanganku dan menatap ke dalam mata tak berbelaskasihan itu. Aku terganggu  melihat seseorang menderita karena kebisuanku--walaupun orang itu pernah mencoba membunuhku. Seharusnya bukan begini cara kerja penyiksaan.
Ekspresi Jared goyah ketika membaca perubahan di wajahku. "Aku tidak perlu menyakitimu," ujarnya pelan, tidak terlalu yakin. "Tapi aku harus mendapat jawaban atas pertanyaanku."
Ini bahkan bukan pertanyaan yang benar. Bukan rahasia yang harus kulindungi.
"Katakan," desak Jared. Matanya sarat frustasi dan ketidakbahagiaan mendalam.
Apakah aku benar-benar pengecut? Aku lebih suka percaya diriku pengecut, lebih suka prcaya ketakutanku terhadap rasa sakit mengalahkan segala hal lain. Alasan sesungguhnya aku membuka mulut untuk bicara, jauh lebih menyedihkan.
Aku ingin menyenangkan Jared. Ingin menyenangkan manusia yang teramat sangat membenciku ini.
"Pencari," kataku memulai. Suaraku kasar dan parau; sudah lama sekali aku tidak bicara.
Jared menyela tak sabar. "Kami sudah tahu dia Pencari."
"Bukan, bukan sekedar Pencari," bisikku. "Dia Pencari-ku."
"Apa maksudmu Pencari-mu?"
"Pencari yang ditugaskan untukku, untuk mengikutiku. Dialah alasan--" Aku menahan diri, tepat sebelum mengucapkan kata yang akan mengakibatkan kematian bagi kami. Tepat sebelum aku mengucapkan kata kami. Itu kebenaran sejati yang akan dipandang Jared sebagai kebohongan sejati, yaitu mempermainkan hasrat-hasrat terdalamnya, lukanya yang paling dalam. ia takkan pernah bisa melihat bahwa mungkin saja keinginannya terkabul. ia hanya akan melihat sosok pembohong berbahaya yang menatap lewat mata yang dicintainya.
"Alasan?" tanya Jared cepat.
"Alasan aku melarikan diri." Aku menghembuskan napas. "Alasan aku datang kemari."
Tidak benar seluruhnya, tapi juga tidak bohong seluruhnya.

Jared menatapku, mulutnya setengah terbuka, ketika mencoba mencerna perkataanku. Dari sudut mata aku melihat Ian mengintip lewat lubang gua. Mata biru cemerlangnya membelalak terkejut. Ada darah, berwarna gelap, di bibir pucatnya.
"Kau melarikan diri dari Pencari? Tapi kau salah satu dari mereka!" Jared berjuang menenangkan diri, kembali pada interogasinya. "Mengapa dia mengikutimu? Mau apa dia?"
Wajah Jared mengeras. "Dan kau mencoba menuntunnya kemari?"
Aku menggeleng, "Aku tidak... aku..." Bagaimana aku bisa menjelaskannya? Jared takkan pernah menerima kebenaran itu.
"Apa?"
"Aku... aku tak ingin memberitahunya. Aku tidak menyukainya."
Jared mengerjap-ngerjapkan mata, kembali bingung. "Bukankah kalian semua harus saling menyukai?"
"Memang seharusnya begitu," ujarku mengakui. Dan wajahku memerah malu.
"Siapa yang kauberitau mengenai tempat ini?" tanya Ian lewat bahu Jared. Jared menggerutu, tapi tetap mengarahkan pandangannya kepadaku.
"Tidak ada. Aku tidak tahu... aku hanya melihat garis-garis itu. Garis-garis di album. Aku menggambarkannya untuk Pencari... tapi kami tidak memahaminya. Dia masih mengira garis-garis itu adalah peta perjalanan." Tampaknya aku tidak bisa berhenti bicara. Kucoba untuk menjaga kata-kataku keluar perlahan, untuk melindungi diri dari salah bicara.


"Apa maksudmu tidak memahami garis-garis itu? Kau ada di sini." Tangan Jared terayun ke arahku, tapi jatuh sebelum menempuh jarak singkat itu.
"Aku... aku punya masalah dengan... dengan... ingatan gadis itu. Aku tidak mengerti... aku tidak bisa mengakses segalanya. Ada dinding-dinding. Itulah sebabnya Pencari itu ditugaskan untukku, untuk menungguku mengungkapkan informasi-informasi lainnya." Terlalu berlebihan, terlalu berlebihan. Aku menggigit lidah.
Ian dan Jared bertukar pandang. Mereka tak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya. Mereka tidak memercayaiku, tapi ingin sekali percaya itu memungkinkan. Mereka terlalu menginginkannya, dan itu membuat mereka takut.
Suara Jared menyalak, mendadak kasar. "Kau bisa mengakses kabinku?"
"Setelah lama sekali."
"Lalu kau melaporkannya kepada Pencari."
"Tidak."
"Tidak? Kenapa tidak?"
"Karena... saat aku bisa mengingatnya... aku tidak ingin melapor kepadanya."

 
Mata Ian membelalak dan membeku.
Suara Jared berubah rendah, nyaris lembut. Jauh lebih membahayakan daripada teriakannya. "Mengapa kau tidak ingin melapor kepadanya?"
Rahangku terkatup erat. Ini memang bukan rahasia yang itu, tapi tetap saja Jared harus memaksaku untuk mengatakannya. Saat ini kegigihanku untuk menahan lidah tidak terlalu berhubungan dengan menjaga diri, tapi lebih berhubungan dengan sejenis kebanggaan dan keengganan tolol. Aku tidak akan mengatakannya kepada lelaki ini, lelaki yang membenciku karena aku mencintainya.
Jared mengamati kilau tekad di mataku, dan tampaknya ia paham apa yang harus dilakukannya untuk memperoleh jawaban. Ia memutuskan untuk melewati pertanyaan itu--mungkin untuk ditanyakan kembali nanti, disimpan untuk saat terakhir, kalau-kalau aku tak bisa lagi menjawab pertanyaan apa pun, ketika ia sudah selesai denganku.

"Mengapa kau tak bisa mengakses segalanya? Apakah itu... normal?"
Pertanyaan in juga sangat berbahaya. Untuk pertama kali, sejauh ini, aku mengucapkan kebohongan absolut.
"Dia jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Tubuhnya rusak."
Tak mudah bagiku berbohong. Kebohongan ini tampak jelas. Jared dan Ian sama-sama bereaksi terhadap nada palsu itu. Kepala Jared miring ke satu sisi; sebelah alis Ian yang sehitam tinta terangkat.
"Mengapa Pencari yang ini tidak menyerah seperti yang lain?" tanya Ian.
Mendadak aku merasa lelah. Aku tahu mereka bisa meneruskan interogasi ini semalaman, akan meneruskan interogasi ini semalaman jika aku menjawab terus, dan akhirnya aku akan melakukan kesalahan. Aku bersandar di dinding dan memejamkan mata.
"Aku tak tahu," bisikku. "Dia tidak seperti jiwa-jiwa lainnnya. Dia... menjengkelkan."
Ian tertawa singkat--dengan suara terkejut.
"Dan kau--apakah kau seperti... jiwa-jiwa lainnya?" tanya Jared.
Aku membuka mata dan menatapnya dengan lelah untuk waktu lama. Pertanyaan tolol, pikirku. Lalu kupejamkan mata rapat-rapat, kubenamkan wajahku pada lutut, dan kulekukan kedua lenganku di kepala.
Entah Jared mengerti aku sudah selesai bicara, atau tubuhnya mengeluh terlalu keras sehingga tak bisa ia abaikan. Ia menggerutu beberapa kali ketika menjejalkan tubuh untuk keluar dari lubangku, dengan membawa lampu bersamanya, lalu mengerang pelan ketika menggeliat.
"Itu di luar dugaan," bisik Ian.
"Bohong, tentu saja." Jared menjawabnya. Kata-kata mereka nyaris tak terdengar. Mungkin mereka tidak menyadari, betapa suara menggema kembali kepadaku di dalam sini. "Tapi... aku tidak mengerti dia ingin kita percaya bagian mana ceritanya--kemana dia mencoba menuntun kita."
"Kurasa dia tidak berbohong. Well, kecuali sekali itu. Apakah kau memperhatikan?"
"Bagian dari sandiwaranya."
"Jared, kapan kau pernah bertemu parasit yang bisa berbohong mengenai apa saja? Kecuali Pencari, tentu saja."
"Jadi, itulah dia."
"Kau serius?"
"Itu penjelasan terbaik."
"Dia--mahluk itu sangat jauh berbeda dengan Pencari yang pernah kujumpai. Seandainya ada Pencari yang tahu cara menemukan kita, dia pasti sudah membawa satu pasukan kemari."
"Dan mereka tidak akan menemukan apa-apa. Tapi ia--mahluk itu berhasil masuk, bukan?"
"Hampir terbunuh setengah lusin kali--"
"Tapi masih bernapas, kan?"
Mereka diam untuk waktu lama. Begitu lama, sampai aku mulai berpikir untuk melepaskan diri dari posisi meringkuk seperti bola padat yang sedang kulakukan. Tapi aku tak ingin menciptakan suara apa pun ketika membaringkan tubuh. Aku berharap Ian pergi, sehingga aku bisa tidur. Adrenalin yang menguap dari sistemku membuatku sangat lelah.
"Kurasa aku akan bicara dengan Jeb," bisik Ian akhirnya.
"Oh, itu ide hebat." Suara Jared kental dengan sindiran.
"Kau ingat malam pertama itu? Ketika mahluk itu melompat di antara kau dan Kyle? Itu aneh."
"Dia hanya mencoba mencari cara untuk tetap hidup, untuk kabur..."
"Dengan memberi Kyle lampu hijau untuk membunuhnya? Rencana bagus."
"Itu berhasil."
"Senapan Jeb-lah yang berhasil. Tahukah dia, Jeb akan berbuat seperti itu?"

"Pikiranmu melantur, Ian. Itulah yang dia inginkan."
"Kurasa kau keliru. Aku tidak tahu mengapa... tapi kurasa dia sama sekali tidak ingin kita memedulikan dia." Aku mendengar Ian bangkit berdiri. "Kau tahu apa yang benar-benar membingungkan?" gumamnya. Suaranya tak lagi berbisik.
"Apa?"
"Aku merasa bersalah--sangat bersalah--ketika melihatnya menciut ketakutan karena kita. Ketika melihat memar-memar hitam di lehernya."
"Kau tidak bisa membiarkan mahluk itu membuatmu merasa seperti itu." Mendadak Jared merasa terusik. "Dia bukan manusia. Jangan lupa itu."
"Hanya karena dia bukan manusia, apakah menurutmu dia tidak merasa kesakitan?" tanya Ian. Suaranya menghilang di kejauhan. "Dan apakah dia tidak merasa seperti gadis yang baru saja dihajar--dihajar oleh kita?"
"Kuasai dirimu," desis Jared kepada Ian.
"Sampai nanti, Jared."
Jared tidak bersantai lama setelah Ian pergi. Ia berjalan sejenak, mondar-mandir di depan gua, lalu duduk di kasur, menghalangi cahayaku, dan bergumam tanpa bisa dimengerti kepada dirinya sendiri. Aku menyerah menunggunya tidur. Kuregangkan tubuhku sebisa mungkin di atas lantai yang menyerupai mengkuk itu. jared terlompat ketika gerakanku menimbulkan suara, lalu dia mulai bergumam sendiri lagi.
"Bersalah," gerutunya kasar. "Membiarkan mahluk itu memengaruhi Ian. Seperti Jeb, seperti Jamie. Ini tak bisa kubiarkan berlanjut. Tolol untuk membiarkannya hidup."
Lenganku merinding, tapi aku mencoba mengabaikannya. jika aku merasa panik setiap kali jared berpikir hendak membunuhku, aku takkan memperoleh kedamaian. Aku berguling menelungkup, membengkokkan tulang punggungku ke arah sebaliknya. Jared kembali tersentak, lalu berubah diam. Aku yakin ia masih sibuk berpikir, ketika akhirnya aku tertidur.
#

Ketika aku terbangun, Jared sedang duduk di kasur yang sama, di tempat yang bisa kulihat, dengan siku di lutut dan kepala bersandar pada satu kepalan tangan.
Rasanya aku hanya tidur kurang dari satu atau dua jam, tapi tubuhku terlalu pegal untuk langsung mencoba tidur lagi. AKu malah merengungkan kunjungan Ian, dan merasa khawatir Jared akan bekerja lebih keras lagi untuk mengasingkanku setelah reaksi aneh Ian. Mengapa Ian tak bisa menutup mulut mengenai perasaan bersalahnya? Seandainya ia tahu dirinya bisa merasa bersalah, mengapa pula ia berkeliaran mencekiki orang? Melanie juga jengkel terhadap Ian, dan gelisah memikirkan akibat penyesalan Ian.

Kekhawatiran kami terganggu hanya beberapa menit setelahnya.
"Ini aku," kudengar Jeb menyapa. "Jangan panik."
Jared mengokang senapan.
"Ayo tembak aku, nak. Ayo." Suara Jeb semakin dekat, bersamaan dengan setiap kata yang diucapkannya.
Jared mendesah, lalu meletakkan senapan. "Pergilah."
"Perlu bicara denganmu," ujar Jeb. Ia terengah-engah ketika duduk di hadapan Jared. "Hei, apa kabar," sapanya ke arahku, seraya mengangguk.
"Kau tahu betapa aku sangt membenci perbuatan itu," gumam Jared.
"Yep."
"Ian sudah menceritakan soal para Pencari--"
"Aku tahu. Aku baru saja bicara dengannya soal itu."
"Bagus. Lalu kau mau apa?"
"Bukan apa yang kumau, tapi apa yang diperlukan semua orang. Kita hampir kehabisan segalanya. Kita perlu pasokan perbekalan yang benar-benar lengkap."
"Oh," gumam Jared; bukan topik ini yang membuatnya tegang. Setelah diam sejenak, ia berkata, "Kirim Kyle."
"Oke," ujar Jeb santai. Ia berpegangan pada dinding ketika kembali berdiri.
Jared mendesah. Tampaknya ia hanya menggertak. Ia langsung membantah ketika Jeb menerima sarannya. "Jangan. jangan Kyle. Dia terlalu..."
Jeb tergelak. "Terakhir kali keluar sendirian, dia nyaris menjerumuskan kita ke dalam masalah, kan? Dia bukan orang yang berpikiran panjang. Kalau begitu, Ian?"
"Dia terlalu berpikiran panjang."
"Brandt?"
"Dia kurang bagus untuk perjalanan panjang. Mulai panik setelah beberapa minggu. Membuat kesalahan-kesalahan."
"Oke, kalau begitu siapa?"
Detik-detik berlalu, dan kudengar Jared menghela napas panjang beberapa kali. Setiap kali menghela napas, ia seakan hendak memberi Jeb jawaban, tapi lalu ia hanya mengembuskan napas dan tidak mengatakan apa-apa.
"Ian dan Kyle bersama-sama?" tanya Jeb. "Mungkin mereka bisa saling menyeimbangkan."
Jared menggeram. "Seperti terakhir kali? Oke, oke, aku tahu aku yang harus pergi."
"Kau yang terbaik," Jeb mengiyakan. "Kau mengubah hidup kami dengan kemunculanmu di sini."
Aku dan Melanie sama-sama mengangguk sendiri. Ini tidak mengejutkan bagi kami.
Jared ajaib. Aku dan Jamie benar-benar aman ketika naluri Jared menuntun kami; kami tak pernah tertangkap. Seandainya Jared yang berada di Chicago waktu itu, aku yakin ia akan berhasil dengan baik.
Jared menyentakkan bahunya ke arahku. "Bagaimana dengan...?"
"Aku akan mengawasinya sebisaku. Dan aku berharap kau membawa Kyle. Itu akan membantu."
"Tak akan memadai--Kyle pergi dan kau mengawasi mahluk itu sebisamu. Dia ... tak akan bertahan lama."
Jeb mengangkat bahu. "Akan kulakukan yang terbaik. Hanya itu yang bisa kulakukan."
Jared mulai menggeleng perlahan-lahan.

"Berapa lama kau bisa tinggal di bawah sini?" tanya Jeb kepadanya.
"Aku tak tahu," bisik Jared.
Muncul keheningan panjang. Setelah beberapa menit, Jeb mulai bersiul tanpa nada.
Akhirnya Jared menghembuskan napas panjang. Aku tak sadar ia sedang menahan napas.
"Aku berangkat malam ini." Kata-kata Jared lambat, pasrah, tapi juga lega. Suaranya sedikit berubah, agak kurang defensif. Seakan ia sedang menjalani transisi, untuk kembali kepada siapa dirinya di sini sebelum kemunculanku. Ia membiarkan satu tanggung jawab lepas dari bahunya, lalu memikul tanggung jawab lain yang lebih menyenangkan sebagai gantinya.

Jared menyerah dalam usahanya untuk menjaga agar aku tetap hidup, dan membiarkan alam--atau tepatnya keadilan massa--yang memutuskan. Ketika ia kembali nanti, dan aku sudah mati, ia takkan meminta pertanggungjawaban kepada siapa pun. Ia tidak akan berduka. Semua ini bisa kudengar dalam empat kata yang diucapkannya tadi.
Aku tahun istilah berlebihan yang digunakan manusia untuk melukiskan penderitaan--patah hati. Melanie ingat dirinya sendiri pernah mengucapkan frasa itu. Tapi aku selalu menganggap istilah ini hiperbolis, yaitu penjelasan tradisional untuk sesuatu yang tidak memiliki kaitan fisiologis nyata--misalnya bertangan dingin. Jadi aku tidak mengharapkan munculnya rasa nyeri di dadaku. Rasa mual, ya. Bengkak di tenggorokanku, ya. Dan ya, air mata membakar mataku. Tapi, apa nama sensasi terkoyak yang kurasakan persis di bawah rusukku ini? Tak masuk akal.
Dan bukan hanya terkoyak, tapi terpilin dan tertarik ke segala arah. Hati Melanie juga hancur, dan itu sensasi terpisah, seakan kami menumbuhkan organ baru untuk mengimbangi kesadaran ganda kami. Hati ganda untuk benak ganda. Rasa sakitnya dua kali lipat.
Jared pergi, tangis Melanie. Kita takkan pernah melihatnya lagi. Ia tidak mempertanyakan kenyataan bahwa kami bakal mati.
Aku ingin menangis bersama Melanie, tapi harus ada yang tetap tenang. Kugigit tanganku untuk menahan keluarnya erangan itu.
"Mungkin itu yang terbaik," ujar Jeb.
"Aku perlu menyiapkan beberapa hal..." Benak Jared sudah jauh, jauh sekali dari koridor menyesakkan ini.
"Kalau begitu aku akan menggantikanmu di sini. Selamat jalan."
"Terima kasih. Kurasa sampai jumpa, kapan pun aku berjumpa denganmu lagi, Jeb."
"Kurasa begitu."
Jared menyerahkan kembali senapan itu kepada Jeb, bangkit berdiri, lalu membersihkan debu di pakaiannya dengan gerakan tak sadar. Lalu ia pergi, bergegas menyusuri lorong dengan langkah cepat yang kukenal. Benaknya memikirkan hal-hal lain. Ia sama sekali tidak melirik ke arahku, sama sekali tidak memikirkan nasibku lagi.
Kudengar suara langkah Jared semakin sayup lalu lenyap. Lalu aku melupakan keberadaan Jeb. Kutekankan wajah ke dalam kedua tanganku, dan aku menangis tersedu-sedu.

99 Cahaya di Langit Eropa - Prolog

0 comments
 

Tinggal di Eropa selama 3 tahun menjadi arena menjelajahi Eropa dan segala isinya. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, saya merasakan hidup di suatu negara tempat Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya dimensi spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.

Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Perjalanan yang membuat saya menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekadar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepak Bola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola-gondola di Venezia. Pencarian saya telah mengantarkan saya pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Memang tempat-tempat ziarah tersebut bukanlah tempat suci yang namanya pernah disebut dalam Al-Qur'an atu kisah para nabi. Tapi dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut, saya jadi semkin mengenal identitas agama saya sendiri. membuat saya makin jatuh cinta dengan Islam.

Eropa dan Islam. Mereka pernh menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Berbagai kejadian sejak 10 tahun terakhir--misalnya pengeboman Madrid dan London, menyusul serangn teroris 11 September di Amerika, kontroversi kartun Nabi Muhammad, dan film Fitna di Belanda--menyebabkn hubungan dunia Islam dan Eropa mengalami ketegangan yang cukup serius. Saya merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya. Luka da dendam akibat ratusan tahun Perang Salib yang rupanya masih membekas sampai hari ini.

Mengutip kata-kata George Santayna: "Those who don't learn from history are doomed to repeat it." Barangsiapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya. Banyak di antara umat Islam kini yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati.
Islam pertama kali masuk ke Spanyol membawa kedamian dan kemajuan peradaban. Benih-benih Islam itu tumbuh menyinari tanah Spanyol hingga 750 tahun lebih, jauh sebelum dan lebih lama daripada Indonesia mengenal Islam. Namun kita semua juga harus bertanya, apa yang membuat cahaya ini kemudian meredup? Peristiwa apa yang akhirnya membuat Islam tersapu dari Spanyol? Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lalu agar kita tidak terperosok di lubang yang sama?
Tidak bisa kita mungkiri, peradaban Islam mengamali kemunduran selama beberapa abad terakhir. Di tengah retorika teriakan jihad untuk memerangi negara-negara barat, kita dihadapkan pada suatu realitas: tidak ada satu pun negara Islam yang memiliki kemampuan teknologi untuk melindungi dirinya sendiri saat ini.
Dunia Islam saat ini sudah mulai memalingkan muka dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin jauh dari akar yang membuatnya bersinar lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Kemudian ketika ada negara yang melarang pemakaian jilbab, pembangunan minaret, atau seorang yang mengolok-olok Islam dengan membuat video Fitn, kita hanya bisa berteriak-teriak di depan kedutaan negara mereka sambil membakar bendera. Hanya itu.
Ini yang coba saya refleksikan dalam catatan perjalanan ini. Saya mencoba mengumpulkan kembali sis kebesaran peradabn Islam yang kini terserak. Dan saya justru menemukan jejak - jejak peninggalan tersebut selama menempuh perjalanan menjelajah Eropa.

Sudah terlalu banyak buku traveling sebelumnya, terutama tentang Eropa dan segala keindahannya, yang hadir. Bangunan-bangunan, tempat yang wajib dikunjungi berikut tip-tip perjalanan dan cara kreatif untuk berhemat, semua dikemas untuk pembaca. Tapi buat saya sendiri, hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekadar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya.

Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw. dari mekkah ke Madinah.

Umat Islam terdahulu adalah "traveler" yang tangguh. Jauh sebelum Vasco de Gama menemukan Semenanjung Harapan, atau Colombus menemukan benua Amerika, musafir-musafir Islam telah menyeberangi 3 samudra hingga Indonesia, berkelana jauh sampai ujung negeri China, menembus Himalaya dan Padang Pasir Gobi. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah ragu untuk meninggalkan rumah, belajar hal-hal baru dari dunia luar sana. Bukankah dalam Al-Qur'an juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia bisa saling mengenal, berta'aruf, saling belajar dari bangsa-bangsa lain untuk menaikkan derajat kemuliaan di sisi Allah?
Bagi saya, berada di Eropa selama lebih dari tiga tahun adalah pengalaman yang tak ternilai harganya. Saya mencoba membuka mata dan hati saya menerima hal-hal baru dan merefleksikannya untuk memperkuat keimanan say. Menelisik hikmah dalam setiap perjalanan, belajar dari pengalaman dan membaca rahasia-rahasia masa lalu yang kini hampir tak terlihat lagi di permukaan. Saya tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam.

Catatan perjalanan ini berdasarkan kisah nyata saya dan Rangga dalam berinteraksi sosial dan mengusung fakta sejarah yang sebenarnya. Namun, untuk melindungi privasi orang-orang yang terlibat dalam cerita ini, nama mereka sengaja disamarkan. Tutur dialog dan alur cerita yang terjadi dalam buku ini juga direkonstruksi ulang untuk memperkuat bangunan cerita, tanpa menghilangkan esensinya.
Perjalanan saya menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini. Vienna, Paris, Madrid, Cordoba, Granada, dan Istanbul masuk dalam manifes perjalanan sy selama menjelajahi Eropa.

Perjalanan ini membuka mata saya bahwa Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.
Saat memandang matahari tenggelam di Menar Eiffel Paris, Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al-Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, saya bersimpuh. Matahari tenggelam yang saya lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1.000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan semangat toleransi antarumat beragama.
Akhir dari perjalanan selma 3 tahun di Eropa justru mengantarkan saya pada pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan saya pada sumber kebenaran abadi yang Mahasempurna.

Saya teringat kata sahabat Ali ra. :
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan. (Ali bin Abi Thalib ra.)

The Host - Bab 18

0 comments
Bosan

Aku menghabiskan sisa hari itu dalam keheningan total kecuali satu perkecualian singkat.
Perkecualian itu terjadi ketika Jeb membawakan makanan untukku dan Jared beberapa jam kemudian. Ketika meletakkan nampan di lubang masuk ke gua mungilku, Jeb tersenyum penuh penyesalan.
"Terima kasih," bisikku.
"Sama-sama," jawabnya.
Kudengar Jared menggeram, terusik percakapan singkat kami. Itu satu-satunya suara yang dikeluarkan Jared sepanjang hari. Aku yakin ia berada di luar sana, tapi tak pernah terdengar apa - apa, bahkan suara napas, untuk menegaskan keyakinanku.
Hari sangat panjang--sangat sesak dan sangat membosankan. Aku mencoba setiap posisi yang bisa kubayangkan, tapi tak sekali pun behasil meregangkan tubuh dengan nyaman. Bagian bawah punggungku mulai berdenyut-denyut tanpa henti.
Aku dan Melanie banyak berpikir tentang Jamie. Yang terutama, kami khawatir telah merusak anak laki-laki itu dengan kedatangan kami kemari, dan kini kami khawatir telah melukainya. Apa artinya memenuhi janji, jika dibandingkan dengan semua itu?
Waktu kehilangan arti. Mungkin matahari terbenam, mungkin fajar--aku tak punya referensi di sini, terkubur di dalam bumi. Aku dan Melanie kehabisan topik diskusi. Kami membolak-balik lembar-lembar ingatan kami bersama secara menyedihkan, seperti menggonta-ganti saluran TV untuk mencari acara. Sekali aku mencoba tidur siang, tapi tak bisa tidur nyenyak karena merasa sangat tidak nyaman.
Ketika Jeb akhirnya kembali, rasanya aku bisa mencium wajah kering keriput itu. Ia membungkuk ke dalam selku dengan seringai lebar yang meregangkan kedua pipinya.
"Sudah saatnya berjalan- jalan lagi?" tanyanya.
Aku mengangguk bersemangat.
"Akan kulakukan," gerutu Jared, "Berikan senapannya."
Aku bimbang, berjongkok kikuk di mulut gua, sampai Jeb mengangguk kepadaku.
"Pergilah," kata Jeb.
Aku keluar, tubuhku masih kaku dan limbung. Aku menyambut uluran tangan Jeb. Jared mengeluarkan suara jijik dan memalingkan wajah. Ia memegang senapan erat-erat, buku jari-jarinya memutih di atas moncong senapan. Aku tak suka melihat benda itu di tangannya. Lebih menggangguku daripada ketika dipegang Jeb.
Jared tidak menungguku seperti yang dilakukan Jeb. Ia terus melenggang ke dalam terowongan gelap tanpa berhenti agar aku bisa mengikutinya.
Menyulitkan. Ia tak banyak mengeluarkan suara dan tidak menuntunku, jadi aku harus berjalan dengan satu tangan di depan wajah dan satu tangan di dinding, berusaha agar tidak menabrak batu. Aku jatuh dua kali di lantai yang tidak rata. Walaupun tidak menolongku, Jared menunggu sampai mendengar aku sudah berdiri lagi, lalu melanjutkan perjalanan. Sekali, ketika melewati bagian lorong yang agak lurus, aku berjalan terlalu dekat sehingga tanganku yang meraba-raba menyentuh punggungnya, menyusurinya, sebelum menyadari aku tidak menyentuh dinding lain. Jared melompat ke depan, lalu menyentakkan tubuhnya dari jari-jariku seraya mendesis marah.
"Maaf," bisikku, kurasakan pipiku berubah hangat dalam kegelapan.
Jared tidak menjawab, tapi mempercepat langkah sehingga mengikutinya jadi semakin sulit.
Aku bingung ketika akhirnya muncul semacam cahaya di depanku. Apakah kami mengambil rute berbeda? Ini bukan cahaya putih cemerlang ruang gua terbesar. Cahayanya lebih suram, pucat, dan keperakan. Tapi selah sempit yang harus kami lewati tampaknya sama... Ketika sudah berada di dalam ruang raksasa yang menggema itu, barulah kusadari apa yang menyebabkan perbedaan itu.
Ini malam hari. Cahaya yang bersinar suram dari atas lebih mirip cahaya bulan daripada cahaya matahari. Kumanfaatkan penerangan yang lebih tidak menyilaukan itu untuk meneliti langit-langit di atasku, ratusan bulan kecil memancarkan cahaya pucat ke lantai suram yang jauh. Bulan-bulan kecil itu tersebar dalam kelompok-kelompok tak berpola, beberapa kali lebih jauh daripada yang lain. Aku menggeleng. Walaupun kini bisa melihat langsung cahaya itu, aku masih tidak paham.
"Ayo," perintah Jared marah, beberapa langkah di depanku.
Aku tersentak dan bergegas mengikutinya. Aku menyesal membiarkan perhatianku berkelana. Bisa kulihat betapa menjengkelkannya bagi Jared untuk bicara denganku.
Aku tidak mengharapkan bantuan senter ketika kami mencapai ruang bersungai itu, dan aku memang tidak menerimanya. Kini ruangan itu juga berpenerangan suram seperti gua besar tadi, tapi hanya dua puluh bulan mini aneh yang menerangina. Jared mengertakkan rahang dan menatap langit-langit, sementara aku berjalan ragu ke dalam ruang berkolam sehitam tinta itu. Kurasa, jika aku terjatuh ke dalam mata air panas bawah tanah yang ganas itu dan menghilang, Jared mungkin akan menganggap peristiwa tersebut sebagai campur tangan takdir yang menguntungkan.
Kurasa ia akan sedih, ujar Melanie tidak setuju, ketika aku bergeser mencari jalan di sekitar kamar mandi hitam itu seraya memeluk dinding. Jika kita terjatuh.
Aku tak yakin. Ia mungkin teringat rasa sakit akibat kehilangan dirimu saat pertama dulu, tapi ia akan senang jika aku menghilang.
Karena Jared tidak mengenalmu, bisik Melanie. lalu suaranya lenyap, seakan ia mendadak merasa lelah.
Aku terpaku di tempat. Terkejut. Aku tak yakin, tapi rasanya Melanie seperti baru saja memujiku.
"Cepat," teriak jared dari ruangan lain.
Aku bergegas secepat mungkin dalam kegelapan dan ketakutanku.
Ketika kami kembali, Jeb sedang menunggu di dekat lampu biru. Di dekat kakinya ada dua silinder empuk berbonggol-bonggol dan dua benda berbentuk persegi panjang tak beraturan. Aku tidak memperhatikan benda-benda itu sebelumnya. Mungkin ia mengambil semua itu ketika kami sedang pergi tadi.
"Kau atau aku yang tidurdi sini malam ini?" tanya Jeb kepada Jared dengan nada santai.
Jared memandang benda-benda di kaki Jeb.
"Aku," jawabnya singkat. "Dan aku hanya perlu satu kasur gulung."
Jeb mengangkat sebelah alis tebalnya.
"Dia bukan salah satu dari kita, Jeb. Kau telah menyerahkannya kepadaku--jadi pergilah."
"Dia juga bukan binatang, Nak. Dan kau bahkan tidak akan memperlakukan anjing dengan cara seperti ini."
Jared tidak mejawab, tapi menggertakkan gigi.
"Aku tak pernah membayangkanmu sebagai lelaki kejam," ujar Jeb pelan. Tapi ia memungut satu silinder itu, menyelipkan lengan pada pengikatnya, lalu menyampirkannya di bahu. Lalu ia mengepit benda berbentuk persegi panjang itu--bantal--di bawah lengannya.
"Maaf, Sayang." Katanya ketika melewatiku, menepuk bahuku.
"Hentikan!" gerutu Jared.
Jeb mengangkat bahu dan berjalan pergi. Sebelum ia lenyap dari pandangan, aku bergegas menghilang ke dalam selku. Aku bersembunyi di dalam ceruk-ceruk tergelap, bergelung membentuk bola padat yang kuharap terlalu kecil untuk dilihat.
Jared tidak bersembunyi diam-diam dan tak terlihat di terowongan luar, tapi membentangkan kasur gulungnya tepat di depan mulut penjaraku. Ia menepuk-nepuk bantal beberapa kali, mungkin mencoba memamerkan bahwa ia memiliki benda itu. Ia berbaring di kasur dan menyilangkan kedua lengannya di dada. Itu bagian dari tubuhnya yang bisa kulihat melalui lubang--hanya lengan terlipat dan setengah perutnya.
Kulit Jared masih berwarna keemasan gelap yang sama, warna yang menghantui mimpi-mimpiku setengah tahun terakhir ini. Aneh sekali mendapati potongan mimpiku benar-benar nyata, dan berjarak kurang dari satu setengah meter dariku. Sureal.
"Kau takkan bisa menyelinap melewatiku," katanya mengingatkan. Suaranya lebih lembut daripada sebelumnya. Mengantuk. "Kalau kau mencoba..." Ia menguap. "Aku akan membunuhmu."
Aku tidak bereaksi. Peringatan itu terdengar seperti semacam hinaan bagiku. Buat apa aku mencoba menyelinap melewatinya? Kemana aku akan pergi? Ke tangan orang-orang barbar di luar sana yang menungguku, yang semuanya berharap aku benar-benar akan melakukan usaha tolol semacam itu? Atau seandainya, entah bagaimana, aku bisa menyelinap melewati mereka, akankah aku kembali ke padang gurun yang nyaris memanggangku sampai mati ketika terakhir kali aku mencoba melintasinya? Aku bertanya-tanya, apa yang menurut pikiran Jared mampu kulakukan. Rencana apa yang dipikirnya sedang kugodok untuk menggulingkan dunia kecil mereka? Apakah aku tampak begitu kuat? Tidakkah sudah jelas betapa tak berdaya dan menyedihkannya diriku?
Aku tahu Jared tidur nyenyak, karena tubuhnya mulai tersentak-sentak. Seperti yang diingat Melanie, Jared terkadang begitu. Ketika sedang marah, tidurnya sangat gelisah. Kuamati jari-jari tangannya yang mengepal dan membuka bergantian, dan aku bertanya-tanya apakah ia sedang memimpikan jari-jari itu mencekik leherku?
#

Hari-hari setelah itu--mungkin seminggu, mustahil untuk menghitungnya secara pasti--sangat tenang. Jared seperti dinding bisu di antara diriku dan segala sesuatu lainnya di dunia, baik maupun buruk. Tak terdengar suara, kecuali napasku sendiri, gerakan-gerakanku sendiri; tak terlihat pemandangan, kecuali gua hitam di sekelilingku, lingkaran cahaya suram, nampan yang kukenal dengan ransum sama, Jared yang kucuri pandang sekilas; tak terasa sentuhan, kecuali batu-batu yang menonjol di kulitku; tak tercecap rasa, kecuali air pahit, roti keras, sup hambar, akar seperti kayu. Berulang-ulang.
Itu kombinasi yang sangat aneh; ketakutan yang konsisten, ketidaknyamanan fisik yang terus-menerus menimbulkan rasa sakit, dan kemonotonan yang menyiksa. Dari ketiganya, kebosanan mematikan adalah yang paling sulit dihadapi. Penjaraku merupakan bilik tanpa ndra.
Bersama-sama, aku dan Melanie khawatir kami bakal jadi gila.
Kita sama-sama mendengar suara di dalam kepala kita, jelasnya. It jelas bukan pertanda baik.
Bisa-bisa kita lupa cara berbicara, ujarku waswas. Sudah berapa lama sejak seseorang bicara dengan kita?
Empat hari yang lalu kau mengucapkan terima kasih kepada Jeb karena telah membawakan kita makanan, dan ia menjawab: sama-sama. Well, kurasa itu empat hari yang lalu. Setidaknya ada empat kali tidur yang lama. Melanie seakan mendesah. Berhentilah menggigiti kuku-perlu waktu bertahun-tahun bagiku untuk menghentikan kebiasaan itu.
Tapi kuku-kuku panjang tajam itu menggangguku.
Kurasa kita tak perlu mengkhawatirkan kebiasaan buruk untuk waktu lama.
Jared tidak membiarkan Jeb membawakan makanan lagi. Sebagai gantinya, seseorang membawakan makanan sampai ke ujung lorong, dan Jared mengambilnya. Aku mendapat hidangan yang sama--roti, sup, dan sayuran--dua kali sehari. Terkadang ada kudapan ekstra untuk Jared, makanan kemasan dengan merek yang kukenal--Red Vines, Snickers, Pop-Tarts. Aku mencoba membayangkan bagaimana cara manusia memperoleh kudapan-kudapan lezat ini.
Aku tidak berharap Jared membagi makanannya--tentu saja tidak--tapi aku terkadang bertanya-tanya apakah ia mengira aku berharap demikian. Salah satu dari sedikit penghiburanku adalah mendengarnya menyantap kudapan-kudapan itu, karena ia selalu melakukannya dengan begitu mencolok, mungkin pamer, sama seperti sikapnya dengan bantal itu malam pertama dulu.
Sekali Jared membuka perlahan-lahan sebungkus Cheetos dengan merobeknya--pelan seperti biasa--dan aroma kaya keju bubuk buatan bergulung masuk ke guaku... lezat, tak tertahankan. Ia menyantap sebutir Cheetos perlahan-lahan, membiarkanku mendengar setiap bunyi kriuk nyaringnya.
Perutku bergemuruh keras, dan aku tertawa sendiri. Sudah lama sekali aku tak pernah tertawa. Kucoba untuk mengingat terakhir kali aku tertawa, tapi tak bisa. Yang kuingat hanya serangan histeria mengerikan aneh di padang gurun itu, yang benar-benar tak bisa digolongkan sebagai tertawa. Bahkan sebelum aku kemari, tak banyak hal yang kuanggap lucu.
Tapi ini tampak menggelikan bagiku untuk alasan tertentu--perutku merindukan sebutir Cheetos kecil--dan aku kembali tertawa. Tanda kegilaan. Itu pasti.
Aku tak tahu bagaimana reaksiku itu bisa menghina Jared, tapi ia bangkit berdiri dan menghilang. Setelah lama, aku bisa mendengarnya kembali menyantap Cheetos itu, tapi dari tempat yang agak jauh. Aku mengintip dari lubang dan melihatnya duduk dalam bayang-bayang di ujung koridor, memunggungiku. Kutarik kepalaku ke dalam, khawatir ia berbalik dan memergokiku mengamatinya. Sejak itu Jared tetap berada di ujung lorong sesering mungkin. Hanya di malam hari ia meregangkan tubuh di depan penjaraku.
Dua kali sehari--atau tepatnya dua kali semalam, karena Jared tak pernah membawaku ketika yang lain sedang berkeliaran--aku dibawa berjalan ke ruang bersungai. Itu merupakan penghiburan, walaupun rasanya menakutkan, karena hanya pada saat itulah aku tidak meringkuk membentuk posisi tak alami yang dipaksakan gua kecil kepadaku. Setiap kali aku harus merangkak kembali ke dalam, rasanya lebih berat daripada sebelumnya.
Tiga kali selama minggu itu, dan selalu pada jam-jam tidur seseorang datang mengecek kami.
Pertama Kyle.
Tindakan Jared, yang mendadak melompat berdiri, membuatku terbangun. "Keluarlah dari sini," katanya mengingatkan, bersiaga memegang senapan.
"Hanya mengecek," ujar Kyle. Suaranya terdengar jauh, tapi cukup lantang dan kasar, sehingga aku yakin itu bukan suara adiknya. "Suatu hari nanti, kau mungkin tidak berada di sini. Suatu hari nanti, kau mungkin tidur terlalu nyenyak."
Satu-satunya jawaban Jared hanyalah bunyi kokangan senapan.
AKu mendengar tawa Kyle mengikuti kepergiannya.
Dua kalinya lagi aku tidak tahu siapa yang datang. Kyle lagi atau mungkin Ian, atau mungkin seseorang yang namanya belum kupelajari. Yang kutahu hanyalah, dua kali lagi aku dibangunkan oleh Jared yang mendadak melompat berdiri dengan senapan terarah kepada si pengganggu. Tak ada kata-kata yang diucapkan. Siapa pun itu, yang hanya mengecek, orang itu tak mau repot-repot mengajak bicara. Perlu lebih lama bagiku untuk menenangkan jantung.
keempat kalinya adalah sesuatu yang baru.
Aku belum nyenyak ketika Jared terbangun dengan terkejut, lalu berguling dan berlutut dengan gerakan cepat. Ia muncul dengan senapan di tangan dan umpatan di bibir.
"Tenang," gumam sebuah suara dari kejauhan. "Aku datang dalam damai."
"Apa pun yang kaukatakan, aku tak percaya," gerutu Jared.
"Aku hanya ingin bicara." Suara itu terdengar lebih dekat. "Kau terkubur di sini, melewatkan diskusi-diskusi penting... Kami merindukan pendapat-pendapatmu."
"Pasti," ujar Jared sinis.
"Oh, letakkan senapannya. Kalau aku berencana bertarung denganmu, saat ini aku akan muncul dengan empat laki-laki."



Hening sejenak. Ketika Jared kembali biara, suaranya mengandung sedikit sindiran. "Bagaimana kabar kakakmu belakangan ini?" tanyanya. Tampaknya Jared menikmati pertanyaan itu. Menggoda pengunjung membuatnya santai. Ia duduk dan menyandarkan tubuh pada dinding. Setengah tubuhnya berada di depan penjaraku. Sikapnya santai, tapi senapannya masih siaga.
Leherku sakit, seakan memahami bahwa sepasang tangan yang pernah mencekik dan membuatku memar itu berada sangat dekat.
"Kyle masih marah soal hidungnya," ujar Ian. "Well, ini bukan pertama kali hidungnya patah. Kubilang kepadanya kau menyesal."
"Aku tidak menyesal."
"Aku tahu. Tak seorang pun menyesal setelah memukul Kyle."
Mereka tertawa pelan bersama-sama. Rasa setia kawan dalam kegembiraan mereka tampak sangat tidak pada tempatnya, karena Jared memegang santai senapan itu dengan moncong terarah kepada Ian. Tapi agaknya ikatan-ikatan yang terbentuk di tempat genting ini sangat kuat. Lebih kental daripada darah.
Ian duduk di kasur di sebelah Jared. Aku bisa melihat profilnya dalam bentuk siluet hitam dilatari lampu biru. Kuamati bahwa hidungnya sempurna--mancung, sedikit bengkok, jenis hidung yang kulihat dalam gambar patung-patung terkenal. Apakah itu berarti orang lain menganggap Ian lebih baik dibandingkan kakaknya yang hidungnya sering patah? Atau apakah ia lebih jago mengelak?
"Jadi, kau mau apa, Ian? Kurasa bukan sekarad mendapatkan permintaan maaf untuk Kyle."
"Jeb belum cerita?"
"Aku tidak tahu kau bicara apa."
"Parasit-parasit itu sudah menghentikan pencarian. Bahkan para pencari."
Jared tidak berkomentar, tapi kurasakan ketegangan mendadak dalam udara di sekitar tubuhnya.
"Kami mengamati dengan cermat, menunggu perubahan, tapi tampaknya mereka tidak telalu bersemangat. Pencarian itu tak pernah melenceng jauh dari area tempat kami meninggalkan mobil dan beberapa hari belakangan jelas mencari mayat, bukan mahluk yang bernyawa. Dua malam yang lalu kami beruntung--regu pencari meninggalkan sampah di tempat terbuka, dan kawanan coyote menyerbu perkemahan utama mereka. Salah satu Pencari kembali saat larut malam. Dia mengejutkan hewan-hewan itu, yang kemudian menyerang dan menyeretnya sejauh kira-kira seratus meter ke padang gurun, sebelum rekan-rekannya mendengar teriakannya dan datang menolong. Tentu saja Pencari-Pencari itu bersenjata. Dengan mudah mereka mengusir coyote-coyote itu, dan si korban tidak terluka parah. Tapi kejadian itu tampaknya menjawab semua pertanyaan mereka mengenai apa yang mungkin terjadi dengan tamu kita ini. "



Aku bertanya-tanya bagaimana mereka bisa memata-matai para Pencari yang mencariku--dan tahu sangat banyak. Ganjilnya aku merasa terancam oleh gagasan itu. Aku tidak menyukai gambaran itu di dalam kepalaku: manusia-manusia yang tak terlihat, mengamati jiwa-jiwa yang mereka benci. Pikiran itu membuat bulu kudukku meremang.

"Jadi mereka berkemas-kemas, lalu pergi. Para Pencari menghentikan pencarian. Semua sukarelawan pulang. Tak ada lagi yang mencarinya." Profil Ian berpaling ke arahku. AKu meringkuk, berharap keadaan sangat gelap sehingga aku tidak terlihat di sini dan seperti wajahnya, aku akan tampak seperti bayangan hitam saja.
"Kurasa secara resmi dia telah dinyatakan mati, jika parasit-parasit itu mencatat hal-hal semacam itu, seperti yang biasa kita lakukan. Jeb mengatakan, "Kubilang juga apa" kepada siapa saja yang masih sanggup bertahan cukup lama untuk mengdengarnya."
Jared menggumamkan sesuatu yang tak bisa kupahami. AKu hanya bisa mendengar nama Jeb. Ia menghela napas panjang, menghembuskannya, lalu berkata, "Baiklah kalau begitu. Kurasa inilah akhirnya."
"Kelihatannya memang begitu." Sejenak Ian bimbang, lalu mengimbuhkan, "Kecuali... well, mungkin ini tak ada artinya."
Jared kembali tegang: ia tidak suka jika kecerdasannya diralat. "Teruskan."
"Tak seorang pun, kecuali Kyle, yang banyak memikirkannya. Dan kau tahu sendiri bagaimana Kyle."
Jared bergumam mengiyakan.
"Kau punya naluri terbaik untuk hal semacam ini. Aku menginginkan pendapatmu. Itulah sebabnya aku di sini, bertaruh nyawa menyusup ke area terlarang," ujar Ian masam, lalu suaranya kembali serius. "Kau tahu, ada satu... Pencari, tak diragukan lagi, yang membawa Glock."
Perlu sedetik bagiku untuk memahami kata yang digunakan Ian. Itu bukan bagian perbendaharaan kata Melanie yang kukenal. Ketika kpahami bahwa Ian membicarakan semacam senapan, nada berandai-andai dan cemburu di dalam saranya membuatku merasa sedikit tidak enak.
"Kyle orang pertama yang mengamati betapa menonjolnya Pencari yang satu ini. Sepertinya dia bukan orang penting bagi para Pencari lainnya--pasti dia bukan bagian dari rantai pengambilan keputusan. Oh dia memang memberikan usulan-usulan, sejauh yang bisa kami lihat, tapi tampaknya tak ada yang mendengarkan. Kalau saja kami bisa mendengar apa yang dia katakan..."


Aku kembali merinding waswas.
"Bagaimanapun," lanjut Ian, "Ketika mereka menghentikan pencarian, Pencari yang satu ini tidak senang dengan keputusan itu. Kau tahu bagaimana parasit-parasit itu selalu bersikap begitu... menyenangkan? Pencari yang ini aneh. Sejauh ini hanya sekali itulah aku mendengar mereka berselisih. Bukan perselisihan sesungguhnya, karena tak ada di antara mereka yang menjawab. Tapi Pencari yang tidak senang itu tampak seakan berselisih dengan mereka. Kelompok inti para Pencari mengabaikannya--mereka semua sudah pergi."


"Tapi Pencari yang tidak senang itu?" tanya Jared.
Dia naik mobil dan menyetir setengah jalan menuju Phoenix. Lalu menyetir balik ke Tucson. Lalu menyetir ke barat lagi."
"Masih mencari."
"Atau sangat kebingungan. Dia berhenti di toko kecil di dekat puncak. Bicara dengan parasit yang bekerja di sana, walaupun parasit itu sudah pernah ditanyai."
"Hah," geruttu Jared. Ia kini tertarik, dan berkonsentrasi pada teka-teki itu.
"Lalu dia mendaki ke puncaknya. Mahluk kecil tolol. Dengan pakaian serba hitam dari kepala sampai ujung kaki, dia akan terbakar hidup-hidup."
Tubuhku kejang. Aku mendapati diriku terjatuh ke lantai, meringkuk di dinding belakang sel. Sepasang tanganku terangkat untuk melindungi wajah. Kudengar bunyii desis yang menggema di seluruh ruangan kecil itu. Dan, setelah suara itu menghilang barulah kusadari akulah yang mendesis.
"Apa itu?" tanya Ian. Suaranya terdengar terkejut.
Aku mengintip lewat sela-sela jari, dan melihat wajah mereka melongok melalui lubang. Wajah Ian hanya tampak hitam, tapi sebagian wjaah Jared terlihat, dan ekspresinya sekeras batu.
Aku ingin tetap diam, tak terlihat, tapi tak bisa mengontrol getaran yang mengguncang hebat tulang punggungku.
Jared menjauh, lalu kembali dengan lampu di tangan.
"Lihat matanya," gumam Ian. "Dia ketakutan."
Kini aku bisa melihat ekspresi mereka, tapi mataku hanya memandang Jared. Tatapannya benar-benar terpusat kepadaku, menimbang-nimbang. Kurasa ia merenungkan perkataan Ian, mencari pemicu atas perilakuku.
Tubuhku tak mau berhenti bergetar.
Si Pencari takkan pernah menyerah, erang Melanie.
Aku tahu, aku tahu, erangku menjawabnya.
Kapankan ketidaksukaan kami berubah jadi ketakutan? Perutku mengejang dan bergolak. Mengapa perempuan itu tak bisa membiarkanku mati saja seperti yang lain? Seandainya aku sudah mati, apakah ia masih tetap akan memburuku?
"Siapa Pencari berpakaian serba hitam itu?" tiba-tiba Jared membentakku.
Bibirku gemetar, tapi aku tidak menjawab. Diam adalah tindakan paling aman.
"Aku tahu kau bisa bicara," gerutu Jared. "Kau bicara kepada Jeb dan Jamie. Dan kini kau akan bicara kepadaku."
Jared memanjat ke mulut gua, dan mendengus kaget ketika melihat betapa ia harus melipat tubuh untuk memasukinya. Langit - langit rendah itu memaksanya berlutut, dan itu tidak membuatnya senang. Aku bisa melihat ia lebih suka berdiri di hadapanku.
Aku tak bisa lari ke mana-mana. Aku telah meringkuk di pojok terjauh. Gua itu nyaris tak cukup untuk kami berdua. Bisa kurasakan napas Jared di kulitku.
"Katakan apa yang kauketahui," perintah Jared.

Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com

99 Cahaya di Langit Eropa - Bab 1

0 comments
Hari itu, medio Maret 2008, adalah hari-hari pertamaku menginjak bumi Eropa. Aku mengikuti suamiku Rangga yang mendapatkan beasiswa studi doktoral di Wina, Austria.
Aku datang menyusul 4 bulan setelah suamiku menyelesaikan semua administrasi untuk bisa mengundangku. Sebagai pendatang baru, aku bertekad untuk menghabiskan waktuku dengan berjalan-jalan mengelilingi kota Wina sambil menunggu panggilan kerja di kampus Rangga.
Pada Maret, seharusnya hawa sudah lebih menghangat. Seharusnya pegawai pertamanan mulai menanam bunga warna-warni di alun-alun dan di setiap sudut kota. Seharusnya burung-burung sudah berkicau menyambut matahari yang terlalu irit cahaya pada 6 bulan sebelumnya. Tetapi nyatanya itu tidak terjadi. Tuhan Yang Merajai perubahan alam membuat manusia kecele akan hitung-hitungan cuaca di Eropa. Hawa Maret kali itu dingin tak terkira menusuk tulang. Angin perubahan musim berembus memperburuk keadaan. Burung - burung enggan bernyanyi karena tenggorokan mereka kering dan gatal.
Penghangat di bawah jok bus yang aku tumpangi tak kuasa menantang udara dingin kali itu. Aku terus berusaha menyusutkan badan di dalam mantel musim dinginku. mantel yang cukup tebal dan seharusnya bisa melindungiku dari hawa dingin. Toh aku tetap merinding kedinginan.
"Itu karena suhu tubuhmu masih dalam penyesuaian, Hanum," kata Fatma yang duduk di sebelahku. Kuperkenalkan, Fatma Pasha. Kawan seperjalananku ke sebuah tempat baru di Wina.
Baru dua minggu kami berkenalan. Dan pucuk dicinta ulam tiba, dia seakan tahu aku perlu seorang penunjuk jalan untuk menyusuri sudut-sudut kota Wina.

 
Fatma adalah kawan baruku di kelas Bahasa Jerman di sebuah kursus singkat yang diselenggarakan oleh pemerintah Austria. Di dalam kelas, kami bertemu dengan para pendatang lain di Austria. Sebagian besar murid di kelas itu adalah para pendatang dari Eropa Timur. Hanya aku dan Fatma yang berwajah nonbule.
Meski Fatma juga pemula dalam bahasa Jerman, aku bersandar padanya untuk urusan jalan-jalan kali ini. Peta Wina sudah lekat diingatnya karena dia jauh lebih lama tinggal di Wina untuk ikut suaminya. Lucunya, meski sudah 3 tahun tinggal di Austria, dia masih harus mengenyam kursus Jerman level A1 sepertiku. Bagaimana mungkin?
Alasannya satu, dia tak punya kegiatan yang mendekatkannya pada komunikasi bahasa Jerman sehari-hari. Dia tak bekerja, dia juga tak bersekolah.
"Karena ini, Hanum," ucap Fatma sambil mengarahkan telunjuknya ke kepala.
"Mungkin...," Fatma berhenti bicara seolah mencari ide di kepalanya. "Karena aku berhijab. Aku tak pernah mendapatkan balasan dari perusahaan tempat aku melayangkan lamaran pekerjaan. Jika harus bersekolah, aku tak mampu mengeluarkan biaya," ucap Fatma lirih.
Itulah Fatma, potret seorang imigran Turki di Austria. Pada usia produktif 29 tahun, dia jatuh bangun mengalami puluhan surat lamaran pekerjaan. Karena sehelai kain penutup tempurung kepala yang tampak dalam pas foto curriculum vitae-nya, dia tertolak untuk bekerja secara profesional. paling tidak, itulah pengakuan Fatma kepadaku.
Kami bercakap-cakap lama dalam bus. Sesekali Fatma mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan padaku panorama di luar jendela. Indah memang pemandangan kali itu. Kali pertama aku melihat gunungan tipis putih membubuh di atas daun-daun yang berusaha kembali bersemi. Putih seperti bunga es dala kulkas. Sebagian besar telah mengeras menjadi kristal es. Setiap ban bus melindasnya, bunyi gemeretak pun berdecak-decak. Oh, ini yang namanya salju.
Salju kali itu adalah yang pertama kulihat di Eropa. Tapi salju ini bukanlah salju segar yang diluruhkan langit tadi malam. Salju ini salju terakhir yang masih berusaha bertahan di tengah asumsi musim semi yang akan segera tiba. Hamparan sisa-sisa salju yang berserakan di daun-daun ini hampir saja membuatku terbuai. Melupakan sebuah pertanyaan yang sempat hinggap di kepala tentang dilema yang dialami Fatma, sebelum akhirnya pertanyaan itu kembali berkelebat di otakku.
"Fatma, maaf jika aku menyinggungmu. Kenapa kau tak berpikir, mungkin mmm...kualifikasimu kurang sesuai, atau pengalaman kerjamu kurang sehingga perusahaan di sini tidak menerimamu?" ucapku terbata-bata. Terbata-bata karena takut menyinggung perasaannya. Terbata-bata karena memang kemampuan bahasa Jermanku masih berada di dasar laut.
"Ah, tadinya kupikir juga demikian, Hanum. Sampai kuturunkan pilihanku. Katakan padaku, apakah profesionalitas dan kompetensi sangat dibutuhkan sekadar untuk menjadi portir dalam dapur?"
Aku terdiam. Portir di dapur. Aku melihat diriku sendiri. Aku sendiri tak berjilbab. Bagaimanapun, aku akan berpikir berkali-kali untuk mengambil pekerjaan sehari-hari mengangkat-angkat barang berat, atau gampangnya menjadi buruh kasar perempuan. Namun untuk Fatma, meski dia telah rela menjadi buruh agar tetap bisa bekerja, perusahaan-perusahaan di Austria tetap menolaknya.
Entah mengapa aku tertarik berdiskusi tentang isu jilbab dan pekerjaan ini dengan Fatma. Rasanya penasaran saja. Di Indonesia, perempuan berjilbab bisa berkarier sampai puncak. Di Eropa? Apalagi di Austria? Bagi Fatma, meski mendapatkan izin bekerja dari pemerintah dan juga dari suaminya, tetap tak ada artinya. Musykil perusaan di Austria mau menerimanya. Dia harus mengubur dalam-dalam harapan menjadi perempuan yang mengenal dunia kerja Sekarang tekadnya hanya satu: menjadi perempuan solehah yang menjaga keluarga dan keharmonisan rumah tangga. Itu saja, katanya.
"Fatma, kauambil sisi baiknya. Jika kau bekerja, siapa yang akan mengurusnya?" tanganku menunjuk bocah perempuan yang tertidur lelap di sebelahnya, yang tak lain adalah Ayse, anak Fatma yang berusia 3 tahun. Fatma tersenyum sambil mengelus-elus rambut putri semata wayangnya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Aku tahu dia sedang berpikir bahwa perkataanku mungkin ada benarnya.
http://ceritanovelonline.blogspot.com
Perjalanan ke tempat baru di Austria ini adalah ide Fatma saat pertemuan hari pertama di kelas bahasa Jerman. Aku selalu yakin, berkenalan dengan orang baru itu harus dengan cara yang mengesankan. Bagiku kalimat: "Hai, namaku Hanum. Namamu siapa? Senang berrkenalan denganmu" terdengar sangat membosankan. Kurang memberi impresi terhadap calon kawan.
Karena itu kusorongkan coklat bergambar sapi terlilit lonceng kepada Fatma yang duduk di sebelahku, "Magst du schokolade. Maukah kau cokelat ini?" tanyaku sambil mempraktikan bahasa Jerman dasarku. Kubuka sedikit kecemasan cokelat yang langsung  menyembulkan batang-batang cokelat dari balik lapisan dalamnya.
"Ah, Milka!" Fatma tampaknya kenal akrab dengan nama cokelat ini.
"Ich mag Milka gern. Aber...danke, Ich faste. Saya sangat suka cokelat Milka. Tapi...terima kasih, saya sedang berpuasa," jawab Fatma santun.
Tadinya aku agak kecewa karena penawaranku ditolaknya. Namun aku senang, karena penolakannya didasarkan sebuah ibadah yang aku tahu benar maknanya. Sejurus kemudian, kututup lagi kemasan cokelat yang sudah terlanjut robek itu, lalu kujulurkan kembali kepada Fatma.
"Ambillah untuk berbuka puasa nanti. Kau berpuasa Senin-Kamis, ya?"
Fatma terlihat begitu girang mendengar responku yang paham tentang puasa yang dilakoninya. Dengan bahasa Jerman seadanya, jadilah kami kawan dekat sejak itu. Fatma menjadi rahmat buatku. Rahmat pertemanan dari sebatang cokelat.

 

Setiap istirahat kelas yang berdurasi 15 menit, Fatma mengajakku shalat zuhur berjamaah. Awalnya aku kebingungan, mana mungkin institusi sekuler semacam kursus bahasa ini menyediakan langgar atau mushala? Tidak mudah menemukan tempat ibadah shalat di Eropa. Namun Fatma panjang akal. Dia menemukan sebuah tempat--walau kurang representatif untuk shalat, tetapi suasana di sana cukup khidmat--yaitu ruang penitipan bayi dan anak para peserta kursus bahasa. Setiap kali kursus, kami berdua shalat zuhur, menyempil di antara bayi dan balita yang tengah tergeletak tertidur pulas. Dengkuran dan dengusan lirih bayi mungil justru membuat shalat kami semakin khusyuk.
Karena aku muslimah, Fatma merasa mempunyai saudara dekat di kelas tersebut. Karena itu juga dia merelakan waktu akhir pekannya untuk mengajakku berkeliling kota. Memamerkan kota Wina kepada pendatang baru, tepatnya.
"Kau pernah melihat kecantikan kota Wina dari atas gunung, Hanum? Kalau belum, esok selesai kelas kau harus melihatnya!" Itulah ajakan jalan-jalan Fatma pertama kali di kelas.

99 Cahaya di Langit Eropa - Overture

0 comments
Sebuah kota di Eropa Barat, 11 September 1683
Malam semakin merayap, dingin pada akhir musim panas yang semakin memuncak. Laki-laki tua itu menunggu di dalam barak.
Seharusnya hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu untuk melancarkan aksinya. Semua sudah terencana rapi. Penantian hampir 100 tahun akhirnya akan segera terwujud. Dia akan dielu-elukan sebagai panglima perang paling besar pada zamannya.
Namun, mendung yang kelam di langit membuat dirinya menangguhkan niat. Dia mempunyai firasat buruk. Hujan akan memporak-porandakan semua rencana yang sudah tersusun rapi.  Dia tidak mau menghantam musuh saat hari hujan, mengulang kesalahan panglima perang sebelumnya.
Laki-laki itu terduduk di atas kursi kayu mempelajari sebuah peta. Dia membelai-belai jenggotnya yang panjang sambil mengangguk - angguk sendiri. Matanya tak berkedip memandang titik-titik di atas peta. Selain titik-titik itu, deretan garis yang menghubungkan titik-titik itu juga membuatnya tersenyum puas. Puas oleh gambaran peta yang baru saja diberikan oleh penasihatnya.
Peta pengepungan sebuah kota.
Seorang laki-laki lain tiba-tiba masuk ke dalam barak. Dia membawa pesan penting.
"Panglima, lapor!" seru laki-laki tadi saat menghadap laki-laki tua itu di barak.
"Penasihat, apa yang akan kausampaikan?
Kuharap berita baik," kata laki-laki tua itu.
"Siap Panglima, tinggal satu titik lagi. Pasukan kita sudah membuat terowongan bawah tanah di sini separuh jalan," kata sang penasihat menunjuk salah satu deret garis yang menghubungkan titik-titik di atas peta.
"Hingga hari ini kita sudah berhasil membuat 257 terowongan  ke pusat kota. Orang-orang terbaik telah kita tempatkan. Ahli peledak juga telah kita perintahkan untuk siap sedia. Jika tak ada aral melintang, besok adalah hari bersejarah bagi kita semua," tambah penasihat itu mantap, menerangkan kemajuan rencana penyerangan.
"Berapa prajurit Sipahi dan Janissari yang kita punya untuk melakukan serangan?"
"Tujuh ribu orang lebih, Panglima."
"Lalu, bagaimana kondisi kavaleri kita hingga saat ini?"
Kita kehilangan banyak, tetapi tak sebanyak lawan. Tujuh puluh tujuh ribu tentara sudah termobilisasi di depan benteng lawan."
"Jangan pernah lengah. Awasi terus sepanjang benteng. Jangan biarkan satu orang pun keluar dari sela-sela benteng. Kita akan kepung mereka sampai mereka kelaparan. Jika sampai ada yang akan melarikan diri, tangkap dan kita interogasi mereka!" perintah laki-laki tua itu lantang. Dia diam sejenak setelah penasihatnya berkata "Siap" dengan mantap. Lalu ada hening di sana.
"Bagaimana dengan mata-mata kemarin yang tertangkap?" tanya laki-laki tua itu lagi.
"Sudah dipancung. Bahasa Turki mereka bagus, tapi mereka gagal menerjemahkan sand-sandi dari pasukan kita," jawab penasihat itu dengan tegas.
"Kalau begitu, simpan energi kita. Sebelum siang kita gempur lawan! Jangan memulai serangan kecuali ada serangan dari dalam benteng. Tuhan bersama kita!" tutup laki-laki tua itu sambil mengibaskan tangannya ke arah penasihatnya. Sebuah tanda agar penasihatnya keluar dari barak.
"Siap, Panglima. Tuhan bersama kita," timpal penasihat itu. Namun, penasihat itu tak beranjak. Masih ada sesuatu yang ingin disampaikannya.
"...Mmm... Panglima... Apakah Panglima juga berkenan mendengar berita lainnya? Hanya saja berita ini sedikit kurang baik...," ucap penasihat itu terbata-bata.
Mata laki-laki tua itu tiba-tiba melotot. Dia seperti tak percaya. Ini adalah detik-detik yang menentukan. Seharusnya tak ada lagi berita buruk!
Laki-laki tua itu tak menjawab penasihatnya. Penasihatnya pun tak berani bersuara sedikit pun. Dia menunduk penuh ketakutan. Namun dia tahu, pesan ini harus disampaikan kepada orang yang paling bertanggung jawab dalam misi penaklukan ini.
"Katakan!" Suara berat laki-laki tua itu akhirnya keluar juga. Penasihatnya yang beberapa menit bergeming dalam posisinya akhirnya angkat bicara.
"Mereka tidak menyerang, Panglima. Tetapi anak buah kita melihat tembakan api terus-menerus dilontarkan ke udara dari dalam benteng," jawab penasihat itu dengan satu tarikan napas. Dia seperti tak tahu harus menjawab apa jika ditanya pemimpinnya tentang hal aneh itu.
Lontaran sekam berapi. Ada dua kemungkinan, sandi untuk pasukan bantuan... atau pertanda penyerahan diri... Tapi jika itu adalah penyerahan diri, seharusnya, seorang kurir sudah dikirim ke dalam barak. Jadi ini adalah...
Hanya itu yang ada di pikiran laki-laki tua itu. Orang-orang di dalam kota itu telah meminta bala bantuan dari luar!
Laki-laki tua itu bangkit dari tempat duduknya yang empuk, berjalan di depan penasihatnya yang masih berdiri tertegun. Lalu dia berlari keluar barak nyamannya, menyingkap tirai, lalu menatap bebas pemandangan yang ada di depannya.
Sebuah benteng kokoh nan tinggi menjulang berdiri di hadapannya. Laki-laki tua itu terus memandang sekeliling. Dengan pencahayaan lampu - lampu api yang dipasang di tiap-tiap barak kecil milik pasukannya, laki-laki itu berjalan sendiri di tengah rintik hujan. Pandangannya kali ini tak terbatas. Kota yang dia kepung ini telah dia pelajari seluk-beluknya berbulan-bulan. Laki-laki tua itu yakin tak ada yang tercecer dari rencananya, hingga dia menyadari sesuatu hal... kota ini dikepung oleh perbukitan tinggi!
Lalu dia teringat sesuatu lagi... dua mata-mata musuh yang tertangkap. Jika musuh mengirim mata-mata, mereka tentu tak akan mengirim hanya satu atau dua. mereka pasti memperbanyak kemungkinan...
Mungkinkah ada mata-mata musuh lain yang berhasil meloloskan diri dari puluhan ribu barak di luar benteng ini hingga mencapai bukit itu? Laki-laki tua itu bergetar. Dia tak percaya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Laki-laki tua itu terduduk lagi di singasananya dalam barak itu. DIa tak bisa tidur nyenyak.

http://ceritanovelonline.blogspot.com/

12 September 1683
Pagi telah menyongsong, namun salak anjing-anjing pemburu masih terdengar bersahutan. Seolah mereka ahli nujum yang menyampaikan hal buruk yang akan terjadi.
Laki-laki tua itu keluar dari barak lagi. Dia termenung memandang sekeliling. Hatinya bergejolak dasyat.
Siapakah sebenarnya yang aku bela dalam perang ini? Diriku sendiri? Sultanku? Agamaku? Atau ketamakanku?
Tidak ada yang berubah dari benteng yang tinggi kokoh itu. Rakyat berhasil membuat benteng terkuat dan termegah yang pernah ada di Eropa.
Nyala lampu api gantung semakin redup. Laki-laki tua itu membuka lipatan peta strategi pertempuran tadi malam. Titik-titik di peta dari kulit sapi itu menggambarkan bastion benteng kota yang bagian bawahnya dipasangi bubuk peledak. Jika dia menyeru "serbu" pada pasukannya, bastion-bastion benteng akan langsung meledak.
Di dalam benteng, tiba-tiba sebuah loncatan api terpelanting ke udara beberapa kali. SInyal permintaan bantuan dari dalam benteng kembali diletupkan.
Laki-laki tua itu menengok ke arah bukit di belakangnya. Bukit itu satu-satunya belantara yang tidak pernah dia perhitungkan. Dia berpikir cepat. Dia yakin musuhnya telah meminta bantuan dari luar, namun bantuan itu belum kunjung tiba. Jika perhitungannya benar, bantuan itu seharusnya akan datang hari ini. Artinya, dia harus lebih dulu menaklukan kota sebelum orang-orang kota mendapatkan bantuan dari luar.
Dia berketatapan hati. Sebelum matahari tergelincir, kota berbenteng itu harus digenggam!
Tapi agaknya semua sudah terlambat. Penasihatnya datang tergopoh-gopoh kepadanya.
"Panglima, pasukan gabungan Polandia dan Jerman mengirim pesan kepada kita. Mereka telah mengepung kita dari balik bukit, meminta kita mundur. Mohon maafkan hamba. Hamba tak bisa menjawab berapa kekuatan pasukan mereka."
Rasa panik tiba-tiba menyerang laki-laki tua itu. Tubuhnya bergetar lagi. Dia sadar, kini dirinya yang sebenarnya sedang dikepung musuh. Dari 2 arah! Musuh di dalam benteng dan musuh dari luar benteng.
Laki-laki tua itu tercenung. Dia gundah. Tapi baginya, ini semua adalah titik tanpa kembali. Dia takkan mundur barang selangkah pun.
"Bagikan pasukan menjadi 2! Siapkan semua Janissari dan Sipahi untuk menghadapi aliansi mereka di bukit. Sisanya menyerbu benteng bersamaku! Sekarang ini juga, perintahkan penyerbuah! Allah bersama kita..."

http://ceritanovelonline.blogspot.com/
 
Allah bersama kita
Itulah kata-kata terakhir laki-laki tua itu sebelum akhirnya dia menghunus pedang bersama pasukan kavalerinya, menghantam apa saja yang dilewatinya. Membakar semua rumah dan gubuk penduduk. Suara meriam dari pasukan artileri bergedebum-debum menggetarkan bumi dan langit siang itu. lalu suara ledakan dari bawah tanah pun berdentum menyobek permukaan tanah dan meruntuhkan bastion-bastion benteng.
Laki-laki tua itu sudah benar memperhitungkan semuanya. Hari ini adalah hari yang tenang tanpa hujan dan angin. Semua bubuk peledak juga meledak sesuai target. Namun kali ini, di atas kudanya, tiba-tiba dia merasa lemah. Teriakan "Allahu Akbar" yang terus dia kumandangkan dengan ribuan pasukannya tiba-tiba melemah. Matanya berkunang-kunang.
Tidak ada yang salah dengan semua rencana ini. Tapi ada rasa bersalah yang tiba-tiba menjalari dirinya. Sebuah bisikan datang dari lubuk hatinya. Seperti suara orang-orang yang datang dari alam masa depan. Suara anak, cucu, dan cicitnya yang belum hadir di muka bumi ini. Suara-suara itu memintanya untuk menangguhkan penaklukan kota ini.
Tapi laki-laki tua itu tak bisa berpikir jernih lagi. Di atas kudanya dia baru menyadari apa sebenarnya yang dia bela.
Laki-laki tua itu terus memacu kudanya, namun pandangan matanya semakin kabur. Jantungnya berdegup kencang. Kontrolnya terhadap kuda begitu limbung. Dia terperosok ke dalam parit yang dibuatnya sendiri. Jatuh terjerembab ke dasar parit dalam.
Sangat dalam...

The Host - Bab 20

0 comments
Dibebaskan

Jeb membiarkanku menangis habis-habisan tanpa menggangguku. Ia tidak berkomentar ketika kemudian aku terisak-isak. Ketika aku sudah diam selama kira-kira setengah jam, barulah ia bicara.
 
"Kau masih terjaga?"
Aku tidak menjawab. Aku sudah sangat terbiasa dengan kesunyian.
"Kau ingin keluar dan meregangkan tubuh?" tawanya. "Memikirkan lubang tolol itu saja sudah membuatku sakit punggung."
Ironisnya, mengingat waktu satu minggu yang kuhabiskan dalam kesunyian yang membuatku sinting, aku malah merasa tak ingin ditemani. Tapi tawaran Jeb tidak mampu kutolak. Sebelum aku bisa memikirkannya, kedua tanganku sudah menarikku melewati lubang keluar.
Jeb sedang duduk bersila di atas kasur. Kuamati reaksinya ketika aku mengguncang-guncang lengan dan kaki serta memutar bahu, tapi ia tetap memejamkan mata. Seperti saat Jamie berkunjung, ia tampak sedang tidur.
Sudah berapa lama sejak aku melihat Jamie? Dan bagaimana keadaannya sekarang? Hatiku yang sudah nyeri sedikit berguncang secara menyakitkan.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Jeb. Matanya terbuka.
Aku mengangkat bahu.
"Kau tahu, semua akan baik-baik saja." Ia nyengir lebar sekali, hingga wajahnya meregang. "Hal-hal yang kukatakan kepada Jared... Well, aku tak mau mengatakan aku berbohong, karena semua itu benar, jika kau memandangnya dari sudut tertentu. Tapi dari sudut lain, semua itu tidak terlalu benar, dan lebih tepat jika dibilang itu yang perlu didengar Jared."
Aku hanya menatap Jeb, tidak memahami sepatah kata pun yang ia ucapkan.
"Bagaimanapun, Jared perlu istirahat dari ini. Bukan darimu, Nak," imbuhnya cepat-cepat, "tapi dari situasi ini. Dia akan mendapat perspektif baru selama kepergiannya."

Aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin Jeb bisa tahu persis kata-kata dan frasa-frasa apa yang bakal menyakitiku. Dan, terlebih lagi, mengapa Jeb peduli seandainya kata-katanya menyakitiku, atau bahkan seandainya punggungku sakit dan berdenyut-denyut? Kebaikan hatinya terhadapku terasa menakutkan, karena tak bisa dipahami. Setidaknya tindakan-tindakan Jared masuk akal. Usaha pembunuhan Kyle dan Ian, kegairahan dokter itu untuk menyakitiku--semua perilaku itu juga logis. Bukan kebaikan hati. Apa yang diinginkan Jeb dariku?

"Jangan murung begitu," desak Jeb. "Ini ada sisi baiknya. Jared benar-benar keras kepala soal kau. Dan, karena sekarang dia sudah tak lagi terlibat, seharusnya segalanya lebih nyaman."
Alisku berkerut ketika mencoba memahami maksud Jeb.
"Misalnya," lanjut Jeb. "Ruangan ini biasanya kami gunakan untuk gudang. Nah, ketika Jared dan sobat-sobatnya kembali, kita memerlukan tempat untuk meletakkan semua barang yang mereka bawa pulang. Jadi, sekarang kita harus mencari tempat baru untukmu juga. Tempat yang lebih besar, mungkin? Yang memiliki tempat tidur?" Ia kembali tersenyum ketika mengiming-imingiku.

Aku menunggunya berhenti bicara dan mengatakan kepadaku ia bergurau.
Tapi mata Jeb--yang sewarna jins pudar--berubah amat, sangat lembut. Sesuatu mengenai ekspresi di dalam matanya kembali membuat tenggorokanku tercekat.
"Kau tak perlu kembali ke lubang itu, Sayang. Bagian terburuknya sudah lewat."
Aku mendapati diriku tak bisa meragukan tatapan tulus di wajah Jeb. Untuk kedua kali dalam waktu satu jam, kuletakkan wajah ke dalam tangan dan aku menangis.
Jeb bangkit berdiri dan menepuk-nepuk bahuku dengan canggung. Tampaknya ia tidak nyaman dengan air mata. "Sudah, sudah," gumamnya.
Kali ini aku bisa menguasai diri lebih cepat. Ketika aku mengusap mataku yang basah dan tersenyum ragu kepadanya, Jeb mengangguk setuju.
"Gadis baik," ujarnya, kembali menepuk-nepukku. "Nah, kita harus tetap di sini, sampai yakin Jared sudah benar-benar pergi dan tak bisa memergoki kita." Ia nyengir penuh persekongkolan. "Lalu kita akan bersenang-senang!"

Seingatku, gagasan Jeb untuk bersenang-senang biasanya berhubungan dengan perselisihan bersenjata.
Jeb tergelak melihat ekspresi wajahku. "Jangan khawatir. Sementara menunggu, kau sebaiknya mencoba beristirahat. Aku berani bertaruh, kasur tipis itu pun akan terasa sangat nyaman untukmu saat ini."

Kupandang wajah Jeb, lalu kasur di lantai, lalu kupandang lagi wajahnya.
"Ayolah," ujarnya. "Kelihatannya kau bisa memanfaatkan tidur yang nyaman. Aku akan menjagamu."
Dengan terharu, diiringi kelembaban baru di mataku, kujatuhkan tubuhku ke kasur dan kuletakkan kepalaku pada bantal. Serasa surga, walaupun Jeb menyebutnya tipis. Aku meregangkan sekujur tubuhku, meluruskan jari-jari kaki, dan menjangkau ke atas dengan jari-jari tangan. Aku mendengar sendi-sendiku berkeretak. Lalu kubiarkan diriku luruh ke dalam kasur. Rasanya seakan kasur itu memelukku, menghapuskan semua bagian yang sakit. Aku mendesah.
"Menyenangkan melihatmu seperti itu," gumam Jeb. "Ketika mengetahui seseorang menderita di bawah atap rumahmu sendiri, rasanya seperti gatal yang tidak bisa kaugaruk."

Jeb menjatuhkan diri ke lantai beberapa meter dariku, dan mulai bersenandung pelan. Aku sudah tertidur sebelum ia menyelesaikan bait pertama.
Ketika terbangun, aku tahu aku telah tidur nyenyak lama sekali--lebih lama daripada sebelumnya, semenjak datang kemari. Tak ada rasa sakit, tak ada gangguan-gangguan mengerikan. Seharusnya aku merasa sangat nyaman, tapi terbangun di atas bantal mengingatkanku bahwa Jared sudah pergi. Baunya masih seperti bau Jared. Dan dalam artian yang baik, tidak seperti bau tubuhku.
Jared kembali menjadi mimpi, desah Melanie pilu.

Aku hanya bisa mengingat mimpiku samar-samar, tapi aku tahu itu berhubungan dengan Jared, seperti yang biasa terjadi ketika aku bisa tidur cukup nyenyak hingga bermimpi.

"Pagi, Nak," sapa Jeb. Ia terdengar ceria.
Kubuka kelopak mataku untuk memandangnya. Apakah ia duduk bersandar di dinding semalamam? Ia tidak tampak lelah, tapi mendadak aku merasa bersalah karena telah memonopoli akomodasi yang lebih baik.
"Nah, mereka sudah lama pergi," ujar Jeb antusias. "Bagaimana kalau kita berjalan-jalan? Tanpa sadar ia membelai senapan yang menggantung di pinggangnya.
Mataku terbuka lebih lebar, menatapnya tak percaya. Jalan-jalan?
"Nah, jangan takut kepadaku. Tak seorang pun akan mengganggumu. Dan akhirnya kau toh harus bisa ke mana-mana sendiri di sekitar sini."

Jeb mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.
Aku menyambutnya. Kepalaku berputar-putar ketika aku mencoba memahami perkataan Jeb. Aku harus bisa ke mana-mana sendiri di sekitar sini? Mengapa? Dan apa yang dimaksudkannya dengan "akhirnya"? Berapa lama ia mengharapkanku bertahan hidup?

Jeb menarikku berdiri dan menuntunku berjalan.
Aku sudah lupa bagaimana rasanya bergerak melewati terowongan-terowongan gelap itu dengan tangan yang menuntunku. Begitu mudah--nyaris tidak memerlukan konsentrasi sama sekali.

"Baiklah," gumam Jeb. "Mungkin sayap kanan dulu. Memberikan tempat yang layak untukmu. Lalu dapur..." Ia terus merencanakan turnya, melanjutkan ketika kami melangkah melewati celah sempit itu ke dalam terowongan terang menuju ruang besar yang bahkan lebih terang lagi. Ketika terdengar suara-suara, mulutku berubah kering. Jeb terus mengajakku bicara, entah tidak menyadari atau mengabaikan ketakutanku.

"Aku berani bertaruh, wortel-wortelnya mulai tumbuh hari ini," ujar Jeb, ketika menuntunku ke plaza utama. Cahayanya membutakan. Aku tak bisa melihat siapa yang berada di sana, tapi bisa merasakan tatapan mereka yang tertuju kepadaku. Keheningan mendadak itu terasa mengancam, seperti biasa.

"Yep," jawab Jeb pada diri sendiri. "Nah, bagiku mereka selalu tampak sangat indah. Hijau musim semi yang menyenangkan seperti itu enak dilihat."
Ia berhenti, lalu merentangkan tangan, mengundangku melihat. Aku menyipitkan mata ke arah yang ditunjukkannya, tapi terus-menerus melirik ke sekeliling ruangan ketika menunggu mataku menyesuaikan diri. Perlu sejenak, tapi kemudian aku melihat apa yang dibicarakan Jeb. Aku juga melihat ada sekitar lima belas orang di sini hari ini, dan mereka juga sibuk mengerjakan hal lain.
Bidang persegi empat luas dan gelap yang memenuhi bagian tengah ruang gua besar itu tak lagi gelap. Setengah bidang itu ditutupi warna hijau musim semi, persis yang dikatakan Jeb. Cantik. Dan menakjubkan.
Tak heran tak seorang pun berdiri di bagian yang itu. Ternyata itu kebun.
"Wortel?" bisikku.
Jeb menjawab dengan volume normal. "Setengah bagian yang sedang tumbuh menghijau ini. Setengahnya lagi bayam. Akan kelihatan dalam beberapa hari."

Orang-orang di dalam ruangan telah kembali bekerja, sambil sesekali mengintipku, tapi mereka terutama berkonsentrasi dengan apa yang sedang mereka lakukan. Cukup mudah untuk memahami kegiatan mereka--dengan gerobak besar dan slang-slang--setelah kebun itu kukenali.
"Irigasi?" bisikku kembali.
"Benar. Air cepat sekali mengering di udara sepanas ini."
Aku mengangguk mengiyakan. Kurasa masih pagi, tapi aku sudah berkeringat. Panas yang berasal dari cahaya luar biasa di atas kepala itu menyesakkan di dalam ruang-ruang gua. Kucoba untuk meneliti kembali langit-langit, tapi cahayanya kelewat terang untuk ditatap.


Kutarik lengan baju Jeb, lalu aku menyipit memandang cahaya menyilaukan itu. "Bagaimana caranya?"
Jeb tersenyum, senang dengan rasa penasaranku. "Sama seperti yang dilakukan pesulap--dengan cermin-cermin, Nak. Ratusan jumlahnya. Perlu waktu cukup lama bagiku untuk memasang semuanya di sana. Menyenangkan punya banyak tangan ekstra di sekitar sini, saat cermin - cermin itu perlu dibersihkan. Lihat, hanya ada empat ventilasi kecil di langit-langit, dan cahayanya tak memadai untuk mewujudkan apa yang ada di dalam benakku. Bagaimana menurutmu?"

Ia membusungkan dada lagi, kembali merasa bangga.
"Hebat," bisikku. "Mengagumkan."
Jeb nyengir lalu mengangguk, menikmati reaksiku.
"Ayo terus," sarannya. "Banyak yang harus dilakukan hari ini."
Ia menuntunku ke terowongan baru, lorong lebar yang terbentuk alami dan memanjang dari gua besar itu. Ini daerah baru. Semua ototku menegang. Aku bergerak maju dengan kaki kaku dan lutut lurus.

Jeb menepuk-nepuk tanganku, tapi juga mengabaikan kekhawatiranku. "Sebagian besar bagian ini berisi kamar tidur dan semacam gudang. Di sini lorong-lorongnya lebih dekat dengan permukaan, jadi lebih mudah memperoleh cahaya."
Ia menunjuk celah sempit terang pada langit-langit terowongan di atas kepala. Celah itu memancarkan bintik cahaya seukuran tangan di lantai.

Kami sampai di pertigaan yang luas--sebenarnya bukan pertigaan, karena terlalu banyak cabang. Percabangan lorong-lorong yang menyerupai gurita.
"Ketiga dari kiri," ujar Jeb, memandangku penuh harap.
"Ketiga dari kiri?" ulangku.
"Benar. Jangan lupa. Mudah tersesat di sekitar sini, dan itu tidak aman untukmu. Orang-orang lebih suka langsung menikammu daripada menunjukkan arah yang benar."
Aku bergidik. "Terima kasih," gumamku, diam-diam menyindirnya.
Jeb tertawa, seakan jawabanku membuatnya senang. "Tak ada gunanya mengabaikan kebenaran. Menyebutkannya keras-keras tidak akan membuatnya semakin buruk."
Takkan membuatnya semakin baik juga. Tapi aku diam saja. Aku mulai sedikit gembira. Sangat menyenangkan punya seseorang yang bicara denganku lagi. Jeb bisa dibilang teman menarik.

"Satu, dua, tiga," hitungnya, lalu ia menuntunku menyusuri lorong ketiga dari kiri. Kami mulai melewati lubang-lubang masuk bulat yang ditutupi berbagai pintu seadanya. Beberapa di antaranya diberi tirai dari lembaran kain berpola; yang lainnya ditutupi lembaran besar karton yang disatukan dengan selotip. Ada satu lubang yang ditutupi dua pintu asli--yang satu dari kayu bercat merah, satunya lagi dari logam abu-abu.
"Tujuh," hitung Jeb, lalu berhenti di depan lubang yang agak kecil, yang titik tertingginya hanya beberapa senti dari kepalaku.
Lubang yang ini menutupi privasinya dengan tirai hijau muda cantik--jenis tirai yang biasanya membagi ruangan di dalam ruang tamu elegan. Ada pola bunga-bunga sakura yang dibordir di atas kain sutranya.

"Ini satu - satunya ruangan yang terpikir olehku saat ini. Satu-satunya yang dilengkapi dengan layak untuk ditempati manusia. Bakal kosong selama beberapa minggu, dan kami akan memikirkan sesuatu yang lebih baik untukmu ketika ruangan ini kembali diperlukan."

Jeb menyibak tirai, dan cahaya yang lebih terang--jika dibandingkan dengan cahaya di lorong--menyambut kami.
Ruangan yang diperlihatkan Jeb memberiku perasaan vertigo aneh--mungkin karena ruangannya sangat tinggi tapi tidak terlalu lebar. Berdiri di dalamnya seperti di dalam menara atau lumbung. Bukannya aku pernah berada di tempat-tempat semacam itu, tapi semua itu perbandingan yang dibuat Melanie. Langit-langitnya, yang tingginya dua kali lebarnya, berupa labirin retakan. Seperti jalinan cahaya yang merambat, celah-celah itu nyaris melingkar penuh. Ini kelihatan berbahaya bagiku. Tidak stabil. Tapi ketika menuntunku semakin dalam Jeb tidak menunjukkan perasaan takut kalau-kalau langit - langitnya runtuh.

Ada kasur berukuruan besar di lantai, ketiga sisinya berjarak sekitar satu meter dari dinding. Dua bantal dan dua selimut diatur dalam dua konfigurasi terpisah di atas masing - masing setengah bagian kasur, sehingga ruangan ini tampaknya ditempati dua orang. Tiang kayu tebal--bentuknya menyerupai pegangan garukan tanah--ditelattak horisontal setinggi bahu pada dinding yang jauh, dan masing-masing ujungnya dimasukkan ke dua dari lubang-lubang yang menyerupai keju Swiss di batu. Di atasnya tersampir beberapa kaus dan dua jins. Bangku kayu bersandar di dinding di samping rak pakaian seadanya itu, dan di lantai di bawahnya ada tumpukan buku bacaan lusuh.

"Siapa?" tanyaku kepada Jeb, kembali berbisik. Ruangan ini jelas milik orang, sehingga aku tak lagi merasa hanya sendirian bersama Jeb.

"Salah seorang dari mereka yang sedang pergi menjarah. Takkan kembali selama beberapa waktu. Kami akan mencari tempat lain untukmu ketika dia kembali."
Aku tidak suka itu. Bukan tidak suka kamarnya, tapi gagasan tinggal di dalamnya. Kehadiran si pemilik sangat terasa, walaupun barang-barang miliknya sederhana. Tak peduli siapa pun orangnya, ia takkan senang melihatku di sini. Ia akan membencinya.

Jeb tampaknya bisa membaca pikiranku--atau mungkin ekspresiku cukup jelas sehingga ia tidak perlu menebaknya.
"Nah, nah," katanya. "Jangan khawatir soal itu. Ini rumahku, dan ini salah satu kamar tamuku. Aku yang menentukan siapa tamuku dan siapa yang bukan. Saat ini kau tamjku, dan aku menawarkan kamar ini kepadamu."

Aku masih tidak menyukai gagasan itu, tapi juga tidak ingin membuat Jeb jengkel. Aku bersumpah takkan mengusik sesuatu pun, walaupun itu berarti tidur di lantai.
"Well, ayo kita lanjutkan. Jangan lupa: ketiga dari kiri, lubang ketujuh."
"Tirai hijau," imbuhku.
"Benar sekali."

Jeb membawaku kembali melewati ruangan dengan kebun besar, mengitari pinggirannya ke sisi seberang, dan melewati lubang terowongan terbesar. Ketika kami melewati orang-orang yang sedang mengitari kebun, mereka mengejang lalu berbalik, takut kalau aku berada di balik punggung mereka.
Terowongan ini berpenerangan baik. Celah-celah bercahaya terang muncul dengan jarak terlalu teratur, sehingga tak mungkin alami.
"Kini kita semakin mendekati permukaan. Lebih kering, tapi juga lebih panas."
Aku langsung merasakannya. kini kami tidak sedang direbus, tapi dipanggang. Udara lebih tidak apak dan menyesakkan. Aku bisa merasakan debu padang gurun.

Terdengar lebih banyak suara di depan sana. Aku mencoba menguatkan diri menghadapi reaksi yang tak terhindarkan. Seandainya Jeb bersikeras memperlakukanku seperti... seperti manusia, seperti tamu yang disambut dengan gembira, aku harus membiasakan diri. Tak ada alasan untuk terus-menerus merasa mual. Bagaimanapunk, perutku mulai bergolak tidak senang.
"Ini menuju dapur," ujar Jeb.
Pertama-tama aku mengira kami berada di terowongan lain penuh orang. Aku merapat ke dinding, mencoba menjaga jarak.
Dapurnya berupa koridor panjang berlangit-langit tinggi, lebih tinggi dibandingkan luasnya, seperti kamar baruku. Cahayanya terang dan panas. Bukan celah-celah sempit di batu tebal, tapi tempat ini punya lubang-lubang besar terbuka.
"Tentu saja kami tidak bisa memasak di siang hari. Asap. Kau tahu, kan? Jadi, kami lebih sering menggunakan tempat ini sebagai ruang makan, hingga malam tiba."
Semua percakapan mendadak berhenti, sehingga kata-kata Jeb bisa didengar jelas oleh semua orang. Aku mencoba bersembunyi di belakang Jeb, tapi ia terus berjalan semakin jauh.

Kami mengganggu sarapan, atau mungkin makan siang.
Para manusia--hampir dua puluh jumlahnya menurut hitungan cepatku--berada sangat dekat di sini. Tidak seperti di ruang gua yang besar itu. Aku ingin terus memandangi lantai, tapi tak bisa menghentikan mataku agar tidak menjelajahi ruangan. Untuk berjaga-jaga. Aku bisa merasakan tubuhku menegang, siap kabur, walaupun aku tak tahu harus lari ke mana.

Di kedua sisi lorong ada tumpukan-tumpukan batu yang memanjang. Sebagian besar batu vulkanik ungu kasar, dengan semacam substansi yang berwarna lebih muda--semen?--di sela-selanya. Substansi itu berfungsi sebagai pelapis, merekatkan batu-batu itu. Di atas tumpukan-tumpukan ini terdapat batu-batu brebeda, lebih cokelat dan datar. Semua juga direkatkan menjadi satu dengan pelapis abu-abu muda. Produk akhirnya adalah permukaan yang relatif rata, seperti meja atau meja dapur. Jelas itulan kegunaan tumpukan-tumpukan batu itu.

Semua manusia duduk di atasnya, sebagian bersandar di sana. Aku mengenali roti-roti bulat yang mereka pegang di antara meja dan mulut mereka. Mereka terpaku tak percaya ketika melihat Jeb dan tur satu orangnya.
Beberapa di antara mereka kukenal. Sharon, Maggie, dan Doc adalah kelompok yang paling dekat denganku. Sepupu Melanie dan bibinya itu memelototi Jeb dengan marah. Aku punya keyakinan aneh bahwa, walaupun aku berdiri jungkir balik dan meneriakkan lagu-lagu dari ingatan Melanie sekeras mungkin, mereka masih tidak mau memandangku. Tapi dokter itu memandangku  dengan rasa penasaran yang jujur dan agak ramah, membuat bagian dalam tulang-tulangku sangat dingin.

Di ujung belakang ruangan berbentuk aula itu aku mengenali sosok lelaki jangkung berambut sehitam tinta. Jantungku tergeragap. Kupikir Jared mengajak kakak-beradik jahat itu bersamanya, untuk sedikit meringankan tugas Jeb mempertahankan hidupku. Tapi setidaknya itu si adik, Ian, yang akhir-akhir ini mulai punya hati nurani. Ia tak seburuk Kyle. Namun penghiburan ini tidak memperlambat denyut nadiku yang berpacu.
"Semua sudah kenyang secepat ini?" sindir Jeb keras-keras.
"Kehilangan nafsu makan," gumam Maggie.
"Bagaimana denganmu?" tanya Jeb, menoleh kepadaku. "Kau lapar?"
Gerutuan pelan terdengar di antara manusia-manusia itu.
Aku menggeleng--gerakan pelan tapi panik. Aku bahkan tak tahu apakah aku merasa lapar, tapi aku tahu aku tak bisa makan di hadapan sekerumunan orang yang dengan senang hati bersedia menyantapku.
"Well, aku lapar," gumam Jeb. Ia berjalan menyusuri lorog di antara meja, tapi aku tidak mengikutinya. Aku tak tahan dengan pikiran berada dalam jangkauan mudah orang-orang itu. Aku tetap merapat ke dinding, di tempatku berdiri. Hanya Sharon dan Maggie yang mengamati Jeb mendekati wadah plastik besar di meja dan mengambil sekerat roti. Yang lain mengamatiku. Aku yakin, seandainya aku bergerak satu senti saja, mereka akan menerkamku. Kucoba untuk tidak bernapas.
"Well, ayo jalan terus," saran Jeb dengan mulut penuh roti, ketika berjalan kembalik kepadaku. "Kelihatannya tak seorang pun bisa berkonsentrasi pada makan siangnya. Orang-orang ini mudah terganggu."

Aku sedang mengamati manusia-manusia itu, menunggu gerakan mendadak. Setelah mengenali beberapa di antaranya, aku tidak benar-benar memandang wajah mereka sehingga tidak memperhatikan Jamie sampai ia berdiri.
Jamie sekepala lebih pendek daripada orang-orang dewasa di salah satu sisinya, tapi lebih tinggi daripada dua anak lebih kecil yang duduk di meja di sisinya yang lain. Dengan ringan Jamie melompat turun dari kursi dan membuntuti Jeb. Wajahnya tegang, serius, seakan sedang mencoba memecahkan persamaan matematika yang sulit di kepalanya. ia mengamatiku dengan mata sipitnya ketika mendekat di belakang Jeb. Kini bukan aku satu-satunya yang menahan napas di dalam ruangan ini. Tatapan yang lain berpindah-pindah antara aku dan adik Melanie.
Oh, Jamie, ujar Melanie. Ia membenci raut dewasa di wajah Jamie, dan mungkin kebencianku bahkan lebih besar. Perasaan bersalahku lebih besar daripada perasaan Melanie, karena telah meletakkan raut seperti itu di sana.
Kalau saja kita bisa menyingkirkan ekspresi itu, desah Melanie.
Sudah terlambat. Sekarang apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya lebih baik?
Aku tidak mengajukan pertanyaan itu untuk memperoleh jawaban, tapi kudapati diriku mencari-cari jawabannya, begitu pula Melanie. Kami tidak menemukan apa-apa dengan memikirkannya dalam waktu sesingkat itu. Aku yakin tak ada yang bisa ditemukan. Tapi kami sama-sama tahu bahwa kami akan kembali mencari, ketika sudah menyelesaikan tur tolol ini dan punya kesempatan memikirkannya. Seandainya kami bisa bertahan hidup selama itu.
"Kau mau apa, Nak?" tanya Jeb tanpa memandang Jamie.
"Hanya ingin tahu kau sedang apa," jawab Jamie. Suaranya berusaha tidak peduli, tapi gagal.
Jeb berhenti ketika tiba di dekatku, lalu berbalik memandang Jamie. "Aku membawanya berkeliling tempat ini. Persis seperti yang kulakukan terhadap semua pendatang baru."
"Boleh ikut?" tanya Jamie.
Kulihat Sharon menggeleng kuat-kuat dengan wajah marah. Jeb mengabaikannya.
"Tak masalah bagiku... jika kau bisa menjaga sikap."
Jamie mengangkat bahu. "Tak masalah."
Lalu aku terpaksa bergerak--untuk menyatukan jari-jari tanganku di depan tubuh. Aku ingin sekali menyingkirkan rambut Jamie yang berantakan dari matanya, kemudian memeluk lehernya. Aku yakin itu perbuatan yang tidak akan berjalan baik.
"Ayo," ujar Jeb kepada kami berdua. Ia membawa kami keluar melalui jalan masuk tadi. Jeb berjalan di salah satu sisiku, Jamie di sisi yang lain. Tampaknya Jamie mencoba menatap lantai, tapi ia terus-menerus melirik wajahku--persis seperti yang kulakukan, karena aku tak tahan untuk tidak melirik wajahnya. Ketika mata kami bertemu, kami selalu bergegas mengalihkan pandang.

Kami sudah menyusuri setengah ruang besar itu ketika mendengar langkah di belakang kami. Reaksiku begitu spontan dan tanpa berpikir. Aku bergerak cepat ke salah satu sisi terowongan, menarik Jamie dengan sebelah lengan, sehingga aku berada di antara dirinya dan apa pun yang mendekatiku.


"Hei!" protes Jamie, tapi ia tidak menyingkirkan lenganku.
Jeb sama cepatnya. Senapan itu berputar keluar secepat kilat dari tali pengikatnya.
Ian dan Doc sama-sama mengangkat tangan.
"Kami juga bisa menjaga sikap," ujar Doc. Sulit untuk percaya lelaki bersuara lembut dengan raut wajah ramah ini adalah penyiksa tetap. Ia jauh lebih menakutkan bagiku, karena raut wajahnya sangat baik. Kau bakal waspada di malam yang gelap dan mengancam. Kau akan siaga. Tapi di hari yang terang dan cerah? Bagaimana kau bisa tahu kapan kau harus lari, jika tidak mengetahui tempat berbahaya yang harus kauhindari?
Jeb menyipit memandang Ian, moncong senapannya bergeser mengikuti pandangannya.
"Aku tidak mau membuat masalah, Jeb. Aku akan bersikap sama baiknya dengan Doc."
"Baiklah," jawab Jeb singkat, seraya menyimpan senapan. "Tapi jangan mengujiku. Aku sudah lama sekali tidak menembak orang dan aku agak merindukan kegairahan itu."
Aku terkesiap. Semua mendengarnya, dan berpaling untuk melihat wajahku yang ketakutan. Doc-lah yang pertama tertawa, tapi bahkan Jamie pun langsung bergabung.
"Hanya bergurau," bisik Jamie kepadaku. Tangannya bergerak dari sisi tubuhnya, seakan hendak meraih tanganku. Tapi ia cepat-cepat memasukkan tangannya ke saku celana pendeknya. Kubiarkan lenganku--yang masih terentang dengan gaya melindungi di depan tubuhnya--terjatuh juga.

"Well, jangan membuang-buang waktu," ujar Jeb, masih sedikit masam. "Kalian harus bergegas, karena aku tak mau menunggu. Sebelum selesai bicara, ia sudah mulai berjalan.

The Host - Bab 19

0 comments
Ditinggalkan

"Siapa Pencari berpakaian serbahitam itu? Mengapa dia masih mencari?" Teriakan Jared memekakkan telinga, menggema ke arahku dari semua jurusan.
Aku bersembunyi di balik kedua tanganku, menunggu pukulan pertama.
"Ah--Jared?" gumam Ian. "Mungkin kau harus membiarkanku..."
"Jangan ikut campur!"
 
Suara Ian semakin dekat, dan batu-batu berkeretak ketika ia mencoba mengikuti Jared ke dalam ruangan kecil yang sudah kelewat sesak itu. "Tidakkah kaulihat mahluk itu terlalu takut untuk bicara? Biarkan dia --"
Aku mendengar sesuatu menggores lantai ketika Jared bergerak, lalu terdengar suara gedebuk. Ian memaki. Aku mengintip dari sela-sela jari. Ian tak lagi terlihat dan Jared memunggungiku.

Ian meludah dan mengerang. "Itu yang kedua," gerutunya. Dan aku mengerti pukulan yang seharusnya ditujukan kepadaku telah dialihkan dengan ikut campurnya Ian.
"Aku siap memberikan yang ketiga," gumam Jared. Tapi ia berbalik menghadapku dengan membawa lampu. Ia meraih lampu itu dengan tangan yang memukul Ian. Gua nyaris berkilau setelah begitu banyak kegelapan.
Jared kembali bicara kepadaku. Ia mengamati wajahku di dalam penerangan baru itu, dan membuat setiap kata menjadi kalimat. "Siapa. Pencari. Itu."

Aku menjatuhkan kedua tanganku dan menatap ke dalam mata tak berbelaskasihan itu. Aku terganggu  melihat seseorang menderita karena kebisuanku--walaupun orang itu pernah mencoba membunuhku. Seharusnya bukan begini cara kerja penyiksaan.
Ekspresi Jared goyah ketika membaca perubahan di wajahku. "Aku tidak perlu menyakitimu," ujarnya pelan, tidak terlalu yakin. "Tapi aku harus mendapat jawaban atas pertanyaanku."
Ini bahkan bukan pertanyaan yang benar. Bukan rahasia yang harus kulindungi.
"Katakan," desak Jared. Matanya sarat frustasi dan ketidakbahagiaan mendalam.
Apakah aku benar-benar pengecut? Aku lebih suka percaya diriku pengecut, lebih suka prcaya ketakutanku terhadap rasa sakit mengalahkan segala hal lain. Alasan sesungguhnya aku membuka mulut untuk bicara, jauh lebih menyedihkan.
Aku ingin menyenangkan Jared. Ingin menyenangkan manusia yang teramat sangat membenciku ini.
"Pencari," kataku memulai. Suaraku kasar dan parau; sudah lama sekali aku tidak bicara.
Jared menyela tak sabar. "Kami sudah tahu dia Pencari."
"Bukan, bukan sekedar Pencari," bisikku. "Dia Pencari-ku."
"Apa maksudmu Pencari-mu?"
"Pencari yang ditugaskan untukku, untuk mengikutiku. Dialah alasan--" Aku menahan diri, tepat sebelum mengucapkan kata yang akan mengakibatkan kematian bagi kami. Tepat sebelum aku mengucapkan kata kami. Itu kebenaran sejati yang akan dipandang Jared sebagai kebohongan sejati, yaitu mempermainkan hasrat-hasrat terdalamnya, lukanya yang paling dalam. ia takkan pernah bisa melihat bahwa mungkin saja keinginannya terkabul. ia hanya akan melihat sosok pembohong berbahaya yang menatap lewat mata yang dicintainya.
"Alasan?" tanya Jared cepat.
"Alasan aku melarikan diri." Aku menghembuskan napas. "Alasan aku datang kemari."
Tidak benar seluruhnya, tapi juga tidak bohong seluruhnya.

Jared menatapku, mulutnya setengah terbuka, ketika mencoba mencerna perkataanku. Dari sudut mata aku melihat Ian mengintip lewat lubang gua. Mata biru cemerlangnya membelalak terkejut. Ada darah, berwarna gelap, di bibir pucatnya.
"Kau melarikan diri dari Pencari? Tapi kau salah satu dari mereka!" Jared berjuang menenangkan diri, kembali pada interogasinya. "Mengapa dia mengikutimu? Mau apa dia?"
Wajah Jared mengeras. "Dan kau mencoba menuntunnya kemari?"
Aku menggeleng, "Aku tidak... aku..." Bagaimana aku bisa menjelaskannya? Jared takkan pernah menerima kebenaran itu.
"Apa?"
"Aku... aku tak ingin memberitahunya. Aku tidak menyukainya."
Jared mengerjap-ngerjapkan mata, kembali bingung. "Bukankah kalian semua harus saling menyukai?"
"Memang seharusnya begitu," ujarku mengakui. Dan wajahku memerah malu.
"Siapa yang kauberitau mengenai tempat ini?" tanya Ian lewat bahu Jared. Jared menggerutu, tapi tetap mengarahkan pandangannya kepadaku.
"Tidak ada. Aku tidak tahu... aku hanya melihat garis-garis itu. Garis-garis di album. Aku menggambarkannya untuk Pencari... tapi kami tidak memahaminya. Dia masih mengira garis-garis itu adalah peta perjalanan." Tampaknya aku tidak bisa berhenti bicara. Kucoba untuk menjaga kata-kataku keluar perlahan, untuk melindungi diri dari salah bicara.


"Apa maksudmu tidak memahami garis-garis itu? Kau ada di sini." Tangan Jared terayun ke arahku, tapi jatuh sebelum menempuh jarak singkat itu.
"Aku... aku punya masalah dengan... dengan... ingatan gadis itu. Aku tidak mengerti... aku tidak bisa mengakses segalanya. Ada dinding-dinding. Itulah sebabnya Pencari itu ditugaskan untukku, untuk menungguku mengungkapkan informasi-informasi lainnya." Terlalu berlebihan, terlalu berlebihan. Aku menggigit lidah.
Ian dan Jared bertukar pandang. Mereka tak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya. Mereka tidak memercayaiku, tapi ingin sekali percaya itu memungkinkan. Mereka terlalu menginginkannya, dan itu membuat mereka takut.
Suara Jared menyalak, mendadak kasar. "Kau bisa mengakses kabinku?"
"Setelah lama sekali."
"Lalu kau melaporkannya kepada Pencari."
"Tidak."
"Tidak? Kenapa tidak?"
"Karena... saat aku bisa mengingatnya... aku tidak ingin melapor kepadanya."

 
Mata Ian membelalak dan membeku.
Suara Jared berubah rendah, nyaris lembut. Jauh lebih membahayakan daripada teriakannya. "Mengapa kau tidak ingin melapor kepadanya?"
Rahangku terkatup erat. Ini memang bukan rahasia yang itu, tapi tetap saja Jared harus memaksaku untuk mengatakannya. Saat ini kegigihanku untuk menahan lidah tidak terlalu berhubungan dengan menjaga diri, tapi lebih berhubungan dengan sejenis kebanggaan dan keengganan tolol. Aku tidak akan mengatakannya kepada lelaki ini, lelaki yang membenciku karena aku mencintainya.
Jared mengamati kilau tekad di mataku, dan tampaknya ia paham apa yang harus dilakukannya untuk memperoleh jawaban. Ia memutuskan untuk melewati pertanyaan itu--mungkin untuk ditanyakan kembali nanti, disimpan untuk saat terakhir, kalau-kalau aku tak bisa lagi menjawab pertanyaan apa pun, ketika ia sudah selesai denganku.

"Mengapa kau tak bisa mengakses segalanya? Apakah itu... normal?"
Pertanyaan in juga sangat berbahaya. Untuk pertama kali, sejauh ini, aku mengucapkan kebohongan absolut.
"Dia jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Tubuhnya rusak."
Tak mudah bagiku berbohong. Kebohongan ini tampak jelas. Jared dan Ian sama-sama bereaksi terhadap nada palsu itu. Kepala Jared miring ke satu sisi; sebelah alis Ian yang sehitam tinta terangkat.
"Mengapa Pencari yang ini tidak menyerah seperti yang lain?" tanya Ian.
Mendadak aku merasa lelah. Aku tahu mereka bisa meneruskan interogasi ini semalaman, akan meneruskan interogasi ini semalaman jika aku menjawab terus, dan akhirnya aku akan melakukan kesalahan. Aku bersandar di dinding dan memejamkan mata.
"Aku tak tahu," bisikku. "Dia tidak seperti jiwa-jiwa lainnnya. Dia... menjengkelkan."
Ian tertawa singkat--dengan suara terkejut.
"Dan kau--apakah kau seperti... jiwa-jiwa lainnya?" tanya Jared.
Aku membuka mata dan menatapnya dengan lelah untuk waktu lama. Pertanyaan tolol, pikirku. Lalu kupejamkan mata rapat-rapat, kubenamkan wajahku pada lutut, dan kulekukan kedua lenganku di kepala.
Entah Jared mengerti aku sudah selesai bicara, atau tubuhnya mengeluh terlalu keras sehingga tak bisa ia abaikan. Ia menggerutu beberapa kali ketika menjejalkan tubuh untuk keluar dari lubangku, dengan membawa lampu bersamanya, lalu mengerang pelan ketika menggeliat.
"Itu di luar dugaan," bisik Ian.
"Bohong, tentu saja." Jared menjawabnya. Kata-kata mereka nyaris tak terdengar. Mungkin mereka tidak menyadari, betapa suara menggema kembali kepadaku di dalam sini. "Tapi... aku tidak mengerti dia ingin kita percaya bagian mana ceritanya--kemana dia mencoba menuntun kita."
"Kurasa dia tidak berbohong. Well, kecuali sekali itu. Apakah kau memperhatikan?"
"Bagian dari sandiwaranya."
"Jared, kapan kau pernah bertemu parasit yang bisa berbohong mengenai apa saja? Kecuali Pencari, tentu saja."
"Jadi, itulah dia."
"Kau serius?"
"Itu penjelasan terbaik."
"Dia--mahluk itu sangat jauh berbeda dengan Pencari yang pernah kujumpai. Seandainya ada Pencari yang tahu cara menemukan kita, dia pasti sudah membawa satu pasukan kemari."
"Dan mereka tidak akan menemukan apa-apa. Tapi ia--mahluk itu berhasil masuk, bukan?"
"Hampir terbunuh setengah lusin kali--"
"Tapi masih bernapas, kan?"
Mereka diam untuk waktu lama. Begitu lama, sampai aku mulai berpikir untuk melepaskan diri dari posisi meringkuk seperti bola padat yang sedang kulakukan. Tapi aku tak ingin menciptakan suara apa pun ketika membaringkan tubuh. Aku berharap Ian pergi, sehingga aku bisa tidur. Adrenalin yang menguap dari sistemku membuatku sangat lelah.
"Kurasa aku akan bicara dengan Jeb," bisik Ian akhirnya.
"Oh, itu ide hebat." Suara Jared kental dengan sindiran.
"Kau ingat malam pertama itu? Ketika mahluk itu melompat di antara kau dan Kyle? Itu aneh."
"Dia hanya mencoba mencari cara untuk tetap hidup, untuk kabur..."
"Dengan memberi Kyle lampu hijau untuk membunuhnya? Rencana bagus."
"Itu berhasil."
"Senapan Jeb-lah yang berhasil. Tahukah dia, Jeb akan berbuat seperti itu?"

"Pikiranmu melantur, Ian. Itulah yang dia inginkan."
"Kurasa kau keliru. Aku tidak tahu mengapa... tapi kurasa dia sama sekali tidak ingin kita memedulikan dia." Aku mendengar Ian bangkit berdiri. "Kau tahu apa yang benar-benar membingungkan?" gumamnya. Suaranya tak lagi berbisik.
"Apa?"
"Aku merasa bersalah--sangat bersalah--ketika melihatnya menciut ketakutan karena kita. Ketika melihat memar-memar hitam di lehernya."
"Kau tidak bisa membiarkan mahluk itu membuatmu merasa seperti itu." Mendadak Jared merasa terusik. "Dia bukan manusia. Jangan lupa itu."
"Hanya karena dia bukan manusia, apakah menurutmu dia tidak merasa kesakitan?" tanya Ian. Suaranya menghilang di kejauhan. "Dan apakah dia tidak merasa seperti gadis yang baru saja dihajar--dihajar oleh kita?"
"Kuasai dirimu," desis Jared kepada Ian.
"Sampai nanti, Jared."
Jared tidak bersantai lama setelah Ian pergi. Ia berjalan sejenak, mondar-mandir di depan gua, lalu duduk di kasur, menghalangi cahayaku, dan bergumam tanpa bisa dimengerti kepada dirinya sendiri. Aku menyerah menunggunya tidur. Kuregangkan tubuhku sebisa mungkin di atas lantai yang menyerupai mengkuk itu. jared terlompat ketika gerakanku menimbulkan suara, lalu dia mulai bergumam sendiri lagi.
"Bersalah," gerutunya kasar. "Membiarkan mahluk itu memengaruhi Ian. Seperti Jeb, seperti Jamie. Ini tak bisa kubiarkan berlanjut. Tolol untuk membiarkannya hidup."
Lenganku merinding, tapi aku mencoba mengabaikannya. jika aku merasa panik setiap kali jared berpikir hendak membunuhku, aku takkan memperoleh kedamaian. Aku berguling menelungkup, membengkokkan tulang punggungku ke arah sebaliknya. Jared kembali tersentak, lalu berubah diam. Aku yakin ia masih sibuk berpikir, ketika akhirnya aku tertidur.
#

Ketika aku terbangun, Jared sedang duduk di kasur yang sama, di tempat yang bisa kulihat, dengan siku di lutut dan kepala bersandar pada satu kepalan tangan.
Rasanya aku hanya tidur kurang dari satu atau dua jam, tapi tubuhku terlalu pegal untuk langsung mencoba tidur lagi. AKu malah merengungkan kunjungan Ian, dan merasa khawatir Jared akan bekerja lebih keras lagi untuk mengasingkanku setelah reaksi aneh Ian. Mengapa Ian tak bisa menutup mulut mengenai perasaan bersalahnya? Seandainya ia tahu dirinya bisa merasa bersalah, mengapa pula ia berkeliaran mencekiki orang? Melanie juga jengkel terhadap Ian, dan gelisah memikirkan akibat penyesalan Ian.

Kekhawatiran kami terganggu hanya beberapa menit setelahnya.
"Ini aku," kudengar Jeb menyapa. "Jangan panik."
Jared mengokang senapan.
"Ayo tembak aku, nak. Ayo." Suara Jeb semakin dekat, bersamaan dengan setiap kata yang diucapkannya.
Jared mendesah, lalu meletakkan senapan. "Pergilah."
"Perlu bicara denganmu," ujar Jeb. Ia terengah-engah ketika duduk di hadapan Jared. "Hei, apa kabar," sapanya ke arahku, seraya mengangguk.
"Kau tahu betapa aku sangt membenci perbuatan itu," gumam Jared.
"Yep."
"Ian sudah menceritakan soal para Pencari--"
"Aku tahu. Aku baru saja bicara dengannya soal itu."
"Bagus. Lalu kau mau apa?"
"Bukan apa yang kumau, tapi apa yang diperlukan semua orang. Kita hampir kehabisan segalanya. Kita perlu pasokan perbekalan yang benar-benar lengkap."
"Oh," gumam Jared; bukan topik ini yang membuatnya tegang. Setelah diam sejenak, ia berkata, "Kirim Kyle."
"Oke," ujar Jeb santai. Ia berpegangan pada dinding ketika kembali berdiri.
Jared mendesah. Tampaknya ia hanya menggertak. Ia langsung membantah ketika Jeb menerima sarannya. "Jangan. jangan Kyle. Dia terlalu..."
Jeb tergelak. "Terakhir kali keluar sendirian, dia nyaris menjerumuskan kita ke dalam masalah, kan? Dia bukan orang yang berpikiran panjang. Kalau begitu, Ian?"
"Dia terlalu berpikiran panjang."
"Brandt?"
"Dia kurang bagus untuk perjalanan panjang. Mulai panik setelah beberapa minggu. Membuat kesalahan-kesalahan."
"Oke, kalau begitu siapa?"
Detik-detik berlalu, dan kudengar Jared menghela napas panjang beberapa kali. Setiap kali menghela napas, ia seakan hendak memberi Jeb jawaban, tapi lalu ia hanya mengembuskan napas dan tidak mengatakan apa-apa.
"Ian dan Kyle bersama-sama?" tanya Jeb. "Mungkin mereka bisa saling menyeimbangkan."
Jared menggeram. "Seperti terakhir kali? Oke, oke, aku tahu aku yang harus pergi."
"Kau yang terbaik," Jeb mengiyakan. "Kau mengubah hidup kami dengan kemunculanmu di sini."
Aku dan Melanie sama-sama mengangguk sendiri. Ini tidak mengejutkan bagi kami.
Jared ajaib. Aku dan Jamie benar-benar aman ketika naluri Jared menuntun kami; kami tak pernah tertangkap. Seandainya Jared yang berada di Chicago waktu itu, aku yakin ia akan berhasil dengan baik.
Jared menyentakkan bahunya ke arahku. "Bagaimana dengan...?"
"Aku akan mengawasinya sebisaku. Dan aku berharap kau membawa Kyle. Itu akan membantu."
"Tak akan memadai--Kyle pergi dan kau mengawasi mahluk itu sebisamu. Dia ... tak akan bertahan lama."
Jeb mengangkat bahu. "Akan kulakukan yang terbaik. Hanya itu yang bisa kulakukan."
Jared mulai menggeleng perlahan-lahan.

"Berapa lama kau bisa tinggal di bawah sini?" tanya Jeb kepadanya.
"Aku tak tahu," bisik Jared.
Muncul keheningan panjang. Setelah beberapa menit, Jeb mulai bersiul tanpa nada.
Akhirnya Jared menghembuskan napas panjang. Aku tak sadar ia sedang menahan napas.
"Aku berangkat malam ini." Kata-kata Jared lambat, pasrah, tapi juga lega. Suaranya sedikit berubah, agak kurang defensif. Seakan ia sedang menjalani transisi, untuk kembali kepada siapa dirinya di sini sebelum kemunculanku. Ia membiarkan satu tanggung jawab lepas dari bahunya, lalu memikul tanggung jawab lain yang lebih menyenangkan sebagai gantinya.

Jared menyerah dalam usahanya untuk menjaga agar aku tetap hidup, dan membiarkan alam--atau tepatnya keadilan massa--yang memutuskan. Ketika ia kembali nanti, dan aku sudah mati, ia takkan meminta pertanggungjawaban kepada siapa pun. Ia tidak akan berduka. Semua ini bisa kudengar dalam empat kata yang diucapkannya tadi.
Aku tahun istilah berlebihan yang digunakan manusia untuk melukiskan penderitaan--patah hati. Melanie ingat dirinya sendiri pernah mengucapkan frasa itu. Tapi aku selalu menganggap istilah ini hiperbolis, yaitu penjelasan tradisional untuk sesuatu yang tidak memiliki kaitan fisiologis nyata--misalnya bertangan dingin. Jadi aku tidak mengharapkan munculnya rasa nyeri di dadaku. Rasa mual, ya. Bengkak di tenggorokanku, ya. Dan ya, air mata membakar mataku. Tapi, apa nama sensasi terkoyak yang kurasakan persis di bawah rusukku ini? Tak masuk akal.
Dan bukan hanya terkoyak, tapi terpilin dan tertarik ke segala arah. Hati Melanie juga hancur, dan itu sensasi terpisah, seakan kami menumbuhkan organ baru untuk mengimbangi kesadaran ganda kami. Hati ganda untuk benak ganda. Rasa sakitnya dua kali lipat.
Jared pergi, tangis Melanie. Kita takkan pernah melihatnya lagi. Ia tidak mempertanyakan kenyataan bahwa kami bakal mati.
Aku ingin menangis bersama Melanie, tapi harus ada yang tetap tenang. Kugigit tanganku untuk menahan keluarnya erangan itu.
"Mungkin itu yang terbaik," ujar Jeb.
"Aku perlu menyiapkan beberapa hal..." Benak Jared sudah jauh, jauh sekali dari koridor menyesakkan ini.
"Kalau begitu aku akan menggantikanmu di sini. Selamat jalan."
"Terima kasih. Kurasa sampai jumpa, kapan pun aku berjumpa denganmu lagi, Jeb."
"Kurasa begitu."
Jared menyerahkan kembali senapan itu kepada Jeb, bangkit berdiri, lalu membersihkan debu di pakaiannya dengan gerakan tak sadar. Lalu ia pergi, bergegas menyusuri lorong dengan langkah cepat yang kukenal. Benaknya memikirkan hal-hal lain. Ia sama sekali tidak melirik ke arahku, sama sekali tidak memikirkan nasibku lagi.
Kudengar suara langkah Jared semakin sayup lalu lenyap. Lalu aku melupakan keberadaan Jeb. Kutekankan wajah ke dalam kedua tanganku, dan aku menangis tersedu-sedu.

99 Cahaya di Langit Eropa - Prolog

0 comments
 

Tinggal di Eropa selama 3 tahun menjadi arena menjelajahi Eropa dan segala isinya. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, saya merasakan hidup di suatu negara tempat Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya dimensi spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.

Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Perjalanan yang membuat saya menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekadar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepak Bola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola-gondola di Venezia. Pencarian saya telah mengantarkan saya pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Memang tempat-tempat ziarah tersebut bukanlah tempat suci yang namanya pernah disebut dalam Al-Qur'an atu kisah para nabi. Tapi dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut, saya jadi semkin mengenal identitas agama saya sendiri. membuat saya makin jatuh cinta dengan Islam.

Eropa dan Islam. Mereka pernh menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Berbagai kejadian sejak 10 tahun terakhir--misalnya pengeboman Madrid dan London, menyusul serangn teroris 11 September di Amerika, kontroversi kartun Nabi Muhammad, dan film Fitna di Belanda--menyebabkn hubungan dunia Islam dan Eropa mengalami ketegangan yang cukup serius. Saya merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya. Luka da dendam akibat ratusan tahun Perang Salib yang rupanya masih membekas sampai hari ini.

Mengutip kata-kata George Santayna: "Those who don't learn from history are doomed to repeat it." Barangsiapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya. Banyak di antara umat Islam kini yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam-lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati.
Islam pertama kali masuk ke Spanyol membawa kedamian dan kemajuan peradaban. Benih-benih Islam itu tumbuh menyinari tanah Spanyol hingga 750 tahun lebih, jauh sebelum dan lebih lama daripada Indonesia mengenal Islam. Namun kita semua juga harus bertanya, apa yang membuat cahaya ini kemudian meredup? Peristiwa apa yang akhirnya membuat Islam tersapu dari Spanyol? Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lalu agar kita tidak terperosok di lubang yang sama?
Tidak bisa kita mungkiri, peradaban Islam mengamali kemunduran selama beberapa abad terakhir. Di tengah retorika teriakan jihad untuk memerangi negara-negara barat, kita dihadapkan pada suatu realitas: tidak ada satu pun negara Islam yang memiliki kemampuan teknologi untuk melindungi dirinya sendiri saat ini.
Dunia Islam saat ini sudah mulai memalingkan muka dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin jauh dari akar yang membuatnya bersinar lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Kemudian ketika ada negara yang melarang pemakaian jilbab, pembangunan minaret, atau seorang yang mengolok-olok Islam dengan membuat video Fitn, kita hanya bisa berteriak-teriak di depan kedutaan negara mereka sambil membakar bendera. Hanya itu.
Ini yang coba saya refleksikan dalam catatan perjalanan ini. Saya mencoba mengumpulkan kembali sis kebesaran peradabn Islam yang kini terserak. Dan saya justru menemukan jejak - jejak peninggalan tersebut selama menempuh perjalanan menjelajah Eropa.

Sudah terlalu banyak buku traveling sebelumnya, terutama tentang Eropa dan segala keindahannya, yang hadir. Bangunan-bangunan, tempat yang wajib dikunjungi berikut tip-tip perjalanan dan cara kreatif untuk berhemat, semua dikemas untuk pembaca. Tapi buat saya sendiri, hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekadar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya.

Menurut saya, makna sebuah perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw. dari mekkah ke Madinah.

Umat Islam terdahulu adalah "traveler" yang tangguh. Jauh sebelum Vasco de Gama menemukan Semenanjung Harapan, atau Colombus menemukan benua Amerika, musafir-musafir Islam telah menyeberangi 3 samudra hingga Indonesia, berkelana jauh sampai ujung negeri China, menembus Himalaya dan Padang Pasir Gobi. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah ragu untuk meninggalkan rumah, belajar hal-hal baru dari dunia luar sana. Bukankah dalam Al-Qur'an juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar manusia bisa saling mengenal, berta'aruf, saling belajar dari bangsa-bangsa lain untuk menaikkan derajat kemuliaan di sisi Allah?
Bagi saya, berada di Eropa selama lebih dari tiga tahun adalah pengalaman yang tak ternilai harganya. Saya mencoba membuka mata dan hati saya menerima hal-hal baru dan merefleksikannya untuk memperkuat keimanan say. Menelisik hikmah dalam setiap perjalanan, belajar dari pengalaman dan membaca rahasia-rahasia masa lalu yang kini hampir tak terlihat lagi di permukaan. Saya tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam.

Catatan perjalanan ini berdasarkan kisah nyata saya dan Rangga dalam berinteraksi sosial dan mengusung fakta sejarah yang sebenarnya. Namun, untuk melindungi privasi orang-orang yang terlibat dalam cerita ini, nama mereka sengaja disamarkan. Tutur dialog dan alur cerita yang terjadi dalam buku ini juga direkonstruksi ulang untuk memperkuat bangunan cerita, tanpa menghilangkan esensinya.
Perjalanan saya menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini. Vienna, Paris, Madrid, Cordoba, Granada, dan Istanbul masuk dalam manifes perjalanan sy selama menjelajahi Eropa.

Perjalanan ini membuka mata saya bahwa Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.
Saat memandang matahari tenggelam di Menar Eiffel Paris, Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al-Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, saya bersimpuh. Matahari tenggelam yang saya lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1.000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan semangat toleransi antarumat beragama.
Akhir dari perjalanan selma 3 tahun di Eropa justru mengantarkan saya pada pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkan saya pada sumber kebenaran abadi yang Mahasempurna.

Saya teringat kata sahabat Ali ra. :
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaan-ciptaan-Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan. (Ali bin Abi Thalib ra.)

The Host - Bab 18

0 comments
Bosan

Aku menghabiskan sisa hari itu dalam keheningan total kecuali satu perkecualian singkat.
Perkecualian itu terjadi ketika Jeb membawakan makanan untukku dan Jared beberapa jam kemudian. Ketika meletakkan nampan di lubang masuk ke gua mungilku, Jeb tersenyum penuh penyesalan.
"Terima kasih," bisikku.
"Sama-sama," jawabnya.
Kudengar Jared menggeram, terusik percakapan singkat kami. Itu satu-satunya suara yang dikeluarkan Jared sepanjang hari. Aku yakin ia berada di luar sana, tapi tak pernah terdengar apa - apa, bahkan suara napas, untuk menegaskan keyakinanku.
Hari sangat panjang--sangat sesak dan sangat membosankan. Aku mencoba setiap posisi yang bisa kubayangkan, tapi tak sekali pun behasil meregangkan tubuh dengan nyaman. Bagian bawah punggungku mulai berdenyut-denyut tanpa henti.
Aku dan Melanie banyak berpikir tentang Jamie. Yang terutama, kami khawatir telah merusak anak laki-laki itu dengan kedatangan kami kemari, dan kini kami khawatir telah melukainya. Apa artinya memenuhi janji, jika dibandingkan dengan semua itu?
Waktu kehilangan arti. Mungkin matahari terbenam, mungkin fajar--aku tak punya referensi di sini, terkubur di dalam bumi. Aku dan Melanie kehabisan topik diskusi. Kami membolak-balik lembar-lembar ingatan kami bersama secara menyedihkan, seperti menggonta-ganti saluran TV untuk mencari acara. Sekali aku mencoba tidur siang, tapi tak bisa tidur nyenyak karena merasa sangat tidak nyaman.
Ketika Jeb akhirnya kembali, rasanya aku bisa mencium wajah kering keriput itu. Ia membungkuk ke dalam selku dengan seringai lebar yang meregangkan kedua pipinya.
"Sudah saatnya berjalan- jalan lagi?" tanyanya.
Aku mengangguk bersemangat.
"Akan kulakukan," gerutu Jared, "Berikan senapannya."
Aku bimbang, berjongkok kikuk di mulut gua, sampai Jeb mengangguk kepadaku.
"Pergilah," kata Jeb.
Aku keluar, tubuhku masih kaku dan limbung. Aku menyambut uluran tangan Jeb. Jared mengeluarkan suara jijik dan memalingkan wajah. Ia memegang senapan erat-erat, buku jari-jarinya memutih di atas moncong senapan. Aku tak suka melihat benda itu di tangannya. Lebih menggangguku daripada ketika dipegang Jeb.
Jared tidak menungguku seperti yang dilakukan Jeb. Ia terus melenggang ke dalam terowongan gelap tanpa berhenti agar aku bisa mengikutinya.
Menyulitkan. Ia tak banyak mengeluarkan suara dan tidak menuntunku, jadi aku harus berjalan dengan satu tangan di depan wajah dan satu tangan di dinding, berusaha agar tidak menabrak batu. Aku jatuh dua kali di lantai yang tidak rata. Walaupun tidak menolongku, Jared menunggu sampai mendengar aku sudah berdiri lagi, lalu melanjutkan perjalanan. Sekali, ketika melewati bagian lorong yang agak lurus, aku berjalan terlalu dekat sehingga tanganku yang meraba-raba menyentuh punggungnya, menyusurinya, sebelum menyadari aku tidak menyentuh dinding lain. Jared melompat ke depan, lalu menyentakkan tubuhnya dari jari-jariku seraya mendesis marah.
"Maaf," bisikku, kurasakan pipiku berubah hangat dalam kegelapan.
Jared tidak menjawab, tapi mempercepat langkah sehingga mengikutinya jadi semakin sulit.
Aku bingung ketika akhirnya muncul semacam cahaya di depanku. Apakah kami mengambil rute berbeda? Ini bukan cahaya putih cemerlang ruang gua terbesar. Cahayanya lebih suram, pucat, dan keperakan. Tapi selah sempit yang harus kami lewati tampaknya sama... Ketika sudah berada di dalam ruang raksasa yang menggema itu, barulah kusadari apa yang menyebabkan perbedaan itu.
Ini malam hari. Cahaya yang bersinar suram dari atas lebih mirip cahaya bulan daripada cahaya matahari. Kumanfaatkan penerangan yang lebih tidak menyilaukan itu untuk meneliti langit-langit di atasku, ratusan bulan kecil memancarkan cahaya pucat ke lantai suram yang jauh. Bulan-bulan kecil itu tersebar dalam kelompok-kelompok tak berpola, beberapa kali lebih jauh daripada yang lain. Aku menggeleng. Walaupun kini bisa melihat langsung cahaya itu, aku masih tidak paham.
"Ayo," perintah Jared marah, beberapa langkah di depanku.
Aku tersentak dan bergegas mengikutinya. Aku menyesal membiarkan perhatianku berkelana. Bisa kulihat betapa menjengkelkannya bagi Jared untuk bicara denganku.
Aku tidak mengharapkan bantuan senter ketika kami mencapai ruang bersungai itu, dan aku memang tidak menerimanya. Kini ruangan itu juga berpenerangan suram seperti gua besar tadi, tapi hanya dua puluh bulan mini aneh yang menerangina. Jared mengertakkan rahang dan menatap langit-langit, sementara aku berjalan ragu ke dalam ruang berkolam sehitam tinta itu. Kurasa, jika aku terjatuh ke dalam mata air panas bawah tanah yang ganas itu dan menghilang, Jared mungkin akan menganggap peristiwa tersebut sebagai campur tangan takdir yang menguntungkan.
Kurasa ia akan sedih, ujar Melanie tidak setuju, ketika aku bergeser mencari jalan di sekitar kamar mandi hitam itu seraya memeluk dinding. Jika kita terjatuh.
Aku tak yakin. Ia mungkin teringat rasa sakit akibat kehilangan dirimu saat pertama dulu, tapi ia akan senang jika aku menghilang.
Karena Jared tidak mengenalmu, bisik Melanie. lalu suaranya lenyap, seakan ia mendadak merasa lelah.
Aku terpaku di tempat. Terkejut. Aku tak yakin, tapi rasanya Melanie seperti baru saja memujiku.
"Cepat," teriak jared dari ruangan lain.
Aku bergegas secepat mungkin dalam kegelapan dan ketakutanku.
Ketika kami kembali, Jeb sedang menunggu di dekat lampu biru. Di dekat kakinya ada dua silinder empuk berbonggol-bonggol dan dua benda berbentuk persegi panjang tak beraturan. Aku tidak memperhatikan benda-benda itu sebelumnya. Mungkin ia mengambil semua itu ketika kami sedang pergi tadi.
"Kau atau aku yang tidurdi sini malam ini?" tanya Jeb kepada Jared dengan nada santai.
Jared memandang benda-benda di kaki Jeb.
"Aku," jawabnya singkat. "Dan aku hanya perlu satu kasur gulung."
Jeb mengangkat sebelah alis tebalnya.
"Dia bukan salah satu dari kita, Jeb. Kau telah menyerahkannya kepadaku--jadi pergilah."
"Dia juga bukan binatang, Nak. Dan kau bahkan tidak akan memperlakukan anjing dengan cara seperti ini."
Jared tidak mejawab, tapi menggertakkan gigi.
"Aku tak pernah membayangkanmu sebagai lelaki kejam," ujar Jeb pelan. Tapi ia memungut satu silinder itu, menyelipkan lengan pada pengikatnya, lalu menyampirkannya di bahu. Lalu ia mengepit benda berbentuk persegi panjang itu--bantal--di bawah lengannya.
"Maaf, Sayang." Katanya ketika melewatiku, menepuk bahuku.
"Hentikan!" gerutu Jared.
Jeb mengangkat bahu dan berjalan pergi. Sebelum ia lenyap dari pandangan, aku bergegas menghilang ke dalam selku. Aku bersembunyi di dalam ceruk-ceruk tergelap, bergelung membentuk bola padat yang kuharap terlalu kecil untuk dilihat.
Jared tidak bersembunyi diam-diam dan tak terlihat di terowongan luar, tapi membentangkan kasur gulungnya tepat di depan mulut penjaraku. Ia menepuk-nepuk bantal beberapa kali, mungkin mencoba memamerkan bahwa ia memiliki benda itu. Ia berbaring di kasur dan menyilangkan kedua lengannya di dada. Itu bagian dari tubuhnya yang bisa kulihat melalui lubang--hanya lengan terlipat dan setengah perutnya.
Kulit Jared masih berwarna keemasan gelap yang sama, warna yang menghantui mimpi-mimpiku setengah tahun terakhir ini. Aneh sekali mendapati potongan mimpiku benar-benar nyata, dan berjarak kurang dari satu setengah meter dariku. Sureal.
"Kau takkan bisa menyelinap melewatiku," katanya mengingatkan. Suaranya lebih lembut daripada sebelumnya. Mengantuk. "Kalau kau mencoba..." Ia menguap. "Aku akan membunuhmu."
Aku tidak bereaksi. Peringatan itu terdengar seperti semacam hinaan bagiku. Buat apa aku mencoba menyelinap melewatinya? Kemana aku akan pergi? Ke tangan orang-orang barbar di luar sana yang menungguku, yang semuanya berharap aku benar-benar akan melakukan usaha tolol semacam itu? Atau seandainya, entah bagaimana, aku bisa menyelinap melewati mereka, akankah aku kembali ke padang gurun yang nyaris memanggangku sampai mati ketika terakhir kali aku mencoba melintasinya? Aku bertanya-tanya, apa yang menurut pikiran Jared mampu kulakukan. Rencana apa yang dipikirnya sedang kugodok untuk menggulingkan dunia kecil mereka? Apakah aku tampak begitu kuat? Tidakkah sudah jelas betapa tak berdaya dan menyedihkannya diriku?
Aku tahu Jared tidur nyenyak, karena tubuhnya mulai tersentak-sentak. Seperti yang diingat Melanie, Jared terkadang begitu. Ketika sedang marah, tidurnya sangat gelisah. Kuamati jari-jari tangannya yang mengepal dan membuka bergantian, dan aku bertanya-tanya apakah ia sedang memimpikan jari-jari itu mencekik leherku?
#

Hari-hari setelah itu--mungkin seminggu, mustahil untuk menghitungnya secara pasti--sangat tenang. Jared seperti dinding bisu di antara diriku dan segala sesuatu lainnya di dunia, baik maupun buruk. Tak terdengar suara, kecuali napasku sendiri, gerakan-gerakanku sendiri; tak terlihat pemandangan, kecuali gua hitam di sekelilingku, lingkaran cahaya suram, nampan yang kukenal dengan ransum sama, Jared yang kucuri pandang sekilas; tak terasa sentuhan, kecuali batu-batu yang menonjol di kulitku; tak tercecap rasa, kecuali air pahit, roti keras, sup hambar, akar seperti kayu. Berulang-ulang.
Itu kombinasi yang sangat aneh; ketakutan yang konsisten, ketidaknyamanan fisik yang terus-menerus menimbulkan rasa sakit, dan kemonotonan yang menyiksa. Dari ketiganya, kebosanan mematikan adalah yang paling sulit dihadapi. Penjaraku merupakan bilik tanpa ndra.
Bersama-sama, aku dan Melanie khawatir kami bakal jadi gila.
Kita sama-sama mendengar suara di dalam kepala kita, jelasnya. It jelas bukan pertanda baik.
Bisa-bisa kita lupa cara berbicara, ujarku waswas. Sudah berapa lama sejak seseorang bicara dengan kita?
Empat hari yang lalu kau mengucapkan terima kasih kepada Jeb karena telah membawakan kita makanan, dan ia menjawab: sama-sama. Well, kurasa itu empat hari yang lalu. Setidaknya ada empat kali tidur yang lama. Melanie seakan mendesah. Berhentilah menggigiti kuku-perlu waktu bertahun-tahun bagiku untuk menghentikan kebiasaan itu.
Tapi kuku-kuku panjang tajam itu menggangguku.
Kurasa kita tak perlu mengkhawatirkan kebiasaan buruk untuk waktu lama.
Jared tidak membiarkan Jeb membawakan makanan lagi. Sebagai gantinya, seseorang membawakan makanan sampai ke ujung lorong, dan Jared mengambilnya. Aku mendapat hidangan yang sama--roti, sup, dan sayuran--dua kali sehari. Terkadang ada kudapan ekstra untuk Jared, makanan kemasan dengan merek yang kukenal--Red Vines, Snickers, Pop-Tarts. Aku mencoba membayangkan bagaimana cara manusia memperoleh kudapan-kudapan lezat ini.
Aku tidak berharap Jared membagi makanannya--tentu saja tidak--tapi aku terkadang bertanya-tanya apakah ia mengira aku berharap demikian. Salah satu dari sedikit penghiburanku adalah mendengarnya menyantap kudapan-kudapan itu, karena ia selalu melakukannya dengan begitu mencolok, mungkin pamer, sama seperti sikapnya dengan bantal itu malam pertama dulu.
Sekali Jared membuka perlahan-lahan sebungkus Cheetos dengan merobeknya--pelan seperti biasa--dan aroma kaya keju bubuk buatan bergulung masuk ke guaku... lezat, tak tertahankan. Ia menyantap sebutir Cheetos perlahan-lahan, membiarkanku mendengar setiap bunyi kriuk nyaringnya.
Perutku bergemuruh keras, dan aku tertawa sendiri. Sudah lama sekali aku tak pernah tertawa. Kucoba untuk mengingat terakhir kali aku tertawa, tapi tak bisa. Yang kuingat hanya serangan histeria mengerikan aneh di padang gurun itu, yang benar-benar tak bisa digolongkan sebagai tertawa. Bahkan sebelum aku kemari, tak banyak hal yang kuanggap lucu.
Tapi ini tampak menggelikan bagiku untuk alasan tertentu--perutku merindukan sebutir Cheetos kecil--dan aku kembali tertawa. Tanda kegilaan. Itu pasti.
Aku tak tahu bagaimana reaksiku itu bisa menghina Jared, tapi ia bangkit berdiri dan menghilang. Setelah lama, aku bisa mendengarnya kembali menyantap Cheetos itu, tapi dari tempat yang agak jauh. Aku mengintip dari lubang dan melihatnya duduk dalam bayang-bayang di ujung koridor, memunggungiku. Kutarik kepalaku ke dalam, khawatir ia berbalik dan memergokiku mengamatinya. Sejak itu Jared tetap berada di ujung lorong sesering mungkin. Hanya di malam hari ia meregangkan tubuh di depan penjaraku.
Dua kali sehari--atau tepatnya dua kali semalam, karena Jared tak pernah membawaku ketika yang lain sedang berkeliaran--aku dibawa berjalan ke ruang bersungai. Itu merupakan penghiburan, walaupun rasanya menakutkan, karena hanya pada saat itulah aku tidak meringkuk membentuk posisi tak alami yang dipaksakan gua kecil kepadaku. Setiap kali aku harus merangkak kembali ke dalam, rasanya lebih berat daripada sebelumnya.
Tiga kali selama minggu itu, dan selalu pada jam-jam tidur seseorang datang mengecek kami.
Pertama Kyle.
Tindakan Jared, yang mendadak melompat berdiri, membuatku terbangun. "Keluarlah dari sini," katanya mengingatkan, bersiaga memegang senapan.
"Hanya mengecek," ujar Kyle. Suaranya terdengar jauh, tapi cukup lantang dan kasar, sehingga aku yakin itu bukan suara adiknya. "Suatu hari nanti, kau mungkin tidak berada di sini. Suatu hari nanti, kau mungkin tidur terlalu nyenyak."
Satu-satunya jawaban Jared hanyalah bunyi kokangan senapan.
AKu mendengar tawa Kyle mengikuti kepergiannya.
Dua kalinya lagi aku tidak tahu siapa yang datang. Kyle lagi atau mungkin Ian, atau mungkin seseorang yang namanya belum kupelajari. Yang kutahu hanyalah, dua kali lagi aku dibangunkan oleh Jared yang mendadak melompat berdiri dengan senapan terarah kepada si pengganggu. Tak ada kata-kata yang diucapkan. Siapa pun itu, yang hanya mengecek, orang itu tak mau repot-repot mengajak bicara. Perlu lebih lama bagiku untuk menenangkan jantung.
keempat kalinya adalah sesuatu yang baru.
Aku belum nyenyak ketika Jared terbangun dengan terkejut, lalu berguling dan berlutut dengan gerakan cepat. Ia muncul dengan senapan di tangan dan umpatan di bibir.
"Tenang," gumam sebuah suara dari kejauhan. "Aku datang dalam damai."
"Apa pun yang kaukatakan, aku tak percaya," gerutu Jared.
"Aku hanya ingin bicara." Suara itu terdengar lebih dekat. "Kau terkubur di sini, melewatkan diskusi-diskusi penting... Kami merindukan pendapat-pendapatmu."
"Pasti," ujar Jared sinis.
"Oh, letakkan senapannya. Kalau aku berencana bertarung denganmu, saat ini aku akan muncul dengan empat laki-laki."



Hening sejenak. Ketika Jared kembali biara, suaranya mengandung sedikit sindiran. "Bagaimana kabar kakakmu belakangan ini?" tanyanya. Tampaknya Jared menikmati pertanyaan itu. Menggoda pengunjung membuatnya santai. Ia duduk dan menyandarkan tubuh pada dinding. Setengah tubuhnya berada di depan penjaraku. Sikapnya santai, tapi senapannya masih siaga.
Leherku sakit, seakan memahami bahwa sepasang tangan yang pernah mencekik dan membuatku memar itu berada sangat dekat.
"Kyle masih marah soal hidungnya," ujar Ian. "Well, ini bukan pertama kali hidungnya patah. Kubilang kepadanya kau menyesal."
"Aku tidak menyesal."
"Aku tahu. Tak seorang pun menyesal setelah memukul Kyle."
Mereka tertawa pelan bersama-sama. Rasa setia kawan dalam kegembiraan mereka tampak sangat tidak pada tempatnya, karena Jared memegang santai senapan itu dengan moncong terarah kepada Ian. Tapi agaknya ikatan-ikatan yang terbentuk di tempat genting ini sangat kuat. Lebih kental daripada darah.
Ian duduk di kasur di sebelah Jared. Aku bisa melihat profilnya dalam bentuk siluet hitam dilatari lampu biru. Kuamati bahwa hidungnya sempurna--mancung, sedikit bengkok, jenis hidung yang kulihat dalam gambar patung-patung terkenal. Apakah itu berarti orang lain menganggap Ian lebih baik dibandingkan kakaknya yang hidungnya sering patah? Atau apakah ia lebih jago mengelak?
"Jadi, kau mau apa, Ian? Kurasa bukan sekarad mendapatkan permintaan maaf untuk Kyle."
"Jeb belum cerita?"
"Aku tidak tahu kau bicara apa."
"Parasit-parasit itu sudah menghentikan pencarian. Bahkan para pencari."
Jared tidak berkomentar, tapi kurasakan ketegangan mendadak dalam udara di sekitar tubuhnya.
"Kami mengamati dengan cermat, menunggu perubahan, tapi tampaknya mereka tidak telalu bersemangat. Pencarian itu tak pernah melenceng jauh dari area tempat kami meninggalkan mobil dan beberapa hari belakangan jelas mencari mayat, bukan mahluk yang bernyawa. Dua malam yang lalu kami beruntung--regu pencari meninggalkan sampah di tempat terbuka, dan kawanan coyote menyerbu perkemahan utama mereka. Salah satu Pencari kembali saat larut malam. Dia mengejutkan hewan-hewan itu, yang kemudian menyerang dan menyeretnya sejauh kira-kira seratus meter ke padang gurun, sebelum rekan-rekannya mendengar teriakannya dan datang menolong. Tentu saja Pencari-Pencari itu bersenjata. Dengan mudah mereka mengusir coyote-coyote itu, dan si korban tidak terluka parah. Tapi kejadian itu tampaknya menjawab semua pertanyaan mereka mengenai apa yang mungkin terjadi dengan tamu kita ini. "



Aku bertanya-tanya bagaimana mereka bisa memata-matai para Pencari yang mencariku--dan tahu sangat banyak. Ganjilnya aku merasa terancam oleh gagasan itu. Aku tidak menyukai gambaran itu di dalam kepalaku: manusia-manusia yang tak terlihat, mengamati jiwa-jiwa yang mereka benci. Pikiran itu membuat bulu kudukku meremang.

"Jadi mereka berkemas-kemas, lalu pergi. Para Pencari menghentikan pencarian. Semua sukarelawan pulang. Tak ada lagi yang mencarinya." Profil Ian berpaling ke arahku. AKu meringkuk, berharap keadaan sangat gelap sehingga aku tidak terlihat di sini dan seperti wajahnya, aku akan tampak seperti bayangan hitam saja.
"Kurasa secara resmi dia telah dinyatakan mati, jika parasit-parasit itu mencatat hal-hal semacam itu, seperti yang biasa kita lakukan. Jeb mengatakan, "Kubilang juga apa" kepada siapa saja yang masih sanggup bertahan cukup lama untuk mengdengarnya."
Jared menggumamkan sesuatu yang tak bisa kupahami. AKu hanya bisa mendengar nama Jeb. Ia menghela napas panjang, menghembuskannya, lalu berkata, "Baiklah kalau begitu. Kurasa inilah akhirnya."
"Kelihatannya memang begitu." Sejenak Ian bimbang, lalu mengimbuhkan, "Kecuali... well, mungkin ini tak ada artinya."
Jared kembali tegang: ia tidak suka jika kecerdasannya diralat. "Teruskan."
"Tak seorang pun, kecuali Kyle, yang banyak memikirkannya. Dan kau tahu sendiri bagaimana Kyle."
Jared bergumam mengiyakan.
"Kau punya naluri terbaik untuk hal semacam ini. Aku menginginkan pendapatmu. Itulah sebabnya aku di sini, bertaruh nyawa menyusup ke area terlarang," ujar Ian masam, lalu suaranya kembali serius. "Kau tahu, ada satu... Pencari, tak diragukan lagi, yang membawa Glock."
Perlu sedetik bagiku untuk memahami kata yang digunakan Ian. Itu bukan bagian perbendaharaan kata Melanie yang kukenal. Ketika kpahami bahwa Ian membicarakan semacam senapan, nada berandai-andai dan cemburu di dalam saranya membuatku merasa sedikit tidak enak.
"Kyle orang pertama yang mengamati betapa menonjolnya Pencari yang satu ini. Sepertinya dia bukan orang penting bagi para Pencari lainnya--pasti dia bukan bagian dari rantai pengambilan keputusan. Oh dia memang memberikan usulan-usulan, sejauh yang bisa kami lihat, tapi tampaknya tak ada yang mendengarkan. Kalau saja kami bisa mendengar apa yang dia katakan..."


Aku kembali merinding waswas.
"Bagaimanapun," lanjut Ian, "Ketika mereka menghentikan pencarian, Pencari yang satu ini tidak senang dengan keputusan itu. Kau tahu bagaimana parasit-parasit itu selalu bersikap begitu... menyenangkan? Pencari yang ini aneh. Sejauh ini hanya sekali itulah aku mendengar mereka berselisih. Bukan perselisihan sesungguhnya, karena tak ada di antara mereka yang menjawab. Tapi Pencari yang tidak senang itu tampak seakan berselisih dengan mereka. Kelompok inti para Pencari mengabaikannya--mereka semua sudah pergi."


"Tapi Pencari yang tidak senang itu?" tanya Jared.
Dia naik mobil dan menyetir setengah jalan menuju Phoenix. Lalu menyetir balik ke Tucson. Lalu menyetir ke barat lagi."
"Masih mencari."
"Atau sangat kebingungan. Dia berhenti di toko kecil di dekat puncak. Bicara dengan parasit yang bekerja di sana, walaupun parasit itu sudah pernah ditanyai."
"Hah," geruttu Jared. Ia kini tertarik, dan berkonsentrasi pada teka-teki itu.
"Lalu dia mendaki ke puncaknya. Mahluk kecil tolol. Dengan pakaian serba hitam dari kepala sampai ujung kaki, dia akan terbakar hidup-hidup."
Tubuhku kejang. Aku mendapati diriku terjatuh ke lantai, meringkuk di dinding belakang sel. Sepasang tanganku terangkat untuk melindungi wajah. Kudengar bunyii desis yang menggema di seluruh ruangan kecil itu. Dan, setelah suara itu menghilang barulah kusadari akulah yang mendesis.
"Apa itu?" tanya Ian. Suaranya terdengar terkejut.
Aku mengintip lewat sela-sela jari, dan melihat wajah mereka melongok melalui lubang. Wajah Ian hanya tampak hitam, tapi sebagian wjaah Jared terlihat, dan ekspresinya sekeras batu.
Aku ingin tetap diam, tak terlihat, tapi tak bisa mengontrol getaran yang mengguncang hebat tulang punggungku.
Jared menjauh, lalu kembali dengan lampu di tangan.
"Lihat matanya," gumam Ian. "Dia ketakutan."
Kini aku bisa melihat ekspresi mereka, tapi mataku hanya memandang Jared. Tatapannya benar-benar terpusat kepadaku, menimbang-nimbang. Kurasa ia merenungkan perkataan Ian, mencari pemicu atas perilakuku.
Tubuhku tak mau berhenti bergetar.
Si Pencari takkan pernah menyerah, erang Melanie.
Aku tahu, aku tahu, erangku menjawabnya.
Kapankan ketidaksukaan kami berubah jadi ketakutan? Perutku mengejang dan bergolak. Mengapa perempuan itu tak bisa membiarkanku mati saja seperti yang lain? Seandainya aku sudah mati, apakah ia masih tetap akan memburuku?
"Siapa Pencari berpakaian serba hitam itu?" tiba-tiba Jared membentakku.
Bibirku gemetar, tapi aku tidak menjawab. Diam adalah tindakan paling aman.
"Aku tahu kau bisa bicara," gerutu Jared. "Kau bicara kepada Jeb dan Jamie. Dan kini kau akan bicara kepadaku."
Jared memanjat ke mulut gua, dan mendengus kaget ketika melihat betapa ia harus melipat tubuh untuk memasukinya. Langit - langit rendah itu memaksanya berlutut, dan itu tidak membuatnya senang. Aku bisa melihat ia lebih suka berdiri di hadapanku.
Aku tak bisa lari ke mana-mana. Aku telah meringkuk di pojok terjauh. Gua itu nyaris tak cukup untuk kami berdua. Bisa kurasakan napas Jared di kulitku.
"Katakan apa yang kauketahui," perintah Jared.