Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta

The Host - Bab 16

 Diserahkan


Pinggiran lubang batu itu tidak tajam, tapi telapak tangan dan tulang keringku tergores ketika aku merangkak melewatinya. Karena tubuhku kaku, menegakkan diri terasa menyakitkan, dan napasku terhenti. Kepalaku berputar-putar ketika darah mengalir ke bawah. Aku hanya mencari satu hal--dimana Jared berada, sehingga bisa menempatkan tubuhku di antara dirinya dan para penyerangnya. Mereka terpaku di tempat, menatapku.

Punggung Jared merapat ke dinding, kedua tangannya mengepal dalam posisi rendah. Di hadapannya, Kyle membungkuk mencengkeram perut. Ian dan seorang asing berdiri di kiri dan kanannya, beberapa puluh sentimeter di belakang, mulut mereka ternganga kaget. Kumanfaatkan keterkejutan mereka. Dengan dua langkah panjang gemetar, kutempatkan tubuhku di antara Kylie dan Jared. Kyle yang pertama bereaksi. Aku lebih pendek sekitar tiga puluh senti darinya, dan naluri pertama Kyle adalah menyingkirkanku. Tangannya menyambar bahuku dan mendorongku ke lantai. Sebelum aku terjatuh, sesuatu menangkap pergelangan tanganku dan menarikku berdiri. Begitu menyadari perbuatannya, Jared melepaskan pergelangan tanganku seakan kulitku mengeluarkan cairan asam. "Kembalilah ke dalam," teriaknya kepadaku. Ia juga mendorong bahuku, tapi tidak sekeras Kyle. Aku terhuyung-huyung mundur setengah meter ke arah lubang di dinding. Lubang itu berupa lingkaran hitam di lorong sempit. Di luar penjara kecilku, ruang gua yang lebih tinggi, lebih mirip terowongan ketimbang rongga. Sebuah lampu kecil--yang tak bisa kutebak dinyalakan dengan apa--menerangi lorong samar-samar dari bawah. Lampu itu menciptakan bayang-bayang aneh di raut wajah para lelaki itu, mengubah mereka menjadi monster-monster pemarah. Aku maju selangkah lagi mendekati mereka, memunggungi Jared. "Akulah yang kalian inginkan," ujarku kepada Kyle. "Jangan ganggu dia."



Tak ada yang mengucapkan apa-apa untuk waktu yang lama. "Bajingan licik," gumam Ian akhirnya, matanya terbelalak ngeri. "Sudah kubilang, kembalilah ke dalam," desis Jared di belakangku. Aku setengah berbalik, tak ingin Kyle lenyap dari pandangan. "Bukan tugasmu untuk melindungiku dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri." Jared menyeringai, sebelah tangannya terangkat untuk mendorongku kembali ke dalam sel. Aku meloloskan diri; gerakan itu membuatku lebih dekat kepada orang-orang yang ingin membunuhku. Ian mencengkeram dan menelikung tanganku. Aku meronta-ronta, tapi ia sangat kuat. Ia menekuk persendianku terlalu jauh dan aku menghela napas kesakitan. "Lepaskan dia!" sergah Jared seraya menerjang. Kyle menangkapnya, lalu memutar dan memitingnya, mendorong lehernya ke depan. Lelaki yang lain mencengkeram sebelah tangan jared yang menggapai-gapai. "Jangan sakiti dia!" teriakku. Kulawan tangan-tangan yang memenjarakanku. Siku Jared yang bebas menyodok perut Kyle. Lelaki itu menghela napas kesakitan dan melepaskan jepitannya. Jared menggeliat, melepaskan diri dari para penyerangnya, lalu kembali menerjang. Kepalannya menghantang hidung Kyle. Darah merah tua menciprati dinding dan lampu. "Selesaikan, Ian!" teriak Kyle. Ia merunduk dan menyeruduk Jared, melempar Jared kepada lelaki yang lain. "Tidak!" seruku dan Jared bersamaan. Ian melepaskan kedua tanganku, lalu ganti mencekik leherku, memutuskan aliran udara. Kucakar tangannya dengan kukuku yang tumpul dan tak berguna. Ia mencekikku semakin erat, menyeret kakiku meninggalkan lantai.
 

Rasanya menyakitkan--tangan-tangan yang mencekik, kepanikan mendadak paru-paruku. Sangat menyakitkan. Aku meronta-ronta, lebih mencoba melepaskan diri dari rasa sakit daripada membebaskan diri dari sepasang tangan pembunuh itu.

Klik, klik. Walaupun hanya pernah mendengar suar aitu satu kali, aku mengenalinya. Begitu juga yang lainnya. Mereka terpaku; Ian dengan sepasang tangan mencengkeram kuat leherku. "Kyle, Ian, Brandt--mundur!" teriak Jeb.


Tak seorang pun bergerak--selain kedua tanganku yang masih mencakar-cakar dan kakiku tersentak-sentak di udara. Tiba-tiba Jared menyelinap dari bawah lengan Kyle yang tak bergerak, lalu menerjangku. Kulihat kepalan tangannya melayang ke wajahku, dan aku memejamkan mata. Terdengar suara brak keras beberapa senti di belakang kepalaku. Ian meraung, dan aku jatuh ke lantai. Aku roboh di sana, di kaki Ian, tersengal. Jared mundur, setelah melirik marah ke arahku, lalu berdiri di dekat siku Jeb.

"Kalian tamu di sini, jangan lupa itu," gerutu Jeb. "Sudah kubilang, jangan mencari gadis itu. Dia juga tamuku, untuk sementara ni, dan aku tidak suka tamuku saling bunuh." "Jeb," erang Ian dari atas tubuhku. Suaranya teredam tangannya yang menutupi mulut." Jeb, ini gila." "Apa rencanamu?" desak Kyle. Wajahnya bernoda darah. Pemandangan yang mengerikan. Tapi tak terdengar rasa sakit di dalam suaranya. Yang ada hanya kemarahan mendidih dan terkendali, aman, atau apakah sudah saatnya untuk pindah. Jadi... berapa lama kau akan menyimpan mahluk ini sebagai hewan peliharaan? Apa yang akan kaulakukan padanya jika kau sudah selesai pura-pura jadi Tuhan? Kami berhak mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan ini."

Kata-kata Kyle yang luar biasa bergema di balik denyut yang berdentam-dentam di kepalaku. Menyimpanku sebagai hewan peliharaan? Jeb menyebutku tamunya... Apakah itu kata lain untuk tawanan? Mungkinkah ada dua manusia yang tidak menginginkan kematian atau pengakuanku di bawah siksaan? Seandainya ada, itu benar-benar ajaib.

"Aku tak punya jawabannya, Kyle," jawab Jeb. "Bukan aku yang memutuskan." Aku ragu, adakah jawaban lain ari Jeb yang lebih membingungkan daripada ini? Keempat lelaki itu, Kyle, Ian, orang yang tak kukenal, bahkan Jared, menatap Jeb terkejut. Aku masih meringkuk terengah-engah di kaki Ian, berharap menemukan cara untuk kembali ke dalam lubangku tanpa diperhatikan.

"Bukan kau yang memutuskan?" Kyle menirukan, masih tidak percaya. "Lalu siapa? Jika kau berpikir hendak mengadakan pemungutan suara, itu sudah dilakukan. Aku, Ian, dan Brandt telah ditunjuk secara resmi untuk mengumumkan hasilnya." Jeb menggeleng, tanpa pernah melepaskan pandangannya dari lelaki di hadapannya. "Bukan pemungutan suara yang memutuskan. Ini masih rumahku." "Lalu siapa?" teriak Kyle. Mata Jeb akhirnya berpindah--ke wajah lain, lalu kepada Kyle. "Jared yang memutuskan." Semua, termasuk aku, mengalihkan pandang menatap Jared. Jared ternganga menatap Jeb, sama kagetnya seperti yang lain, lalu ia mengertakkan gigi keras-keras. Ia melirikku penuh kebencian. "Jared?" tanya Kyle, kembali memandang Jeb. "Itu tidak masuk akal!" Kini ia tak bisa mengendalikan diri, kemarahannya nyaris meledak. "Dia lebih berat sebelah daripada yang lainnya! Mengapa? Bagaimana mungkin dia bisa bersikap rasional mengenai hal ini?"

"Jeb, kurasa...," gumam Jared. "Dia tanggung jawabmu, Jared," ujar Jeb tegas."Tentu saja aku akan membantumu, seandainya ada masalah seperti ini lagi. Aku juga akan membantumu mengikuti perkembangan gadis itu dan lain-lain semacamnya. Tapi mengenai pengambilan keputusan, itu tanggung jawabmu." Jeb mengangkat sebelah tangan ketika Kyle mencoba memprotes lagi. "Anggap saja begini, Kyle. Seandainya seseorang menemukan Jodi-mu saat sedang menjarah, lalu membawanya kemari, apakah kau menginginkanku, Doc, atau pemungutan suara untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan terhadapnya?" "Jodi sudah mati," desis Kyle. Darah menyembur dari bibirnya. Ia memelototiku dengan ekspresi yang nyaris sama dengan ekspresi yang baru saja diperlihatkan Jared. "Well, seandainya tubuhnya berkelana kemari, masih tetap kau yang akan memutuskan. Akankah kau menginginkan cara lain?" "Mayoritas--" "Rumahku, peraturanku," sela Jeb kasar. "Tak ada lagi diskusi soal ini. Tak ada lagi pemungutan suara. Tak ada lagi usaha-usaha pembunuhan. Kalian harus menyebarkan berita ini--beginilah cara kerjanya mulai sekarang. Peraturan baru." "Lagi?" gumam Ian berbisik. Jeb mengabaikannya. "Walaupun sangat kecil kemungkinannya, tapi seandainya peristiwa ini terjadi lagi, maka siapa pun pemilik tubuh itu yang berhak memutuskan." Jeb mengarahkan moncong senapannya kepada Kyle, lalu menyentakkannya beberapa senti ke arah lorong di belakangnya. "Keluarlah dari sini. Aku tak ingin melihatmu berkeliaran di dekat tempat ini lagi. Katakan kepada semua orang bahwa koridor ini terlarang. Tak seorang pun punya alasan untuk berada di sini, kecuali Jared. Dan seandainya aku memergoki seseorang bersembunyi di sekitar sini, bertanya adalah hal kedua yang akan kulakukan. Mengerti? Pergi. Sekarang." Ia kembali mengarahkan senapan itu kepada Kyle.

Aku takjub karena ketiga pembunuh itu langsung berjalan kembali ke lorong, bahkan tidak berhenti untuk menyeringai kepadaku atau Jeb sebagai tanda perpisahan. Aku ingin sekali percaya senapan di tangan Jeb hanya gertakan. Sejak pertama kali berjumpa dengannya, Jeb selalu menunjukkan penampilan luar yang baik hati. Ia belum pernah menyentuhku dengan kekerasan; ia bahkan tidak pernah memandangku dengan sikap yang jelas-jelas bermusuhan. Kini tampaknya ia salah satu dari dua orang di sini yang tidak bermaksud jahat padaku. Jared mungkin telah berjuang untuk mempertahankan hidupku, tapi jelas ia mengalami konflik mendalam dengan keputusannya itu. Kurasa ia bisa berubah pikiran setiap saat. Dari ekspresinya jelas sebagian dirinya menginginkan berakhirnya semua ini--terutama setelah Jeb meletakkan keputusan itu di bahunya. Ketika aku membuat analisis ini, melotot marah kepadaku dengan setiap guratan ekspresi di wajahnya.

Walaupun aku ingin sekali percaya Jeb hanya menggertak, aku sadar hal itu jelas mustahil ketika aku mengamati ketiga lelaki itu menghilang ke dalam kegelapan yang jauh dariku. DI balik penampilan luar yang ditunjukkannya, Jeb pasti sama kejam dan berbahayanya seperti mereka semua. Jika ia belum menggunakan senapan itu di masa lampau--menggunakannya untuk membunuh, bukan hanya untuk mengancam--tak seorang pun akan mematuhinya seperti itu.

Saat-saat genting, bisik Melanie. Kami tak boleh berbaik hati di dunia yang kalian ciptakan. Kami buronan, spesies langka. Setiap pilihan adalah hidup-atau-mati. Sst. Aku tak punya waktu untuk berdebat. Aku harus memusatkan perhatian.

Kini Jared berhadapan dengan Jeb, sebelah tangannya terangkat di depan tubuh, telapak tangan menghadap ke ats dan jari-jari menekuk lemah. Kini, setelah yang lain pergi, sikap mereka berubah santai. Jeb bahkan nyengir di balik janggut tebalnya, seakan menikmati pengusiran disertai todongan senjata itu. Manusia aneh. "Tolong jangan bebankan ini kepadaku, Jeb," uar Jared. "Kyle benar mengenai satu hal--aku tak bisa membuat keputusan rasional." "Tak seorangpun bilang kau harus memutuskan saat ini juga. Dia tidak akan kemana-mana." Jeb melirikku, masih nyengir. Sebelah matanya, yang posisinya tak bisa dilihat Jared, menutup cepat lalu membuka kembali. Jeb mengedipkkan sebelah mata kepadaku. "Setelah semua kesulitan yang dia alami untuk sampai kemari. Kau punya banyak waktu untuk memikirkannya masak-masak." "Tak ada yang harus dipikirkan masak-masak. Melanie sudah mati. Tapi aku tak bisa--aku tak bisa--Jeb, aku tidak bisa begitu saja..." Tampaknya Jared tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Katakan kepadanya. Aku belum siap untuk mati detik ini juga.

"Kalau begitu jangan dipikirkan," ujar Jeb. "Mungkin kau akan menemukan sesuatu nantinya. Beri sedikit waktu." "Harus kita apakan dia? Kita tidak bisa menjaganya sepanjang waktu." Jeb menggeleng. "Itulah tepatnya yang harus kita lakukan untuk sementara ini. Segalanya akan mereda. Tak ada orang yang bisa terus marah selama lebih dari beberapa minggu, bahkan Kyle." "Beberapa minggu? Kita tidak bisa berjaga-jaga di sini selama beberapa minggu. Kita punya hal-hal lain--" "Aku tahu, aku tahu." Jeb mendesah. "Aku akan memikirkan sesuatu." "Dan itu hanya setengah masalahnya." Jared kembali memandangku; pembuluh darah di keningnya berdenyut-denyut. "Di mana kita akan menahannya? Rasanya kita tak punya sel penjara." Jeb tersenyum kepadaku. "Kau tidak akan memberi kami masalah, bukan?" Aku menatapnya tanpa berkata-kata. "Jeb," gumam Jared marah. "Oh, jangan mengkhawatirkannya. Pertama-tama, kita akan mengawasinya. Kedua, dia takkan pernah bisa menemukan jalan keluar dari sini--dia akan tersesat dan berkeliaran sampai bertemu seseorang. Ini membawa kita pada yang ketiga; dia tidak setolol itu." Jeb menaikkan sebelah alis putih tebalnya, memandangku. "Kau tidak akan mencari Kyle atau yang lainnya, bukan? Kurasa tak satu pun dari mereka menyukaimu."

Aku hanya menatap, mewaspadai nada santai dan akrab itu.

"Kuharap kau tidak bicara kepadanya seperti itu," gumam Jared. "Aku dibesarkan di zaman yang lebih sopan, Nak. Tidak bisa tidak." Jeb meletakkan sebelah tangannya di lengan Jared, lalu menepuknya pelan. "Dengar, kau sudah berjaga semalaman. Biarlah aku yang jaga berikutnya di sini. Tidurlah." Tampaknya Jared hendak memprotes, tapi ia kembali memandangku, wajahnya mengeras. "Terserah kau, Jeb. Dan... aku tidak--aku tidak mau menerima tanggung jawab atas mahluk ini. Bunuh dia, jika menurutmu itu yang terbaik."

Aku terenyak. Jared mengernyit melihat reaksiku, lalu berbalik cepat dan berjalan ke arah yang sama dengan yang lainnya tadi. Jeb mengamatinya pergi. Ketika perhatian Jeb teralihkan, aku marayap kembali ke lubangku. Kudengar Jeb duduk perlahan-lahan di tanah di samping lubang itu. Ia mendesah dan menggeliat, lalu mengertakkan beberapa persendian. Setelah beberapa menit, ia mulai bersiul pelan. Nada lagunya ceria. Aku meringkuk memeluk lutut dan menekankan punggung ke dalam ceruk terjauh di sel kecilku. Getaran itu bermula dari punggung bawah, lalu menjalar ke atas dan ke bawah di sepanjang tulang punggungku. Kedua tanganku gemetar, dan gigiku bergemeletuk pelan, walaupun udara panas lembap.

"Sebaiknya berbaring, lalu tidur," ujar Jeb, entah kepadaku atau dirinya sendiri, aku tak yakin. "Besok pasti hari yang berat." Gemetaran itu berhenti setelah beberapa saat--mungkin setengah jam. Ketika gemetarannya hilang, aku merasa lelah. Kuputuskan untuk mengikuti nasihat Jeb. Walaupun lantainya terasa lebih tidak nyaman daripada sebelumnya, aku langsung tertidur dalam hitungan detik.

Aroma makanan membangunkanku. Ketika membuka mata kali ini aku merasa pening dan hilang orientasi. Perasaan panik membuat kedua tanganku kembali gemetar sebelum aku terjaga sepenuhnya. Nampan yang sama tergeletak di tanah di sampingku, penawaran yang sama di atasnya. Aku bisa melihat dan mendengar Jeb. Ia duduk menyamping di depan gua, memandang lurus koridor bulat panjang itu sambil bersiul pelan. Digerakkan rasa haus yang luar biasa, aku duduk dan meraih botol air terbuka itu. "Pagi," sapa Jeb, seraya mengangguk ke arahku. Aku terpaku, tanganku di botol, sampai Jeb memalingkan wajah dan mulai bersiul kembali. Baru sekarang, setelah tidak begitu kehausan seperti sebelumnya, aku memperhatikan rasa aneh dan tidak enak yang tertinggal setelah meminum air itu. Rasa itu cocok dengan bau menyengat udara, tapi sedikit lebih tajam. Rasa tajam itu tertinggal di mulutku, tak bisa hilang. Aku makan dengan cepat, kali ini menyisakan supnya sebagai santapan terakhir. Perutku bereaksi lebih gembira hari ini, menyambut makanan dengan lebih anggun, nyaris tak bergolak. Tapi tubuhku punya kebutuhan-kebutuhan lain, kini setelah kebutuhan yang paling mendesak terpenuhi. Aku melihat sekeliling lubang gelap sempitku. Tak kulihat banyak pilihan. Tapi aku nyaris tak mampu menahan ketakutanku, jika membayangkan harus bicara dan memohon, bahkan kepada Jeb yang aneh tapi ramah sekalipun.

Kuayunkan tubuhku ke depan dan belakang. Berdebar. Pinggulku sakit akibat meliuk mengikuti bentuk melengkung gua. "Ahem," ujar Jeb. Jeb sedang memandangiku lagi. Di balik rambut putih itu, rona wajahnya lebih gelap daripada biasanya. "Kau sudah agak lama terperangkap di sini," katanya. "Kau perlu... keluar?" Aku mengangguk. "Aku juga tidak keberatan berjalan-jalan." Suara Jeb ceria. Ia melompat berdiri dengan kelincahan mengejutkan. Aku merangkak ke pinggir lubang, menatapnya waspada.

"Akan kutunjukkan kamar mandi mungil kami," lanjutnya. "Nah, kau harus tahu bahwa kita harus melewati... semacam plaza utama. Jangan khawatir. Kurasa kini semua orang sudah mengerti." Tanpa sadar ia membelai senapannya. Aku mencoba menelan ludah. Kandung kemihku sangat penuh, sampai terus-menerus terasa nyeri dan mustahil diabaikan. Tapi berparade melintasi sarang para pembunuh murka? Tak bisakah Jeb membawakanku ember saja?

Jeb menilai kepanikan di mataku--mengamati bagaimana aku langsung menjauh lagi ke lubang--dan bibirnya mengerut, menimbang-nimbang. Lalu ia berbalik dan mulai berjalan ke lorong gelap itu. "Ikuti aku," panggilnya, tanpa melihat apakah aku mematuhinya. Gambaran Kyle menemukanku di sini sendirian berkelebat tajam di kepalaku, sehingga dalam waktu kurang dari sedetik aku sudah mengikuti Jeb. Aku merangkak kikuk melewati lubang keluar, lalu melompat-lompat dengan kedua kakiku yang kaku secepat mungkin untuk mengejarnya. Kembali berdiri tegak terasa mengerikan sekaligus menyenangkan--rasa sakitnya menusuk, tapi kelegaannya jauh lebih besar.

Aku berada tepat di belakang Jeb ketika kami tiba di ujung lorong. Kegelapan terlihat di dalam lubang bulat lonjong tinggi tak beraturan itu. Aku bimbang. Kutengok kembali lampu kecil yang ditinggalkan Jeb di lantai. Itu satu-satunya cahaya di dalam ruang gua yang gelap itu. Apakah aku seharusnya membawa lampu itu? Jeb mendengarku berhenti. Ia menoleh dan melirikku lewat bahunya. Aku mengangguk menunjuk lampu, lalu kembali memandanginya. "Tinggalkan saja. Aku tahu jalannya." Ia mengulurkan tangannya yang bebas kepadaku." Aku akan menuntunmu." Kutatap tangan itu untuk waktu lama. Lalu, karena kandung kemihku nyaris meledak, perlahan-lahan kuletakkan tanganku di atas telapak tangan Jeb, nyaris tidak menyentuhnya--seperti caraku menyentuh ular, seandainya karena alasan tertentu aku terpaksa melakukannya.

Jeb menuntunku melewati kegelapan dengan langkah-langkah cepat dan pasti. Terowongan panjang itu diikuti serangkaian putaran membingungkan ke arah-arah berlawanan. Ketika kami mengitari putaran tajam lagi, aku tahu aku sengaja diputar-putar. Aku yakin ini disengaja, dan ini juga alasan Jeb meninggalkan lampu itu. Ia tidak ingin aku tahu terlalu banyak, sehingga bisa menemukan jalan keluar dari labirin ini. Aku penasaran, bagaimana tempat ini bisa seperti ini, bagaimana Jeb bisa menemukannya, dan bagaimana yang lain bisa berakhir di sini. Tapi kukatupkan bibirku erat-erat. Bagiku tampaknya membisu adalah tindakan terbaik saat ini. Aku tak yakin apa yang kuharapkan. Hidup selama beberapa hari lagi? Berakhirnya rasa sakit? Masih adakah yang lain? Yang kuketahui hanyalah, aku belum siap mati, seperti yang sudah kukatakan kepada Melanie. Naluriku untuk bertahan hidup sama besarnya seperti naluri manusia pada umumnya.

Kami berbelok lagi, dan cahaya pertama menyambut kami. Di depan, sebuah celah sempit tinggi berkilau oleh cahaya dari ruangan lain. Ini bukan cahaya buatan seperti lampu kecil di samping guaku. Cahaya ini terlalu putih, terlalu murni. Kami tak bisa berjalan berdampingan melewati celah sempit di batu itu. Jeb masuk duluan, menarikku tepat di belakangnya. Setelah melewatinya dan bisa melihat lagi, kutarik tanganku dari genggaman ringan Jeb. Ia tidak bereaksi, kecuali kembali meletakkan tangan yang baru saja terbebas itu di atas senapannya. Kami berada di terowongan pendek, dan cahaya yag lebih terang bersinar melalui lubang melengkung kasar. Dinding-dinding terowongan itu terbuat dari batu ungu berlubang-lubang yang sama.

Kini aku bisa mendengar suara-suara--rendah dan tidak terlalu mendesak seperti terakhir kali aku mendengar percakapan sekerumunan manusia. Tak seorang pun mengharapkan kami hari ini. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana respons mereka melihat kemunculanku bersama Jeb. Telapak tanganku dingin dan basa; napasku tersengal pendek. Aku mencondongkan tubuh sedekat mungkin pada Jeb, tanpa benar-benar menyentuhnya. "Tenang," gumamnya, tanpa menoleh. "Mereka lebih takut terhadapmu daripada kau takut terhadap mereka." Aku ragu itu. Dan, bahkan seandainya ini benar, ketakutan akan berubah menjadi kebencian dan kekerasan di hati manusia. "Takkan kubiarkan seorang pun melukaimu," gumam Jeb ketika tiba di ambang lubang. "Lagi pula, ini harus dibiasakan."

Aku ingin bertanya apa maksudnya, tapi ia sudah melangkah ke ruangan berikutnya. Aku merayap di belakangnya, tertinggal setengah langkah, dan sebisa mungkin tetap menyembunyikan diri di balik tubuh Jeb. Satu-satunya hal yang lebih sulit daripada menggerakkan tubuh ke dalam ruangan itu adalah bayangan diriku tertinggal di belakang Jeb dan tertangkap sendirian di sini.

Keheningan mendadak menyambut kedatangan kami. Kami kembali berada di ruang gua yang mahabesar dan terang itu, ruangan tempat mereka membawaku saat pertama kali kemari. Sudah berapa lamakah itu? Aku tak tahu. Langit-langit ruangannya masih terlalu terang bagiku, sehingga aku tidak tahu bagaimana tepatnya sistem penerangannya. Sebelumnya aku tidak memperhatikan, tapi dinding-dinding ruangan itu tidak utuh. Ada lusinan celah tak beraturan yang membuka ke dalam terowongan-terowongan yang menyambung di belakangnya. Ada beberapa celah besar, tapi yang lainnya hanya cukup untuk dilewati seseorang dengan membungkuk. Beberapa di antaranya celah alami; yang lainnya, jika bukan buatan manusia, setidaknya diperbaiki oleh tangan seseorang. Beberapa orang menatap kami dari ceruk celah-celah itu, terpaku dalam tindakan masuk atau keluar mereka. Ada lebih banyak orang di dalam ruangan. Tubuh mereka membeku di tengah gerakan apa pun yang terganggu oleh kedatangan kami. Seorang perempuan sedang membungkuk, meraih tali sepatu. Sepasang lengan lelaki melayang diam di udara, terangkat ketika sedang menerangkan sesuatu kepada teman-temannya.

Lelaki lain terhuyung-huyung, kehilangan keseimbangan ketika berhenti mendadak. Kakinya menjejak lantai dengan keras ketika ia berjuang menjaga keseimbangan; suara gedebuk kaki jatuh adalah satu-satunya yang terdengar di dalam ruangan luas itu. Bunyinya menggema ke seluruh ruangan. Pada dasarnya sangat keliru bagiku untuk bersyukur atas senjata mengerikan di tangan Jeb... tapi aku toh bersyukur juga. Aku tahu, tanpa senjata itu kami mungkin sudah diserang. Manusia-manusia ini tidak akan bisa menahan diri untuk tidak melukai Jeb, jika itu berarti mereka bisa mendapatkanku. Dengan adanya senapan itu pun kami mungkin tetap diserang. Jeb hanya bisa menembak mereka satu per satu. Gambaran di dalam kepalaku telah berubah begitu mengerikannya, sampai tak tertahankan bagiku. Aku mencoba memusatkan perhatian pada situasiku saat ini, yang sudah cukup buruk. Jeb berhenti sejenak, senapan itu ditahannya di pinggang, mengarah ke luar. Ia menatap ke sekeliling ruangan, tampaknya mengamati mereka satu per satu. Kurang dari dua puluh orang di sini; tak akan memakan waktu lama. Ketika sudah merasa puas dengan pengamatannya, Jeb menuju dinding kiri ruangan. Dengan darah berdenyut-denyut di teliga, aku mengikuti tepat di belakangnya.

Jeb tidak berjalan langsung melintasi ruang gua, tapi menjaga langkahnya agar tetap berada di dekat lengkungan dinding. Aku mempertanyakan jalurnya, sampai mengamati adanya bidang persegi empat besar yang berwarna lebih gelap dan memenuhi bagian tengah lantai. Bidang itu memakan banyak tempat. Tak seorang pun berdiri di tanah yang gelap ini. Aku terlalu takut untuk berbuat apa pun, selain memperhatikan keanehan itu; aku bahkan tidak menerka-nerka alasannya. Muncul gerakan-gerakan kecil ketika kami mengitari ruangan hening itu. Perempuan yang membungkuk menegakkan tubuh, meliukkan pinggang untuk mengamati kepergian kami. Lelaki yang sedang melakukan gerak isyarat itu bersedekap. Semua mata menyipit, dan semua wajah menegak membentuk ekspresi kemarahan. Akan tetapi tak seorang pun bergerak mendekati kami, dan tak seorang pun bicara. Apa pun yang diceritakan Kyle dan yang lainnya kepada orang - orang ini mengenai konfrontasi mereka dengan Jeb, tampaknya itu menghasilkan efek yang diharapkan Jeb.

Ketika kami melewati hutan patung manusia itu, aku mengenali Sharon dan Maggie yang sedang mengamati kami dari mulut lebar salah satu lubang gua. Ekspresi wajah mereka kosong, mata mereka dingin. Mereka tidak memandangku, hanya memandang Jeb--yang mengabaikan mereka. Rasanya seakan bertahun-tahun sudah berlalu ketika akhirnya kami tiba di sisi jauh ruang gua. Jeb berjalan ke lubang keluar berukuran sedang yang tampak hitam dilatari terang benderangnya ruangan ini. Semua mata yang menatap punggungku membuat kulit kepalaku tergelitik, tapi aku tidak berani menengok ke belakang. manusia -manusia itu masih tetap diam, tapi aku khawatir mereka akan membuntuti kami. Rasanya melegakan ketika menyelinap ke dalam kegelapan lorong baru ini. Tangan Jeb menyentuk sikuku untuk menuntunku, dan aku tidak menjauh darinya. Suara-suara percakapan itu tak lagi terdengar di belakang kami. "Lebih baik dari yang kuharapkan," gumam Jeb, ketika menuntunku melewati gua. Kata-katanya mengejutkanku, dan aku gembira karena tidak mengetahui apa yang diharapkannya akan terjadi. Tanahnya menurun di bawah kakiku. Di depan, sebuah cahaya suram menghindarkanku dari kebutaan total. "Aku yakin kau tak pernah melihat sesuatu pun yang menyerupai tempatku ini." Suara Jeb kini lebih lantang, kembali pada nada akrab yang ia gunakan sebelumnya. "Benar-benar mengagumkan, bukan?" Ia berhenti sejenak, kalau-kalau aku hendak menjawab, lalu kembali melanjutkan. "Kutemukan tempat ini di tahun tujuh puluhan. Well, tempat inilah yang menemukanku. Aku terjatuh menembus atap ruangan besar itu, dan mungkin seharusnya sudah mati karenanya, tapi aku terlalu tangguh demi kepentinganku sendiri. Perlu sejenak untuk menemukan jalan keluar. Aku sudah cukup lapar hingga bisa menyantap batu saat berhasil keluar. "Saat itu akulah satu-satunya orang yang tersisa di peternakan, jadi tidak ada yang bisa kuajak melihat tempat ini. Kujelajahi setiap sudut dan celahnya, dan aku bisa melihat adanya kemungkinan-kemungkinan. Kuputuskan bahwa ini bisa menjadi rencana rahasiaku, untuk berjaga-jaga. Begitulah kami, keluarga Stryder--kami suka menyiapkan diri." Kami melewati cahaya suram itu, yang muncul dari lubang seukuran kepalan tangan di langit-langit, dan menciptakan lingkaran kecil cahaya di lantai. Ketika cahaya itu sudah berada di belakang kami, aku bisa melihat bintik cahaya lain jauh di depan. "Kau mungkin penasaran bagaimana terjadinya semua ini." Hening lagi, lebih singkat daripada sebelumnya. "Aku tahu dulu aku merasa penasaran. Aku melakukan sedikit riset. Ini adalah saluran - saluran lava. Hebat, bukan? Ini dulunya gunung berapi. Well, kurasa masih gunung berapi. Belum mati sepenuhnya, seperti yang akan kaulihat sebentar lagi. Semua gua dan lubang ini adalah rongga udara yang terjebak di dalam lava yang mendingin. Selama beberapa dekade terakhir ini aku bekerja cukup keras menggarapnya. Beberapa di antaranya mudah--menghubungkan saluran-saluran itu hanyalah pekerjaan sepele. Bagian-bagian lainnya memerlukan lebih banyak imajinasi. Kau lihat langit-langit di ruang besar itu? Memakan waktu bertahun-tahun untuk membetulkannya." Aku ingin bertanya bagaimana caranya, tapi tidak sanggup bicara. Diam adalah tindakan teraman. Lantainya mulai menurun dengan sudut lebih tajam. Tanahnya terpecah-pecah menjadi undakan-undakan kasar, tapi tampaknya cukup aman. Jeb menuntunku menuruni undakan-undakan itu dengan penuh keyakinan. Ketika kami turun semakin rendah dan semakin rendah ke dalam tanah, panas dan kelembapannya meningkat. Aku mengejang ketika medengar suara-suara percakapan lagi, kali ini dari arah depan. Jeb menepuk-nepuk tanganku dengan ramah. "Kau akan menyukai bagian ini--selalu menjadi kesukaan semua orang," janjinya. Sebuah lengkungan lebar berkilau oleh cahaya yang bergerak-gerak. Warnanya sama dengan cahaya di ruang besar itu, putih dan murni, tapi berpendar-pendar dengan irama dansa aneh. Seperti segala hal lainnya yang tak bisa kupaham di dalam gua ini, cahaya itu membuatku takut.
"Nah, kita sudah sampai," ujar Jeb dengan antusias. Ia menarikku melewati ambang melengkung itu. "Bagaimana menurutmu?" --

0 comments:

Post a Comment

Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com

The Host - Bab 16

 Diserahkan


Pinggiran lubang batu itu tidak tajam, tapi telapak tangan dan tulang keringku tergores ketika aku merangkak melewatinya. Karena tubuhku kaku, menegakkan diri terasa menyakitkan, dan napasku terhenti. Kepalaku berputar-putar ketika darah mengalir ke bawah. Aku hanya mencari satu hal--dimana Jared berada, sehingga bisa menempatkan tubuhku di antara dirinya dan para penyerangnya. Mereka terpaku di tempat, menatapku.

Punggung Jared merapat ke dinding, kedua tangannya mengepal dalam posisi rendah. Di hadapannya, Kyle membungkuk mencengkeram perut. Ian dan seorang asing berdiri di kiri dan kanannya, beberapa puluh sentimeter di belakang, mulut mereka ternganga kaget. Kumanfaatkan keterkejutan mereka. Dengan dua langkah panjang gemetar, kutempatkan tubuhku di antara Kylie dan Jared. Kyle yang pertama bereaksi. Aku lebih pendek sekitar tiga puluh senti darinya, dan naluri pertama Kyle adalah menyingkirkanku. Tangannya menyambar bahuku dan mendorongku ke lantai. Sebelum aku terjatuh, sesuatu menangkap pergelangan tanganku dan menarikku berdiri. Begitu menyadari perbuatannya, Jared melepaskan pergelangan tanganku seakan kulitku mengeluarkan cairan asam. "Kembalilah ke dalam," teriaknya kepadaku. Ia juga mendorong bahuku, tapi tidak sekeras Kyle. Aku terhuyung-huyung mundur setengah meter ke arah lubang di dinding. Lubang itu berupa lingkaran hitam di lorong sempit. Di luar penjara kecilku, ruang gua yang lebih tinggi, lebih mirip terowongan ketimbang rongga. Sebuah lampu kecil--yang tak bisa kutebak dinyalakan dengan apa--menerangi lorong samar-samar dari bawah. Lampu itu menciptakan bayang-bayang aneh di raut wajah para lelaki itu, mengubah mereka menjadi monster-monster pemarah. Aku maju selangkah lagi mendekati mereka, memunggungi Jared. "Akulah yang kalian inginkan," ujarku kepada Kyle. "Jangan ganggu dia."



Tak ada yang mengucapkan apa-apa untuk waktu yang lama. "Bajingan licik," gumam Ian akhirnya, matanya terbelalak ngeri. "Sudah kubilang, kembalilah ke dalam," desis Jared di belakangku. Aku setengah berbalik, tak ingin Kyle lenyap dari pandangan. "Bukan tugasmu untuk melindungiku dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri." Jared menyeringai, sebelah tangannya terangkat untuk mendorongku kembali ke dalam sel. Aku meloloskan diri; gerakan itu membuatku lebih dekat kepada orang-orang yang ingin membunuhku. Ian mencengkeram dan menelikung tanganku. Aku meronta-ronta, tapi ia sangat kuat. Ia menekuk persendianku terlalu jauh dan aku menghela napas kesakitan. "Lepaskan dia!" sergah Jared seraya menerjang. Kyle menangkapnya, lalu memutar dan memitingnya, mendorong lehernya ke depan. Lelaki yang lain mencengkeram sebelah tangan jared yang menggapai-gapai. "Jangan sakiti dia!" teriakku. Kulawan tangan-tangan yang memenjarakanku. Siku Jared yang bebas menyodok perut Kyle. Lelaki itu menghela napas kesakitan dan melepaskan jepitannya. Jared menggeliat, melepaskan diri dari para penyerangnya, lalu kembali menerjang. Kepalannya menghantang hidung Kyle. Darah merah tua menciprati dinding dan lampu. "Selesaikan, Ian!" teriak Kyle. Ia merunduk dan menyeruduk Jared, melempar Jared kepada lelaki yang lain. "Tidak!" seruku dan Jared bersamaan. Ian melepaskan kedua tanganku, lalu ganti mencekik leherku, memutuskan aliran udara. Kucakar tangannya dengan kukuku yang tumpul dan tak berguna. Ia mencekikku semakin erat, menyeret kakiku meninggalkan lantai.
 

Rasanya menyakitkan--tangan-tangan yang mencekik, kepanikan mendadak paru-paruku. Sangat menyakitkan. Aku meronta-ronta, lebih mencoba melepaskan diri dari rasa sakit daripada membebaskan diri dari sepasang tangan pembunuh itu.

Klik, klik. Walaupun hanya pernah mendengar suar aitu satu kali, aku mengenalinya. Begitu juga yang lainnya. Mereka terpaku; Ian dengan sepasang tangan mencengkeram kuat leherku. "Kyle, Ian, Brandt--mundur!" teriak Jeb.


Tak seorang pun bergerak--selain kedua tanganku yang masih mencakar-cakar dan kakiku tersentak-sentak di udara. Tiba-tiba Jared menyelinap dari bawah lengan Kyle yang tak bergerak, lalu menerjangku. Kulihat kepalan tangannya melayang ke wajahku, dan aku memejamkan mata. Terdengar suara brak keras beberapa senti di belakang kepalaku. Ian meraung, dan aku jatuh ke lantai. Aku roboh di sana, di kaki Ian, tersengal. Jared mundur, setelah melirik marah ke arahku, lalu berdiri di dekat siku Jeb.

"Kalian tamu di sini, jangan lupa itu," gerutu Jeb. "Sudah kubilang, jangan mencari gadis itu. Dia juga tamuku, untuk sementara ni, dan aku tidak suka tamuku saling bunuh." "Jeb," erang Ian dari atas tubuhku. Suaranya teredam tangannya yang menutupi mulut." Jeb, ini gila." "Apa rencanamu?" desak Kyle. Wajahnya bernoda darah. Pemandangan yang mengerikan. Tapi tak terdengar rasa sakit di dalam suaranya. Yang ada hanya kemarahan mendidih dan terkendali, aman, atau apakah sudah saatnya untuk pindah. Jadi... berapa lama kau akan menyimpan mahluk ini sebagai hewan peliharaan? Apa yang akan kaulakukan padanya jika kau sudah selesai pura-pura jadi Tuhan? Kami berhak mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan ini."

Kata-kata Kyle yang luar biasa bergema di balik denyut yang berdentam-dentam di kepalaku. Menyimpanku sebagai hewan peliharaan? Jeb menyebutku tamunya... Apakah itu kata lain untuk tawanan? Mungkinkah ada dua manusia yang tidak menginginkan kematian atau pengakuanku di bawah siksaan? Seandainya ada, itu benar-benar ajaib.

"Aku tak punya jawabannya, Kyle," jawab Jeb. "Bukan aku yang memutuskan." Aku ragu, adakah jawaban lain ari Jeb yang lebih membingungkan daripada ini? Keempat lelaki itu, Kyle, Ian, orang yang tak kukenal, bahkan Jared, menatap Jeb terkejut. Aku masih meringkuk terengah-engah di kaki Ian, berharap menemukan cara untuk kembali ke dalam lubangku tanpa diperhatikan.

"Bukan kau yang memutuskan?" Kyle menirukan, masih tidak percaya. "Lalu siapa? Jika kau berpikir hendak mengadakan pemungutan suara, itu sudah dilakukan. Aku, Ian, dan Brandt telah ditunjuk secara resmi untuk mengumumkan hasilnya." Jeb menggeleng, tanpa pernah melepaskan pandangannya dari lelaki di hadapannya. "Bukan pemungutan suara yang memutuskan. Ini masih rumahku." "Lalu siapa?" teriak Kyle. Mata Jeb akhirnya berpindah--ke wajah lain, lalu kepada Kyle. "Jared yang memutuskan." Semua, termasuk aku, mengalihkan pandang menatap Jared. Jared ternganga menatap Jeb, sama kagetnya seperti yang lain, lalu ia mengertakkan gigi keras-keras. Ia melirikku penuh kebencian. "Jared?" tanya Kyle, kembali memandang Jeb. "Itu tidak masuk akal!" Kini ia tak bisa mengendalikan diri, kemarahannya nyaris meledak. "Dia lebih berat sebelah daripada yang lainnya! Mengapa? Bagaimana mungkin dia bisa bersikap rasional mengenai hal ini?"

"Jeb, kurasa...," gumam Jared. "Dia tanggung jawabmu, Jared," ujar Jeb tegas."Tentu saja aku akan membantumu, seandainya ada masalah seperti ini lagi. Aku juga akan membantumu mengikuti perkembangan gadis itu dan lain-lain semacamnya. Tapi mengenai pengambilan keputusan, itu tanggung jawabmu." Jeb mengangkat sebelah tangan ketika Kyle mencoba memprotes lagi. "Anggap saja begini, Kyle. Seandainya seseorang menemukan Jodi-mu saat sedang menjarah, lalu membawanya kemari, apakah kau menginginkanku, Doc, atau pemungutan suara untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan terhadapnya?" "Jodi sudah mati," desis Kyle. Darah menyembur dari bibirnya. Ia memelototiku dengan ekspresi yang nyaris sama dengan ekspresi yang baru saja diperlihatkan Jared. "Well, seandainya tubuhnya berkelana kemari, masih tetap kau yang akan memutuskan. Akankah kau menginginkan cara lain?" "Mayoritas--" "Rumahku, peraturanku," sela Jeb kasar. "Tak ada lagi diskusi soal ini. Tak ada lagi pemungutan suara. Tak ada lagi usaha-usaha pembunuhan. Kalian harus menyebarkan berita ini--beginilah cara kerjanya mulai sekarang. Peraturan baru." "Lagi?" gumam Ian berbisik. Jeb mengabaikannya. "Walaupun sangat kecil kemungkinannya, tapi seandainya peristiwa ini terjadi lagi, maka siapa pun pemilik tubuh itu yang berhak memutuskan." Jeb mengarahkan moncong senapannya kepada Kyle, lalu menyentakkannya beberapa senti ke arah lorong di belakangnya. "Keluarlah dari sini. Aku tak ingin melihatmu berkeliaran di dekat tempat ini lagi. Katakan kepada semua orang bahwa koridor ini terlarang. Tak seorang pun punya alasan untuk berada di sini, kecuali Jared. Dan seandainya aku memergoki seseorang bersembunyi di sekitar sini, bertanya adalah hal kedua yang akan kulakukan. Mengerti? Pergi. Sekarang." Ia kembali mengarahkan senapan itu kepada Kyle.

Aku takjub karena ketiga pembunuh itu langsung berjalan kembali ke lorong, bahkan tidak berhenti untuk menyeringai kepadaku atau Jeb sebagai tanda perpisahan. Aku ingin sekali percaya senapan di tangan Jeb hanya gertakan. Sejak pertama kali berjumpa dengannya, Jeb selalu menunjukkan penampilan luar yang baik hati. Ia belum pernah menyentuhku dengan kekerasan; ia bahkan tidak pernah memandangku dengan sikap yang jelas-jelas bermusuhan. Kini tampaknya ia salah satu dari dua orang di sini yang tidak bermaksud jahat padaku. Jared mungkin telah berjuang untuk mempertahankan hidupku, tapi jelas ia mengalami konflik mendalam dengan keputusannya itu. Kurasa ia bisa berubah pikiran setiap saat. Dari ekspresinya jelas sebagian dirinya menginginkan berakhirnya semua ini--terutama setelah Jeb meletakkan keputusan itu di bahunya. Ketika aku membuat analisis ini, melotot marah kepadaku dengan setiap guratan ekspresi di wajahnya.

Walaupun aku ingin sekali percaya Jeb hanya menggertak, aku sadar hal itu jelas mustahil ketika aku mengamati ketiga lelaki itu menghilang ke dalam kegelapan yang jauh dariku. DI balik penampilan luar yang ditunjukkannya, Jeb pasti sama kejam dan berbahayanya seperti mereka semua. Jika ia belum menggunakan senapan itu di masa lampau--menggunakannya untuk membunuh, bukan hanya untuk mengancam--tak seorang pun akan mematuhinya seperti itu.

Saat-saat genting, bisik Melanie. Kami tak boleh berbaik hati di dunia yang kalian ciptakan. Kami buronan, spesies langka. Setiap pilihan adalah hidup-atau-mati. Sst. Aku tak punya waktu untuk berdebat. Aku harus memusatkan perhatian.

Kini Jared berhadapan dengan Jeb, sebelah tangannya terangkat di depan tubuh, telapak tangan menghadap ke ats dan jari-jari menekuk lemah. Kini, setelah yang lain pergi, sikap mereka berubah santai. Jeb bahkan nyengir di balik janggut tebalnya, seakan menikmati pengusiran disertai todongan senjata itu. Manusia aneh. "Tolong jangan bebankan ini kepadaku, Jeb," uar Jared. "Kyle benar mengenai satu hal--aku tak bisa membuat keputusan rasional." "Tak seorangpun bilang kau harus memutuskan saat ini juga. Dia tidak akan kemana-mana." Jeb melirikku, masih nyengir. Sebelah matanya, yang posisinya tak bisa dilihat Jared, menutup cepat lalu membuka kembali. Jeb mengedipkkan sebelah mata kepadaku. "Setelah semua kesulitan yang dia alami untuk sampai kemari. Kau punya banyak waktu untuk memikirkannya masak-masak." "Tak ada yang harus dipikirkan masak-masak. Melanie sudah mati. Tapi aku tak bisa--aku tak bisa--Jeb, aku tidak bisa begitu saja..." Tampaknya Jared tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Katakan kepadanya. Aku belum siap untuk mati detik ini juga.

"Kalau begitu jangan dipikirkan," ujar Jeb. "Mungkin kau akan menemukan sesuatu nantinya. Beri sedikit waktu." "Harus kita apakan dia? Kita tidak bisa menjaganya sepanjang waktu." Jeb menggeleng. "Itulah tepatnya yang harus kita lakukan untuk sementara ini. Segalanya akan mereda. Tak ada orang yang bisa terus marah selama lebih dari beberapa minggu, bahkan Kyle." "Beberapa minggu? Kita tidak bisa berjaga-jaga di sini selama beberapa minggu. Kita punya hal-hal lain--" "Aku tahu, aku tahu." Jeb mendesah. "Aku akan memikirkan sesuatu." "Dan itu hanya setengah masalahnya." Jared kembali memandangku; pembuluh darah di keningnya berdenyut-denyut. "Di mana kita akan menahannya? Rasanya kita tak punya sel penjara." Jeb tersenyum kepadaku. "Kau tidak akan memberi kami masalah, bukan?" Aku menatapnya tanpa berkata-kata. "Jeb," gumam Jared marah. "Oh, jangan mengkhawatirkannya. Pertama-tama, kita akan mengawasinya. Kedua, dia takkan pernah bisa menemukan jalan keluar dari sini--dia akan tersesat dan berkeliaran sampai bertemu seseorang. Ini membawa kita pada yang ketiga; dia tidak setolol itu." Jeb menaikkan sebelah alis putih tebalnya, memandangku. "Kau tidak akan mencari Kyle atau yang lainnya, bukan? Kurasa tak satu pun dari mereka menyukaimu."

Aku hanya menatap, mewaspadai nada santai dan akrab itu.

"Kuharap kau tidak bicara kepadanya seperti itu," gumam Jared. "Aku dibesarkan di zaman yang lebih sopan, Nak. Tidak bisa tidak." Jeb meletakkan sebelah tangannya di lengan Jared, lalu menepuknya pelan. "Dengar, kau sudah berjaga semalaman. Biarlah aku yang jaga berikutnya di sini. Tidurlah." Tampaknya Jared hendak memprotes, tapi ia kembali memandangku, wajahnya mengeras. "Terserah kau, Jeb. Dan... aku tidak--aku tidak mau menerima tanggung jawab atas mahluk ini. Bunuh dia, jika menurutmu itu yang terbaik."

Aku terenyak. Jared mengernyit melihat reaksiku, lalu berbalik cepat dan berjalan ke arah yang sama dengan yang lainnya tadi. Jeb mengamatinya pergi. Ketika perhatian Jeb teralihkan, aku marayap kembali ke lubangku. Kudengar Jeb duduk perlahan-lahan di tanah di samping lubang itu. Ia mendesah dan menggeliat, lalu mengertakkan beberapa persendian. Setelah beberapa menit, ia mulai bersiul pelan. Nada lagunya ceria. Aku meringkuk memeluk lutut dan menekankan punggung ke dalam ceruk terjauh di sel kecilku. Getaran itu bermula dari punggung bawah, lalu menjalar ke atas dan ke bawah di sepanjang tulang punggungku. Kedua tanganku gemetar, dan gigiku bergemeletuk pelan, walaupun udara panas lembap.

"Sebaiknya berbaring, lalu tidur," ujar Jeb, entah kepadaku atau dirinya sendiri, aku tak yakin. "Besok pasti hari yang berat." Gemetaran itu berhenti setelah beberapa saat--mungkin setengah jam. Ketika gemetarannya hilang, aku merasa lelah. Kuputuskan untuk mengikuti nasihat Jeb. Walaupun lantainya terasa lebih tidak nyaman daripada sebelumnya, aku langsung tertidur dalam hitungan detik.

Aroma makanan membangunkanku. Ketika membuka mata kali ini aku merasa pening dan hilang orientasi. Perasaan panik membuat kedua tanganku kembali gemetar sebelum aku terjaga sepenuhnya. Nampan yang sama tergeletak di tanah di sampingku, penawaran yang sama di atasnya. Aku bisa melihat dan mendengar Jeb. Ia duduk menyamping di depan gua, memandang lurus koridor bulat panjang itu sambil bersiul pelan. Digerakkan rasa haus yang luar biasa, aku duduk dan meraih botol air terbuka itu. "Pagi," sapa Jeb, seraya mengangguk ke arahku. Aku terpaku, tanganku di botol, sampai Jeb memalingkan wajah dan mulai bersiul kembali. Baru sekarang, setelah tidak begitu kehausan seperti sebelumnya, aku memperhatikan rasa aneh dan tidak enak yang tertinggal setelah meminum air itu. Rasa itu cocok dengan bau menyengat udara, tapi sedikit lebih tajam. Rasa tajam itu tertinggal di mulutku, tak bisa hilang. Aku makan dengan cepat, kali ini menyisakan supnya sebagai santapan terakhir. Perutku bereaksi lebih gembira hari ini, menyambut makanan dengan lebih anggun, nyaris tak bergolak. Tapi tubuhku punya kebutuhan-kebutuhan lain, kini setelah kebutuhan yang paling mendesak terpenuhi. Aku melihat sekeliling lubang gelap sempitku. Tak kulihat banyak pilihan. Tapi aku nyaris tak mampu menahan ketakutanku, jika membayangkan harus bicara dan memohon, bahkan kepada Jeb yang aneh tapi ramah sekalipun.

Kuayunkan tubuhku ke depan dan belakang. Berdebar. Pinggulku sakit akibat meliuk mengikuti bentuk melengkung gua. "Ahem," ujar Jeb. Jeb sedang memandangiku lagi. Di balik rambut putih itu, rona wajahnya lebih gelap daripada biasanya. "Kau sudah agak lama terperangkap di sini," katanya. "Kau perlu... keluar?" Aku mengangguk. "Aku juga tidak keberatan berjalan-jalan." Suara Jeb ceria. Ia melompat berdiri dengan kelincahan mengejutkan. Aku merangkak ke pinggir lubang, menatapnya waspada.

"Akan kutunjukkan kamar mandi mungil kami," lanjutnya. "Nah, kau harus tahu bahwa kita harus melewati... semacam plaza utama. Jangan khawatir. Kurasa kini semua orang sudah mengerti." Tanpa sadar ia membelai senapannya. Aku mencoba menelan ludah. Kandung kemihku sangat penuh, sampai terus-menerus terasa nyeri dan mustahil diabaikan. Tapi berparade melintasi sarang para pembunuh murka? Tak bisakah Jeb membawakanku ember saja?

Jeb menilai kepanikan di mataku--mengamati bagaimana aku langsung menjauh lagi ke lubang--dan bibirnya mengerut, menimbang-nimbang. Lalu ia berbalik dan mulai berjalan ke lorong gelap itu. "Ikuti aku," panggilnya, tanpa melihat apakah aku mematuhinya. Gambaran Kyle menemukanku di sini sendirian berkelebat tajam di kepalaku, sehingga dalam waktu kurang dari sedetik aku sudah mengikuti Jeb. Aku merangkak kikuk melewati lubang keluar, lalu melompat-lompat dengan kedua kakiku yang kaku secepat mungkin untuk mengejarnya. Kembali berdiri tegak terasa mengerikan sekaligus menyenangkan--rasa sakitnya menusuk, tapi kelegaannya jauh lebih besar.

Aku berada tepat di belakang Jeb ketika kami tiba di ujung lorong. Kegelapan terlihat di dalam lubang bulat lonjong tinggi tak beraturan itu. Aku bimbang. Kutengok kembali lampu kecil yang ditinggalkan Jeb di lantai. Itu satu-satunya cahaya di dalam ruang gua yang gelap itu. Apakah aku seharusnya membawa lampu itu? Jeb mendengarku berhenti. Ia menoleh dan melirikku lewat bahunya. Aku mengangguk menunjuk lampu, lalu kembali memandanginya. "Tinggalkan saja. Aku tahu jalannya." Ia mengulurkan tangannya yang bebas kepadaku." Aku akan menuntunmu." Kutatap tangan itu untuk waktu lama. Lalu, karena kandung kemihku nyaris meledak, perlahan-lahan kuletakkan tanganku di atas telapak tangan Jeb, nyaris tidak menyentuhnya--seperti caraku menyentuh ular, seandainya karena alasan tertentu aku terpaksa melakukannya.

Jeb menuntunku melewati kegelapan dengan langkah-langkah cepat dan pasti. Terowongan panjang itu diikuti serangkaian putaran membingungkan ke arah-arah berlawanan. Ketika kami mengitari putaran tajam lagi, aku tahu aku sengaja diputar-putar. Aku yakin ini disengaja, dan ini juga alasan Jeb meninggalkan lampu itu. Ia tidak ingin aku tahu terlalu banyak, sehingga bisa menemukan jalan keluar dari labirin ini. Aku penasaran, bagaimana tempat ini bisa seperti ini, bagaimana Jeb bisa menemukannya, dan bagaimana yang lain bisa berakhir di sini. Tapi kukatupkan bibirku erat-erat. Bagiku tampaknya membisu adalah tindakan terbaik saat ini. Aku tak yakin apa yang kuharapkan. Hidup selama beberapa hari lagi? Berakhirnya rasa sakit? Masih adakah yang lain? Yang kuketahui hanyalah, aku belum siap mati, seperti yang sudah kukatakan kepada Melanie. Naluriku untuk bertahan hidup sama besarnya seperti naluri manusia pada umumnya.

Kami berbelok lagi, dan cahaya pertama menyambut kami. Di depan, sebuah celah sempit tinggi berkilau oleh cahaya dari ruangan lain. Ini bukan cahaya buatan seperti lampu kecil di samping guaku. Cahaya ini terlalu putih, terlalu murni. Kami tak bisa berjalan berdampingan melewati celah sempit di batu itu. Jeb masuk duluan, menarikku tepat di belakangnya. Setelah melewatinya dan bisa melihat lagi, kutarik tanganku dari genggaman ringan Jeb. Ia tidak bereaksi, kecuali kembali meletakkan tangan yang baru saja terbebas itu di atas senapannya. Kami berada di terowongan pendek, dan cahaya yag lebih terang bersinar melalui lubang melengkung kasar. Dinding-dinding terowongan itu terbuat dari batu ungu berlubang-lubang yang sama.

Kini aku bisa mendengar suara-suara--rendah dan tidak terlalu mendesak seperti terakhir kali aku mendengar percakapan sekerumunan manusia. Tak seorang pun mengharapkan kami hari ini. Aku hanya bisa membayangkan bagaimana respons mereka melihat kemunculanku bersama Jeb. Telapak tanganku dingin dan basa; napasku tersengal pendek. Aku mencondongkan tubuh sedekat mungkin pada Jeb, tanpa benar-benar menyentuhnya. "Tenang," gumamnya, tanpa menoleh. "Mereka lebih takut terhadapmu daripada kau takut terhadap mereka." Aku ragu itu. Dan, bahkan seandainya ini benar, ketakutan akan berubah menjadi kebencian dan kekerasan di hati manusia. "Takkan kubiarkan seorang pun melukaimu," gumam Jeb ketika tiba di ambang lubang. "Lagi pula, ini harus dibiasakan."

Aku ingin bertanya apa maksudnya, tapi ia sudah melangkah ke ruangan berikutnya. Aku merayap di belakangnya, tertinggal setengah langkah, dan sebisa mungkin tetap menyembunyikan diri di balik tubuh Jeb. Satu-satunya hal yang lebih sulit daripada menggerakkan tubuh ke dalam ruangan itu adalah bayangan diriku tertinggal di belakang Jeb dan tertangkap sendirian di sini.

Keheningan mendadak menyambut kedatangan kami. Kami kembali berada di ruang gua yang mahabesar dan terang itu, ruangan tempat mereka membawaku saat pertama kali kemari. Sudah berapa lamakah itu? Aku tak tahu. Langit-langit ruangannya masih terlalu terang bagiku, sehingga aku tidak tahu bagaimana tepatnya sistem penerangannya. Sebelumnya aku tidak memperhatikan, tapi dinding-dinding ruangan itu tidak utuh. Ada lusinan celah tak beraturan yang membuka ke dalam terowongan-terowongan yang menyambung di belakangnya. Ada beberapa celah besar, tapi yang lainnya hanya cukup untuk dilewati seseorang dengan membungkuk. Beberapa di antaranya celah alami; yang lainnya, jika bukan buatan manusia, setidaknya diperbaiki oleh tangan seseorang. Beberapa orang menatap kami dari ceruk celah-celah itu, terpaku dalam tindakan masuk atau keluar mereka. Ada lebih banyak orang di dalam ruangan. Tubuh mereka membeku di tengah gerakan apa pun yang terganggu oleh kedatangan kami. Seorang perempuan sedang membungkuk, meraih tali sepatu. Sepasang lengan lelaki melayang diam di udara, terangkat ketika sedang menerangkan sesuatu kepada teman-temannya.

Lelaki lain terhuyung-huyung, kehilangan keseimbangan ketika berhenti mendadak. Kakinya menjejak lantai dengan keras ketika ia berjuang menjaga keseimbangan; suara gedebuk kaki jatuh adalah satu-satunya yang terdengar di dalam ruangan luas itu. Bunyinya menggema ke seluruh ruangan. Pada dasarnya sangat keliru bagiku untuk bersyukur atas senjata mengerikan di tangan Jeb... tapi aku toh bersyukur juga. Aku tahu, tanpa senjata itu kami mungkin sudah diserang. Manusia-manusia ini tidak akan bisa menahan diri untuk tidak melukai Jeb, jika itu berarti mereka bisa mendapatkanku. Dengan adanya senapan itu pun kami mungkin tetap diserang. Jeb hanya bisa menembak mereka satu per satu. Gambaran di dalam kepalaku telah berubah begitu mengerikannya, sampai tak tertahankan bagiku. Aku mencoba memusatkan perhatian pada situasiku saat ini, yang sudah cukup buruk. Jeb berhenti sejenak, senapan itu ditahannya di pinggang, mengarah ke luar. Ia menatap ke sekeliling ruangan, tampaknya mengamati mereka satu per satu. Kurang dari dua puluh orang di sini; tak akan memakan waktu lama. Ketika sudah merasa puas dengan pengamatannya, Jeb menuju dinding kiri ruangan. Dengan darah berdenyut-denyut di teliga, aku mengikuti tepat di belakangnya.

Jeb tidak berjalan langsung melintasi ruang gua, tapi menjaga langkahnya agar tetap berada di dekat lengkungan dinding. Aku mempertanyakan jalurnya, sampai mengamati adanya bidang persegi empat besar yang berwarna lebih gelap dan memenuhi bagian tengah lantai. Bidang itu memakan banyak tempat. Tak seorang pun berdiri di tanah yang gelap ini. Aku terlalu takut untuk berbuat apa pun, selain memperhatikan keanehan itu; aku bahkan tidak menerka-nerka alasannya. Muncul gerakan-gerakan kecil ketika kami mengitari ruangan hening itu. Perempuan yang membungkuk menegakkan tubuh, meliukkan pinggang untuk mengamati kepergian kami. Lelaki yang sedang melakukan gerak isyarat itu bersedekap. Semua mata menyipit, dan semua wajah menegak membentuk ekspresi kemarahan. Akan tetapi tak seorang pun bergerak mendekati kami, dan tak seorang pun bicara. Apa pun yang diceritakan Kyle dan yang lainnya kepada orang - orang ini mengenai konfrontasi mereka dengan Jeb, tampaknya itu menghasilkan efek yang diharapkan Jeb.

Ketika kami melewati hutan patung manusia itu, aku mengenali Sharon dan Maggie yang sedang mengamati kami dari mulut lebar salah satu lubang gua. Ekspresi wajah mereka kosong, mata mereka dingin. Mereka tidak memandangku, hanya memandang Jeb--yang mengabaikan mereka. Rasanya seakan bertahun-tahun sudah berlalu ketika akhirnya kami tiba di sisi jauh ruang gua. Jeb berjalan ke lubang keluar berukuran sedang yang tampak hitam dilatari terang benderangnya ruangan ini. Semua mata yang menatap punggungku membuat kulit kepalaku tergelitik, tapi aku tidak berani menengok ke belakang. manusia -manusia itu masih tetap diam, tapi aku khawatir mereka akan membuntuti kami. Rasanya melegakan ketika menyelinap ke dalam kegelapan lorong baru ini. Tangan Jeb menyentuk sikuku untuk menuntunku, dan aku tidak menjauh darinya. Suara-suara percakapan itu tak lagi terdengar di belakang kami. "Lebih baik dari yang kuharapkan," gumam Jeb, ketika menuntunku melewati gua. Kata-katanya mengejutkanku, dan aku gembira karena tidak mengetahui apa yang diharapkannya akan terjadi. Tanahnya menurun di bawah kakiku. Di depan, sebuah cahaya suram menghindarkanku dari kebutaan total. "Aku yakin kau tak pernah melihat sesuatu pun yang menyerupai tempatku ini." Suara Jeb kini lebih lantang, kembali pada nada akrab yang ia gunakan sebelumnya. "Benar-benar mengagumkan, bukan?" Ia berhenti sejenak, kalau-kalau aku hendak menjawab, lalu kembali melanjutkan. "Kutemukan tempat ini di tahun tujuh puluhan. Well, tempat inilah yang menemukanku. Aku terjatuh menembus atap ruangan besar itu, dan mungkin seharusnya sudah mati karenanya, tapi aku terlalu tangguh demi kepentinganku sendiri. Perlu sejenak untuk menemukan jalan keluar. Aku sudah cukup lapar hingga bisa menyantap batu saat berhasil keluar. "Saat itu akulah satu-satunya orang yang tersisa di peternakan, jadi tidak ada yang bisa kuajak melihat tempat ini. Kujelajahi setiap sudut dan celahnya, dan aku bisa melihat adanya kemungkinan-kemungkinan. Kuputuskan bahwa ini bisa menjadi rencana rahasiaku, untuk berjaga-jaga. Begitulah kami, keluarga Stryder--kami suka menyiapkan diri." Kami melewati cahaya suram itu, yang muncul dari lubang seukuran kepalan tangan di langit-langit, dan menciptakan lingkaran kecil cahaya di lantai. Ketika cahaya itu sudah berada di belakang kami, aku bisa melihat bintik cahaya lain jauh di depan. "Kau mungkin penasaran bagaimana terjadinya semua ini." Hening lagi, lebih singkat daripada sebelumnya. "Aku tahu dulu aku merasa penasaran. Aku melakukan sedikit riset. Ini adalah saluran - saluran lava. Hebat, bukan? Ini dulunya gunung berapi. Well, kurasa masih gunung berapi. Belum mati sepenuhnya, seperti yang akan kaulihat sebentar lagi. Semua gua dan lubang ini adalah rongga udara yang terjebak di dalam lava yang mendingin. Selama beberapa dekade terakhir ini aku bekerja cukup keras menggarapnya. Beberapa di antaranya mudah--menghubungkan saluran-saluran itu hanyalah pekerjaan sepele. Bagian-bagian lainnya memerlukan lebih banyak imajinasi. Kau lihat langit-langit di ruang besar itu? Memakan waktu bertahun-tahun untuk membetulkannya." Aku ingin bertanya bagaimana caranya, tapi tidak sanggup bicara. Diam adalah tindakan teraman. Lantainya mulai menurun dengan sudut lebih tajam. Tanahnya terpecah-pecah menjadi undakan-undakan kasar, tapi tampaknya cukup aman. Jeb menuntunku menuruni undakan-undakan itu dengan penuh keyakinan. Ketika kami turun semakin rendah dan semakin rendah ke dalam tanah, panas dan kelembapannya meningkat. Aku mengejang ketika medengar suara-suara percakapan lagi, kali ini dari arah depan. Jeb menepuk-nepuk tanganku dengan ramah. "Kau akan menyukai bagian ini--selalu menjadi kesukaan semua orang," janjinya. Sebuah lengkungan lebar berkilau oleh cahaya yang bergerak-gerak. Warnanya sama dengan cahaya di ruang besar itu, putih dan murni, tapi berpendar-pendar dengan irama dansa aneh. Seperti segala hal lainnya yang tak bisa kupaham di dalam gua ini, cahaya itu membuatku takut.
"Nah, kita sudah sampai," ujar Jeb dengan antusias. Ia menarikku melewati ambang melengkung itu. "Bagaimana menurutmu?" --

0 comments on "The Host - Bab 16"

Post a Comment