Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta
Showing posts with label melanie. Show all posts
Showing posts with label melanie. Show all posts

The Host- Bab 36

0 comments

 




DIPERCAYA

Kelompok manusia itu berubah tenang, dan gumaman lebih antusias terdengar dari seluruh tempat mereka duduk membentuk setengah lingkaran.
Aku memandang Jamie, yang mengerutkan bibir dan mengangkat bahu. “Jeb hanya mencoba mengembalikan segala sesuatunya agar normal lagi. Beberapa hari ini keadaan sangat buruk. Pemakaman Walter…”
Aku meringis.
Kulihat Jeb nyengir pada Jared. Setelah sejenak menolak, Jared menghela napas dan memutar bola mata pada lelaki tua aneh itu. Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan gua.
“Jared punya bola baru?” tanya seseorang.
“Asyik,” ujar Wes di sampingku.
“Bermain,” gumam Trudy, seraya menggeleng.
“Jika itu bisa meredakan ketegangan,” jawab Lily pelan. Lalu mengangkat bahu.
Suara mereka pelan, di dekatku, tapi aku juga bisa mendengar suara-suara lain yang lebih keras.
“Kali ini berhati-hatilah dengan bolanya,” ujar Aaron kepada Kyle. Ia berdiri di samping Kyle, menawarkan tangannya.
Kyle meraih tangan yang ditawarkan dan perlahan-lahan bangkit berdiri. Setelah berdiri, kepalanya nyaris menyundul lentera-lentera yang bergantungan.
“Bola terakhir kurangg bagus,” ujar Kyle. Ia nyengir pada lelaki yang lebih tua itu. “Secara structural cacat.”
“Aku menominasikan Andy sebagai kapten,” teriak seseorang.
“Aku menominasikan Lily,” seru Wes. Ia berdiri, lalu meregangkan tubuh.
“Andy dan Lily.”
“Ya, Andy dan Lily.”
“Aku mau Kyle,” ujar Andy cepat.
“Kalau begitu aku mau Ian,” jawab Lily.
“Jared.”
“Brandt.”
Jamie bangkit, lalu berdiri berjingkat, berusaha tampak lebih tinggi.
“Paige.”
“Heidi.”
“Aaron.”
“Wes.”
Pemanggilan nama-nama berlanjut. Jamie berseri-seri ketika Lily memilihnya sebelum setengah jumlah orang dewasa terpilih.
Bahkan Maggie dan Jeb dipilih untuk memperkuat tim. Jumlahnya genap, sampai Lucina kembali bersama Jared, dengan kedua anak laki-lakinya melompat-lompat gembira. Jared memegang bola sepak baru yang mengilat di tangannya; ia mengulurkan bola itu, dan Isaiah, anak yang lebih tua, melompat-lompat mencoba menjatuhkan bola itu dari tangan Jared.
“Wanda?” tanya Lily.
Aku menggelengg dan menunjuk kakiku.
“Benar. Maaf.”
Aku jago main sepak bola, gerutu Mel. Well, dulu aku seperti itu.
Aku hampir tak sanggup berjalan, ujarku mengingatkan.
“Kurasa kali iini aku tidak ikut main,” kata Ian.
“Oh, tidak,” keluh Wes. “Mereka punya Kyle dan Jared. Kami mati tanpamu.”
“Mainlah,” ujarku kepada Ian. “Aku… aku akan menghitung angkanya.”
Ian memandangku, bibirnya terkatup membentuk garis tipis kaku. “Aku sedang tidak terlalu ingin bermain.”
“Mereka memerlukanmu.”
Ian mendengus.
“Ayolah, Ian,” desak Jamie.
“Aku ingin menonton,” kataku. “Tapi akan… membosankan jika timnya berat sebelah.”
“Wanda,” desah Ian. “Kau benar-benar pembohong paling payah yang pernah kujumpai.”
Tapi Ian berdiri dan mulai meregangkan tubuh bersama Wes.
Paige menyusun tiang gawang menggunakan empat lentera.
Aku mencoba bangkit berdiri—aku berada tepat di tengah lapangan. Tak seorang pun memperhatikanku dalam cahaya suram itu. Kini atmosfer di sekeliling ruangan berubah positif, penuh antisipasi. Jeb benar. Ini yang mereka perlukan, walaupun tampak ganjil bagiku.
Aku bisa merangkak, lalu kutarik kakiku yang tidak cedera ke muka, sehingga aku berlutut menggunakan kakiku yang  cedera. Rasanya menyakitkan. Lalu aku mencoba melompat dengan kakiku yang tidak cedera. Keseimbanganku sangat buruk, berkat bobot kakiku yang cedera.
Sepasang tangan kokoh menangkapku sebelum aku jatuh terjerembap. Aku mendongak, dengan sedikit perasaan malu, untuk berterima kasih kepada Ian.
Kata-kataku tersangkut di tenggorokan ketika melihat tangan Jared-lah yang menahanku.
“Kau seharusnya bisa minta tolong,” ujarnya ramah.                                                                                                                                                                                                                             
“AKu—“ aku berdehem. “Memang seharusnya aku minta tolong. Aku tak ingin…”
“Diperhatikan?” Jared mengucapkan kata-kata itu seakan benar-benar penasaran. Taka da nada menuduh di dalamnya. Ia membantuku yang terpincang-pincang menuju  lubang masuk gua.
Aku menggeleng. “Aku tak ingin… membuat seseorang melakukan sesuatu hanya demi kesopanan, padahal mereka tak ingin melakukannya.” Penjelasanku tidak terlalu tepat, tapi sepertinya Jared memahami maksudku.
“Kurasa Jamie atau Ian takkan keberatan membantumu.”
Jared meneliti wajahku. KUsadari aku sedang tersenyum penuh sayang.
“Kau sangat peduli terhadap anak itu,” katanya.
“Ya.”
Jared mengangguk. “Dan lelaki itu?”
“Ian… Ian memercayaiku. Dia menjagaku. Dia teramat sangat baik… untuk ukuran manusia.” Hampir seperti jiwa, itulah yang ingin kukatakan. Tapi perkataan itu tidak akan terdengar seperti pujian bagi pendengar yang satu ini.
Jared mendengus. “Untuk ukuran manusia. Pembedaan itu lebih penting daripada yang kusadari.”
Ia mendudukkanku di bibir lubang masuk. Tempat itu menyerupai bangku rendah, sehingga lebih nyaman daripada lantai datar.
“Terima kasih,” ujarku. “Kau tahu, Jeb melakukan hal yang benar.”
“Aku tidak setuju dengan perkataan itu.” Nada suara Jared lebih lunak daripada kata-katanya.
“Juga terima kasih—untuk yang tadi. Kau tidak perlu membelaku.”
“Setiap kata adalah kebenaran.”
AKu menunduk memandang lantai. “Memang benar, aku takkan pernah melakukan sesuatu untuk mencederai siapa pun di sini. Secara sengaja. Maaf karena aku melukaimu ketika dating kemari. Dan Jamie. Maaf sekali.”
Jared duduk di sampingku, wajahnya serius. “Sejujurnya…” Ia bimbang. “Anak itu jadi lebih baik sejak kedatanganmu. Aku sedikit lupa bagaimana suara tawanya.”
Kini kami mendengarkan tawa itu menggema di atas tawa orang dewasa yang bernada lebih rendah.
“Terima kasih telah memberitahuku. Itu adalah… kekhawatiran terbesarku. Kuharap taka da yang kurusak secara permanen.”
“Mengapa?”                                          
Aku mendongak memandang Jared, bingung.
“Mengapa kau mencintainya?” tanya Jared. Suaranya masih penasaran, tapi tidak mendesak.
Aku menggigit bibir.
“Kau bisa mengatakannya kepadaku. AKu… aku…” Jared tak bisa menemukan kata-kata untuk menjelaskan. “Kau bisa mengatakannya kepadaku,” ulangnya.
Kupandangi kakiku ketika menjawab. “Sebagian besar karena Melanie mencintainya.” Aku tidak melirik untuk melihat apakah nama itu tidak mengejutkan Jared. “Mengingat Jamie seperti yang diingat Melanie… itu sesuatu yang sangat berpengaruh. Lalu ketika kulihat sendiri anak laki-laki itu…” Aku mengangkat bahu. “Mustahil bagiku untuk tidak mencintainya. Mencintainya adalah bagian dari susunan sel-sel ini. Sebelumnya tak kusadari betapa banyak pengaruh seorang inang terhadapku. Mungkin itu hanya karena tubuh manusia. Mungkin itu hanya karena Melanie.”
“Melanie bicara padamu?” Jared tetap menjaga ketenangan suaranya, tapi kini aku bisa mendengar  ketegangan di dalamnya.
“Ya.”
“Seberapa sering?”
“Ketika dia menginginkannya. Ketika dia tertarik.”
“Bagaimana dengan hari ini?”
“Tak banyak. Dia… sedikit marah kepadaku.”
Jared mengeluarkan tawa terkejut. “Dia marah? Mengapa?”
“Karena…” Apakah aku kembali diadili di sini? “Tak apa-apa.”
Jared mendengar kebohongan itu lagi, dan ia menghubungkannya.
“Oh, Kyle. Mel ingin Kyle dibantai.” Jared kembali tertawa. “Memang.”
“Melani bisa jadi… kejam,” ujarku setuju. Aku tersenyum, untuk memperlunak penghinaan itu.
Tapi itu bukan penghinaan bagi Jared. “Benarkah? Kok bisa?”
“Dia ingin aku melawan. Tapi aku… aku tak bisa melakukannya.  Aku bukan petarung.”
“Itu bisa kupahami.” Jared menyentuh wajahku yang berantakan dengan ujung jari. “Maaf.”
“Tidak. Siapa pun akan melakukan hal yang sama. Aku tahu bagaimana perasaanmu.”
“Kau tidak akan—“
“Seandainya aku manusia, aku akan melakukannya. Lagi pula, bukan itu yang sedang kupikirkan… Aku teringat pada Pencari.”
Jared mengejang.
Aku tersenyum, dan ia sedikit lebih tenang. “Mel ingin aku mencekiknya. Dia benar-benar membenci Pencari itu. Dan aku tidak bisa… menyalahkan Mel.”
“Pencari itu masih mencarimu. Setidaknya dia tampak seakan hendak kembali menggunakan helicopter itu.”
Aku memejamkan mata, mengepalkan tangan, dan berkonsentrasi untuk bernapas selama beberapa detik.
“Dulu aku tidak takut kepadanya,” bisikku. “AKu tidak tahu mengapa dia kini begittu menakutkan bagiku. Di mana dia?”
“Jangan khawatir. Kemarin dia hanya mondar-mandir menyusuri jalan raya. Dia tidak akan menemukanmu.”
Aku mengangguk, memaksa diriku percaya.
“Bisakah kau… bisakah kau mendengar Mel sekarang?” gumam Jared.
Aku tetap memejamkan mata. “Aku… menyadari keberadaannya. Dia mendengarkan dengan saksama.”
“Apa yang dipikirkannya?” Suara Jared hanya berupa bisikan.
Ini peluangmu, kataku kepada Melanie. Apa yang ingin kaukatakan kepada Jared?
Sekali ini  Melanie berhati-hati. Undangan ini menggelisahkannya. Mengapa? Mengapa sekarang ia memercayaimu?
Aku membuka mata, dan mendapati Jared menatap wajahku seraya menahan napas.                                                      
“Dia ingin tahu apa yang terjadi sehingga kau… sekarang berbeda. Mengapa kau memercayai kami?”
Jared berpikir sejenak. “Akumulasi dari banyak hal. Kau begitu… baik terhadap Walter. Aku tak pernah melihat orang lain, kecuali Doc, yang berbuat sebaik itu. Dan kau menyelamatkan nyawa Kyle, padahal sebagian besar kami akan membiarkannya jatuh untuk melindungi diri kami sendiri, tanpa memedulikan pembunuhan terencana. Lalu kau pembohong yang payah.” Ia tertawa sejenak. “Aku terus mencoba memandang hal-hal ini sebagai bukti adanya rencana besar. MUngkin besok aku akan terbangun dan kembali berpikir seperti itu.”
Aku dan Mel sama-sama terkesiap.
“Tapi ketika mereka mulai menyerangmu hari ini… well, kesabaranku habis. Aku bisa melihat, pada diri mereka semua, segala hal yang seharusnya taka da pada diriku. Kusadari aku sudah percaya, aku hanya bersikap keras kepala. Kejam. Kurasa aku sudah percaya sejak… well, sedikit percaya sejak malam pertama, ketika kau mengempaskan dirimu di depanku untuk menyelamatkanku dari Kyle.” Ia  tertawa, seakan tidak menganggap Kyle berbahaya. “Tapi aku lebih pintar berbohong daripada kau. Aku bahkan bisa membohongi diriku sendiri.”
“Melanie berharap kau takkan berubah pikiran. Dia khawatir kau akan melakukannya.”
Jared memejamkan mata. “Mel.”
Jantungku berdetak lebih cepat. Kegembiraan Melanie-lah yang memicunya, bukan kegembiraanku. Agaknya Jared sudah menebak betapa aku mencintainya. Setelah pertanyaan-pertanyaannya mengenai Jamie, mestinya ia mengerti.
“Katakan kepadanya… itu tidak akan terjadi.”
“Dia mendengarmu.”
“Seberapa… langsungnyakah hubungan itu?”
“Dia mendengar apa yang kudengar, melihat apa yang kulihat.”
“Merasakan apa yang kau rasakan?”
“Ya.”
Hidung Jared mengerut. Kembali ia menyentuh wajahku dengan lembut, membelainya. “Kau tidak tahu betapa menyesalnya diriku.”
Kulitku lebih panas di tempat ia menyentuhnya; panas yang bagus. Tapi kata-kata Jared membakar lebih panas daripada sentuhannya. Tentu saja penyesalannya bertambah karena ia telah melukai Melanie. Tentu saja. Itu seharusnya tidak menggangguku.
“Ayo, Jared! Ayo, main!”
Kami mendongak. Kyle memanggil Jared. Tampaknya ia benar-benar santai, seakan hidupnya tak pernah dipertaruhkan dalam pengadilan hari ini. Mungkin ia sudah tahu hasilnya akan seperti ini. Mungkin ia cepat melupakan apa saja. Tampaknya ia tidak memperhatikanku di sana, di samping Jared.   
Kusadari, untuk pertama kali, bahwa yang lain memperhatikan.
Jamie mengamati kami dengan senyum puas. Ini mungkin tampak baik baginya. Benarkah?
Apa maksudmu?
Apa yang dilihat Jamie ketika memandang kita? Keluarganya bersatu kembali?
Benarkah? Semacam itukah?
Dengan satu tambahan yang tidak dikehendaki.
Tapi ini lebih baik daripada kemarin.
Kurasa begitu…
Aku tahu, Melanie mengakui. Aku gembira Jared tahu aku ada di sini… tapi aku masih tidak suka jika ia menyentuhmu.
Dan aku sangat suka. Wajahku bergelenyar di tempat jemari Jared mengusapnya tadi. Maaf soal itu.
Aku tidak menyalahkanmu. Atau, setidaknya, aku tahu aku tidak boleh menyalahkanmu.
Terima kasih.
Jamie bukanlah satu-satunya yang mengamati.
Jeb penasaran. Senyum kecil itu berkumpul di sudut janggutnya.
Sharon dan Maggie mengamati dengan api di mata mereka. Ekspresi mereka begitu mirip, sehingga kulit muda dan rambut warna mencolok sama sekali tidak membuat Sharon tampak lebih muda dibandingkan ibunya yang beruban.
Ian waswas. Matanya tegang, dan sepertinya ia nyaris menghampiriku untuk kembali melindungiku. Untuk memastikan Jared tidak menggangguku. Aku tersenyum meyakinkannya. Ian tidak membalas senyumku, tapi menghela napas panjang.
Kurasa bukan itu penyebab kekhawatiran Ian, ujar Melanie.
“Apakah kau sedang mendengarkan, Mel?” Jared bangkit berdiri, masih mengamati wajahku.
Pertanyaannya mengalihkan perhatianku, sebelum aku bisa bertanya kepada Mel apa maksud perkataannya. “Ya.”
“Dia bilang apa?”
“Kami sedang mengamati bagaimana pendapat yang lain mengenai… perubahan pikiranmu.” Aku mengangguk kea rah bibi dan sepupu Melanie. Mereka serentak memunggungiku.
“Keras kepala,” Jared mengakui.
“Baiklah, kalau begitu,” teriak Kyle, seraya berbalik kea rah bola yang tergeletak di bawah tempat yang paling diterangi cahaya. “Kami akan memenangkan pertandingan ini tanpamu.”
“Tunggu!” Sekali lagi Jared melirik sedih kepadaku—kepada kami—lalu lari untuk mengikuti permainan.
Aku bukan pencatat angka terbaik. Terlalu gelap untuk melihat bolanya dari tempat dudukku. Bahkan terlalu gelap untuk melihat para pemain dengan baik saat mereka tidak berada di bawah cahaya. Aku mulai menghitung berdasarkan reaksi Jamie. Teriakan kemenangannya ketika timnya mencetak angka, erangannya ketika tim lawan mencetak angka. Jumlah erangannya lebih banyak daripada teriakan kemenangannya.
Semua ikut bermain. Maggie menjadi penjaga gawang untuk tim Andy, dan Jeb jadi penjaga gawang untuk tim Lily. Mereka sama-sama hebat. Aku bisa melihat siluet mereka dalam cahaya lampu-lampu tiang gawang, bergerak lincah seakan usia mereka puluhan tahun lebih muda. Jeb tidak takut menjatuhkan diri ke lantai untuk menggagalkan gol, tapi Maggie lebih efektif tanpa harus melakukan tindakan-tindakan ekstrem semacam itu. Perempuan tua itu seperti magnet bagi bola yang tak terlihat. Setiap kali Ian atau Wes melayangkan tendangan… duk! Bola mendarat di tangan Maggie.
Trudy dan Paige berhenti bermain setelah sekitar setengah jam. Mereka melewatiku waktu berjalan keluar, seraya mengobrol gembira. Tampaknya mustahil kami memulai pagi ini dengan pengadilan, tapi aku lega karena semua tidak berubah drastis.
Kedua perempuan itu tidak pergi lama. Mereka kembali dengan tangan penuh kotak. Granola-granola batangan—yang berisi buah. Permainan berhenti. Jeb meneriakkan istirahat setengah permainan, dan semua bergegas menyantap sarapan.
Makanan itu dibagikan di garis tengah. Mulanya semua berkerumun dan saling berebut.
“Ini, Wanda,” ujar Jamie, seraya merunduk keluar dari kerumunan. Tangannya penuh granola batangan, dan botol-botol air minum terseip di bawah kedua lengannya.
“Terima kasih. Kau bersenang-senang?”
“Ya! Kalau saja kau bisa ikut bermain.”
“Lain kali,” ujarku.
“Ini…” Ian berada di sana, kedua tangannya penuh granola batangan.
“Aku duluan,” kata Jamie kepadanya.
“Oh,” ujar Jared, yang muncul di sisi lain Jamie. Ia juga membawa terlalu banyak granola batangan untuk satu orang.
Ian dan Jared berpandangan untuk waktu lama.
“Mana makanannya?” desak Kyle. Ia berdiri di samping kotak kosong, kepalanya berputar berkeliling, mencari tersangka pencurinya.
“Tangkap,” ujar Jared. Ia melemparkan granola-granola batangan itu satu per satu, kuat-kuat, seakan melempar pisau.
Kyle menangkap semuanya dengan mudah, lalu lari mendekat untuk melihat apakah Jared masih menyembunyikan beberapa.
“Ini,” ujar Ian. Ia menyorongkan setengah bawaannya kepada kakaknya tanpa memandang Kyle. “Sekarang pergilah.”
Kyle mengabaikannya. Untuk pertama kali hari ini ia memandangku, menunduk menatapku di tempat dudukku. Selaput pelangi matanya berwarna hitam diterangi cahaya di belakangnya. Aku tak bisa membaca ekspresi wajahnya.
Aku menciut, dan menahan napas ketika tulang-tulang rusukku memprotes.
Jared dan Ian berdiri berdampingan di hadapanku seperti tirai panggung pertunjukan.
“Dengarkan kata-kata Ian,” ujar Jared.
“Bisakah aku mengucapkan sesuatu lebih dulu?” tanya Kyle. Ia mengintip lewat celah di antara Jared dan Ian.
Keduanya tidak menjawab.
“Aku tidak menyesal,” ujar Kyle kepadaku. “Aku masih merasa perbuatanku benar.”
Ian mendorong kakaknya. Kyle sempoyongan mundur, tapi kembali melangkah maju.
“Tunggu, aku belum selesai.”
“Ya, kau sudah selesai,” ujar Jared. Tangannya terkepal, kulit di buku-buku jarinya memutih.
Kini semua orang memperhatikan. RUangan hening, semua kegembiraan bermain lenyap.
“Tidak, belum selesai.” Kyle mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat menyerah, lalu kembali bicara kepadaku. “Menurutku aku tidak bersalah, tapi kau memang menyelamatkan nyawaku. Aku tidak tahu mengapa, tapi kau melakukannya. Jadi, kupikir, nyawa dibalas dengan nyawa. Aku tidak akan membunuhmu. Kubayar utangku dengan cara itu.”
“Kau bajingan tolol,” ujar Ian.
“Siapa  yang naksir cacing, DIk?” Kau hendak menyebutku tolol?”
Ian mengangkat tinjunya, lalu mencondongkan tubuh ke depan.
“Akan kukatakan mengapa,” kataku. Kubuat suaraku lebih keras daripada yang kuinginkan. Itu menghasilkan dampak yang kuinginkan. Ian, Jared, dan Kyle berbalik menatapku. Sejenak mereka melupakan perkelahian.
Aku jadi gugup. Aku berdehem. “Aku tidak membiarkanmu jatuh karena… karena aku tidak sepertimu. Aku tidak mengatakan aku tidak… seperti manusia. Karena ada orang-orang lain di sini yang akan melakukan hal yang sama. Ada orang-orang baik dan bijak di sini. Orang-orang seperti adikmu, dan Jeb, dan Doc… aku mengatakan bahwa aku tidak seperti dirimu secara pribadi.”
Kyle menatapku sejenak, lalu tergelak. “Aduh,” katanya, masih tertawa. Lalu ia berbalik pergi. Pesannya sudah tersampaikan, dan ia pergi untuk mengambil air minum. “Nyawa dibalas dengan nyawa,” teriaknya, seraya menoleh ke belakang.
Aku tak yakin apakah aku mempercayainya. Sama sekali tak yakin. Manusia adalah pembohong yang baik.










The Host- Bab 34

0 comments
DIMAKAMKAN



Jared menerjang maju, menjauhiku. Dengan suara gedebuk keras, tinjunya menghantam wajah Kyle.
Mata Kyle berputar ke belakang, mulutnya terbuka.
Selama beberapa detik ruangan sangat hening.
“Um,” ujar Doc pelan, “secara medis, aku tak yakin apakah itu tindakan yang paling membantu untuk kondisinya.”
“Tapi aku merasa lebih baik,” jawab Jared muram.
Doc tersenyum kecil. “Well, beberapa menit ketidaksadaran mungkin takkan membunuhnya.”
Doc mulai memeriksa bagian bawah kelopak mata Kyle lagi, mengukur denyut nadinya…
“Apa yang terjadi?” Wes berada di dekat kepalaku, berbisik.
“Kyle mencoba membunuh makhluk itu,” jawab Jared, sebelum aku bisa menjawab. “Tidak mengejutkan, bukan?”
“Memang,” gumamku.
Wes memandang Jared.
“Tampaknya altruisme muncul lebih alami pada mahluk itu dibandingkan kebohongan,” ujar Jared.
“Apakah kau sedang mencoba bersikap menjengkelkan?” desakku.
Kesabaranku bukannya berkurang, melainkan lenyap seluruhnya. Sudah berapa lama aku tidak tidur? Satu-satunya yang lebih menyakitkan daripada kakiku adalah kepalaku. Setiap tarikan napas membuat sisi tubuhku sakit. Kusadari, dengan agak terkejut, bahwa suasana hatiku benar-benar buruk. “Karena seandainya demikian, maka yakinlah, kau berhasil.”
Jared dan Wes memandangku dengan mata terkejut. Aku yakin, seandainya bisa melihat yang lain, ekspresi mereka juga bakal serupa. Mungkin Jeb tidak. Ia ahli dalam memperlihatkan wajah tanpa ekspresi.
“Aku perempuan,” keluhku. “Istilah ‘mahluk itu’ benar-benar membuatku jengkel.”
Jared mengerjap terkejut. Lalu wajahnya kembali membentuk garis-garis keras. “Karena tubuh yang kau kenakan?”
Wes memelototinya.
“Karena aku perempuan,” desisku.
“Berdasarkan definisi siapa?”
“Bagaimana kalau definisimu? Pada spesiesku, akulah yang melahirkan. Bukankah itu cukup perempuan bagimu?”
Perkataanku langsung membungkam Jared. Aku nyaris merasa bangga terhadap diriku sendiri.
Memang sudah seharusnya, ujar Melanie setuju. Ia keliru, dan bersikap menjengkelkan soal itu.
Terima kasih.
Sebagai sesame perempuan, kita harus bersatu.
“Itu kisah yang belum pernah kauceritakan kepada kami,” gumam Wes, sementara Jared berjuang mencari bantahan. “Bagaimana cara kerjanya?”
Wajah zaitun Wes semakin gelap, seakan ia baru saja menyadari kata-kata itu telah diucapkan keras-keras. “Maksudku, kurasa kau tidak perlu menjawab jika pertanyaanku tidak sopan.”
Aku tertawa. Suasana hatiku berganti-ganti dengan liar, tak terkendali. Mabuk karena kurang tidur, seperti kata Melanie. “Tidak, kau  menanyakan sesuatu… yang tidak pantas. Kami tidak punya pengaturan terperinci… dan rumit… seperti spesies kalian.” Aku kembali tertawa, lalu merasakan wajahku menghangat. Kuingat dengan sangat jelas betapa rumitnya pengaturan itu.
Jangan berpikir kotor.
Itu pikiranmu, ujarku mengingatkan Melanie.
Aku mendesah. “Hanya ada beberapa dari kami yang menjadi… Ibu. Itu sebutan mereka untuk kami. Bukan ibu yang sesungguhnya, tapi kami berpotensi menjadi Ibu…” Aku kembali serius, merenungkannya. Tak ada ibu, tak ada ibu yang bertahan hidup, yang ada hanyalah ingatan-ingatan tentang mereka.
“Kau punya potensi itu?” tanya Jared kaku.
Aku tahu yang lain mendengarkan. Bahkan Doc menghentikan tindakannya meletakkan telinga di dada Kyle.
Aku tidak menjawab pertanyaan Jared. “Kami… agak menyerupai kawanan lebah, atau semut. Banyak sekali anggota keluarga yang tidak memiliki jenis kelamin, lalu ada ratu…”
“Ratu?” ulang Wes, memandangku dengan ekspresi aneh.
“Bukan seperti itu. Tapi hanya ada satu ibu untuk setiap lima sampai sepuluh ribu bangsaku. Terkadang kurang dari itu. Tak ada peraturan yang ketat.”
“Ada berapa banyak pejantan?” tanya Wes.
“Oh, tidak—tidak ada pejantan. Tidak. Sudah kubilang, prosesnya lebih sederhana.”
Mereka menungguku menjelaskan. Aku menelan ludah. Seharusnya aku tidak mengangkat topic ini. Aku tak ingin membicarakannya lagi. Apakah benar-benar menjadi masalah jika Jared memanggilku “mahluk itu”?
Mereka masih menunggu. Aku memberengut, tapi lalu bicara. Akulah yang memulai topic ini. “Ibu… membelah diri. Setiap… selnya—kurasa bisa kaubilang begitu, walaupun struktur kami tidak sama seperti struktur kalian—menjadi jiwa yang baru. Setiap jiwa yang baru membawa sedikit ingatan ibunya—sebagian dari ibunya yang tertinggal.”
“Berapa banyak sel?” tanya Doc penasaran. “Berapa banyak anak?”
Aku mengangkat bahu. “Sekitar satu juta.”
Sejauh pandanganku, semua mata membelalak dan tampak sedikit lebih liar. Aku mencoba untuk tidak merasa terlukka ketika Wes menjauh dariku.
Doc bersiul pelan. Ia satu-satunya yang masih tertarik untuk melanjutkan. Aaron dan Andy menunjukkan ekspresi cemas, bingung. Mereka belum pernah mendengarku mengajar. Belum pernah mendengarku bicara begitu banyak.
“Kapan itu terjadi? Adakah semacam katalisator?” tanya Doc.
“Itu pilihan. Pilihan sukarela,” jawabku. “Satu-satunya cara kami untuk memilih kematian dengan sukarela. Semacam pertukaran, demi generasi baru.”
“Kau bisa memilihnya sekarang? Membelah semua selmu, begitu saja?”
“Tidak persis seperti itu, tapi ya.”
“Rumitkah?”
“Yang rumit adalah keputusannya. Prosesnya… menyakitkan.”
“Menyakitkan?”
Mengapa Doc harus seterkejut itu? Bukankah hal yang sama terjadi pada bangsanya?
Dasar laki-laki, dengus Melanie.
“Menyiksa,” jawabku. “Kami semua ingat apa yang dialami ibu kami.”
Doc mengusap-usap dagu, terpukau. “Aku ingin tahu, itu jalur evolusi macam apa… menghasilkan masyarakat lebah dengan ratu yang bunuh diri…” Ia terhanyut dalam rangkaian pikiran yang lain.
“Altruisme,” gumam Wes.
“Hmm,” ujar Doc. “Ya, tepat.”
Kupejamkan mata, berharap mulutku tetap mengatup. Kepalaku pening. Apakah aku hanya lelah atau apakah itu karena luka di kepalaku?
“Oh,” gumam Doc. “Tidurmu bahkan lebih sedikit daripada tidurku, bukan, Wanda? Kami harus membiarkanmu istirahat.”
“Aku baik-baik saja,” gumamku, tanpa membuka mata.
“Hebat sekali,” bisik seseorang. “Kita punya mahluk luar angkasa, ibu ratu terkutuk, yang tinggal bersama kita. Dia bisa meledak menjadi sejuta serangga baru setiap saat.”
“Sst.”
“Mereka takkan bisa melukai kalian,” ujarku, kepada siapa pun yang baru saja bicara, tanpa membuka mata. “Tanpa tubuh inang, mereka mati dengan cepat.” Aku mengernyit, membayangkan kedukaan yang tak terbayangkan. Sejuta jiwa mungil tak berdaya, bayi perak mungil, layu…
Tak seorang pun berkomentar, tapi bisa kurasakan kelegaan mereka.
Aku lelah sekali. Aku tak peduli Kyle berada satu meter dariku. Aku tak eduli dua di antara para lelaki di ruangan ini akan membela Kyle jika ia sudah tersadar. Aku tidak memedulikan apa pun, kecuali tidur.
Tentu saja Walter terbangun tepat pada saat itu.
“Uuuh,” erangnya, hanya berupa bisikan. “Gladdie?”
Sambil mengerang aku berguling ke arahnya. Rasa sakit di kakiku membuatku mengernyit, tapi aku tak mampu memutar tubuh. Kuulurkan tangan, dan kutemukan tangannya.
“Di sini,” bisikku.
“Ahhh.” Walter mendesah penuh kelegaan.
Doc menyuruh para lelaki yang mulai memprotes untuk diam.
“Wanda telah mengorbankan tidur dan kedamaiannya untuk membantu mengurangi Walter mengurangi rasa sakit. Kedua tangannya memar-memar akibat memegangi tangan Walter. Apa yang sudah kalian perbuat untuk Walter?”
Walter kembali mengerang. Suaranya mula-mula rendah dan parau, tapi dengan cepat berubah jadi erangan bernada tinggi.
Doc mengernyit. “Aaron, Andy, Wes… maukah kaliah, ah, memanggilkan Sharon untukku?”
“Kami semua?”
“Minggat sana,” Jeb menerjemahkan.
(catatanku: “I really love uncle Jeb… hehehe”)
Satu-satunya jawaban yang terdengar hanyalah suara kaki terseret ketika mereka pergi.
“Wanda,” bisik Doc di dekat telingaku. “Walter kesakitan. Aku tak bisa membiarkannya sadar sepenuhnya.”
Kucoba untuk bernapas teratur. “Lebih baik baginya jika dia tidak mengenaliku. Lebih baik baginya jika dia mengira Gladdie berada di sini.”
Kubuka mataku. Jeb berada di samping Walter—wajah Walter masih tampak seakan sedang tidur.
“Selamat tinggal, Walt,” ujar Jeb. “Sampai bertemu di dunia lain.”
Ia melangkah mundur.
“Kau lelaki baik. Semua orang akan merasa kehilangan,” gumam Jared.
Doc membuka bungkusan morfin lagi. Kertasnya bergemersik.
“Gladdie?” isak Walter. “Sakit sekali.”
“Ssst. Tak lama lagi sakitnya akan hilang. Doc akan menghentikannya.”
“Gladdie?”
“Ya?”
“Aku mencintaimu, Gladdie. Aku mencintaimu sepanjang hidupku.”
“Aku tahu, Walter. Aku—aku juga mencintaimu. Kau tahu betapa aku mencintaimu.”
Walter mendesah.
Kupejamkan mata ketika Doc membungkuk di atas tubuh Walter dengan membawa jarum suntik.
“Selamat tidur, Sobat,” gumam Doc.
Jemari Walter berubah santai, lemas. Kugenggam kedua tangannya—kini akulah yang menggayuti Walter.
Menit demi menit berlalu dan semuanya hening, kecuali suara napasku ang tersendat, cenderung terisak pelan.
Seseorang menepuk bahuku. “Dia sudah pergi, Wanda,” ujar Doc. Suaranya parau. “Dia sudah tidak kesakitan.”
Doc melepaskan tanganku dari tangan Walter, dan perlahan-lahan menggulingkan tubuhku dari posisi ganjil menjadi posisi yang lebih tidak menyiksa. Tapi hanya sedikit bedanya. Setelah aku tahu Walter takkan terganggu, tangisku tak lagi pelan. Kupegangi pinggangku yang berdenyut-denyut.
“Oh, silahkan. Kalau itu membuatmu senang,” gumam Jared dengan nada menggerutu. Aku mencoba membuka mata, tapi tak bisa melakukannya.
Sesuatu menusuk lenganku. Aku tak ingat lenganku terluka. Dan di tempat aneh, hanya di siku bagian dalam…
Morfin, bisik Melanie.
Kami sudah mulai tak sadarkan diri. Aku mencoba untuk merasa takut, tapi tak bisa. Aku sudah pergi terlalu jauh.
Tak seorang pun mengucapkan selamat tinggal, pikirku. Aku tak bisa mengharapkan Jared… Tapi Jeb… Doc… Ian taka da di sini…
Tak seorang pun mati, janji Melanie kepadaku. Kali ini kau hanya tidur…
#
Ketika aku terbangun, langit-langit di atasku suram diterangi cahaya bintang. Malam hari. Ada banyak bintang. Aku bertanya-tanya di mana aku berada. Tak ada penghalang-penghalang hitam, taka da potongan langit-langit di dalam pandanganku. Hanya bintang dan bintang dan bintang…
Angin mengipasi wajahku. Baunya seperti… debu dan… sesuatu yang tak bisa kupahami. Ketidakhadiran. Bau apak itu tak ada. Tak ada Sulfur, dan udara sangat kering.
“Wanda?” bisik seseorang, seraya menyentuh pipiku yang tidak cedera.
Mataku menemukan wajah Ian, pucat dalam cahaya bintang, membungkuk di atas tubuhku. Tangan Ian yang menyentuh kulitku lebih sejuk daripada angina sepoi-sepoi. Tapi udara sangat kering, sampai terasa tidak nyaman. Di mana aku?
“Wanda? Kau sudah bangun? Mereka tidak mau menungu lebih lama.”
Aku berbisik, karena Ian juga berbisik. “Apa?”
“Mereka sudah mulai. Aku tahu, kau pasti ingin berada di sini.”
“Dia sudah sadar?” tanya Jeb.
“Apa yang sudah dimulai?” tanyaku.
“Pemakaman Walter.”
Aku mencoba duduk, tapi tubuhku lemah. Tangan Ian berpindah ke keningku, membaringkanku.
Kugerakkan kepalaku di bawah telapak tangannya, mencoba melihat…
Aku berada di luar.
Di luar.
Di kiriku tumpukan batu kasar tak beraturan membentuk gunung kecil, lengkap dengan semak-semak pendeknya. Di kananku dataran padang gurun membentang sampai lenyap dalam kegelapan. Aku menunduk, memandang melewati kakiku, dan melihat kerumunan manusia yang merasa tidak nyaman di udara terbuka. Aku tahu persis apa yang mereka rasakan. Terekspos.
Aku mencoba bangkit. Aku ingin berada lebih dekat, untuk menyaksikan. Tangan Ian menahanku.
“Tenanglah,” katanya. “Jangan mencoba berdiri.”
“Bantu aku,” ujarku memohon.
“Wanda?”
Aku mendengar suara Jamie, lalu melihatnya, rambutnya memantul-mantul ketika ia berlari ke tempatku terbaring.
“Mereka tidak menunggu,” ujar Jamie kepada Ian. “Sebentar lagi selesai.”
“Bantu aku berdiri,” kataku.
Jamie meraih tanganku, tapi Ian menggeleng. “Aku bisa.”
Ian menyelipkan kedua lengannya ke bawah tubuhku, dengan sangat berhati-hati, untuk menghindari tempat-tempat yang paling sakit. Ia mengangkatku dari tanah, kepalaku berputar-putar seperti kapal nyaris karam. Aku mengerang.
“Apa yang dilakukan Doc kepadaku?”
“Dia memberimu sedikit morfin yang tersisa, sehingga bisa memeriksa tanpa menyakitimu. Lagi pula kau perlu tidur.”
Aku memberengut, tidak setuju. “Bukankah orang lain akan lebih memerlukan morfin itu?”
“Sst,” ujar Ian, dan aku bisa mendengar suara rendah di kejauhan. Kutolehkan kepalaku.
Aku bisa melihat kumpulan manusia itu lagi. Mereka berdiri di mulut lubang terbuka, rendah, dan gelap, yang dibentuk angina di bawah tumpukan batu yang tampak tidak stabil. Mereka berdiri dalam barisan tak teratur, menghadap gua teduh itu.
Aku mengenali suara Trudy.
“Walter selalu melihat sisi cerah segala sesuatu. Ia bisa melihat sisi cerah lubang hitam. Itu akan kurindukan.”
Kulihat sesosok tubuh melangkah maju, kulihat ayunan kepang rambut hitam keabu-auan ketika sosok itu bergerak, dan aku menyaksikan Trudy melempar segenggam sesuatu ke dalam gelap. Pasir menyebar dari jemarinya, jatuh ke tanah dengan bunyi berdesis perlahan.
Trudy kembali dan berdiri di samping suaminya. Geoffrey bergerak menjauhinya, melangkah maju ke lubang hitam.
“Kini dia akan bertemu Gladys-nya. Dia lebih berbahagia di tempatnya sekarang.” Geoffrey melempar segenggam pasir.
Ian membopongku ke kanan barisan, cukup dekat untuk melihat ke dalam gua suram itu. Ada lubang yang lebih gelap di hadapan kami, bentuknya persegi panjang besar, dan seluruh populasi manusia itu berdiri mengelilinginya, membentuk setengah lingkaran tak beraturan.
Semua ada di sana—semua orang.
Kyle melangkah maju.
Aku gemetar, dan Ian meremas pelan tanganku.
Kyle tidak memandang kea rah kami. Kulihat wajahnya dari samping; mata kanannya bengkak sampai nyaris menutup.
“Walter mati sebagai manusia,” ujar Kyle. “Tak seorang pun dari kami bisa meminta lebih dari itu.” Ia melempar segenggam pasir ke lubang gelap itu.
Lalu Kyle kembali bergabung dengan kelompok itu.
Jared berdiri di sampingnya. Ia melangkah sebentar, berhenti di bibir makam Walter.
“Walter sangat baik hati. Tak seorang pun dari kami bisa menandinginya.” Ia melemparkan pasirnya.
Jamie melangkah maju, Jared menepuk bahunya saat mereka berpapasan.
“Walter pemberani,” ujar Jamie. “Dia tidak takut mati, dia tidak takut hidup, dan… dia tidak takut untuk percaya. Dia membuat keputusan-keputusannya sendiri, dan dia membuat keputusan-keputusan yang baik.” Jamie melemparkan pasirnya. Ia berbalik, berjalan kembali, sepanjang itu matanya terpaku padaku.
“Giliranmtimuu,” bisik Jamie, ketika sudah ada di sampingku.
Andy sudah bergerak maju, dengan sekop di tangan.
“Tunggu,” ujar Jamie, dengan suara rendah yang terdengar di dalam keheningan. “Wanda dan Ian belum mengucapkan apa-apa.”
“Kita harus saling menghormati,” ujar Jeb, suaranya lebih keras daripada suara Jamie. Rasanya terlalu keras buatku.
Insting pertamaku adalah memberi isyarat pada Andy untuk melanjutkan, dan meminta Ian membawaku pergi. Ini duka manusia, bukan dukaku.
Tapi aku memang berduka. Dan aku memang ingin mengatakan sesuatu.
“Ian, bantu aku mengambil pasir.”
Ian berjongkok sehingga aku bisa mengambil segenggam kerikil di kaki kami. Ia memindahkan bobot tubuhku ke lututnya, sehingga ia bisa mengambil pasir juga. Lalu ia menegakkan tubuh dan membopongku ke tepi makam.
Aku tidak bisa melihat ke dalam lubang. Tampak gelap di bawah naungan batu, dan sepertinya makam itu sangat dalam. Ian mulai bicara sebelum aku bisa melakukannya.
“Walter manusia terbaik dan paling bijak,” ujarnya, lalu ia menyebarkan pasirnya ke lubang. Rasanya lama sekali sebelum aku mendengar pasir itu berdesis menimpa dasar lubang.
Ian menunduk memandangku.                  
Suasana benar-benar hening di malam berpenerangan cahaya bintang itu. Bahkan angin pun tenang. Aku berbisik, tapi aku tahu suaraku terdengar semua orang.
“Tak ada kebencian di dalam hatimu,” bisikku. “Keberadaanmu membuktikan kami keliru. Kami tak punya hak untuk mengambil duniamu darimu, Walter. Kuharap dongeng-dongengmu benar. Kuharap kau menemukan Gladdie-mu.”
Kubiarkan batu-batu itu bergulir dari jemariku, dan kutunggu sampai aku mendengar batu-batu itu jatuh dengan bunyi pelan di atas tubuh Walter yang tampak samar-samar dalam kuburan gelap dan dalam itu.
Begitu Ian melangkah mundur, Andy langsung bekerja. Ia menyekop gundukan tanah pucat berdebu yang menumpuk beberapa puluh sentimeter jauhnya, lalu memasukkannya ke lubang. Muatan sekop itu jatuh dengan bunyi berdebum, bukan berdesis. Suaranya membuatku kecut.
Aaron melangkah melewati kami dengan sekop lain. Ian berbalik perlahan-lahan dan membopongku pergi untuk memberi mereka tempat. Bunyi berdebum keras tanah yang jatuh menggema di belakang kami. Suara-suara  rendah mulai terdengar. Aku mendengar suara langkah ketika orang-orang berkumpul, berdesak-desakan untuk membahas pemakaman itu.
Aku benar-benar memandang Ian untuk pertama kali ketika ia berjalan kembali ke Kasur gelap di tanah terbuka itu. Ekspresinya seakan salah tempat, dan bukan miliknya. Wajah Ian dikotori debu pucat, ekspresinya lelah, dan aku pernah melihat wajahnya seperti itu sebelumnya. Aku tak bisa ingat kapan, ketika Ian meletakkanku kembali ke atas Kasur dan perhatianku teralihkan. Apa yang seharusnya kulakukan di luar sini, di tempat terbuka? Tidur? Doc berada persis di belakang kami; Doc dan Ian sama-sama berlutut di pasir di sebelahku.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Doc, meraba bagian samping tubuhku.
Aku ingin duduk, tapi Ian menekan bahuku ketika aku mencoba.
“Aku baik-baik saja. Kurasa aku bisa berjalan…”
“Tak perlu memaksakan diri. Istirahatkan kaki itu selama beberapa hari, oke?” Doc menarik kelopak mataku ke atas, dan menyorotkan senter mungilnya ke sana. Mata kananku melihat refleksi cemerlang yang menari-nari di wajah Doc. Doc mengalihkan pandangan dari cahaya itu, menjauh beberapa senti. Tangan Ian di bahuku tetap tidak bergerak. Itu mengejutkanku.
“Hmm. Itu tidak membantu diagnosis, bukan? Bagaimana kepalamu?” tanya Doc.
“Sedikit pening. Tapi kurasa karena obat-obatan yang kau berikan kepadaku, bukan karena lukanya. Aku tidak suka obat-obatan itu—kurasa aku lebih suka merasakan sakit.”
Doc meringis. Begitu juga Ian.
“Apa?” desakku.
“Aku hendak membuatmu tak sadarkan diri lagi, Wanda. Maaf.”
“Tapi… mengapa?” bisikku. “Aku tidak sesakit itu. Aku tidak ingin—“
“Kami harus membawamu kembali ke dalam,” ujar Ian, menyelaku. Suaranya rendah, seakan tak ingin yang lain mendengar. Aku bisa mendengar suara-suara di belakang kami, menggema pelan dari batu-batu. “Kami berjanji… kau akan tidak sadarkan diri.”
“Tutup saja mataku lagi.”
Doc mengeluarkan jarum suntik mungil dari saku. Isinya tinggal seperempat. Aku menjauh, mendekatkan diri pada Ian. Tangannya di bahuku menahanku.
“Kau mengenal gua itu dengan sangat baik,” gumam Doc. “Mereka tak ingin kau punya peluang untuk menebak…”
“Tapi ke mana aku akan pergi?” bisikku. Suaraku panic. “Kalaupun aku tahu jalan keluar? Mengapa aku ingin pergi sekarang?”
“Kalau itu menenangkan pikiran mereka…,” ujar Ian.
Doc meraih pergelangan tanganku, dan aku tidak melawan. Aku berpaling ketika jarum menusuk kulitku. Kupandang Ian. Matanya kelam dalam gelap, dan menegang ketika aku menuduhnya sebagai pengkhianat dengan tatapanku.
“Maaf,” gumam Ian. Itu hal terakhir yang kudengar.







The Host - Bab 30

0 comments


Salah Sangka

“Mel?” Tanya Jared lagi. Harapan yang tak ingin dirasakannya mewarnai nada suaranya.
Napasku kembali tersangkut dalam isak tangis; kejutan susulan.
“Kau tahu itu untukmu, Mel. Kau tahu itu bukan untuk—nya. Kau tahu aku tidak menciumnya.”
Isak tangisku semakin keras. Aku mengerang. Mengapa aku tak bisa menutup mulut? Aku mencoba menahan napas.
“Seandainya kau ada di dalam sana, Mel…” Jared berhenti.
Melanie membenci  kata “seandainya”. Tangis meledak lewat paru-paruku, dan aku terengah-engah.
“Aku mencintaimu,” ujar Jared. “Bahkan seandainya kau tak ada di sana, seandainya kau tak bisa mendengarku. Aku mencintaimu.”
Aku kembali menahan napas, menggigit bibir sampai berdarah. Rasa sakit fisik itu tidak mengalihkan perhatianku, seberapa besar pun harapanku.
Di luar lubang hening, lalu di dalam gua juga, ketika aku berubah murung. Aku mendengarkan dengan seksama, hanya berkonsentrasi pada apa yang bisa kudengar. Aku tak mau berpikir. Tidak terdengar suara.
Aku menekuk dalam posisi paling mustahil. Kepalaku berada di titik terendah, sisi kanan wajahku menekan lantai batu yang kasar. Kedua bahuku miring di sekitar pinggiran kotak yang penyok, bahu kanan lebih tinggi daripada yang kiri. Pinggulku membentuk sudut berlawanan, betis kiriku menekan langit-langit. Bertempur melawan kotak-kotak meninggalkan memar di tubuhku. Bisa kurasakan memar-memar itu bermunculan. Aku tahu aku harus mencari cara untuk menjelaskan kepada Ian dan Jamie, bahwa akulah yang melakukan ini terhadap diriku sendiri. Tapi bagaimana caranya? Apa yang harus kukatakan? Bagaimana aku bisa menceritakan kepada mereka bahwa Jared menciumku sebagai ujian, seperti menyetrum tikus percobaan untuk mengamati reaksinya?
Dan berapa lama aku harus mempertahankan posisi ini? Aku tak ingin menciptakan suara apa pun, tapi rasanya tulang punggungku bakal patah dalam hitungan menit. Rasa sakit itu semakin tak tertahankan setiap detiknya. Aku takkan bisa menanggungkannya dalam kebisuan untuk waktu yang lama. Erangan sudah naik di dalam tenggorokanku.
Melanie tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Diam-diam ia mencoba mengatasi kelegaan dan kemarahannya sendiri. Jared telah berbicara dengannya, akhirnya mengakui keberadaannya. Jared telah menyatakan cintanya. Tapi Jared menciumku. Melanie sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa tak ada alasan untuk merasa terluka, sedang mencoba mempercayai semua alasan kuat mengapa bukan seperti ini rasanya. Ia mencoba, tapi gagal. Aku bisa mendengar semua ini, tapi Melanie mengarahkannya pada diri sendiri. Ia tidak bicara denganku—di dalam pengertian kekanak-kanakan dan sempit frasa itu. Aku diabaikan.
Kurasakan munculnya kemarahan yang tak kukenal terhadap Melanie. Berbeda dengan dulu, ketika aku merasa takut padanya dan berharap ia terhapus dari benakku. Tidak. Kini aku juga merasa dikhianati. Bagaimana mungkin ia bisa marah kepadaku atas apa yang terjadi? Apakah itu masuk akal? Bagaimana mungkin aku yang bersalah karena telah jatuh cinta akibat ingatan-ingatan yang dipaksakannya kepadaku, lalu ditumbangkan tubuh liar ini? Aku peduli terhadap penderitaan Melanie, tapi rasa sakitku tak berarti apa-apa baginya. Ia menikmatinya. Dasar manusia keji.
Air mata yang jatuh lebih lemah daripada air mataku sebelumnya, mengalir di pipiku dalam kebisuan. Sikap bermusuhan Melanie terhadapku bergolak di benakku.
Dengan segera rasa sakit di punggungku yang memar dan terpilin tak tertahankan lagi. Cukup sudah.
“Ugh,” erangku, seraya mendorong batu dan karton ketika mundur.
Aku tak peduli lagi terhadap suara yang kuciptakan. Aku hanya ingin keluar. Aku bersumpah kepada diri sendiri, ambang lubang terkutuk ini takkan pernah kulewati lagi—langkahi dulu mayatku. Secara harfiah.
Lebih sulit untuk mendesak keluar daripada menyelinap masuk. Aku menggeliat dan meliuk-liuk sampai seakan-akan aku membuat segalanya semakin buruk. Tubuhku terlipat membentuk simpul tak beraturan. Aku mulai menangis lagi, seperti anak kecil, takut takkan pernah bisa bebas.
Melanie mendesah. Sangkutkan kakimu di mulut lubang dan tarik dirimu keluar, sarannya.
Aku mengabaikannya, berjuang menyelinapkan tubuhku di pojok yang sangat runcing. Ujungnya menusukku tepat di bawah rusuk.
Jangan picik, gerutunya.
Mengejutkan, karena kau bisa berkata seperti itu.
Aku tahu. Melanie bimbang, lalu menyerah. Oke, maaf. Sungguh. Dengar, aku manusia. Terkadang sulit untuk bersikap adil. Kami tidak selalu merasakan hal yang benar, melakukan hal yang benar.
Kebencian itu masih di sana, tapi ia mencoba memaafkan dan melupakan bahwa aku baru saja bermesraan dengan cinta sejatinya—setidaknya itulah yang ada dalam benaknya.
Kukaitkan kakiku di sekitar pinggiran lubang dan kusentakkan tubuhku. Lututku menghantam lantai, dan aku menggunakan posisi itu untuk melepaskan rusukku dari tonjolan. Setelah itu lebih mudah untuk mengeluarkan kakiku yang sebelah lagi dan kembali menyentakkan tubuh. Akhirnya kedua tanganku menemukan lantai, dan aku mendesakkan tubuhku. Kakiku keluar lebih dulu, lalu aku terjatuh ke kasur hijau tua. Sejenak aku berbaring di sana, tertelungkup, bernapas. Aku yakin saat ini Jared sudah lama pergi, tapi aku tidak langsung memastikannya. Aku hanya menarik dan mengembuskan napas, sampai merasa siap untuk mengangkat kepala.
Aku sendirian. Kucoba untuk tetap merasa lega dan melupakan kesedihan akibat kenyataan ini. Lebih baik sendirian. Lebih tidak memalukan.
Aku meringkuk di kasur. Kutekankan wajahku pada kain apak itu. Aku tidak mengantuk, tapi lelah. Beban akibat penolakan Jared begitu berat, membuatku kelelahan. Aku memejamkan mata dan mencoba memikirkan hal-hal yang takkan membuat mataku kembali basah. Apa saja kecuali pandangan terkejut di wajah Jared ketika melepaskan diri dariku…
Apa yang sedang dilakukan Jamie? Apakah ia tahu aku ada di sini, atau apakah ia sedang mencariku? Ian pasti sudah lama terlelap, ia tampak sangat lelah. Apakah Kyle akan segera bangun? Apakah ia bakal datang mencariku? Di mana Jeb? Aku belum berjumpa dengannya seharian. Apakah Doc benar-benar mabuk sampai tak sadarkan diri? Itu tampaknya mustahil…
Aku terjaga perlahan-lahan, dibangunkan perutku yang keroncongan. Aku berbaring diam beberapa menit, mencoba mengorientasikan diri. Ini siang atau malam? Berapa lama aku tidur sendirian di sini?
Tapi perutku tak mau diabaikan untuk waktu lama. Aku berguling, berlutut. Agaknya aku tidur cukup lama, sehingga merasa selapar ini. Aku telah melewatkan satu atau dua kali waktu makan.
Kupertimbangkan untuk menyantap sesuatu dari tumpukan bekal di dalam lubang. Bagaimanapun aku sudah merusak nyaris semuanya, dan mungkin menghancurkan bebeapa di antaranya. Tapi tindakan itu hanya akan membuatku merasa lebih bersalah, karena hendak mengambil lebih banyak lagi. Aku akan pergi mencari beberapa potong roti di dapur.
Aku merasa sedikit terluka, selain semua luka besar itu, karena telah berada di sini begitu lama dan tak seorang pun datang mencariku. Betapa sia-sia sikapku. Mengapa orang harus peduli terhadap apa yang terjadi padaku? Lalu aku merasa lega dan puas ketika mendapati Jamie duduk di ambang lubang menuju kebun besar, memunggungi dunia manusia di belakangnya. Tak salah lagi, ia pasti sedang menungguku.
Mataku berkilat-kilat gembira, begitu juga mata Jamie. Ia bangkit berdiri, wajahnya menunjukkan kelegaan.
“Kau baik-baik saja,” kata Jamie. Dan kuharap ia benar. Ia mulai mengoceh. “Maksudku, kurasa Jared tidak berbohong. Menurut dia, kau ingin sendirian. Dan Jeb bilang aku tidak boleh menengokmu, dan harus tetap di tempat, agar dia bisa melihat aku tidak menyelinap kembali ke sana. Tapi walaupun menurutku kau tidak terluka atau apa pun, berat bagiku untuk tidak mengetahui dengan pasti. Kau tahu, kan?”
“Aku baik-baik saja,” kataku. Tapi kuulurkan kedua lenganku, mencari penghiburan. Jamie memeluk pinggangku, dan aku terkejut karena kepalanya bisa bersandar di bahuku ketika kami berdiri.
“Matamu merah,” bisiknya. “Apakah Jared jahat padamu?”
“Tidak.” Bagaimanapun, orang tidak akan dengan sengaja bertindak kejam terhadap tikus laboratorium—mereka hanya berusaha memperoleh informasi.
“Apa pun yang kaukatakan kepada Jared, kurasa dia sekarang memercayai kita. Maksudku soal Mel. Bagaimana perasaan Mel?”
“Mel gembira soal itu.”
Jamie mengangguk senang, “Bagaimana denganmu?”
Aku bimbang, mencari jawaban berdasarkan fakta. “Mengucapkan kebenaran lebih mudah bagiku daripada mencoba menyembunyikannya.”
Pengelakanku tampaknya menjawab pertanyaan Jamie dengan cukup memuaskan.
Di belakangnya cahaya di kebun berwarna merah pudar. Matahari sudah terbenam di padang gurun.
“Aku lapar,” kataku, melepaskan diri dari pelukan Jamie.
“Aku tahu. Aku menyimpan makanan lezat untukmu.”
Aku mendesah. “Roti saja sudah cukup.”
“Sudahlah, Wanda. Kata Ian, kau terlalu mengorbankan kepentinganmu sendiri.”
Aku nyengir.
“Kurasa Ian ada benarnya,” gumam Jamie. “Bahkan seandainya kami semua menginginkanmu di sini, kau tidak akan menjadi bagian dari kami sampai kau sendiri memutuskan begitu.”
“Aku tak pernah bisa menjadi bagian dari kalian. Dan tak seorang pun benar-benar menginginkanku di sini, Jamie.”
“Aku menginginkannya.”
Aku tidak menentangnya, tapi Jamie keliru. Ia tidak berbohong; ia meyakini apa yang diucapkannya. Tapi yang benar-benar diinginkan Jamie adalah Melanie. Ia tidak memisahkan kami, seperti yang seharusnya ia lakukan.
Trudy dan Heidi sedang memanggang roti di dapur, sambil makan apel segar berwarna hijau cerah. Mereka menggigit buah itu bergantian.
“Senang melihatmu, Wanda,” ujar Trudy tulus. Ia menutup mulut ketika bicara, karena masih mengunyah gigitan apel terakhir. Heidi mengangguk member salam, giginya terbenam dalam apel. Jamie mencoba menyikutku diam-diam – untuk menunjukkan bahw orang-orang ini menginginkanku.  Ia tidak menganggap tindakan mereka sebagai sopan santun biasa.
“Kau menyimpan makanan untuknya?” Tanya Jamie bersemangat.
“Yep,” jawab Trudy. Ia membungkuk di samping oven, lalu kembali dengan nampan logam di tangan. “Kuhangatkan. Mungkin sekarang sudah keras dan tidak enak, tapi masih lebih baik daripada hidangan biasa.”
Di atas nampan ada potongan daging merah yang agak besar. Mulutku mulai meneteskan liur, walaupun jatah yang diberikan untukku itu kutolak.
“Terlalu banyak.”
“Kami harus menghabiskan semua makanan segar di hari pertama,” desak Jamie. “Semua makan sampai kekenyangan—sudah tradisi.”
“Kau perlu protein,” imbuh Trudy. “Kita sudah terlalu lama menyantap makanan gua. Aku heran mengapa tak seorang pun kondisinya kurang sehat.”
Aku menyantap proteinku, sementara Jamie mengawasi seperti burung elang ketika setiap suapan berpindah dari nampan ke mulutku. Aku menghabiskan semua untuk menyenangkan Jamie, walaupun makan begitu banyak akan membuat perutku sakit.
Dapur mulai terisi kembali ketika aku menghabiskan makanan. Beberapa orang memegang apel di tangan—semua berbagi dengan yang lain. Mata-mata penasaran meneliti sisi wajahku yang cedera.
“Mengapa semua orang kemari?” gumamku kepada Jamie. Di luar gelap, jam makan sudal lama lewat.
Sejenak Jamie memandangku dengan tatapan kosong. “Untuk mendengarmu mengajar.” Nada suaranya mengimbuhkan kata tentu saja.
“Kau bergurau?”
“Sudah kubilang, tak ada yang berubah.”
Aku menatap ke sekeliling ruang sempit itu. Tidak penuh. Tidak ada Doc malam ini, dan tak ada satu pun dari para penjarah yang baru pulang. Dan ini berarti tak ada Paige. Tak ada Jeb, tak ada Ian, tak ada Walter. Beberapa orang lainnya juga tidak ada: Travis, Carol, Ruth Ann. Tapi ini lebih daripada yang kukira, seandainya aku mengira semua orang akan mempertimbangkan untuk menjalankan rutinitas normal setelah hari yang begitu tidak normal.
“Bisakah kita kembali pada Lumba-lumba, pembahasan terakhir kita?” Tanya Wes, menyela evaluasiku atas ruangan itu. Bisa kulihat ia lebih berinisiatif membuka percakapan, bukannya benar-benar tertarik dengan hubungan kekerabatan di planet asing.
Semua memandangku penuh harap. Tampaknya kehidupan tidak berubah sebanyak yang kuperkirakan.
Aku mengambil nampan roti dari tangan Heidi, lalu berbalik untuk menyorongkannya ke dalam oven batu. Aku mulai bicara dengan posisi memunggungi.
“Jadi… um… hmm… pasangan kakek-nenek ketiga… Secara tradisional mereka melayani komunitas, sesuai dengan pemahaman mereka. Di Bumi mereka bisa disebut pencari nafkah, orang-orang yang meninggalkan rumah dan membawa pulang makanan serta minuman. Sebagian besar petani. Mereka mengolah sesuatu yang menyerupai tanaman, yang mereka ambil getahnya…”
Dan kehidupan pun berlanjut.
Jamie mencoba membujukku agar tidak tidur di koridor gudang, tapi usahanya hanya setengah hati. Tak ada tempat lain untukku. Dengan sikap keras kepala seperti biasa, ia berkeras tidur bersamaku. Kubayangkan Jared pasti tidak suka. Tapi karena aku tidak melihat Jared malam itu atau hari berikutnya, aku tidak bisa membuktikan teoriku.
Mengerjakan tugas-tugasku seperti biasa terasa canggung dengan kepulangan keenam penjarah. Rasanya sama persis seperti saat Jeb pertama kali memaksaku bergabung dengan komunitasnya. Tatapan-tatapan bermusuhan, kebisuan-kebisuan marah. Tapi ini lebih menyulitkan mereka daripada aku. Aku sudah terbiasa. Sebaliknya mereka sama sekali tidak terbiasa dengan cara semua orang lain memperlakukanku. Ketika aku membantu memanen jagung, misalnya. Lily tersenyum dan berterima kasih kepadaku atas keranjang yang baru saja kubawakan, dan mata Andy melotot melihatnya. Atau ketika aku sednag menunggu kolam mandi bersama Trudy dan Heidi, lalu Heidi memain-mainkan rambutku. Belakangan rambutku yang sudah panjang selalu menutupi mata, dan aku berencana mengguntingnya. Heidi mencoba mencari gaya yang cocok untukku. Ia membolak-balik helaian-helaian rambutku. Brandt dan Aaron—Aaron lelaki tertua yang pergi dalam penjarahan panjang itu, aku sama sekali tak ingat pernah melihatnya sebelumnya—muncul dan melihat kami di sana. Trudy menertawakan gaya konyol yang sedang berusaha diciptakan Heidi di atas kepalaku, dan wajah kedua lelaki itu sedikit memucat, lalu mereka berjalan diam-diam melewati kami.
Tentu saja hal-hal kecil seperti itu tak ada artinya. Kini Kyle menjelajahi ruang-ruang gua. Dan walaupun ia pasti sudah diperintahkan untuk tidak menggangguku, dari ekspresinya jelas terlihat bahwa larangan ini menjijikan baginya. Aku selalu bersama-sama dengan yang lain ketika berjumpa dengannya, dan aku bertanya-tanya apakah itu satu-satunya alasan Kyle tidak melakukan apa-apa, selain memelototiku dan tanpa sadar mengepalkan jari-jari tangannya yang tebal. Ini mengembalikan semua kepanikanku selama minggu-minggu pertama di sini dulu, menghindari area-area bersama—seandainya tidak memperhatikan hal yang lebih penting daripada tatapan mengerikan Kyle di malam kedua.
Dapur kembali terisi. Aku tak yakin seberapa banyak orang yang tertarik pada cerita-ceritaku, dan seberapa banyak yang tertarik pada cokelat-cokelat batangan yang dibagikan Jeb. Aku menolak bagianku, lalu menjelaskan kepada Jamie yang menggerutu bahwa aku tidak bisa bicara dan menelan pada saat bersamaan. Aku curiga ia akan menyimpankan cokelat itu untukku, bersikap keras kepala seperti biasa. Ian sudah kembali di kursi panasnya seperti biasa, di samping perapian. Andy ada di sana—matanya waspada—di samping Paige. Tak seorang pun dari penjarah-penjarah lainnya, termasuk Jared tentu saja, hadir. Doc tak ada di sana, dan aku bertanya-tanya apakah ia masih mabuk atau mungkin pusing. Dan sekali lagi, Walter tidak ada.
Geoffrey, suami Trudy, mengajukan pertanyaan kepadaku untuk pertama kali malam ini. Aku senang, walaupun berusaha untuk tidak menunjukkannya, karena tampaknya ia telah bergabung dengan kelompok manusia yang menoleransi kehadiranku. Tapi sayang sekali aku tak bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Pertanyaan-pertanyaannya serupa dengan pertanyaan-pertanyaan Doc.
“Aku tidak begitu tahu mengenai Penyembuhan setelah… setelah aku tiba di sini untuk pertama kali. Aku belum pernah sakit. Yang kutahu hanyalah, kami tidak akan memilih sebuah planet jika tidak bisa mempertahankan tubuh inang-inangnya dengan sempurna. Tak ada yang tak bisa disembuhkan, mulai dari luka sederhana, patah tulang, sampai penyakit. Kini usia tua adalah satu-satunya penyebab kematian. Bahkan tubuh manusia sehat pun hanya dirancang untuk bertahan hidup selama itu. Dan kurasa juga terjadi kecelakaan-kecelakaan, walaupun tidak begitu sering menimpa jiwa. Kami berhati-hati.”
“Manusia bersenjata tidak bisa disebut kecelakaan,” gumam seseorang. Aku sedang memindahkan roti-roti panas; aku tidak melihat siapa yang bicara, dan tidak mengenali suaranya.
“Ya, itu benar,” ujarku setuju.
“Kalau begitu, kau tahu apa yang mereka gunakan untuk mengobati penyakit?” desak Geoffrey. “Apa yang ada di dalam obat-obatan mereka?”
Aku menggeleng. “Maaf, aku tak tahu. Itu tidak menarik perhatianku, ketika dulu aku punya akses terhadap informasinya. Kurasa aku telah menyepelekannya. Aku selalu bisa mendapat kesehatan yang baik di setiap planet yang pernah kutinggali.”
Pipi merah Geoffrey semakin membara. Ia menunduk, bibirnya terkatup marah. Apakah perkataanku menyinggungnya?
Heath, yang duduk di samping Geoffrey, menepuk-nepuk lengannya. Seluruh ruangan langsung hening.
“Uh—tentang para Hering…,” ujar Ian. Kata-katanya dipaksakan, sengaja mengubah pokok pembicaraan. “Aku tidak tahu apakah bagian yang ini terlewatkan olehku, tapi seingatku kau tak pernah menjelaskan tentang ‘kejahatan’ mereka?”
Ini bukanlah sesuatu yang pernah kujelaskan, tapi aku sangat yakin Ian tidak benar-benar tertarik—ini hanya pertanyaan pertama yang terlintas di dalam pikirannya.
Kelas informalku berakhir lebih awal daripada biasa. Hanya ada sedikit pertanyaan, dan sebagian besar diajukan Jamie serta Ian. Pertanyaan-pertanyaan Geoffrey membuat yang lain sibuk berpikir.
“Well, besok kita harus bangun lebih awal, untuk mencabuti batang-batang…,” ujar Jeb, setelah muncul keheningan yang canggung lagi. Ia menjadikan kata-katanya sebagai perintah pembubaran. Orang-orang bangkit berdiri, menggeliat, bicara dengan suara rendah yang kedengarannya tidak terlalu santai.
“Apa yang tadi kukatakan?” bisikku kepada Ian.
“Tak ada. Mereka sibuk memikirkan mortalitas.” Ia mendesah.
Otak manusiaku langsung melakukan salah satu lompatan pemahaman yang disebut intuisi.
“Mana Walter?” desakku, masih berbisik.                                                              
Ian kembali mendesah. “Dia di bagian selatan. Dia… tidak sehat.”
“Mengapa tak ada yang memberitahuku?”
“Semua… menyulitkanmu belakangan ini, jadi…”
Aku menggeleng tidak sabar mendengar pertimbangan ini. “Apa yang salah dengannya?”
Kini  Jamie berada di sampingku. DIraihnya tanganku.
“Beberapa tulang Walter yang sangat rapuh patah,” ujarnya berbisik. “Doc yakin itu kanker—stadium akhir, katanya.”
“Agaknya Walt sudah lama merahasiakan sakitnya,” imbuh Ian muram.
Aku mengernyit. “Dan tak ada yang bisa dilakukan? Sama sekali tak ada?”
Ian menggeleng, tetap memandangku dengan mata cemerlangnya. “Bagi kami tak ada. Kalaupun kami tidak terperangkap di sini, takkan ada pertolongan untuknya sekarang. Kami belum bisa menyembuhkan penyakit itu.”
Aku menggigit bibir, agar saran yang ingin kulontarkan tidak keluar. Tentu saja tak ada yang bisa dilakukan untuk Walter. Semua manusia ini lebih suka mati perlahan-lahan secara menyakitkan daripada menukar benak demi kesembuhan tubuh. Aku bisa memahaminya… sekarang.
“Walter menanyakanmu,” lanjut Ian. “Well, terkadang dia menyebut namamu. Sulit untuk mengetahui maksudnya—Doc membuatnya tetap mabuk untuk mengurangi rasa sakit.”
“Doc merasa sangat tidak enak karena telah menggunakan begitu banyak alcohol untuk dirinya sendiri,” imbuh Jamie. “Saat yang sulit, untuk semua.”
“Bisakah aku menengoknya?” tanyaku. “Atau apakah itu akan membuat yang lain tidak senang?”
Ian memberengut, lalu mendengus. “Bukankah tidak pantas bagi mereka jika mempersoalkan hal seperti itu?” Ia menggeleng, “Tapi siapa peduli, bukan? Jika itu keinginan terakhir Walt…”
“Benar,” ujarku setuju. Kata terakhir membuat mataku perih. “Jika Walter ingin berjumpa denganku, kurasa aku tak peduli apa yang dipikirkan orang lain, atau apakah mereka akan marah.”
“Jangan khawatir soal itu—aku takkan membiarkan siapa pun mengganggumu.” Bibir pucat Ian mengatup membentuk garis tipis.
Aku merasa cemas, seakan ingin menengok jam. Waktu sudah tidak begitu berarti lagi buatku, tapi mendadak aku merasakan beban tenggat waktu. “Apakah  sudah terlambat untuk menengok Walter malam ini? Apakah dia akan terganggu?”
“Walter tidak tidur pada jam-jam biasa. Kita bisa pergi menengoknya.”
Aku langsung mulai berjalan, seraya menyeret Jamie Karenna ia masih mencengkeram tanganku. Perasaan mengenai berlalunya waktu, mengenai akhir dan ketamatan, menggerakkanku maju. Tapi Ian berhasil mengejarku dengan langkah-langkah panjangnya.
Di dalam ruang gua dengan kebun yang disinari cahaya bulan, kami berpapasan dengan orang-orang lain yang sebagian besar tidak memedulikan kami. Aku sudah terlalu sering ditemani Jamie dan Ian, sehingga mereka tidak curiga, walaupun kami tidak menuju terowongan-terowongan yang biasa.
Satu-satunya perkecualian adalah Kyle. Ia terpaku ketika melihat adiknya di sampingku. Matanya berkilat-kilat melihat tangan Jamie dalam genggamanku, lalu bibirnya membentuk seringai.
Ian menegakkan bahu ketika mencerna reaksi kakaknya—bibirnya mengerut menirukan mulut Kyle—dan dengan sengaja ia meraih tanganku yang lain. Kyle mengeluarkan suara seakan hendak muntah, lalu berbalik memunggungi kami.
Ketika kami berada di dalam kegelapan terowongan panjang selatan, kucoba untuk membebaskan tangan. Tapi Ian mencengkeramnya semakin erat.
“Kuharap kau tidak membuat Kyle semakin marah,” gumamku.
“Kyle keliru. Keliru adalah kebiasaannya. Dibandingkan semua orang lainnya, dia perlu waktu lebih lama untuk menyadari kekeliruannya. Tapi itu tidak berarti kita harus membiarkannya.”
“Dia membuatku ngeri,” bisikku mengakui.  “Aku tidak ingin dia mendapat lebih banyak alasan untuk membenciku.”
Ian dan Jamie meremas tanganku bersamaan. Mereka bicara serentak.
“Jangan takut,” ujar Jamie.
“Jeb sudah menyatakan pendapatnya dengan sangat jelas,” ujar Ian.
“Apa maksudmu?” tanyaku kepada Ian.
“Jika Kyle tidak bisa menerima peraturan-peraturan Jeb, maka dia tak lagi diterima di sini.”
“Tapi itu keliru. Tempat Kyle di sini.”
Ian menggerutu. “Dia tetap tinggal… jadi yang harus dia lakukan hanyalah belajar mengatasinya.”
Kami tidak bicara lagi. Aku merasa bersalah—tampaknya itu keadaan emosi yang permanen di sini. Perasaan bersalah, takut, dan patah hati. Mengapa aku kemari?
Karena, walaupun cukup aneh, tempatmu memang di sini, bisik Melanie. Ia sangat menyadari kehangatan tangan Ian dan Jamie yang menggenggam tanganku. Di mana lagi kau pernah mengalami ini?
Tidak di mana pun, ujarku mengakui, dan aku hanya merasa semakin tertekan. Tapi ini bukan berarti tempatku di sini. Lain halnya denganmu.
Kita adalah satu kesatuan, Wanda.
Seakan aku perlu diingatkan saja…
Aku sedikit terkejut karena bisa mendengar Melanie dengan sangat jelas. Dua hari terakhir ini ia diam saja, menunggu, cemas, berharap untuk berjumpa lagi dengan Jared. Tentu saja aku juga sibuk memikirkan hal yang sama.
Mungkin Jared bersama Walter. Mungkin selama ini ia ada di sana, pikir Melanie penuh harap.
Itu bukan alasan kepergian kita mengengok Walter.
Tidak. Tentu saja tidak. Nada suara Melanie penuh penyesalan, tapi kusadari Walter jauh lebih berarti bagiku daripada baginya. Tentu saja Melanie sedih karena Walter sekarat, tapi ia sudah pasrah menerima semua itu sejak awal. Sebaliknya, aku tidak bisa membuat diriku pasrah menerimanya, bahkan sekarang. Walter temanku, bukan teman Melanie. Akulah yang pernah dibela oleh Walter.
Ketika mendekati bagian rumah sakit, kami disambut salah satu cahaya biru suram itu. (Kini aku tahu lentera-lentera itu bertenaga matahari, dan seharian ditinggalkan di pojok – pojok bermatahari agar terisi tenaga.) Kami bergerak nyaris tanpa suara, dan sama-sama memperlambat langkah tanpa harus membahasnya lebih dulu.
Aku benci ruangan ini. Dalam kegelapan, dengan bayang-bayang aneh yang diciptakan kilau suram, tampaknya tempat ini semakin mengerikan saja. Tercium aroma baru—ruangan ini berbau pembusukan lambat, alcohol menyengat, dan cairan empedu.
Dua di antara dipannya terisi. Kaki Doc terjulur melewati pinggiran salah satu dipan; kukenali dengkur pelannya. Di dipan lain Walter mengamati kedatangan kami. Ia tampak sangat pucat dan tak berdaya.
“Kau bisa dikunjungki, Walt?” bisik Ian, ketika mata Walter beralih ke arahnya.
“Ungh,” erang Walter, bibirnya menggantung di wajah lemahnya dan kulitnya berkilau basah dalam cahaya suram.
“Kau perlu sesuatu?” gumamku. Kubebaskan kedua tanganku—yang bergerak-gerak tak berdaya di udara di antara aku dan Walter.
Mata Walter bergulir pelan meneliti kegelapan. Aku melangkah lebih dekat.
“Ada yang bisa kami lakukan untukmu? Apa saja?”
Mata Walter berkelana sampai menemukan wajahku. Dengan cepat sepasang mata itu memusatkan pandangan menembus keadaan mabuk dan nyeri.
“Akhirnya,” ujarnya terperangah. Napasnya tersengal. “Aku tahu kau akan datang jika aku menunggu cukup lama. Oh, Gladys, banyak sekali yang harus kuceritakan kepadamu.”

Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com
Showing posts with label melanie. Show all posts
Showing posts with label melanie. Show all posts

The Host- Bab 36

0 comments

 




DIPERCAYA

Kelompok manusia itu berubah tenang, dan gumaman lebih antusias terdengar dari seluruh tempat mereka duduk membentuk setengah lingkaran.
Aku memandang Jamie, yang mengerutkan bibir dan mengangkat bahu. “Jeb hanya mencoba mengembalikan segala sesuatunya agar normal lagi. Beberapa hari ini keadaan sangat buruk. Pemakaman Walter…”
Aku meringis.
Kulihat Jeb nyengir pada Jared. Setelah sejenak menolak, Jared menghela napas dan memutar bola mata pada lelaki tua aneh itu. Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan gua.
“Jared punya bola baru?” tanya seseorang.
“Asyik,” ujar Wes di sampingku.
“Bermain,” gumam Trudy, seraya menggeleng.
“Jika itu bisa meredakan ketegangan,” jawab Lily pelan. Lalu mengangkat bahu.
Suara mereka pelan, di dekatku, tapi aku juga bisa mendengar suara-suara lain yang lebih keras.
“Kali ini berhati-hatilah dengan bolanya,” ujar Aaron kepada Kyle. Ia berdiri di samping Kyle, menawarkan tangannya.
Kyle meraih tangan yang ditawarkan dan perlahan-lahan bangkit berdiri. Setelah berdiri, kepalanya nyaris menyundul lentera-lentera yang bergantungan.
“Bola terakhir kurangg bagus,” ujar Kyle. Ia nyengir pada lelaki yang lebih tua itu. “Secara structural cacat.”
“Aku menominasikan Andy sebagai kapten,” teriak seseorang.
“Aku menominasikan Lily,” seru Wes. Ia berdiri, lalu meregangkan tubuh.
“Andy dan Lily.”
“Ya, Andy dan Lily.”
“Aku mau Kyle,” ujar Andy cepat.
“Kalau begitu aku mau Ian,” jawab Lily.
“Jared.”
“Brandt.”
Jamie bangkit, lalu berdiri berjingkat, berusaha tampak lebih tinggi.
“Paige.”
“Heidi.”
“Aaron.”
“Wes.”
Pemanggilan nama-nama berlanjut. Jamie berseri-seri ketika Lily memilihnya sebelum setengah jumlah orang dewasa terpilih.
Bahkan Maggie dan Jeb dipilih untuk memperkuat tim. Jumlahnya genap, sampai Lucina kembali bersama Jared, dengan kedua anak laki-lakinya melompat-lompat gembira. Jared memegang bola sepak baru yang mengilat di tangannya; ia mengulurkan bola itu, dan Isaiah, anak yang lebih tua, melompat-lompat mencoba menjatuhkan bola itu dari tangan Jared.
“Wanda?” tanya Lily.
Aku menggelengg dan menunjuk kakiku.
“Benar. Maaf.”
Aku jago main sepak bola, gerutu Mel. Well, dulu aku seperti itu.
Aku hampir tak sanggup berjalan, ujarku mengingatkan.
“Kurasa kali iini aku tidak ikut main,” kata Ian.
“Oh, tidak,” keluh Wes. “Mereka punya Kyle dan Jared. Kami mati tanpamu.”
“Mainlah,” ujarku kepada Ian. “Aku… aku akan menghitung angkanya.”
Ian memandangku, bibirnya terkatup membentuk garis tipis kaku. “Aku sedang tidak terlalu ingin bermain.”
“Mereka memerlukanmu.”
Ian mendengus.
“Ayolah, Ian,” desak Jamie.
“Aku ingin menonton,” kataku. “Tapi akan… membosankan jika timnya berat sebelah.”
“Wanda,” desah Ian. “Kau benar-benar pembohong paling payah yang pernah kujumpai.”
Tapi Ian berdiri dan mulai meregangkan tubuh bersama Wes.
Paige menyusun tiang gawang menggunakan empat lentera.
Aku mencoba bangkit berdiri—aku berada tepat di tengah lapangan. Tak seorang pun memperhatikanku dalam cahaya suram itu. Kini atmosfer di sekeliling ruangan berubah positif, penuh antisipasi. Jeb benar. Ini yang mereka perlukan, walaupun tampak ganjil bagiku.
Aku bisa merangkak, lalu kutarik kakiku yang tidak cedera ke muka, sehingga aku berlutut menggunakan kakiku yang  cedera. Rasanya menyakitkan. Lalu aku mencoba melompat dengan kakiku yang tidak cedera. Keseimbanganku sangat buruk, berkat bobot kakiku yang cedera.
Sepasang tangan kokoh menangkapku sebelum aku jatuh terjerembap. Aku mendongak, dengan sedikit perasaan malu, untuk berterima kasih kepada Ian.
Kata-kataku tersangkut di tenggorokan ketika melihat tangan Jared-lah yang menahanku.
“Kau seharusnya bisa minta tolong,” ujarnya ramah.                                                                                                                                                                                                                             
“AKu—“ aku berdehem. “Memang seharusnya aku minta tolong. Aku tak ingin…”
“Diperhatikan?” Jared mengucapkan kata-kata itu seakan benar-benar penasaran. Taka da nada menuduh di dalamnya. Ia membantuku yang terpincang-pincang menuju  lubang masuk gua.
Aku menggeleng. “Aku tak ingin… membuat seseorang melakukan sesuatu hanya demi kesopanan, padahal mereka tak ingin melakukannya.” Penjelasanku tidak terlalu tepat, tapi sepertinya Jared memahami maksudku.
“Kurasa Jamie atau Ian takkan keberatan membantumu.”
Jared meneliti wajahku. KUsadari aku sedang tersenyum penuh sayang.
“Kau sangat peduli terhadap anak itu,” katanya.
“Ya.”
Jared mengangguk. “Dan lelaki itu?”
“Ian… Ian memercayaiku. Dia menjagaku. Dia teramat sangat baik… untuk ukuran manusia.” Hampir seperti jiwa, itulah yang ingin kukatakan. Tapi perkataan itu tidak akan terdengar seperti pujian bagi pendengar yang satu ini.
Jared mendengus. “Untuk ukuran manusia. Pembedaan itu lebih penting daripada yang kusadari.”
Ia mendudukkanku di bibir lubang masuk. Tempat itu menyerupai bangku rendah, sehingga lebih nyaman daripada lantai datar.
“Terima kasih,” ujarku. “Kau tahu, Jeb melakukan hal yang benar.”
“Aku tidak setuju dengan perkataan itu.” Nada suara Jared lebih lunak daripada kata-katanya.
“Juga terima kasih—untuk yang tadi. Kau tidak perlu membelaku.”
“Setiap kata adalah kebenaran.”
AKu menunduk memandang lantai. “Memang benar, aku takkan pernah melakukan sesuatu untuk mencederai siapa pun di sini. Secara sengaja. Maaf karena aku melukaimu ketika dating kemari. Dan Jamie. Maaf sekali.”
Jared duduk di sampingku, wajahnya serius. “Sejujurnya…” Ia bimbang. “Anak itu jadi lebih baik sejak kedatanganmu. Aku sedikit lupa bagaimana suara tawanya.”
Kini kami mendengarkan tawa itu menggema di atas tawa orang dewasa yang bernada lebih rendah.
“Terima kasih telah memberitahuku. Itu adalah… kekhawatiran terbesarku. Kuharap taka da yang kurusak secara permanen.”
“Mengapa?”                                          
Aku mendongak memandang Jared, bingung.
“Mengapa kau mencintainya?” tanya Jared. Suaranya masih penasaran, tapi tidak mendesak.
Aku menggigit bibir.
“Kau bisa mengatakannya kepadaku. AKu… aku…” Jared tak bisa menemukan kata-kata untuk menjelaskan. “Kau bisa mengatakannya kepadaku,” ulangnya.
Kupandangi kakiku ketika menjawab. “Sebagian besar karena Melanie mencintainya.” Aku tidak melirik untuk melihat apakah nama itu tidak mengejutkan Jared. “Mengingat Jamie seperti yang diingat Melanie… itu sesuatu yang sangat berpengaruh. Lalu ketika kulihat sendiri anak laki-laki itu…” Aku mengangkat bahu. “Mustahil bagiku untuk tidak mencintainya. Mencintainya adalah bagian dari susunan sel-sel ini. Sebelumnya tak kusadari betapa banyak pengaruh seorang inang terhadapku. Mungkin itu hanya karena tubuh manusia. Mungkin itu hanya karena Melanie.”
“Melanie bicara padamu?” Jared tetap menjaga ketenangan suaranya, tapi kini aku bisa mendengar  ketegangan di dalamnya.
“Ya.”
“Seberapa sering?”
“Ketika dia menginginkannya. Ketika dia tertarik.”
“Bagaimana dengan hari ini?”
“Tak banyak. Dia… sedikit marah kepadaku.”
Jared mengeluarkan tawa terkejut. “Dia marah? Mengapa?”
“Karena…” Apakah aku kembali diadili di sini? “Tak apa-apa.”
Jared mendengar kebohongan itu lagi, dan ia menghubungkannya.
“Oh, Kyle. Mel ingin Kyle dibantai.” Jared kembali tertawa. “Memang.”
“Melani bisa jadi… kejam,” ujarku setuju. Aku tersenyum, untuk memperlunak penghinaan itu.
Tapi itu bukan penghinaan bagi Jared. “Benarkah? Kok bisa?”
“Dia ingin aku melawan. Tapi aku… aku tak bisa melakukannya.  Aku bukan petarung.”
“Itu bisa kupahami.” Jared menyentuh wajahku yang berantakan dengan ujung jari. “Maaf.”
“Tidak. Siapa pun akan melakukan hal yang sama. Aku tahu bagaimana perasaanmu.”
“Kau tidak akan—“
“Seandainya aku manusia, aku akan melakukannya. Lagi pula, bukan itu yang sedang kupikirkan… Aku teringat pada Pencari.”
Jared mengejang.
Aku tersenyum, dan ia sedikit lebih tenang. “Mel ingin aku mencekiknya. Dia benar-benar membenci Pencari itu. Dan aku tidak bisa… menyalahkan Mel.”
“Pencari itu masih mencarimu. Setidaknya dia tampak seakan hendak kembali menggunakan helicopter itu.”
Aku memejamkan mata, mengepalkan tangan, dan berkonsentrasi untuk bernapas selama beberapa detik.
“Dulu aku tidak takut kepadanya,” bisikku. “AKu tidak tahu mengapa dia kini begittu menakutkan bagiku. Di mana dia?”
“Jangan khawatir. Kemarin dia hanya mondar-mandir menyusuri jalan raya. Dia tidak akan menemukanmu.”
Aku mengangguk, memaksa diriku percaya.
“Bisakah kau… bisakah kau mendengar Mel sekarang?” gumam Jared.
Aku tetap memejamkan mata. “Aku… menyadari keberadaannya. Dia mendengarkan dengan saksama.”
“Apa yang dipikirkannya?” Suara Jared hanya berupa bisikan.
Ini peluangmu, kataku kepada Melanie. Apa yang ingin kaukatakan kepada Jared?
Sekali ini  Melanie berhati-hati. Undangan ini menggelisahkannya. Mengapa? Mengapa sekarang ia memercayaimu?
Aku membuka mata, dan mendapati Jared menatap wajahku seraya menahan napas.                                                      
“Dia ingin tahu apa yang terjadi sehingga kau… sekarang berbeda. Mengapa kau memercayai kami?”
Jared berpikir sejenak. “Akumulasi dari banyak hal. Kau begitu… baik terhadap Walter. Aku tak pernah melihat orang lain, kecuali Doc, yang berbuat sebaik itu. Dan kau menyelamatkan nyawa Kyle, padahal sebagian besar kami akan membiarkannya jatuh untuk melindungi diri kami sendiri, tanpa memedulikan pembunuhan terencana. Lalu kau pembohong yang payah.” Ia tertawa sejenak. “Aku terus mencoba memandang hal-hal ini sebagai bukti adanya rencana besar. MUngkin besok aku akan terbangun dan kembali berpikir seperti itu.”
Aku dan Mel sama-sama terkesiap.
“Tapi ketika mereka mulai menyerangmu hari ini… well, kesabaranku habis. Aku bisa melihat, pada diri mereka semua, segala hal yang seharusnya taka da pada diriku. Kusadari aku sudah percaya, aku hanya bersikap keras kepala. Kejam. Kurasa aku sudah percaya sejak… well, sedikit percaya sejak malam pertama, ketika kau mengempaskan dirimu di depanku untuk menyelamatkanku dari Kyle.” Ia  tertawa, seakan tidak menganggap Kyle berbahaya. “Tapi aku lebih pintar berbohong daripada kau. Aku bahkan bisa membohongi diriku sendiri.”
“Melanie berharap kau takkan berubah pikiran. Dia khawatir kau akan melakukannya.”
Jared memejamkan mata. “Mel.”
Jantungku berdetak lebih cepat. Kegembiraan Melanie-lah yang memicunya, bukan kegembiraanku. Agaknya Jared sudah menebak betapa aku mencintainya. Setelah pertanyaan-pertanyaannya mengenai Jamie, mestinya ia mengerti.
“Katakan kepadanya… itu tidak akan terjadi.”
“Dia mendengarmu.”
“Seberapa… langsungnyakah hubungan itu?”
“Dia mendengar apa yang kudengar, melihat apa yang kulihat.”
“Merasakan apa yang kau rasakan?”
“Ya.”
Hidung Jared mengerut. Kembali ia menyentuh wajahku dengan lembut, membelainya. “Kau tidak tahu betapa menyesalnya diriku.”
Kulitku lebih panas di tempat ia menyentuhnya; panas yang bagus. Tapi kata-kata Jared membakar lebih panas daripada sentuhannya. Tentu saja penyesalannya bertambah karena ia telah melukai Melanie. Tentu saja. Itu seharusnya tidak menggangguku.
“Ayo, Jared! Ayo, main!”
Kami mendongak. Kyle memanggil Jared. Tampaknya ia benar-benar santai, seakan hidupnya tak pernah dipertaruhkan dalam pengadilan hari ini. Mungkin ia sudah tahu hasilnya akan seperti ini. Mungkin ia cepat melupakan apa saja. Tampaknya ia tidak memperhatikanku di sana, di samping Jared.   
Kusadari, untuk pertama kali, bahwa yang lain memperhatikan.
Jamie mengamati kami dengan senyum puas. Ini mungkin tampak baik baginya. Benarkah?
Apa maksudmu?
Apa yang dilihat Jamie ketika memandang kita? Keluarganya bersatu kembali?
Benarkah? Semacam itukah?
Dengan satu tambahan yang tidak dikehendaki.
Tapi ini lebih baik daripada kemarin.
Kurasa begitu…
Aku tahu, Melanie mengakui. Aku gembira Jared tahu aku ada di sini… tapi aku masih tidak suka jika ia menyentuhmu.
Dan aku sangat suka. Wajahku bergelenyar di tempat jemari Jared mengusapnya tadi. Maaf soal itu.
Aku tidak menyalahkanmu. Atau, setidaknya, aku tahu aku tidak boleh menyalahkanmu.
Terima kasih.
Jamie bukanlah satu-satunya yang mengamati.
Jeb penasaran. Senyum kecil itu berkumpul di sudut janggutnya.
Sharon dan Maggie mengamati dengan api di mata mereka. Ekspresi mereka begitu mirip, sehingga kulit muda dan rambut warna mencolok sama sekali tidak membuat Sharon tampak lebih muda dibandingkan ibunya yang beruban.
Ian waswas. Matanya tegang, dan sepertinya ia nyaris menghampiriku untuk kembali melindungiku. Untuk memastikan Jared tidak menggangguku. Aku tersenyum meyakinkannya. Ian tidak membalas senyumku, tapi menghela napas panjang.
Kurasa bukan itu penyebab kekhawatiran Ian, ujar Melanie.
“Apakah kau sedang mendengarkan, Mel?” Jared bangkit berdiri, masih mengamati wajahku.
Pertanyaannya mengalihkan perhatianku, sebelum aku bisa bertanya kepada Mel apa maksud perkataannya. “Ya.”
“Dia bilang apa?”
“Kami sedang mengamati bagaimana pendapat yang lain mengenai… perubahan pikiranmu.” Aku mengangguk kea rah bibi dan sepupu Melanie. Mereka serentak memunggungiku.
“Keras kepala,” Jared mengakui.
“Baiklah, kalau begitu,” teriak Kyle, seraya berbalik kea rah bola yang tergeletak di bawah tempat yang paling diterangi cahaya. “Kami akan memenangkan pertandingan ini tanpamu.”
“Tunggu!” Sekali lagi Jared melirik sedih kepadaku—kepada kami—lalu lari untuk mengikuti permainan.
Aku bukan pencatat angka terbaik. Terlalu gelap untuk melihat bolanya dari tempat dudukku. Bahkan terlalu gelap untuk melihat para pemain dengan baik saat mereka tidak berada di bawah cahaya. Aku mulai menghitung berdasarkan reaksi Jamie. Teriakan kemenangannya ketika timnya mencetak angka, erangannya ketika tim lawan mencetak angka. Jumlah erangannya lebih banyak daripada teriakan kemenangannya.
Semua ikut bermain. Maggie menjadi penjaga gawang untuk tim Andy, dan Jeb jadi penjaga gawang untuk tim Lily. Mereka sama-sama hebat. Aku bisa melihat siluet mereka dalam cahaya lampu-lampu tiang gawang, bergerak lincah seakan usia mereka puluhan tahun lebih muda. Jeb tidak takut menjatuhkan diri ke lantai untuk menggagalkan gol, tapi Maggie lebih efektif tanpa harus melakukan tindakan-tindakan ekstrem semacam itu. Perempuan tua itu seperti magnet bagi bola yang tak terlihat. Setiap kali Ian atau Wes melayangkan tendangan… duk! Bola mendarat di tangan Maggie.
Trudy dan Paige berhenti bermain setelah sekitar setengah jam. Mereka melewatiku waktu berjalan keluar, seraya mengobrol gembira. Tampaknya mustahil kami memulai pagi ini dengan pengadilan, tapi aku lega karena semua tidak berubah drastis.
Kedua perempuan itu tidak pergi lama. Mereka kembali dengan tangan penuh kotak. Granola-granola batangan—yang berisi buah. Permainan berhenti. Jeb meneriakkan istirahat setengah permainan, dan semua bergegas menyantap sarapan.
Makanan itu dibagikan di garis tengah. Mulanya semua berkerumun dan saling berebut.
“Ini, Wanda,” ujar Jamie, seraya merunduk keluar dari kerumunan. Tangannya penuh granola batangan, dan botol-botol air minum terseip di bawah kedua lengannya.
“Terima kasih. Kau bersenang-senang?”
“Ya! Kalau saja kau bisa ikut bermain.”
“Lain kali,” ujarku.
“Ini…” Ian berada di sana, kedua tangannya penuh granola batangan.
“Aku duluan,” kata Jamie kepadanya.
“Oh,” ujar Jared, yang muncul di sisi lain Jamie. Ia juga membawa terlalu banyak granola batangan untuk satu orang.
Ian dan Jared berpandangan untuk waktu lama.
“Mana makanannya?” desak Kyle. Ia berdiri di samping kotak kosong, kepalanya berputar berkeliling, mencari tersangka pencurinya.
“Tangkap,” ujar Jared. Ia melemparkan granola-granola batangan itu satu per satu, kuat-kuat, seakan melempar pisau.
Kyle menangkap semuanya dengan mudah, lalu lari mendekat untuk melihat apakah Jared masih menyembunyikan beberapa.
“Ini,” ujar Ian. Ia menyorongkan setengah bawaannya kepada kakaknya tanpa memandang Kyle. “Sekarang pergilah.”
Kyle mengabaikannya. Untuk pertama kali hari ini ia memandangku, menunduk menatapku di tempat dudukku. Selaput pelangi matanya berwarna hitam diterangi cahaya di belakangnya. Aku tak bisa membaca ekspresi wajahnya.
Aku menciut, dan menahan napas ketika tulang-tulang rusukku memprotes.
Jared dan Ian berdiri berdampingan di hadapanku seperti tirai panggung pertunjukan.
“Dengarkan kata-kata Ian,” ujar Jared.
“Bisakah aku mengucapkan sesuatu lebih dulu?” tanya Kyle. Ia mengintip lewat celah di antara Jared dan Ian.
Keduanya tidak menjawab.
“Aku tidak menyesal,” ujar Kyle kepadaku. “Aku masih merasa perbuatanku benar.”
Ian mendorong kakaknya. Kyle sempoyongan mundur, tapi kembali melangkah maju.
“Tunggu, aku belum selesai.”
“Ya, kau sudah selesai,” ujar Jared. Tangannya terkepal, kulit di buku-buku jarinya memutih.
Kini semua orang memperhatikan. RUangan hening, semua kegembiraan bermain lenyap.
“Tidak, belum selesai.” Kyle mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat menyerah, lalu kembali bicara kepadaku. “Menurutku aku tidak bersalah, tapi kau memang menyelamatkan nyawaku. Aku tidak tahu mengapa, tapi kau melakukannya. Jadi, kupikir, nyawa dibalas dengan nyawa. Aku tidak akan membunuhmu. Kubayar utangku dengan cara itu.”
“Kau bajingan tolol,” ujar Ian.
“Siapa  yang naksir cacing, DIk?” Kau hendak menyebutku tolol?”
Ian mengangkat tinjunya, lalu mencondongkan tubuh ke depan.
“Akan kukatakan mengapa,” kataku. Kubuat suaraku lebih keras daripada yang kuinginkan. Itu menghasilkan dampak yang kuinginkan. Ian, Jared, dan Kyle berbalik menatapku. Sejenak mereka melupakan perkelahian.
Aku jadi gugup. Aku berdehem. “Aku tidak membiarkanmu jatuh karena… karena aku tidak sepertimu. Aku tidak mengatakan aku tidak… seperti manusia. Karena ada orang-orang lain di sini yang akan melakukan hal yang sama. Ada orang-orang baik dan bijak di sini. Orang-orang seperti adikmu, dan Jeb, dan Doc… aku mengatakan bahwa aku tidak seperti dirimu secara pribadi.”
Kyle menatapku sejenak, lalu tergelak. “Aduh,” katanya, masih tertawa. Lalu ia berbalik pergi. Pesannya sudah tersampaikan, dan ia pergi untuk mengambil air minum. “Nyawa dibalas dengan nyawa,” teriaknya, seraya menoleh ke belakang.
Aku tak yakin apakah aku mempercayainya. Sama sekali tak yakin. Manusia adalah pembohong yang baik.










The Host- Bab 34

0 comments
DIMAKAMKAN



Jared menerjang maju, menjauhiku. Dengan suara gedebuk keras, tinjunya menghantam wajah Kyle.
Mata Kyle berputar ke belakang, mulutnya terbuka.
Selama beberapa detik ruangan sangat hening.
“Um,” ujar Doc pelan, “secara medis, aku tak yakin apakah itu tindakan yang paling membantu untuk kondisinya.”
“Tapi aku merasa lebih baik,” jawab Jared muram.
Doc tersenyum kecil. “Well, beberapa menit ketidaksadaran mungkin takkan membunuhnya.”
Doc mulai memeriksa bagian bawah kelopak mata Kyle lagi, mengukur denyut nadinya…
“Apa yang terjadi?” Wes berada di dekat kepalaku, berbisik.
“Kyle mencoba membunuh makhluk itu,” jawab Jared, sebelum aku bisa menjawab. “Tidak mengejutkan, bukan?”
“Memang,” gumamku.
Wes memandang Jared.
“Tampaknya altruisme muncul lebih alami pada mahluk itu dibandingkan kebohongan,” ujar Jared.
“Apakah kau sedang mencoba bersikap menjengkelkan?” desakku.
Kesabaranku bukannya berkurang, melainkan lenyap seluruhnya. Sudah berapa lama aku tidak tidur? Satu-satunya yang lebih menyakitkan daripada kakiku adalah kepalaku. Setiap tarikan napas membuat sisi tubuhku sakit. Kusadari, dengan agak terkejut, bahwa suasana hatiku benar-benar buruk. “Karena seandainya demikian, maka yakinlah, kau berhasil.”
Jared dan Wes memandangku dengan mata terkejut. Aku yakin, seandainya bisa melihat yang lain, ekspresi mereka juga bakal serupa. Mungkin Jeb tidak. Ia ahli dalam memperlihatkan wajah tanpa ekspresi.
“Aku perempuan,” keluhku. “Istilah ‘mahluk itu’ benar-benar membuatku jengkel.”
Jared mengerjap terkejut. Lalu wajahnya kembali membentuk garis-garis keras. “Karena tubuh yang kau kenakan?”
Wes memelototinya.
“Karena aku perempuan,” desisku.
“Berdasarkan definisi siapa?”
“Bagaimana kalau definisimu? Pada spesiesku, akulah yang melahirkan. Bukankah itu cukup perempuan bagimu?”
Perkataanku langsung membungkam Jared. Aku nyaris merasa bangga terhadap diriku sendiri.
Memang sudah seharusnya, ujar Melanie setuju. Ia keliru, dan bersikap menjengkelkan soal itu.
Terima kasih.
Sebagai sesame perempuan, kita harus bersatu.
“Itu kisah yang belum pernah kauceritakan kepada kami,” gumam Wes, sementara Jared berjuang mencari bantahan. “Bagaimana cara kerjanya?”
Wajah zaitun Wes semakin gelap, seakan ia baru saja menyadari kata-kata itu telah diucapkan keras-keras. “Maksudku, kurasa kau tidak perlu menjawab jika pertanyaanku tidak sopan.”
Aku tertawa. Suasana hatiku berganti-ganti dengan liar, tak terkendali. Mabuk karena kurang tidur, seperti kata Melanie. “Tidak, kau  menanyakan sesuatu… yang tidak pantas. Kami tidak punya pengaturan terperinci… dan rumit… seperti spesies kalian.” Aku kembali tertawa, lalu merasakan wajahku menghangat. Kuingat dengan sangat jelas betapa rumitnya pengaturan itu.
Jangan berpikir kotor.
Itu pikiranmu, ujarku mengingatkan Melanie.
Aku mendesah. “Hanya ada beberapa dari kami yang menjadi… Ibu. Itu sebutan mereka untuk kami. Bukan ibu yang sesungguhnya, tapi kami berpotensi menjadi Ibu…” Aku kembali serius, merenungkannya. Tak ada ibu, tak ada ibu yang bertahan hidup, yang ada hanyalah ingatan-ingatan tentang mereka.
“Kau punya potensi itu?” tanya Jared kaku.
Aku tahu yang lain mendengarkan. Bahkan Doc menghentikan tindakannya meletakkan telinga di dada Kyle.
Aku tidak menjawab pertanyaan Jared. “Kami… agak menyerupai kawanan lebah, atau semut. Banyak sekali anggota keluarga yang tidak memiliki jenis kelamin, lalu ada ratu…”
“Ratu?” ulang Wes, memandangku dengan ekspresi aneh.
“Bukan seperti itu. Tapi hanya ada satu ibu untuk setiap lima sampai sepuluh ribu bangsaku. Terkadang kurang dari itu. Tak ada peraturan yang ketat.”
“Ada berapa banyak pejantan?” tanya Wes.
“Oh, tidak—tidak ada pejantan. Tidak. Sudah kubilang, prosesnya lebih sederhana.”
Mereka menungguku menjelaskan. Aku menelan ludah. Seharusnya aku tidak mengangkat topic ini. Aku tak ingin membicarakannya lagi. Apakah benar-benar menjadi masalah jika Jared memanggilku “mahluk itu”?
Mereka masih menunggu. Aku memberengut, tapi lalu bicara. Akulah yang memulai topic ini. “Ibu… membelah diri. Setiap… selnya—kurasa bisa kaubilang begitu, walaupun struktur kami tidak sama seperti struktur kalian—menjadi jiwa yang baru. Setiap jiwa yang baru membawa sedikit ingatan ibunya—sebagian dari ibunya yang tertinggal.”
“Berapa banyak sel?” tanya Doc penasaran. “Berapa banyak anak?”
Aku mengangkat bahu. “Sekitar satu juta.”
Sejauh pandanganku, semua mata membelalak dan tampak sedikit lebih liar. Aku mencoba untuk tidak merasa terlukka ketika Wes menjauh dariku.
Doc bersiul pelan. Ia satu-satunya yang masih tertarik untuk melanjutkan. Aaron dan Andy menunjukkan ekspresi cemas, bingung. Mereka belum pernah mendengarku mengajar. Belum pernah mendengarku bicara begitu banyak.
“Kapan itu terjadi? Adakah semacam katalisator?” tanya Doc.
“Itu pilihan. Pilihan sukarela,” jawabku. “Satu-satunya cara kami untuk memilih kematian dengan sukarela. Semacam pertukaran, demi generasi baru.”
“Kau bisa memilihnya sekarang? Membelah semua selmu, begitu saja?”
“Tidak persis seperti itu, tapi ya.”
“Rumitkah?”
“Yang rumit adalah keputusannya. Prosesnya… menyakitkan.”
“Menyakitkan?”
Mengapa Doc harus seterkejut itu? Bukankah hal yang sama terjadi pada bangsanya?
Dasar laki-laki, dengus Melanie.
“Menyiksa,” jawabku. “Kami semua ingat apa yang dialami ibu kami.”
Doc mengusap-usap dagu, terpukau. “Aku ingin tahu, itu jalur evolusi macam apa… menghasilkan masyarakat lebah dengan ratu yang bunuh diri…” Ia terhanyut dalam rangkaian pikiran yang lain.
“Altruisme,” gumam Wes.
“Hmm,” ujar Doc. “Ya, tepat.”
Kupejamkan mata, berharap mulutku tetap mengatup. Kepalaku pening. Apakah aku hanya lelah atau apakah itu karena luka di kepalaku?
“Oh,” gumam Doc. “Tidurmu bahkan lebih sedikit daripada tidurku, bukan, Wanda? Kami harus membiarkanmu istirahat.”
“Aku baik-baik saja,” gumamku, tanpa membuka mata.
“Hebat sekali,” bisik seseorang. “Kita punya mahluk luar angkasa, ibu ratu terkutuk, yang tinggal bersama kita. Dia bisa meledak menjadi sejuta serangga baru setiap saat.”
“Sst.”
“Mereka takkan bisa melukai kalian,” ujarku, kepada siapa pun yang baru saja bicara, tanpa membuka mata. “Tanpa tubuh inang, mereka mati dengan cepat.” Aku mengernyit, membayangkan kedukaan yang tak terbayangkan. Sejuta jiwa mungil tak berdaya, bayi perak mungil, layu…
Tak seorang pun berkomentar, tapi bisa kurasakan kelegaan mereka.
Aku lelah sekali. Aku tak peduli Kyle berada satu meter dariku. Aku tak eduli dua di antara para lelaki di ruangan ini akan membela Kyle jika ia sudah tersadar. Aku tidak memedulikan apa pun, kecuali tidur.
Tentu saja Walter terbangun tepat pada saat itu.
“Uuuh,” erangnya, hanya berupa bisikan. “Gladdie?”
Sambil mengerang aku berguling ke arahnya. Rasa sakit di kakiku membuatku mengernyit, tapi aku tak mampu memutar tubuh. Kuulurkan tangan, dan kutemukan tangannya.
“Di sini,” bisikku.
“Ahhh.” Walter mendesah penuh kelegaan.
Doc menyuruh para lelaki yang mulai memprotes untuk diam.
“Wanda telah mengorbankan tidur dan kedamaiannya untuk membantu mengurangi Walter mengurangi rasa sakit. Kedua tangannya memar-memar akibat memegangi tangan Walter. Apa yang sudah kalian perbuat untuk Walter?”
Walter kembali mengerang. Suaranya mula-mula rendah dan parau, tapi dengan cepat berubah jadi erangan bernada tinggi.
Doc mengernyit. “Aaron, Andy, Wes… maukah kaliah, ah, memanggilkan Sharon untukku?”
“Kami semua?”
“Minggat sana,” Jeb menerjemahkan.
(catatanku: “I really love uncle Jeb… hehehe”)
Satu-satunya jawaban yang terdengar hanyalah suara kaki terseret ketika mereka pergi.
“Wanda,” bisik Doc di dekat telingaku. “Walter kesakitan. Aku tak bisa membiarkannya sadar sepenuhnya.”
Kucoba untuk bernapas teratur. “Lebih baik baginya jika dia tidak mengenaliku. Lebih baik baginya jika dia mengira Gladdie berada di sini.”
Kubuka mataku. Jeb berada di samping Walter—wajah Walter masih tampak seakan sedang tidur.
“Selamat tinggal, Walt,” ujar Jeb. “Sampai bertemu di dunia lain.”
Ia melangkah mundur.
“Kau lelaki baik. Semua orang akan merasa kehilangan,” gumam Jared.
Doc membuka bungkusan morfin lagi. Kertasnya bergemersik.
“Gladdie?” isak Walter. “Sakit sekali.”
“Ssst. Tak lama lagi sakitnya akan hilang. Doc akan menghentikannya.”
“Gladdie?”
“Ya?”
“Aku mencintaimu, Gladdie. Aku mencintaimu sepanjang hidupku.”
“Aku tahu, Walter. Aku—aku juga mencintaimu. Kau tahu betapa aku mencintaimu.”
Walter mendesah.
Kupejamkan mata ketika Doc membungkuk di atas tubuh Walter dengan membawa jarum suntik.
“Selamat tidur, Sobat,” gumam Doc.
Jemari Walter berubah santai, lemas. Kugenggam kedua tangannya—kini akulah yang menggayuti Walter.
Menit demi menit berlalu dan semuanya hening, kecuali suara napasku ang tersendat, cenderung terisak pelan.
Seseorang menepuk bahuku. “Dia sudah pergi, Wanda,” ujar Doc. Suaranya parau. “Dia sudah tidak kesakitan.”
Doc melepaskan tanganku dari tangan Walter, dan perlahan-lahan menggulingkan tubuhku dari posisi ganjil menjadi posisi yang lebih tidak menyiksa. Tapi hanya sedikit bedanya. Setelah aku tahu Walter takkan terganggu, tangisku tak lagi pelan. Kupegangi pinggangku yang berdenyut-denyut.
“Oh, silahkan. Kalau itu membuatmu senang,” gumam Jared dengan nada menggerutu. Aku mencoba membuka mata, tapi tak bisa melakukannya.
Sesuatu menusuk lenganku. Aku tak ingat lenganku terluka. Dan di tempat aneh, hanya di siku bagian dalam…
Morfin, bisik Melanie.
Kami sudah mulai tak sadarkan diri. Aku mencoba untuk merasa takut, tapi tak bisa. Aku sudah pergi terlalu jauh.
Tak seorang pun mengucapkan selamat tinggal, pikirku. Aku tak bisa mengharapkan Jared… Tapi Jeb… Doc… Ian taka da di sini…
Tak seorang pun mati, janji Melanie kepadaku. Kali ini kau hanya tidur…
#
Ketika aku terbangun, langit-langit di atasku suram diterangi cahaya bintang. Malam hari. Ada banyak bintang. Aku bertanya-tanya di mana aku berada. Tak ada penghalang-penghalang hitam, taka da potongan langit-langit di dalam pandanganku. Hanya bintang dan bintang dan bintang…
Angin mengipasi wajahku. Baunya seperti… debu dan… sesuatu yang tak bisa kupahami. Ketidakhadiran. Bau apak itu tak ada. Tak ada Sulfur, dan udara sangat kering.
“Wanda?” bisik seseorang, seraya menyentuh pipiku yang tidak cedera.
Mataku menemukan wajah Ian, pucat dalam cahaya bintang, membungkuk di atas tubuhku. Tangan Ian yang menyentuh kulitku lebih sejuk daripada angina sepoi-sepoi. Tapi udara sangat kering, sampai terasa tidak nyaman. Di mana aku?
“Wanda? Kau sudah bangun? Mereka tidak mau menungu lebih lama.”
Aku berbisik, karena Ian juga berbisik. “Apa?”
“Mereka sudah mulai. Aku tahu, kau pasti ingin berada di sini.”
“Dia sudah sadar?” tanya Jeb.
“Apa yang sudah dimulai?” tanyaku.
“Pemakaman Walter.”
Aku mencoba duduk, tapi tubuhku lemah. Tangan Ian berpindah ke keningku, membaringkanku.
Kugerakkan kepalaku di bawah telapak tangannya, mencoba melihat…
Aku berada di luar.
Di luar.
Di kiriku tumpukan batu kasar tak beraturan membentuk gunung kecil, lengkap dengan semak-semak pendeknya. Di kananku dataran padang gurun membentang sampai lenyap dalam kegelapan. Aku menunduk, memandang melewati kakiku, dan melihat kerumunan manusia yang merasa tidak nyaman di udara terbuka. Aku tahu persis apa yang mereka rasakan. Terekspos.
Aku mencoba bangkit. Aku ingin berada lebih dekat, untuk menyaksikan. Tangan Ian menahanku.
“Tenanglah,” katanya. “Jangan mencoba berdiri.”
“Bantu aku,” ujarku memohon.
“Wanda?”
Aku mendengar suara Jamie, lalu melihatnya, rambutnya memantul-mantul ketika ia berlari ke tempatku terbaring.
“Mereka tidak menunggu,” ujar Jamie kepada Ian. “Sebentar lagi selesai.”
“Bantu aku berdiri,” kataku.
Jamie meraih tanganku, tapi Ian menggeleng. “Aku bisa.”
Ian menyelipkan kedua lengannya ke bawah tubuhku, dengan sangat berhati-hati, untuk menghindari tempat-tempat yang paling sakit. Ia mengangkatku dari tanah, kepalaku berputar-putar seperti kapal nyaris karam. Aku mengerang.
“Apa yang dilakukan Doc kepadaku?”
“Dia memberimu sedikit morfin yang tersisa, sehingga bisa memeriksa tanpa menyakitimu. Lagi pula kau perlu tidur.”
Aku memberengut, tidak setuju. “Bukankah orang lain akan lebih memerlukan morfin itu?”
“Sst,” ujar Ian, dan aku bisa mendengar suara rendah di kejauhan. Kutolehkan kepalaku.
Aku bisa melihat kumpulan manusia itu lagi. Mereka berdiri di mulut lubang terbuka, rendah, dan gelap, yang dibentuk angina di bawah tumpukan batu yang tampak tidak stabil. Mereka berdiri dalam barisan tak teratur, menghadap gua teduh itu.
Aku mengenali suara Trudy.
“Walter selalu melihat sisi cerah segala sesuatu. Ia bisa melihat sisi cerah lubang hitam. Itu akan kurindukan.”
Kulihat sesosok tubuh melangkah maju, kulihat ayunan kepang rambut hitam keabu-auan ketika sosok itu bergerak, dan aku menyaksikan Trudy melempar segenggam sesuatu ke dalam gelap. Pasir menyebar dari jemarinya, jatuh ke tanah dengan bunyi berdesis perlahan.
Trudy kembali dan berdiri di samping suaminya. Geoffrey bergerak menjauhinya, melangkah maju ke lubang hitam.
“Kini dia akan bertemu Gladys-nya. Dia lebih berbahagia di tempatnya sekarang.” Geoffrey melempar segenggam pasir.
Ian membopongku ke kanan barisan, cukup dekat untuk melihat ke dalam gua suram itu. Ada lubang yang lebih gelap di hadapan kami, bentuknya persegi panjang besar, dan seluruh populasi manusia itu berdiri mengelilinginya, membentuk setengah lingkaran tak beraturan.
Semua ada di sana—semua orang.
Kyle melangkah maju.
Aku gemetar, dan Ian meremas pelan tanganku.
Kyle tidak memandang kea rah kami. Kulihat wajahnya dari samping; mata kanannya bengkak sampai nyaris menutup.
“Walter mati sebagai manusia,” ujar Kyle. “Tak seorang pun dari kami bisa meminta lebih dari itu.” Ia melempar segenggam pasir ke lubang gelap itu.
Lalu Kyle kembali bergabung dengan kelompok itu.
Jared berdiri di sampingnya. Ia melangkah sebentar, berhenti di bibir makam Walter.
“Walter sangat baik hati. Tak seorang pun dari kami bisa menandinginya.” Ia melemparkan pasirnya.
Jamie melangkah maju, Jared menepuk bahunya saat mereka berpapasan.
“Walter pemberani,” ujar Jamie. “Dia tidak takut mati, dia tidak takut hidup, dan… dia tidak takut untuk percaya. Dia membuat keputusan-keputusannya sendiri, dan dia membuat keputusan-keputusan yang baik.” Jamie melemparkan pasirnya. Ia berbalik, berjalan kembali, sepanjang itu matanya terpaku padaku.
“Giliranmtimuu,” bisik Jamie, ketika sudah ada di sampingku.
Andy sudah bergerak maju, dengan sekop di tangan.
“Tunggu,” ujar Jamie, dengan suara rendah yang terdengar di dalam keheningan. “Wanda dan Ian belum mengucapkan apa-apa.”
“Kita harus saling menghormati,” ujar Jeb, suaranya lebih keras daripada suara Jamie. Rasanya terlalu keras buatku.
Insting pertamaku adalah memberi isyarat pada Andy untuk melanjutkan, dan meminta Ian membawaku pergi. Ini duka manusia, bukan dukaku.
Tapi aku memang berduka. Dan aku memang ingin mengatakan sesuatu.
“Ian, bantu aku mengambil pasir.”
Ian berjongkok sehingga aku bisa mengambil segenggam kerikil di kaki kami. Ia memindahkan bobot tubuhku ke lututnya, sehingga ia bisa mengambil pasir juga. Lalu ia menegakkan tubuh dan membopongku ke tepi makam.
Aku tidak bisa melihat ke dalam lubang. Tampak gelap di bawah naungan batu, dan sepertinya makam itu sangat dalam. Ian mulai bicara sebelum aku bisa melakukannya.
“Walter manusia terbaik dan paling bijak,” ujarnya, lalu ia menyebarkan pasirnya ke lubang. Rasanya lama sekali sebelum aku mendengar pasir itu berdesis menimpa dasar lubang.
Ian menunduk memandangku.                  
Suasana benar-benar hening di malam berpenerangan cahaya bintang itu. Bahkan angin pun tenang. Aku berbisik, tapi aku tahu suaraku terdengar semua orang.
“Tak ada kebencian di dalam hatimu,” bisikku. “Keberadaanmu membuktikan kami keliru. Kami tak punya hak untuk mengambil duniamu darimu, Walter. Kuharap dongeng-dongengmu benar. Kuharap kau menemukan Gladdie-mu.”
Kubiarkan batu-batu itu bergulir dari jemariku, dan kutunggu sampai aku mendengar batu-batu itu jatuh dengan bunyi pelan di atas tubuh Walter yang tampak samar-samar dalam kuburan gelap dan dalam itu.
Begitu Ian melangkah mundur, Andy langsung bekerja. Ia menyekop gundukan tanah pucat berdebu yang menumpuk beberapa puluh sentimeter jauhnya, lalu memasukkannya ke lubang. Muatan sekop itu jatuh dengan bunyi berdebum, bukan berdesis. Suaranya membuatku kecut.
Aaron melangkah melewati kami dengan sekop lain. Ian berbalik perlahan-lahan dan membopongku pergi untuk memberi mereka tempat. Bunyi berdebum keras tanah yang jatuh menggema di belakang kami. Suara-suara  rendah mulai terdengar. Aku mendengar suara langkah ketika orang-orang berkumpul, berdesak-desakan untuk membahas pemakaman itu.
Aku benar-benar memandang Ian untuk pertama kali ketika ia berjalan kembali ke Kasur gelap di tanah terbuka itu. Ekspresinya seakan salah tempat, dan bukan miliknya. Wajah Ian dikotori debu pucat, ekspresinya lelah, dan aku pernah melihat wajahnya seperti itu sebelumnya. Aku tak bisa ingat kapan, ketika Ian meletakkanku kembali ke atas Kasur dan perhatianku teralihkan. Apa yang seharusnya kulakukan di luar sini, di tempat terbuka? Tidur? Doc berada persis di belakang kami; Doc dan Ian sama-sama berlutut di pasir di sebelahku.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Doc, meraba bagian samping tubuhku.
Aku ingin duduk, tapi Ian menekan bahuku ketika aku mencoba.
“Aku baik-baik saja. Kurasa aku bisa berjalan…”
“Tak perlu memaksakan diri. Istirahatkan kaki itu selama beberapa hari, oke?” Doc menarik kelopak mataku ke atas, dan menyorotkan senter mungilnya ke sana. Mata kananku melihat refleksi cemerlang yang menari-nari di wajah Doc. Doc mengalihkan pandangan dari cahaya itu, menjauh beberapa senti. Tangan Ian di bahuku tetap tidak bergerak. Itu mengejutkanku.
“Hmm. Itu tidak membantu diagnosis, bukan? Bagaimana kepalamu?” tanya Doc.
“Sedikit pening. Tapi kurasa karena obat-obatan yang kau berikan kepadaku, bukan karena lukanya. Aku tidak suka obat-obatan itu—kurasa aku lebih suka merasakan sakit.”
Doc meringis. Begitu juga Ian.
“Apa?” desakku.
“Aku hendak membuatmu tak sadarkan diri lagi, Wanda. Maaf.”
“Tapi… mengapa?” bisikku. “Aku tidak sesakit itu. Aku tidak ingin—“
“Kami harus membawamu kembali ke dalam,” ujar Ian, menyelaku. Suaranya rendah, seakan tak ingin yang lain mendengar. Aku bisa mendengar suara-suara di belakang kami, menggema pelan dari batu-batu. “Kami berjanji… kau akan tidak sadarkan diri.”
“Tutup saja mataku lagi.”
Doc mengeluarkan jarum suntik mungil dari saku. Isinya tinggal seperempat. Aku menjauh, mendekatkan diri pada Ian. Tangannya di bahuku menahanku.
“Kau mengenal gua itu dengan sangat baik,” gumam Doc. “Mereka tak ingin kau punya peluang untuk menebak…”
“Tapi ke mana aku akan pergi?” bisikku. Suaraku panic. “Kalaupun aku tahu jalan keluar? Mengapa aku ingin pergi sekarang?”
“Kalau itu menenangkan pikiran mereka…,” ujar Ian.
Doc meraih pergelangan tanganku, dan aku tidak melawan. Aku berpaling ketika jarum menusuk kulitku. Kupandang Ian. Matanya kelam dalam gelap, dan menegang ketika aku menuduhnya sebagai pengkhianat dengan tatapanku.
“Maaf,” gumam Ian. Itu hal terakhir yang kudengar.







The Host - Bab 30

0 comments


Salah Sangka

“Mel?” Tanya Jared lagi. Harapan yang tak ingin dirasakannya mewarnai nada suaranya.
Napasku kembali tersangkut dalam isak tangis; kejutan susulan.
“Kau tahu itu untukmu, Mel. Kau tahu itu bukan untuk—nya. Kau tahu aku tidak menciumnya.”
Isak tangisku semakin keras. Aku mengerang. Mengapa aku tak bisa menutup mulut? Aku mencoba menahan napas.
“Seandainya kau ada di dalam sana, Mel…” Jared berhenti.
Melanie membenci  kata “seandainya”. Tangis meledak lewat paru-paruku, dan aku terengah-engah.
“Aku mencintaimu,” ujar Jared. “Bahkan seandainya kau tak ada di sana, seandainya kau tak bisa mendengarku. Aku mencintaimu.”
Aku kembali menahan napas, menggigit bibir sampai berdarah. Rasa sakit fisik itu tidak mengalihkan perhatianku, seberapa besar pun harapanku.
Di luar lubang hening, lalu di dalam gua juga, ketika aku berubah murung. Aku mendengarkan dengan seksama, hanya berkonsentrasi pada apa yang bisa kudengar. Aku tak mau berpikir. Tidak terdengar suara.
Aku menekuk dalam posisi paling mustahil. Kepalaku berada di titik terendah, sisi kanan wajahku menekan lantai batu yang kasar. Kedua bahuku miring di sekitar pinggiran kotak yang penyok, bahu kanan lebih tinggi daripada yang kiri. Pinggulku membentuk sudut berlawanan, betis kiriku menekan langit-langit. Bertempur melawan kotak-kotak meninggalkan memar di tubuhku. Bisa kurasakan memar-memar itu bermunculan. Aku tahu aku harus mencari cara untuk menjelaskan kepada Ian dan Jamie, bahwa akulah yang melakukan ini terhadap diriku sendiri. Tapi bagaimana caranya? Apa yang harus kukatakan? Bagaimana aku bisa menceritakan kepada mereka bahwa Jared menciumku sebagai ujian, seperti menyetrum tikus percobaan untuk mengamati reaksinya?
Dan berapa lama aku harus mempertahankan posisi ini? Aku tak ingin menciptakan suara apa pun, tapi rasanya tulang punggungku bakal patah dalam hitungan menit. Rasa sakit itu semakin tak tertahankan setiap detiknya. Aku takkan bisa menanggungkannya dalam kebisuan untuk waktu yang lama. Erangan sudah naik di dalam tenggorokanku.
Melanie tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Diam-diam ia mencoba mengatasi kelegaan dan kemarahannya sendiri. Jared telah berbicara dengannya, akhirnya mengakui keberadaannya. Jared telah menyatakan cintanya. Tapi Jared menciumku. Melanie sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa tak ada alasan untuk merasa terluka, sedang mencoba mempercayai semua alasan kuat mengapa bukan seperti ini rasanya. Ia mencoba, tapi gagal. Aku bisa mendengar semua ini, tapi Melanie mengarahkannya pada diri sendiri. Ia tidak bicara denganku—di dalam pengertian kekanak-kanakan dan sempit frasa itu. Aku diabaikan.
Kurasakan munculnya kemarahan yang tak kukenal terhadap Melanie. Berbeda dengan dulu, ketika aku merasa takut padanya dan berharap ia terhapus dari benakku. Tidak. Kini aku juga merasa dikhianati. Bagaimana mungkin ia bisa marah kepadaku atas apa yang terjadi? Apakah itu masuk akal? Bagaimana mungkin aku yang bersalah karena telah jatuh cinta akibat ingatan-ingatan yang dipaksakannya kepadaku, lalu ditumbangkan tubuh liar ini? Aku peduli terhadap penderitaan Melanie, tapi rasa sakitku tak berarti apa-apa baginya. Ia menikmatinya. Dasar manusia keji.
Air mata yang jatuh lebih lemah daripada air mataku sebelumnya, mengalir di pipiku dalam kebisuan. Sikap bermusuhan Melanie terhadapku bergolak di benakku.
Dengan segera rasa sakit di punggungku yang memar dan terpilin tak tertahankan lagi. Cukup sudah.
“Ugh,” erangku, seraya mendorong batu dan karton ketika mundur.
Aku tak peduli lagi terhadap suara yang kuciptakan. Aku hanya ingin keluar. Aku bersumpah kepada diri sendiri, ambang lubang terkutuk ini takkan pernah kulewati lagi—langkahi dulu mayatku. Secara harfiah.
Lebih sulit untuk mendesak keluar daripada menyelinap masuk. Aku menggeliat dan meliuk-liuk sampai seakan-akan aku membuat segalanya semakin buruk. Tubuhku terlipat membentuk simpul tak beraturan. Aku mulai menangis lagi, seperti anak kecil, takut takkan pernah bisa bebas.
Melanie mendesah. Sangkutkan kakimu di mulut lubang dan tarik dirimu keluar, sarannya.
Aku mengabaikannya, berjuang menyelinapkan tubuhku di pojok yang sangat runcing. Ujungnya menusukku tepat di bawah rusuk.
Jangan picik, gerutunya.
Mengejutkan, karena kau bisa berkata seperti itu.
Aku tahu. Melanie bimbang, lalu menyerah. Oke, maaf. Sungguh. Dengar, aku manusia. Terkadang sulit untuk bersikap adil. Kami tidak selalu merasakan hal yang benar, melakukan hal yang benar.
Kebencian itu masih di sana, tapi ia mencoba memaafkan dan melupakan bahwa aku baru saja bermesraan dengan cinta sejatinya—setidaknya itulah yang ada dalam benaknya.
Kukaitkan kakiku di sekitar pinggiran lubang dan kusentakkan tubuhku. Lututku menghantam lantai, dan aku menggunakan posisi itu untuk melepaskan rusukku dari tonjolan. Setelah itu lebih mudah untuk mengeluarkan kakiku yang sebelah lagi dan kembali menyentakkan tubuh. Akhirnya kedua tanganku menemukan lantai, dan aku mendesakkan tubuhku. Kakiku keluar lebih dulu, lalu aku terjatuh ke kasur hijau tua. Sejenak aku berbaring di sana, tertelungkup, bernapas. Aku yakin saat ini Jared sudah lama pergi, tapi aku tidak langsung memastikannya. Aku hanya menarik dan mengembuskan napas, sampai merasa siap untuk mengangkat kepala.
Aku sendirian. Kucoba untuk tetap merasa lega dan melupakan kesedihan akibat kenyataan ini. Lebih baik sendirian. Lebih tidak memalukan.
Aku meringkuk di kasur. Kutekankan wajahku pada kain apak itu. Aku tidak mengantuk, tapi lelah. Beban akibat penolakan Jared begitu berat, membuatku kelelahan. Aku memejamkan mata dan mencoba memikirkan hal-hal yang takkan membuat mataku kembali basah. Apa saja kecuali pandangan terkejut di wajah Jared ketika melepaskan diri dariku…
Apa yang sedang dilakukan Jamie? Apakah ia tahu aku ada di sini, atau apakah ia sedang mencariku? Ian pasti sudah lama terlelap, ia tampak sangat lelah. Apakah Kyle akan segera bangun? Apakah ia bakal datang mencariku? Di mana Jeb? Aku belum berjumpa dengannya seharian. Apakah Doc benar-benar mabuk sampai tak sadarkan diri? Itu tampaknya mustahil…
Aku terjaga perlahan-lahan, dibangunkan perutku yang keroncongan. Aku berbaring diam beberapa menit, mencoba mengorientasikan diri. Ini siang atau malam? Berapa lama aku tidur sendirian di sini?
Tapi perutku tak mau diabaikan untuk waktu lama. Aku berguling, berlutut. Agaknya aku tidur cukup lama, sehingga merasa selapar ini. Aku telah melewatkan satu atau dua kali waktu makan.
Kupertimbangkan untuk menyantap sesuatu dari tumpukan bekal di dalam lubang. Bagaimanapun aku sudah merusak nyaris semuanya, dan mungkin menghancurkan bebeapa di antaranya. Tapi tindakan itu hanya akan membuatku merasa lebih bersalah, karena hendak mengambil lebih banyak lagi. Aku akan pergi mencari beberapa potong roti di dapur.
Aku merasa sedikit terluka, selain semua luka besar itu, karena telah berada di sini begitu lama dan tak seorang pun datang mencariku. Betapa sia-sia sikapku. Mengapa orang harus peduli terhadap apa yang terjadi padaku? Lalu aku merasa lega dan puas ketika mendapati Jamie duduk di ambang lubang menuju kebun besar, memunggungi dunia manusia di belakangnya. Tak salah lagi, ia pasti sedang menungguku.
Mataku berkilat-kilat gembira, begitu juga mata Jamie. Ia bangkit berdiri, wajahnya menunjukkan kelegaan.
“Kau baik-baik saja,” kata Jamie. Dan kuharap ia benar. Ia mulai mengoceh. “Maksudku, kurasa Jared tidak berbohong. Menurut dia, kau ingin sendirian. Dan Jeb bilang aku tidak boleh menengokmu, dan harus tetap di tempat, agar dia bisa melihat aku tidak menyelinap kembali ke sana. Tapi walaupun menurutku kau tidak terluka atau apa pun, berat bagiku untuk tidak mengetahui dengan pasti. Kau tahu, kan?”
“Aku baik-baik saja,” kataku. Tapi kuulurkan kedua lenganku, mencari penghiburan. Jamie memeluk pinggangku, dan aku terkejut karena kepalanya bisa bersandar di bahuku ketika kami berdiri.
“Matamu merah,” bisiknya. “Apakah Jared jahat padamu?”
“Tidak.” Bagaimanapun, orang tidak akan dengan sengaja bertindak kejam terhadap tikus laboratorium—mereka hanya berusaha memperoleh informasi.
“Apa pun yang kaukatakan kepada Jared, kurasa dia sekarang memercayai kita. Maksudku soal Mel. Bagaimana perasaan Mel?”
“Mel gembira soal itu.”
Jamie mengangguk senang, “Bagaimana denganmu?”
Aku bimbang, mencari jawaban berdasarkan fakta. “Mengucapkan kebenaran lebih mudah bagiku daripada mencoba menyembunyikannya.”
Pengelakanku tampaknya menjawab pertanyaan Jamie dengan cukup memuaskan.
Di belakangnya cahaya di kebun berwarna merah pudar. Matahari sudah terbenam di padang gurun.
“Aku lapar,” kataku, melepaskan diri dari pelukan Jamie.
“Aku tahu. Aku menyimpan makanan lezat untukmu.”
Aku mendesah. “Roti saja sudah cukup.”
“Sudahlah, Wanda. Kata Ian, kau terlalu mengorbankan kepentinganmu sendiri.”
Aku nyengir.
“Kurasa Ian ada benarnya,” gumam Jamie. “Bahkan seandainya kami semua menginginkanmu di sini, kau tidak akan menjadi bagian dari kami sampai kau sendiri memutuskan begitu.”
“Aku tak pernah bisa menjadi bagian dari kalian. Dan tak seorang pun benar-benar menginginkanku di sini, Jamie.”
“Aku menginginkannya.”
Aku tidak menentangnya, tapi Jamie keliru. Ia tidak berbohong; ia meyakini apa yang diucapkannya. Tapi yang benar-benar diinginkan Jamie adalah Melanie. Ia tidak memisahkan kami, seperti yang seharusnya ia lakukan.
Trudy dan Heidi sedang memanggang roti di dapur, sambil makan apel segar berwarna hijau cerah. Mereka menggigit buah itu bergantian.
“Senang melihatmu, Wanda,” ujar Trudy tulus. Ia menutup mulut ketika bicara, karena masih mengunyah gigitan apel terakhir. Heidi mengangguk member salam, giginya terbenam dalam apel. Jamie mencoba menyikutku diam-diam – untuk menunjukkan bahw orang-orang ini menginginkanku.  Ia tidak menganggap tindakan mereka sebagai sopan santun biasa.
“Kau menyimpan makanan untuknya?” Tanya Jamie bersemangat.
“Yep,” jawab Trudy. Ia membungkuk di samping oven, lalu kembali dengan nampan logam di tangan. “Kuhangatkan. Mungkin sekarang sudah keras dan tidak enak, tapi masih lebih baik daripada hidangan biasa.”
Di atas nampan ada potongan daging merah yang agak besar. Mulutku mulai meneteskan liur, walaupun jatah yang diberikan untukku itu kutolak.
“Terlalu banyak.”
“Kami harus menghabiskan semua makanan segar di hari pertama,” desak Jamie. “Semua makan sampai kekenyangan—sudah tradisi.”
“Kau perlu protein,” imbuh Trudy. “Kita sudah terlalu lama menyantap makanan gua. Aku heran mengapa tak seorang pun kondisinya kurang sehat.”
Aku menyantap proteinku, sementara Jamie mengawasi seperti burung elang ketika setiap suapan berpindah dari nampan ke mulutku. Aku menghabiskan semua untuk menyenangkan Jamie, walaupun makan begitu banyak akan membuat perutku sakit.
Dapur mulai terisi kembali ketika aku menghabiskan makanan. Beberapa orang memegang apel di tangan—semua berbagi dengan yang lain. Mata-mata penasaran meneliti sisi wajahku yang cedera.
“Mengapa semua orang kemari?” gumamku kepada Jamie. Di luar gelap, jam makan sudal lama lewat.
Sejenak Jamie memandangku dengan tatapan kosong. “Untuk mendengarmu mengajar.” Nada suaranya mengimbuhkan kata tentu saja.
“Kau bergurau?”
“Sudah kubilang, tak ada yang berubah.”
Aku menatap ke sekeliling ruang sempit itu. Tidak penuh. Tidak ada Doc malam ini, dan tak ada satu pun dari para penjarah yang baru pulang. Dan ini berarti tak ada Paige. Tak ada Jeb, tak ada Ian, tak ada Walter. Beberapa orang lainnya juga tidak ada: Travis, Carol, Ruth Ann. Tapi ini lebih daripada yang kukira, seandainya aku mengira semua orang akan mempertimbangkan untuk menjalankan rutinitas normal setelah hari yang begitu tidak normal.
“Bisakah kita kembali pada Lumba-lumba, pembahasan terakhir kita?” Tanya Wes, menyela evaluasiku atas ruangan itu. Bisa kulihat ia lebih berinisiatif membuka percakapan, bukannya benar-benar tertarik dengan hubungan kekerabatan di planet asing.
Semua memandangku penuh harap. Tampaknya kehidupan tidak berubah sebanyak yang kuperkirakan.
Aku mengambil nampan roti dari tangan Heidi, lalu berbalik untuk menyorongkannya ke dalam oven batu. Aku mulai bicara dengan posisi memunggungi.
“Jadi… um… hmm… pasangan kakek-nenek ketiga… Secara tradisional mereka melayani komunitas, sesuai dengan pemahaman mereka. Di Bumi mereka bisa disebut pencari nafkah, orang-orang yang meninggalkan rumah dan membawa pulang makanan serta minuman. Sebagian besar petani. Mereka mengolah sesuatu yang menyerupai tanaman, yang mereka ambil getahnya…”
Dan kehidupan pun berlanjut.
Jamie mencoba membujukku agar tidak tidur di koridor gudang, tapi usahanya hanya setengah hati. Tak ada tempat lain untukku. Dengan sikap keras kepala seperti biasa, ia berkeras tidur bersamaku. Kubayangkan Jared pasti tidak suka. Tapi karena aku tidak melihat Jared malam itu atau hari berikutnya, aku tidak bisa membuktikan teoriku.
Mengerjakan tugas-tugasku seperti biasa terasa canggung dengan kepulangan keenam penjarah. Rasanya sama persis seperti saat Jeb pertama kali memaksaku bergabung dengan komunitasnya. Tatapan-tatapan bermusuhan, kebisuan-kebisuan marah. Tapi ini lebih menyulitkan mereka daripada aku. Aku sudah terbiasa. Sebaliknya mereka sama sekali tidak terbiasa dengan cara semua orang lain memperlakukanku. Ketika aku membantu memanen jagung, misalnya. Lily tersenyum dan berterima kasih kepadaku atas keranjang yang baru saja kubawakan, dan mata Andy melotot melihatnya. Atau ketika aku sednag menunggu kolam mandi bersama Trudy dan Heidi, lalu Heidi memain-mainkan rambutku. Belakangan rambutku yang sudah panjang selalu menutupi mata, dan aku berencana mengguntingnya. Heidi mencoba mencari gaya yang cocok untukku. Ia membolak-balik helaian-helaian rambutku. Brandt dan Aaron—Aaron lelaki tertua yang pergi dalam penjarahan panjang itu, aku sama sekali tak ingat pernah melihatnya sebelumnya—muncul dan melihat kami di sana. Trudy menertawakan gaya konyol yang sedang berusaha diciptakan Heidi di atas kepalaku, dan wajah kedua lelaki itu sedikit memucat, lalu mereka berjalan diam-diam melewati kami.
Tentu saja hal-hal kecil seperti itu tak ada artinya. Kini Kyle menjelajahi ruang-ruang gua. Dan walaupun ia pasti sudah diperintahkan untuk tidak menggangguku, dari ekspresinya jelas terlihat bahwa larangan ini menjijikan baginya. Aku selalu bersama-sama dengan yang lain ketika berjumpa dengannya, dan aku bertanya-tanya apakah itu satu-satunya alasan Kyle tidak melakukan apa-apa, selain memelototiku dan tanpa sadar mengepalkan jari-jari tangannya yang tebal. Ini mengembalikan semua kepanikanku selama minggu-minggu pertama di sini dulu, menghindari area-area bersama—seandainya tidak memperhatikan hal yang lebih penting daripada tatapan mengerikan Kyle di malam kedua.
Dapur kembali terisi. Aku tak yakin seberapa banyak orang yang tertarik pada cerita-ceritaku, dan seberapa banyak yang tertarik pada cokelat-cokelat batangan yang dibagikan Jeb. Aku menolak bagianku, lalu menjelaskan kepada Jamie yang menggerutu bahwa aku tidak bisa bicara dan menelan pada saat bersamaan. Aku curiga ia akan menyimpankan cokelat itu untukku, bersikap keras kepala seperti biasa. Ian sudah kembali di kursi panasnya seperti biasa, di samping perapian. Andy ada di sana—matanya waspada—di samping Paige. Tak seorang pun dari penjarah-penjarah lainnya, termasuk Jared tentu saja, hadir. Doc tak ada di sana, dan aku bertanya-tanya apakah ia masih mabuk atau mungkin pusing. Dan sekali lagi, Walter tidak ada.
Geoffrey, suami Trudy, mengajukan pertanyaan kepadaku untuk pertama kali malam ini. Aku senang, walaupun berusaha untuk tidak menunjukkannya, karena tampaknya ia telah bergabung dengan kelompok manusia yang menoleransi kehadiranku. Tapi sayang sekali aku tak bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Pertanyaan-pertanyaannya serupa dengan pertanyaan-pertanyaan Doc.
“Aku tidak begitu tahu mengenai Penyembuhan setelah… setelah aku tiba di sini untuk pertama kali. Aku belum pernah sakit. Yang kutahu hanyalah, kami tidak akan memilih sebuah planet jika tidak bisa mempertahankan tubuh inang-inangnya dengan sempurna. Tak ada yang tak bisa disembuhkan, mulai dari luka sederhana, patah tulang, sampai penyakit. Kini usia tua adalah satu-satunya penyebab kematian. Bahkan tubuh manusia sehat pun hanya dirancang untuk bertahan hidup selama itu. Dan kurasa juga terjadi kecelakaan-kecelakaan, walaupun tidak begitu sering menimpa jiwa. Kami berhati-hati.”
“Manusia bersenjata tidak bisa disebut kecelakaan,” gumam seseorang. Aku sedang memindahkan roti-roti panas; aku tidak melihat siapa yang bicara, dan tidak mengenali suaranya.
“Ya, itu benar,” ujarku setuju.
“Kalau begitu, kau tahu apa yang mereka gunakan untuk mengobati penyakit?” desak Geoffrey. “Apa yang ada di dalam obat-obatan mereka?”
Aku menggeleng. “Maaf, aku tak tahu. Itu tidak menarik perhatianku, ketika dulu aku punya akses terhadap informasinya. Kurasa aku telah menyepelekannya. Aku selalu bisa mendapat kesehatan yang baik di setiap planet yang pernah kutinggali.”
Pipi merah Geoffrey semakin membara. Ia menunduk, bibirnya terkatup marah. Apakah perkataanku menyinggungnya?
Heath, yang duduk di samping Geoffrey, menepuk-nepuk lengannya. Seluruh ruangan langsung hening.
“Uh—tentang para Hering…,” ujar Ian. Kata-katanya dipaksakan, sengaja mengubah pokok pembicaraan. “Aku tidak tahu apakah bagian yang ini terlewatkan olehku, tapi seingatku kau tak pernah menjelaskan tentang ‘kejahatan’ mereka?”
Ini bukanlah sesuatu yang pernah kujelaskan, tapi aku sangat yakin Ian tidak benar-benar tertarik—ini hanya pertanyaan pertama yang terlintas di dalam pikirannya.
Kelas informalku berakhir lebih awal daripada biasa. Hanya ada sedikit pertanyaan, dan sebagian besar diajukan Jamie serta Ian. Pertanyaan-pertanyaan Geoffrey membuat yang lain sibuk berpikir.
“Well, besok kita harus bangun lebih awal, untuk mencabuti batang-batang…,” ujar Jeb, setelah muncul keheningan yang canggung lagi. Ia menjadikan kata-katanya sebagai perintah pembubaran. Orang-orang bangkit berdiri, menggeliat, bicara dengan suara rendah yang kedengarannya tidak terlalu santai.
“Apa yang tadi kukatakan?” bisikku kepada Ian.
“Tak ada. Mereka sibuk memikirkan mortalitas.” Ia mendesah.
Otak manusiaku langsung melakukan salah satu lompatan pemahaman yang disebut intuisi.
“Mana Walter?” desakku, masih berbisik.                                                              
Ian kembali mendesah. “Dia di bagian selatan. Dia… tidak sehat.”
“Mengapa tak ada yang memberitahuku?”
“Semua… menyulitkanmu belakangan ini, jadi…”
Aku menggeleng tidak sabar mendengar pertimbangan ini. “Apa yang salah dengannya?”
Kini  Jamie berada di sampingku. DIraihnya tanganku.
“Beberapa tulang Walter yang sangat rapuh patah,” ujarnya berbisik. “Doc yakin itu kanker—stadium akhir, katanya.”
“Agaknya Walt sudah lama merahasiakan sakitnya,” imbuh Ian muram.
Aku mengernyit. “Dan tak ada yang bisa dilakukan? Sama sekali tak ada?”
Ian menggeleng, tetap memandangku dengan mata cemerlangnya. “Bagi kami tak ada. Kalaupun kami tidak terperangkap di sini, takkan ada pertolongan untuknya sekarang. Kami belum bisa menyembuhkan penyakit itu.”
Aku menggigit bibir, agar saran yang ingin kulontarkan tidak keluar. Tentu saja tak ada yang bisa dilakukan untuk Walter. Semua manusia ini lebih suka mati perlahan-lahan secara menyakitkan daripada menukar benak demi kesembuhan tubuh. Aku bisa memahaminya… sekarang.
“Walter menanyakanmu,” lanjut Ian. “Well, terkadang dia menyebut namamu. Sulit untuk mengetahui maksudnya—Doc membuatnya tetap mabuk untuk mengurangi rasa sakit.”
“Doc merasa sangat tidak enak karena telah menggunakan begitu banyak alcohol untuk dirinya sendiri,” imbuh Jamie. “Saat yang sulit, untuk semua.”
“Bisakah aku menengoknya?” tanyaku. “Atau apakah itu akan membuat yang lain tidak senang?”
Ian memberengut, lalu mendengus. “Bukankah tidak pantas bagi mereka jika mempersoalkan hal seperti itu?” Ia menggeleng, “Tapi siapa peduli, bukan? Jika itu keinginan terakhir Walt…”
“Benar,” ujarku setuju. Kata terakhir membuat mataku perih. “Jika Walter ingin berjumpa denganku, kurasa aku tak peduli apa yang dipikirkan orang lain, atau apakah mereka akan marah.”
“Jangan khawatir soal itu—aku takkan membiarkan siapa pun mengganggumu.” Bibir pucat Ian mengatup membentuk garis tipis.
Aku merasa cemas, seakan ingin menengok jam. Waktu sudah tidak begitu berarti lagi buatku, tapi mendadak aku merasakan beban tenggat waktu. “Apakah  sudah terlambat untuk menengok Walter malam ini? Apakah dia akan terganggu?”
“Walter tidak tidur pada jam-jam biasa. Kita bisa pergi menengoknya.”
Aku langsung mulai berjalan, seraya menyeret Jamie Karenna ia masih mencengkeram tanganku. Perasaan mengenai berlalunya waktu, mengenai akhir dan ketamatan, menggerakkanku maju. Tapi Ian berhasil mengejarku dengan langkah-langkah panjangnya.
Di dalam ruang gua dengan kebun yang disinari cahaya bulan, kami berpapasan dengan orang-orang lain yang sebagian besar tidak memedulikan kami. Aku sudah terlalu sering ditemani Jamie dan Ian, sehingga mereka tidak curiga, walaupun kami tidak menuju terowongan-terowongan yang biasa.
Satu-satunya perkecualian adalah Kyle. Ia terpaku ketika melihat adiknya di sampingku. Matanya berkilat-kilat melihat tangan Jamie dalam genggamanku, lalu bibirnya membentuk seringai.
Ian menegakkan bahu ketika mencerna reaksi kakaknya—bibirnya mengerut menirukan mulut Kyle—dan dengan sengaja ia meraih tanganku yang lain. Kyle mengeluarkan suara seakan hendak muntah, lalu berbalik memunggungi kami.
Ketika kami berada di dalam kegelapan terowongan panjang selatan, kucoba untuk membebaskan tangan. Tapi Ian mencengkeramnya semakin erat.
“Kuharap kau tidak membuat Kyle semakin marah,” gumamku.
“Kyle keliru. Keliru adalah kebiasaannya. Dibandingkan semua orang lainnya, dia perlu waktu lebih lama untuk menyadari kekeliruannya. Tapi itu tidak berarti kita harus membiarkannya.”
“Dia membuatku ngeri,” bisikku mengakui.  “Aku tidak ingin dia mendapat lebih banyak alasan untuk membenciku.”
Ian dan Jamie meremas tanganku bersamaan. Mereka bicara serentak.
“Jangan takut,” ujar Jamie.
“Jeb sudah menyatakan pendapatnya dengan sangat jelas,” ujar Ian.
“Apa maksudmu?” tanyaku kepada Ian.
“Jika Kyle tidak bisa menerima peraturan-peraturan Jeb, maka dia tak lagi diterima di sini.”
“Tapi itu keliru. Tempat Kyle di sini.”
Ian menggerutu. “Dia tetap tinggal… jadi yang harus dia lakukan hanyalah belajar mengatasinya.”
Kami tidak bicara lagi. Aku merasa bersalah—tampaknya itu keadaan emosi yang permanen di sini. Perasaan bersalah, takut, dan patah hati. Mengapa aku kemari?
Karena, walaupun cukup aneh, tempatmu memang di sini, bisik Melanie. Ia sangat menyadari kehangatan tangan Ian dan Jamie yang menggenggam tanganku. Di mana lagi kau pernah mengalami ini?
Tidak di mana pun, ujarku mengakui, dan aku hanya merasa semakin tertekan. Tapi ini bukan berarti tempatku di sini. Lain halnya denganmu.
Kita adalah satu kesatuan, Wanda.
Seakan aku perlu diingatkan saja…
Aku sedikit terkejut karena bisa mendengar Melanie dengan sangat jelas. Dua hari terakhir ini ia diam saja, menunggu, cemas, berharap untuk berjumpa lagi dengan Jared. Tentu saja aku juga sibuk memikirkan hal yang sama.
Mungkin Jared bersama Walter. Mungkin selama ini ia ada di sana, pikir Melanie penuh harap.
Itu bukan alasan kepergian kita mengengok Walter.
Tidak. Tentu saja tidak. Nada suara Melanie penuh penyesalan, tapi kusadari Walter jauh lebih berarti bagiku daripada baginya. Tentu saja Melanie sedih karena Walter sekarat, tapi ia sudah pasrah menerima semua itu sejak awal. Sebaliknya, aku tidak bisa membuat diriku pasrah menerimanya, bahkan sekarang. Walter temanku, bukan teman Melanie. Akulah yang pernah dibela oleh Walter.
Ketika mendekati bagian rumah sakit, kami disambut salah satu cahaya biru suram itu. (Kini aku tahu lentera-lentera itu bertenaga matahari, dan seharian ditinggalkan di pojok – pojok bermatahari agar terisi tenaga.) Kami bergerak nyaris tanpa suara, dan sama-sama memperlambat langkah tanpa harus membahasnya lebih dulu.
Aku benci ruangan ini. Dalam kegelapan, dengan bayang-bayang aneh yang diciptakan kilau suram, tampaknya tempat ini semakin mengerikan saja. Tercium aroma baru—ruangan ini berbau pembusukan lambat, alcohol menyengat, dan cairan empedu.
Dua di antara dipannya terisi. Kaki Doc terjulur melewati pinggiran salah satu dipan; kukenali dengkur pelannya. Di dipan lain Walter mengamati kedatangan kami. Ia tampak sangat pucat dan tak berdaya.
“Kau bisa dikunjungki, Walt?” bisik Ian, ketika mata Walter beralih ke arahnya.
“Ungh,” erang Walter, bibirnya menggantung di wajah lemahnya dan kulitnya berkilau basah dalam cahaya suram.
“Kau perlu sesuatu?” gumamku. Kubebaskan kedua tanganku—yang bergerak-gerak tak berdaya di udara di antara aku dan Walter.
Mata Walter bergulir pelan meneliti kegelapan. Aku melangkah lebih dekat.
“Ada yang bisa kami lakukan untukmu? Apa saja?”
Mata Walter berkelana sampai menemukan wajahku. Dengan cepat sepasang mata itu memusatkan pandangan menembus keadaan mabuk dan nyeri.
“Akhirnya,” ujarnya terperangah. Napasnya tersengal. “Aku tahu kau akan datang jika aku menunggu cukup lama. Oh, Gladys, banyak sekali yang harus kuceritakan kepadamu.”