Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara

Pesan Snack Box murah untuk berbagai acara
Harga mulai 5rb an. Gratis ongkir DKI Jakarta
Showing posts with label Sang Pengelana. Show all posts
Showing posts with label Sang Pengelana. Show all posts

The Host - 29

0 comments


Dikhianati

Mungkin seharusnya aku lari ke arah berlawanan. Tapi kini tak seorang pun menahanku. Dan walaupun suaranya dingin serta marah, Jared memanggilku. Melanie bahkan lebih bersemangat daripadaku, ketika aku berbelok hati-hati dan memasuki cahaya biru,. Aku bimbang.
Ian berdiri hanya beberapa puluh sentimeter di depanku, waspada, siap menghadapi apa pun yang mungkin dilakukan Jared kepadaku.
Jared duduk di tanah, di atas salah satu kasur yang ditinggalkan olehku dan Jamie di sana. Ia tampak sama lelahnya dengan Ian, walaupun matanya lebih  waspada dibandingkan bagian tubuhnya yang lain.
“Tenang,” ujar Jared kepada Ian. “Aku hanya ingin bicara dengan mahluk itu. Aku sudah berjanji kepada Jamie, dan aku akan memenuhi janjiku.”
“Mana Kyle?” desak Ian.
“Mendengkur. Guamu bisa roboh akibat getarannya.”
Ian tidak bergerak.
“Aku tidak berbohong, Ian. Dan aku tidak akan membunuh mahluk ini. Jeb benar. Tak peduli betapa kacaunya situasi konyol ini, Jamie punya hak yang sama denganku. Dan dia telah ditipu habis-habisan, jadi aku ragu apakah dia akan memberiku izin untuk membunuh mahluk itu dalam waktu dekat.”
“Tak seorang pun tertipu,” gerutu Ian.
Jared melambaikan tangan, mengakhiri perselisihan mengenai terminologi itu. “Takkan ada bahaya dariku. Itu maksudku.” Untuk pertama kali Jared memandangku, menilai caraku merapat ke dinding, mengamati tanganku yang gemetar. “Aku tidak akan melukaimu lagi,” ujarnya.
Aku maju sedikit
“Kau tak perlu bicara dengannya kalau tidak mau, Wanda,” ujar Ian cepat. “Ini bukan kewajiban atau tugas yang harus dipenuhi. Bukan keharusan. Kau punya pilihan.”
Sepasang alis Jared bertaut di atas matanya. Kata-kata Ian membuatnya bingung.
“Tidak.” Bisikku. “Aku akan bicara dengannya.” Aku maju selangkah lagi. Dengan tangannya Jared memberiku isyarat untuk maju.
Aku beralan perlahan-lahan, selangkah setiap kali, bukan gerakan maju yang mantap. Aku berhenti satu meter dari Jared. Ian membayangi setiap langkahku dan tetap di sisiku.
“Aku ingin bicara dengan mahluk itu sendirian, kalau kau tidak keberatan,” ujar Jared.
Ian tetap berdiri di tempatnya. “Aku keberatan.”
“Tidak, Ian, tidak apa-apa. Pergilah tidur. Aku akan baik-baik saja.” Kusikut pelan tangannya.
Ian meneliti wajahku, ekspresinya bimbang. “Ini bukan semacam keinginan terakhir? Supaya tidak menyakiti Jamie?” desaknya.
“Tidak. Jared takkan berbohong kepada Jamie soal ini.”
Jared memandang marah kepadaku ketika aku mengucapkan namanya dengan penuh percaya diri.
“Ayolah, Ian,” ujarku memohon. “Aku ingin bicara dengannya.”
Ian memandangku sejenak, lalu berbalik dan memandang marah kepada Jared. Ia mengucapkan setiap katanya seperti perintah.
“Namanya Wanda, bukan mahluk itu. Kau tidak boleh menyentuhnya. Bekas apa pun yang kautinggalkan padanya, aku akan menggandakannya pada kulit tak berhargamu.”
Aku terhenyak mendengar ancaman itu.
Ian berbalik cepat, lalu melangkah memasuki kegelapan.
Sejenak hening ketika kami memandang ruang kosong tempat Ian menghilang. Aku menatap wajah Jared lebh dulu, ia masih menatap kepergian Ian. Saat ia menoleh untuk membalas tatapanku, aku menunduk.
“Wow. Dia tidak bergurau, bukan?” ujar Jared.
Aku menganggap ini pertanyaan yang tak perlu dijawab.


“Mengapa kau tidak duduk?” Tanya Jared, menepuk kasur di sampingnya.
Sejenak aku mempertimbangkan tawarannya, lalu duduk bersandar di dinding yang sama, tapi di dekat lubang. Kubiarkan kasur menjadi jarak di antara kami. Melanie tidak menyukainya. Ia ingin berada di dekat Jared, ingin aku membaui aroma lelaki itu dan merasakan kehangatan tubuhnya di sampingku.
Aku tidak menginginkan semua itu—dan ini bukan karena aku takut Jared akan melukaiku. Ia tidak tampak marah, hanya lelah dan khawatir. Tapi aku tak ingin berada lebih dekat dengannya. Sesuatu di dalam dadaku terasa nyeri ketika ia berada begitu dekat—ketika ia membenciku dari jarak sedekat itu.
Jared mengamatiku dengan kepala dimiringkan. Aku hanya bisa membalas pandangannya sejenak, lalu berpaling.
“Maaf soal semalam—soal wajahmu. Seharusnya itu tidak kulakukan.”
Kutatap kedua tanganku yang terkepal di pangkuan
“Kau tidak perlu takut kepadaku.”
Aku mengangguk, tanpa memandang.
Ia menggerutu. “Kurasa kau tadi bilang ingin bicara denganku?”
Aku mengangkat bahu. Kebenciannya padaku membuatku gagal menemukan suaraku.
Aku mendengar Jared bergerak.  Ia beringsut pelan hingga duduk tepat di sampingku—seperti yang diharapkan Melanie. Terlalu dekat—sulit untuk berpikir dengan benar, sulit untuk bernapas dengan benar—tapi aku tak bisa menyuruh diriku beringsut menjauh. Anehnya, walaupun ini yang diinginkan Melanie sejak awal, tiba-tiba ia merasa jengkel.
Apa? Tanyaku, terkejut oleh intensitas emosi Melanie.
Aku tidak suka Jared berada di sampingmu. Rasanya keliru. Aku tidak suka caramu menginginkannya di sana. Untuk pertama kali sejak kami meninggalkan peradaban bersama-sama, kurasakan gelombang-gelombang permusuhan memancar dari Melanie. Aku terkejut. Itu hampir tak bisa disebut adil.
“Aku hanya punya satu pertanyaan,” ujar Jared, menyela pembicaraanku dengan Melanie.
Kubalas tatapannya, lalu aku berpaling—tersentak oleh tatapan dingin Jared dan kebencian Melanie.
“Mungkin kau bisa menebak pertanyaan itu. Jeb dan Jamie menghabiskan sepanjang malam untuk menguliahiku…”
Kutunggu pertanyaan Jared. Mataku menatap lurus menembus koridor yang gelap, menatap karung beras—bantalku semalam. Dari sudut mata aku melihat sebelah tangan Jared terangkat, dan aku merapat ke dinding.
“Aku tidak akan melukaimu,” kata Jared lagi, tidak sabar. Ia memegang daguku dengan tangannya yang kasar, menolehkan wajahku sehingga aku terpaksa memandangnya.
Jantungku tergeragap ketika Jared menyentuhku, dan mendadak air mataku merebak. Aku mengerjap-ngerjap, mencoba menjernihkan mata.
“Wanda,” Jared mengucapkan namaku perlahan-lahan—dengan enggan, aku tahu itu, walaupun suaranya datar dan tak bernada.
“Apakah Melanie masih hidup—masih menjadi bagian dari dirimu? Katakan yang sebenarnya.”
Melanie menyerangku dengan kekuatan luar biasa seperti banteng mengamuk. Rasanya menyakitkan secara fisik, seperti tusukan mendadak migren, di tempat ia mencoba menerobos keluar.
Hentikan! Tak bisakah kau melihatnya?
Hal itu sangat jelas terlihat dari bibir Jared ang terkatup erat, dan dari garis-garis tegang di bawah matanya. Tak peduli apa yang aku atau Melanie katakana.
Jared sudah menganggapku pembohong, ujarku kepada Melanie. Ia tidak menginginkan kebenaran—ia hanya mencari bukti, mencari semacam cara untuk membuktikan aku pembohong, bahwa aku Pencari, kepada Jeb dan Jamie, sehingga ia mendapat izin untuk membunuhku.
Melanie menolak untuk menjawab atau mempercayaiku. Aku harus berjuang agar ia tetap diam.
Jared mengamati bulir keringat di keningku dan getaran aneh yang mengguncang tulang punggungku, lalu matanya menyipit. Jared tetap memegang daguku, tak mau membiarkanku menyembunyikan wajah.
Jared, aku mencintaimu, Melanie mencoba berteriak. Aku ada di sini.
Bibirku tidak bergetar, tapi aku terkejut karena Jared tak bisa membaca kata-kata yang terlontar jelas di mataku.
Waktu berlalu dengan lambat ketika Jared menunggu jawabanku. Menyakitkan rasanya menatap ke dalam matanya, melihat tatapan jijik di sana. Seolah-olah itu  belum cukup, kemarahan Melanie terus mengiris-irisku dari dalam. Kecemburuannya membengkak menjadi banjir kesedihan yang melanda tubuhku dan mencemarinya.
Waktu berlalu, air mataku tak dapat ditahan lagi. Air mataku mengalir ke pipi dan bergulir pelan ke telapak tangan Jared. Ekspresinya tidak berubah.
Akhirnya aku tak sanggup lagi. Aku memejamkan mata dan menunduk. Jared tidak melukaiku. Ia menjatuhkan tangannya.
Ia mendesah, frustasi.
Kusangka dia bakal pergi. Kutatap lagi kedua tanganku, menunggu. Detak jantungku menandai berlalunya waktu. Jared tidak bergerak. Aku tidak bergerak. Ia seakan terpahat dari batu di sampingku. Ketenangan seperti batu ini sangat cocok untuknya. Cocok dengan ekspresi barunya yang keras, dengan batu api di matanya.
Melanie merenungkan Jared yang ini, lalu membandingkannya dengan lelaki yang dulu dikenalnya. Melanie ingat suatu hari dalam pelarian mereka, suatu hari yang biasa…
“Argh!” Jared dan Jamie mengerang bersama-sama.
Jared bersantai di sofa kulit dan Jamie tergeletak di karpet di depannya. Mereka sedang menonton pertandingan basket di TV layar lebar. Parasit-parasit yang tinggal di rumah ini sedang pergi bekerja, dan kami sudah mengisi jip dengan semua yang bisa ditampung di dalamnya. Kami punya waktu berjam-jam untuk istirahat, sebelum harus kembali menghilang.
Di TV, dua pemain sedang berselisih dengan sopan di luar garis. Juru kamera ada di dekat mereka, sehingga kami bisa mendengar apa yang mereka katakana.
“Kurasa aku orang terakhir yang menyentuhnya. Ini bolamu.”
“Aku tidak yakin soal itu. Aku tidak ingin mengambil kesempatan tidak adil. Sebaiknya kita meminta wasit melihat rekamannya.”
Kedua pemain berjabat tangan dan saling menepuk bahu lawan.
“Itu konyol,” gerutu Jared.
“Aku tidak tahan,” ujar Jamie setuju. Ia menirukan nada suara Jared dengan sempurna. Semakin hari ia semakin kedengaran seperti Jared. Itu salah satu dari banyak bentuk pemujaan Jamie terhadap Jared. “Ada acara yang lain?”
Jared mengganti beberapa saluran, sampai menemukan pertandingan atletik. Saat itu parasit-parasit sedang menggelar Olimpiade di Haiti. Dari yang bisa kami lihat, para mahluk luar angkasa itu sangat bersemangat mengikutinya. Banyak di antara mereka memasang bendera Olimpiade di luar rumah. Tapi Olimpiade ini tidak sama. Kini semua yang berpartisipasi dalam Olimpiade mendapat medali. Menyedihkan.
Tapi parasit – parasit itu tidak terlalu bisa mengacaukan pertandingan lari seratus meter. Olahraga yang dilakukan parasit secara individual jauh lebih menarik daripada jika mereka berkompetisi langsung. Performa mereka lebih baik jika berada di jalur terpisah.
“Mel, ayo bersantai,” panggil Jared.
Aku berdiri di samping pintu belakang. Ini diluar kebiasaanku, dan bukan karena aku siap lari. Bukan karena aku ketakutan. Ini hanya kebiasaan. Itu saja.
Kuhampiri Jared. Ia menarikku ke pangkuannya dan meletakkan kepalaku di bawah dagunya.
“Nyaman?” tanyanya.
“Ya,” jawabku, karena aku benar-benar, sungguh-sungguh, merasa sangat nyaman. Di sini, di rumah mahluk luar angkasa.
Dad dulu suka mengatakan banyak hal lucu—misalnya ia terkadang menciptakan bahasanya sendiri. Dua puluh tiga keminggatan, hari selada, pemarkir berisik, bersih segar, kursi panas, poci cokelat, dan sesuatu mengenai Grandma mengisap telur. Salah satu kesukaannya adalah seaman rumah.
Ketika mengajariku naik sepeda, dengan ibuku yang khawatir di ambang pintu, Dad mengatakan, “Tenang, Linda, jalanan ini seaman rumah.” Ketika meyakinkan Jamie untuk tidur dengan lampu dimatikan, Dad mengatakan, “Di sini seaman rumah, Nak, tak ada monster sejauh berkilo-kilometer.”
Lalu suatu malam dunia berubah jadi mimpi buruk mengerikan, dan frasa itu menjadi lelucon pahit bagiku dan Jamie. Rumah-rumah adalah tempat paling berbahaya yang kami kenal.
Ketika bersembunyi di petak pepohonan pinus pendek seraya menyaksikan mobil keluar dari garasi sebuah rumah terpencil, lalu memutuskan apakah hendak mencuri makanan, atau apakah terlalu berisiko, kami mengatakan, “Menurutmu parasit-parasit itu akan pergi lama?” “Tak mungkin—tempat itu seaman rumah. Ayo, pergi dari sini.”
Dan kini aku duduk di sini sambil menonton TV, seperti lima tahun yang lalu, ketika Mom dan Dad berada di ruang lain, dan kami tak pernah menghabiskan malam dengan bersembunyi di pipa saluran air bersama Jamie dan sekelompok tikus, sementara para perampas tubuh  bersenjatakan senter mencari pencuri yang kabur dengan sekantong kacang kering dan semangkuk spageti dingin.
Aku tahu bahwa, seandainya aku dan Jamie bisa bertahan selama dua puluh tahun, kami takkan pernah menemukan perasaan ini. Perasaan aman. Bahkan lebih dari aman—bahagia. Aman dan bahagia. Dua hal yang kupikir takkan pernah kurasakan lagi.
Jared membuat kami merasa seperti itu tanpa berbuat apa-apa—hanya dengan menjadi Jared.
Kucium aroma kulitnya dan kurasakan hangat tubuhnya di bawahku.
Jared membuat semuanya aman, semuanya membahagiakan. Bahkan rumah sekalipun.
Ia masih membuatku merasa aman, ujar Melanie tersadar. Ia merasakan kehangatan di tempat tangan Jared berada, hanya satu senti dari tanganku. Walaupun seandainya ia tidak tahu aku ada di sini.
Aku tidak merasa aman. Mencintai Jared membuatku merasa lebih tidak aman dibandingkan segala hal lain yang bisa kupikirkan.
Aku bertanya-tanya, apakah aku dan Melanie akan mencintai Jared seandainya sejak dulu lelaki ini memang seperti saat ini, dan bukan Jared yang tersenym dalam ingatan-ingatan kami, orang yang datang kepada Melanie dengan tangan penuh harapan dan mukjizat. Akankah Melanie mengikuti Jared, seandainya sejak dulu ia bersikap sangat keras dan sinis? Seandainya perasaan kehilangan yang dirasakan Jared terhadap ayahnya yang suka tertawa dan kakak-kakaknya yang urakan telah membekukannya, seperti yang dialaminya ketika kehilangan Melanie?
Tentu saja, ujar Mel yakin. Aku akan mencintai Jared dalam bentuk apa pun. Bahkan dalam keadaan seperti ini. Ia milikku.
Aku ingin tahu apakah hal yang sama berlaku untukku. Akankah aku mencintai Jared, seandainya ia seperti ini dalam ingatan Melanie?
Lamunanku terusik. Mendadak Jared bicara, walaupun aku tak menerima isyarat apa pun. Ia bicara seakan kami sedang di tengah percakapan.
“Lalu, berkat kau, Jeb dan Jamie percaya adanya kemungkinan untuk melanjutkan semacam kesadaran setelah… tertangkap. Mereka yakin Mel masih hidup di dalam sana.”
Jared mengetuk pelan kepalaku dengan kepalan tangannya, dan aku menjauhkan diri. Ia bersedekap.
“Jamie mengira Mel bicara dengannya.” Jared memutar bola mata. “Tak adil mempermainkannya seperti itu—tapi kurasa etika semacam it jelas tidak berlaku.”
Kubelitkan kedua tanganku pada tubuhku sendiri.
“Tapi Jeb ada benarnya—dan itulah yang membuatk penasaran! Kau mau apa? Pencarian para Pencari tidak terarah dengan baik, ata bahkan… mencurigakan. Tampaknya mereka hanya mencarimu—bukan mencari kami. Jadi, mungkin mereka tak tahu kau mau apa. Mungkin kau pekerja lepas? Semacam penyamaran Atau…”
Lebih mudah mengabaikan Jared ketika ia sedang berspekulasi dengan begitu tololnya. Aku memusatkan perhatian pada kedua lututku yang kotor, yang seperti biasa, berwarna ungu dan hitam.
“Mungkin mereka benar. Setidaknya soal membunuhmu.”
Tanpa terduga jemari Jared mengusap ringan lenganku yang merinding mendengar kata-katanya. Suaranya lebih lembut ketika ia kembali bicara. “Kini tak seorang pun akan melukaimu.  Selama kau tidak menimbulkan masalah apa pun…” Ia mengangkat bahu. “AKu sedikit memahami maksud mereka. Dengan cara yang sinting mungkin itu perbuatan keliru, seperti kata mereka. Mungkin tak ada alas an yang bisa dibenarkan ntuk… kecuali Jamie…”
Kepalaku langsung mendongak—mata Jared tajam, meneliti reaksiku. Aku menyesal telah memperlihatkan ketertarikan, sehingga kembali mengamati lututku.
“Aku ngeri melihat betapa semakin lengketnya Jamie kepadamu,” gumam Jared. “Seharusnya aku tidak meninggalkannya. Aku tak pernah membayangkan… dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Dia mengira Mel masih hidup di dalam sana. Apa akibatnya bagi Jamie ketika…?”
Kuperhatikan bahwa Jared mengatakan ketika, dan bukan jika. Tak peduli janji-janji apa yang telah dibuatnya, ia tidak menganggapkan bisa bertahan hidup cukup lama.
“Aku terkejut kau bisa memengaruhi Jeb,” renung Jared, mengubah pokok pembicaraan. “Dia lelaki tua yang cerdik. Dia bisa dengan mudah mengenali tipuan. Sampai saat ini.”
Sejenak Jared merenungkan perkataannya.
“Kau tidak terlalu suka bicara, ya?”
Muncul keheningan panjang lagi.
Kata-kata Jared mendadak berhamburan. “Bagian yang terus menggangguku adalah, bagaimana seandainya mereka benar? Bagaimana mungkin aku tahu? Aku benci betapa logika mereka masuk akal bagiku. Pasti ada penjelasan lain.”
Melanie kembali berjuang untuk bicara, walaupun tak seganas sebelumnya. Kali ini tanpa harapan untuk bisa menembus keluar. Aku tetap mengunci kedua lengan dan bibirku.
Jared bergerak, bergeser menjauhi dinding sehingga tubuhnya menghadapku. Kuamati gerakan itu dari sudut mata.
“Mengapa kau di sini?” bisiknya.
Kuintip wajah Jared. Lembut, baik hati, nyaris seperti dalam ingatan Melanie. Aku merasakan luruhnya pengendalian diriku; bibirku gemetar. Perlu segenap kekuatan untuk menjaga agar lenganku tetap terkunci. Aku ingin menyentuh wajah Jared. Akulah yang menginginkannya. Melanie tidak suka ini.
Jika kau tidak membolehkanku bicara, setidaknya jaga tanganmu, desis Mel.
Aku usahakan. Maaf. Aku menyesal. Keinginanku telah melukai Melanie. Kami sama-sama terluka, tapi luka kami berbeda. Sulit untuk mengetahui siapa yang lebih terluka saat ini.
Jared mengamatiku penuh curiga ketika mataku kembali berkaca-kaca.
“Mengapa?” tanyanya pelan. “Kau tahu, Jeb punya gagasan sinting bahwa ka berada di sini demi aku dan Jamie. Bukankah itu gila?”
Mulutku setengah terbuka; cepat-cepat aku menggigit bibir.
Jared mencondongkan tubuh perlahan-lahan dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. Mataku terpejam.
“Maukah kau mengatakannya kepadaku?”
Kepalaku menggeleng, dengan cepat. Aku tak yakin siapa yang melakukannya. Apakah aku yang mengatakan tidak mau, atau Melanie yang mengatakan tidak bisa?
Kedua tangan Jared semakin erat di bawah rahangku. Aku membuka mata, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Jantungku berdebar-debar, perutku mulas. Aku mencoba untuk bernapas, tapi paru-paruku menolak.
Kukenali hasrat itu di mata Jared; aku tahu bagaimana ia akan bergerak, tahu dengan tepat rasa bibirnya. Namun ini sangat baru bagiku—pengalaman pertama lebih mengejutkan daripada pengalaman lainnya—ketika bibir Jared menekan bibirku.


Kupikir ia hanya bermaksud mengusapkan bibirnya ke bibirku, hanya ingin bersikap lembut, tapi semua berubah ketika kulit kami bersentuhan. Dengan cepat bibir Jared berubah keras dan kasar, tangannya memerangkap wajahku pada wajahnya, sementara bibirnya menggerakkan bibirku dengan gerakan mendesak yang tak kukenal. Berbeda sekali dengan yang ada dalam ingatanku. Jauh lebih kuat. Kepalaku melayang kacau. 

 
Tubuhku memberontak. Aku tak lagi mengendalikannya—tubuhku yang mengendalikanku. Itu bukan Melanie—kini tubuh ini lebih kuat daripada kami berdua. Napas kami menggema keras; napasku liar dan terengah-engah, napas Jared garang, nyaris menggeram.
Lenganku melepaskan diri dari kendaliku. Tangan kiriku meraih wajah Jared, meraih rambutnya, membenamkan jemariku di sana.
Tangan kananku lebih cepat. Itu bukan tanganku.
Kepalan Melanie menghantam rahang Jared, menyingkirkan wajahnya dari wajahku dengan suara gedebuk pelan. Daging menimpa daging, keras dan marah. 


Kekuatan pukulan itu tak cukup untuk menyingkirkan Jared jauh-jauh, tapi ia menjauh dariku begitu bibir kami terpisah. Ia terperangah, matanya terbelalak ngeri, menatap ekspresiku yang ketakutan.


Aku menunduk memandang tanganku yang masih terkepal, dan merasa sama jijiknya seperti menemukan kalajengking tumbuh di ujung lenganku. Helaan napas muak keluar dari tenggorokanku. Kuraih pergelangan tangan kananku dengan tangan kiri, berjuang mati-matian agar Melanie tidak menggunakan tubuhku lagi untuk kekerasan.
Aku melirik Jared. Ia juga sedang menatap kepalan tangan yang kutahan. Ketakutannya memudar, digantikan keterkejutan. Saat itu ekspresinya benar-benar tak berdaya. Aku bisa dengan mudah membaca pikiran-pikiran yang melintas di wajahnya yang tak terkunci.
Bukan ini yang diharapkan Jared. Tadinya ia memiliki harapan-harapan; itu jelas terlihat. Ini ujian. Dan ia mengira dirinya siap untuk menilai ujian itu. Ujian yang hasilnya telah ia antisipasi dengan penuh keyakinan. Tapi ia terkejut.
Apakah itu berarti aku lulus atau gagal?
Rasa nyeri di dadaku tidak mengejutkan. Aku sudah tahu ungkapan patah hati tidaklah dilebih-lebihkan.
Dalam situasi antara melawan atau lari, aku tak pernah punya pilihan. Aku selalu memilih untuk lari. Karena Jared berada di antara diriku dan kegelapan lubang keluar terowongan, aku berguling dan melemparkan diri ke lubang penuh kotak.
Kotak-kotaknya tergencet, bergemeretak, dan hancur ketika bobotku mendorong semuanya ke dinding, ke lantai. Kudesakkan jalanku ke ruang kosong yang mustahil, meliuk menghindari kotak-kotak yang lebih berat dan menghancurkan kotak-kotak lainnya. Kurasakan jemari Jared menggores kakiku ketika ia meraih pergelangan kakiku, dan kutendak kotak yang isinya lebih padat ke ruang di antara kami. Jared menggeram, dan perasaan putus asa mencekik leherku. Aku tak bermaksud melukainya; aku tak bermaksud memukulnya. Aku hanya mencoba melarikan diri.
Aku tidak mendengar isak tangisku sendiri, yang begitu keras sampai, sampai aku tak bisa masuk lebih jauh lagi ke lubang sesak itu, dan kegaduhan yang kuciptakan berhenti. Ketika aku mendengarnya sendiri, mendengar isak tangis kesedihan yang menyayat dan mencabik-cabik itu, aku merasa  malu.
Begitu malu, begitu terhina. Aku takut terhadap diriku sendiri, takut terhadap tindak kekerasan yang kubiarkan mengalir lewat tubuhku, tak peduli kusadari atau tidak. Tapi bukan itu penyebab tangisku. Aku menangis karena itu hanya ujian. Dan karena aku mahluk emosional yang sangat, sangat, sangat tolol, aku menginginkan itu ciuman sesungguhnya.
Melanie menggeliat penuh kesedihan di dalam tubuhku, dan sulit bagiku untuk memahami rasa nyeri ganda ini. Aku merasa sekarat, karena itu bukan ciuman sesungguhnya; Melanie merasa sekarat, karena baginya ciuman itu terasa cukup nyata. Di dalam segalanya yang hilang dari Melanie sejak akhir dunianya, dulu sekali, ia belum pernah merasa dikhianati. Ketika ayahnya membawa para Pencari untuk memburu anak-anaknya sendiri, Melanie tahu itu bukan ayahnya. Tak ada pengkhianatan, yang ada hanya kesedihan. Ayahnya sudah mati. Tapi Jared masih hidup dan menjadi dirinya sendiri.
Tolol. Tak seorang pun mengkhianatimu, ujarku menegur Melanie. Aku ingin rasa sakit itu lenyap darinya. Beban tambahan berupa penderitaannya tak tertahankan bagiku. Penderitaanku sendiri sudah cukup.
Teganya Jared? Teganya Jared? Melanie mengucapkan kata-kata itu berulang kali, mengabaikanku.
Kami menangis, tak terkendali.
Satu kata memulihkan kami dari keadaan nyaris histeris.
Dari mulut lubang, suara Jared yang rendah dan kasar—terdengar parau, dan anehnya, seperti kanak-kanak—bertanya, “Mel?”

The Host - Bab 28

0 comments
Bingung

Rasanya membingungkan ketika terbangun di dalam kegelapan total. Pada bulan-bulan terakhir aku terbiasa melihat matahari yang mengatakan hari sudah pagi. Pertama-tama aku mengira hari masih malam, tapi perasaan menyengat di wajahku dan rasa nyeri di punggungku mengingatkanku di mana aku berada.

Di sampingku, aku bisa mendengar suara napas pelan teratur. Tidak membuatku takut, karena itu suara yang paling kukenal di sini. Aku tidak terkejut melihat Jamie menyelinap kembali untuk tidur di sampingku semalam.
Mungkin perubahan pada napaskulah yang membangunkannya, atau mungkin itu hanya karena jadwal kami telah selaras. Tapi beberapa detik setelah aku terbangun, Jamie sedikit menghela napas terkejut.
"Wanda?" bisiknya.
"Aku di sini."
Ia menghela napas lega.
"Gelap sekali di sini," ujarnya.
"Ya."
"Menurutmu sudah waktunya sarapan?"
"Aku tak tahu."
"Aku lapar. Ayo, kita lihat."
Aku tidak menjawab.
Jamie mengartikan kebisuanku dengan benar, karena ia tertegun.
"Kau tidak perlu bersembunyi di sini, Wanda," ujarnya sungguh-sungguh, setelah sejenak menungguku bicara. "Semalam aku bicara dengan Jared. Dia akan berhenti mengganggumu--dia berjanji."
Aku nyaris tersenyum. Menggangguku.
"Maukah kau pergi bersamaku?" desak Jamie. Tangannya menemukan tanganku.
"Kau benar-benar ingin aku melakukan itu?" tanyaku pelan.
"Ya. Semuanya akan sama seperti sebelumnya."
Mel? Apakah ini yang terbaik?
Aku tak tahu. Melanie bingung. Ia tahu dirinya tak bisa bersikap objektif; ia ingin berjumpa dengan Jared.
Kau tahu, itu sinting.
Tidak sesinting kenyataan bahwa kau ingin bertemu dengannya juga.
"Baiklah, Jamie," ujarku setuju. "Tapi jangan sedih kalau keadaan tidak sama seperti sebelumnya, oke? Kalau segalanya jadi buruk... Well, jangan terkejut."
"Semua akan baik-baik saja. Nanti kaulihat sendiri."
Kubiarkan Jamie menuntunku keluar dari kegelapan dengan menarik tanganku yang masih digenggamnya. Aku menguatkan diri ketika kami memasuki ruang gua dengan kebun besar itu. Aku tak bisa memastikan reaksi semua orang terhadapku hari ini. Siapa yang tahu, perkataan apa yang terucap ketika aku tidur?
Tapi kebun kosong, walaupun matahari bersinar cera di langit pagi. Cahaya matahari memantul dari ratusan cermin, sejenak membutakanku.
Jamie tidak tertarik pada ruang gua kosong itu. Matanya memandang wajahku, dan ia menghela napas tajam lewat sela-sela gigi ketika cahaya menyentuh pipiku.
"Oh," ujar Jamie terkejut. "Kau baik-baik saja? Apakah rasanya sakit sekali?"
Kusentuh ringan wajahku. Kulitnya terasa kasar--kotoran yang mengeras dalam darah. Rasanya berdenyut-denyut ketika tersapu jari.
"Tidak apa-apa," bisikku. Ruang gua kosong itu membuatku cemas--aku tak ingin bicara terlalu keras. "Di mana semua orang?"
Jamie mengangkat bahu, tatapannya masih tegang ketika meneliti wajahku. "Sibuk, kurasa," Ia tidak merendahkan suaranya.
Ini mengingatkanku pada kejadian semalam, pada rahasia yang tak mau diceritakannya kepadaku. Alisku bertaut.
Menurutmu apa yang tidak diceritakannya kepada kita?
Kita sama-sama tak tahu, Wanda.
Kau manusia. Bukankah kau seharusnya punya intuisi atau semacam itu?
Intuisi? Intuisiku mengatakan kita tidak mengenal tempat ini sebaik yang kita sangka, ujar Melanie.
Kami merenungkan ucapan penuh ancaman itu.
Rasanya nyaris melegakan ketika aku mendengar suara-suara normal di waktu makan yang berasal dari koridor dapur. Tak ada orang tertentu yang ingin kujumpai--tentu saja selain kerinduan sinting untuk bertemu Jared. Tapi terowongan-terowongan yang sepi, ditambah pengetahuan bahwa ada sesuatu yang dirahasiakan dariku, membuatku gelisah.
Dapurnya bahkan tidak terisi setengahnya---itu hal yang aneh di pagi seperti ini. Tapi itu nyaris tidak kuperhatikan, karena aroma dari oven batu mengalahkan semua pikiran lain.
"Oooh," erang Jamie. "Telur!"
Jamie menarikku lebih cepat, dan aku sama sekali tidak keberatan mengikutinya. Kami bergegas, perut keroncongan, menuju meja di dekat oven. Di sana Lucina, sang ibu, berdiri dengan sendok sayur plastik di tangan. Biasanya sarapan bisa diambil sendiri, tapi biasanya sarapan hanya terdiri atas roti bulat keras.
Lucina hanya memandang Jamie ketika bicara, "Satu jam yang lalu rasanya lebih enak."
"Sekarang pun tetap enak," jawab Jamie antusias. "Semua sudah makan?"
"Hampir semua. Kurasa mereka membawa nampan mereka ke tempat Doc, dan yang lain..." Lucina berhenti, mataknya melirikku untuk pertama kali. Jamie melirikku juga. Aku tidak memahami ekspresi Lucina. Ekspresi itu menghilang begitu cepat, digantikan sesuatu yang lain ketika ia meneliti bekas-bekas luka baru di wajahku.
"Berapa banyak yang tersisa?" tanya Jamie. Kini kegairahannya terdengar sedikit dipaksakan.
Lucina berbalik lalu membungkuk, menarik panci logam dari batu-batu panas di bagian bawah oven dengan sendok sayur. "Berapa banyak yang kauinginkan, Jamie? Ada banyak," ujarnya tanpa berbalik.
"Anggap saja aku Kyle," kata jamie sambil tertawa.
"Seukuran porsi Kyle kalau begitu," ujar Lucina. Tapi ketika ia tersenyum, matanya tampak muram.
Lucina mengisi satu mangkuk sup dengan telur orak-arik, berdiri, lalu menyerahkannya kepada Jamie.
Lucina kembali melirikku, dan kupahami apa arti pandangan ini.
"Ayo, duduk di sana, Jamie," kataku, menariknya pergi dari meja.
Jamie menatap takjub. "Kau tidak mau ini?"
"Tidak. Aku--" aku hendak mengatakan "baik-baik saja," tapi perutku yang keroncongan membangkang.
"Wanda?" Jamie memandangku, lalu ganti menatap Lucina yang bersedekap.
"Aku makan roti saja," gumamku, mencoba menarik Jamie pergi.
"Tidak. Lucina, apa masalahnya?" Jamie memandang Lucina penuh harap. Lucina tidak bergerak. "Kalau kau sudah selesai bertugas, aku akan menggantikanmu," saran Jamie. matanya menyipit dan mulutnya membentuk garis tegas.
Lucina mengangkat bahu, lalu meletakkan sendok sayur di meja batu. Ia berjalan pergi perlahan-lahan, tanpa memandangku lagi.
"Jamie," gumamku, berbisik cepat. "Makanan ini bukan untukku. Jared dan yang lain tidak mempertaruhkan nyawa supaya aku bisa makan telur untuk sarapan. Roti tidak apa-apa."
"Jangan tolol, Wanda," ujar Jamie. "Kau tinggal di sini sekarang, sama seperti kami semua. Tak seorang pun keberatan ketika kau mencucikan pakaian atau memanggangkan roti mereka. Lagi pula telur-telur ini tidak tahan lama. Kalau tidak kausantap, telur-telur ini akan terbuang."
Kurasakan semua mata di dalam ruangan menatap punggungku.
"Mungkin itu lebih baik untuk sebagian mereka ," ujarku lebih pelan. Tak seorang pun, kecuali Jamie, yang bisa mendengarnya.
"Biar saja," gerutu Jamie. Ia melompati meja dan mengisi satu mangkuk lagi dengan telur, lalu menyorongkannya kepadaku. "Kau harus menghabiskannya," ujarnya tegas.
Kupandang mangkuk itu. Air liurku menetes. Kudorong telur itu menjauh beberapa senti dariku, lalu bersedekap.
Jamie memberengut. "Baiklah," ujarnya. Lalu ia mendorong mangkuknya sendiri. "Kau tidak makan. Aku tidak makan." Perutnya bergemuruh keras. Ia bersedekap.
Kami bertatapan selama dua menit yang terasa lama, perut sama-sama keroncongan ketika kami mencium aroma telur. Sesekali Jamie melirik mangkuknya. Itulah yang membuatku mengalah--melihat hasrat di matanya.
"Baiklah," ujarku. Kuselipkan mangkuk itu ke tangan Jamie, lalu mengambil mangkukku. Ia baru menyentuh makanannya setelah aku mulai menyuap. Kutahan eranganku ketika rasa telur memenuhi lidah. Aku tahu telur dingin itu bukan makanan terbaik yang pernah kurasakan, tapi seperti itulah rasanya. Tubuh ini hidup untuk saat ini.
Jamie mengalami reaksi yang sama. Ia menjejalkan telur itu ke mulut begitu cepat hingga sepertinya tak punya waktu untuk bernapas. Aku mengawasinya untuk memastikan ia tidak tersedak.
Aku makan lebih pelan, berharap bisa meyakinkan Jamie untuk menyantap sebagian jatahku setelah ia selesai.
Ketika perselisihan kecil kami berakhir dan perutku kenyang, barulah aku memperhatikan atmosfer di dapur. Dengan kegembiraan mendapat telur untuk sarapan setelah berbulan-bulan mendapat asupan itu-itu saja, aku mengharapkan semacam perasaan gembira. Tapi suasana muram dan semua percakapan dilakukan berbisik-bisik. Apakah ini reaksi atas kejadian semalam? Kuteliti ruangan, mencoba mengerti.
Orang-orang memang memandangiku, ada beberapa di sana-sini, tapi bukan hanya mereka yang berbisik-bisik serius. Yang lain sama sekali tidak menggubrisku. Lagi pula kelihatannya tak seorang pun tampak marah, atau merasa bersalah, atau tegang, atau segala emosi lainnya yang kuharapkan.
Tidak, mereka sedih. Keputusasaan terukir di setiap wajah di dalam ruangan ini.
Sharon orang terakhir yang kuamati. Ia makan di pojok, sendirian seperti biasa. Ia begitu tenang ketika menyantap sarapan dengan gerakan mekanis, sehingga pertama-tama kau tidak melihat air mata membasahi wajahnya. Air mata itu berjatuhan ke dalam makanannya. Tapi ia tetap makan, seakan tidak memperhatikan sama sekali.
"Apakah terjadi sesuatu pada Doc?" bisikku kepada Jamie. Mendadak aku merasa takut. Aku ingin tahu apakah aku bersikap paranoid--mungkin ini tak ada hubungannya denganku. Kesedihan di dalam ruangan sepertinya merupakan bagian drama lain manusia yang tidak menyertakanku. Inikah yang menyibukkan semua orang? Apakah telah terjadi kecelakaan?
Jamie memandang Sharon, lalu menghela napas sebelum menjawab. "Tidak, Doc baik-baik saja."
"Aunt Maggie? Apakah dia terluka?"
Jamie menggeleng.
"Di mana Walter?" desakku, masih berbisik. Kecemasan menggerogotiku ketika aku memikirkan hal buruk menimpa salah seorang temanku di sini, bahkan mereka yang membenciku.
"Aku tidak tahu. Aku yakin dia baik-baik saja."
Kini kusadari Jamie sama sedihnya seperti semua orang lainnya di sini.
"Ada apa, Jamie? Mengapa kau sedih?"
Jamie menunduk memandangi telurnya. Kini ia sengaja makan pelan-pelan, dan tidak menjawabku.
Ia menghabiskan makanannya tanpa bicara. Kucoba memberikan telurku kepadanya, tapi ia melotot begitu mengerikan sehingga aku mengambil makanan itu kembali dan menghabiskannya.
Kami meletakkan mangkuk kami di dalam ember plastik besar tempat piring kotor. Isinya begitu penuh, sehingga kuambil ember itu dari meja. Aku tak yakin apa yang terjadi di gua hari ini, tapi mestinya mencuci piring adalah pekerjaan aman.
Jamie mengikuti di samping, matanya waspada. Aku tidak menyukainya. Aku takkan membiarkan Jamie bertindak seperti pengawal pribadi, seandainya itu diperlukan. Tapi kemudian, ketika kami berjalan mengitari pinggiran ladang besar itu, pengawal pribadi tetapku menemukanku, jadi tak ada gunanya lagi melarang Jamie.
Tubuh Ian kotor. Debu cokelat muda menutupinya dari kepala sampai kaki, warnanya lebih gelap di tempat-tempat basah oleh keringat. Galur-galur cokelat yang menodai wajahnya tidak menutupi kelelahan di sana. Aku tidak terkejut melihat ia sama sedihnya seperti yang lain. Tapi debunya membuatku penasaran. Bukan debu hitam keungunan yang ada di gua. Pagi ini Ian berada di luar.
"Ini dia," gumam Ian, ketika melihat kami. Ia berjalan cepat, kedua kaki panjangnya menempuh jarak dengan langkah-langkah gelisah. Ketika sudah menyusul kami, ia tidak memperlambat langkah, tapi menggamit sikuku dan menuntunku bergegas, "Ayo, bersembunyi di sini sejenak."
Ian menarikku ke dalam mulut terowongan sempit yang menuju ke ladang timur--di sana jagungnya hampir siap dipanen. Ia tidak menuntunku jauh, hanya ke dalam kegelapan, agar kami tidak terlihat dari ruang besar itu. Kurasakan Jamie menyentuh ringan tanganku yang bebas.
Setelah setengah menit suara-suara pelan menggema dari ruang gua besar itu. Suara-suara itu tidak bersemangat--muram, sama tertekannya seperti semua wajah yang kuamati pagi ini. Suara - suara itu bergerak melewati kami, di dekat celah tempat kami bersembunyi. Tangan Ian menegang di sikuku, jemarinya menekan tempat lunak di atas tulangku. Kukenali suara Jared dan Kyle. Melanie berubah tegang di luar kendaliku, lagi pula kendaliku memang lemah. Kami ingin melihat wajah Jared. Untunglah Ian menahan kami.
"...tidak tahu mengapa kita membiarkannya terus berusaha. Jika sudah berakhir, maka sudah berakhir," ujar Jared.
"Dia benar-benar mengira bisa berhasil kali ini. Dia begitu yakin... Oh, well. Semua ini layak dilakukan kalau suatu hari nanti dia mendapatkan jawabannya," kata Kyle tidak setuju.
"Kalau," dengus Jared. "Kurasa kita beruntung menemukan brendi itu. Doc pasti bakal menghabiskan seluruhnya malam ini, jika melihat kecepatannya minum."
"Dia akan segera tak sadarkan diri," ujar Kyle, suaranya mulai menghilang di kejauhan. "Kuharap Sharon akan..." Lalu aku tak bisa mendengar mereka lagi.
Ian menunggu sampai suara-suara itu menghilang seluruhnya, lalu menunggu beberapa menit lagi, sebelum akhirnya melepaskan lenganku.
"Jared sudah berjanji," gumam Jamie kepadanya.
"Ya, tapi Kyle tidak," jawab Ian.
Mereka kembali memasuki cahaya. Aku mengikuti perlahan-lahan di belakang mereka, tak yakin apa yang kurasakan.
Untuk pertama kali Ian mengamati apa yang kubawa. "Tidak ada cuci piring sekarang," katanya. "Beri mereka kesempatan untuk bersih-bersih dan melanjutkan kehidupan."
Aku hendak bertanya mengapa Ian begitu kotor. Tapi mungkin, seperti Jamie, ia akan menolak untuk menjawab. Aku berbalik menatap terowongan yang menuju sungai-sungai, berspekulasi.
Ia mengeluarkan suara marah--ia baru saja melihat wajahku.
Ian mengangkat tangan, seakan hendak mengangkat daguku, tapi aku menjauh dan ia menjatuhkan tangannya.
"Itu membuatku mual," ujarnya. Suaranya benar-benar terdengar mual. "Dan yang lebih parah lagi, aku tahu seandainya ikut pergi menjarah, mungkin akulah yang bakal melakukannya..."
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa, Ian."
"Aku tidak setuju dengan itu," gumamnya. Lalu ia bicara kepada Jamie. "Mungkin kau harus pergi ke sekolah. Lebih baik kita membuat segalanya kembali normal secepat mungkin."
Jamie mengerang. "Hari ini Sharon akan seperti mimpi buruk."
Ian nyengir. "Waktunya untuk berkorban demi tim, Nak. Aku tidak iri padamu."
Jamie mendesah, menendang debu. "Jaga Wanda".
"Pasti."
Jamie berlalu, melirik ke belakang setiap beberapa menit, sampai ia menghilang ke dalam terowongan lain.
"Ayo, berikan kepadaku," ujar Ian, menarik ember berisi piring-piring dari tanganku, sebelum aku bisa bereaksi.
"Tidak terlalu berat untukku," kataku.
Ian nyengir. "Aku merasa tolol berdiri di sini dengan tangan kosong, sementara kau menyeret-nyeret ini. Anggap saja kesopanan. Ayo--ayo kita pergi bersantai di suatu tempat terpencil sampai semuanya beres."
Kata-katanya membuatku cemas, dan aku mengikutinya tanpa bicara. Mengapa harus bersikap sopan padaku?
Ian berjalan terus sampai ke ladang jagung. Ia melangkah di bagian rendah pematang, di antara batang-batang tanaman. Aku mengikuti di belakangnya sampai ia berhenti di suatu tempat di tengah ladang. Ia meletakkan ember berisi piring-piring itu, lalu duduk di tanah.
"Well, ini tempat terpencil," ujarku, seraya duduk bersila di tanah di sampingnya. "Tapi bukankah kita seharusnya bekerja?"
"Kau bekerja terlalu keras, Wanda. Hanya kau yang tidak pernah mengambil hari libur."
"Lebih baik daripada menganggur," gumamku.
"Semua orang libur hari ini, jadi sebaiknya kau libur juga."
Aku memandang Ian penasaran. Cahaya dari cermin-cermin memantulkan bayang-bayang ganda pada batang-batang tanaman jagung yang bersilangan di wajahnya seperti loreng zebra. Di balik garis-garis dan kotoran itu, wajah pucat Ian tampak lelah.
"Kau tampak seperti habis bekerja."
Matanya menegang. "Tapi sekarang aku beristirahat."
"Jamie tidak mau menceritakan apa yang terjadi," gumamku.
"Ya. Aku juga." Ian mendesah. "Lagi pula, kau pasti tak suka mendengarnya."
Aku menatap tanah, memandang tanah cokelat dan ungu gelap sementara perutku terpilin dan terkocok. Aku tak bisa memikirkan hal yang lebih buruk daripada tidak tahu, tapi mungkin itu hanya karena aku tidak punya imajinasi.
"Rasanya tidak adil, "ujar Ian setelah terdiam sejenak," karena aku tidak mau menjawab pertanyaanmu,  tapi apakah kau keberatan jika aku yang bertanya?"
Kusambut upayanya mengalihkan perhatian. "Silahkan."
Ian tidak langsung bicara, jadi aku mendongak untuk mengetahui alasan keraguannya. Ia menunduk, memandangi kotoran di punggung tangannya.
"Aku tahu kau bukan pembohong. Kini aku tahu itu," ujarnya pelan. "Aku akan percaya, apa pun jawabanmu."
Aku kembali menunggu, sementara Ian terus menatap kotoran di kulitnya.
"Sebelumnya aku tidak mempercayai cerita Jeb, tapi dia dan Doc sangat yakin... Wanda?" tanyanya, mencongak memandangku. "Apakah dia masih di dalam sana bersamamu? Gadis yang tubuhnya kaupakai?"
Ini bukan lagi rahasia--Jamie dan Jeb mengetahui kebenarannya. Ini juga bukan rahasia yang benar-benar penting. Bagaimanapun, aku percaya Ian takkan mengoceh kepada siapa pun yang hendak membunuhku karenanya. "Ya," jawabku. "Melanie masih ada di sini."
Ian mengangguk pelan. "Bagaimana rasanya? Bagimu? Baginya?"
"Membuat... frustasi, bagi kami berdua. Mulanya aku bersedia menyerahkan apa saja agar dia menghilang seperti seharusnya. Tapi kini aku... aku sudah terbiasa dengannya." Aku tersenyum masam. "Terkadang menyenangkan mempunyai teman. Ini lebih sulit bagi Melanie. Dalam banyak hal dia seperti tawanan. Terkurung di dalam kepalaku. Tapi dia lebih suka ditawan daripada menghilang."
"Aku tidak tahu ada pilihan semacam itu."
"Awalnya tidak ada. Perlawanan dimulai ketika bangsamu menyadari apa yang terjadi. Sepertinya itulah kuncinya--mengetahui apa yang bakal terjadi. Manusia yang diambil secara mendadak tidak memberikan perlawanan."
"Jadi, seandainya aku tertangkap?"
Kuamati ekspresi garang Ian--api di dalam mata cemerlangnya.
"Kurasa kau takkan menghilang. Tapi segalanya sudah berubah. Kini jika menangkap manusia dewasa, mereka tidak akan menawarkannya sebagai inang. Terlalu banyak masalah." Aku kembali tersenyum sedikit. "Masalah-masalah seperti yang kualami. Menjadi lembek, bersimpati terhadap inangku, kehilangan arah..."
Ian merenungkannya untuk waktu lama, sesekali memandang wajahku, sesekali memandangi batang-batang tanaman jagung, sesekali tidak memandang apa-apa.
"Lalu apa yang akan mereka lakukan padaku seandainya mereka menangkapku sekarang?" tanyanya akhirnya.
"Kurasa mereka masih akan melakukan penyisipan. Mencoba  memperoleh informasi. Mungkin mereka akan menyisipkan Pencari di dalam tubuhmu.
Ian bergidik.
"Tapi mereka takkan menggunakanmu sebagai inang. Tak peduli apakah mereka memperoleh informasi atau tidak, kau akan dibuang." Sulit mnegucapkan kata itu. Gagasan itu membuatku mual. Ini aneh, karena biasanya segala sesuatu yang berhubungan dengan manusialah yang membuatku mual. Tapi aku tak pernah memandang situasinya dari perspektif tubuh ini; tak ada planet yang memaksaku melakukan hal itu. Tubuh yang tidak berfungsi dengan baik akan segera dibuang, tanpa rasa sakit, karena tubuh itu sudah tidak berguna, sebagaimana halnya mobil mogok. Apa gunanya menyimpannya? Ada juga kondisi-kondisi benak yang membuat tubuh tak bisa digunakan: ketergantungan mental yang membahayakan, keinginan jahat, hal-hal yang tak bisa disembuhkan dan membuat tubuh tak aman bagi yang lan. Atau tentu saja benak dengan kemauan yang terlalu kuat untuk dienyahkan. Penyimpangan yang hanya terjadi di planet ini.
Sebelumnya aku tak pernahh menyadari salahnya menganggap roh yang tak terkalahkan sebagai kecacatan. Tapi kini hal itu tampak jelas bagiku, ketika memandang mata Ian.
"Dan seandainya mereka menangkapmu?" tanyanya.
"Seaindainya mereka menyadari sapa diriku... seandainya ada yang masih mencariku..." Aku membayangkan Pencari-ku, lalu bergidik. "Mereka akan mengeluarkanku dan menyisipkanku di dalam inang lain--seseorang yang masih muda, yang mudah dikendalikan. Mereka akan berharap aku bisa kembali menjadi diriku. Mungkin mereka akan mengirimku ke luar planet--menyingkirkanku dari pengaruh-pengaruh jahat."
"Apakah kau akan kembali menjadi dirimu?"
Aku membalas tatapan Ian. "Aku adalah aku. Aku belum menyerahkan diri kepada Melanie. Perasaanku akan sama seperti yang kini kurasakan, bahkan ketika aku menjadi Beruang atau Bunga."
"Mereka tidak akan membuangmu?"
"Sama sekali tidak. Bangsa kami tidak mengenal hukuman mati. Atau hukuman apa pun. Sungguh. Apa pun yang mereka lakukan, itu adalah untuk menyelamatkanku. Dulu aku selalu menganggap cara lain memang tak diperlukan, tapi kini aku memiliki diriku sendiri sebagai bukti untuk menentang teori itu. Mungkin membuangku adalah tindakan benar. Aku pengkhianat, bukan?"
Ian mengerutkan bibir. "Kurasa lebih tepat disebut ekspatriat. Kau belum mengkhianati mereka; kau hanya meninggalkan masyarakat mereka."
Kami kembali terdiam. Aku ingin mempercayai kebenaran perkataan Ian. Aku merenungkan kata ekspatriat, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak lebih buruk daripada itu.
Ian mengembuskan napas cukup keras sehingga aku terlompat. "Kalau Doc sudah sadar, kita akan memintanya memeriksa wajahmu." Ia mengulurkan tangan dan meletakkannya di daguku. Kali ini aku tidak menarik diri. Ia memalingkan kepalaku sehingga bisa meneliti luka itu.
"Tidak perlu. Aku yakin penampilan lukanya lebih buruk daripada yang sebenarnya."
"Kuharap begitu--kelihatannya mengerikan." Ian mendesah.
"Kurasa kita sudah cukup lama bersembunyi. Pasti Kyle sudah besih dan tak sadarkan diri. Perlu bantuan mencuci piring?"
Ian tidak membiarkanku mencuci piring di sungai kecil seperti yang biasa kulakukan. Ia bersikeras kami pergi ke kamar mandi gelap, karena di sana aku tak terlihat. Aku menggosok piring di ujung dangkal kolam gelap, sementara Ian membersihkan kotoran yang tertinggal di tubuhnya akibat pekerjaan misteriusnya. Lalu ia membantuku dengan mangkuk-mangkuk kotor terakhir.
Ketika kami sudah selesai, ia mendampingiku kembali ke dapur, yang mulai dipenuhi kerumunan orang yang makan siang. Ada lebih banyak hidangan makanan segar: iris-irisan roti putih empuk, keju cheddar berbau tajam, lingkaran-lingkaran sosis bologna merah dadu menggiurkan. Orang - orang menyantap dengan lahap, walaupun keputusasaan masih tampak pada bahu-bahu yang merosot, pada tidak adanya senyuman atau tawa.
Jamie menungguku di meja kami yang biasa. Dua tumpuk roti lapis tergeletak di hadapannya, tapi ia tidak makan. Lengannya terlipat. Ian mengamati ekspresi Jamie dengan penasaran, tapi ia pergi mengambil makanan tanpa bertanya.
Aku memutar bola mata melihat kekeraskepalaan Jamie, lalu mulai makan. Begitu aku mengunyah, Jamie langsung makan. Ian kembali dengan cepat, dan kami makan sambil membisu. Hidangannya sangat lezat, sehingga sulit membayangkan perlu mengobrol--atau melakukan apa pun yang bisa mengosongkan mulut kami.
Aku berhenti ketika sudah menambah satu kali, tapi Jamie dan Ian makan sampai mengerang kesakitan. Ian seolah hendak pingsan. Matanya berjuang untuk tetap terbuka.
"Kembalilah ke sekolah, Nak," ujarnya kepada Jamie.
Jamie mengamati Ian. "Mungkin aku harus mengambil alih..."
"Pergilah ke sekolah," ujarku cepat-cepat. Aku ingin Jamie berada dalam jarak aman dariku hari ini.
"Sampai jumpa lagi, oke? Jangan mengkhawatirkan... apa pun."
"Pasti." Satu kata bohong tidak bakal ketahuan. Atau mungkin aku hanya kembali bersikap sarkastis.
Setelah Jamie pergi, aku berbalik kepada Ian yang mengantuk. "Pergilah beristirahat. Aku akan baik-baik saja—aku akan tidur di suatu tempat yang tidak mencolok. Di tengah ladang jagung atau semacamnya.”
“Di mana kau tidur semalam?” Tanya Ian. Matanya tampak tajam di bawah kelopaknya yang setengah tertutup.
“Mengapa?”
“Sekarang aku bisa tidur di sana, dan kau bisa tampak tidak mencolok di sampingku.”
Kami hanya bergumam, dan kini nyaris berbisik. Tak seorang pun memperhatikan.
“Kau tak bisa mengawasiku setiap detik.”
“Berani bertaruh?”
Aku mengangkat bahu, menyerah. “Aku kembali ke… ke lubang. Tempat aku dulu ditawan.”
Ian mengernyit; ia tidak menyukainya. Tapi ia bangkit berdiri dan menuntunku kembali ke koridor gudang. Plaza utama kembali sibuk, dipenuhi orang yang bergerak di sekitar kebun. Semuanya muram, mata mereka memandang kaki.
Ketika kami sendirian di terowongan hitam itu, aku mencoba membantah Ian lagi.
“Ian, apa gunanya ini? Bukankah Jamie akan semakin terluka jika aku hidup lebih lama? Akhirnya akan lebih baik baginya jika—“
“Jangan berpikir seperti itu, Wanda. Kami bukan binatang. Kematianmu bukan hal yang tak terhindarkan.”
“Kurasa kau memang bukan binatang,” ujarku pelan.
“Terima kasih, walaupun aku tidak memaksudkannya sebagai tuduhan. Aku takkan menyalahkanmu, seandainya kau beranggapan seperti itu.”


Itulah akhir percakapan kami; saat itu kami sama-sama melihat cahaya biru pucat yang memantul samar dari sekitar belokan berikutnya di dalam terowongan.
“Sst,” bisik Ian. “Tunggu di sini.”
Ian mendorong bahuku dengan lembut, mencoba menahanku agar tetap berada di tempatku berdiri. Lalu ia melangkah maju, tanpa berusaha menyembunyikan suara langkahnya. Ia menghilang di belokan.
“Jared?” Kudengar Ian berkata, pura-pura terkejut.
Jantungku terasa berat; sensasinya lebih cenderung nyeri daripada takut.
“Aku tahu mahluk itu bersamamu,” jawab Jared. Ia meninggikan suara, sehingga siapa pun yang berada di antara tempat ini dan plaza utama akan mendengarnya. “Keluarlah, keluarlah, di mana pun kau berada,” panggilnya. Suaranya dingin dan mengejek.




Jual Nugget dan Sosis Sayur

Jual Nugget dan Sosis Sayur
Pemesanan via email : lwati111@gmail.com
Showing posts with label Sang Pengelana. Show all posts
Showing posts with label Sang Pengelana. Show all posts

The Host - 29

0 comments


Dikhianati

Mungkin seharusnya aku lari ke arah berlawanan. Tapi kini tak seorang pun menahanku. Dan walaupun suaranya dingin serta marah, Jared memanggilku. Melanie bahkan lebih bersemangat daripadaku, ketika aku berbelok hati-hati dan memasuki cahaya biru,. Aku bimbang.
Ian berdiri hanya beberapa puluh sentimeter di depanku, waspada, siap menghadapi apa pun yang mungkin dilakukan Jared kepadaku.
Jared duduk di tanah, di atas salah satu kasur yang ditinggalkan olehku dan Jamie di sana. Ia tampak sama lelahnya dengan Ian, walaupun matanya lebih  waspada dibandingkan bagian tubuhnya yang lain.
“Tenang,” ujar Jared kepada Ian. “Aku hanya ingin bicara dengan mahluk itu. Aku sudah berjanji kepada Jamie, dan aku akan memenuhi janjiku.”
“Mana Kyle?” desak Ian.
“Mendengkur. Guamu bisa roboh akibat getarannya.”
Ian tidak bergerak.
“Aku tidak berbohong, Ian. Dan aku tidak akan membunuh mahluk ini. Jeb benar. Tak peduli betapa kacaunya situasi konyol ini, Jamie punya hak yang sama denganku. Dan dia telah ditipu habis-habisan, jadi aku ragu apakah dia akan memberiku izin untuk membunuh mahluk itu dalam waktu dekat.”
“Tak seorang pun tertipu,” gerutu Ian.
Jared melambaikan tangan, mengakhiri perselisihan mengenai terminologi itu. “Takkan ada bahaya dariku. Itu maksudku.” Untuk pertama kali Jared memandangku, menilai caraku merapat ke dinding, mengamati tanganku yang gemetar. “Aku tidak akan melukaimu lagi,” ujarnya.
Aku maju sedikit
“Kau tak perlu bicara dengannya kalau tidak mau, Wanda,” ujar Ian cepat. “Ini bukan kewajiban atau tugas yang harus dipenuhi. Bukan keharusan. Kau punya pilihan.”
Sepasang alis Jared bertaut di atas matanya. Kata-kata Ian membuatnya bingung.
“Tidak.” Bisikku. “Aku akan bicara dengannya.” Aku maju selangkah lagi. Dengan tangannya Jared memberiku isyarat untuk maju.
Aku beralan perlahan-lahan, selangkah setiap kali, bukan gerakan maju yang mantap. Aku berhenti satu meter dari Jared. Ian membayangi setiap langkahku dan tetap di sisiku.
“Aku ingin bicara dengan mahluk itu sendirian, kalau kau tidak keberatan,” ujar Jared.
Ian tetap berdiri di tempatnya. “Aku keberatan.”
“Tidak, Ian, tidak apa-apa. Pergilah tidur. Aku akan baik-baik saja.” Kusikut pelan tangannya.
Ian meneliti wajahku, ekspresinya bimbang. “Ini bukan semacam keinginan terakhir? Supaya tidak menyakiti Jamie?” desaknya.
“Tidak. Jared takkan berbohong kepada Jamie soal ini.”
Jared memandang marah kepadaku ketika aku mengucapkan namanya dengan penuh percaya diri.
“Ayolah, Ian,” ujarku memohon. “Aku ingin bicara dengannya.”
Ian memandangku sejenak, lalu berbalik dan memandang marah kepada Jared. Ia mengucapkan setiap katanya seperti perintah.
“Namanya Wanda, bukan mahluk itu. Kau tidak boleh menyentuhnya. Bekas apa pun yang kautinggalkan padanya, aku akan menggandakannya pada kulit tak berhargamu.”
Aku terhenyak mendengar ancaman itu.
Ian berbalik cepat, lalu melangkah memasuki kegelapan.
Sejenak hening ketika kami memandang ruang kosong tempat Ian menghilang. Aku menatap wajah Jared lebh dulu, ia masih menatap kepergian Ian. Saat ia menoleh untuk membalas tatapanku, aku menunduk.
“Wow. Dia tidak bergurau, bukan?” ujar Jared.
Aku menganggap ini pertanyaan yang tak perlu dijawab.


“Mengapa kau tidak duduk?” Tanya Jared, menepuk kasur di sampingnya.
Sejenak aku mempertimbangkan tawarannya, lalu duduk bersandar di dinding yang sama, tapi di dekat lubang. Kubiarkan kasur menjadi jarak di antara kami. Melanie tidak menyukainya. Ia ingin berada di dekat Jared, ingin aku membaui aroma lelaki itu dan merasakan kehangatan tubuhnya di sampingku.
Aku tidak menginginkan semua itu—dan ini bukan karena aku takut Jared akan melukaiku. Ia tidak tampak marah, hanya lelah dan khawatir. Tapi aku tak ingin berada lebih dekat dengannya. Sesuatu di dalam dadaku terasa nyeri ketika ia berada begitu dekat—ketika ia membenciku dari jarak sedekat itu.
Jared mengamatiku dengan kepala dimiringkan. Aku hanya bisa membalas pandangannya sejenak, lalu berpaling.
“Maaf soal semalam—soal wajahmu. Seharusnya itu tidak kulakukan.”
Kutatap kedua tanganku yang terkepal di pangkuan
“Kau tidak perlu takut kepadaku.”
Aku mengangguk, tanpa memandang.
Ia menggerutu. “Kurasa kau tadi bilang ingin bicara denganku?”
Aku mengangkat bahu. Kebenciannya padaku membuatku gagal menemukan suaraku.
Aku mendengar Jared bergerak.  Ia beringsut pelan hingga duduk tepat di sampingku—seperti yang diharapkan Melanie. Terlalu dekat—sulit untuk berpikir dengan benar, sulit untuk bernapas dengan benar—tapi aku tak bisa menyuruh diriku beringsut menjauh. Anehnya, walaupun ini yang diinginkan Melanie sejak awal, tiba-tiba ia merasa jengkel.
Apa? Tanyaku, terkejut oleh intensitas emosi Melanie.
Aku tidak suka Jared berada di sampingmu. Rasanya keliru. Aku tidak suka caramu menginginkannya di sana. Untuk pertama kali sejak kami meninggalkan peradaban bersama-sama, kurasakan gelombang-gelombang permusuhan memancar dari Melanie. Aku terkejut. Itu hampir tak bisa disebut adil.
“Aku hanya punya satu pertanyaan,” ujar Jared, menyela pembicaraanku dengan Melanie.
Kubalas tatapannya, lalu aku berpaling—tersentak oleh tatapan dingin Jared dan kebencian Melanie.
“Mungkin kau bisa menebak pertanyaan itu. Jeb dan Jamie menghabiskan sepanjang malam untuk menguliahiku…”
Kutunggu pertanyaan Jared. Mataku menatap lurus menembus koridor yang gelap, menatap karung beras—bantalku semalam. Dari sudut mata aku melihat sebelah tangan Jared terangkat, dan aku merapat ke dinding.
“Aku tidak akan melukaimu,” kata Jared lagi, tidak sabar. Ia memegang daguku dengan tangannya yang kasar, menolehkan wajahku sehingga aku terpaksa memandangnya.
Jantungku tergeragap ketika Jared menyentuhku, dan mendadak air mataku merebak. Aku mengerjap-ngerjap, mencoba menjernihkan mata.
“Wanda,” Jared mengucapkan namaku perlahan-lahan—dengan enggan, aku tahu itu, walaupun suaranya datar dan tak bernada.
“Apakah Melanie masih hidup—masih menjadi bagian dari dirimu? Katakan yang sebenarnya.”
Melanie menyerangku dengan kekuatan luar biasa seperti banteng mengamuk. Rasanya menyakitkan secara fisik, seperti tusukan mendadak migren, di tempat ia mencoba menerobos keluar.
Hentikan! Tak bisakah kau melihatnya?
Hal itu sangat jelas terlihat dari bibir Jared ang terkatup erat, dan dari garis-garis tegang di bawah matanya. Tak peduli apa yang aku atau Melanie katakana.
Jared sudah menganggapku pembohong, ujarku kepada Melanie. Ia tidak menginginkan kebenaran—ia hanya mencari bukti, mencari semacam cara untuk membuktikan aku pembohong, bahwa aku Pencari, kepada Jeb dan Jamie, sehingga ia mendapat izin untuk membunuhku.
Melanie menolak untuk menjawab atau mempercayaiku. Aku harus berjuang agar ia tetap diam.
Jared mengamati bulir keringat di keningku dan getaran aneh yang mengguncang tulang punggungku, lalu matanya menyipit. Jared tetap memegang daguku, tak mau membiarkanku menyembunyikan wajah.
Jared, aku mencintaimu, Melanie mencoba berteriak. Aku ada di sini.
Bibirku tidak bergetar, tapi aku terkejut karena Jared tak bisa membaca kata-kata yang terlontar jelas di mataku.
Waktu berlalu dengan lambat ketika Jared menunggu jawabanku. Menyakitkan rasanya menatap ke dalam matanya, melihat tatapan jijik di sana. Seolah-olah itu  belum cukup, kemarahan Melanie terus mengiris-irisku dari dalam. Kecemburuannya membengkak menjadi banjir kesedihan yang melanda tubuhku dan mencemarinya.
Waktu berlalu, air mataku tak dapat ditahan lagi. Air mataku mengalir ke pipi dan bergulir pelan ke telapak tangan Jared. Ekspresinya tidak berubah.
Akhirnya aku tak sanggup lagi. Aku memejamkan mata dan menunduk. Jared tidak melukaiku. Ia menjatuhkan tangannya.
Ia mendesah, frustasi.
Kusangka dia bakal pergi. Kutatap lagi kedua tanganku, menunggu. Detak jantungku menandai berlalunya waktu. Jared tidak bergerak. Aku tidak bergerak. Ia seakan terpahat dari batu di sampingku. Ketenangan seperti batu ini sangat cocok untuknya. Cocok dengan ekspresi barunya yang keras, dengan batu api di matanya.
Melanie merenungkan Jared yang ini, lalu membandingkannya dengan lelaki yang dulu dikenalnya. Melanie ingat suatu hari dalam pelarian mereka, suatu hari yang biasa…
“Argh!” Jared dan Jamie mengerang bersama-sama.
Jared bersantai di sofa kulit dan Jamie tergeletak di karpet di depannya. Mereka sedang menonton pertandingan basket di TV layar lebar. Parasit-parasit yang tinggal di rumah ini sedang pergi bekerja, dan kami sudah mengisi jip dengan semua yang bisa ditampung di dalamnya. Kami punya waktu berjam-jam untuk istirahat, sebelum harus kembali menghilang.
Di TV, dua pemain sedang berselisih dengan sopan di luar garis. Juru kamera ada di dekat mereka, sehingga kami bisa mendengar apa yang mereka katakana.
“Kurasa aku orang terakhir yang menyentuhnya. Ini bolamu.”
“Aku tidak yakin soal itu. Aku tidak ingin mengambil kesempatan tidak adil. Sebaiknya kita meminta wasit melihat rekamannya.”
Kedua pemain berjabat tangan dan saling menepuk bahu lawan.
“Itu konyol,” gerutu Jared.
“Aku tidak tahan,” ujar Jamie setuju. Ia menirukan nada suara Jared dengan sempurna. Semakin hari ia semakin kedengaran seperti Jared. Itu salah satu dari banyak bentuk pemujaan Jamie terhadap Jared. “Ada acara yang lain?”
Jared mengganti beberapa saluran, sampai menemukan pertandingan atletik. Saat itu parasit-parasit sedang menggelar Olimpiade di Haiti. Dari yang bisa kami lihat, para mahluk luar angkasa itu sangat bersemangat mengikutinya. Banyak di antara mereka memasang bendera Olimpiade di luar rumah. Tapi Olimpiade ini tidak sama. Kini semua yang berpartisipasi dalam Olimpiade mendapat medali. Menyedihkan.
Tapi parasit – parasit itu tidak terlalu bisa mengacaukan pertandingan lari seratus meter. Olahraga yang dilakukan parasit secara individual jauh lebih menarik daripada jika mereka berkompetisi langsung. Performa mereka lebih baik jika berada di jalur terpisah.
“Mel, ayo bersantai,” panggil Jared.
Aku berdiri di samping pintu belakang. Ini diluar kebiasaanku, dan bukan karena aku siap lari. Bukan karena aku ketakutan. Ini hanya kebiasaan. Itu saja.
Kuhampiri Jared. Ia menarikku ke pangkuannya dan meletakkan kepalaku di bawah dagunya.
“Nyaman?” tanyanya.
“Ya,” jawabku, karena aku benar-benar, sungguh-sungguh, merasa sangat nyaman. Di sini, di rumah mahluk luar angkasa.
Dad dulu suka mengatakan banyak hal lucu—misalnya ia terkadang menciptakan bahasanya sendiri. Dua puluh tiga keminggatan, hari selada, pemarkir berisik, bersih segar, kursi panas, poci cokelat, dan sesuatu mengenai Grandma mengisap telur. Salah satu kesukaannya adalah seaman rumah.
Ketika mengajariku naik sepeda, dengan ibuku yang khawatir di ambang pintu, Dad mengatakan, “Tenang, Linda, jalanan ini seaman rumah.” Ketika meyakinkan Jamie untuk tidur dengan lampu dimatikan, Dad mengatakan, “Di sini seaman rumah, Nak, tak ada monster sejauh berkilo-kilometer.”
Lalu suatu malam dunia berubah jadi mimpi buruk mengerikan, dan frasa itu menjadi lelucon pahit bagiku dan Jamie. Rumah-rumah adalah tempat paling berbahaya yang kami kenal.
Ketika bersembunyi di petak pepohonan pinus pendek seraya menyaksikan mobil keluar dari garasi sebuah rumah terpencil, lalu memutuskan apakah hendak mencuri makanan, atau apakah terlalu berisiko, kami mengatakan, “Menurutmu parasit-parasit itu akan pergi lama?” “Tak mungkin—tempat itu seaman rumah. Ayo, pergi dari sini.”
Dan kini aku duduk di sini sambil menonton TV, seperti lima tahun yang lalu, ketika Mom dan Dad berada di ruang lain, dan kami tak pernah menghabiskan malam dengan bersembunyi di pipa saluran air bersama Jamie dan sekelompok tikus, sementara para perampas tubuh  bersenjatakan senter mencari pencuri yang kabur dengan sekantong kacang kering dan semangkuk spageti dingin.
Aku tahu bahwa, seandainya aku dan Jamie bisa bertahan selama dua puluh tahun, kami takkan pernah menemukan perasaan ini. Perasaan aman. Bahkan lebih dari aman—bahagia. Aman dan bahagia. Dua hal yang kupikir takkan pernah kurasakan lagi.
Jared membuat kami merasa seperti itu tanpa berbuat apa-apa—hanya dengan menjadi Jared.
Kucium aroma kulitnya dan kurasakan hangat tubuhnya di bawahku.
Jared membuat semuanya aman, semuanya membahagiakan. Bahkan rumah sekalipun.
Ia masih membuatku merasa aman, ujar Melanie tersadar. Ia merasakan kehangatan di tempat tangan Jared berada, hanya satu senti dari tanganku. Walaupun seandainya ia tidak tahu aku ada di sini.
Aku tidak merasa aman. Mencintai Jared membuatku merasa lebih tidak aman dibandingkan segala hal lain yang bisa kupikirkan.
Aku bertanya-tanya, apakah aku dan Melanie akan mencintai Jared seandainya sejak dulu lelaki ini memang seperti saat ini, dan bukan Jared yang tersenym dalam ingatan-ingatan kami, orang yang datang kepada Melanie dengan tangan penuh harapan dan mukjizat. Akankah Melanie mengikuti Jared, seandainya sejak dulu ia bersikap sangat keras dan sinis? Seandainya perasaan kehilangan yang dirasakan Jared terhadap ayahnya yang suka tertawa dan kakak-kakaknya yang urakan telah membekukannya, seperti yang dialaminya ketika kehilangan Melanie?
Tentu saja, ujar Mel yakin. Aku akan mencintai Jared dalam bentuk apa pun. Bahkan dalam keadaan seperti ini. Ia milikku.
Aku ingin tahu apakah hal yang sama berlaku untukku. Akankah aku mencintai Jared, seandainya ia seperti ini dalam ingatan Melanie?
Lamunanku terusik. Mendadak Jared bicara, walaupun aku tak menerima isyarat apa pun. Ia bicara seakan kami sedang di tengah percakapan.
“Lalu, berkat kau, Jeb dan Jamie percaya adanya kemungkinan untuk melanjutkan semacam kesadaran setelah… tertangkap. Mereka yakin Mel masih hidup di dalam sana.”
Jared mengetuk pelan kepalaku dengan kepalan tangannya, dan aku menjauhkan diri. Ia bersedekap.
“Jamie mengira Mel bicara dengannya.” Jared memutar bola mata. “Tak adil mempermainkannya seperti itu—tapi kurasa etika semacam it jelas tidak berlaku.”
Kubelitkan kedua tanganku pada tubuhku sendiri.
“Tapi Jeb ada benarnya—dan itulah yang membuatk penasaran! Kau mau apa? Pencarian para Pencari tidak terarah dengan baik, ata bahkan… mencurigakan. Tampaknya mereka hanya mencarimu—bukan mencari kami. Jadi, mungkin mereka tak tahu kau mau apa. Mungkin kau pekerja lepas? Semacam penyamaran Atau…”
Lebih mudah mengabaikan Jared ketika ia sedang berspekulasi dengan begitu tololnya. Aku memusatkan perhatian pada kedua lututku yang kotor, yang seperti biasa, berwarna ungu dan hitam.
“Mungkin mereka benar. Setidaknya soal membunuhmu.”
Tanpa terduga jemari Jared mengusap ringan lenganku yang merinding mendengar kata-katanya. Suaranya lebih lembut ketika ia kembali bicara. “Kini tak seorang pun akan melukaimu.  Selama kau tidak menimbulkan masalah apa pun…” Ia mengangkat bahu. “AKu sedikit memahami maksud mereka. Dengan cara yang sinting mungkin itu perbuatan keliru, seperti kata mereka. Mungkin tak ada alas an yang bisa dibenarkan ntuk… kecuali Jamie…”
Kepalaku langsung mendongak—mata Jared tajam, meneliti reaksiku. Aku menyesal telah memperlihatkan ketertarikan, sehingga kembali mengamati lututku.
“Aku ngeri melihat betapa semakin lengketnya Jamie kepadamu,” gumam Jared. “Seharusnya aku tidak meninggalkannya. Aku tak pernah membayangkan… dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Dia mengira Mel masih hidup di dalam sana. Apa akibatnya bagi Jamie ketika…?”
Kuperhatikan bahwa Jared mengatakan ketika, dan bukan jika. Tak peduli janji-janji apa yang telah dibuatnya, ia tidak menganggapkan bisa bertahan hidup cukup lama.
“Aku terkejut kau bisa memengaruhi Jeb,” renung Jared, mengubah pokok pembicaraan. “Dia lelaki tua yang cerdik. Dia bisa dengan mudah mengenali tipuan. Sampai saat ini.”
Sejenak Jared merenungkan perkataannya.
“Kau tidak terlalu suka bicara, ya?”
Muncul keheningan panjang lagi.
Kata-kata Jared mendadak berhamburan. “Bagian yang terus menggangguku adalah, bagaimana seandainya mereka benar? Bagaimana mungkin aku tahu? Aku benci betapa logika mereka masuk akal bagiku. Pasti ada penjelasan lain.”
Melanie kembali berjuang untuk bicara, walaupun tak seganas sebelumnya. Kali ini tanpa harapan untuk bisa menembus keluar. Aku tetap mengunci kedua lengan dan bibirku.
Jared bergerak, bergeser menjauhi dinding sehingga tubuhnya menghadapku. Kuamati gerakan itu dari sudut mata.
“Mengapa kau di sini?” bisiknya.
Kuintip wajah Jared. Lembut, baik hati, nyaris seperti dalam ingatan Melanie. Aku merasakan luruhnya pengendalian diriku; bibirku gemetar. Perlu segenap kekuatan untuk menjaga agar lenganku tetap terkunci. Aku ingin menyentuh wajah Jared. Akulah yang menginginkannya. Melanie tidak suka ini.
Jika kau tidak membolehkanku bicara, setidaknya jaga tanganmu, desis Mel.
Aku usahakan. Maaf. Aku menyesal. Keinginanku telah melukai Melanie. Kami sama-sama terluka, tapi luka kami berbeda. Sulit untuk mengetahui siapa yang lebih terluka saat ini.
Jared mengamatiku penuh curiga ketika mataku kembali berkaca-kaca.
“Mengapa?” tanyanya pelan. “Kau tahu, Jeb punya gagasan sinting bahwa ka berada di sini demi aku dan Jamie. Bukankah itu gila?”
Mulutku setengah terbuka; cepat-cepat aku menggigit bibir.
Jared mencondongkan tubuh perlahan-lahan dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. Mataku terpejam.
“Maukah kau mengatakannya kepadaku?”
Kepalaku menggeleng, dengan cepat. Aku tak yakin siapa yang melakukannya. Apakah aku yang mengatakan tidak mau, atau Melanie yang mengatakan tidak bisa?
Kedua tangan Jared semakin erat di bawah rahangku. Aku membuka mata, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Jantungku berdebar-debar, perutku mulas. Aku mencoba untuk bernapas, tapi paru-paruku menolak.
Kukenali hasrat itu di mata Jared; aku tahu bagaimana ia akan bergerak, tahu dengan tepat rasa bibirnya. Namun ini sangat baru bagiku—pengalaman pertama lebih mengejutkan daripada pengalaman lainnya—ketika bibir Jared menekan bibirku.


Kupikir ia hanya bermaksud mengusapkan bibirnya ke bibirku, hanya ingin bersikap lembut, tapi semua berubah ketika kulit kami bersentuhan. Dengan cepat bibir Jared berubah keras dan kasar, tangannya memerangkap wajahku pada wajahnya, sementara bibirnya menggerakkan bibirku dengan gerakan mendesak yang tak kukenal. Berbeda sekali dengan yang ada dalam ingatanku. Jauh lebih kuat. Kepalaku melayang kacau. 

 
Tubuhku memberontak. Aku tak lagi mengendalikannya—tubuhku yang mengendalikanku. Itu bukan Melanie—kini tubuh ini lebih kuat daripada kami berdua. Napas kami menggema keras; napasku liar dan terengah-engah, napas Jared garang, nyaris menggeram.
Lenganku melepaskan diri dari kendaliku. Tangan kiriku meraih wajah Jared, meraih rambutnya, membenamkan jemariku di sana.
Tangan kananku lebih cepat. Itu bukan tanganku.
Kepalan Melanie menghantam rahang Jared, menyingkirkan wajahnya dari wajahku dengan suara gedebuk pelan. Daging menimpa daging, keras dan marah. 


Kekuatan pukulan itu tak cukup untuk menyingkirkan Jared jauh-jauh, tapi ia menjauh dariku begitu bibir kami terpisah. Ia terperangah, matanya terbelalak ngeri, menatap ekspresiku yang ketakutan.


Aku menunduk memandang tanganku yang masih terkepal, dan merasa sama jijiknya seperti menemukan kalajengking tumbuh di ujung lenganku. Helaan napas muak keluar dari tenggorokanku. Kuraih pergelangan tangan kananku dengan tangan kiri, berjuang mati-matian agar Melanie tidak menggunakan tubuhku lagi untuk kekerasan.
Aku melirik Jared. Ia juga sedang menatap kepalan tangan yang kutahan. Ketakutannya memudar, digantikan keterkejutan. Saat itu ekspresinya benar-benar tak berdaya. Aku bisa dengan mudah membaca pikiran-pikiran yang melintas di wajahnya yang tak terkunci.
Bukan ini yang diharapkan Jared. Tadinya ia memiliki harapan-harapan; itu jelas terlihat. Ini ujian. Dan ia mengira dirinya siap untuk menilai ujian itu. Ujian yang hasilnya telah ia antisipasi dengan penuh keyakinan. Tapi ia terkejut.
Apakah itu berarti aku lulus atau gagal?
Rasa nyeri di dadaku tidak mengejutkan. Aku sudah tahu ungkapan patah hati tidaklah dilebih-lebihkan.
Dalam situasi antara melawan atau lari, aku tak pernah punya pilihan. Aku selalu memilih untuk lari. Karena Jared berada di antara diriku dan kegelapan lubang keluar terowongan, aku berguling dan melemparkan diri ke lubang penuh kotak.
Kotak-kotaknya tergencet, bergemeretak, dan hancur ketika bobotku mendorong semuanya ke dinding, ke lantai. Kudesakkan jalanku ke ruang kosong yang mustahil, meliuk menghindari kotak-kotak yang lebih berat dan menghancurkan kotak-kotak lainnya. Kurasakan jemari Jared menggores kakiku ketika ia meraih pergelangan kakiku, dan kutendak kotak yang isinya lebih padat ke ruang di antara kami. Jared menggeram, dan perasaan putus asa mencekik leherku. Aku tak bermaksud melukainya; aku tak bermaksud memukulnya. Aku hanya mencoba melarikan diri.
Aku tidak mendengar isak tangisku sendiri, yang begitu keras sampai, sampai aku tak bisa masuk lebih jauh lagi ke lubang sesak itu, dan kegaduhan yang kuciptakan berhenti. Ketika aku mendengarnya sendiri, mendengar isak tangis kesedihan yang menyayat dan mencabik-cabik itu, aku merasa  malu.
Begitu malu, begitu terhina. Aku takut terhadap diriku sendiri, takut terhadap tindak kekerasan yang kubiarkan mengalir lewat tubuhku, tak peduli kusadari atau tidak. Tapi bukan itu penyebab tangisku. Aku menangis karena itu hanya ujian. Dan karena aku mahluk emosional yang sangat, sangat, sangat tolol, aku menginginkan itu ciuman sesungguhnya.
Melanie menggeliat penuh kesedihan di dalam tubuhku, dan sulit bagiku untuk memahami rasa nyeri ganda ini. Aku merasa sekarat, karena itu bukan ciuman sesungguhnya; Melanie merasa sekarat, karena baginya ciuman itu terasa cukup nyata. Di dalam segalanya yang hilang dari Melanie sejak akhir dunianya, dulu sekali, ia belum pernah merasa dikhianati. Ketika ayahnya membawa para Pencari untuk memburu anak-anaknya sendiri, Melanie tahu itu bukan ayahnya. Tak ada pengkhianatan, yang ada hanya kesedihan. Ayahnya sudah mati. Tapi Jared masih hidup dan menjadi dirinya sendiri.
Tolol. Tak seorang pun mengkhianatimu, ujarku menegur Melanie. Aku ingin rasa sakit itu lenyap darinya. Beban tambahan berupa penderitaannya tak tertahankan bagiku. Penderitaanku sendiri sudah cukup.
Teganya Jared? Teganya Jared? Melanie mengucapkan kata-kata itu berulang kali, mengabaikanku.
Kami menangis, tak terkendali.
Satu kata memulihkan kami dari keadaan nyaris histeris.
Dari mulut lubang, suara Jared yang rendah dan kasar—terdengar parau, dan anehnya, seperti kanak-kanak—bertanya, “Mel?”

The Host - Bab 28

0 comments
Bingung

Rasanya membingungkan ketika terbangun di dalam kegelapan total. Pada bulan-bulan terakhir aku terbiasa melihat matahari yang mengatakan hari sudah pagi. Pertama-tama aku mengira hari masih malam, tapi perasaan menyengat di wajahku dan rasa nyeri di punggungku mengingatkanku di mana aku berada.

Di sampingku, aku bisa mendengar suara napas pelan teratur. Tidak membuatku takut, karena itu suara yang paling kukenal di sini. Aku tidak terkejut melihat Jamie menyelinap kembali untuk tidur di sampingku semalam.
Mungkin perubahan pada napaskulah yang membangunkannya, atau mungkin itu hanya karena jadwal kami telah selaras. Tapi beberapa detik setelah aku terbangun, Jamie sedikit menghela napas terkejut.
"Wanda?" bisiknya.
"Aku di sini."
Ia menghela napas lega.
"Gelap sekali di sini," ujarnya.
"Ya."
"Menurutmu sudah waktunya sarapan?"
"Aku tak tahu."
"Aku lapar. Ayo, kita lihat."
Aku tidak menjawab.
Jamie mengartikan kebisuanku dengan benar, karena ia tertegun.
"Kau tidak perlu bersembunyi di sini, Wanda," ujarnya sungguh-sungguh, setelah sejenak menungguku bicara. "Semalam aku bicara dengan Jared. Dia akan berhenti mengganggumu--dia berjanji."
Aku nyaris tersenyum. Menggangguku.
"Maukah kau pergi bersamaku?" desak Jamie. Tangannya menemukan tanganku.
"Kau benar-benar ingin aku melakukan itu?" tanyaku pelan.
"Ya. Semuanya akan sama seperti sebelumnya."
Mel? Apakah ini yang terbaik?
Aku tak tahu. Melanie bingung. Ia tahu dirinya tak bisa bersikap objektif; ia ingin berjumpa dengan Jared.
Kau tahu, itu sinting.
Tidak sesinting kenyataan bahwa kau ingin bertemu dengannya juga.
"Baiklah, Jamie," ujarku setuju. "Tapi jangan sedih kalau keadaan tidak sama seperti sebelumnya, oke? Kalau segalanya jadi buruk... Well, jangan terkejut."
"Semua akan baik-baik saja. Nanti kaulihat sendiri."
Kubiarkan Jamie menuntunku keluar dari kegelapan dengan menarik tanganku yang masih digenggamnya. Aku menguatkan diri ketika kami memasuki ruang gua dengan kebun besar itu. Aku tak bisa memastikan reaksi semua orang terhadapku hari ini. Siapa yang tahu, perkataan apa yang terucap ketika aku tidur?
Tapi kebun kosong, walaupun matahari bersinar cera di langit pagi. Cahaya matahari memantul dari ratusan cermin, sejenak membutakanku.
Jamie tidak tertarik pada ruang gua kosong itu. Matanya memandang wajahku, dan ia menghela napas tajam lewat sela-sela gigi ketika cahaya menyentuh pipiku.
"Oh," ujar Jamie terkejut. "Kau baik-baik saja? Apakah rasanya sakit sekali?"
Kusentuh ringan wajahku. Kulitnya terasa kasar--kotoran yang mengeras dalam darah. Rasanya berdenyut-denyut ketika tersapu jari.
"Tidak apa-apa," bisikku. Ruang gua kosong itu membuatku cemas--aku tak ingin bicara terlalu keras. "Di mana semua orang?"
Jamie mengangkat bahu, tatapannya masih tegang ketika meneliti wajahku. "Sibuk, kurasa," Ia tidak merendahkan suaranya.
Ini mengingatkanku pada kejadian semalam, pada rahasia yang tak mau diceritakannya kepadaku. Alisku bertaut.
Menurutmu apa yang tidak diceritakannya kepada kita?
Kita sama-sama tak tahu, Wanda.
Kau manusia. Bukankah kau seharusnya punya intuisi atau semacam itu?
Intuisi? Intuisiku mengatakan kita tidak mengenal tempat ini sebaik yang kita sangka, ujar Melanie.
Kami merenungkan ucapan penuh ancaman itu.
Rasanya nyaris melegakan ketika aku mendengar suara-suara normal di waktu makan yang berasal dari koridor dapur. Tak ada orang tertentu yang ingin kujumpai--tentu saja selain kerinduan sinting untuk bertemu Jared. Tapi terowongan-terowongan yang sepi, ditambah pengetahuan bahwa ada sesuatu yang dirahasiakan dariku, membuatku gelisah.
Dapurnya bahkan tidak terisi setengahnya---itu hal yang aneh di pagi seperti ini. Tapi itu nyaris tidak kuperhatikan, karena aroma dari oven batu mengalahkan semua pikiran lain.
"Oooh," erang Jamie. "Telur!"
Jamie menarikku lebih cepat, dan aku sama sekali tidak keberatan mengikutinya. Kami bergegas, perut keroncongan, menuju meja di dekat oven. Di sana Lucina, sang ibu, berdiri dengan sendok sayur plastik di tangan. Biasanya sarapan bisa diambil sendiri, tapi biasanya sarapan hanya terdiri atas roti bulat keras.
Lucina hanya memandang Jamie ketika bicara, "Satu jam yang lalu rasanya lebih enak."
"Sekarang pun tetap enak," jawab Jamie antusias. "Semua sudah makan?"
"Hampir semua. Kurasa mereka membawa nampan mereka ke tempat Doc, dan yang lain..." Lucina berhenti, mataknya melirikku untuk pertama kali. Jamie melirikku juga. Aku tidak memahami ekspresi Lucina. Ekspresi itu menghilang begitu cepat, digantikan sesuatu yang lain ketika ia meneliti bekas-bekas luka baru di wajahku.
"Berapa banyak yang tersisa?" tanya Jamie. Kini kegairahannya terdengar sedikit dipaksakan.
Lucina berbalik lalu membungkuk, menarik panci logam dari batu-batu panas di bagian bawah oven dengan sendok sayur. "Berapa banyak yang kauinginkan, Jamie? Ada banyak," ujarnya tanpa berbalik.
"Anggap saja aku Kyle," kata jamie sambil tertawa.
"Seukuran porsi Kyle kalau begitu," ujar Lucina. Tapi ketika ia tersenyum, matanya tampak muram.
Lucina mengisi satu mangkuk sup dengan telur orak-arik, berdiri, lalu menyerahkannya kepada Jamie.
Lucina kembali melirikku, dan kupahami apa arti pandangan ini.
"Ayo, duduk di sana, Jamie," kataku, menariknya pergi dari meja.
Jamie menatap takjub. "Kau tidak mau ini?"
"Tidak. Aku--" aku hendak mengatakan "baik-baik saja," tapi perutku yang keroncongan membangkang.
"Wanda?" Jamie memandangku, lalu ganti menatap Lucina yang bersedekap.
"Aku makan roti saja," gumamku, mencoba menarik Jamie pergi.
"Tidak. Lucina, apa masalahnya?" Jamie memandang Lucina penuh harap. Lucina tidak bergerak. "Kalau kau sudah selesai bertugas, aku akan menggantikanmu," saran Jamie. matanya menyipit dan mulutnya membentuk garis tegas.
Lucina mengangkat bahu, lalu meletakkan sendok sayur di meja batu. Ia berjalan pergi perlahan-lahan, tanpa memandangku lagi.
"Jamie," gumamku, berbisik cepat. "Makanan ini bukan untukku. Jared dan yang lain tidak mempertaruhkan nyawa supaya aku bisa makan telur untuk sarapan. Roti tidak apa-apa."
"Jangan tolol, Wanda," ujar Jamie. "Kau tinggal di sini sekarang, sama seperti kami semua. Tak seorang pun keberatan ketika kau mencucikan pakaian atau memanggangkan roti mereka. Lagi pula telur-telur ini tidak tahan lama. Kalau tidak kausantap, telur-telur ini akan terbuang."
Kurasakan semua mata di dalam ruangan menatap punggungku.
"Mungkin itu lebih baik untuk sebagian mereka ," ujarku lebih pelan. Tak seorang pun, kecuali Jamie, yang bisa mendengarnya.
"Biar saja," gerutu Jamie. Ia melompati meja dan mengisi satu mangkuk lagi dengan telur, lalu menyorongkannya kepadaku. "Kau harus menghabiskannya," ujarnya tegas.
Kupandang mangkuk itu. Air liurku menetes. Kudorong telur itu menjauh beberapa senti dariku, lalu bersedekap.
Jamie memberengut. "Baiklah," ujarnya. Lalu ia mendorong mangkuknya sendiri. "Kau tidak makan. Aku tidak makan." Perutnya bergemuruh keras. Ia bersedekap.
Kami bertatapan selama dua menit yang terasa lama, perut sama-sama keroncongan ketika kami mencium aroma telur. Sesekali Jamie melirik mangkuknya. Itulah yang membuatku mengalah--melihat hasrat di matanya.
"Baiklah," ujarku. Kuselipkan mangkuk itu ke tangan Jamie, lalu mengambil mangkukku. Ia baru menyentuh makanannya setelah aku mulai menyuap. Kutahan eranganku ketika rasa telur memenuhi lidah. Aku tahu telur dingin itu bukan makanan terbaik yang pernah kurasakan, tapi seperti itulah rasanya. Tubuh ini hidup untuk saat ini.
Jamie mengalami reaksi yang sama. Ia menjejalkan telur itu ke mulut begitu cepat hingga sepertinya tak punya waktu untuk bernapas. Aku mengawasinya untuk memastikan ia tidak tersedak.
Aku makan lebih pelan, berharap bisa meyakinkan Jamie untuk menyantap sebagian jatahku setelah ia selesai.
Ketika perselisihan kecil kami berakhir dan perutku kenyang, barulah aku memperhatikan atmosfer di dapur. Dengan kegembiraan mendapat telur untuk sarapan setelah berbulan-bulan mendapat asupan itu-itu saja, aku mengharapkan semacam perasaan gembira. Tapi suasana muram dan semua percakapan dilakukan berbisik-bisik. Apakah ini reaksi atas kejadian semalam? Kuteliti ruangan, mencoba mengerti.
Orang-orang memang memandangiku, ada beberapa di sana-sini, tapi bukan hanya mereka yang berbisik-bisik serius. Yang lain sama sekali tidak menggubrisku. Lagi pula kelihatannya tak seorang pun tampak marah, atau merasa bersalah, atau tegang, atau segala emosi lainnya yang kuharapkan.
Tidak, mereka sedih. Keputusasaan terukir di setiap wajah di dalam ruangan ini.
Sharon orang terakhir yang kuamati. Ia makan di pojok, sendirian seperti biasa. Ia begitu tenang ketika menyantap sarapan dengan gerakan mekanis, sehingga pertama-tama kau tidak melihat air mata membasahi wajahnya. Air mata itu berjatuhan ke dalam makanannya. Tapi ia tetap makan, seakan tidak memperhatikan sama sekali.
"Apakah terjadi sesuatu pada Doc?" bisikku kepada Jamie. Mendadak aku merasa takut. Aku ingin tahu apakah aku bersikap paranoid--mungkin ini tak ada hubungannya denganku. Kesedihan di dalam ruangan sepertinya merupakan bagian drama lain manusia yang tidak menyertakanku. Inikah yang menyibukkan semua orang? Apakah telah terjadi kecelakaan?
Jamie memandang Sharon, lalu menghela napas sebelum menjawab. "Tidak, Doc baik-baik saja."
"Aunt Maggie? Apakah dia terluka?"
Jamie menggeleng.
"Di mana Walter?" desakku, masih berbisik. Kecemasan menggerogotiku ketika aku memikirkan hal buruk menimpa salah seorang temanku di sini, bahkan mereka yang membenciku.
"Aku tidak tahu. Aku yakin dia baik-baik saja."
Kini kusadari Jamie sama sedihnya seperti semua orang lainnya di sini.
"Ada apa, Jamie? Mengapa kau sedih?"
Jamie menunduk memandangi telurnya. Kini ia sengaja makan pelan-pelan, dan tidak menjawabku.
Ia menghabiskan makanannya tanpa bicara. Kucoba memberikan telurku kepadanya, tapi ia melotot begitu mengerikan sehingga aku mengambil makanan itu kembali dan menghabiskannya.
Kami meletakkan mangkuk kami di dalam ember plastik besar tempat piring kotor. Isinya begitu penuh, sehingga kuambil ember itu dari meja. Aku tak yakin apa yang terjadi di gua hari ini, tapi mestinya mencuci piring adalah pekerjaan aman.
Jamie mengikuti di samping, matanya waspada. Aku tidak menyukainya. Aku takkan membiarkan Jamie bertindak seperti pengawal pribadi, seandainya itu diperlukan. Tapi kemudian, ketika kami berjalan mengitari pinggiran ladang besar itu, pengawal pribadi tetapku menemukanku, jadi tak ada gunanya lagi melarang Jamie.
Tubuh Ian kotor. Debu cokelat muda menutupinya dari kepala sampai kaki, warnanya lebih gelap di tempat-tempat basah oleh keringat. Galur-galur cokelat yang menodai wajahnya tidak menutupi kelelahan di sana. Aku tidak terkejut melihat ia sama sedihnya seperti yang lain. Tapi debunya membuatku penasaran. Bukan debu hitam keungunan yang ada di gua. Pagi ini Ian berada di luar.
"Ini dia," gumam Ian, ketika melihat kami. Ia berjalan cepat, kedua kaki panjangnya menempuh jarak dengan langkah-langkah gelisah. Ketika sudah menyusul kami, ia tidak memperlambat langkah, tapi menggamit sikuku dan menuntunku bergegas, "Ayo, bersembunyi di sini sejenak."
Ian menarikku ke dalam mulut terowongan sempit yang menuju ke ladang timur--di sana jagungnya hampir siap dipanen. Ia tidak menuntunku jauh, hanya ke dalam kegelapan, agar kami tidak terlihat dari ruang besar itu. Kurasakan Jamie menyentuh ringan tanganku yang bebas.
Setelah setengah menit suara-suara pelan menggema dari ruang gua besar itu. Suara-suara itu tidak bersemangat--muram, sama tertekannya seperti semua wajah yang kuamati pagi ini. Suara - suara itu bergerak melewati kami, di dekat celah tempat kami bersembunyi. Tangan Ian menegang di sikuku, jemarinya menekan tempat lunak di atas tulangku. Kukenali suara Jared dan Kyle. Melanie berubah tegang di luar kendaliku, lagi pula kendaliku memang lemah. Kami ingin melihat wajah Jared. Untunglah Ian menahan kami.
"...tidak tahu mengapa kita membiarkannya terus berusaha. Jika sudah berakhir, maka sudah berakhir," ujar Jared.
"Dia benar-benar mengira bisa berhasil kali ini. Dia begitu yakin... Oh, well. Semua ini layak dilakukan kalau suatu hari nanti dia mendapatkan jawabannya," kata Kyle tidak setuju.
"Kalau," dengus Jared. "Kurasa kita beruntung menemukan brendi itu. Doc pasti bakal menghabiskan seluruhnya malam ini, jika melihat kecepatannya minum."
"Dia akan segera tak sadarkan diri," ujar Kyle, suaranya mulai menghilang di kejauhan. "Kuharap Sharon akan..." Lalu aku tak bisa mendengar mereka lagi.
Ian menunggu sampai suara-suara itu menghilang seluruhnya, lalu menunggu beberapa menit lagi, sebelum akhirnya melepaskan lenganku.
"Jared sudah berjanji," gumam Jamie kepadanya.
"Ya, tapi Kyle tidak," jawab Ian.
Mereka kembali memasuki cahaya. Aku mengikuti perlahan-lahan di belakang mereka, tak yakin apa yang kurasakan.
Untuk pertama kali Ian mengamati apa yang kubawa. "Tidak ada cuci piring sekarang," katanya. "Beri mereka kesempatan untuk bersih-bersih dan melanjutkan kehidupan."
Aku hendak bertanya mengapa Ian begitu kotor. Tapi mungkin, seperti Jamie, ia akan menolak untuk menjawab. Aku berbalik menatap terowongan yang menuju sungai-sungai, berspekulasi.
Ia mengeluarkan suara marah--ia baru saja melihat wajahku.
Ian mengangkat tangan, seakan hendak mengangkat daguku, tapi aku menjauh dan ia menjatuhkan tangannya.
"Itu membuatku mual," ujarnya. Suaranya benar-benar terdengar mual. "Dan yang lebih parah lagi, aku tahu seandainya ikut pergi menjarah, mungkin akulah yang bakal melakukannya..."
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa, Ian."
"Aku tidak setuju dengan itu," gumamnya. Lalu ia bicara kepada Jamie. "Mungkin kau harus pergi ke sekolah. Lebih baik kita membuat segalanya kembali normal secepat mungkin."
Jamie mengerang. "Hari ini Sharon akan seperti mimpi buruk."
Ian nyengir. "Waktunya untuk berkorban demi tim, Nak. Aku tidak iri padamu."
Jamie mendesah, menendang debu. "Jaga Wanda".
"Pasti."
Jamie berlalu, melirik ke belakang setiap beberapa menit, sampai ia menghilang ke dalam terowongan lain.
"Ayo, berikan kepadaku," ujar Ian, menarik ember berisi piring-piring dari tanganku, sebelum aku bisa bereaksi.
"Tidak terlalu berat untukku," kataku.
Ian nyengir. "Aku merasa tolol berdiri di sini dengan tangan kosong, sementara kau menyeret-nyeret ini. Anggap saja kesopanan. Ayo--ayo kita pergi bersantai di suatu tempat terpencil sampai semuanya beres."
Kata-katanya membuatku cemas, dan aku mengikutinya tanpa bicara. Mengapa harus bersikap sopan padaku?
Ian berjalan terus sampai ke ladang jagung. Ia melangkah di bagian rendah pematang, di antara batang-batang tanaman. Aku mengikuti di belakangnya sampai ia berhenti di suatu tempat di tengah ladang. Ia meletakkan ember berisi piring-piring itu, lalu duduk di tanah.
"Well, ini tempat terpencil," ujarku, seraya duduk bersila di tanah di sampingnya. "Tapi bukankah kita seharusnya bekerja?"
"Kau bekerja terlalu keras, Wanda. Hanya kau yang tidak pernah mengambil hari libur."
"Lebih baik daripada menganggur," gumamku.
"Semua orang libur hari ini, jadi sebaiknya kau libur juga."
Aku memandang Ian penasaran. Cahaya dari cermin-cermin memantulkan bayang-bayang ganda pada batang-batang tanaman jagung yang bersilangan di wajahnya seperti loreng zebra. Di balik garis-garis dan kotoran itu, wajah pucat Ian tampak lelah.
"Kau tampak seperti habis bekerja."
Matanya menegang. "Tapi sekarang aku beristirahat."
"Jamie tidak mau menceritakan apa yang terjadi," gumamku.
"Ya. Aku juga." Ian mendesah. "Lagi pula, kau pasti tak suka mendengarnya."
Aku menatap tanah, memandang tanah cokelat dan ungu gelap sementara perutku terpilin dan terkocok. Aku tak bisa memikirkan hal yang lebih buruk daripada tidak tahu, tapi mungkin itu hanya karena aku tidak punya imajinasi.
"Rasanya tidak adil, "ujar Ian setelah terdiam sejenak," karena aku tidak mau menjawab pertanyaanmu,  tapi apakah kau keberatan jika aku yang bertanya?"
Kusambut upayanya mengalihkan perhatian. "Silahkan."
Ian tidak langsung bicara, jadi aku mendongak untuk mengetahui alasan keraguannya. Ia menunduk, memandangi kotoran di punggung tangannya.
"Aku tahu kau bukan pembohong. Kini aku tahu itu," ujarnya pelan. "Aku akan percaya, apa pun jawabanmu."
Aku kembali menunggu, sementara Ian terus menatap kotoran di kulitnya.
"Sebelumnya aku tidak mempercayai cerita Jeb, tapi dia dan Doc sangat yakin... Wanda?" tanyanya, mencongak memandangku. "Apakah dia masih di dalam sana bersamamu? Gadis yang tubuhnya kaupakai?"
Ini bukan lagi rahasia--Jamie dan Jeb mengetahui kebenarannya. Ini juga bukan rahasia yang benar-benar penting. Bagaimanapun, aku percaya Ian takkan mengoceh kepada siapa pun yang hendak membunuhku karenanya. "Ya," jawabku. "Melanie masih ada di sini."
Ian mengangguk pelan. "Bagaimana rasanya? Bagimu? Baginya?"
"Membuat... frustasi, bagi kami berdua. Mulanya aku bersedia menyerahkan apa saja agar dia menghilang seperti seharusnya. Tapi kini aku... aku sudah terbiasa dengannya." Aku tersenyum masam. "Terkadang menyenangkan mempunyai teman. Ini lebih sulit bagi Melanie. Dalam banyak hal dia seperti tawanan. Terkurung di dalam kepalaku. Tapi dia lebih suka ditawan daripada menghilang."
"Aku tidak tahu ada pilihan semacam itu."
"Awalnya tidak ada. Perlawanan dimulai ketika bangsamu menyadari apa yang terjadi. Sepertinya itulah kuncinya--mengetahui apa yang bakal terjadi. Manusia yang diambil secara mendadak tidak memberikan perlawanan."
"Jadi, seandainya aku tertangkap?"
Kuamati ekspresi garang Ian--api di dalam mata cemerlangnya.
"Kurasa kau takkan menghilang. Tapi segalanya sudah berubah. Kini jika menangkap manusia dewasa, mereka tidak akan menawarkannya sebagai inang. Terlalu banyak masalah." Aku kembali tersenyum sedikit. "Masalah-masalah seperti yang kualami. Menjadi lembek, bersimpati terhadap inangku, kehilangan arah..."
Ian merenungkannya untuk waktu lama, sesekali memandang wajahku, sesekali memandangi batang-batang tanaman jagung, sesekali tidak memandang apa-apa.
"Lalu apa yang akan mereka lakukan padaku seandainya mereka menangkapku sekarang?" tanyanya akhirnya.
"Kurasa mereka masih akan melakukan penyisipan. Mencoba  memperoleh informasi. Mungkin mereka akan menyisipkan Pencari di dalam tubuhmu.
Ian bergidik.
"Tapi mereka takkan menggunakanmu sebagai inang. Tak peduli apakah mereka memperoleh informasi atau tidak, kau akan dibuang." Sulit mnegucapkan kata itu. Gagasan itu membuatku mual. Ini aneh, karena biasanya segala sesuatu yang berhubungan dengan manusialah yang membuatku mual. Tapi aku tak pernah memandang situasinya dari perspektif tubuh ini; tak ada planet yang memaksaku melakukan hal itu. Tubuh yang tidak berfungsi dengan baik akan segera dibuang, tanpa rasa sakit, karena tubuh itu sudah tidak berguna, sebagaimana halnya mobil mogok. Apa gunanya menyimpannya? Ada juga kondisi-kondisi benak yang membuat tubuh tak bisa digunakan: ketergantungan mental yang membahayakan, keinginan jahat, hal-hal yang tak bisa disembuhkan dan membuat tubuh tak aman bagi yang lan. Atau tentu saja benak dengan kemauan yang terlalu kuat untuk dienyahkan. Penyimpangan yang hanya terjadi di planet ini.
Sebelumnya aku tak pernahh menyadari salahnya menganggap roh yang tak terkalahkan sebagai kecacatan. Tapi kini hal itu tampak jelas bagiku, ketika memandang mata Ian.
"Dan seandainya mereka menangkapmu?" tanyanya.
"Seaindainya mereka menyadari sapa diriku... seandainya ada yang masih mencariku..." Aku membayangkan Pencari-ku, lalu bergidik. "Mereka akan mengeluarkanku dan menyisipkanku di dalam inang lain--seseorang yang masih muda, yang mudah dikendalikan. Mereka akan berharap aku bisa kembali menjadi diriku. Mungkin mereka akan mengirimku ke luar planet--menyingkirkanku dari pengaruh-pengaruh jahat."
"Apakah kau akan kembali menjadi dirimu?"
Aku membalas tatapan Ian. "Aku adalah aku. Aku belum menyerahkan diri kepada Melanie. Perasaanku akan sama seperti yang kini kurasakan, bahkan ketika aku menjadi Beruang atau Bunga."
"Mereka tidak akan membuangmu?"
"Sama sekali tidak. Bangsa kami tidak mengenal hukuman mati. Atau hukuman apa pun. Sungguh. Apa pun yang mereka lakukan, itu adalah untuk menyelamatkanku. Dulu aku selalu menganggap cara lain memang tak diperlukan, tapi kini aku memiliki diriku sendiri sebagai bukti untuk menentang teori itu. Mungkin membuangku adalah tindakan benar. Aku pengkhianat, bukan?"
Ian mengerutkan bibir. "Kurasa lebih tepat disebut ekspatriat. Kau belum mengkhianati mereka; kau hanya meninggalkan masyarakat mereka."
Kami kembali terdiam. Aku ingin mempercayai kebenaran perkataan Ian. Aku merenungkan kata ekspatriat, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak lebih buruk daripada itu.
Ian mengembuskan napas cukup keras sehingga aku terlompat. "Kalau Doc sudah sadar, kita akan memintanya memeriksa wajahmu." Ia mengulurkan tangan dan meletakkannya di daguku. Kali ini aku tidak menarik diri. Ia memalingkan kepalaku sehingga bisa meneliti luka itu.
"Tidak perlu. Aku yakin penampilan lukanya lebih buruk daripada yang sebenarnya."
"Kuharap begitu--kelihatannya mengerikan." Ian mendesah.
"Kurasa kita sudah cukup lama bersembunyi. Pasti Kyle sudah besih dan tak sadarkan diri. Perlu bantuan mencuci piring?"
Ian tidak membiarkanku mencuci piring di sungai kecil seperti yang biasa kulakukan. Ia bersikeras kami pergi ke kamar mandi gelap, karena di sana aku tak terlihat. Aku menggosok piring di ujung dangkal kolam gelap, sementara Ian membersihkan kotoran yang tertinggal di tubuhnya akibat pekerjaan misteriusnya. Lalu ia membantuku dengan mangkuk-mangkuk kotor terakhir.
Ketika kami sudah selesai, ia mendampingiku kembali ke dapur, yang mulai dipenuhi kerumunan orang yang makan siang. Ada lebih banyak hidangan makanan segar: iris-irisan roti putih empuk, keju cheddar berbau tajam, lingkaran-lingkaran sosis bologna merah dadu menggiurkan. Orang - orang menyantap dengan lahap, walaupun keputusasaan masih tampak pada bahu-bahu yang merosot, pada tidak adanya senyuman atau tawa.
Jamie menungguku di meja kami yang biasa. Dua tumpuk roti lapis tergeletak di hadapannya, tapi ia tidak makan. Lengannya terlipat. Ian mengamati ekspresi Jamie dengan penasaran, tapi ia pergi mengambil makanan tanpa bertanya.
Aku memutar bola mata melihat kekeraskepalaan Jamie, lalu mulai makan. Begitu aku mengunyah, Jamie langsung makan. Ian kembali dengan cepat, dan kami makan sambil membisu. Hidangannya sangat lezat, sehingga sulit membayangkan perlu mengobrol--atau melakukan apa pun yang bisa mengosongkan mulut kami.
Aku berhenti ketika sudah menambah satu kali, tapi Jamie dan Ian makan sampai mengerang kesakitan. Ian seolah hendak pingsan. Matanya berjuang untuk tetap terbuka.
"Kembalilah ke sekolah, Nak," ujarnya kepada Jamie.
Jamie mengamati Ian. "Mungkin aku harus mengambil alih..."
"Pergilah ke sekolah," ujarku cepat-cepat. Aku ingin Jamie berada dalam jarak aman dariku hari ini.
"Sampai jumpa lagi, oke? Jangan mengkhawatirkan... apa pun."
"Pasti." Satu kata bohong tidak bakal ketahuan. Atau mungkin aku hanya kembali bersikap sarkastis.
Setelah Jamie pergi, aku berbalik kepada Ian yang mengantuk. "Pergilah beristirahat. Aku akan baik-baik saja—aku akan tidur di suatu tempat yang tidak mencolok. Di tengah ladang jagung atau semacamnya.”
“Di mana kau tidur semalam?” Tanya Ian. Matanya tampak tajam di bawah kelopaknya yang setengah tertutup.
“Mengapa?”
“Sekarang aku bisa tidur di sana, dan kau bisa tampak tidak mencolok di sampingku.”
Kami hanya bergumam, dan kini nyaris berbisik. Tak seorang pun memperhatikan.
“Kau tak bisa mengawasiku setiap detik.”
“Berani bertaruh?”
Aku mengangkat bahu, menyerah. “Aku kembali ke… ke lubang. Tempat aku dulu ditawan.”
Ian mengernyit; ia tidak menyukainya. Tapi ia bangkit berdiri dan menuntunku kembali ke koridor gudang. Plaza utama kembali sibuk, dipenuhi orang yang bergerak di sekitar kebun. Semuanya muram, mata mereka memandang kaki.
Ketika kami sendirian di terowongan hitam itu, aku mencoba membantah Ian lagi.
“Ian, apa gunanya ini? Bukankah Jamie akan semakin terluka jika aku hidup lebih lama? Akhirnya akan lebih baik baginya jika—“
“Jangan berpikir seperti itu, Wanda. Kami bukan binatang. Kematianmu bukan hal yang tak terhindarkan.”
“Kurasa kau memang bukan binatang,” ujarku pelan.
“Terima kasih, walaupun aku tidak memaksudkannya sebagai tuduhan. Aku takkan menyalahkanmu, seandainya kau beranggapan seperti itu.”


Itulah akhir percakapan kami; saat itu kami sama-sama melihat cahaya biru pucat yang memantul samar dari sekitar belokan berikutnya di dalam terowongan.
“Sst,” bisik Ian. “Tunggu di sini.”
Ian mendorong bahuku dengan lembut, mencoba menahanku agar tetap berada di tempatku berdiri. Lalu ia melangkah maju, tanpa berusaha menyembunyikan suara langkahnya. Ia menghilang di belokan.
“Jared?” Kudengar Ian berkata, pura-pura terkejut.
Jantungku terasa berat; sensasinya lebih cenderung nyeri daripada takut.
“Aku tahu mahluk itu bersamamu,” jawab Jared. Ia meninggikan suara, sehingga siapa pun yang berada di antara tempat ini dan plaza utama akan mendengarnya. “Keluarlah, keluarlah, di mana pun kau berada,” panggilnya. Suaranya dingin dan mengejek.